0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan26 halaman

Gejala dan Penanganan PCOS pada Wanita

Sindrom Polikistik Ovarium (PCOS) adalah kondisi ketika perempuan mengalami gangguan produksi dan metabolisme hormon androgen yang dapat menyebabkan gangguan ovulasi, tanda-tanda kelebihan androgen, dan kista ovarium. PCOS disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi fungsi ovarium dan menstruasi. Diagnosis didasarkan pada gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.

Diunggah oleh

Dina Yuliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan26 halaman

Gejala dan Penanganan PCOS pada Wanita

Sindrom Polikistik Ovarium (PCOS) adalah kondisi ketika perempuan mengalami gangguan produksi dan metabolisme hormon androgen yang dapat menyebabkan gangguan ovulasi, tanda-tanda kelebihan androgen, dan kista ovarium. PCOS disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi fungsi ovarium dan menstruasi. Diagnosis didasarkan pada gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.

Diunggah oleh

Dina Yuliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik adalah suatu keadaan

endokrinopati atau gangguan hormonal di mana seorang perempuan mengalami gangguan produksi dan
metabolisme androgen. PCOS adalah salah satu gangguan endokrin yang paling umum terjadi pada
perempuan usia reproduktif. Berbeda dengan PCO (polycystic ovaries) atau ovarium polikistik, PCOS
tidak selalu disertai dengan kista multipel pada ovarium. PCOS dapat disebabkan oleh gangguan dari
aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium (HHO).

PCOS biasanya ditandai dengan disfungsi ovulasi (oligoovulasi/anovulasi), tanda-tanda kelebihan


androgen (hirsutisme), dan kista multipel pada ovarium. Perempuan dengan PCOS biasanya juga
mengalami dislipidemia dan resistensi insulin.

Diagnosis PCOS dapat ditegakkan menggunakan pemeriksaan kadar hormon dan radiologi untuk melihat
gambaran kista. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, medikamentosa,
pembedahan, dan terapi adjuvan.[1-4]

Patofisiologi dari PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) belum sepenuhnya dimengerti, terutama


mengenai di mana sebenarnya letak gangguan primernya. Ovarium, kelenjar adrenal, hipotalamus,
hipofisis, dan jaringan yang sensitif terhadap insulin berperan dalam patofisiologi PCOS.

Resistensi Insulin, Hiperinsulinemia, Serta Obesitas

PCOS berhubungan dengan resistensi insulin perifer serta hiperinsulinemia, dan obesitas memperkuat
derajat abnormalitas kedua kondisi tersebut. Resistensi insulin menyebabkan hipersekresi insulin
kompensatorik untuk menjaga kondisi normoglikemik. Resistensi insulin pada PCOS dapat disebabkan
kerusakan pada jalur persinyalan reseptor insulin. Selain itu, resistensi insulin ini juga diketahui memiliki
hubungan dengan adiponektin, hormon yang dihasilkan adiposit yang mengatur metabolisme lipid dan
kadar glukosa. Kondisi hiperinsulinemia mendorong produksi androgen dari ovarium dan dari kelenjar
adrenal. Kadar insulin yang tinggi juga menekan produksi hormon SHBG (sex hormone binding globulin)
yang diproduksi di hati. Kondisi ini turut memperburuk hiperandrogenemia karena meningkatkan
proporsi androgen yang bersirkulasi bebas.

Peningkatan LH (Luteinizing Hormone)


Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah sindrom yang secara genetik bersifat heterogen. Walaupun,
etiologi genetik dari PCOS masih belum diketahui secara pasti, tetapi riwayat keluarga dari penderita
PCOS biasanya ditemukan. Telah diteliti bahwa keluarga dengan penderita PCOS memperlihatkan pola
pewarisan dominan autosomal. Seorang perempuan dengan PCOS bisa memiliki ayah dengan rambut
abnormal, saudara perempuan dengan hirsutisme, atau ibu dengan oligomenore. Faktor risiko yang
ditemukan pada penderita PCOS dapat diperburuk dengan diet dan aktivitas fisik yang kurang baik
padahal gejala klinis reproduktif dan metabolik terkadang dapat diperbaiki dengan modifikasi gaya hidup
seperti mengurangi berat badan dan olahraga.[4,7]

