Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No.
01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN NILAI MORAL DAN AGAMA
PADA ANAK USIA DINI MELALUI METODE KETELADANAN DI
TK AL-MUHSIN
Fitriyah
IAIN Madura
Email: fitriyah261197@[Link]
Abstract
The problem in this study is that there are children who have good moral religious values and the learning of
moral religious values carried out by teachers is already applicable to students. This research was conducted
to find out how the implementation of the development of moral religious values in early childhood aged 4-5
years through the exemplary method in Kindergarten Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean, Pamekasan This
study uses qualitative research. The subject of this research is the classroom teacher. The informants of this
study are the principal, class teacher. The method used in this study is observation, documentation and
interviews. The results of this study indicate that the implementation of the development of moral religious
values in early childhood through exemplary methods in Al-Muhsin Kindergarten includes memorizing short
letters and daily prayers, practicing dhuha prayers conducted by the teacher by inviting students, polite
courtesy in saying and behave towards older people, apologize when you do something wrong, say "help" in
asking for help, say hello and shake hands when you meet.
Keywords: Development of Moral Religion Values, Exemplary Methods, Early Childhood
Abstrak
Permasalahan dalam penelitian ini adalah terdapat anak yang memiliki nilai agama moral yang baik dan
pembelajaran nilai agama moral yang dilakukan oleh guru sudah bersifat aplikatif terhadap siswa. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi pengembangan nilai agama moral pada anak usia
dini usia 4-5 tahun melalui metode keteladanan di TK Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean, Pamekasan
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru kelas. Informan
penelitian ini adalah kepala sekolah, guru pendamping kelas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi
pengembangan nilai agama moral pada anak usia dini melalui metode keteladanan di TK Al-Muhsin meliputi
hafalan surat pendek dan doa-doa harian, praktek sholat dhuha yang dilakukan oleh guru dengan mengajak
serta murid-muridnya, sopan santun dalam berkata dan bersikap kepada orang yang lebih tua,. meminta maaf
ketika berbuat salah, mengucapkan “tolong” dalam meminta bantuan, mengucapkan salam dan berjabat tangan
bila bertemu.
Kata kunci: Pengembangan Nilai Agama Moral, Metode Keteladanan, Anak Usia Dini
1
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
PENDAHULUAN
Kebutuhan pendidikan kini cenderung meningkat. Pendidikan secara universal dapat
dipahami sebagai upaya pengembangan potensi kemanusiaan secara utuh dan penanaman
nilai-nilai sosial budaya yang diyakini oleh sekelompok masyarakat agar dapat
mempertahankan hidup dan kehidupan secara layak. Sedangkan Menurut Hunderson dalam
bukunya Uyoh Sadulloh (2010:5) menjelaskan bahwa Pendidikan merupakan suatu proses
pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial
dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.
Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan.
Dalam mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh anak, maka anak membutuhkan
suatu pendidikan. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Hal tersebut merupakan upaya strategis
untuk menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas.
Pendidikan sendiri dalam arti luas dijelaskan oleh Henderson, menurutnya
pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi
individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak
manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan
alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang baik dan inteligen, untuk
meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Uyoh Sadulloh, 2010:5). Selanjutnya dalam arti
khusus, Langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan
oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya (Uyoh
Sadulloh, 2010:3).
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang
perlindungan anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan
bakatnya. Salah satu sikap dasar yang harus dimiliki anak untuk menjadi manusia yang baik
adalah anak harus memiliki sikap dan nilai moral yang baik dalam berperilaku sebagai umat
Tuhan, anggota keluarga dan anggota masyarakat. Pendidikan Anak Usia Dini adalah saat
yang paling baik dan tepat untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan nilai, moral, dan agama
kepada anak. Walaupun peran orangtua sangatlah besar dalam membangun dasar moral dan
agama bagi anak-anaknya, peran pendidik dalam Pendidikan Anak Usia Dini juga tidaklah
kecil dalam meletakkan dasar moral dan agama bagi seorang anak (Hidayat, 2007:38).
Pentingnya pendidikan anak sejak usia dini juga didasarkan pada Undang-undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 28 ayat 1 yang berbunyi
“Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam
tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar.” Selanjutnya pada
Bab 1 pasal 1 ayat 14 ditegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan
lebih lanjut.
