1.
Pengertian Dioda (Diode)
Dioda (diode) adalah suatu komponen elektrik yang dapat mengalirkan arus listrik hanya
pada satu arah tertentu. Dioda yang paling banyak dijumpai dalam era modern ini adalah
diode semikonduktor. Skematik diagram elektrik dari diode ini adalah sebagai berikut :
Gambar 1.1 : Tanda panah mengindikasikan arah aliran electron yang mengalir
Jika kita berikan rangkaian simulasi elektrik sederhana dengan menambahkan baterai dan
lampu seperti pada Gambar 1.2 maka dapat dilihat bahwa diode akan mengizinkan ataupun
mencegah arus listrik untuk mengalir ke lampu bergantung dengan polaritas dari tegangan
yang diberikan.
Gambar 1.2 : Simulasi Dioda : (a) Arus diizinkan mengalir ; diode mengalami forward bias.
(b) Arus tidak diizinkan mengalir ; diode mengalami reverse bias.
Hal ini dapat terjadi akibat adanya keunikan tersendiri dari material yang digunakan
sebagai diode. Diode semikonduktor terdiri dari sambungan material semikonduktor tipe dan
tipe n yang biasa disebut dengan p-n junction (sambungan p-n). Berikut ilustrasi diode p-n
junction :
Gambar 1.3 : Representasi diode : (a) model p-n junction,(b) simbol skematik, (c) gambaran
fisik komponen.
Pada gambar 1.3a dapat dilihat bahwa pada material semikonduktor sambungan p-n
terdapat daerah deplesi. Daerah inilah yang mempengaruhi terjadinya forward bias atau
reverse bias. Jika tegangan reverse bias diberikan pada diode maka daerah deplesi dari diode
akan meluas sehingga menghambat arus listrik untuk mengalir. (Gambar 1.4 )
Gambar 1.4 : Daerah deplesi meluas dengan tegangan reverse bias.
Sebaliknya jika tegangan forward bias diberikan pada diode maka daerah deplesi akan
menipis sesuai dengan tegangan yang diberikan. (Gambar 1.5) Tegangan barir pada diode
merupakan tengangan yang dibutuhkan untuk membuat diode bekerja sesuai yang diinginkan.
Tegangan barir ini berpengaruh terhadap daerah deplesi dari diode tersebut. Biasanya untuk
semikonduktor germanium tegangan barirnya sekitar 0.3 V dan untuk silicon sekitar 0.7 V.
Gambar 1.5 : Meningkatkan tegangan forward bias dari (a) ke (b) mempersempit daerah
deplesi.
Polaritas diode dapat diketahui dengan menggunakan multimeter. Untuk multimeter analog
kita dapat menggunakan fungsi ohmmeter sebagai indikator untuk menentukan polaritas
diode. Multimeter analog pada dasarnya mempunyai 2 probe (merah dan hitam adalah warna
yang biasa digunakan untuk mengetahui bagian positif dan negatif atau ground pada
multimeter). Ketika probe warna merah disambungkan ke salah satu ujung diode dan probe
warna hitam di ujung yang lain maka dapat dilihat pada penunjuk angka multimeter hasil
resistansi yang didapatkan. Jika angka yang ditunjukkan adalah 0 maka diode mengalami
forward bias (arus listrik dapat dialirkan). Jika angka yang ditunjukkan adalah .0L maka diode
mengalami reverse bias (multimeter menunjukkan nilai resistansi yang sangat tinggi).
(Gambar 1.6)
Gambar 1.6 : Pengamatan polaritas diode : (a) Nilai resistansi yang rendah menunjukkan
forward bias (probe merah sebagai anode dan hitam sebagai katode untuk hampir semua
multimeter) (b) Nilai resistansi yang tinggi menunjukkan reverse bias.
Dalam pengukuran menggunakan ohmmeter ini sering terjadi kesalahan-kesalahan
sehingga pada multimeter digital sekarang sudah banyak dijumpai adanya indicator untuk
mengetahui polaritas dari diode. Berikut merupakan skema cara pengamatan polaritas diode
menggunakan multimeter digital. (Gambar 1.7 dan 1.8)
Gambar 1.7 : Multimeter dengan fungsi diode menunjukkan nilai 0.548 yang merupakan
tegangan barir dari diode tersebut.
Gambar 1.8 : Pengukuran tegangan barir dari diode tanpa menggunakan fungsi diode pada
multimeter : (a) Skematik diagram (b) Piktorial diagram.