Obesitas

Obesitas memang bukan penyebab langsung dari PCOS, tetapi obesitas memperberat kondisi resistensi
insulin dan hiperinsulinemia. Obesitas juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti
intoleransi glukosa dan dislipidemia. Selain itu, kondisi obesitas berhubungan dengan respon terhadap
terapi infertilitas yang buruk.[9]

Penatalaksanaan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) lini pertama meliputi modifikasi gaya hidup,


seperti diet dan olahraga. Tata laksana farmakologis dibutuhkan untuk kondisi gangguan metabolik,
anovulasi, hirsutisme, dan ketidakteraturan menstruasi. Obat-obatan untuk kondisi tersebut mencakup
kontrasepsi oral, metformin, prednison, leuprolide, clomiphene, dan spironolactone. Terapi bedah
dilakukan terutama untuk memulihkan ovulasi dan biasanya digunakan sebagai salah satu terapi
infertilitas pada penderita PCOS yang ingin hamil.

Pada Oktober 2013, The Endocrine Society, Amerika Serikat menerbitkan pedoman untuk diagnosis dan
tata laksana PCOS. Berikut adalah rangkuman pedoman tersebut:

Kriteria Rotterdam dipakai untuk mendiagnosis PCOS (terdapat dua dari tiga kriteria:
hiperandrogenisme, disfungsi ovulasi, dan ovarium polikistik).

Pada remaja dengan PCOS dengan gejala klinis hiperandrogenisme, kontrasepsi oral dan metformin
adalah terapi pilihan.

Perempuan pasca menopause tidak memiliki fenotip PCOS yang konsisten.


Eksklusi gangguan lain yang juga menyebabkan hiperandrogenisme seperti penyakit
kardiovaskuler, diabetes, kanker endometrium, gangguan mood, dan gangguan tidur obstruktif
(obstructive sleep apnea/OSA).

Untuk gangguan menstruasi dan hirsutisme/acne, kontrasepsi hormonal menjadi terapi lini pertama.

Untuk infertilitas, clomiphene adalah terapi lini pertama.

Untuk gangguan metabolik/glikemik dan untuk memperbaiki ketidakteraturan menstruasi, metformin


sangat menguntungkan.

Penggunaan metformin terbatas atau tidak menguntungkan dalam mengobati hirsutisme, acne, atau
infertilitas.

Secara keseluruhan, thiazolidindione memiliki rasio risk-benefit yang tidak menguntungkan.

Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan peran dari pengurangan berat badan dan
penggunaan statin (misal simvastatin atau atorvastatin) pada pasien PCOS.

Pengertian Sindrom Polikistik Ovarium

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.

Baca juga: Alami PCOS Bikin Susah Hamil, Mitos atau Fakta?


 

Penyebab dan Faktor Risiko  Sindrom Polikistik Ovarium

Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen bertugas untuk mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin, seperti kebotakan


androgen atau pola kebotakan laki-laki. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan hormon bisa
terjadi, ketika seorang perempuan mengidap PCOS. Ketidakseimbangan hormon tersebut terjadi karena
produksi androgen menjadi lebih banyak dari kadar androgen normal dalam tubuh perempuan. Hormon
androgen yang tidak seimbang tersebut menyebabkan pertumbuhan rambut tidak normal dan jerawat,
selain kondisi tersebut, perempuan juga tidak dapat melepaskan ovum dari ovarium setiap menstruasi.

Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.

Gejala dan Komplikasi Sindrom Polikistik Ovarium

Gejala PCOS, antara lain:


Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang
tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau
siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap
tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.

Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.

Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.

Kenaikan berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.

Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki

Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.

Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.

Komplikasi dari PCOS adalah sebagai berikut:

Kemandulan;

Diabetes gestasional;

Hipertensi gestasional;

Steatohepatitis non-alkoholik;
Sindrom metabolik;

Diabetes mellitus tipe 2;

Sleep apnea;

Depresi dan gangguan cemas;

Perdarahan rahim abnormal; dan

Kanker endometrium.

Diagnosis  Sindrom Polikistik Ovarium

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.

Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.
Sindrom Polikistik Ovarium

Pengertian Sindrom Polikistik Ovarium

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.

Penyebab dan Faktor Risiko  Sindrom Polikistik Ovarium

Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen bertugas untuk mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin, seperti kebotakan


androgen atau pola kebotakan laki-laki. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan hormon bisa
terjadi, ketika seorang perempuan mengidap PCOS. Ketidakseimbangan hormon tersebut terjadi karena
produksi androgen menjadi lebih banyak dari kadar androgen normal dalam tubuh perempuan. Hormon
androgen yang tidak seimbang tersebut menyebabkan pertumbuhan rambut tidak normal dan jerawat,
selain kondisi tersebut, perempuan juga tidak dapat melepaskan ovum dari ovarium setiap menstruasi.

Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.

Gejala dan Komplikasi Sindrom Polikistik Ovarium

Gejala PCOS, antara lain:

Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang
tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau
siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap
tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.

Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.

Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.

Kenaikan berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.

Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki

Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.
Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.

Komplikasi dari PCOS adalah sebagai berikut:

Kemandulan;

Diabetes gestasional;

Hipertensi gestasional;

Steatohepatitis non-alkoholik;

Sindrom metabolik;

Diabetes mellitus tipe 2;

Sleep apnea;

Depresi dan gangguan cemas;

Perdarahan rahim abnormal; dan

Kanker endometrium.
 

Diagnosis  Sindrom Polikistik Ovarium

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.

Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.

Baca juga: Jangan Abai, Ketahui 9 Komplikasi Akibat Sindrom Polikistik Ovarium

Pengobatan Sindrom Polikistik Ovarium

Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada
meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan
penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan
memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, perempuan dengan PCOS sangat dianjurkan untuk
olahraga sebagai salah satu metode terapi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen dapat
meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan
kadar gula darah dan ovulasi.
Karena PCOS disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi hormon juga
dibutuhkan pada pengidap PCOS. Terapi hormon tersebut dilakukan dengan memberikan obat
kontrasepsi, dan biasanya diberikan kepada pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini
bertujuan untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan
pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.

Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan yang dapat
menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin
yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.

Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Operasi
tersebut dilakukan dengan penerapan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum
untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga peluang
ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut belum menunjukan hasil yang sesuai, maka bisa
dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF) di mana sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian
dimasukkan lagi ke dalam rahim bisa dilakukan, sebagai pilihan terakhir.

Pencegahan  Sindrom Polikistik Ovarium

Terjadinya PCOS tidak dapat dicegah karena belum diketahui secara pasti penyebab utamanya.
Sementara pengendalian faktor risiko bisa dilakukan agar komplikasi PCOS bisa dicegah.

Sindrom Polikistik Ovarium

Pengertian Sindrom Polikistik Ovarium

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.

Penyebab dan Faktor Risiko  Sindrom Polikistik Ovarium

Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen bertugas untuk mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin, seperti kebotakan


androgen atau pola kebotakan laki-laki. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan hormon bisa
terjadi, ketika seorang perempuan mengidap PCOS. Ketidakseimbangan hormon tersebut terjadi karena
produksi androgen menjadi lebih banyak dari kadar androgen normal dalam tubuh perempuan. Hormon
androgen yang tidak seimbang tersebut menyebabkan pertumbuhan rambut tidak normal dan jerawat,
selain kondisi tersebut, perempuan juga tidak dapat melepaskan ovum dari ovarium setiap menstruasi.

Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.

 
Gejala dan Komplikasi Sindrom Polikistik Ovarium

Gejala PCOS, antara lain:

Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang
tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau
siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap
tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.

Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.

Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.

Kenaikan berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.

Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki

Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.

Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.

Komplikasi dari PCOS adalah sebagai berikut:

Kemandulan;

Diabetes gestasional;
Hipertensi gestasional;

Steatohepatitis non-alkoholik;

Sindrom metabolik;

Diabetes mellitus tipe 2;

Sleep apnea;

Depresi dan gangguan cemas;

Perdarahan rahim abnormal; dan

Kanker endometrium.

Diagnosis  Sindrom Polikistik Ovarium

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.

Baca juga: Jangan Abai, Ketahui 9 Komplikasi Akibat Sindrom Polikistik Ovarium

Pengobatan Sindrom Polikistik Ovarium

Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada
meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan
penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan
memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, perempuan dengan PCOS sangat dianjurkan untuk
olahraga sebagai salah satu metode terapi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen dapat
meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan
kadar gula darah dan ovulasi.

Karena PCOS disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi hormon juga
dibutuhkan pada pengidap PCOS. Terapi hormon tersebut dilakukan dengan memberikan obat
kontrasepsi, dan biasanya diberikan kepada pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini
bertujuan untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan
pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.

Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan yang dapat
menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin
yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.
Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Operasi
tersebut dilakukan dengan penerapan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum
untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga peluang
ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut belum menunjukan hasil yang sesuai, maka bisa
dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF) di mana sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian
dimasukkan lagi ke dalam rahim bisa dilakukan, sebagai pilihan terakhir.

