Model Praktik Keperawatan Profesional
Model Praktik Keperawatan Profesional
Disusun Oleh :
Kelompok 2
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul MODEL PRAKTIK
KEPERAWATAN PROFESIONAL (MODEL TIM). Penulisan makalah ini merupakan
salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Keperawaatan Manajemen di Stikes Bina
Sehat PPNI Mojokerto.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik
dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah
ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Penulis
2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................4
1.1. Latar Belakang..............................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.........................................................................................................5
1.3. Tujuan............................................................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................................6
2.1 Pengertian Model Praktik Keperawatan Profesional............................................6
2.2 Tujuan Model Praktik Keperawatan Profesional..................................................7
2.3 Kualitas Pelayanan Keperawatan............................................................................7
2.4 Pilar – Pilar Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)..........................7
1) Pilar I : Pendekatan Manajemen (manajemen approach)....................................7
2) Pilar II : Sistem Penghargaan (Compensatory Reward).....................................22
3) Pilar III : Hubungan Profesional...........................................................................23
4) Pilar IV : Manajemen Asuhan Keperawatan.......................................................23
2.5 Komponen –Komponen MPKP.................................................................................23
BAB III PEMBAHASAN......................................................................................................31
3.1 Definisi Model Tim...................................................................................................31
3.2 Gambaran PMKP Model Tim................................................................................31
3.3 Konsep Metode Tim..................................................................................................33
3.4 Prinsip – Prinsip Tim Keperawatan......................................................................33
3.5 Tanggung Jawab Perawat........................................................................................33
3.6 Kelebihan..................................................................................................................36
3.7 Kekurangan..............................................................................................................36
3.8 Stuktur Organisasi Metode Team...........................................................................37
BAB IV PENUTUP................................................................................................................38
4.2 Saran..........................................................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................39
3
BAB I
PENDAHULUAN
4
kiatnya secara optimal. Namun perlu disadari , tanpa adanya tata kelola yang
memadai, kemauan, dan kemampuan yang kuat, serta peran aktif dari semua pihak,
maka pelayanan keperawatan profesional hanyalah akan menjadi teori semata.
1.3. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
5
BAB II
TINJAUAN TEORI
6
Selain jumlah, perlu ditetapkan pula jenis tenaga yaitu PP dan PA, sehingga
peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat
tanggung jawab yang jelas. Pada aspek struktur ditetapkan juga standar renpra, artinya
pada setiap ruang rawat sudah tersedia standar renpra berdasarkan diagnosa medik
dan atau berdasarkan sistem tubuh. Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode
modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode tim dan keperawatan primer).
2.2 Tujuan Model Praktik Keperawatan Profesional
Menurut Nursalam (2014), karakteristik ronde keperawatan sebagai berikut :
7
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara
matang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa mendatang dalam rangka pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan
sebagai suatu rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana
kegiatan itu dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan. Jenis-jenis perencanaan
terdiri dari :
a) Rencana jangka panjang, yang disebut juga perencanaan strategis yang
disusun untuk 3 sampai 10 tahun.
b) Rencana jangka menengah dibuat dan berlaku 1 sampai 5 tahun.
c) Rencana jangka pendek dibuat 1 jam sampai dengan 1 tahun.
d) Hierarki dalam perencanaan terdiri dari perumusan visi, misi, filosofi,
peraturan, kebijakan, dan prosedur (Marquis & Houston, 1998).
Kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi perumusan
visi, misi, filosofi dan kebijakan. Sedangkan untuk jenis perencanaan yang
diterapkan adalah perencanaan jangka pendek yang meliputi rencana kegiatan
harian, bulanan, dan tahunan.
A. Visi
Visi adalah pernyataan singkat yang menyatakan mengapa organisasi itu
dibentuk serta tujuan organisasi tersebut. Visi perlu dirumuskan sebagai
landasan perencanaan organisasi.
B. Misi
Misi adalah pernyataan yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai
visi yang telah ditetapkan.
C. Filosofi
Filosofi adalah seperangkat nilai-nilai kegiatan yang menjadi rujukan semua
kegiatan dalam organisasi dan menjadi landasan dan arahan seluruh
perencanaan jangka panjang. Nilai-nilai dalam filosofi dapat lebih dari satu.
D. Kebijakan
Kebijakan adalah pernyataan yang menjadi acuan organisasi dalam
pengambilan keputusan.
E. Rencana Jangka Pendek
Rencana jangka pendek yang diterapkan di ruang MPKP terdiri dari rencana
harian, bulanan dan tahunan.
8
F. Rencana harian
Rencana harian adalah kegiatan yang akan dilaksanakan oleh perawat sesuai
dengan perannya masing-masing, yang dibuat pada setiap shift. Isi kegiatan
disesuaikan dengan peran dan fungsi perawat. Rencana harian dibuat sebelum
operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan preconference. Dalam
rencana ada beberapa macamnya, antara lain:
a) Rencana Harian Kepala Ruangan
Isi rencana harian kepala ruangan meliputi :
a. Asuhan keperawatan
b. Supervisi Katim dan Perawat pelaksana
c. Supervisi tenaga selain perawat dan kerja sama dengan unit lain yang
terkait
Kegiatan tersebut meliputi antara lain:
a. Operan
b. Pre conference dan Post conference
c. Mengecek SDM dan sarana prasarana
d. Melakukan interaksi dengan pasien baru atau pasien yang
memerlukan perhatian khusus
e. Melakukan supervisi pada ketua tim/perawat pelaksana
f. Hubungan dengan bagian lain terkait rapat-rapat terstruktur/insidentil
g. Mengecek ulang keadaan pasien, perawat, lingkungan yang belum
teratasi.
h. Mempersiapkan dan merencanakan kegiatan asuhan keperawatan
untuk sore, malam, dan besok sesuai tingkat ketergantungan pasien.
b) Rencana Harian Ketua Tim
Isi rencana harian Ketua Tim adalah:
a. Penyelenggaraan asuhan keperawatan pasien pada tim yang menjadi
tanggung jawabnya.
b. Melakukan supervisi perawat pelaksana.
c. Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain.
d. Alokasi pasien sesuai perawat yang dinas.