2. Diode Rectifier ( Dioda Penyearah)
Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai aplikasi yang paling terkenal dari
komponen diode yaitu penyearah (rectifier). Secara sederhana penyearah adalah komponen
yang dapat mengkonversi atau merubah sinyal arus bolak balik (AC) menjadi sinyal arus
searah atau langsung (DC). Penyearah yang paling sederhana adalah half-wave rectifier atau
penyearah setengah gelombang. Dimana arus dari sinyal sumber AC hanya dilewatkan
setengah siklus. (Gambar 2.1)
Gambar 2.1 : Rangkaian half-wave rectifier.
Ketika sinyal AC yang diberikan pada bagian positif maka diode akan mengalami forward
bias sehingga sinyal tersebut akan dialirkan namun jika sinyal AC yang diberikan pada bagian
negatif maka diode akan mengalami reverse bias sehingga sinyal tersebut tidak dapat dialirkan
dan siklus ini berualang terus menerus dan menghasilkan sinyal setengah gelombang. Sinyal
tegangan yang dihasilkan oleh rangkaian tersebut tidak dapat diaplikasikan untuk supply daya
DC pada suatu komponen elektrik. Sehingga dilakukan penyempurnaan sinyal dengan
membuat rangkaian full-wave rectifier (penyearah gelombang penuh) sperti pada gambar 2.2
berikut ini :
Gambar 2.2 : Full-wave rectifier dengan center-taped design (desain transformator CT)
Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan desain transformator CT ini mempunyai
cara kerja yang sangat mudah dipahami dimana pada sumber AC yang dipakai mengalami
polaritas yang berbeda dimana pada bagian atas memiliki polaritas (+) dan bagian bawah
memiliki polaritas (-). Pada setengah siklus pertama diode pada bagian atas akan mengalirkan
arus dari sumber AC dan pada diode bagian bawah menghambat arus dari sumber AC.
Setengah siklus berikutnya, giliran diode bagian bawah yang mengalirkan arus dari sumber
dan pada bagian atas menghambat. Sehingga pada satu siklus akan dihasilkan gelombang
penuh dari gabungan setengah siklus pertama dan kedua. Berikut skema cara kerja dari
rangkaian full-wave rectifier dengan center-taped design. (Gambar 2.3 dan 2.4)
Gambar 2.3 : Rangkaian full-wave center-tap rectifier : Setengah bagian atas rangkaian
mengalirkan arus dari sumber ke beban dan bagian bawah tidak ada aliran arus.
Gambar 2.4 : Rangkaian full-wave center-tap rectifier : Setengah bagian bawah rangkaian
mengalirkan arus dari sumber ke beban dan bagian atas tidak ada aliran arus.
Selain menghasilkan sinyal gelombang dalam bentuk positif dengan beberapa modifikasi
polaritas dari gelombang pada rangkaian tersebut dapat terjadi. Berikut merupakan skema
modifikasi yang digunakan :
Gambar 2.5 : Rangkaian dual polarity full-wave center-tap rectifier
Selain skema-skema rangkaian elektronik diatas terdapat satu lagi rangkaian yang paling
popular yaitu rangkaian full-wave bridge rectifier. (Gambar 2.6)
Gambar 2.6 : Rangkaian full-wave bridge rectifier
Arah arus pada rangkaian full-wave bridge rectifier dapat dilihat pada gambar 2.7 untuk
setengah siklus positif dan gambar 2.8 untuk setengah siklus negatif. Hal yang harus digaris
bawahi adalah tidak peduli polaritas dari sumber yang ada aliran arus ke beban tetap pada
arah yang sama. Sehingga pada setengah siklus negatif dari sumber tetap akan menghasilkan
polaritas positif pada beban. Arus yang mengalir pada rangkaian tersebut melewati dua diode
sehingga voltage drop dari sumber adalah dua kali dari tegangan barir diode (2 x 0.7 = 1.4 V
untuk Si).
Gambar 2.7 : Rangkaian full-wave bridge rectifier : Aliran electron pada setengah siklus
positif.
Gambar 2.8 : Rangkaian full-wave bridge rectifier : Aliran electron pada setengah siklus
negatif.
Gambar 2.9 : Alternatif skema rangkaian untuk full-wave bridge rectifier
Salah satu keuntungan dari skema rangkaian pada gambar 2.9 adalah mempermudah kita
ketika kita ingin mengimplementasikan pada sumber yang mempunyai fase banyak seperti
pada gambar 2.10 dan 2.11.
