BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor
internal maupun eksternal. Data World Health Organization (WHO) tahun
2017, di negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat
berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang aman,
sanitasi, dan cuci tangan yang buruk. Selain itu, terdapat bukti bahwa
pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air yang aman, sistem
pembuangan sampah serta pendidikan cuci tangan yang tidak baik dapat
menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakit-
penyakit lainya sebanyak 26%. Secara garis besar faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan dikelompokan menjadi empat, berturut-turut
besarnya pengaruh adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan
keturunan
Di Indonesia terdapat lebih dari 250.000 sekolah negeri, swasta
maupun sekolah agama dari berbagai tingkatan dan diperkirakan jumlah
anak sekolah mencapai 30% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 73
juta orang. Jumlah yang cukup besar ini, menjadikan anak usia sekolah
merupakan asset atau modal utama pembangunan perlu dijaga,
ditingkatkan dan dilindungi kesehatanya. Sekolah merupakan tempat
strategis dalam kehidupan anak, maka sekolah dapat difungsikan secara
1
tepat sebagai salah satu institusi yang dapat membantu dan berperan dalam
upaya optimalisasi tumbuh kembang anak usia sekolah dengan upaya
menanamkan macam-macam hidup sehat seperti menggunakan jamban
sehat, menggunakan air bersih dan cara cuci tangan dengan sabun dan air
bersih, salah satunya cuci tangan sehingga anak sekolah, keluarga, maupun
massyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu untuk mempraktikan cuci
tangan dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat (Olivia A,
2018)
Mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting
dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi (Potter & Perry, 2009).
Mencuci tangan juga dapat menghilangkan sejumlah besar virus yang
menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit yang menyerang
saluran cerna, seperti diare dan saluran nafas seperti influenza. Hampir
semua orang mengerti pentingnya mencuci tangan, namun masih banyak
yang tidak membiasakan diri untuk melakukan dengan benar pada saat
yang penting. Melakukan cuci tangan merupakan salah satu dari perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) (Umar, 2009 dalam Mirzal).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan
perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran
yang menjadikan seseorang yang dapat menolong diri sendiri dibidang
kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan
setinggi-tingginya. Perilaku hidup bersih dan sehat berkaitan dengan
munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah
2
(usia 6-10 tahun). Oleh karena itu, penanaman kebutuhan mutlak dan
dapat diketahui melalui pendekatan usaha kesehatan. Perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) di sekolah adalah upaya untuk memberdaya siswa, guru,
dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu dan mampu mempraktikan
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan berperan aktif dalam
mewujudkan sekolah sehat (Aswadi,2017).
Provinsi Jawa Tengah sendiri memfokuskan program Perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) pada rumah tangga, Perilaku hidup bersih
dan sehat sekolah, dan Perilaku hidup bersih dan sehat tempat ibadah,
didasarkan pertimbangan tatanan tersebut mempunyai daya ungkit yang
besar dalam pencapaian derajat kesehatan tersebut (Depkes Jateng, 2009).
Salah satu dari empat kunci kegiatan Perilaku hidup bersih dan sehat untuk
meningkatkan pencapaian derajat kesehatan dengan meningkatkan
perilaku cuci tangan yang benar setelah buang air besar, setelah menceboki
bayi dan balita, sebelum makan, serta sebelum menyiapkan makanan
(Ratnawati, 2011).
Studi pendahuluan telah dilakukan pada 5 November 2019 di SDN
02 Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar terhadap cuci tangan enam langkah
pada siswa SD sebanyak 114 siswa dari 62 laki-laki dan 52 perempuan
diambil secara acak didapatkan dari hasil bahwa 16 siswa mengatakan
belum bisa melakukan cuci tangan enam langkah yang baik dan benar.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti,
pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah terhadap
3
perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa SDN 02 Wukirsawit kelas 4-6
yang berumur 10-12 tahun. Dengan pertimbangan bahwa SD merupkan
SD yang jauh dari perkotaan sehingga jarang ada pendidikan kesehatan
mengenai Perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara cuci tangan enam
langkah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan
masalah adakah pengaruh pemberian pendidikan kesehatan cuci tangan
enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa SDN
02 Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan
enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada
siswa SD.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh cuci tangan enam langkah terhadap
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02
Wukirsawit, Karanganyar sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan.
b. Untuk mengetahui pengaruh cuci tangan enam langkah terhadap
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02
Wukirsawit, Karanganyar setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4
c. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan
enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
pada siswa SDN 02 Wukirsawit, Karanganyar.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan
enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada
siswa SD.
2. Manfaat Aplikatif
a. Bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan serta pengalaman dalam
menyampaikan pendidikan kesehatan pada siswa SD, terutama
dalam tema cuci tangan enam langkah.
b. Bagi tempat penelitian
Sebagai masukan dan pertimbangan dalam meningkatkan derajat
kesehatan bagi siswa SD dan guru serta karyawan.
c. Bagi responden
Membudayakan mencuci tangan enam langkah menjadi kebiasaan
sehari-hari dan pola hidup sehat bagi anak-anak di lingkungan
rumah dan sekolah.
d. Bagi masyarakat umum
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan nilai
hidup bersih dan sehat bagi masyarakat umum.
5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Pendididkan kesehatan
a. Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dalam arti Pendidikan secara umum
adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang
lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau
promosi kesehatan dan batasan ini tersirat unsur-unsur input
(sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output
(melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari
suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku
kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan.
(Olivia A, 2018)
Pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu,
kelompok atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai
kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah-
masalah kesehatanya sendiri menjadi mampu dan dari tidak mau
6
menjadi mau untuk menjaga kesehatanya dan lain sebagainya.