Kegiatan tersebut meliputi antara lain:
a. Operan
b. Pre conference dan Post conference
9
c. Merencanakan asuhan keperawatan
d. Melakukan supervisi perawat pelaksana.
e. Menulis dokumentasi
f. Memeriksa kelengkapan dokumentasi askep
g. Alokasi pasien sesuai dengan perawat yang dinas
c) Rencana Harian Perawat Pelaksana
Isi rencana harian perawat pelaksana
adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat
pada shift dinasnya. Rencana harian perawat pelaksana shift sore dan
malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat
tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak
ada kegiatan pre dan post conference.
Kegiatan tersebut meliputi antara lain:
a. Operan
b. Pre conference dan Post conference
c. Mendokumentasikan askep
d) Penilaian Rencana Harian Perawat
Untuk menilai keberhasilan dari perencanaan harian dilakukan melalui
observasi menggunakan instrumen jurnal rencana harian. Setiap Ketua
Tim mempunyai instrumen dan mengisinya setiap hari. Pada akhir bulan
dapat dihitung presentasi pembuatan rencana harian masing-masing
perawat.
G. Rencana bulanan
Rencana bulanan merupakan rencana tindak lanjut yang dibuat oleh kepala
ruangan dan ketua tim
a) Rencana bulanan kepala ruangan
Setiap akhir bulan Kepala Ruangan melakukan evaluasi hasil keempat
pilar atau nilai MPKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut kepala
10
ruangan akan membuat rencana tindak lanjut dalam rangka peningkatan
kualitas hasil. Kegiatan yang mencakup rencana bulanan karu adalah:
a. Membuat jadwal dan memimpin case conference
b. Membuat jadwal dan memimpin pendidikan kesehatan kelompok
keluarga
c. Membuat jadwal dinas
d. Membuat jadwal dan memimpin rapat bulanan perawat
e. Membuat jadwal dan memimpin rapat tim kesehatan
f. Membuat jadwal supervisi dan penilaian kinerja ketua tim dan
perawat pelaksana
g. Melakukan audit dokumentasi
h. Membuat laporan bulanan
b) Rencana bulanan ketua Tim
Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang keberhasilan
kegiatan yang dilakukan ditimnya. Kegiatan-kegiatan yang mencakup
rencana bulanan katim adalah:
a. Mempresentasikan kasus dalam case conference
b. Memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga
c. Melakukan supervisi perawat pelaksana.
H. Rencana Tahunan
Setiap akhir tahun Kepala Ruangan melakukan evaluasi hasil kegiatan dalam
satu tahun yang dijadikan sebagai acuan rencana tindak lanjut serta
penyusunan rencana tahunan berikutnya. Rencana kegiatan tahunan
mencakup:
a. Menyusun laporan tahunan yang berisi tentang kinerja MPKP baik proses
kegiatan (aktifitas yang sudah dilaksanakan dari 4 pilar praktek
professional) serta evaluasi mutu pelayanan.
b. Melaksanakan rotasi tim untuk penyegaran anggota masing-masing tim.
c. Penyegaran terkait materi MPKP khusus kegiatan yang masih rendah
pencapaiannya. Ini bertujuan mempertahankan kinerja yang telah dicapai
MPKP bahkan meningkatkannya dimasa mendatang.
d. Pengembangan SDM dalam bentuk rekomendasi peningkatan jenjang
karier perawat (pelaksana menjadi katim, katim menjadi karu),
11
rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan formal, membuat jadual untuk
mengikuti pelatihan-pelatihan.
12
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi, jadwal dinas dan
daftar alokasi pasien.
Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan,
penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan, menentukan cara dari
pengkoordinasian aktivitas yang tepat, baik vertikal maupun horizontal, yang
bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi.
Pengorganisasian kegiatan dan tenaga perawat di ruang MPKP
menggunakan pendekatan sistem penugasan modifikasi Keperawatan Tim-Primer.
Secara vertikal ada kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana. Setiap tim
bertanggung jawab terhadap sejumlah pasien. Pengorganisasian di ruang MPKP
terdiri dari:
A. Struktur organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen dalam suatu
organisasi (Sutopo, 2000). Pada pengertian struktur organisasi menunjukkan
adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau
kegiatan yang berbeda-beda diintegrasikan atau dikoordinasikan. Struktur
organiosasi juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan.
Struktur organisasi Ruang MPKP menggunakan sistem penugasan
Tim-primer keperawatan. Ruang MPKP dipimpin oleh Kepala Ruangan yang
membawahi dua atau lebih Ketua Tim. Ketua Tim berperan sebagai perawat
primer membawahi beberapa Perawat Pelaksana yang memberikan asuhan
keperawatan secara menyeluruh kepada sekelompok pasien.
Mekanisme Pelaksanaan Pengorganisasian di Ruang MPKP terdiri dari
beberapa hal, yaitu :
a. Kepala ruangan membagi perawat yang ada menjadi 2 tim dan tiap tim
diketuai masing-masing oleh seorang ketua Tim yang terpilih melalui
suatu uji.
b. Kepala ruangan bekerja sama dengan ketua Tim mengatur jadwal dinas
(pagi, sore, malam)
c. Kepala Ruangan membagi pasien untuk masing-masing Tim.
13
d. Apabila suatu ketika satu Tim kekurangan Perawat Pelaksana karena
kondisi tertentu. Kepala Ruangan dapat memindahkan Perawat Pelaksana
dari Tim ke Tim yang mengalami kekurangan anggota.
e. Kepala ruangan menunjuk penanggung jawab shift sore, malam, dan shift
pagi apabila karena sesuatu hal kepala ruangan sedang tidak bertugas.
