0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan45 halaman

Pengaruh Pendidikan Cuci Tangan Sehat

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah penting untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat siswa SD. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan tersebut terhadap siswa SD di Karanganyar. Faktor lingkungan, sosial ekonomi, dan kepercayaan masyarakat mempengaruhi keberhasilan pendidikan kesehatan.

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan45 halaman

Pengaruh Pendidikan Cuci Tangan Sehat

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah penting untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat siswa SD. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan tersebut terhadap siswa SD di Karanganyar. Faktor lingkungan, sosial ekonomi, dan kepercayaan masyarakat mempengaruhi keberhasilan pendidikan kesehatan.

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor

internal maupun eksternal. Data World Health Organization (WHO) tahun

2017, di negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat

berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang aman,

sanitasi, dan cuci tangan yang buruk. Selain itu, terdapat bukti bahwa

pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air yang aman, sistem

pembuangan sampah serta pendidikan cuci tangan yang tidak baik dapat

menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakit-

penyakit lainya sebanyak 26%. Secara garis besar faktor-faktor yang

mempengaruhi kesehatan dikelompokan menjadi empat, berturut-turut

besarnya pengaruh adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan

keturunan

Di Indonesia terdapat lebih dari 250.000 sekolah negeri, swasta

maupun sekolah agama dari berbagai tingkatan dan diperkirakan jumlah

anak sekolah mencapai 30% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 73

juta orang. Jumlah yang cukup besar ini, menjadikan anak usia sekolah

merupakan asset atau modal utama pembangunan perlu dijaga,

ditingkatkan dan dilindungi kesehatanya. Sekolah merupakan tempat

strategis dalam kehidupan anak, maka sekolah dapat difungsikan secara

1
tepat sebagai salah satu institusi yang dapat membantu dan berperan dalam

upaya optimalisasi tumbuh kembang anak usia sekolah dengan upaya

menanamkan macam-macam hidup sehat seperti menggunakan jamban

sehat, menggunakan air bersih dan cara cuci tangan dengan sabun dan air

bersih, salah satunya cuci tangan sehingga anak sekolah, keluarga, maupun

massyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu untuk mempraktikan cuci

tangan dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat (Olivia A,

2018)

Mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting

dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi (Potter & Perry, 2009).

Mencuci tangan juga dapat menghilangkan sejumlah besar virus yang

menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit yang menyerang

saluran cerna, seperti diare dan saluran nafas seperti influenza. Hampir

semua orang mengerti pentingnya mencuci tangan, namun masih banyak

yang tidak membiasakan diri untuk melakukan dengan benar pada saat

yang penting. Melakukan cuci tangan merupakan salah satu dari perilaku

hidup bersih dan sehat (PHBS) (Umar, 2009 dalam Mirzal).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan

perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran

yang menjadikan seseorang yang dapat menolong diri sendiri dibidang

kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan

setinggi-tingginya. Perilaku hidup bersih dan sehat berkaitan dengan

munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah

2
(usia 6-10 tahun). Oleh karena itu, penanaman kebutuhan mutlak dan

dapat diketahui melalui pendekatan usaha kesehatan. Perilaku hidup bersih

dan sehat (PHBS) di sekolah adalah upaya untuk memberdaya siswa, guru,

dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu dan mampu mempraktikan

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan berperan aktif dalam

mewujudkan sekolah sehat (Aswadi,2017).

Provinsi Jawa Tengah sendiri memfokuskan program Perilaku

hidup bersih dan sehat (PHBS) pada rumah tangga, Perilaku hidup bersih

dan sehat sekolah, dan Perilaku hidup bersih dan sehat tempat ibadah,

didasarkan pertimbangan tatanan tersebut mempunyai daya ungkit yang

besar dalam pencapaian derajat kesehatan tersebut (Depkes Jateng, 2009).

Salah satu dari empat kunci kegiatan Perilaku hidup bersih dan sehat untuk

meningkatkan pencapaian derajat kesehatan dengan meningkatkan

perilaku cuci tangan yang benar setelah buang air besar, setelah menceboki

bayi dan balita, sebelum makan, serta sebelum menyiapkan makanan

(Ratnawati, 2011).

Studi pendahuluan telah dilakukan pada 5 November 2019 di SDN

02 Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar terhadap cuci tangan enam langkah

pada siswa SD sebanyak 114 siswa dari 62 laki-laki dan 52 perempuan

diambil secara acak didapatkan dari hasil bahwa 16 siswa mengatakan

belum bisa melakukan cuci tangan enam langkah yang baik dan benar.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti,

pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah terhadap

3
perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa SDN 02 Wukirsawit kelas 4-6

yang berumur 10-12 tahun. Dengan pertimbangan bahwa SD merupkan

SD yang jauh dari perkotaan sehingga jarang ada pendidikan kesehatan

mengenai Perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara cuci tangan enam

langkah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan

masalah adakah pengaruh pemberian pendidikan kesehatan cuci tangan

enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa SDN

02 Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan

enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada

siswa SD.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh cuci tangan enam langkah terhadap

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02

Wukirsawit, Karanganyar sebelum dilakukan pendidikan

kesehatan.

b. Untuk mengetahui pengaruh cuci tangan enam langkah terhadap

perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02

Wukirsawit, Karanganyar setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4
c. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan

enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

pada siswa SDN 02 Wukirsawit, Karanganyar.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan

enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada

siswa SD.