Pendidikan nilai agama moral bagi anak erat kaitannya tentang perilaku seorang
anak, sikap sopan santun, kemauan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan nilai agama dan moral yang dimiliki bagi seorang anak diharapkan dapat
membedakan perilaku baik dan buruk taat dalam menjalankan perintah agamanya dalam
kehidupan. Pemahaman yang keliru yang diperoleh anak, serta anak-anak yang tidak
memperoleh bimbingan dan arahan yang tepat dalam memahami sesuatu keadaan maka anak
akan mempunyai persepsi yang keliru pula. Oleh karena itu perlu bimbingan dan arahan baik
dari pendidik, orang tua maupun lingkungan masyarakatnya.
2
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
Ketika rasa keagamaan itu sudah tumbuh pada diri anak, maka anak harus diberikan
latihan-latihan keagamaan melalui kegiatan berdoa, beribadah serta berperilaku sesuai ajaran
agama, sehingga diharapkan anak akan menjadi taat beribadah terhadap ajaran agamanya.
Apabila latihan itu dilalaikan sejak kecil atau dengan cara yang kurang tepat, maka ketika
mereka menginjak usia dewasa nanti tidak akan memiliki kepedulian yang tinggi pada
kehidupan beragama dalam kesehariannya.
Anak merupakan generasi penerus bangsa, ditangan merekalah nasib suatu bangsa
berada. Jika anak memiliki agama dan moral yang rendah nasib suatu bangsa itu akan
mengalami kehancuran dan penuh dengan kriminalitas. Sebaliknya jika anak memiliki
agama dan moral yang baik maka nasib bangsa itu akan maju dan tenteram. Untuk itu, anak
perlu mendapatkan pendidikan yang baik sejak sedini mungkin sehingga anak akan tumbuh
dan berkembang menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang tangguh. Salah satu
pendidikan yang diupayakan yaitu pendidikan agama dan moral. Pendidikan agama moral
sangatlah penting bagi anak. Karena pendidikan agama moral merupakan salah satu aspek
yang harus dikembangkan pada anak usia dini.
Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar dalam
sepanjang rentang pertumbuhan serta perkembangan kehidupan manusia. Salah satu yang
menjadi penciri masa usia dini adalah the golden ages atau periode keemasan. Dimana
perkembangan kecerdasan pada masa ini mengalami peningkatan sampai 50%. Pada masa
ini mengalami pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang
diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan tempo untuk meletakkan dasar pertama
dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, seni, sosial emosional, disiplin
diri, nilai-nilai agama, konsep diri dan kemandirian (Isjoni, 2011:19).
Pendidikan nilai-nilai moral dan keagamaan pada program Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) merupakan pondasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan jika
hal itu telah tertanam dengan pada usia sejak dini, hal tersebut merupakan awal yang baik
bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani pendidikan selanjutnya. Pendidikan harus
berprinsip pada pengembangan nilai-nilai moral dan agama sebagai upaya untuk
mengantarkan anak didik menuju kedewasaan berpikir, bersikap, dan berperilaku secara
terpuji (akhlak al-karimah). Upaya tersebut bisa dilakukan oleh para pendidik (guru dan
orang tua) sejak usia dini, yakni ketika masa kanak-kanak. Selain itu, Islam juga sangat
memperhatikan pendidikan anak dari sisi moral serta mengajarkan akan akhlak dan adat
istiadat yang mulia.
Dalam pendidikan anak usia dini, salah satu kawasan yang harus dikembangkan
adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai moral sejak usia dini ini
diharapkan pada tahap perkembangan anak selanjutnya akan mampu membedakan baik
buruk, benar salahmana yang harus mereka lakukan dan yang tidak perlu dilakukan.
Sehingga, ia bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang akan berpengaruh pada
mudah tidaknya anak diterima di masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi.
Adapun pendidikan agama moral yang diberikan pada masa usia dini berdasarkan
Permendikbud No 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia dini.
