KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II
ARTRITIS REUMATOID
KELOMPOK 1 :
1. ANGGREA VONI S.
2. ANI NUR AZIZAH
3. APRIL LINTINA W.S
4. ASIH SYIFA’UL H.
5. ASRAF NANDA P.
6. AYU DYAH CHANDRA D.
7. BANGKIT ISNA NABILA
8. CAHYADINI ANGGUN W
9. DEA OKTRIA NUR
10. DEFINA PUSPITASARI
11. DESTA ANGGORO S
12. DEWANI YUSTIKA D.J
13. EVI DAMAYANTI
14. FAJAR ILHAM FATJONI
15. FANI TRY OKTAVIANI
16. FARACH ALIFFATUNISA
S1 KEPERAWATAN 4B
UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO
(APRIL 2019)
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur penyusun haturkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
rahmat, hidayah dan inayah-Nya pada kesempatan ini bisa menyelesaikan
makalah untuk tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II. Salawat serta
salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta
para sahabat dan pengikutnya.
Adapun yang dapat penulis paparkan dalam makalah ini yaitu membahas tema
tentang Artritis Reumatoid. Kami menyadari bahwa dalam permbuatan makalah
ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan dari pihak lain. Untuk itu kami
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Eko selaku dosen mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah II dan rekan-rekan yang telah membantu
memberikan dukungan, semangat, bantuan dan doa dalam menyelesaikan tugas
ini.
Purwokerto, 19 April 2019
Tim Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................ 1
KATA PENGANTAR .............................................................................. 2
DAFTAR ISI ............................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah............................................................................... 5
C. Tujuan................................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian............................................................................................ 6
B. Klasifikasi RA..................................................................................... 6
C. Tanda dan gejala dengan mekanisme patofisiologi............................. 9
D. Etiologi................................................................................................ 10
E. Faktor resiko........................................................................................ 11
F. Pemeriksaan penunjang....................................................................... 11
G. Bagan patways..................................................................................... 12
H. Penatalaksanaan : medis dan keperawatan (penelitian 1)................... 13
I. Asuhan Keperawatan (Proses Keperawatan)....................................... 13
BAB III PENUTUP
A. Simpulan............................................................................................... 15
B. Saran..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Rheumatoid Arthritis (RA) ?
2. Apa saja klasifikasi Rheumatoid Arthritis (RA) ?
3. Bagaimana etiologi Rheumatoid Arthritis (RA) ?
4. Apa saja faktor resiko dari Rheumatoid Arthritis (RA) ?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari ?
6. Bagaimana patways ?
7. Bagaimana penatalaksanaan ?
8. Bagaimana asuhan keperawatan dari ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui RA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang
etiologinya belum diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang
simetris dan pada beberapa kasus disertai keterlibatan jaringan
ekstraartikular. Perjalanan penyakit RA ada 3 macam yaitu monosiklik,
polisiklik dan progresif. Sebagian besar kasus perjalanannya kronik
kematian dini (Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia,2014).
Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti
sendi, dan “itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti
radang pada sendi. Sedangkan Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit
autoimun dimana persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami
peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali
menyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi (Febriana,2015).
Rheumatoid arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun
yang ditandai dengan terdapatnya sinovitas erosif simetrik yang terutama
mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh
lainnya. Pasien dengan gejala penyakit kronik apabila tidak diobati akan
menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang
progresif disabilitas bahkan kematian dini (Suarjana, 2009).
Penyakit ini sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan dan
banyak mengenai penduduk pada usia produktif sehingga memberi
dampak sosial dan ekonomi yang besar. Diagnosis dini sering
menghadapai kendala karena pada masa dini sering belum didapatkan
gambaran karakteristik yang baru akan berkembang sejalan dengan waktu
dimana sering sudah terlambat untuk memulai pengobatan yang adekuat
(Febriana,2015).
B. Klasifikasi
Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe,
yaitu:1)
1. Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan
gejalasendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam
waktu 6 minggu.2)
2. Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda
dan gejalasendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit
dalam waktu 6 minggu.3)
3. Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda
dan gejalasendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit
dalam waktu 6 minggu.4)
4. Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda
dan gejalasendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit
dalam waktu 3 bulan
C. Epidemiologi
Rheumatoid arthritis secara global menyerang semua etnis dan
usia, dengan angka kejadian yang berbeda-beda sebesar 0,3 - 5 persen.
Tapi gangguan itu cenderung meningkat pada usia dewasa muda atau
pertengahan dan usia produktif. Wanita 3-4 kali lebih berisiko
terkena, serta lebih banyak terjadi di negara berkembang.
Prevalensi penyakit RA di Indonesia saat ini belum diketahui secara pasti.
Dalam penelitiannya, Darmawan et al., pada tahun 1993 menyebutkan
prevalensi RA di Indonesia 0,2% untuk penduduk di daerah pedesaan dan
0,3% untuk penduduk di daerah [Link] Indonesia, diperkirakan, pada
kelompok dewasa di atas 18 tahun ada 0,1-0,3 persen penderita.
Sedangkan pada anak-anak dan remaja yang kurang dari 18 tahun ada 1
dari100 ribu penduduk. Kini diperkirakan ada sekitar 360 ribu pasien
rheumatoid arthritis dewasadi Indonesia. Kendati prevalensinya rendah,
penyakit ini sangat progresif dan paling seringmenyebabkan kecacatan.
Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada enam bulan pertamasetelah
terserang penyakit ini, sedangkan kecacatan terjadi 2-3 tahun kemudian
bila tidakdiobati (Widowati, 2010).