Gambar 2.10 : Rangkaian 3-phase full-wave bridge rectifier
Gambar 2.11 : Rangkaian 6-phase full-wave bridge rectifier
Pada umumnya semakin banyak fase dari sumber yang akan disearahkan maka semakin
bagus hasil yang akan didapatkan (keluaran sinyal DC akan semakin halus karena tegangan
ripple yang terjadi semakin berkurang). (Gambar 2.12)
Gambar 2.12 : Sumber AC 3-fase dan keluaran 3-phase full-wave bridge rectifier
3. Peak Detector (Detektor Puncak)
Peak detector merupakan rangkaian seri dari sebuah diode dan kapasitor dengan keluaran
tegangan DC yang mempunyai nilai sama dengan puncak nilai dari tegangan sumber AC yang
diberikan. Rangkaian yang ditunjukkan pada gambar 3.1 memberikan gambaran mengenai
sebuah sumber AC yang diberikan pada rangkaian seri antara resistor , diode dan kapasitor.
Pada siklus positif diode mengalami konduksi dan mengalirkan arus ke kapasitor yang
mengakibatkan kapasitor mengalami pengisian tegangan sampai menuju nilai puncak dari
sumber tegangan masukan. Ketika nilai masukan tegangan menurun dibawah nilai tegangan
DC yang disimpan diode mengalami reverse bias sehingga menghambat jalannya arus yang
akan mengalir ke sumber sehingga nilai yang tersimpan pada kapasitor tidak akan menurun.
Dari gambar 3.2 didapatkan bahwa kapasitor memerlukan beberapa siklus untuk mencapai
tegangan tertinggi hal ini dikarenakan penyimpanan muatan oleh kapasitor bergantung pada
besar nilai hambatan dan kapasitor yang digunakan yang pada umumnya disebut sebagai time
constant (RC). Selain itu pada gambar tersebut juga diperlihatkan bahwa nilai tegangan yang
disimpan oleh kapasitor tidak sampai pada angka 5 V seperti pada supply tegangan yang
diberikan. Hal itu terjadi karena muatan yang disimpan kapasitor mengalami penurunan
akibat adanya voltage drop dari diode sebesar 0.7 pada semikonduktor tipe silicon.
Gambar 3.1 : Rangkaian peak detector : diode terkonduksi pada siklus positif dan mengisi
muatan ke kapasitor sampai ke nilai puncak tegangan sumber.
Gambar 3.2 : Hasil simulasi rangkaian peak detector : Kapasitor terisi muatan sampai ke
nilai puncak tegangan sumber dalam beberapa siklus.
4. Clipper circuits (Rangkaian Clipper)
Rangkaian yang digunakan untuk menghilangkan puncak dari sebuah bentuk gelombang
biasa disebut sebagai rangkaian clipper. Rangkaian pada gambar 4.1 merupakan skema
rangkaian yang digunakan untuk menghilangkan nilai negatih dari bentuk gelombang
masukan yang diberikan. Dimana pada sklus positif dengan masukan nilai tegangan puncak 5
V diode mengalami reverse bias. Sehingga sinyal gelombang tidak berubah seperti gambar
4.2 pada keluaran V(2) dan sinyal sinusoidal masukan digeser satu nilai ke atas V(1)+1. Pada
siklus negative diode mengalami forward bias sehingga sinyal sinusoidal yang diberikan akan
di potong pada tegangan 0 V untuk diode ideal namun dengan diode silicon maka dipotong
pada nilai tegangan -0.7 V.
Gambar 4.1 : Rangkaian clipper : clipper negative pada tegangan -0.7 V.
Gambar 4.2 : V(1)+1 adalah V(1), dengan offset 1 V untuk memperjelas perbedaan V(1)
dengan V(2), keluaran V(2) dipotong pada tegangan -0.7 V oleh diode D1.
Untuk memotong nilai puncak positif maupun negative dari tegangan sumber maka dapat
digunakan rangkaian modifikasi berikut (Gambar 4.3) :
Gambar 4.3 : Rangkaian clipper simetris : Rangkaian anti-parallel diode ini akan memotong
nilai puncak positif maupun negative dari tegangan sumber dengan nilai ±0.7 V.