Dimana tingkat pencapaian perkembangan anak aspek nilai agama dan moral pada anak usia
4-5 tahun antara lain: mengetahui agama yang dianutnya, meniru gerakan beribadah dengan
urutan yang benar, mengucapkan do’a sebelum dan/atau sesudah melakukan sesuatu,
mengenal perilaku baik/sopan dan buruk, membiasakan diri berperilaku baik, mengucapkan
salam dan membalas salam. Usia 5-6 tahun diantaranya: mengenal agama yang dianut,
mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, dsb, menjaga
kebersihan diri dan lingkungan, mengetahui hari besar agama, menghormati (toleransi)
agama orang lain.
3
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
Dalam lembaga pendidikan anak usia dini, moral dan nilai-nilai agama ditanamkan
antara lain melalui keteladanan dari guru maupun orangtua. Anak-anak cenderung
meneladani gurunya. Dalam pepatah Jawa, guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru.
Guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Jika sang guru melakukan tindakan A, murid
juga akan meniru melakukan tindakan yang sama. Pembelajaran akan berempati dan lebih
bermakna apabila pendidik berusaha menghadirkan situasi nyata dalam bentuk kegiatan
sehari-hari baik dirumah maupun disekolah. Proses pembelajaran tersebut ditanamkan
secara terus menerus dan langsung melalui metode keteladanan yang dilakukan oleh guru.
Dengan begitu diharapkan pembelajaran tersebut akan membawa pengaruh dalam perilaku
anak sehari-hari.
Untuk dapat menciptakan anak yang shaleh dan shalehah, guru tidak cukup hanya
memberikan prinsip saja, karena yang lebih penting bagi anak adalah figur yang memberikan
keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut. Sehingga sebanyak apapun prinsip yang
diberikan tanpa disertai dengan contoh teladan, ia hanya akan menjadi suatu kumpulan resep
yang tidak ada maknanya. Perlunya pengembangan moral dan nilai-nilai agama sejak kecil
yang dimulai pada anak usia dini, misalnya ketika guru atau orang tua membiasakan anak-
anaknya untuk berperilaku sopan seperti mencium tangan orang tua ketika berjabat tangan,
mengucapkan salam ketika akan berangkat dan mau berbagi mainan, mau bekerja sama,
tidak marah, mau memaafkan, maka dengan sendirinya perilaku seperti itu akan menjadi
suatu kebiasaan mereka sehari-hari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Idatul lailis semani selaku guru kelas.
Beliau menjelaskan bahwa nilai agama moral anak di Tk Al-Muhsin alhamdulillah sudah
baik, akan tetapi namanya anak kecil masih terus untuk selalu diingatkan. Hal tersebut diatas
dapat dibuktikan dari hasil observasi yang dilakukan bahwa terdapat adanya anak yang
sudah hafal surat-surat pendek, serta do’a-doa seperti do’a waktu dhuha. Selain itu
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sudah aplikatif, terbukti dari adanya guru yang
menjelaskan dan memberikan contoh untuk berbagi minuman ketika ada teman yang tidak
membawa minum. Dengan melihat fenomena di atas, tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Implementasi Pengembangan Nilai Agama Moral Pada Anak Usia Dini
Melalui Metode Keteladanan Di Tk Al-Muhsin.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga data yang dipaparkan
dalam penelitian ini tidak berupa angka-angka, tetapi berupa uraian kata-kata. Sebagaimana
lazimnya penelitian kualitatif, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis
yang telah dirumuskan, tetapi lebih berorientasi pada pengembangan dan pengetahuan baru
yang diperoleh melalui pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi yang berkaitan
langsung dengan pokok permasalahan.