(Yunitha Leo Lede, 2017)
Olivia A (2018) berpendapat bahwa Pendidikan kesehatan
adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang
melalui teknik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan
mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia secara individu,
kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri mencapai
tujuan hidup sehat, untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan di
sekolah agar siswa memiliki pengetahuan tentang Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan
Kesehatan
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan
kesehatan dapat mencapai sasaran (Ratna Wati, 2011).
1) Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang
terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikanya, semakin mudah
seseorang menerima informasi yang didapatnya.
2) Tingkat Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin
mudah pula dalam menerima informasi baru.
7
3) Adat Istiadat
Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap
adat istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
4) Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang
disampaikan oleh orang-orang yang sudah mereka kenal, karena
sudah ada kepercayaan massyarakat dengan penyampaian
informasi.
5) Ketersediaan Waktu di Masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan
tingkat aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran
masyarakat dalam penyuluhan.
c. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan antara lain :
1) Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga, dan
masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku,
Lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan
derajad kesehatan yang optimal.
2) Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, dan
masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik,
mental, dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan
dan kematian (Efendy, 2016)
8
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang
mampu menerapakan masalah dan kebutuhan mereka sendiri,
mampu memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap
masalahnya, dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah
dengan dukungan dari luar dan mampu memutuskan kegiatan yang
tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan
masyarakat (Mubarak, 2016).
Tujuan pendidikan kesehatan adalah meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan baik secara fisik, mental, dan sosialnya; sehingga
produktif secara ekonomi maupun sosial. Pendidikan kesehatan di
semua program kesehatan ; baik pemberantasan penyakit menular,
sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun
program kesehatan lainya (Mubarak, 2015).
d. Metode Pendidikan Kesehatan
Penggolongan metode pendidikan menurut Notoatmojo (2011)
berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai dibagi menjadi
tiga yaitu :
1) Metode berdasarkan pendekatan perorangan
Metode ini bersifat individual dan biasanya digunakan
untuk membina perilaku baru, atau membina seorang yang mulai
tertarik pada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar
digunakanya pendekatan individual ini karena setiap orang
9
mempunyai masalah atau perilaku baru tersebut. Ada dua bentuk
pendekatanya yaitu : bimbingan dan penyuluhan (Guidance and
Counceling), dan wawancara.
2) Metode berdasarkan pendekatan kelompok
Penyuluhan berhubungan dengan sasaran secara kelompok.
Dalam penyampaian promosi kesehatan dengan metode ini kita
perlu mempertimbangkan besarnya kelompok sasaran serta tingkat
pendidikan formal dari sasaran. Ada dua jenis tergantung besarnya
kelompok, yaitu : kelompok besar, kelompok kecil.
3) Metode berdasarkan pendekatan massa
Metode pendekatan massa ini cocok untuk
mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada
masyarakat, sehingga sasaran dari metode ini bersifat umum; dalam
arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan,
status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya,
sehingga pesan-pesan kesehatan yang ingin disampaikan harus
dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa.
2. Cuci Tangan Enam Langkah
a. Pengertian Cuci Tangan
Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu
secara mekanis dari kulit kedua belah tangan memakai air dan
sabun, cuci tangan pakai sabun merupakan cara yang sederhana,
mudah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit
10
penyebab kematian, yang dapat dicegah dengan cuci tangan yang
benar, seperti penyakit diare dan infekai saluran pernafasan atas
(ISPA) yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak (Muh.
Fajaruddin Natsir, 2018)
Cuci tangan merupakan perilaku sehat yang telah terbukti
secara ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti
diare, infeksi saluran pernapasan atas dan flu burung, bahkan
disarankan untuk mencegah penularan influenza. Pemberian
edukasi tentang cuci tangan yang benar dan mendukung perilaku
cuci tangan setiap hari pada anak sekolah yang berdampak tidak
hanya mampu mengurangi infeksi tetapi juga mampu menanamkan
perilaku sehat sejak dini (Dita Prillia Ruby, 2018).
Cuci tangan pakai sabun yang dilakukan secara tepat dan
benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah
terjangkitnya penyakit. Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat
lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari
permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah
mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri pada
kedua tangan. Mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan
sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing
yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada
kedua tangan (Risnawati Gracia, 2016).
11
Cuci tangan adalah proses membersihkan kotoran dan debu
dari kulit kedua tangan dengan memakai sabun dan air. Mencuci
tangan pakai sabun salah satu cara paling efektif untuk mencegah
penyakit diare dan ISPA, keduanya menjadi penyebab utama
kematian anak (Subagyo Isprastika Andin, 2018).
Perilaku mencuci tangan adalah suatu aktivitas, tindakan
mencuci tangan yang di kerjakan oleh individu yang dapat diamati
secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Green (2017),
kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu
faktor perilaku (behavior causes), dan faktor non perilaku (non
behavior causes). Perilaku kesehatan itu sendiri juga dipengaruhi
oleh tiga faktor, yaitu:
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor)
Terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
nilai-nilai dan sebagainya.
a) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan,
paparan media masa (akses informasi), ekonomi (pendapatan),
12
hubungan sosial (lingkungan sosial budaya), pengalaman.