2. Manfaat Aplikatif

a. Bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan serta pengalaman dalam

menyampaikan pendidikan kesehatan pada siswa SD, terutama

dalam tema cuci tangan enam langkah.

b. Bagi tempat penelitian

Sebagai masukan dan pertimbangan dalam meningkatkan derajat

kesehatan bagi siswa SD dan guru serta karyawan.

c. Bagi responden

Membudayakan mencuci tangan enam langkah menjadi kebiasaan

sehari-hari dan pola hidup sehat bagi anak-anak di lingkungan

rumah dan sekolah.

d. Bagi masyarakat umum

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan nilai

hidup bersih dan sehat bagi masyarakat umum.

5
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Pendididkan kesehatan

a. Pengertian Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan dalam arti Pendidikan secara umum

adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang

lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka

melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau

promosi kesehatan dan batasan ini tersirat unsur-unsur input

(sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang

direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output

(melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari

suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku

kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan.

(Olivia A, 2018)

Pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu,

kelompok atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai

kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah-

masalah kesehatanya sendiri menjadi mampu dan dari tidak mau

6
menjadi mau untuk menjaga kesehatanya dan lain sebagainya.

(Yunitha Leo Lede, 2017)

Olivia A (2018) berpendapat bahwa Pendidikan kesehatan

adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang

melalui teknik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan

mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia secara individu,

kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri mencapai

tujuan hidup sehat, untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan di

sekolah agar siswa memiliki pengetahuan tentang Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat (PHBS).

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan

Kesehatan

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan

kesehatan dapat mencapai sasaran (Ratna Wati, 2011).

1) Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang

terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan

bahwa semakin tinggi tingkat pendidikanya, semakin mudah

seseorang menerima informasi yang didapatnya.

2) Tingkat Sosial Ekonomi

Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin

mudah pula dalam menerima informasi baru.

7
3) Adat Istiadat

Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap

adat istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.

4) Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang

disampaikan oleh orang-orang yang sudah mereka kenal, karena

sudah ada kepercayaan massyarakat dengan penyampaian

informasi.

5) Ketersediaan Waktu di Masyarakat

Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan

tingkat aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran

masyarakat dalam penyuluhan.

c. Tujuan Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan antara lain :

1) Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga, dan

masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku,

Lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan

derajad kesehatan yang optimal.

2) Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, dan

masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik,

mental, dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan

dan kematian (Efendy, 2016)

8
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang

mampu menerapakan masalah dan kebutuhan mereka sendiri,

mampu memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap

masalahnya, dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah

dengan dukungan dari luar dan mampu memutuskan kegiatan yang

tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan

masyarakat (Mubarak, 2016).

Tujuan pendidikan kesehatan adalah meningkatkan

kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan

derajat kesehatan baik secara fisik, mental, dan sosialnya; sehingga

produktif secara ekonomi maupun sosial. Pendidikan kesehatan di

semua program kesehatan ; baik pemberantasan penyakit menular,

sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun

program kesehatan lainya (Mubarak, 2015).

d. Metode Pendidikan Kesehatan

Penggolongan metode pendidikan menurut Notoatmojo (2011)

berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai dibagi menjadi

tiga yaitu :

1) Metode berdasarkan pendekatan perorangan

Metode ini bersifat individual dan biasanya digunakan

untuk membina perilaku baru, atau membina seorang yang mulai

tertarik pada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar

digunakanya pendekatan individual ini karena setiap orang

9
mempunyai masalah atau perilaku baru tersebut. Ada dua bentuk

pendekatanya yaitu : bimbingan dan penyuluhan (Guidance and

Counceling), dan wawancara.

2) Metode berdasarkan pendekatan kelompok

Penyuluhan berhubungan dengan sasaran secara kelompok.

Dalam penyampaian promosi kesehatan dengan metode ini kita

perlu mempertimbangkan besarnya kelompok sasaran serta tingkat

pendidikan formal dari sasaran. Ada dua jenis tergantung besarnya

kelompok, yaitu : kelompok besar, kelompok kecil.

3) Metode berdasarkan pendekatan massa

Metode pendekatan massa ini cocok untuk

mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada

masyarakat, sehingga sasaran dari metode ini bersifat umum; dalam

arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan,

status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya,

sehingga pesan-pesan kesehatan yang ingin disampaikan harus

dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa.

2. Cuci Tangan Enam Langkah

a. Pengertian Cuci Tangan

Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu

secara mekanis dari kulit kedua belah tangan memakai air dan

sabun, cuci tangan pakai sabun merupakan cara yang sederhana,

mudah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit

10
penyebab kematian, yang dapat dicegah dengan cuci tangan yang

benar, seperti penyakit diare dan infekai saluran pernafasan atas

(ISPA) yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak (Muh.

Fajaruddin Natsir, 2018)

Cuci tangan merupakan perilaku sehat yang telah terbukti

secara ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti

diare, infeksi saluran pernapasan atas dan flu burung, bahkan

disarankan untuk mencegah penularan influenza. Pemberian

edukasi tentang cuci tangan yang benar dan mendukung perilaku

cuci tangan setiap hari pada anak sekolah yang berdampak tidak

hanya mampu mengurangi infeksi tetapi juga mampu menanamkan

perilaku sehat sejak dini (Dita Prillia Ruby, 2018).

Cuci tangan pakai sabun yang dilakukan secara tepat dan

benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah

terjangkitnya penyakit. Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat

lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari

permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah

mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri pada

kedua tangan. Mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan

sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing

yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada

kedua tangan (Risnawati Gracia, 2016).

11
Cuci tangan adalah proses membersihkan kotoran dan debu

dari kulit kedua tangan dengan memakai sabun dan air. Mencuci

tangan pakai sabun salah satu cara paling efektif untuk mencegah

penyakit diare dan ISPA, keduanya menjadi penyebab utama

kematian anak (Subagyo Isprastika Andin, 2018).

