Gejala dan Penanganan PCOS pada Wanita
Gejala dan Penanganan PCOS pada Wanita
endokrinopati atau gangguan hormonal di mana seorang perempuan mengalami gangguan produksi dan
metabolisme androgen. PCOS adalah salah satu gangguan endokrin yang paling umum terjadi pada
perempuan usia reproduktif. Berbeda dengan PCO (polycystic ovaries) atau ovarium polikistik, PCOS
tidak selalu disertai dengan kista multipel pada ovarium. PCOS dapat disebabkan oleh gangguan dari
aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium (HHO).
Diagnosis PCOS dapat ditegakkan menggunakan pemeriksaan kadar hormon dan radiologi untuk melihat
gambaran kista. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, medikamentosa,
pembedahan, dan terapi adjuvan.[1-4]
PCOS berhubungan dengan resistensi insulin perifer serta hiperinsulinemia, dan obesitas memperkuat
derajat abnormalitas kedua kondisi tersebut. Resistensi insulin menyebabkan hipersekresi insulin
kompensatorik untuk menjaga kondisi normoglikemik. Resistensi insulin pada PCOS dapat disebabkan
kerusakan pada jalur persinyalan reseptor insulin. Selain itu, resistensi insulin ini juga diketahui memiliki
hubungan dengan adiponektin, hormon yang dihasilkan adiposit yang mengatur metabolisme lipid dan
kadar glukosa. Kondisi hiperinsulinemia mendorong produksi androgen dari ovarium dan dari kelenjar
adrenal. Kadar insulin yang tinggi juga menekan produksi hormon SHBG (sex hormone binding globulin)
yang diproduksi di hati. Kondisi ini turut memperburuk hiperandrogenemia karena meningkatkan
proporsi androgen yang bersirkulasi bebas.
Obesitas
Obesitas memang bukan penyebab langsung dari PCOS, tetapi obesitas memperberat kondisi resistensi
insulin dan hiperinsulinemia. Obesitas juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti
intoleransi glukosa dan dislipidemia. Selain itu, kondisi obesitas berhubungan dengan respon terhadap
terapi infertilitas yang buruk.[9]
Pada Oktober 2013, The Endocrine Society, Amerika Serikat menerbitkan pedoman untuk diagnosis dan
tata laksana PCOS. Berikut adalah rangkuman pedoman tersebut:
Kriteria Rotterdam dipakai untuk mendiagnosis PCOS (terdapat dua dari tiga kriteria:
hiperandrogenisme, disfungsi ovulasi, dan ovarium polikistik).
Pada remaja dengan PCOS dengan gejala klinis hiperandrogenisme, kontrasepsi oral dan metformin
adalah terapi pilihan.
Untuk gangguan menstruasi dan hirsutisme/acne, kontrasepsi hormonal menjadi terapi lini pertama.
Penggunaan metformin terbatas atau tidak menguntungkan dalam mengobati hirsutisme, acne, atau
infertilitas.
Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan peran dari pengurangan berat badan dan
penggunaan statin (misal simvastatin atau atorvastatin) pada pasien PCOS.
Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.
Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.
Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.
Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.
Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.
Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.
Kemandulan;
Diabetes gestasional;
Hipertensi gestasional;
Steatohepatitis non-alkoholik;
Sindrom metabolik;
Sleep apnea;
Kanker endometrium.
Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.
Sindrom Polikistik Ovarium
Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.
Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.
Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.
Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang
tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau
siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap
tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.
Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.
Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.
Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.
Kemandulan;
Diabetes gestasional;
Hipertensi gestasional;
Steatohepatitis non-alkoholik;
Sindrom metabolik;
Sleep apnea;
Kanker endometrium.
Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.
Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada
meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan
penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.
Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan
memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, perempuan dengan PCOS sangat dianjurkan untuk
olahraga sebagai salah satu metode terapi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen dapat
meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan
kadar gula darah dan ovulasi.
Karena PCOS disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi hormon juga
dibutuhkan pada pengidap PCOS. Terapi hormon tersebut dilakukan dengan memberikan obat
kontrasepsi, dan biasanya diberikan kepada pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini
bertujuan untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan
pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.
Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan yang dapat
menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin
yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.
Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Operasi
tersebut dilakukan dengan penerapan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum
untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga peluang
ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut belum menunjukan hasil yang sesuai, maka bisa
dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF) di mana sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian
dimasukkan lagi ke dalam rahim bisa dilakukan, sebagai pilihan terakhir.
Terjadinya PCOS tidak dapat dicegah karena belum diketahui secara pasti penyebab utamanya.
Sementara pengendalian faktor risiko bisa dilakukan agar komplikasi PCOS bisa dicegah.
Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak
berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode
menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat
menyebabkan kemandulan.
Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor
genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan
terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut
hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan
hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.
Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang
tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga.
Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh
untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon
insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan
insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan
derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah
jantung dan pembuluh darah.
Gejala dan Komplikasi Sindrom Polikistik Ovarium
Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang
tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau
siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap
tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.
Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan
hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.
Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.
Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.
Kemandulan;
Diabetes gestasional;
Hipertensi gestasional;
Steatohepatitis non-alkoholik;
Sindrom metabolik;
Sleep apnea;
Kanker endometrium.
Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi,
dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas
PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan
pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau
tampilan ovarium yang tidak normal.
Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada
meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan
penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.
Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan
memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, perempuan dengan PCOS sangat dianjurkan untuk
olahraga sebagai salah satu metode terapi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen dapat
meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan
kadar gula darah dan ovulasi.
Karena PCOS disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi hormon juga
dibutuhkan pada pengidap PCOS. Terapi hormon tersebut dilakukan dengan memberikan obat
kontrasepsi, dan biasanya diberikan kepada pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini
bertujuan untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan
pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.
Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan yang dapat
menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin
yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.
Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Operasi
tersebut dilakukan dengan penerapan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum
untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga peluang
ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut belum menunjukan hasil yang sesuai, maka bisa
dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF) di mana sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian
dimasukkan lagi ke dalam rahim bisa dilakukan, sebagai pilihan terakhir.
Terjadinya PCOS tidak dapat dicegah karena belum diketahui secara pasti penyebab utamanya.
Sementara pengendalian faktor risiko bisa dilakukan agar komplikasi PCOS bisa dicegah.
Segera temui dokter jika kamu merasakan gejala seperti yang sudah dijelaskan di atas. Penanganan yang
tepat waktu, tentu akan mengurangi risiko komplikasi. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung
membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang sesuai domisili kamu melalui Halodoc.
Dok untuk penderita PCOS bagaimana cara penyembuhannya agar cepat hamil?
Ditanyakan oleh: nadyairawan_18
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani wanita dengan PCOS agar bisa hamil:
Pemberian pil semacam kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen dan progestin dapat
mengurangi produksi hormon androgen, sehingga membuat siklus haid teratur. Pil tersebut dapat
dikonsumsi dalam dua minggu, setiap bulan, atau selama 1-2 bulan.
Pemberian obat-obatan yang membantu proses ovulasi hanya setelah pemberian pil pengatur siklus
haid selesai dan siap untuk hamil. Selain pemberian obat-obatan, penurunan berat badan pada wanita
dengan berat badan berlebih atau obesitas juga penting. Hal ini diperlukan agar dapat menurunkan
kadar hormon, selanjutnya diharapkan siklus haid menjadi lebih teratur. Wanita juga perlu menerapkan
gaya hidup sehat seperti memperhatikan asupan makan, berolahraga rutin, dan menghindari rokok.
    
Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormon yang
terjadi pada wanita di usia subur. Penderita PCOS mengalami gangguan menstruasi dan memiliki kadar
hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.
Hormon androgen yang berlebih pada penderita PCOS dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur
memproduksi banyak kantong-kantong berisi cairan. Akibatnya, sel telur tidak berkembang sempurna
dan gagal dilepaskan secara teratur.
Akibat dari polycystic ovarian syndrome juga dapat menyebabkan penderitanya tidak subur (mandul),
serta lebih rentan terkena diabetes dan tekanan darah tinggi.