Sebelum anak berperilaku mencuci tangan, ia harus tahu
terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku dan apa
resikonya apabila tidak mencuci tangan dengan sabun bagi
dirinya atau keluarganya. Melalui pendidikan kesehatan
mencuci tangan anak mendapatkan pengetahuan pentingnya
mencuci tangan sehingga diharapkan anak tahu, bisa menilai,
bersikap yang didukung adanya fasilitas mencuci tangan
sehingga tercipta perilaku mencuci tangan.
b) Sikap
Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang
terhadap stimulus dan objek (dalam hal ini adalah masalah
kesehatan, termasuk penyakit). Setelah anak mengetahui
bahaya tidak mencuci tangan (melalui pengalaman, pengaruh
orang lain, media massa, lembaga pendidikan, emosi), proses
selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap kegiatan
mencuci tangan tersebut.
c) Kepercayaan
Kepercayaan sering diperoleh dari guru, orang tua dan
seseorang yang dituakan. Pendidikan kesehatan bisa melalui
guru atau orang tua, missal selain mengajari cara mencuci
tangan guru atau orang tua bisa membiasakan dirinya mencuci
tangan sehingga anak bisa meniru kebiasaan yang dilakukan
13
guru atau orang tuanya. Karena anak menganggap benar apa
yang dilakukan guru atau orang tua dan orang yang di
tuakannya.
2) Faktor-Faktor pemungkin (Enambling Factor)
Terwujud dalam lingkungan fisik, ketersediaan sarana dan
prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya:
air bersih, tepat buang sampah, tempat buang tinja,
ketersediaan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk
juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah
sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau
bidan swasta dan sebagainya. Untuk mendukung perilaku hidup
sehat.
3) Faktor-Faktor penguat (Reinforcing Factor)
Terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau
petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari
perilaku masyarakat. Maka promosi dan kesehatan yang paling
tepat adalah bentuk pelatihan bagi tokoh masyarakat, tokoh
agama dan petugas kesehatan, agar sikap dan perilaku petugas
atau tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menjadi teladan,
contoh, atau acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat
(berperilaku hidup sehat) (Notoatmodjo, 2011). Seorang ahli
psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons
atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
14
Oleh karena perilaku mencuci tangan ini terjadi melalui proses
adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organism
tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-
R” atau Stimulus-Organisme-Respon. Skinner membedakan
adanya dua respon (Skinner, 2013).
a) Respondent respons atau reflexive
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan
(stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut eliciting
stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif
tetap.
b) Operant respons atau instrumental respon
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh
stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang itu disebut
reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat
respon. Di dalam kehidupan sehari-hari, respon jenis pertama
(respondent respons atau respondent beharvior) sangat terbatas
keberadaannya pada manusia. Hal ini disebabkan karena
hubungan yang pasti antara stimulus dan respons kemungkinan
untuk memodifikasinya adalah kecil. Sebaliknya operant
respons atau instrument behavior merupakan bagian terbesar
dari perilaku manusia, dan kemungkinan untuk memodifikasi
sangat besar, bahkan dapat dikatakan tidak terbatas
(Notoatmodjo, 2011)
15
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka
perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Perilaku tertutup (Recivert Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung
atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini
masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran,
dan sikap yang terjadi pada orang menerima stimulus tersebut,
dan belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain.
2) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan
nyata ata terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas
dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan
mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo,
2011).
Perilaku-perilaku mencuci tangan individu dapat terjadi
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena kebutuhan
dorongan motivasi faktor perangsang dan pengawet, dan
pengaruh sikap dan kepercayaan (Kariyoso, 2016)
Terbentuknya perilaku mencuci tangan individu dapat
terjadi karena proses kematangan dan proses interaksi dengan
lingkungan. Cara yang inilah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perilaku manusia. Terbentuknya dan perubahan
perilaku karena proses interaksi antara individu dengan
16
lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar atau di
lingkungan yang ada diluar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku
dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku
adalah merupakan hasil dari proses belajar. Berarti pendidikan
kesehatan mencuci tangan disekolah merupakan salah satu cara
yang tepat untuk perubahan perilaku anak dalam proses belajar.
Karena melalui proses belajar terjadi proses kematangan dan
proses interaksi dengan lingkungan yang dapat merubah
perilaku anak dalam hal mencuci tangan (Notoatmodjo, 2013).
Data WHO yang dikutip dari Notoatmodjo S, bentuk
perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan konsep yang
digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya terhadap
perilaku. Berikut bentuk-bentuk perubahan perilaku dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1) Perubahan Alamiah (Natural Change).
Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian
perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila
dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan
lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka
anggota-anggota masyarakat di dalamnya juga akan
mengalami perubahan.
17
2) Perubahan Rencana (Planned Change)
Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan
sendiri oleh subyek.
3) Kesediaan untuk Berubah (Readiness to Change)
Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program
pembangunan didalam masyarakat. Maka yang sering
terjadi adalah sebagai orang sangat lambat untuk menerima
inovasi atau perubahan tersebut (berubah perilakunya).
Melakukan perubahan perilaku diperlukan motivasi yang
kuat untuk berubah. Motivasi adalah suatu dorongan yang
menggerakkan seseorang untuk berperilaku, beraktivitas dalam
penyampaian tujuan dimana kebutuhan merupakan faktor yang
sangat berpengaruh terhadap lajunya dorongan tersebut . Jadi
perubahan perilaku mencuci tangan pada anak usia sekolah
dapat tercapai dengan memberi anak motivasi yang kuat.
Sehingga timbul dari kesadarannya sendiri, tercipta perilaku
mencuci tangan pada anak tersebut. (Widayatun, 2017)
Kurt Lewin (2018) yang dikutip dari Notoatmodjo S,
berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan
yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (drivering
forces). Perilaku mencuci tangan itu dapat berubah apabila
terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di
dalam diri seseorang.