Perilaku mencuci tangan adalah suatu aktivitas, tindakan

mencuci tangan yang di kerjakan oleh individu yang dapat diamati

secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Green (2017),

kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu

faktor perilaku (behavior causes), dan faktor non perilaku (non

behavior causes). Perilaku kesehatan itu sendiri juga dipengaruhi

oleh tiga faktor, yaitu:

1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor)

Terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,

nilai-nilai dan sebagainya.

a) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian

besar manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan,

paparan media masa (akses informasi), ekonomi (pendapatan),

12
hubungan sosial (lingkungan sosial budaya), pengalaman.

Sebelum anak berperilaku mencuci tangan, ia harus tahu

terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku dan apa

resikonya apabila tidak mencuci tangan dengan sabun bagi

dirinya atau keluarganya. Melalui pendidikan kesehatan

mencuci tangan anak mendapatkan pengetahuan pentingnya

mencuci tangan sehingga diharapkan anak tahu, bisa menilai,

bersikap yang didukung adanya fasilitas mencuci tangan

sehingga tercipta perilaku mencuci tangan.

b) Sikap

Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang

terhadap stimulus dan objek (dalam hal ini adalah masalah

kesehatan, termasuk penyakit). Setelah anak mengetahui

bahaya tidak mencuci tangan (melalui pengalaman, pengaruh

orang lain, media massa, lembaga pendidikan, emosi), proses

selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap kegiatan

mencuci tangan tersebut.

c) Kepercayaan

Kepercayaan sering diperoleh dari guru, orang tua dan

seseorang yang dituakan. Pendidikan kesehatan bisa melalui

guru atau orang tua, missal selain mengajari cara mencuci

tangan guru atau orang tua bisa membiasakan dirinya mencuci

tangan sehingga anak bisa meniru kebiasaan yang dilakukan

13
guru atau orang tuanya. Karena anak menganggap benar apa

yang dilakukan guru atau orang tua dan orang yang di

tuakannya.

2) Faktor-Faktor pemungkin (Enambling Factor)

Terwujud dalam lingkungan fisik, ketersediaan sarana dan

prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya:

air bersih, tepat buang sampah, tempat buang tinja,

ketersediaan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk

juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah

sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau

bidan swasta dan sebagainya. Untuk mendukung perilaku hidup

sehat.

3) Faktor-Faktor penguat (Reinforcing Factor)

Terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau

petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari

perilaku masyarakat. Maka promosi dan kesehatan yang paling

tepat adalah bentuk pelatihan bagi tokoh masyarakat, tokoh

agama dan petugas kesehatan, agar sikap dan perilaku petugas

atau tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menjadi teladan,

contoh, atau acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat

(berperilaku hidup sehat) (Notoatmodjo, 2011). Seorang ahli

psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons

atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).

14
Oleh karena perilaku mencuci tangan ini terjadi melalui proses

adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organism

tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-

R” atau Stimulus-Organisme-Respon. Skinner membedakan

adanya dua respon (Skinner, 2013).

a) Respondent respons atau reflexive

Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan

(stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut eliciting

stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif

tetap.

b) Operant respons atau instrumental respon

Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh

stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang itu disebut

reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat

respon. Di dalam kehidupan sehari-hari, respon jenis pertama

(respondent respons atau respondent beharvior) sangat terbatas

keberadaannya pada manusia. Hal ini disebabkan karena

hubungan yang pasti antara stimulus dan respons kemungkinan

untuk memodifikasinya adalah kecil. Sebaliknya operant

respons atau instrument behavior merupakan bagian terbesar

dari perilaku manusia, dan kemungkinan untuk memodifikasi

sangat besar, bahkan dapat dikatakan tidak terbatas

(Notoatmodjo, 2011)

15
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka

perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1) Perilaku tertutup (Recivert Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung

atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini

masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran,

dan sikap yang terjadi pada orang menerima stimulus tersebut,

dan belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain.

2) Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan

nyata ata terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas

dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan

mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo,

2011).

Perilaku-perilaku mencuci tangan individu dapat terjadi

disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena kebutuhan

dorongan motivasi faktor perangsang dan pengawet, dan

pengaruh sikap dan kepercayaan (Kariyoso, 2016)

Terbentuknya perilaku mencuci tangan individu dapat

terjadi karena proses kematangan dan proses interaksi dengan

lingkungan. Cara yang inilah yang paling besar pengaruhnya

terhadap perilaku manusia. Terbentuknya dan perubahan

perilaku karena proses interaksi antara individu dengan

16
lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar atau di

lingkungan yang ada diluar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku

dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku

adalah merupakan hasil dari proses belajar. Berarti pendidikan

kesehatan mencuci tangan disekolah merupakan salah satu cara

yang tepat untuk perubahan perilaku anak dalam proses belajar.

Karena melalui proses belajar terjadi proses kematangan dan

proses interaksi dengan lingkungan yang dapat merubah

perilaku anak dalam hal mencuci tangan (Notoatmodjo, 2013).

Data WHO yang dikutip dari Notoatmodjo S, bentuk

perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan konsep yang

digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya terhadap

perilaku. Berikut bentuk-bentuk perubahan perilaku dapat

dikelompokkan menjadi tiga, yakni:

1) Perubahan Alamiah (Natural Change).

Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian

perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila

dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan

lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka

anggota-anggota masyarakat di dalamnya juga akan

mengalami perubahan.

17
2) Perubahan Rencana (Planned Change)

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan

sendiri oleh subyek.

3) Kesediaan untuk Berubah (Readiness to Change)

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program

pembangunan didalam masyarakat. Maka yang sering

terjadi adalah sebagai orang sangat lambat untuk menerima

inovasi atau perubahan tersebut (berubah perilakunya).