Diode D1 akan bekerja seperti pada rangkaian sebelumnya yaitu memotong nilai puncak
negative pada tegangan -0.7 V. Diode tambahan D2 akan terkonduksi pada siklus positif dari
tegangan sumber dan memotong nilai tegangan gelombang pada 0.7 V. (Gambar 4.4)
Gambar 4.4 : Diode D1 memotong pada tegangan -0.7 V dan terkonduksi pada puncak
negative. D2 terkonduksi pada puncak positif pada tegangan 0.7 V.
5. Clamper circuits (Rangkaian Clamper).
Rangkaian clamper merupakan salah satu aplikasi diode sebagai penggeser sinyal
gelombang dalam arah vertical dan tetap mempertahankan bentuk dari sinyal yang masuk.
Berikut skema rangkaian sinyal masukan dan rangkaian clamper :
Gambar 5.1 : Sinyal masukan dan rangkaian clamper
Dari skema rangkaian gambar 5.1 akan didapatkan hasil sinyal masukan digeser turun ke 0
V. Pada interval 0 T/2 skema pada gambar 5.1 akan menjadi gambar 5.2, dengan diode
dalam keadaan hidup dan kapasitor terisi muatan sampai pada kondisi puncak dari sinyal
masukan secara cepat (bergantung pada time constant). Dengan begitu didapatkan tegangan
keluaran v0 = 0 V. Namun pada interval kedua , tegangan input dari sinyal masukan berubah
menjadi –V sehingga rangkaian pada gambar 5.1 menjadi gambar 5.3. Dengan
memperhatikan polaritas dari sumber, diode dan kapasitor dan hukum Kirchoff Voltage Law
(KVL) maka didapatkan :
Gambar 5.2 : Kondisi diode hidup dan kapasitor melakukan pengisian ke nilai puncak
tegangan masukan.
Gambar 5.3 : Kondisi diode mati dan nilai keluaran v0 menjadi 2 kali –V
−V −V −v 0=0 sehingga menjadi v0 = -2V. Hasil sinyal keluaran dari rangkaian 5.1
menjadi gambar 5.4.
Gambar 5.4 : Hasil sinyal yang didapatkan dari rangkaian clamper pada gambar 5.1
6. Voltage Multiplier (Pengali Tegangan)
Voltage multiplier adalah sebuah skema rangkaian diode penyearah (rectifier) yang
menghasilkan keluaran dimana secara teori berlipat ganda dari nilai puncak sumber yang
diberikan secara integer. Berikut merupakan contoh sederhana dari voltage multiplier yang
biasa disebut dengan half-wave voltage doubler. (Gambar 6.1)
Gambar 6.1 : Rangkaian half-wave voltage doubler (a) terdiri atas (b) rangkaian clamper
dan (c) rangkaian half-wave rectifier.
Cara kerja dari rangkaian tersebut adalah pada setengah siklus pertama (lihat gambar 6.1 b)
D2 hidup sehingga ada aliran arus menuju kapasitor dan mengisi muatan pada kapasitor C2
hingga mencapai nilai puncak tegangan sumber sedangkan tidak ada arus yang mengalir ke
C1 karena diode D1 dalam keadaan mati (cut off). Setengah siklus selanjutnya , diode D2
akan mengalami cut off dan diode D1 hidup sehingga ada aliran arus menuju ke kapasitor C1
dan mengisi kapasitor tersebut sampai menuju nilai 2 kali dari sumber masukan. Hal ini
dikarenakan kapasitor C1 menerima tegangan dari hasil penjumlahan tegangan dari rangkaian
seri antara tegangan masukan dengan tegangan dari kapsitor C2. Berikut penampakan hasil
dari rangkaian gambar 6.1. (Gambar 6.2) Bentuk gelombang keluaran tegangan adalah v(2)
dimana mencapai kestabilan pada tegangan 10 V (8.6 V dengan 2 voltage drop dari diode)
setelah beberapa siklus.
Gambar 6.2 : Hasil rangkaian voltage doubler : v(4) masukan. v(1) keadaan clamper. v(2)
keadaan half-wave rectifier yang merupakan keluaran dari voltage doubler.