18
Data WHO (2015) terdapat dua teknik mencuci tangan
yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan
mencuci tangan dengan larutan yang berbahan dasar alkohol.
1) Basuh tangan dengan air bersih dan mengalir, ratakan sabun
dengan kedua telapak tangan.
2) Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri dan
tangan kanan, begitu pula sebaliknya.
3) Gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan.
4) Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci.
5) Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan
dan lakukan sebaliknya.
6) Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di
telapak tangan kiri dan sebaliknya.
7) Bilas kedua tangan dengan air yang mengalir dan keringkan.
b. Manfaat Cuci Tangan.
Kesehatan dan keamanan (Health and Safety) merupakan
komponen penting bagi perkembangan anak. Selain nutrisi,
stimulasi dini, imunisasi dan pemeriksaan kesehatan secara
berkala, kebersihan khususnya kebersihan tangan, juga merupakan
upaya yang sangat efektif dalam melindungi anak. Mencuci tangan
(dengan benar) merupakan upaya mencegah penyebaran penyakit
infeksi yang paling praktis, murah, dan penting (Pujiarto, 2016).
19
Manfaat mencuci tangan seperti menggunakan sabun dapat
membunuh kuman penyakit yang ada di tangan. Mencegah
penularan penyakit dari 20 jenis penyakit yang di tularkan melalu
tangan salah satunya seperti diare, agar dapat memutus mata rantai
penularan penyakit melalui tangan baik terhadap diri sendiri, anak,
maupun lingkungan, merupakan benteng pertahanan tubuh pertama
terhadap penyakit dan sekaligus mencegah penularan penyakit, dan
tangan menjadi bersih (Dewi Ratna Septi, 2017).
c. Waktu Cuci Tangan.
1) Sebelum makan.
2) Sebelum menghidangkan makanan.
3) Sebelum memberi makan bayi atau balita.
4) Sesudah buang air besar atau kecil.
5) Sesudah memegang hewan.
(Depkes, 2011)
Pada kondisi tertentu, dimana kader mempromosikan perilaku cuci
tangan pakai sabun (CTPS) pada tatanan berbeda, misalnya di
sekolah; saat ini dapat saja ditambahkan dengan alternatif sebagai
berikut :
1) Setelah bermain di lumpur.
2) Setelah bersin.
3) Setelah mengucek mata.
4) Setelah membuang ingus.
20
5) Setelah memegang kapur tulis.
6) Setelah bekerja di kebun sekolah.
3. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
a. Pengertian PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan
perilaku yang di praktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga yang dapat
meolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam
mewujudkan derajat kesehatan setinggi-tingginya (Aswadi, 2017).
PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan
sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga
secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatan, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan
sehat. Beberapa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam
lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar,
tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya
sehingga diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang
berkualitas (Gracia V. Sousia, 2018).
PHBS di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan
murid, guru, dan massyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau,
dan mampu mempraktekan PHBS, dan berperan aktif dalam
21
mewujudkan sekolah sehat (Surahmawati, 2017). PHBS di institusi
pendidikan adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan
kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
institusi Pendidikan. Indikator PHBS di institusi pendidikan atau
sekolah meliputi :
1) Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun.
2) Mengkonsusmsi jajanan sehat di kantin sekolahan.
3) Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
4) Olahraga yang teratur dan terukur.
5) Memberantas jentik nyamuk.
6) Tidak merokok di sekolah.
7) Membimbing berat badan dan mengukur tinggi badan setiap
bulan.
8) Membuang sampah pada tempatnya.
(Depkes, 2015)
Maryunani (2015) sosialisasi penerapan PHBS di sekolah
lingkungan internal antara lain :
1) Penggunaan jamban sehat dan air bersih.
2) Pemberantasan sarang nyamuk.
3) Larangan merokok di sekolah dan kawasan tanpa rokok di
sekolah.
4) Membuang sampah pada tempatnya.
22
b. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
PHBS dapat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :
1) Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor ini mencangkup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap
kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut
masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan,
dan sebagainya. Seperti kebiasaan, tradisi, sikap kepercayaan
(agama), pengetahuan (pendidikan), dan lain-lain.
2) Faktor Pendukung (Enabling Factor)
Hubungan antara konsep pengetahuan dan praktek kaitanya dalam
suatu materi kegiatan biasanya mempunyai anggapan yaitu adanya
pengetahuan tentang manfaat suatu hal yang akan menyebabkan
orang mempunyai sikap positif terhadap hal tersebut. Selanjutnya
sikap positif ini akan mempengaruhi untuk ikut dalam kegiatan ini.
Niat ikut serta dalam kegiatan ini akan menjadi tindakan apabila
mendapatkan dukungan sosial dan tersedianya fasilitas kegiatan ini
disebut perilaku. Berdasarkan teori WHO menyatakan bahwa yang
menyebabkan seseorang berperilaku ada tiga alasan diantaranya
adalah sumber daya (Resourse) meliputi fasilitas, pelayanan
kesehatan dan pendapatan keluarga.
