BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Suatu mesin dirancang dan dibuat untuk membantu mempermudah
pekerjaan manusia. Setiap mesin tersusun dari berbagai macam bagian
atau elemen yang saling berkaitan.
Elemen mesin adalah bagian-bagian penting yang dibutuhkan
untuk membentuk suatu keseluruhan mesin yang lebih besar. Elemen
mesin terbagi menjadi tiga jenis, yaitu elemen pengikat, elemen pemindah
atau transmisi, dan elemen penunjang. Setiap jenis elemen memiliki fungsi
dan peran masing-masing dalam mendukung kerja mesin. Salah satu
contoh dari elemen mesin adalah bantalan.
Bantalan merupakan bagian dari elemen transmisi yang sangat
berperan pada kinerja mesin. Elemen ini merupakan pondasi dari kinerja
suatu mesin. Apabila bantalan tidak bekerja dengan baik, maka kinerja
seluruh sistem pada mesin akan menurun atau tidak dapat bekerja
semestinya.
Rumusan Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan bantalan dan apa fungsinya?
2. Bagaimana cara kerja bantalan?
Tujuan
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah teori
Elemen Mesin kelas 1 DEB Politeknik Manufaktur Negeri Bandung Tahun
Ajaran 2017/2018.
1
Metode Ilmiah
Metode yang digunakan dalam pengerjaan makalah ini adalah
studi pustaka melalui pengkajian literatur yang berhubungan dengan
permasalahan yang dibahas.
2
BAB 2
PEMBAHASAN
BANTALAN
Definisi Bearing/Bantalan
Bearing atau bantalan merupakan suatu elemen mesin yang digunakan untuk
menahan poros berbeban, beban tersebut dapat berupa beban aksial atau beban
radial. Tipe bearing yang digunakan untuk bantalan disesuaikan dengan fungsi
dan kegunaannya. Bearing atau bantalan berfungsi untuk menumpu atau memikul
poros agar poros dapat berputar padanya. Bantalan harus kokoh untuk
memungkinkan poros atau elemen mesin lainnya dapat bekerja dengan baik. Jika
bantalan tidak bekerja dengan baik, maka prestasi kerja seluruh sistem akan
menurun atau tidak dapat bekerja semestinya. Jadi, jika disamakan pada gedung,
maka bantalan dalam permesinan dapat disamakan dengan pondasi pada suatu
gedung.
Prinsip Kerja Bantalan/Bearing
Apabila ada dua buah logam yang bersinggungan atau satu dengan lainnya
saling bergesekan, maka akan timbul gesekan, panas dan keausan. Untuk itu, pada
kedua permukaan benda harus diberi suatu lapisan yang dapat mengurangi
gesekan, panas dan keausan serta untuk memperbaiki kinerjanya harus
ditambahkan pelumasan sehingga kontak langsung antara dua benda tersebut
dapat dihindari.
Jenis jenis Bearing/Bantalan
1. Berdasarkan Gerakan Bantalan
Terhadap Poros
a. Bantalan Luncur
Bantalan luncur adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk
menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-
baliknya dapat berlangsung dengan halus dan aman. Jenis bantalan ini
3
mampu menumpu poros dengan beban besar. Berdasarkan arah beban
terhadap poros, bantalan luncur dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Bantalan radial atau disebut jurnal bearing, dimana arah
beban yang ditumpu bantalan adalah tegak lurus
terhadap sumbu poros.
b) Bantalan aksial atau disebut trust bearing, yaitu arah
beban yang ditumpu bantalan adalah sejajar dengan
sumbu poros.
c) Bantalan luncur khusus adalah kombinasi dari
bantalan radial dan bantalan aksial.
Karena gesekannya yang besar pada saat mulai jalan, maka
bantalan luncur memerlukan momen awal yang besar. Pelumasan pada
bantalan ini tidak begitu sederhana, karena gesekan yang besar akan
menimbulkan panas pada bantalan, sehingga memerlukan pendinginan
khusus.
Arah pelumasan ada dua, yaitu:
a) Radial, yaitu arah pelumasan yang tegak lurus dengan sumbu poros.
b) Aksial, yaitu arah pelumasan yang sejajar dengan sumbu poros.