Oleh sebab, itu yang dipilih adalah perawat yang paling kompeten dari
perawat yang ada.
f. Sebagai pengganti Kepala Ruangan adalah Ketua Tim, sedangkan jika
Ketua Tim berhalangan, tugasnya digantikan oleh anggota Tim (perawat
pelaksana) yang paling kompeten di antara anggota tim.
g. Ketua Tim menetapkan perawat pelaksana untuk masing-masing pasien.
h. Ketua mengendalikan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien
baik yang diterapkan oleh dirinya maupun oleh Perawat Pelaksana anggota
Timnya.
i. Kolaborasi dengan Tim Kesehatan lain dilakukan oleh Ketua Tim. Bila
Ketua Tim karena suatu hal tidak sedang bertugas maka tanggung
jawabnya didelegasikan kepada perawat paling kompeten yang ada di
dalam Tim.
j. Masing-masing Tim memiliki buku Komunikasi.
k. Perawat pelaksana melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.
B. Daftar Dinas Ruangan
Daftar yang berisi jadwal dinas, perawat yang bertugas, penanggung
jawab dinas/shift. Daftar dinas disusun berdasarkan Tim, dibuat dalam 1
minggu sehingga perawat sudah mengetahui dan mempersiapkan dirinya
untuk melakukan dinas. Pembuatan jadwal dinas perawat dilakukan oleh
kepala ruangan pada hari terakhir minggu tersebut untuk jadwal dinas pada
minggu yang selanjutnya bekerjasama dengan Ketua Tim. Setiap Tim
mempunyai anggota yang berdinas pada pagi, sore, dan malam, dan yang lepas
dari dinas (libur) terutama yang telah berdinas pada malam hari.
C. Daftar Pasien
Daftar pasien adalah daftar yang berisi nama pasien, nama dokter,
nama perawat dalam tim, penanggung jawab pasien, dan alokasi perawat saat
menjalankan dinas di tiap [Link] pasien adalah daftar sejumlah pasien
14
yang menjadi tanggung jawab tiap Tim selama 24 jam. Setiap pasien
mempunyai perawat yang bertanggung jawab secara total selama dirawat dan
juga setiap shift dinas. Dalam daftar pasien tidak perlu mencantumkan
diagnosa dan alamat agar kerahasiaan pasien terjaga. Daftar pasien dapat juga
menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas asuhan
keperawatan pasien sehingga terwujudlah keperawatan pasien yang holistik.
Daftar pasien juga memberi informasi bagi kolega kesehatan lain keluarga
untuk berkolaborasi tentang perkembangan dan keperawatan pasien. Daftar
pasien di Ruangan diisi oleh ketua Tim sebelum operan dengan dinas
berikutnya dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Alokasi pasien terhadap perawat yang dinas pagi, sore atau malam
dilakukan oleh ketua Tim berdasarkan jadwal dinas. Kegiatan ini dilakukan
sebelum operan dari dinas pagi ke dinas sore.
3. Pengarahan
Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi, supervise, menciptakan
iklim motifasi, manajemen waktu, komunikasi efektif yang mencangkup pre dan
post conference, dan manajemen konflik. Pengarahan yaitu penerapan
perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang digunakan sebagai padanan
pengarahan adalah pengkoordinasian, pengaktifan. Apapun istilah yang digunakan
pada akhirnya yang bermuara pada ”melaksanakan” kegiatan yang telah
direncanakan sebelumnya (Marquis & Houston, 1998).
Dalam pengarahan, pekerjaan diuraikan dalam tugas-tugas yang mampu
kelola, jika perlu dilakukan pendelegasian. Untuk memaksimalkan pelaksanaan
pekerjaan oleh staf, seorang manajer harus melakukan upaya-upaya (Marquis &
Houston, 1998) sebagai berikut:
a. Menciptakan iklim motivasi
b. Mengelola waktu secara efisien
c. Mendemonstarikan keterampilan komunikasi yang terbaik
d. Mengelola konflik dan memfasilitasi kolaborasi
e. Melaksanakan sistem pendelegasian dan supervisi
f. Negosiasi
15
Di ruangan MPKP pengarahan diterapkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
a. Menciptakan iklim motivasi
b. Komunikasi efektif pada operan antar-shift
c. Komunikasi efektif pada preconference
d. Komunikasi efektif pada postconference
e. Manajemen konflik
f. Supervisi
g. Pendelegasian
16
k. Memberikan kesempatan kepada staf untuk membuat penilaian
sesering mungkin
l. Menciptakan hubungan saling percaya dan saling tolong dengan staf
m. Memberi kesempatan staf untuk mengontrol lingkungan kerjanya
n. Menjadi role model bagi staf
o. Memberikan reinforcement sesering mungkin
B. Manajemen Waktu
Manajemen waktu adalah penggunaan secara optimal waktu yang
dipunyai. Tahapan majanemen waktu meliputi 3 tahapan yaitu :
a. Membuat perencanaan waktu dan membuat prioritas
b. Melengkapi prioritas tertinggi kapan saja memungkinkan,
menyelesaikan tugas sebelum memulai tugas yang lain.
c. Membuat prioritas ulang berdasarkan informasi yang diterima
C. Pendelegasian
Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain. Dalam
organisasi pendelegasian dilakukan agar aktivitas organisasi tetap berjalan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendelegasian dilaksanakan
melalui proses :
a) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan
b) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan
untuk melaksanakan tugas
c) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan
d) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa
tujuannya
e) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas
f) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi
masalah tertentu, manajer harus bisa menjadi model peran dan
menjadi nara sumber untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
g) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai
h) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan
Prinsip-prinsip Pendelegasian tugas di MPKP
a) Pendelegasian tugas yang terencana harus menggunakan format
pendelegasian tugas
17
b) Personil yang menerima pendelegasian tugas adalah personil yang
berkompeten dan setara dengan kemampuan yang digantikan
tugasnya
c) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal secara
terinci, baik lisan maupun tertulis
d) Pejabat yang mengatur pendelegasian tugas wajib memonitor
pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang
dihadapi
e) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang
sudah dilaksanakan dan hasilnya.