23
3) Faktor Yang Memperkuat (Reinforcing Factor)
Faktor yang mendorong untuk bertindak untuk mencapai suatu
tujuan yang terwujud dalam peran keluarga terutama orang tua,
guru dan petugas kesehatan untuk saling bahu membahu, sehingga
tercipta kerjasama yang baik antara pihak rumah dan sekolah yang
akan mendukung anak dalam memperoleh pengalaman yang
hendak dirancang, lingkungan yang bersifat anak sebagai pusat
yang akan mendorong proses belajar melalui penjelajah dan
penemuan untuk terjadinya suatu perilaku. Hak-hak orang sakit dan
kewajiban sebagai orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama
keluarganya), yang selanjutnya disebut perilaku orang sakit.
c. Tujuan Peningkatan PHBS
Membudayakan PHBS bagi perorangan sehingga dapat
memberikan dampak yang bermakna terhadap derajat kesehatan
(Depkes RI, 2015).
d. Manfaat PHBS
Promkes Depkes (2018) menjelaskan beberapa manfaat
akan diperoleh apabila menerapkan PHBS dalam kehidupan, yaitu:
1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.
2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-
masalah kesehatan.
3) Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
24
4) Masyarakat mampu mengembangkan upaya kesehatan bersumber
masyarakat (UKBM) seperti posyandu, jaminan pemeliharaan
kesehatan, pondok bersalin desa (polindes), dan lain-lain.
e. Sasaran PHBS
Untuk mencapai tujuan yang diharapakan dalam
membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sasaran
dikelompokkan dalam lima tatanan setting, yaitu :
1) Tatanan rumah.
Mengkonsumsi sayuran, makanan selalu tertutup rapat, mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan, mencuci tangan setelah
bermain.
2) Tatanan institusi pendidikan (Sekolah, Madrasah, dsb)
Tidak membuang sampah di laci meja, membeli jajan sehat atau
jajan yang tertutup pada kantin sekolah.
3) Tatanan tempat umum (Tempat ibadah, pasar, tempat rekreasi, dsb)
Tidak membuang sampah sembarangan, mencuci tangan setelah
memegang kotoran.
4. Anak Sekolah Dasar (SD).
a. Pengertian Anak SD
Anak sekolah dasar adalah mereka yang berusia antara 6 –
12 tahun atau biasa disebut dengan periode intelektual.
Pengetahuan anak akan bertambah pesan seiring dengan
bertambahnya usia, keterampilan yang dikuasaipun semakin
25
beragam. Minat anak pada periode ini terutama terfokus pada
segala sesuatu yang bersifat dinamis bergerak. Implikasinya adalah
anak cenderung untuk melakukan beragam aktivitas yang akan
berguna pada proses perkembangannya kelak (Hartanti Elis, 2016).
Anak merupakan asset terpenting dalam tercapainya
keberhasilan suatu negara, karena anak merupakan generasi
penerus bangsa. Derajat kesehatan anak belum bisa dikatakan baik
karena masih banyak terdapat masalah kesehatan khususnya pada
anak sekolah. Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang
kritis karena pada usia tersebut rentan terhadap masalah kesehatan.
Masalah kesehatan yang sering timbul pada usia anak sekolah yaitu
gangguan perilaku, gangguan perkembangan fisiologis hingga
gangguan dalam belajar dan juga masalah kesehatan umum.
Berbagai macam masalah yang muncul pada anak usia sekolah,
namun masalah yang biasanya terjadi yaitu masalah kesehatan
umum. Masalah kesehatan umum yang terjadi pada anak usia
sekolah biasanya berkaitan dengan kebersihan perorangan dan
lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebersihan diri,
serta kebiasaan cuci tangan pakai sabun, serta membersihkan kuku
dan rambut (Gustina Erni, 2018).
b. Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah
Usia sekolah dasar disebut juga periode intelektualitas, atau
periode keserasian bersekolah. Pada umur 6 – 7 tahun seorang anak
26
dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Periode sekolah
dasar terdiri dari periode kelas rendah dan periode kelas tinggi.
Karakteristik siswa kelas rendah sekolah dasar adalah sebagai
berikut:
1) Adanya kolerasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan
pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah.
2) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
3) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.
4) Pada masa ini (terutama pada umur 6 – 8 tahun) anak menghendaki
nilai (angka rapot) yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya
memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
5) Tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang ada di dalam
dunianya.
6) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu
dianggap tidak penting.
(Notoatmodjo, 2015)
c. Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi
Karakteristik siswa kelas tinggi sekolah dasar adalah
sebagai berikut:
1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2) realistik, mempunyai rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3) pada umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang
dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi
27
keinginannya; setelah kira-kira umur 11 tahun pada umumnya anak
menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha
menyelesaikannya sendiri.
4) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapot) sebagai ukuran
yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah.
5) Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya,
biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan
ini biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang
tradisional; mereka membuat peraturan sendiri.
(Olivia A, 2018)
d. Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Supariasa (2017) menyatakan bahwa karakteristik anak usia
sekolah umur 6-12 tahun terbagi menjadi empat bagian terdiri dari :
1) Fisik/Jasmani
a) Pertumbuhan lambat dan teratur.
b) Anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat disbanding
laki-laki dengan usia yang sama.
c) Anggota-anggota badan memanjang sampai akhir masa ini.
d) Peningkatan koordinasi besar dan otot-otot halus.
e) Pertumbuhan tulang, tulang sangat sensitif terhadap kecelakaan.
f) Pertumbuhan gigi tetap, gigi susu tanggal, nafsu makan besar,
senang makan dan aktif.
g) Fungsi penglihatan normal, timbul haid pada akhir masa ini.
28
2) Emosi
a) Suka berteman, ingin sukses, ingin tahu, bertanggung jawab
terhadap tingkah laku dan diri sendiri, mudah cemas jika ada
kemalangan di dalam keluarga.
b) Tidak terlalu ingin tahu terhadap lawan jenis.