Melakukan perubahan perilaku diperlukan motivasi yang

kuat untuk berubah. Motivasi adalah suatu dorongan yang

menggerakkan seseorang untuk berperilaku, beraktivitas dalam

penyampaian tujuan dimana kebutuhan merupakan faktor yang

sangat berpengaruh terhadap lajunya dorongan tersebut . Jadi

perubahan perilaku mencuci tangan pada anak usia sekolah

dapat tercapai dengan memberi anak motivasi yang kuat.

Sehingga timbul dari kesadarannya sendiri, tercipta perilaku

mencuci tangan pada anak tersebut. (Widayatun, 2017)

Kurt Lewin (2018) yang dikutip dari Notoatmodjo S,

berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan

yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (drivering

forces). Perilaku mencuci tangan itu dapat berubah apabila

terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di

dalam diri seseorang.

18
Data WHO (2015) terdapat dua teknik mencuci tangan

yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan

mencuci tangan dengan larutan yang berbahan dasar alkohol.

1) Basuh tangan dengan air bersih dan mengalir, ratakan sabun

dengan kedua telapak tangan.

2) Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri dan

tangan kanan, begitu pula sebaliknya.

3) Gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan.

4) Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci.

5) Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan

dan lakukan sebaliknya.

6) Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di

telapak tangan kiri dan sebaliknya.

7) Bilas kedua tangan dengan air yang mengalir dan keringkan.

b. Manfaat Cuci Tangan.

Kesehatan dan keamanan (Health and Safety) merupakan

komponen penting bagi perkembangan anak. Selain nutrisi,

stimulasi dini, imunisasi dan pemeriksaan kesehatan secara

berkala, kebersihan khususnya kebersihan tangan, juga merupakan

upaya yang sangat efektif dalam melindungi anak. Mencuci tangan

(dengan benar) merupakan upaya mencegah penyebaran penyakit

infeksi yang paling praktis, murah, dan penting (Pujiarto, 2016).

19
Manfaat mencuci tangan seperti menggunakan sabun dapat

membunuh kuman penyakit yang ada di tangan. Mencegah

penularan penyakit dari 20 jenis penyakit yang di tularkan melalu

tangan salah satunya seperti diare, agar dapat memutus mata rantai

penularan penyakit melalui tangan baik terhadap diri sendiri, anak,

maupun lingkungan, merupakan benteng pertahanan tubuh pertama

terhadap penyakit dan sekaligus mencegah penularan penyakit, dan

tangan menjadi bersih (Dewi Ratna Septi, 2017).

c. Waktu Cuci Tangan.

1) Sebelum makan.

2) Sebelum menghidangkan makanan.

3) Sebelum memberi makan bayi atau balita.

4) Sesudah buang air besar atau kecil.

5) Sesudah memegang hewan.

(Depkes, 2011)

Pada kondisi tertentu, dimana kader mempromosikan perilaku cuci

tangan pakai sabun (CTPS) pada tatanan berbeda, misalnya di

sekolah; saat ini dapat saja ditambahkan dengan alternatif sebagai

berikut :

1) Setelah bermain di lumpur.

2) Setelah bersin.

3) Setelah mengucek mata.

4) Setelah membuang ingus.

20
5) Setelah memegang kapur tulis.

6) Setelah bekerja di kebun sekolah.

3. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)

a. Pengertian PHBS

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan

perilaku yang di praktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil

pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga yang dapat

meolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam

mewujudkan derajat kesehatan setinggi-tingginya (Aswadi, 2017).

PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang

dipraktikan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan

sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga

secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan

kesehatan, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan

sehat. Beberapa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk

meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam

lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar,

tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya

sehingga diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang

berkualitas (Gracia V. Sousia, 2018).

PHBS di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan

murid, guru, dan massyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau,

dan mampu mempraktekan PHBS, dan berperan aktif dalam

21
mewujudkan sekolah sehat (Surahmawati, 2017). PHBS di institusi

pendidikan adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan

kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan

institusi Pendidikan. Indikator PHBS di institusi pendidikan atau

sekolah meliputi :

1) Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun.

2) Mengkonsusmsi jajanan sehat di kantin sekolahan.

3) Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.

4) Olahraga yang teratur dan terukur.

5) Memberantas jentik nyamuk.

6) Tidak merokok di sekolah.

7) Membimbing berat badan dan mengukur tinggi badan setiap

bulan.

8) Membuang sampah pada tempatnya.

(Depkes, 2015)

Maryunani (2015) sosialisasi penerapan PHBS di sekolah

lingkungan internal antara lain :

1) Penggunaan jamban sehat dan air bersih.

2) Pemberantasan sarang nyamuk.

3) Larangan merokok di sekolah dan kawasan tanpa rokok di

sekolah.

4) Membuang sampah pada tempatnya.

22
b. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS)

PHBS dapat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :

1) Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)

Faktor ini mencangkup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap

kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal

yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut

masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan,

dan sebagainya. Seperti kebiasaan, tradisi, sikap kepercayaan

(agama), pengetahuan (pendidikan), dan lain-lain.

2) Faktor Pendukung (Enabling Factor)

Hubungan antara konsep pengetahuan dan praktek kaitanya dalam

suatu materi kegiatan biasanya mempunyai anggapan yaitu adanya

pengetahuan tentang manfaat suatu hal yang akan menyebabkan

orang mempunyai sikap positif terhadap hal tersebut. Selanjutnya

sikap positif ini akan mempengaruhi untuk ikut dalam kegiatan ini.

Niat ikut serta dalam kegiatan ini akan menjadi tindakan apabila

mendapatkan dukungan sosial dan tersedianya fasilitas kegiatan ini

disebut perilaku. Berdasarkan teori WHO menyatakan bahwa yang

menyebabkan seseorang berperilaku ada tiga alasan diantaranya

adalah sumber daya (Resourse) meliputi fasilitas, pelayanan

kesehatan dan pendapatan keluarga.