Dari rangkaian voltage doubler tersebut dapat kita modifikasi menjadi tripler maupun
quadrupler dengan cara kerja yang sama. (Gambar 6.3)
Gambar 6.3 : Skema ekspansi rangkaian voltage doubler ke tripler dan quadrupler
7. Logic Gate OR/AND (Gerbang Logika OR/AND)
Gerbang Logika adalah suatu logika digital yang digunakan dalam pemrosesan data di
dalam computer. Diode dapat melakukan pekerjaan sebagai logika digital berupa fungsi OR
dan AND. Berikut merupakan skema gerbang logika OR positif (Gambar 7.1) :
Gambar 7.1 : Rangkaian gerbang logika OR positif
Pada rangkaian gerbang logika OR positif dapat dilihat bahwa tegangan dengan nilai 10 V
mewakili bilangan logika digital 1 sedangkan 0 V mewakili logika digital 0. Cara kerja dari
rangkaian pada gambar 7.1 adalah, diode D1 akan terkonduksi sehingga mengalirkan arus ke
resistor R sedangkan D2 tidak terkonduksi karena tegangan masukan lebih rendah dari
voltage drop diode. Sehingga tegangan keluaran pada resistor R sebesar 9.3 V (hal ini
dikarenakan ada pengurangan oleh voltage drop diode). Tegangan keluaran tersebut masih
berada pada level tinggi (mendekati 10 V) sehingga keluaran logika yang dihasilkan adalah 1.
Ketika masukan 10 V dipindahkan ke diode D2 dan diode D1 dengan masukan 0 V maka juga
akan diperoleh hasil yang sama. Jika pada diode D1 dan D2 diberikan masukan 10 V maka
kedua diode akan mengalami forward bias sehingga kedua diode akan mengalirkan arus ke
resistor R. Karena rangkaian diode dengan resistor bersifat parallel maka tegangan keluaran
pada R sama dengan tegangan masukan dan ini menunjukkan nila logika digital 1. Namun
jika kedua diode diberikan masukan tegangan 0 V maka tidak ada diode yang terkonduksi dan
tidak ada aliran arus menuju resistor R. Sehingga nilai keluaran tegangan pada resistor R
adalah 0 V yang mewakili logika digital 0. Dari beberapa kombinasi masukan tersebut dapat
kita masukkan dalam table kebenaran gerbang logika OR sebagai berikut :
Tabel 7.1 : Tabel kebenaran gerbang OR dan hasil dari rangkaian gambar 7.1
D1 D2 X = D1 + D2
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 1
Skema berikutnya adalah rangkaian diode sebagai gerbang logika AND positif. (Gambar
7.2)
Gambar 7.2 : Rangkaian gerbang logika AND positif.
Pada gambar 7.2 diode D1 mendapatkan masukan 10 V dan D2 mendapatkan masukan 0 V
sehingga D1 tidak terkonduksi atau dalam keadaan cut off karena pada bagian positif diode
(anode) tegangan yang diberikan tidak lebih positif daripada bagian negative (katode).
Sementara itu pada diode D2 mengalami konduksi sehingga ada arus yang mengalir melalui
D2. Hal ini menyebabkan tegangan keluaran V0 sama dengan voltage drop dari diode D2 dan
mewakili logika digital 0. Hal serupa juga akan didapatkan dengan mengubah masukan D1
menjadi 0 V dan D2 10 V. Namun jika kedua diode diberikan masukan sama yaitu 10 V maka
tidak ada diode yang akan terkonduksi sehingga tegangan pada system adalah sama besar
yaitu 10 V dan mewakili logika digital 1. Jika dilakukan hal sebaliknya maka kedua diode
akan terkonduksi sehingga ada aliran arus yang mengalir melalui diode D1 dan D2. Hal ini
mengakibatkan tegangan keluaran pada V0 sama dengan voltage drop diode dan mewakili
logika digital 0. Dari beberapa kombinasi masukan pada rangkaian tersebut dapat di
masukkan dalam table kebenaran gerbang logika AND berikut :
Table 7.2 : Tabel kebenaran gerbang AND dan hasil dari rangkaian gambar 7.2
D1 D2 X = D1 · D2
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 1
8. Waveshaper (Pembentuk Gelombang)
Waveshaper atau pembentuk gelombang merupakan salah satu aplikasi dari diode dimana
diode berfungsi sebagai perubah bentuk sinyal masukan menjadi sinyal yang diinginkan
misalnya dari sinyal sinusoidal menjadi rectangular atau square dan juga dari sinyal segitiga
menjadi sinyal sinusoidal. Hal ini dapat dilakukan oleh diode sehingga kita dapat membuat
sinyal generator menggunakan diode. Berikut merupakan contoh aplikasi diode sebagai
waveshaper dari sinyal segitiga kesinyal sinusoidal yang telah disearahkan (Gambar 8.1) :
Gambar 8.1 : Rangkaian diode sebagai pembentuk sinyal sinusoidal yang telah disearahkan
dari sinyal segitiga (rangkaian dibuat dengan software Livewire 1.10)
Pada gambar 8.1 dapat diketahui bahwa terdapat 2 rangkaian yaitu rangkaian yang atas
merupakan rangkaian full-wave rectifier untuk menghasilkan sinyal yang mempunyai bentuk
(nilai dan fase) sama dengan sinyal yang akan dibentuk sehingga dapat dibandingkan. Karena
pada sinyal generator tidak terdapat sinyal segitiga dengan 2 polaritas (nilai + dan -).