Pencegahan  Sindrom Polikistik Ovarium

Terjadinya PCOS tidak dapat dicegah karena belum diketahui secara pasti penyebab utamanya.
Sementara pengendalian faktor risiko bisa dilakukan agar komplikasi PCOS bisa dicegah.

Baca juga: Ketahui Prosedur Pembedahan untuk Atasi Sindrom Polikistik Ovarium

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter jika kamu merasakan gejala seperti yang sudah dijelaskan di atas. Penanganan yang
tepat waktu, tentu akan mengurangi risiko komplikasi. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung
membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang sesuai domisili kamu melalui Halodoc.

pada 2019. Polycystic ovary syndrome. 

Dok untuk penderita PCOS bagaimana cara penyembuhannya agar cepat hamil?
Ditanyakan oleh: nadyairawan_18

Dijawab oleh: dr. Rizal Fadli

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani wanita dengan PCOS agar bisa hamil:

1. Pemberian Pil Pengatur Siklus Haid

Pemberian pil semacam kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen dan progestin dapat
mengurangi produksi hormon androgen, sehingga membuat siklus haid teratur. Pil tersebut dapat
dikonsumsi dalam dua minggu, setiap bulan, atau selama 1-2 bulan.

2. Pengobatan yang Membantu Proses Ovulasi

Pemberian obat-obatan yang membantu proses ovulasi hanya setelah pemberian pil pengatur siklus
haid selesai dan siap untuk hamil. Selain pemberian obat-obatan, penurunan berat badan pada wanita
dengan berat badan berlebih atau obesitas juga penting. Hal ini diperlukan agar dapat menurunkan
kadar hormon, selanjutnya diharapkan siklus haid menjadi lebih teratur. Wanita juga perlu menerapkan
gaya hidup sehat seperti memperhatikan asupan makan, berolahraga rutin, dan menghindari rokok.

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

    

Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormon yang
terjadi pada wanita di usia subur. Penderita PCOS mengalami gangguan menstruasi dan memiliki kadar
hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.
Hormon androgen yang berlebih pada penderita PCOS dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur
memproduksi banyak kantong-kantong berisi cairan. Akibatnya, sel telur tidak berkembang sempurna
dan gagal dilepaskan secara teratur.

Akibat dari polycystic ovarian syndrome juga dapat menyebabkan penderitanya tidak subur (mandul),
serta lebih rentan terkena diabetes dan tekanan darah tinggi.

Gejala Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Gejala sindrom ovarium polikistik bisa timbul ketika seorang wanita mengalami haid pertama kali saat
masa pubertas. Meski gejala PCOS sering muncul saat remaja, ada juga penderita PCOS yang baru
mengalami gejalanya setelah dewasa atau saat periode tertentu, misalnya ketika mengalami kenaikan
berat badan secara signifikan. Berikut adalah gejala PCOS:

Gangguan menstruasi

PCOS kerap ditandai dengan periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan. Sebagai
contoh, penderita PCOS hanya akan mengalami haid kurang dari 8-9 kali dalam setahun. Jarak antar haid
dapat kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, atau darah menstruasi mengalir [Link] akibat
kadar hormon androgen yang meningkat

Peningkatan kadar hormon androgenpada wanita dengan PCOS dapat menyebabkan munculnya gejala
fisik seperti pria, seperti tumbuhnya rambut yang lebat di wajah dan tubuh (hirsutisme), serta
munculnya jerawatyang parah dan [Link] kista ovarium yang banyak

Pada penderita PCOS, bisa ditemukan kantong-kantong kista di sekitar sel telur (ovarium).Warna kulit
menjadi gelap

Beberapa bagian tubuh penderita PCOS bisa menjadi gelap, terutama di daerah lipatan, yaitu lipatan
leher, selangkangan, dan bagian bawah payudara.

Kapan harus ke dokter


Periksakan diri ke dokter jika muncul gejala PCOS, seperti haid yang tidak teratur. Polycystic ovarian
syndrome yang tidak ditangani bisa mengakibatkan penderitanya sulit untuk hamil atau mandul karena
sel telur tidak dapat dilepaskan (tidak ada ovulasi).