3) Sosial
a) Senang berada di dalam kelompok, berminat di dalam permainan
yang bersaing, mulai menunjukkan sikap kepemimpinan, mulai
menunjukkan penampilan diri, jujur, sering punya kelompok
teman-teman tertentu.
b) Sangat erat dengan teman-teman sejenis, laki-laki dan wanita
bermain sendiri-sendiri.
4) Intelektual
a) Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat minat besar dalam
belajar dan keterampilan, ingin coba-coba, selalu ingin tahu
sesuatu.
b) Perhatian terhadap sesuatu sangat singkat.
29
B. Penelitian Yang Relevan
Tabel 2.1 penelitian yang relevan Pendidikan kesehatan cuci tangan
enam langkah dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Nama peneliti Judul penelitian Metode penelitian Hasil penelitian
Dita Prillia Ruby Pengaruh Pendidikan Jenis penelitian ini Tidak satupun yang
2016 kesehatan dengan metode merupakan jenis melakukan cuci
audiovisual terhadap penelitian kuantitatif, tangan pakai sabun
pelaksanaan cuci tangan dengan menggunakan dengan baik
pakai sabun pada anak usia desain penelitian sebelum dilakukan
prasekolah di TK AL eksperimen semu Pendidikan
Adabiy kota Pontianak atau quasy kesehatan dan
experiment design, setelah dilakukan
penelitian ini Pendidikan
menggunakan desain kesehatan dengan
one group pretest- metode audiovisual
postest design pelaksana cuci
without control tangan pakai sabun
pada anak
prasekolah hanya 6
responden yang
melakukan dengan
baik.
Olivia A, Pengaruh penyuluhan Metode penelitian Sebelum dilakukan
Kahusadi 2018 kebersihan tangan (Hand Quasy Experiment penyuluhan
Hygiene) terhadap perilaku dan rancangan one kesehatan, sikap
siswa SD GMIM 76 group pretest-postest responden dapat di
Maliombo Kecamatan design serta kategorikan kurang
Likupang Barat Kabupaten menggunakan Teknik baik sedangkan
Minahasa Utara total sampling setelah dilakukan
penyuluhan
kesehatan dapat di
kategorikan baik.
Suci Novi Lestari Gambaran perilaku hidup Teknik pengambilan Hasil penelitian
2016 bersih dan sehat (PHBS) di sample pada yang dilakukan
sekolah pada siswa SD penelitian ini dapat dilihat bahwa
Kembangarum 02 Semarang menggunakan cluster pengetahuan PHBS
Barat random sampling sekolah siswa-siswi
desain penelitian ini SD kembangarum
bersifat deskriptif 02 semarang
dengan indikator
mencuci tangan
masih kurang baik.
30
C. Kerangka konsep
Penelitian ini menggunakan kerangka konsep sebagai berikut :
Variabel Bebas Variabel Terikat
Pendidikan kesehatan Perilaku hidup bersih dan
cuci tangan enam sehat.
langkah.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi
1. Faktor predisposisi
a. Pengetahuan
b. Sikap
c. Kepercayaan
2. Faktor pemungkin
3. Faktor penguat
Faktor perancu
Gambar 2.1 Kerangka konsep
Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Yang tidak diteliti
: Hubungan variabel yang diteliti
31
D. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan
penelitian. Hipotesis merupakan pertanyaan yang harus dibuktikan
(Notoatmojo, 2010). Berdasarkan uraian dalam latar belakang serta
perumusan masalah dapat diajukan suatu hipotesa kerja yaitu :
Ha : Ada pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah
terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02
Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.
Ho : Tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah
terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SDN 02
Wukirsawit, Jatiyoso, Karanganyar.
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan quasi experiment yaitu dengan
menggunakan subjek yang diambil secara acak dengan pendekatan one
group pretest dan postest untuk mengetahui pengaruh pendidikan
kesehatan cuci tangan enam langkah terhadap perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) pada siswa SD dengan lima kali pertemuan dengan waktu
yang berbeda.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 02 Wukirsawait, Jatiyoso,
Karanganyar pada bulan Januari hingga April 2020.
C. Populasi, Sample dan Subjek Penelitian
1. Populasi
Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah siswa SDN 02
Wukirswait, Jatiyoso, Karanganyar dengan jumlah 66 responden.
2. Sample
Sample pada penelitian ini adalah siswa SDN 02 Wukirsawit,
Jatiyoso, Karanganyar kelas 4-6 diambil secara acak sebanyak sample
40 dengan rumus di bawah ini.
33
Keterangan :
S : Jumlah sample
N : Jumlah populasi
d : Tingkat kesalahan yang masih ditolerir (d=0,05)
λ :1
p=q : 0,5
Rumus Isac dan Michael
S: λ.N.O.Q
d² (N-1) + λ².P.Q
S: 1².66.0,5.0,5
(0,05²) 65 + 1².0,5.0,5
S: 16,5
0,4125
S : 40
3. Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling
adalah cara pengambilan sample dengan cara acak sederhana. Teknik
penarikan sample menggunakan cara ini memberikan kesempatan yang
sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sample penelitian.
Cara pengambilanya menggunakan nomor undian dengan
mempertimbangkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
34
a) Kriteria Inklusi
1) Siswa yang bersedia menjadi responden
2) Siswa yang mau mengisi kuisioner
b) Kriteria Eksklusi
1) Siswa kelas 1-3
2) Siswa yang tidak masuk sekolah
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel
a. Variabel Independen (bebas)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendidikan
kesehatan cuci tangan enam langkah
b. Variabel Dependen (terikat)
Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
2. Definisi Operasional
Definisi Operasional ditentukan berdasarkan parameter yang
dijadikan ukuran dalam penelitian.