Rangkaian yang berada dibawah rangkaian full-wave rectifier tersebut merupakan rangkaian
pembentuk gelombang yang digunakan. Cara kerja dari rangkaian tersebut adalah sinyal
generator mengeluarkan sinyal segitiga dengan nilai puncak 20 V dan sinyal tersebut akan
melewati rangkaian parallel dari resistor dimana pada resistor R2 terdapat diode D1 dan
sumber berupa baterai bernilai 5 V yang diletakkan pada katode diode D1. Sehingga diode
akan mengalami cut off ketika sinyal segitiga masih berada pada nilai dibawah 5 V dan
mengakibatkan sinyal akan diteruskan ke resistor R1 dan langsung menjadi sebagai keluaran.
Sedangkan ketika sinyal segitiga melewati nilai 5 V maka diode akan terkonduksi dan
rangkaian pembagi tegangan akan bekerja sehingga keluaran dari rangkaian tersebut akan
lebih rendah dari masukan yang diberikan. Hal ini juga terjadi ketika pada saat sinyal
masukan mengalami penurunan. (Gambar 8.2 dan 8.3)
Gambar 8.2 : Hasil perbandingan sinyal masukan (warna merah) dengan sinyal hasil
keluaran (warna biru)
Dari gambar 8.2 dapat kita lihat bahwa sinyal keluaran mulai mengalami penurunan nilai
setelah melewati tegangan 5 V dan mulai membentuk seperti bentuk sinyal sinusoidal yang
telah di searahkan dengan rangkaian full-wave rectifier.
Gambar 8.3 : Hasil perbandingan sinyal keluaran (warna biru) dengan sinyal sinusoidal
yang telah disearahkan dengan rangkaian full-wave rectifier (warna merah)
Dari gambar 8.3 dapat diketahui bahwa sinyal masukan berupa segitiga dapat dibentuk
menyerupai sinyal sinusoidal yang telah disearahkan dengan rangkaian full-wave rectifier.
Namun dapat kita lihat juga pada sinyal keluaran tersebut masih terdapat nilai-nilai dari
tegangan keluaran masih banyak yang belum sesuai dengan sinyal yang diinginkan. Untuk
meminimalisir kesalahan atau error dari sinyal yang dibentuk kita dapat menghaluskan error
tersebut dengan menambahkan beberapa tambahan diode dan resistor sebagai berikut
(Gambar 8.4) :
Gambar 8.4 : Rangkaian pembentuk gelombang untuk meminimalisasi error
Pada gambar 8.4 dapat diketahui bahwa ada beberapa tambahan diode, resistor dan sumber
tegangan (baterai dengan nilai tertentu). Cara kerja dari rangkaian tersebut sama dengan
rangkaian sebelumnya yaitu mengatur diode D1, D2, dan D3 terkonduksi pada nilai tegangan
masukan tertentu (6 V, 9 V, dan 11 V). Dengan adanya pengaturan diode tersebut didapatkan
hasil sebagai berikut (Gambar 8.5 dan 8.6) :
Gambar 8.5 : Hasil perbandingan sinyal masukan (warna merah) dengan sinyal keluaran
(warna biru)
Dari gambar 8.5 didapatkan hasil yang lebih halus dari rangkaian pada gambar 8.1 dalam
pembentukan sinyal sinusoidal yang telah disearahkan dengan rangkaian full-wave rectifier.
Gambar 8.6 : Hasil perbandingan sinyal keluaran (warna biru) dengan sinyal yang
diinginkan (warna merah)
Dari gambar 8.6 dapat diketahui bahwa sinyal keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian
pada gambar 8.4 lebih mendekati dengan sinyal yang diinginkan daripada hasil dari rangkaian
pada gambar 8.1. Error yang dihasilkanpun menjadi lebih kecil daripada keluaran
sebelumnya.
Referensi :
[Link]
[Link]
Electronic Devices and Circuit Theory 7th Edition by Robert Boylestad dan Louis
Nashelsky