Gejala sindrom ovarium polikistik bisa timbul ketika seorang wanita mengalami haid pertama kali saat
masa pubertas. Meski gejala PCOS sering muncul saat remaja, ada juga penderita PCOS yang baru
mengalami gejalanya setelah dewasa atau saat periode tertentu, misalnya ketika mengalami kenaikan
berat badan secara signifikan. Berikut adalah gejala PCOS:
Gangguan menstruasi
PCOS kerap ditandai dengan periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan. Sebagai
contoh, penderita PCOS hanya akan mengalami haid kurang dari 8-9 kali dalam setahun. Jarak antar haid
dapat kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, atau darah menstruasi mengalir [Link] akibat
kadar hormon androgen yang meningkat
Peningkatan kadar hormon androgenpada wanita dengan PCOS dapat menyebabkan munculnya gejala
fisik seperti pria, seperti tumbuhnya rambut yang lebat di wajah dan tubuh (hirsutisme), serta
munculnya jerawatyang parah dan [Link] kista ovarium yang banyak
Pada penderita PCOS, bisa ditemukan kantong-kantong kista di sekitar sel telur (ovarium).Warna kulit
menjadi gelap
Beberapa bagian tubuh penderita PCOS bisa menjadi gelap, terutama di daerah lipatan, yaitu lipatan
leher, selangkangan, dan bagian bawah payudara.
Penderita PCOS yang sedang hamil juga berisiko melahirkan bayi secara prematur,
mengalami keguguran, menderita tekanan darah tinggi, dan mengalami diabetes gestasional. Oleh
karena itu, lakukan kontrol rutin ke dokter kandungan selama hamil agar kondisi kesehatan ibu dan janin
terpantau.
Sampai saat ini, belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan PCOS. Namun, ada beberapa
faktor yang diduga sebagai penyebab PCOS, yaitu:
Hormon insulin adalah hormon yang menurunkan kadar gula dalam darah. Insulin yang berlebih akan
membuat tubuh meningkatkan produksi hormon androgen dan mengurangi sensitivitas tubuh terhadap
[Link] genetik
Hal ini karena sebagian penderita PCOS juga memiliki anggota keluarga yang menderita PCOS.
Tidak ada tes yang dapat dilakukan untuk langsung mendiagnosis PCOS. Oleh karena itu, biasanya dokter
akan menanyakan ada tidaknya gejala polycystic ovarian syndrome pada penderita. Selain itu, dokter
juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda-tanda dari penyakit ini.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya pertumbuhan rambut berlebih atau adanya jerawat
yang parah. Pemeriksaan fisik ini juga termasuk pemeriksaan dalam untuk memeriksa organ reproduksi
wanita.
Setelah pemeriksaan fisik dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang yang meliputi:
Tes darah, untuk memeriksa kadar hormon androgen, tes toleransi terhadap gula darah, dan kadar
kolestrol yang sering kali meningkat pada penderita [Link] panggul, untuk memeriksa ketebalan
lapisan rahim pasien dengan bantuan gelombang suara.
Jika penderita sudah dipastikan menderita PCOS, maka dokter akan melakukan sejumlah tes lain untuk
mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi akibat PCOS.
Pengobatan bagi tiap penderita PCOS berbeda-beda, tergantung pada gejala yang dialaminya, seperti
kemandulan, hirsutisme, atau jerawat parah. Secara umum, PCOS dapat ditangani dengan beberapa
cara berikut ini:
Dokter akan merekomendasikan olahraga dan diet rendah kalori untuk menurunkan berat badan. Hal ini
karena gejala sindrom ovarium polikistik akan mereda seiring penurunan berat badan penderita.
Olahraga juga berguna untuk meningkatkan efektivitas obat dan membantu meningkatkan kesuburan
penderita PCOS.
Obat-obatan
Dokter dapat memberikan kombinasi pil KBdengan obat lain untuk mengontrol siklus menstruasi.
Hormon estrogen dan progesteron dalam pil KB dapat menekan produksi hormon androgen dalam
tubuh.
Dokter juga dapat merekomendasikan konsumsi hormon progesteron saja selama 10-14 hari selama 1-2
bulan. Penggunaan hormon ini dapat mengatur siklus haid yang terganggu.
Obat-obatan lain yang dapat digunakan untuk menormalkan kembali siklus haid dan membantu ovulasi
adalah:
ClomifeneLetrozoleMetformin
Selain pil KB, untuk mengurangi gejala hirsutisme akibat hormon androgen yang berlebih, dokter dapat
memberikan obat spironolactone. Spironolactone dapat menangkal efek androgen pada kulit, yaitu
tumbuhya rambut yang lebat dan jerawat yang parah.