35
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Skor
Data
Variabel Usaha Sebelum Kuisioner Nominal Skor untuk
Independen menyebarluaskan dilakukan jawaban
(Pendidikan informasi tentang Pendidikan pendidikan
Kesehatan cara cuci tangan kesehatan kesehatan
Cuci Tangan enam langkah yang dan sesuudah cuci tangan
enam baik dan benar. dilakukan enam
Langkah) Pendidikan langkah jika
kesehatan jawaban :
Benar=2
Salah=1
Variabel Pengetahuan Sebelum Kuisioner Nominal Skor untuk
Dependen kebersihan diri dilakukan jawaban
(Perilaku mengenai perilaku Pendidikan perilaku
Hidup Bersih hidup bersih dan kesehatan hidup bersih
dan Sehat sehat dan setelah dan sehat
(PHBS)) dilakukan (PHBS) jika
Pendidikan jawaban :
kesehatan Ya=2
Tidak=1
E. Instrumen Dan Cara Pengumpulan Data
1. Instrumen Penelitian
Instrumen pada penelitian ini adalah angket kuisioner tentang
cuci tangan enam langkah dengan jumlah soal 17 dan PHBS 29 soal.
36
Kisi-kisi kuisioner Pendidikan kesehatan cuci tangan enam langkah
dengan skor penilaian cuci tangan enam langkah positif dengan nilai 2 benar dan
nilai 1 salah, negative dengan nilai benar 1 dan nilai salah 2.
Tabel 3.2 Kisi-kisi kuesioner
Variabel Indikator Favorable Unfavorable Total
Pendidikan 1. Teknik cuci 1, 4, 7, 9, 2, 3, 6, 8, 17 10
kesehatan tangan 10,
cuci tangan 2. Tujuan cuci 5,11,16 3
enam langkah tangan
3. Waktu 12,13, 14, 15, 4
pelaksanaan
cuci tangan
Jumlah 17
37
Kisi-kisi kuisioner Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan skor
penilaian PHBS positif dengan nilai 2 ya dan nilai 1 tidak, negatif dengan nilai 1
ya dan nilai 2 tidak
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner
Variabel Indikator Favorable Unfavorable Total
Perilaku Hidup 1. Waktu 1 2 2
Bersih dan pelaksanaan
Sehat 2. Perilaku 3, 5, 7, 9, 11, 4, 6, 8, 10, 27
PHBS 12, 13, 14, 26
15, 16, 17,
18, 19, 20,
21, 22, 23,
24, 25, 27,
28, 29
Jumlah 29
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur
itu benar-benar mengukur apa yang akan diukur. Untuk
mengetahui apakah kuisioner yang kita susun tersebut mampu
mengukur apa yang hendak di ukur, maka perlu diuji korelasi
antar skor (nilai) tiap item pertanyaan dengan skor total kuisioner
tersebut. Pada metode Corrected item total correlation pertanyaan
38
dinyatakan valid apabila nilai Corrected item total correlation
lebih besar dari nilai p tabel.
b. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas digunakan dengan rumus koefisien
reliabilitas alpha Cronbach dengan bantuan perhitungan
komputer. Model pengujian alpha Cronbach menunjukan
reliabilitas instrument yang digunakan. Pertanyaan dinyatakan
reliabilitas apabila nilai alpha Cronbach > nilai p tabel.
2. Cara Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data diambil secara langsung dari responden melalui
kuisioner untuk mengetahui cuci tangan enam langkah terhadap
PHBS sebelum diberikan Pendidikan kesehatan dan setelah
diberikan Pendidikan kesehatan.
b. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini meliputi data yang
didapatkan dari pihak sekolah yang berhubungan dengan jumlah
siswa yang ada di sekolah tersebut.
39
F. Teknik Pengolahan Dan Analisa Data
1. Pengolahan Data
a. Editing
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap data yang
dikumpulkan, memeriksa kelengkapan dan kemungkinan terjadinya
kekeliruan. Pada penelitian ini data-data siswa yang telah masuk akan
diperiksa kembali kelengkapanya.
b. Coding
Setelah data di sunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau
coding, yaitu mengubah data dalam bentuk kalimat atau huruf menjadi
data angka atau bilangan selanjutnya dimasukan dalam tabel kerja
untuk mempermudah dalam pembacaan.
1) Untuk variabel data pendidikan kesehatan cuci tangan enam
langkah dengan kategori jawaban tidak diberikan kode 1 dan
jawaban ya diberikan kode 2.
2) Untuk variabel data perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
dengan kategori jawaban tidak tahu diberika kode 1 dan jawaban
tahu diberikan kode 2.
c. Tabulating
Kegiatan ini dilakukan engan cara menghitung data dari jawaban
kuesioner responden yang sudah diberi kode, kemudian dimasukan
kedalam tabel.
40
d. Entry Data
Memasukan data untuk diolah memakai program komputer untuk
dianalisis.
2. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh akan dianalisa dengan analisa univariat,
bivariat dan. Analisa data akan dilakukan dengan program spss.
a. Analisa Univariat
Analisa univariat biasanya disebut sebagai Analisa
deskriptif yaitu untuk meringankan kumpulan data atau
menjelaskan karakteristik masing-masing variabel. Variabel yang
digunakan yaitu pengaruh Pendidikan kesehatan cuci tangan enam
langkah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada
siswa SD.
b. Analisa Bivariat
Analisis bivariat yaitu menganalisis variabel-variabel
penelitian guna menguji hipotesis penelitian serta untuk melihat
gambaran hubungan antara variabel penelitian. Dalam Analisa ini
dilakukan dengan pengujian statistik yaitu dengan uji paired t-test
untuk mengetahui pengaruh variabel dependen dengan variabel
independennya.