D. Faktor resiko
Etiologi atau penyebab RA tidak diketahui. Banyak kasus
yangdiyakini hasil dari interaksi antara faktor genetik dan paparan
lingkungan.
1. Usia
Setiap persendian tulang memiliki lapisan pelindung sendiyang
menghalangi terjadinya gesekan antara tulang dan di dalam
senditerdapat cairan yang berfungsi sebagai pelumas sehingga tulang
dapatdigerakkan dengan leluasa. Pada mereka yang berusia lanjut,
lapisan pelindung persendian mulai menipis dan cairan tulang mulaime
ngental, sehingga tubuh menjadi sakit saat digerakkan danmenigkatkan
risiko Rheumatoid Arthritis.
2. Genetika
Ada bukti lama bahwa genotipe HLA kelas II tertentudikaitkan
dengan peningkatan risiko. Banyak perhatian pada DR4 danDRB1
yang merupakan molekul utama gen histocompatibilitykompleks HLA
kelas II. Asosiasi terkuat telah ditemukan antara RAdan DRB1 yang *
0401 dan DRB1 * 0404 alel. Penyelidikan
lebih baru menunjukkan bahwa dari lebih dari 30 gen dipelajari, genka
ndidat terkuat adalah PTPN22, gen yang telah dikaitkan
dengan beberapa kondisi autoimun.
3. Jenis kelamin
Insiden RA biasanya dua sampai tiga kali lebih tinggi padawanita
daripada pria. Timbulnya RA, baik pada wanita dan priatertinggi
terjadi di antara pada usia enam puluhan. Mengenai sejarahkelahiran
hidup, kebanyakan penelitian telah menemukan bahwawanita yang
tidak pernah mengalami kelahiran hidup memiliki sedikit peningkatan
risiko untuk RA. Kemudian berdasarkan populasi Terbaru studi telah
menemukan bahwa RA kurang umum di kalangan wanitayang
menyusui.
Salah satu sebab yang meningkatkan risiko Rheumatoid Arthritis
pada wanita adalah menstruasi. Setidaknya dua studi telahmengamati
bahwa wanita dengan menstruasi yang tidak teratur atauriwayat
menstruasi dipotong (misalnya, menopause dini) memiliki peningkatan
risiko RA.
4. Dimodifikasi
Beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi telah
dipelajaridalam hubungan dengan RA termasuk eksposur reproduksi
hormonal, penggunaan tembakau, faktor makanan, dan eksposur
mikroba
5. Gaya Hidup
Merokok
Di antara faktor-faktor risiko, bukti terkuat dan palingkonsisten
adalah untuk hubungan antara merokok dan [Link]
riwayat merokok dikaitkan dengan sederhana sampaisedang
(1,3-2,4 kali) peningkatan risiko RA. Hubungan antaramerokok
dan RA terkuat di antara orang-orang yang
ACPA positif (protein anti-citrullinated / peptida antibodi), pen
andaaktivitas auto-imun.
Tidak Konsumsi Susu
Penderita AR memiliki risiko yang lebih tinggi
untukmengalami osteoporosis, untuk itu penting untuk
menkonsumsikalsium. Sumber kalsium seperti susu, keju,
yogurt dan produksusu lainnya. Sebaiknya dipilih jenis susu
yang memilikikandungan lemak yang lebih rendah
seperti skimmed milk atau semi skimmed milk
Aktivitas Fisik
Cedera otot maupun sendi yang dialami
sewaktu berolahraga atau akibat aktivitas fisik yang terlalu bera
t, bisa menyebabkan rheumatoid arthritis.
6. Riwayat Reproduksi dan Menyusui
Hormon yang berhubungan dengan reproduksi telah dipelajari
secaraekstensif sebagai faktor risiko potensial untuk RA:
Kontrasepsi oral (OC)
Studi awal menemukan bahwa wanita yang pernah
menggunakan kontrasepsi oral memiliki penurunan moderat
dalam risiko RA. Risiko menurun belum dikonfirmasi dalam
studi terbaru. Konsentrasi estrogen kontrasepsi oral
kontemporer biasanya 80-90% lebih kecil dari kontrasepsi
oral pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960, yang dapat
menjelaskan kurangnya asosiasi dalam studi terbaru.
Terapi Penggantian Hormon (HRT)
Ada bukti campuran hubungan antara HRT dan onset RA.
Sejarah kelahiran Hidup
Kebanyakan penelitian telah menemukan bahwa wanita
yangtidak pernah mengalami kelahiran hidup memiliki
sedikit peningkatan risiko untuk RA.
Menyusui
Berdasarkan populasi terbaru studi telah menemukan bahwaRA
kurang umum di kalangan wanita yang menyusui.
Riwayat menstruasi
Setidaknya dua studi telah mengamati bahwa wanita dengan
menstruasi yang tidak teratur atau riwayat menstruasi dipotong
(misalnya, menopause dini) memiliki peningkatan risiko RA.
Karena wanita dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS)
memiliki peningkatan risiko RA, asosiasi dengan riwayat
menstruasi menyimpang mungkin akibat dari PCOS.
Faktor risiko dalam peningkatan terjadinya RA diantaranya
adalah jenis kelamin perempuan, genetic atau riwayat keluarga, usia, g
aya hidup seperti merokok, dan konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir
sehari, khususnya kopi decaffeinated. (Suarjana, 2009). Obesitas juga
merupakan salah satufaktor risiko. (Symmons, 2006)