23
3) Faktor Yang Memperkuat (Reinforcing Factor)

Faktor yang mendorong untuk bertindak untuk mencapai suatu

tujuan yang terwujud dalam peran keluarga terutama orang tua,

guru dan petugas kesehatan untuk saling bahu membahu, sehingga

tercipta kerjasama yang baik antara pihak rumah dan sekolah yang

akan mendukung anak dalam memperoleh pengalaman yang

hendak dirancang, lingkungan yang bersifat anak sebagai pusat

yang akan mendorong proses belajar melalui penjelajah dan

penemuan untuk terjadinya suatu perilaku. Hak-hak orang sakit dan

kewajiban sebagai orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama

keluarganya), yang selanjutnya disebut perilaku orang sakit.

c. Tujuan Peningkatan PHBS

Membudayakan PHBS bagi perorangan sehingga dapat

memberikan dampak yang bermakna terhadap derajat kesehatan

(Depkes RI, 2015).

d. Manfaat PHBS

Promkes Depkes (2018) menjelaskan beberapa manfaat

akan diperoleh apabila menerapkan PHBS dalam kehidupan, yaitu:

1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.

2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-

masalah kesehatan.

3) Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.

24
4) Masyarakat mampu mengembangkan upaya kesehatan bersumber

masyarakat (UKBM) seperti posyandu, jaminan pemeliharaan

kesehatan, pondok bersalin desa (polindes), dan lain-lain.

e. Sasaran PHBS

Untuk mencapai tujuan yang diharapakan dalam

membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sasaran

dikelompokkan dalam lima tatanan setting, yaitu :

1) Tatanan rumah.

Mengkonsumsi sayuran, makanan selalu tertutup rapat, mencuci

tangan sebelum dan sesudah makan, mencuci tangan setelah

bermain.

2) Tatanan institusi pendidikan (Sekolah, Madrasah, dsb)

Tidak membuang sampah di laci meja, membeli jajan sehat atau

jajan yang tertutup pada kantin sekolah.

3) Tatanan tempat umum (Tempat ibadah, pasar, tempat rekreasi, dsb)

Tidak membuang sampah sembarangan, mencuci tangan setelah

memegang kotoran.

4. Anak Sekolah Dasar (SD).

a. Pengertian Anak SD

Anak sekolah dasar adalah mereka yang berusia antara 6 –

12 tahun atau biasa disebut dengan periode intelektual.

Pengetahuan anak akan bertambah pesan seiring dengan

bertambahnya usia, keterampilan yang dikuasaipun semakin

25
beragam. Minat anak pada periode ini terutama terfokus pada

segala sesuatu yang bersifat dinamis bergerak. Implikasinya adalah

anak cenderung untuk melakukan beragam aktivitas yang akan

berguna pada proses perkembangannya kelak (Hartanti Elis, 2016).

Anak merupakan asset terpenting dalam tercapainya

keberhasilan suatu negara, karena anak merupakan generasi

penerus bangsa. Derajat kesehatan anak belum bisa dikatakan baik

karena masih banyak terdapat masalah kesehatan khususnya pada

anak sekolah. Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang

kritis karena pada usia tersebut rentan terhadap masalah kesehatan.

Masalah kesehatan yang sering timbul pada usia anak sekolah yaitu

gangguan perilaku, gangguan perkembangan fisiologis hingga

gangguan dalam belajar dan juga masalah kesehatan umum.

Berbagai macam masalah yang muncul pada anak usia sekolah,

namun masalah yang biasanya terjadi yaitu masalah kesehatan

umum. Masalah kesehatan umum yang terjadi pada anak usia

sekolah biasanya berkaitan dengan kebersihan perorangan dan

lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebersihan diri,

serta kebiasaan cuci tangan pakai sabun, serta membersihkan kuku

dan rambut (Gustina Erni, 2018).

b. Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah

Usia sekolah dasar disebut juga periode intelektualitas, atau

periode keserasian bersekolah. Pada umur 6 – 7 tahun seorang anak

26
dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Periode sekolah

dasar terdiri dari periode kelas rendah dan periode kelas tinggi.

Karakteristik siswa kelas rendah sekolah dasar adalah sebagai

berikut:

1) Adanya kolerasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan

pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah.

2) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.

3) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.

4) Pada masa ini (terutama pada umur 6 – 8 tahun) anak menghendaki

nilai (angka rapot) yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya

memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

5) Tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang ada di dalam

dunianya.

6) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu

dianggap tidak penting.

(Notoatmodjo, 2015)

c. Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi

Karakteristik siswa kelas tinggi sekolah dasar adalah

sebagai berikut:

1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.

2) realistik, mempunyai rasa ingin tahu dan ingin belajar.

3) pada umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang

dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi

27
keinginannya; setelah kira-kira umur 11 tahun pada umumnya anak

menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha

menyelesaikannya sendiri.

4) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapot) sebagai ukuran

yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah.

5) Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya,

biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan

ini biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang

tradisional; mereka membuat peraturan sendiri.

(Olivia A, 2018)

d. Karakteristik Anak Sekolah Dasar

Supariasa (2017) menyatakan bahwa karakteristik anak usia

sekolah umur 6-12 tahun terbagi menjadi empat bagian terdiri dari :

1) Fisik/Jasmani

a) Pertumbuhan lambat dan teratur.

b) Anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat disbanding

laki-laki dengan usia yang sama.

c) Anggota-anggota badan memanjang sampai akhir masa ini.

d) Peningkatan koordinasi besar dan otot-otot halus.

e) Pertumbuhan tulang, tulang sangat sensitif terhadap kecelakaan.

f) Pertumbuhan gigi tetap, gigi susu tanggal, nafsu makan besar,

senang makan dan aktif.

g) Fungsi penglihatan normal, timbul haid pada akhir masa ini.