Evaluasi Penerapan Pendelegasian Tugas
Pendelegasian tugas di MPKP dievaluasi dengan menggunakan
instrumen/kuisioner yang diisi oleh seluruh staf perawat dengan cara self
evaluasi
D. Supervisi
Supervisi atau pengawasan adalah proses memastikan kegiatan
dilaksanakan sesuai dengan tujuan organisasi dengan cara melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Supervisi dilakukan
untuk memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan.
Supervisi dilaksanakan oleh orang yang memiliki kemempuan yang
mumpuni dalam bidang yang disupervisi. Dalam struktur organisisi,
supervisi biasanya dilakukan oleh atasan terhadap bawahan atau konsultan
terhadap pelaksana. Dengan supervisi diharapkan kegiatan yang dilakukan
sesuai dengan tujuan organisasi, tidak menyimpang dan menghasilkan
keluaran (produk) seperti yang diinginkan. Supervisi tidak diartikan
sebagai pemeriksaan atau mencari kesalahan, tetapi lebih kepada
pengawasan partisipatif yaitu dalam proses pengawasan dihargai dahulu
pencapaian atau hal positif yang dilakukan dan memberikan jalan keluar
untuk hal yang masih kurang agar meningkat. Dengan demikian bawahan
tidak merasakan bahwa ia sekedar dinilai akan tetapi dibimbing untuk
melakukan pekerjaannya secara benar.
1. Penerapan Supervisi di MPKP
18
Di MPKP kegiatan supervisi dilaksanakan secara optimal untuk
menjamin kegiatan pelayanan di MPKP sesuai dengan standar
mutu professional yang telah ditetapkan. Supervisi dilakukan oleh
perawat yang memiliki kompetensi baik dalam manajemen maupun
asuhan keperawatan serta menguasai pilar-pilar professional yang
diterapkan di MPKP. Untuk itu pengawasan berjenjang dilakukan
sebagai berikut :
a. Kepala Seksi Keperawatan atau Konsultan melakukan
pengawasan terhadap Kepala Ruangan.
b. Kepala Ruangan Keperawatan melakukan pengawasan
terhadap Ketua Tim dan Perawat Pelaksana.
c. Ketua Tim melakukan pengawasan terhadap Perawat
Pelaksana.
d. Materi supervisi atau pengawasan disesuaikan dengan uraian
tugas dari masing-masing staf perawat yang disupervisi.
Untuk Kepala Ruangan materi supervisi adalah kemampuan
manajerial dan kemampuan dalam asuhan keperawatan. Ketua
Tim disupervisi terkait dengan kemampuan pengelolaan di
timnya dan kemampuan asuhan keperawatan. Sedangkan
perawat pelaksana disupervisi terkait dengan kemampuan
asuahan keperawatan yang dilaksanakan.
e. Agar supervisi dapat menjadi alat pembinaan dan tidak
menjadi momok bagi staf maka disusun standar penampilan
yang diharapkan dari masing-masing staf yang sudah
dipahami oleh staf dan jadwal supervisi.
2. Evaluasi Aktivitas Supervisi
Aktivitas supervisi dievaluasi oleh Kepala Ruangan dan Ketua Tim
yang melakukan supervisi dengan menggunakan
instrumen/kuisioner dengan cara self evaluasi
E. Komunikasi Efektif
Berkomunikasi merupakan salah satu fungsi pokok manajemen khususnya
pengarahan. Setiap orang berkomunikasi dalam suatu organisasi.
Komunikasi yang kurang baik dapat mengganggu kelancaran organisasi
dalam mencapai tujuan organisasi. Komunikasi adalah proses tukar
19
menukar pikiran, perasaan, pendapat dan saran yang terjadi antara 2 orang
atau lebih yang bekerjasama.
1. Penerapan Komunikasi di MPKP
Beberapa bentuk komunikasi di ruang MPKP
a. Operan yaitu komunikasi dan serah terima antara shift pagi,
sore dan malam. Operan dari dinas malam ke dinas pagi dan
dari dinas pagi ke dinas sore dipimpin oleh kepala ruangan,
sedangkan operan dari dinas sore ke dinas malam dipimpin oleh
penanggung jawab shift sore.
b. Pre Conference yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana
setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada hari tersebut
yang dipimpin oleh katim atau PJ tim. Jika yang dinas pada tim
tersebut hanya satu orang, maka pre conference ditiadakan. Isi
pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian),
dan tambahan rencana dari katim atau PJ.
c. Post Conference yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana
tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan
kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap
perawat dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post
conference dipimpin oleh katim atau PJ tim.
2. Evaluasi Pelaksanaan Aktivitas Komunikasi di MPKP
Aktivitas komunikasi di MPKP dievaluasi oleh seluruh staf
perawat MPKP. Evaluasi dilakukan sekali tiap bulan dengan
menggunakan instrumen/kuisioner.
F. Manajemen konflik
Konflik adalah perbedaan pandangan atau ide antara satu orang dengan
orang yang lain. Dalam organisasi yang dibentuk dari sekumpulan orang
yang memiliki latar belakang yang berbeda konflik mudah terjadi.
Demikian juga di ruang MPKP konflik pun bisa terjadi. Untuk
mengantisipasi terjadinya konflik maka perlu dibudayakan upaya-upaya
mengantisipasi konflik dan mengatasi konflik sedini mungkin di ruang
MPKP.
Cara-cara penanganan konflik
a. Bersaing
20
Mengatasi konflik dengan bersaing adalah penanganan konflik dimana
seseorang atau satu kelompok berupaya memuaskan kepentingannya
sendiri tanpa mempedulikan dampaknya pada orang lain atau
kelompok lain. Cara inbi kurang sehat bila diterapkan karena bisa
menimbulkan potensi konflik yang lebih besar terutama pada pihak
yang merasa dikalahkan. Untuk itu organisasi sebaiknya menghindari
metode penyelesaian konflik jenis ini.
b. Berkolaborasi
Berkolaborasi adalah upaya yang ditempuh untuk memuaskan kedua
belah pihak yang sedang berkonflik. Cara ini adalah salah satu bentuk
kerjasama. Berbagai pihak yang terlibat konflik didorong
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan jalan mencari dan
menemukan persamaan kepentingan dan bukan perbedaan. Situasi
yang diinginkan adalah tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. Istilah
lain cara penyelesaian konflik ini disebut juga win-win solution.
c. Menghindar
Menghindar adalah cara menyelesaikan konflik dimana pihak yang
sedang berkonflik mengakui adanya konflik dalam interaksinya dengan
orang lain tetapi menarik diri atau menekan konflik tersebut (seakan-
akan tidak ada konflik atau masalah). Cara ini tidak dianjurkan dalam
upaya penyelesaian konflik karena masalah mendasar tidak
diselesaikan, penyelasaian yang terjadi adalah penyelesaian semu.