Uji-t berpasangan (paired t-test) adalah salah satu metode
pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas
(berpasangan). Walaupun menggunakan individu yang sama,
41
peneliti tetap memperoleh dua macam sample, yaitu data dari pre
test dan data dari post test.
Pengambilan keputusan Ho diterima atau ditolak dengan
melihat taraf signifikasi. Pada penelitian ini menggunakan taraf
signifikasi α = 0,05 dengan ketentuan Ho ditolak bila p value < dari
p table, dan Ho diterima bila p value > dari p table.
42
DAFTAR PUSTAKA
Aswadi, Sukfitrianty Syahrir, Virgilius Delastra, Surahmawati. 2017. Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Siswa-Siswi SDK Rita Pada
Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur Propinsi Nusa
Tenggara Timur, Jurnal Kesehatan Massyarakat. Vol 9. No 2 juli-
desember 2017, [Link]
sihah/article/view/3775. (diakses 19 November 2019 )
Departemen kesehatan Kementrian kesehatan RI. Perilaku Mencuci Tangan
Pakai Sabun di Indonesia. Pus Data dan Inf. 2014: 1-8.
[Link]
[Link]. (diakses 20 November 2019)
Dewi Ratna [Link] Pengetahuan Tentang Mencuci Tangan Pada
Siswa SD Bangunkerto Turi Sleman Yogyakarta.[Skripsi].STIKes
Achmad Yani Yogyakarta
Gracia V. Sousia, Ivy V. Lawalata, Samuel Titalety, Bellytra Talarima. 2018.
Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Pendidik
dan Peserta Didik di Kecamatan Leihitu Barat kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal pengabdian kepada masyarakat, Vol 24 No 3, Juli-
September 2018.
[Link]
(diakses 19 November 2019)
Gustina Erni, Abdussalam Fakhri, Saputra Wawan, 2018. Peningkatan Perilaku
Sehat Pada Siswa Sekolah Dasar Melalui PHBS di Desa Gondanglegi
dan Pucangan Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen. Jurnal
pemberdayaan: publikasi hasil pengabdian kepada masyarakat, Vol 2
No 1, April 2018, Hal. 59-64.
[Link] (diakses
pada 20 November 2019)
Lestari Novita S, Hartanti Elis, Supriyono Mamat. 2016. Gambaran Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah Pada Siswa SD
Kembangarum 02 Semarang Barat. Jurnal ilmu keperawatan dan
kebidanan,[Link]
an/article/view/526. (diakses pada 19 November 2019)
Lede Leo Y. 2017. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat
Pengetahuan Siswa SD Kelas 4,5,6 Tentang Cuci Tangan. Artikel
ilmiah. STIKes Kusuma Husada Surakarta.
Maryunani, A. [Link] Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), Jakarta : Trans
Info Medika.
43
Muh. Fajarudin Natsir. 2018. Pengaruh Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Siswa SDN 169 Bonto
Parang Kabupaten Jeneponto. Jurnal nasional ilmu kesehatan, Vol 1,
Edisi 2 2018, [Link]
(diakses pada 21 November 2019)
Muslim Khanifan M. 2018. Tingkat Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Terhadap Kebersihan Pribadi Siswa kelas IV dan V
Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) 01 Kauman Pekalongan: [Skripsi].
Universitas Negeri Yogyakarta.
Notoatmojo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta.
Olivia A. Kahusadi, Marjes N. Tumurang, Maureen I. Punuh. 2018. Pengaruh
Penyuluhan Kebersihan Tangan (Hand Hygiene) Terhadap Perilaku
Siswa SD GMIM 76 Maliombo Kecamatan Likupang Barat Kabupaten
Minahasa Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 7 No. 5, 2018,
[Link]
(diakses pada 19 November 2019)
Potter Patricia A, Perry AG. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, Dan Praktik. Jakarta : EGC ; 2009.
Risnawati Gracia, 2016. Faktor Determinan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) Pada Masyarakat di Tanah Kalikedinding. Jurnal Kesehatan,
Vol 4, No 1, juli 2016, [Link]
[Link]/PROMKES/article/view/5807. (diakses 21 November
2019).
Ruby Prilia D, Tafwidhah Yuyun, Hidaya Nur M. 2016. Pengaruh Pendidikan
Kesehatan Dengan Metode Audiovisual Terhadap Pelaksanaan Cuci
Tangan Pakai Sabun Pada Anak Usia Prasekolah di TK Al Adabiy Kota
Pontianak. Jurnal Proners, Vol 3, No1, 2016,
[Link]
(Diakses 20 November 2019)
Skinner. 2013. Ilmu Pengetahuan dan Perilaku. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Subagyo Isprastika A, Tafwihah Yuyun, Fauza Suhaini. 2018. Pengaruh
Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Perilaku
Cuci Tangan Pakai Sabun Siswa di SDN 06 Wonorejo Kabupaten
Kayong Utara: Naskah publikasi. Universitas Tanjungpura.
44
Wati Ratna, 2011. Pengaruh Pemberian Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Tentang Mencuci Tangan Terhadap Pengetahuan dan
Sikap Mencuci Tangan Pada Siswa Kelas V di SDN Bulukantil
Surakarta. [KTI]. Universitas Negeri Surakarta.
World Health Organization. 2015. Guideines On Hand Hygiene in Healthcare.
Ganeva : WHO.
45