28
2) Emosi

a) Suka berteman, ingin sukses, ingin tahu, bertanggung jawab

terhadap tingkah laku dan diri sendiri, mudah cemas jika ada

kemalangan di dalam keluarga.

b) Tidak terlalu ingin tahu terhadap lawan jenis.

3) Sosial

a) Senang berada di dalam kelompok, berminat di dalam permainan

yang bersaing, mulai menunjukkan sikap kepemimpinan, mulai

menunjukkan penampilan diri, jujur, sering punya kelompok

teman-teman tertentu.

b) Sangat erat dengan teman-teman sejenis, laki-laki dan wanita

bermain sendiri-sendiri.

4) Intelektual

a) Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat minat besar dalam

belajar dan keterampilan, ingin coba-coba, selalu ingin tahu

sesuatu.

b) Perhatian terhadap sesuatu sangat singkat.

29
B. Penelitian Yang Relevan

Tabel 2.1 penelitian yang relevan Pendidikan kesehatan cuci tangan

enam langkah dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Nama peneliti Judul penelitian Metode penelitian Hasil penelitian


Dita Prillia Ruby Pengaruh Pendidikan Jenis penelitian ini Tidak satupun yang
2016 kesehatan dengan metode merupakan jenis melakukan cuci
audiovisual terhadap penelitian kuantitatif, tangan pakai sabun
pelaksanaan cuci tangan dengan menggunakan dengan baik
pakai sabun pada anak usia desain penelitian sebelum dilakukan
prasekolah di TK AL eksperimen semu Pendidikan
Adabiy kota Pontianak atau quasy kesehatan dan
experiment design, setelah dilakukan
penelitian ini Pendidikan
menggunakan desain kesehatan dengan
one group pretest- metode audiovisual
postest design pelaksana cuci
without control tangan pakai sabun
pada anak
prasekolah hanya 6
responden yang
melakukan dengan
baik.
Olivia A, Pengaruh penyuluhan Metode penelitian Sebelum dilakukan
Kahusadi 2018 kebersihan tangan (Hand Quasy Experiment penyuluhan
Hygiene) terhadap perilaku dan rancangan one kesehatan, sikap
siswa SD GMIM 76 group pretest-postest responden dapat di
Maliombo Kecamatan design serta kategorikan kurang
Likupang Barat Kabupaten menggunakan Teknik baik sedangkan
Minahasa Utara total sampling setelah dilakukan
penyuluhan
kesehatan dapat di
kategorikan baik.
Suci Novi Lestari Gambaran perilaku hidup Teknik pengambilan Hasil penelitian
2016 bersih dan sehat (PHBS) di sample pada yang dilakukan
sekolah pada siswa SD penelitian ini dapat dilihat bahwa
Kembangarum 02 Semarang menggunakan cluster pengetahuan PHBS
Barat random sampling sekolah siswa-siswi
desain penelitian ini SD kembangarum
bersifat deskriptif 02 semarang
dengan indikator
mencuci tangan
masih kurang baik.

30
C. Kerangka konsep

Penelitian ini menggunakan kerangka konsep sebagai berikut :

Variabel Bebas Variabel Terikat

Pendidikan kesehatan Perilaku hidup bersih dan


cuci tangan enam sehat.
langkah.

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
1. Faktor predisposisi
a. Pengetahuan
b. Sikap
c. Kepercayaan
2. Faktor pemungkin
3. Faktor penguat

Faktor perancu

Gambar 2.1 Kerangka konsep

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Yang tidak diteliti

: Hubungan variabel yang diteliti

31
D. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan

penelitian. Hipotesis merupakan pertanyaan yang harus dibuktikan

(Notoatmojo, 2010). Berdasarkan uraian dalam latar belakang serta

perumusan masalah dapat diajukan suatu hipotesa kerja yaitu :

Ha : Ada pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah

terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02

Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.

Ho : Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah

terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02

Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.

32
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan quasi experiment yaitu dengan

menggunakan subjek yang diambil secara acak dengan pendekatan one

group pretest dan postest untuk mengetahui pengaruh pendidikan

kesehatan cuci tangan enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan

sehat (PHBS) pada siswa SD dengan lima kali pertemuan dengan waktu

yang berbeda.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 02 Wukirsawait, Jatiyoso,

Karanganyar pada bulan Januari hingga April 2020.

C. Populasi, Sample dan Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah siswa SDN 02

Wukirswait, Jatiyoso, Karanganyar dengan jumlah 66 responden.

2. Sample

Sample pada penelitian ini adalah siswa SDN 02 Wukirsawit,

Jatiyoso, Karanganyar kelas 4-6 diambil secara acak sebanyak sample

40 dengan rumus di bawah ini.

33
Keterangan :

S : Jumlah sample

N : Jumlah populasi

d : Tingkat kesalahan yang masih ditolerir (d=0,05)

λ :1

p=q : 0,5

Rumus Isac dan Michael

S: λ.N.O.Q

d² (N-1) + λ².P.Q

S: 1².66.0,5.0,5

(0,05²) 65 + 1².0,5.0,5

S: 16,5

0,4125

S : 40

3. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling

adalah cara pengambilan sample dengan cara acak sederhana. Teknik

penarikan sample menggunakan cara ini memberikan kesempatan yang

sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sample penelitian.