Untuk itu tidak dianjurkan organisasi untuk menggunakan metode ini.
d. Mengakomodasi
Akomodasi adalah upaya menyelesaikan konflik dengan cara salah
satu pihak yang berkonflik menempatkan kepentingan pihak lain yang
berkonflik dengan dirinya lebih tinggi. Salah satu pihak yang
berkonflik mengalah kepada pihak yang lain. Ini suatu upaya lose –
win solution. Upaya penyelesaian konflik dengan akomodasi sebaiknya
juga tidak digunakan terlalu sering karena kepuasan tidak terjadi secara
penuh dan bisa menimbulkan potensi konflik di masa mendatang.
e. Berkompromi
Kompromi adalah cara penyelesaian konflik di mana semua pihak
yang berkonflik mengorbankan kepentingannya demi terjalinnya
21
keharmonisan hubungan dua belah pihak tersebut. Dalam upaya ini
tidak ada salah satu pihak yang menang atau kalah. Ini adalah lose-lose
solution di mana masing-masing pihak akan mengorbankan
kepentingannya agar hubungan yang dijalin tetap harmonis.
4. Pengendalian
Proses terakhir dari manajemen adalah pengendalian atau pengontrolan.
Fayol mendefinisikan kontrol sebagai ”Pemeriksaan apakah segala sesuatunya
terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang dikeluarkan,
serta prinsip-prinsip yang ditentukan, yang bertujuan untuk menunjukkan
kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak terjadi lagi”.
Pengontrolan penting dilakukan untuk mengetahui fakta yang ada, sehingga jika
muncul isue dapat segera direspon dengan cara duduk bersama.
Pengendalian adalah upaya mempertahankan kualitas, mutu atau standar.
Output (hasil) dari suatu pekerjaan dikendalikan agar memenuhi keinginan
(standar) yang telah ditetapkan. Pengendalian difokuskan pada proses yaitu
pelaksanaan asuhan keperawatan dan pada output (hasil) yaitu kepuasan
pelanggan (pasien), keluarga, perawat dan dokter. Indikator mutu yang merupakan
output adalah BOR, ALOS, TOI, audit dokumen keperawatan. Survei masalah
keperawatan diperlukan untuk rencana yang akan datang. Kepala Ruangan akan
membuat laporan hasil kerja bulanan tentang semua kegiatan yang dilakukan
terkait dengan MPKP. Data tentang indikator mutu dapat bekerja sama dengan tim
rumah sakit atau ruangan membuat sendiri.
Jadi pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa
aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan berfungsi
untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian penampilan, langkah-langkah yang
harus dilakukan dalam pengendalian/pengontrolan meliputi :
a. Menetapkan standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja
b. Melakukan pengukuran prestasi kerja
c. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar
d. Mengambil tindakan korektif
Peralatan atau instrumen dipilih untuk mengumpulkan bukti dan untuk
menunjukkan standar yang telah ditetapkan atau tersedia. Audit merupakan
22
penilaian pekerjaan yang telah dilakukan. Terdapat tiga kategori audit
keperawatan yaitu :
A. Audit struktur
Audit Struktur berfokus pada sumber daya manusia; lingkungan perawatan,
termasuk fasilitas fisik, peralatan, organisasi, kebijakan, prosedur, standar,
SOP dan rekam medik; pelanggan.
B. Audit proses
Audit Proses merupakan pengukuran pelaksanaan pelayanan keperawatan
untuk menentukan apakah standar keperawatan tercapai. Pemeriksaan dapat
bersifat retropektif, concurrent, atau peer review. Retropektif adalah audit
dengan menelaah dokumen pelaksanaan asuhan keperawatan melalui
pemeriksaan dokumentasi asuhan keperawatan. Concurrent adalah
mengobservasi saat kegiatan keperawatan sedang berlangsung. Peer review
adalah umpan balik sesama anggota tim terhadap pelaksanaan kegiatan.
C. Audit hasil
Audit hasil adalah audit produk kerja yang dapat berupa kondisi pasien,
kondisi SDM, dan indikator mutu.
Kondisi pasien dapat berupa keberhasilan pasien dan kepuasan, yaitu:
a. Audit dokumentasi asuhan keperawatan
b. Survey masalah baru
c. Kepuasan pasien dan keluarga
Kondisi SDM dapat berupa efektifitas dan efisiensi serta kepuasan, yaitu
1) Kepuasan tenaga kesehatan: perawat, dokter
2) Penilaian kinerja perawat
3) Indikator mutu umum yaitu:
4) Prosentasi pemakaian tempat tidur (BOR)
5) Rata-rata lama rawat seorang pasien (ALOS)
6) Tempat tidur tidak terisi (TOI)
7) Angka infeksi nasokomial (NI)
8) Angka dekubitus dan sebagainya.
2) Pilar II : Sistem Penghargaan (Compensatory Reward)
Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik keperawatan
professional berfokus pada proses rekruitmen, seleksi kerja orientasi, penilaian
23
kinerja, staf [Link] ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan
setiap ada penambahan perawatan baru.
Compensatory reward (kompensasi penghargaan) menjelaskan manajemen
keperawatan khususnya manajemen sumber daya manusia (SDM) keperawatan.