Penderita PCOS yang sedang hamil juga berisiko melahirkan bayi secara prematur,
mengalami keguguran, menderita tekanan darah tinggi, dan mengalami diabetes gestasional. Oleh
karena itu, lakukan kontrol rutin ke dokter kandungan selama hamil agar kondisi kesehatan ibu dan janin
terpantau.

Penyebab Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Sampai saat ini, belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan PCOS. Namun, ada beberapa
faktor yang diduga sebagai penyebab PCOS, yaitu:

Kelebihan hormon insulin

Hormon insulin adalah hormon yang menurunkan kadar gula dalam darah. Insulin yang berlebih akan
membuat tubuh meningkatkan produksi hormon androgen dan mengurangi sensitivitas tubuh terhadap
[Link] genetik

Hal ini karena sebagian penderita PCOS juga memiliki anggota keluarga yang menderita PCOS.

Diagnosis Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Tidak ada tes yang dapat dilakukan untuk langsung mendiagnosis PCOS. Oleh karena itu, biasanya dokter
akan menanyakan ada tidaknya gejala polycystic ovarian syndrome pada penderita. Selain itu, dokter
juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda-tanda dari penyakit ini.

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya pertumbuhan rambut berlebih atau adanya jerawat
yang parah. Pemeriksaan fisik ini juga termasuk pemeriksaan dalam untuk memeriksa organ reproduksi
wanita.
Setelah pemeriksaan fisik dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang yang meliputi:

Tes darah, untuk memeriksa kadar hormon androgen, tes toleransi terhadap gula darah, dan kadar
kolestrol yang sering kali meningkat pada penderita [Link] panggul, untuk memeriksa ketebalan
lapisan rahim pasien dengan bantuan gelombang suara.

Jika penderita sudah dipastikan menderita PCOS, maka dokter akan melakukan sejumlah tes lain untuk
mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi akibat PCOS.

Pengobatan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Pengobatan bagi tiap penderita PCOS berbeda-beda, tergantung pada gejala yang dialaminya, seperti
kemandulan, hirsutisme, atau jerawat parah. Secara umum, PCOS dapat ditangani dengan beberapa
cara berikut ini:

Perubahan gaya hidup

Dokter akan merekomendasikan olahraga dan diet rendah kalori untuk menurunkan berat badan. Hal ini
karena gejala sindrom ovarium polikistik akan mereda seiring penurunan berat badan penderita.
Olahraga juga berguna untuk meningkatkan efektivitas obat dan membantu meningkatkan kesuburan
penderita PCOS.

Obat-obatan

Dokter dapat memberikan kombinasi pil KBdengan obat lain untuk mengontrol siklus menstruasi.
Hormon estrogen dan progesteron dalam pil KB dapat menekan produksi hormon androgen dalam
tubuh.

Dokter juga dapat merekomendasikan konsumsi hormon progesteron saja selama 10-14 hari selama 1-2
bulan. Penggunaan hormon ini dapat mengatur siklus haid yang terganggu.
Obat-obatan lain yang dapat digunakan untuk menormalkan kembali siklus haid dan membantu ovulasi
adalah:

ClomifeneLetrozoleMetformin

Selain pil KB, untuk mengurangi gejala hirsutisme akibat hormon androgen yang berlebih, dokter dapat
memberikan obat spironolactone. Spironolactone dapat menangkal efek androgen pada kulit, yaitu
tumbuhya rambut yang lebat dan jerawat yang parah.

Prosedur medis khusus

Selain beberapa metode pengobatan di atas, dokter dapat menganjurkan pasien untuk
melakukan electrolysis untuk menghilangkan rambut di tubuh. Dengan aliran listrik
rendah, electrolysis akan menghancurkan folikel rambut dalam beberapa kali terapi.

Komplikasi Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

PCOS yang tidak ditangani dapat membuat penderitanya berisiko mengalami  komplikasi berikut ini:

Gangguan tidurGangguan makanGangguan kecemasan dan depresiKemandulanKeguguran atau


kelahiran bayi prematurHipertensi saat hamilDiabetes dan diabetes gestasionalHepatitisSindrom
metabolikKanker endometrium

Pencegahan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

PCOS sulit dicegah, tetapi dengan menjaga berat badan ideal, gejala dan risiko komplikasinya dapat
dikurangi. Berikut adalah cara yang bisa dilakukan untuk menjaga berat badan ideal:
Batasi konsumsi makanan manisPerbanyak konsumsi seratOlahraga secara teratur

Tanya DokterRumah SakitCari DokterAplikasi

LOGIN

Coronavirus 
DiabetesJantungStrokeKehamilanKolesterolHipertensiAnemiaKankerReproduksiSelengkapnya



Home/Cara Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium yang Sebaiknya Diketahui



Cara Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium yang Sebaiknya Diketahui

REPRODUKSI

SINDROM POLIKISTIK OVARIUM

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

24 Maret 2019


Halodoc, Jakarta - Sindrom polikistik ovarium atau PCOS (polycystic ovary syndrome) adalah kondisi saat
fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur mengalami gangguan. Akibatnya, hormon
wanita yang mengidap PCOS jadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.

