NAMA : LILIK NUR ANJARWATI
NIM : 40618101
TOPIK : Stainless Steel Crown
DOSEN : drg. Ilvana eva
Skenario
Seorang anak laki-laki usia 10 tahun datang ke RSGM IIK Bhakti Wiayata bersama orang
tuanya untuk memeriksakan kondisi gigi geligi anaknya yang tampak aneh. Semua gigi
anaknya, baik sulung dan permanen. Tampak translusen, berwarna coklat kekuning-
kuningan, lebih gelap dari warna gigi normal dan sangat mudah patah serta terjadi karies. Hal
ini juga terjadi pada saudara- saudaranya. Pemeriksaan klinis menunjukkan diskolorisasi gigi
RA dan RB, fraktur ellis klas 3 pada gigi 11, karies oklusal luas pada gigi 56, 14,2565,36,74.
Post perawatan pulpotomi pada gigi [Link] radiografi, mahkota gigi tampak
bulbous, pulpa obliterasi, dan penyempitan saluran akar dan tampak pendek.
Pemeriksaan klinis
Gigi 56 : karies media cups bucal dan lingual mesial
Gigi 14 : karies media oklusal
Gigi 11 : fraktur ellis klas 3
Gigi 25 : karies profunda perforasi, post pulpektomi
Gigi 65 : karies media cups lingual mesial distal
Gigi 36 : karies media
Gigi 74 : karies profunda
Hasil diskusi
1. Diagnosa : dentinogenesis imperfekta (karena adanya faktor herediter dari pasien
tersebut)
2. Pemeriksaan Subjektif
a. Anamnesis :
- Apa yang dikeluhkan pasien : mengelukan kondisi gigi anaknya tampak aneh,
tampak translusen, berwarna coklat kekuningan dan mudah patah.
- Diamana latak keluhannya : pada gigi anterior terdapat fraktur dan gigi
posteriornya terdapat karies oklusal yang meluas.
- Sejak kapan mengalami : sejak kecil dan yang mengalami tidak Cuma pasien
tetapi juga dengan saudra-saudaranya.
- Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Apakah pasien tersebut memiliki
kebiasaan buruk atau memiliki kebiasaan makan makan yang manis
- Bagaimana keadaan tersebut ? semakin membaik apa betambah parah.
b. Pemeriksaan Objektif
- Pemeriksaan EO meliputi pemeriksaan wajah apakah adanya pembekakan
atau tidak, pada pipi apakah adanya pembengkakan atau tidan dan dilakukan
pemeriksaan kelenjar baik kelenjar limfe dan kelenjar parotis dilakukan
dengan cara dipalpasi. Dilakukan pemeriksaan TMJ dilakukan dengan
menggunakan stetoskop untuk mendengar apakah adanya suara cliking atau
tidak dan adanya krepitasi atau tidak dengan cara pasien diinstruksikan untuk
membuka dan menutup mulut.
- Pemeriksaan IO meliputi pada pemeriksaan giginya didapatkan pada gigi
56,14,25,65,36,74 karies oklusal yang meluas, pemeriksaan vitalitas,
permeriksaan drug dan perkusi.
c. Dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto radiologi.
3. Rencana perawatan :
a. Untuk gigi posterior menggunakan SSC (karena SSC tahan terhadap beban
kunyah yang besar)
b. Untuk gigi anteriornya yang mengalami fraktur menggunakan PCC (karena
memiliki estetik yang lebih bagus)
4. Indikasi SSC
a. Gigi dengan karies yang luas
b. Gigi yang mempunyai defek seperti dentinogenesis imperfekta
c. Gigi yang fraktur
d. Gigi penyangga pada pembuatan space maintainer
e. Kasus bruxism yang berat ( gigi akan mengalami abrasi sehingga SSC dibutuhkan
untuk mengembalikan vertikal dimensi).
f. Sebagai abutment gigi tiruan
5. Kontra indikasi SSC
a. Gigi permanen akan tanggal
b. Akar gigi sulung yang sudah teresorpsi
c. Gigi yang tidak bisa dilakukan perawatan
d. Anak-anak yang mempunyai alergi terhadap bahan SSC
6. Penatalaksanaan SSC
a. Pengukuran materi gigi
Sebelum gigi dipreparasi jarak mesio distal diukur dengan kaliper. Pengukuran ini
bertujuan untuk memilih besarnya SSC yang akan dipakai, sesuai dengan
besarnya gigi. Jika jarak mesiodistal dari gigi yang akan dipreparasi sudah tidak
dapat diukur, dapat diambil jarak gigi tetangga sebelah mesial ke gigi tetangga
sebelah distal dari gigi yang dipreparasi. Bila gigi tetangga tidak ada, dapat
diambil ukuran dari gigi yang kontra lateral pada satu rahang.
b. Menghilangkan karies menggunakan round bur putaran rendah atau dengan
menggunakan ekskavator.
c. Mengurangi permukaan oklusal sampai kedalaman 1 – 1,5 mm dengan tapered
diamond bur.
d. Mengurangi permukaan proksimal dengan cara empatkan tapered diamond bur
berkontrak dengan gigi pada embrasur bukal atau lingual dengan posisi sudut kira
– kira 20° dari vertikal dan ujungnya pada margin gingiva. Preparasi dilakukan
dengan suatu gerakkan bukolingual mengikuti kontour.
e. Mengurangi permukaan bukal dan lingual dengan menggunakan tapered diamond
bur permukaan bukal dan lingual dikurangi sedikit sampai ke gingival margin
dengan kedalaman lebih kurang 1 – 1,5 mm. Sudut – sudut antara ke-2 permukaan
dibulatkan dan dihaluskan.
f. Akhiran dari preparasi berbentuk chamfer.
g. Preparasi dicek dengan menggunakan malam ungu yang di panaskan dan dipilin
setalah itu dilihat dari cetakan itu tadi, dan dulakukan cetakan menggunakan
malam merah untuk mengecek oklusinya dengan gigi antagonisnya.
h. Adaptasi SSC ke gigi
i. Pasang coba SSC ada 2 direct dan indirect. Direct pengukuran langsung ke pasien
sedangkan indirect dilakukan pencetakan dahulu menggunakan alginat, apabila
pada model berlebihan bisa dilakukan pengurangan pada model setelah sudah
sesuai maka dilakukan pasang coba ke pasien.
j. Kelebihan dari SSC di gunting trimming fungsinya menyesuaikan insiso
servikalnya
k. Setelah sudah sesuai dihaluskan menggunakan bur finishing
l. Setelah itu dilakukan counturing fungsinya untuk kontrur gingiva menggunakan
jhonson contouring pliers
m. Setelah itu dilakukan crimping crown fungsinya untuk menekuk bagian servikal
agar tidak tajam
n. Dicek pada SSC nya apakah sudah fit apa belum.
o. Dilakukan sementasi menggunakan bahan GIC tipe 1 sebagai luting
p. Dibersihkan kelebihan semen menggunakan dental floss pada proksimal gigi dan
dilakukan cek oklusinya menggunakan artikulating paper.
q. Dilakukan kontrol selama 1 minggu dari setelah pemasangan crown ssc
r. Pada saat kontrol yang dilihat adalah keadaan ssc nya, pada gingivanya terlihat
kemerahan atau pucat, dilakukan cek oklusi, ada rasa nyeri atau alergi apa tidak
setelah dilakukan pemasangan SSC , dan di cek vitalitas giginya.
Foto screenshoot diskusi