Gesekan kental pada umumnya terjadi antara poros dengan bantalannya.
Pada waktu poros berputar, sebagian minyak pelumas yang melekat pada
permukaan poros ikut terbawa berputar. Apabila kemudian celah di bawah poros
menyempit menjadi lebih kecil daripada celah tempat minyak pelumas memasuki
ruang bantalan, minyak pelumas yang terbawa berputar itu akan mengalir mengisi
hambatan. Akibatnya, sebagian minyak pelumas akan mengalir kembali dan
4
menimbulkan tekanan hidrodinamik di dalam lapisan minyak. Tekanan ini cukup
kuat untuk mengangkat poros hingga menyentuh permukaan bantalan.
Cara-cara pelumasan pada bantalan luncur:
a) Pelumasan tangan
Cara ini sesuai untuk beban ringan, kecepatan rendah atau kerja
yang tidak terus-menerus. Kekurangannya adalah bahwa aliran pelumas
tidak selalu tetap atau pelumasan menjadi tidak teratur.
b) Pelumasan tetes
Pelumasan ini dilakukan dengan cara meneteskan minyak dari
sebuah wadah dalam jumlah yang tetap dan teratur melalui sebuah katup
jarum.
c) Pelumasan
Cara ini menggunakan sumbu yang dicelupkan dalam mangkok
minyak sehingga minyak terisap oleh sumbu tersebut. Pelumasan ini
dipakai seperti dalam hal pelumasan tetes.
d) Pelumasan percik
Pelumasan ini dilakukan dengan memercikkan minyak dari suatu
bak penampung. Cara ini dipergunakan untuk melumasi torak dan
silinder motor bakar torak yang berputaran tinggi.
e) Pelumasan cincin
Pelumasan ini menggunakan cincin yang digantungkan pada poros
sehingga akan berputar bersamaan dengan poros sambil mengangkat
minyak dari bawah.
f) Pelumasan pompa
Di sini, pompa digunakan untuk mengalirkan minyak ke dalam
bantalan. Pelumasan pompa sesuai untuk keadaan kerja dengan
kecepatan tinggi dan besar.
5
g) Pelumasan gravitasi
Dari sebuah tangki yang diletakkan di atas bantalan, minyak
dialirkan oleh gaya beratnya. Cara ini dipakai untuk bantalan dengan
kecepatan sedang dan tinggi pada kecepatan keliling sebesar 10 – 15.
h) Pelumasan celup
Pelumasan yang dilakukan dengan cara mencelupkan separuh
bagian bantalan ke dalam minyak pelumas.
b. Bantalan Gelinding
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar
dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru), rol atau
rol jarum dan rol bulat. Bantalan gelinding menggunakan elemen rolling
untuk mengatasi gesekan antara dua komponen yang bergerak. Diantara
kedua permukaan ditempatkan elemen gelinding seperti misalnya bola, rol,
taper, dan lain-lain. Kontak gelinding terjadi antara elemen ini dengan
komponen lain yang berarti pada permukaan kontak tidak ada gerakan
relatif.
(Gambar 4: Bantalan gelinding)
Bantalan gelinding mendapatkan keuntungan dari gesekan gelinding yang
sangat kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. Elemen gelinding seperti
bola atau rol dipasang antara cincin luar dan dalam. Dengan memutar salah
satu cincin tersebut, bola atau rol akan melakukan gerakan menggelinding
6
sehingga gesekan akan jauh lebih kecil. Untuk bola atau rol, ketelitian tinggi
dengan bentuk dan ukurannya merupakan suatu keharusan. Karena luas
bidang kontak antara bola dan rol dengan cincin sangat kecil, maka besar
beban yang dipakai harus memiliki ketahanan dan kekerasan yang sangat
tinggi.
Jenis-jenis bantalan gelinding berdasarkan konstruksinya:
a) Single row groove ball bearing
Bearing ini mempunyai alur dalam pada kedua cincinnya.
Karena memiliki alur, maka jenis ini mempunyai kapasitas dapat
menahan beban secara ideal pada arah radial dan aksial. Maksud dari
beban radial adalah beban yang tegak lurus terhadap sumbu poros,
sedangkan beban aksial adalah beban yang searah sumbu poros.