Fokus utama manajemen keperawatan adalah pengelolaan tenaga keperawatan agar
dapat produktif sehingga misi dan tujuan organisasi dapat tercapai. Perawat
merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling banyak melakukan
praktek profesionalnya pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Seorang perawat
akan mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang profesional
apabila perawat tersebut sejak awal bekerja diberikan program pengembangan staf
yang terstruktur. Metode dalam menyusun tenaga keperawatan seharusnya teratur,
sistematis, rasional, yang digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis tenaga
keperawatan yang dibutuhkan agar dapat memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien sesuai yang diharapkan.
Manajemen SDM di ruang MPKP berfokus pada proses rekruitmen, seleksi,
kontrak kerja, orientasi, penilaian kinerja, dan pengembangan staf perawat. Proses ini
selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawat
baru.
3) Pilar III : Hubungan Profesional
Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawata (tim
kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan keluarga). Pada
pelaksanaan nya hubungan professional secara interal artinya hubungan yang terjadi
antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat,
perawat dengan tim kesehatan dan lain–lain. Sedangkan hubungan professional secara
eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan.
4) Pilar IV : Manajemen Asuhan Keperawatan
Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan keperawat
dengan mengunakan manajemen asuhan keperawatan di MPKP tertentu. Manajemen
asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan
menerapkan proses keperawatan.
24
a. Ketenagaan Keperawatan
Douglas (1984) dalam suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang
diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien.
Menurut Loveridge & Cummings (1996) klasifikasi derajat ketergantungan pasien
dibagi 3 kategori, yaitu :
a) Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 – 2 jam/24 jam yang terdiri atas :
a. Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.
b. Makan dan minum dilakukan sendiri
c. Ambulasi dengan pengawasan
d. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift.
e. Pengobatan minimal, status psikologis stabil.
f. Persiapan prosedur memerlukan pengobatan.
b) Perawatan intermediet : memerlukan waktu 3 – 4 jam/24 jam yang terdiri atas :
a. Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
b. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
c. Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
d. Voley kateter/intake output dicatat
e. Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan, memerlukan
prosedur
c) Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 – 6 jam/24 jam :
a. Segala diberikan/dibantu
b. Posisi yag diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam
c. Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena
d. Pemakaian suction
e. Gelisah/disorientasi
Menurut Douglas (1984) ada beberapa kriteria jumlah perawat yang
dibutuhkan perpasien untuk dinas pagi, sore dan malam.
Waktu Pagi Sore Malam
Klasifikasi
Minimal 0,17 0,14 0,10
Partial 0,27 0,15 0,07
Total 0,36 0,30 0,20
25
Sistem pemberian asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan pemberian
asuhan keperawatan secara efektif dan efisien kepada sejumlah pasien. Setiap
metoda memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Terdapat 3 pola yang
sering digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan, yaitu penugasan
fungsional, penugasan tim , penugasan primer.
a) Penugasan Keperawatan Fungsional :
Sistem penugasan ini berorinetasi pada tugas dinama fungsi keperawatan
tertentu ditugaskan pada setiap perawat pelaksana, misalnya seorang
perawat ditugaskan khusus untuk tindakan pemberian obat, perawat yang
lain untuk mengganti verband, penyuntikan, observasi tanda-tanda vital,
dan sebagainya. Tindakan ini didistribusikan berdasarkan tingkat
kemampuan masing-masing perawat pelaksana. Oleh karena itu kepala
Ruangan terlebih dahulu mengidentifikasi tingkat kesulitan tindakan
tersebut, selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab
mengerjakan tindakan yang dimaksudkan. Setiap perawat pelaksana
bertanggung jawab langsung kepada kepala Ruangan. Tidak ada perawat
pelaksana yang bertanggung jawab penuh untuk asuhan keperawatan pada
seorang pasien.
Keuntungan :
a. Menyelesaikan banyak pekerjaaan dalam waktu singkat.
b. Tepat metoda ini bila ruang rawat memiliki keterbatasan/kurang
tenaga keperawatan professional.
c. Perawat lebih terampil, karena orientasi pada tindakan langsung dan
selalu berulang-ulang dikerjakan.
Kerugian :
a. Memilah-milah asuhan keperawatan oleh masing-masing perawat.
b. Menurunkan tanggung gugat dan tanggung jawab.
c. Hubungan perawat-pasien sulit terbentuk.
d. Pelayanan tidak professional.
e. Pekerjaan monoton, kurang tantangan.
b) Penugasan Keperawatan Tim :
Adalah suatu bentuk sistem/metoda penugasan pemberian asuhan
keperawatan, dimana Kepala Ruangan membagi perawat pelaksana dalam
beberapa kelompok atau tim, yang diketuai oleh seorang perawat
26
professional/berpengalaman. Metoda ini digunaklan bila perawat
pelaksana terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan
kemampuannya.
Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh
kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota
tim. Tujuan metoda penugasan keperawatan tim untuk memberikan
keperawatan yang berpusat kepada pasien. Ketua Tim melakukan
pengkajian dan menyusun rencana keperawatan pada setiap pasien, dan
anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan keperawatan
berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena
kegiatan dilakukan bersama-sama dalam kelompok, maka ketua tim
seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya
(konferensi tim) guna membahas kejadian-kejadian yang dihadapi dalam
pemberian asuhan keperawatan.
Keuntungan :
a. Melibatkan semua anggota tim dalam asuhan keperawatan pasien.
b. Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapaty
dipertanggung jawabkan.
c. Membutuhkan biaya lebih sedikit/murah, dibanding sistem
penugasan lain.
d. Pelayanan yang diperoleh pasien adalah bentuk pelayanan
professional.
Kerugian :
a. Dapat menimbulkan pragmentasi dalam keperawatan.
b. Sulit untuk menentukan kapan dapat diadakan
pertemuan/konferensi, karena anggotanya terbagi-bagi dalam shift.
c. Ketua tim lebih bertanggung jawab dan memiliki otoritas,
dibandingkan dengan anggota tim.
c) Penugasan Keperawatan Primer
Keperawatan primer adalah suatu metoda pemberian asuhan keperawatan
dimana perawat perofesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat
terhadap asuhan keperawatan pasien selama 24 jam/hari. Tanggung jawab
meliputi pengkajian pasien, perencanaan , implementasi, dan evaluasi
asuhan keperawatan dari sejak pasien masuk rumah sakit hingga pasien
27
dinyatakan pulang, ini merupakan tugas utama perawat primer yang
dibantu oleh perawat asosiet. Keperawatan primer ini akan menciptakan
kesepakatan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif,
dimana asuhan keperawatan berorientasi kepada pasien.