Mereka yang mengidap penyakit ini memiliki tanda-tanda awal PCOS seperti masa ovulasi atau subur
yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen) dalam tubuh wanita, dan munculnya
banyak kista (kantong berisi cairan) pada ovarium. Jika seorang wanita memiliki setidaknya dua dari tiga
gejala di atas, maka ia dapat mengidap sindrom polikistik ovarium.

Selain tiga tanda di atas, gejala-gejala yang terjadi pada pengidap sindrom polikistik ovarium akan
semakin tampak ketika wanita memasuki usia 16 sampai 24 tahun. Beberapa gejala yang muncul adalah:

Menstruasi tidak teratur. Dalam setahun frekuensi menstruasi lebih sedikit, atau jumlah darah yang
dikeluarkan saat menstruasi lebih banyak.

Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau dada.

Kulit berminyak dan berjerawat.

Kerap mengalami depresi,perubahan suasana hati, mengalami kecemasan hingga gangguan makan.

Kesulitan untuk hamil.


Rambut kepala rontok atau menipis.

Berat badan bertambah.

Baca Juga: 5 Pemeriksaan Medis Ini Sebaiknya Dilakukan Sebelum Nikah

Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium

Cara memastikan apakah seorang wanita mengidap sindrom polikistik ovarium atau tidak, maka perlu
dilakukan diagnosis mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda
yang muncul. Ini langkah untuk mendiagnosis sindrom polikistik ovarium antara lain:

Pemeriksaan fisik. Dokter mencatat beberapa informasi penting tentang tubuh penderita seperti tinggi
badan, berat badan, tekanan darah, keadaan kulit, menghitung indeks massa tubuh, memeriksa
payudara, perut, dan kelenjar tiroid. Dokter juga memeriksa organ reproduksi wanita.

Tes darah. Pengidap diminta untuk menjalani tes darah untuk mengukur kadar hormon, kadar gula
darah dan tingkat kolesterol.

Tes ultrasound. Tes ini memperlihatkan jumlah kista dalam ovarium dan ketebalan dinding uterus.

Kemudian dokter bisa menyimpulkan melalui hasil pemeriksaan di atas. Jika seseorang positif
mengalami sindrom polikistik ovarium, ia wajib menerima perawatan. Jika tidak segera ditangani,
penyakit ini berisiko menyebabkan komplikasi, seperti:

Diabetes tipe 2.

Sindrom metabolik.
Tekanan darah tinggi termasukhipertensi pada masa kehamilan.

Perlemakan hati non-alkoholik.

Meningkatnya kadar kolesterol darah.

Infertilitas.

Sleep apnea.

Kadar lemak darah tidak normal.

Gangguan menstruasi berupa perdarahan abnormal dari rahim.

Baca Juga: Wanita Berkumis, Masalah Kesehatan atau Hormon?

Pengobatan Sindrom Polikistik Ovarium

Sayangnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikendalikan. Ini upaya untuk
menangani gejalanya yaitu:

Perubahan Gaya Hidup. Teruntuk pengidap sindrom polikistik ovarium yang mengidap obesitas, kamu
bisa mulai untuk menurunkan berat badan. Selain itu, penting untuk menghentikan kebiasaan merokok,
karena wanita perokok memiliki kadar hormon androgen lebih tinggi dibanding wanita non-perokok.
Pembedahan. Pembedahan kecil yang disebut Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD) dilakukan untuk
menangani masalah kesuburan.

Terapi Hormon. Untuk pengidap penyakit ini namun sedang tidak merencanakan kehamilan, ia bisa
melakukan terapi hormon. Terapi ini bisa menormalkan siklus menstruasi, mencegah kanker uterus,
pertumbuhan rambut yang berlebihan, munculnya jerawat, dan rontoknya rambut kepala

Anda mungkin juga menyukai