(Gambar 5: Single row groove ball bearings)
b) Double row self aligning ball bearings
Jenis ini mempunyai dua baris bola, masing-masing baris
mempunyai alur sendiri-sendiri pada cincin bagian dalamnya. Pada
umumnya terdapat alur bola pada cincin luarnya. Cincin bagian
dalamnya mampu bergerak sendiri untuk menyesuaikan posisinya.
Inilah kelebihan dari jenis ini, yaitu dapat mengatasi masalah poros
yang kurang sebaris.
c) Single row angular contact ball bearings
7
Berdasarkan konstruksinya, bantalan jenis ini ideal untuk beban
radial. Bearing ini biasanya dipasangkan dengan bearing lain, baik itu
dipasang secara pararel maupun bertolak belakang, sehingga mampu
juga untuk menahan beban aksial.
(Gambar 7: Single row angular contact ball bearings)
d) Double row angular contact ball bearings
Disamping dapat menahan beban radial, jenis ini juga dapat
menahan beban aksial dalam dua arah. Karena konstruksinya juga, jenis
ini dapat menahan beban torsi. Jenis ini juga digunakan untuk
mengganti dua buah bearing jika ruangan yang tersedia tidak
mencukupi.
(Gambar 8: Double row angular contact ball bearings)
e) Double row barrel roller bearing
Bearing ini mempunyai dua baris elemen roller yang pada
umumnya mempunyai alur berbentuk bola pada cincin luarnya. Jenis
ini memiliki kapasitas beban radial yang besar sehingga ideal untuk
menahan beban kejut.
8
(Gambar 9: Double row barrel roller bearings)
f) Single row cylindrical bearings
Jenis ini mempunyai dua alur pada satu cincin yang biasanya
terpisah. Efek dari pemisahan ini, cincin dapat bergerak aksial dengan
mengikuti cincin yang lain. Hal ini merupakan suatu keuntungan,
karena apabila bearing harus mengalami perubahan bentuk karena
temperatur, maka cincinya akan dengan mudah menyesuaikan
posisinya. Jenis ini mempunyai kapasitas beban radial yang besar dan
juga cocok untuk kecepatan tinggi.
(Gambar 10: Single row cylindrical bearings)
g) Tapered roller bearings
9
Dilihat dari konstriksinya, jenis ini ideal untuk beban aksial
maupun radial. Jenis ini dapat dipisah, dimana cincin dalamnya
dipasang bersama dengan rollernya dan cincin luarnya terpisah.
(Gambar 11: Tapered roller bearings)
h) Single direction thrust ball bearings
Bearing jenis ini hanya cocok untuk menahan beban aksial dalam
satu arah saja. Elemenya dapat dipisahkan sehingga mudah melakukan
pemasangan. Beban aksial minimum yang dapat ditahan tergantung dari
kecepatannya. Jenis ini sangat sensitif terhadap ketidaksebarisan
(misalignment) poros terhadap rumahnya.
(Gambar 12: Single direction thrust ball bearings)
i) Double direction thrust ball bearings
Bearing jenis ini hanya cocok untuk menahan beban aksial dalam
satu arah saja. Elemenya dapat dipisahkan sehingga mudah melakukan
10
pemasangan. Beban aksial minimum yang dapat ditahan tergantung dari
kecepatannya. Jenis ini sangat sensitive terhadap ketidaksebarisan
(misalignment) poros terhadap rumahnya.
(Gambar 13: Double direction thrust ball bearings)
j) Ball and socket bearings
Bearing jenis ini mempunyai alur dalam berbentuk bola, yang bisa
membuat elemennya berdiri sendiri. Kapasitasnya sangat besar
terhadap beban aksial. Selain itu juga dapat menahan beban radial
secara simultan dan cocok untuk kecepatan yang tinggi.