Pengkajian dan menyusun rencana asuhan keperawatan pasien di bawah
tanggung jawab perawat primer, dan perawat asosiet yang akan
mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan dalam timdakan
keperawatan.
Keuntungan :
a. Otonomi perawat meningkat, karena motivasi, tanggung jawab dan
tanggung gugat meningkat.
b. Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan.
c. Meningkatnya hubungan antara perawat dan pasien.
d. Terciptanya kolaborasi yang baik.
e. Membebaskan perawat dari tugas-tugas yang bersifat perbantuan.
f. Metoda ini mendukung pelayanan professional.
g. Penguasaan pasien oleh seorang perawat primer.
Kerugian :
a. Ruangan tidak memerlukan bahwa semua perawat pelaksana harus
perawat professional.
b. Biaya yang diperlukan banyak.
d) Proses Keperawatan
Proses keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang
dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan secara bertahap.
Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik sentral dalam
pengambilan keputusan. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam
pengambilan keputusan adalah :
1. Identifikasi masalah
2. Menyusun alternatif penyelesaikan masalah
3. Pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan
melaksanakannya
4. Evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah.
Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada langkah-
langkah proses keperawatan yaitu :
28
a. Pengkajian fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih holistic
b. Diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat dari masalah
masalah keperawatan
c. Rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah
d. Implementasi rencana, dan
e. Evaluasi hasil tindakan.
e) Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem
pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasian yang baik,
maka informasi mengenai keadaan Kesehatan pasien dapat diketahui
secara berkesinambungan. Disamping itu, dokumentasi merupakan
dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Secara lebih
spesifik, dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi
Kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber
data untuk penelitian, sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan
pertanggung gugatan asuhan keperawatan.
Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi
berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan,
catatan tindakan keperawatan, dan catatan perkembangan pasien.
Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan di berbagai rumah sakit,
Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP tediri lima
komponen yaitu nilai – nilai professional yang merupakan inti MPKP,
hubungan antar professional, metode pemberian asuhan keperawatan,
pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan
keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. Lima subsistem
dalam pengembangan MPKP adalah sebagai berikut :
a) Nilai – nilai professional
Pada model ini PP dan PA membangun kontrak dengan
klien/keluarga, menjadi partner dalam memberikan asuhan
keperawatan. Pada pelaksanaan dan evaluasi renpra. PP mempunyai
otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan asuhan
yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan oleh PA. hal ini
berarti PP mempunyai tanggung jawab membina performa PA agar
29
melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai profesional. Nilai-nilai
profesional digariskan dalam kode etik keperawatan yaitu:
i. Hubungan perawat – klien
ii. Hubungan perawat dan praktek
iii. Hubungan perawat dan masyarakat
iv. Hubungan perawat dan teman sejawat
v. Hubungan perawat dan profesi
b) Hubungan antar professional
Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP. PP yang paling
mengetahui perkembangan kondisi klien sejak awal masuk.
Sehingga mampu memberi informasi tentang kondisi klien kepada
profesional lain khususnya dokter. Pemberian informasi yang akurat
akan membantu dalam penetapan rencana tindakan medik.
c) Metode pemberian asuhan keperawatan
Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah
modifikasi keperawatan primer ehingga keputusan tentang renpra
ditetapkan oleh PP, PP akan mengevaluasi perkembangan klien
setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra sesuai kebutuhan
klien.
d) Pendekatan manajemen
Pada model ini diberlakukan manajemen SDM, yaitu ada garis
koordinasi yang jelas antara PP dan PA. performa PA dalam satu
tim menjadi tanggung jawab PP. Dengan demikian, PP adalah
seorang manajer asuhan keperawatan. Sebagai seorang manajer, PP
harus dibekali dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan
sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan pemimpin yang
efektif.
e) Sistem kompensasi dan panghargaan.
PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk
asuhan keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang
profesional. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan kepada
perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan
penghargaan berdasarkan prosedur.
30
Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk model praktek
keperawatan profesional (MPKP), yang pada awalnya dikembangkan oleh
Sudarsono (2000) di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan beberapa rumah sakit
umum lain. Menurut Sudarsono (2000), MPKP dikembangkan beberapa jenis
sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu:
a. Model praktek Keperawatan Profesional III
Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada
yang sudah doktor, sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based.
Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan, khususnya
penelitian klinis.
b. Model Praktek Keperawatan Profesional II
Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis
yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di ruangan ini
digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian
keperawatan.
c. Model Praktek Keperawatan Profesional I
Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan, metode
pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Metode yang
digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan
metode tim yang disebut tim primer.
d. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal pengembangan yang
akan menuju profesional I.
31
BAB III
PEMBAHASAN
32
sehingga pada perawat timbul motivasi dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dengan
demikian, diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Pelaksanaan metode tim
harus berdasarkan konsep berikut:
1. Ketua Tim, sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai
teknik kepemimpinan. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang
prioritas perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan. Pelaksanaan
konsep tim sangat tergantung pada filosofi ketua tim, yakni apakah berorientasi
pada tugas atau pada klien. Tanggung jawab ketua tim adalah:
a. Mengkaji setiap klien dan menetapkan rencana asuhan keperawatan.
b. Mengoordinasikan rencana asuhan keperawatan dengan tindakan medis
c. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan
memberikan bimbingan melalui konferensi
d. Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan dan hasil yang dicapai serta
mendokumentasikannya.
2. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana asuhan keperawatan
terjamin. Komunikasi yang terbukka dapat dilakukan melalui berbagai cara,
terutama melalui rencana asuhan keperawatan tertulis yang merupakan pedoman
pelaksanaan asuhan, supervisi, dan evaluasi.
3. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. Ketua tim membantu
anggotanya untuk memahami dan melakukan tugas sesuai dengan kemampuan
mereka.
4. Peran kepala ruangan penting dalam metode tim, metode tim akan berhasil baik,
apabila didukung oleh kepala ruangan. Untuk itu, kepala ruangan diharapkan
telah:
1) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
2) Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan
3) Memberi kesempatan kepada ketua tim untuk pengembangankepemimpinan
4) Mengorentasikan tenaga yang baru tentang fungsi metode tim keperaawatan
5) Menjadi narasumber bagi ketua tim
6) Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan
7) Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka.
33
3.3 Konsep Metode Tim
Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan berbagai
teknik kepemimpinan.
1. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
2. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
3. Peran kepala ruangan penting dalam model tim. Model tim akan berhasil bila
didukung oleh kepala ruangan.
34
1) Perencanaan
a. Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan masing-masing
b. Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya
c. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan persiapan
pulang bersama ketua tim
d. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan
kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/ penjadwalan
e. Merencanakan strategi pelak
f. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis, tindakan
medis yang dilakukan, progam pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter
tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
g. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan:
1) Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan
2) Membimbing penerapan proses keperawatan dan nilai asuhan
keperawatan
3) Mengadaka diskusi untuk pemecahan masalah
4) Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk RS
h. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri
i. Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan
j. Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di Rumah Sakit
2) Pengorganisasian
a. Merumuskan metode penugasan yang digunakan
b. Merumuskan tujuan metode penugasan
c. Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara jelas
d. Membuat rentang kendali kepada ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua
ti membawahi 2-3 perawat
e. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas,
mengatur tenaga yang ada setiap hari dan lain-lain
f. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
g. Mengatur dan mengendalika situasi tempat praktik
h. Mendelegasiakan tugas kepala ruagan tidak berada di tempat, kepada ketua
tim
i. Memberi wewenang
j. Identifikasi masalah dan cara penanganannya
35
3) Pengarahan
a. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
b. Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik
c. Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap
d. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan
asuhan keperawatan pasien
e. Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
f. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam mlaksanakan
tugasnya
g. Meningkatkan kolaborasi engan anggota tim
4) Pengawasan
a. Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua
tim dalam pelaksanaan mengenahi asuhan keperawatan yang diberi kepada
pasien
b. Melalui supervisi
1. Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui
laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/ mengawasi kelemahan
yang ada saat itu juga
2. Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir tim, membaca
dan memerksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesuai proses keperawatan yang dilaksanakan (didokumentasikan),
mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas
3. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana
keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim.
Pelaksanaa model tim tidak dibatasi oleh suatu pedoman yang kaku.
Model tim daat diimplementasikan pada tugas pagi, sore, malam. Apakah
teradapat 2 atau 3 tim tergantung pada jumlah dan kebutuhan serta jumlah dan
khualitas tenaga keperawatan. Umumnya satu tim terdiri dari 3-5 orang tenaga
keperawatan untuk 10-20 pasien. Berdasarkan hail penelitian Lambertson
seperti dikutip oleh Doglas (1984), menunjukkan bahwa model tim bila
dilakuka dengan benar merupakan model asuhan keperawatan yang tepat dalam
memanfaatkan tenaga keperawatan yang bervariasi kemampauan dalam
36
memberikan asuhan keperawatan. Hal ini berarti bahwa model tim dilaksanakan
denga tepat pada kondisi dimana kemampuan tenaga keperawatan bervariasi.
Kegagalan keperwatan model ini, jika penerapan konsep tidak
dilaksanakan secara menyeluruh/ total da tidak dilakukan pre atau post
conference dalam sistem pemberian asuhan keperawatan untuk memecah
masalah yang dihadapi pasien dalam penentuan strategi pemenuhan kebutuhan
pasien.
3.6 Kelebihan
a) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif dan holistik.
b) Memungkinkan pencapaian proses keperawatan
c) Konflik atau perbedaan pendapat antar staf daapt ditekan melalui rapat tim, cara ini
efektif untuk belajar.
d) Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
e) Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan
aman dan efektif
f) Peningkatan kerjasama dan komunikasi di antara anggota tim menghasilkan sikap
moral yang tinggi, memperbaiki fungsi staf secara keseluruhan, memberikan
anggota tim perasaan bahwa ia mempunyai kontribusi terhadap hasil asuhan
keperawatan yang diberikan.
g) Menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan
h) Metode ini memotivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas
i) Memberikan kepuasan pada pasien & perawat
j) Produktif karena kerjasama, komunikasi dan moral
3.7 Kekurangan
a) Ketua tim menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi dan supervisi anggota tim
dan harus mempunyai keterampilan yang tinggi baik perawat pemimpin maupun
perawat klinik.
b) Keperawatan tim menimbulkan fragmentasi keperawatan bila konsepnya tidak
diimplementasikan dengan total.
c) Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau
terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antar
anggota tim terganggu sehingga kelancaran tugas terhambat.
37
d) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau
berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
e) Akontabilitas dalam tim kabur.
f) Tidak efektif bila pengaturan tidak baik
g) Membutuhkan banyak kerjasama dan komunikasi
h) Membingungkan bila komposisi tim sering dirubah.
Charge Nurse
38
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keperawatan sebagai suatu profesi adalah salah satu pekerjaan bagian dari tim
kesehatan, yang ikut bertanggungjawab dalam membantu klien sebagai individu,
keluarga, maupun sebagai masyarakat, baik dalam kondisi sehat maupun sakit, yang
bertujuan untuk tercapainya pemenuhan kebutuhan dasar klien, dalam mempertahankan
kondisi kesehatan yang optimal, dalam menentukan tindakan keperawatan harus
didasarkan pada ilmu pengetahuan, komunikasi interpersonal serta memiliki keterampilan
yang jelas dalam keahliannya.
4.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari tentu banyak kekurangan dan
kejanggalan baik dalam penulisan maupun penjabaran materi serta penyusunan atau
sistematik penyusunan.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca semua. Dan penyusun juga berharap semoga makalah ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua.
39
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
40