Cara pengambilanya menggunakan nomor undian dengan

mempertimbangkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

34
a) Kriteria Inklusi

1) Siswa yang bersedia menjadi responden

2) Siswa yang mau mengisi kuisioner

b) Kriteria Eksklusi

1) Siswa kelas 1-3

2) Siswa yang tidak masuk sekolah

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel

a. Variabel Independen (bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendidikan

kesehatan cuci tangan enam langkah

b. Variabel Dependen (terikat)

Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat (PHBS).

2. Definisi Operasional

Definisi Operasional ditentukan berdasarkan parameter yang

dijadikan ukuran dalam penelitian.

35
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Skor

Data

Variabel Usaha Sebelum Kuisioner Nominal Skor untuk


Independen menyebarluaskan dilakukan jawaban
(Pendidikan informasi tentang Pendidikan pendidikan
Kesehatan cara cuci tangan kesehatan kesehatan
Cuci Tangan enam langkah yang dan sesuudah cuci tangan
enam baik dan benar. dilakukan enam
Langkah) Pendidikan langkah jika
kesehatan jawaban :
Benar=2
Salah=1
Variabel Pengetahuan Sebelum Kuisioner Nominal Skor untuk
Dependen kebersihan diri dilakukan jawaban
(Perilaku mengenai perilaku Pendidikan perilaku
Hidup Bersih hidup bersih dan kesehatan hidup bersih
dan Sehat sehat dan setelah dan sehat
(PHBS)) dilakukan (PHBS) jika
Pendidikan jawaban :
kesehatan Ya=2
Tidak=1
E. Instrumen Dan Cara Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen pada penelitian ini adalah angket kuisioner tentang

cuci tangan enam langkah dengan jumlah soal 17 dan PHBS 29 soal.

36
Kisi-kisi kuisioner Pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah

dengan skor penilaian cuci tangan enam langkah positif dengan nilai 2 benar dan

nilai 1 salah, negative dengan nilai benar 1 dan nilai salah 2.

Tabel 3.2 Kisi-kisi kuesioner

Variabel Indikator Favorable Unfavorable Total


Pendidikan 1. Teknik cuci 1, 4, 7, 9, 2, 3, 6, 8, 17 10

kesehatan tangan 10,

cuci tangan 2. Tujuan cuci 5,11,16 3

enam langkah tangan

3. Waktu 12,13, 14, 15, 4

pelaksanaan

cuci tangan
Jumlah 17

37
Kisi-kisi kuisioner Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan skor

penilaian PHBS positif dengan nilai 2 ya dan nilai 1 tidak, negatif dengan nilai 1

ya dan nilai 2 tidak

Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner

Variabel Indikator Favorable Unfavorable Total


Perilaku Hidup 1. Waktu 1 2 2

Bersih dan pelaksanaan

Sehat 2. Perilaku 3, 5, 7, 9, 11, 4, 6, 8, 10, 27

PHBS 12, 13, 14, 26

15, 16, 17,

18, 19, 20,

21, 22, 23,

24, 25, 27,

28, 29
Jumlah 29

a. Uji Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur

itu benar-benar mengukur apa yang akan diukur. Untuk

mengetahui apakah kuisioner yang kita susun tersebut mampu

mengukur apa yang hendak di ukur, maka perlu diuji korelasi

antar skor (nilai) tiap item pertanyaan dengan skor total kuisioner

tersebut. Pada metode Corrected item total correlation pertanyaan

38
dinyatakan valid apabila nilai Corrected item total correlation

lebih besar dari nilai p tabel.

b. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas digunakan dengan rumus koefisien

reliabilitas alpha Cronbach dengan bantuan perhitungan

komputer. Model pengujian alpha Cronbach menunjukan

reliabilitas instrument yang digunakan. Pertanyaan dinyatakan

reliabilitas apabila nilai alpha Cronbach > nilai p tabel.

2. Cara Pengumpulan Data

a. Data Primer

Data diambil secara langsung dari responden melalui

kuisioner untuk mengetahui cuci tangan enam langkah terhadap

PHBS sebelum diberikan Pendidikan kesehatan dan setelah

diberikan Pendidikan kesehatan.

b. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini meliputi data yang

didapatkan dari pihak sekolah yang berhubungan dengan jumlah

siswa yang ada di sekolah tersebut.

39
F. Teknik Pengolahan Dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

a. Editing

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap data yang

dikumpulkan, memeriksa kelengkapan dan kemungkinan terjadinya

kekeliruan. Pada penelitian ini data-data siswa yang telah masuk akan

diperiksa kembali kelengkapanya.

b. Coding

Setelah data di sunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau

coding, yaitu mengubah data dalam bentuk kalimat atau huruf menjadi

data angka atau bilangan selanjutnya dimasukan dalam tabel kerja

untuk mempermudah dalam pembacaan.

1) Untuk variabel data pendidikan kesehatan cuci tangan enam

langkah dengan kategori jawaban tidak diberikan kode 1 dan

jawaban ya diberikan kode 2.

2) Untuk variabel data perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

dengan kategori jawaban tidak tahu diberika kode 1 dan jawaban

tahu diberikan kode 2.

c. Tabulating

Kegiatan ini dilakukan engan cara menghitung data dari jawaban

kuesioner responden yang sudah diberi kode, kemudian dimasukan

kedalam tabel.

40
d. Entry Data

Memasukan data untuk diolah memakai program komputer untuk

dianalisis.

2. Teknik Analisa Data

Data yang diperoleh akan dianalisa dengan analisa univariat,

bivariat dan. Analisa data akan dilakukan dengan program spss.

a. Analisa Univariat

Analisa univariat biasanya disebut sebagai Analisa

deskriptif yaitu untuk meringankan kumpulan data atau

menjelaskan karakteristik masing-masing variabel. Variabel yang

digunakan yaitu pengaruh Pendidikan kesehatan cuci tangan enam

langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada

siswa SD.

b. Analisa Bivariat

Analisis bivariat yaitu menganalisis variabel-variabel

penelitian guna menguji hipotesis penelitian serta untuk melihat

gambaran hubungan antara variabel penelitian. Dalam Analisa ini

dilakukan dengan pengujian statistik yaitu dengan uji paired t-test

untuk mengetahui pengaruh variabel dependen dengan variabel

independennya.