Selain beberapa metode pengobatan di atas, dokter dapat menganjurkan pasien untuk
melakukan electrolysis untuk menghilangkan rambut di tubuh. Dengan aliran listrik
rendah, electrolysis akan menghancurkan folikel rambut dalam beberapa kali terapi.
PCOS yang tidak ditangani dapat membuat penderitanya berisiko mengalami komplikasi berikut ini:
PCOS sulit dicegah, tetapi dengan menjaga berat badan ideal, gejala dan risiko komplikasinya dapat
dikurangi. Berikut adalah cara yang bisa dilakukan untuk menjaga berat badan ideal:
Batasi konsumsi makanan manisPerbanyak konsumsi seratOlahraga secara teratur
LOGIN
Coronavirus 
DiabetesJantungStrokeKehamilanKolesterolHipertensiAnemiaKankerReproduksiSelengkapnya


REPRODUKSI
24 Maret 2019

Halodoc, Jakarta - Sindrom polikistik ovarium atau PCOS (polycystic ovary syndrome) adalah kondisi saat
fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur mengalami gangguan. Akibatnya, hormon
wanita yang mengidap PCOS jadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.
Mereka yang mengidap penyakit ini memiliki tanda-tanda awal PCOS seperti masa ovulasi atau subur
yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen) dalam tubuh wanita, dan munculnya
banyak kista (kantong berisi cairan) pada ovarium. Jika seorang wanita memiliki setidaknya dua dari tiga
gejala di atas, maka ia dapat mengidap sindrom polikistik ovarium.
Selain tiga tanda di atas, gejala-gejala yang terjadi pada pengidap sindrom polikistik ovarium akan
semakin tampak ketika wanita memasuki usia 16 sampai 24 tahun. Beberapa gejala yang muncul adalah:
Menstruasi tidak teratur. Dalam setahun frekuensi menstruasi lebih sedikit, atau jumlah darah yang
dikeluarkan saat menstruasi lebih banyak.
Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau dada.
Kerap mengalami depresi,perubahan suasana hati, mengalami kecemasan hingga gangguan makan.
Cara memastikan apakah seorang wanita mengidap sindrom polikistik ovarium atau tidak, maka perlu
dilakukan diagnosis mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda
yang muncul. Ini langkah untuk mendiagnosis sindrom polikistik ovarium antara lain:
Pemeriksaan fisik. Dokter mencatat beberapa informasi penting tentang tubuh penderita seperti tinggi
badan, berat badan, tekanan darah, keadaan kulit, menghitung indeks massa tubuh, memeriksa
payudara, perut, dan kelenjar tiroid. Dokter juga memeriksa organ reproduksi wanita.
Tes darah. Pengidap diminta untuk menjalani tes darah untuk mengukur kadar hormon, kadar gula
darah dan tingkat kolesterol.
Tes ultrasound. Tes ini memperlihatkan jumlah kista dalam ovarium dan ketebalan dinding uterus.
Kemudian dokter bisa menyimpulkan melalui hasil pemeriksaan di atas. Jika seseorang positif
mengalami sindrom polikistik ovarium, ia wajib menerima perawatan. Jika tidak segera ditangani,
penyakit ini berisiko menyebabkan komplikasi, seperti:
Diabetes tipe 2.
Sindrom metabolik.
Tekanan darah tinggi termasukhipertensi pada masa kehamilan.
Infertilitas.
Sleep apnea.
Sayangnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikendalikan. Ini upaya untuk
menangani gejalanya yaitu:
Perubahan Gaya Hidup. Teruntuk pengidap sindrom polikistik ovarium yang mengidap obesitas, kamu
bisa mulai untuk menurunkan berat badan. Selain itu, penting untuk menghentikan kebiasaan merokok,
karena wanita perokok memiliki kadar hormon androgen lebih tinggi dibanding wanita non-perokok.
Pembedahan. Pembedahan kecil yang disebut Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD) dilakukan untuk
menangani masalah kesuburan.
Terapi Hormon. Untuk pengidap penyakit ini namun sedang tidak merencanakan kehamilan, ia bisa
melakukan terapi hormon. Terapi ini bisa menormalkan siklus menstruasi, mencegah kanker uterus,
pertumbuhan rambut yang berlebihan, munculnya jerawat, dan rontoknya rambut kepala