(Gambar 14: Ball and socket bearings)
Jenis bantalan berdasarkan arah beban terhadap poros:
a. Bantalan radial
Bantalan radial atau disebut jurnal bearing, dimana arah beban
yang ditumpu bantalan adalah tegak lurus terhadap sumbu
[Link] ini untuk mendukung gaya radial dari batang torak saat
11
berputar. Konstruksinya terbagi/terbelah menjadi dua agar dapat
dipasang pada poros engkol.
b. Bantalan aksial
Bantalan aksial atau disebut thrust bearing, yaitu arah beban yang
ditumpu bantalan adalah sejajar dengan sumbu poros. Bantalan ini
menghantarkan poros engkol menerima gaya aksial terutama pada saat
melepas/menghubungkan plat kopling saat mobil berjalan. Konstruksi
bantalan ini juga terbelah/terbagi menjadi dua dan dipasang pada poros
jurnal bagian paling tengah.
Penyebab-penyebab Kerusakan pada Bantalan/Bearing
a) Kesalahan bahan
- faktor produsen, yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak
halus maupun berat, kesalahan toleransi, atau kesalahan celah bantalan.
- faktor konsumen, yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik
pada bearing.
b) Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai
dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing).
c) Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku
petunjuk dan keadaan lapangan (real).
d) Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai
standar yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya:
- Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin
luar yang berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros.
- Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang
kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat
dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih.
- Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan
akan tersendat-sendat saat berputar.
e) Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya
tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang
12
tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar
yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam pemasangan bearing juga
menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros
dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen
tersebut.
f) Terjadi unbalance (tidak seimbang), seperti pada impeller, dimana bagian-
bagian pada impeller tersebut tidak seimbang (salah satu titik bagian
impeller memiliki berat yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar,
mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya di salah satu titik
putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula
pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros,
dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan
merusak komponen.
g) Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas
terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi
daya pelumasan pada minyak tersebut.
Cara Mengatasi Kerusakan pada Bantalan/Bearing
a) Melakukan penggantian bearing secara teratur sesuai umur waktu kerja
yang telah ditentukan.
b) Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut.
c) Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah
ditentukan.
d) Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya.
e) Melakukan tes balancing pada poros dan impeller.
f) Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah
bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.
Persiapan Sebelum Pemasangan Bearing (Bantalan)
1.1. Permukaan tempat dudukan Bearing. Pertama-tama bersihkan setiap
13
tonjolan tajam (burrs), serpihan metal (cutting chips), karat (rust) atau kotoran
debu (dirt) dari permukaan tempat dudukan bearing. Pemasangan dapat
dilakukan dengan mudah jika permukaan yang sudah bersih tersebut dilapisi
dengan sedikit oli.
1.2. Peralatan untuk memasang Bearing.
14
Pastikan bahwa semua pressing blocks, driving plates, hammers dan peralatan
pemasangan yang lainnya dalam kondisi bersih, bebas dari tonjolan (burrs), dan
ukuran nya benar.
1.3. Jangan membuka Bearing sebelum bearing tersebut siap untuk dipasang.
Serpihan debu maupun kotoran lain yang masuk kedalam bearing sebelum dan
selama pemasangan dapat menyebabkan noise dan vibration saat bearing bekerja.
1.4. Jangan melakukan modifikasi apapun terhadap bearing Bearings dibuat
dengan toleransi yang sangat ketat untuk memenuhi tingkat akurasi yang tinggi.
Sehingga, penting sekali untuk memperhatikan secara khusus terhadap hal-hal
yang harus diperhatikan dalam menangani bearing.
15
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
Bearing atau bantalan merupakan suatu elemen mesin yang digunakan
untuk menahan poros berbeban, beban tersebut dapat berupa beban aksial
atau beban radial. Tipe bearing yang digunakan untuk bantalan disesuaikan
dengan fungsi dan kegunaannya. Bearing atau bantalan berfungsi untuk
menumpu atau memikul poros agar poros dapat berputar padanya.
Dalam penggunaannya, bagian mesin ini hendaknya selalu diberi
perawatan dengan baik yang sesuai prosedur untuk mencegah kerusakan yang
dapat sangat berpengaruh pada kinerja mesin pada saat digunakan.
16
DAFTAR PUSTAKA
Shigley, Joseph E., “Mechanical Design Engineering”, (India: McGraw-Hill
Education, 2014)
Norton, Robert L., “Machine Design”, (Inggris: Pearson, 2013)
17