Uji-t berpasangan (paired t-test) adalah salah satu metode

pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas

(berpasangan). Walaupun menggunakan individu yang sama,

41
peneliti tetap memperoleh dua macam sample, yaitu data dari pre

test dan data dari post test.

Pengambilan keputusan Ho diterima atau ditolak dengan

melihat taraf signifikasi. Pada penelitian ini menggunakan taraf

signifikasi α = 0,05 dengan ketentuan Ho ditolak bila p value < dari

p table, dan Ho diterima bila p value > dari p table.

42
DAFTAR PUSTAKA

Aswadi, Sukfitrianty Syahrir, Virgilius Delastra, Surahmawati. 2017. Perilaku


Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Siswa-Siswi SDK Rita Pada
Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur Propinsi Nusa
Tenggara Timur, Jurnal Kesehatan Massyarakat. Vol 9. No 2 juli-
desember 2017, [Link]
sihah/article/view/3775. (diakses 19 November 2019 )

Departemen kesehatan Kementrian kesehatan RI. Perilaku Mencuci Tangan


Pakai Sabun di Indonesia. Pus Data dan Inf. 2014: 1-8.
[Link]
[Link]. (diakses 20 November 2019)

Dewi Ratna [Link] Pengetahuan Tentang Mencuci Tangan Pada


Siswa SD Bangunkerto Turi Sleman Yogyakarta.[Skripsi].STIKes
Achmad Yani Yogyakarta

Gracia V. Sousia, Ivy V. Lawalata, Samuel Titalety, Bellytra Talarima. 2018.


Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Pendidik
dan Peserta Didik di Kecamatan Leihitu Barat kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal pengabdian kepada masyarakat, Vol 24 No 3, Juli-
September 2018.
[Link]
(diakses 19 November 2019)

Gustina Erni, Abdussalam Fakhri, Saputra Wawan, 2018. Peningkatan Perilaku


Sehat Pada Siswa Sekolah Dasar Melalui PHBS di Desa Gondanglegi
dan Pucangan Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen. Jurnal
pemberdayaan: publikasi hasil pengabdian kepada masyarakat, Vol 2
No 1, April 2018, Hal. 59-64.
[Link] (diakses
pada 20 November 2019)

Lestari Novita S, Hartanti Elis, Supriyono Mamat. 2016. Gambaran Perilaku


Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah Pada Siswa SD
Kembangarum 02 Semarang Barat. Jurnal ilmu keperawatan dan
kebidanan,[Link]
an/article/view/526. (diakses pada 19 November 2019)

Lede Leo Y. 2017. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat


Pengetahuan Siswa SD Kelas 4,5,6 Tentang Cuci Tangan. Artikel
ilmiah. STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Maryunani, A. [Link] Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), Jakarta : Trans


Info Medika.

43
Muh. Fajarudin Natsir. 2018. Pengaruh Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Siswa SDN 169 Bonto
Parang Kabupaten Jeneponto. Jurnal nasional ilmu kesehatan, Vol 1,
Edisi 2 2018, [Link]
(diakses pada 21 November 2019)

Muslim Khanifan M. 2018. Tingkat Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih dan


Sehat (PHBS) Terhadap Kebersihan Pribadi Siswa kelas IV dan V
Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) 01 Kauman Pekalongan: [Skripsi].
Universitas Negeri Yogyakarta.

Notoatmojo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka


Cipta.

Olivia A. Kahusadi, Marjes N. Tumurang, Maureen I. Punuh. 2018. Pengaruh


Penyuluhan Kebersihan Tangan (Hand Hygiene) Terhadap Perilaku
Siswa SD GMIM 76 Maliombo Kecamatan Likupang Barat Kabupaten
Minahasa Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 7 No. 5, 2018,
[Link]
(diakses pada 19 November 2019)

Potter Patricia A, Perry AG. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,


Proses, Dan Praktik. Jakarta : EGC ; 2009.

Risnawati Gracia, 2016. Faktor Determinan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) Pada Masyarakat di Tanah Kalikedinding. Jurnal Kesehatan,
Vol 4, No 1, juli 2016, [Link]
[Link]/PROMKES/article/view/5807. (diakses 21 November
2019).

Ruby Prilia D, Tafwidhah Yuyun, Hidaya Nur M. 2016. Pengaruh Pendidikan


Kesehatan Dengan Metode Audiovisual Terhadap Pelaksanaan Cuci
Tangan Pakai Sabun Pada Anak Usia Prasekolah di TK Al Adabiy Kota
Pontianak. Jurnal Proners, Vol 3, No1, 2016,
[Link]
(Diakses 20 November 2019)

Skinner. 2013. Ilmu Pengetahuan dan Perilaku. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Subagyo Isprastika A, Tafwihah Yuyun, Fauza Suhaini. 2018. Pengaruh


Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Perilaku
Cuci Tangan Pakai Sabun Siswa di SDN 06 Wonorejo Kabupaten
Kayong Utara: Naskah publikasi. Universitas Tanjungpura.

44
Wati Ratna, 2011. Pengaruh Pemberian Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Tentang Mencuci Tangan Terhadap Pengetahuan dan
Sikap Mencuci Tangan Pada Siswa Kelas V di SDN Bulukantil
Surakarta. [KTI]. Universitas Negeri Surakarta.

World Health Organization. 2015. Guideines On Hand Hygiene in Healthcare.


Ganeva : WHO.

45

Anda mungkin juga menyukai