Adapun yang dimaksud dengan metode kualitatif adalah metode (jalan) penelitian
yang sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu objek pada latar alamiah
tanpa ada manipulasi didalamnya dan tanpa ada pengujian hipotesis, dengan metode-metode
yang alamiah ketika hasil penelitian yang diharapkan bukanlah generalisasi berdasarkan
ukuran-ukuran kuantitas, namun makna (segi kualitas) dari fenomena yang diamati (Andi
Prastowo, 2014:24).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui implementasi pengembangan nilai agama moral pada anak usia
dini melalui metode keteladanan di TK Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean, Pamekasan,
saya mengadakan wawancara dengan Ibu Idatul Lailis Semani selaku guru kelas. Beliau
menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran nilai agama moral dilakukan setiap hari,
waktu pembukaan, di inti serta pada waktu akhir pembelajaran. Kalau didalam inti
4
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
pembelajaran biasanya memberi tanda cek pada perbuatan baik dan tidak baik. Dengan guru
mendemonstrasikan, mencontohkan dahulu kemudian anak-anak menirukan. Penjelasan dari
ibu Idatul Lailis Semani diatas juga dikuatkan oleh Ibu Endang Maimunah selaku guru
pendamping bahwa nilai agama moral di TK Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean,
Pamekasan dilaksanakan setiap saat dan setiap waktu. Tidak melihat itu pembelajaran
pembuka, inti, istirahat, maupun penutup. Karna aspek nilai agama moral sangat penting dan
menjadi pondasi anak berpikir bahwa Allah itu ada dan selalu melihat semua yang kita
lakukan, dan Bpk Molyadi SPd selaku kepala sekolah TK Al-Muhsin Tagangser Daya,
Pasean, Pamekasan. Beliau menyatakan bahwa pembelajaran nilai agama moral untuk anak
dilakukan setiap waktu dan sebenarnya ada target tersendiri dan target tersebut tidak ditulis.
Seperti setiap hari itu berdo’a, sholat, sopan santun, tingkah laku dan karakter harus ada. Jika
anak misalnya dirumah itu kebiasaannya kurang baik dan kurang sopan, itu tugasnya guru
untuk bisa merubah. Hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya hasil observasi yang
dilakukan oleh saya di ruang kelas bahwa nilai agama moral dilaksanakan dalam
pembelajaran mulai dari kegiatan pembuka, kegiatan inti sampai dengan kegiatan akhir
dengan guru memberikan contoh dan siswa menirukannya. Berdasarkan hasil wawancara
dan observasi diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi pengembangan nilai agama
moral pada anak usia dini dilakukan setiap saat, baik itu pada kegiataan awal, kegiatan inti,
istirahat maupun pada kegiatan akhir dengan adanya contoh dari guru dan siswa
[Link] mengetahui lebih jelasnya mengenai bagaimana implementasi nilai
agama moral pada anak usia dini melalui metode keteladanan dapat diuraikan sebagai
berikut:
Keteladanan Hafalan surat-surat pendek dan do’a-do’a harian Sebagaimana
penjelasan dari Ibu Idatul Lailis Semani selaku guru. Beliau menjelaskan bahwa salah satu
contoh yaitu hafalan surat-surat pendek dan do’a-do’a harian yang dilakukan secara
bersama-sama setiap hari pada awal inti dan akhir kegiatan dengan guru memberikan contoh
dan anak menirukan. Hal diatas diperkuat oleh penjelasan Endang Maimunah selaku guru
pendamping. Beliau menyatakan bahwa setiap hari dilakukan hafalan surat-surat pendek dan
do’a-do’a harian. Biasanya dilakukan pada awal kegiatan dengan guru melafalkan dulu
kemudian anak-anak mengikutinya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi diatas dapat
disimpulkan bahwa terdapat adanya keteladanan yang dilakukan oleh guru berupa
menghafal surat-surat pendek dan do’a-do’a harian disetiap harinya dengan guru melafalkan
ayatnya terlebih dahulu kemudia anak-anak mengikutinya.
Keteladanan Praktek sholat dhuha yang dilakukan oleh guru dengan mengajak serta
murid-murid Sebagaimana yang dikatakan oleh Idatul Lailis Semani selaku guru. Beliau
menjelaskan bahwa adanya praktik sholat dhuha yang ditargetkan dilakukan setiap hari
diruang kelas secara bersama-sama dengan dipimpin oleh guru. Dengan adanya praktek
sholat dhuha ini diharapkan sebagai tempat bagi anak-anak untuk berlatih melakukan sholat
dengan gerakan dan bacaannya yang benar. Hal tersebut dikuatkan oleh penjelasan dari Bpk
Molyadi Spd selaku kepala sekolah TK Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean, Pamekasan,
Beliau menjelaskan bahwa sebenarnya setiap hari ada praktik sholat dhuha yang dilakukan
oleh guru dengan mengajak beserta murid-murid diruang kelas. Akan tetapi terkadang
terkendala dengan adanya kegiatan-kegiatan yang lain Berdasarkan hasil wawancara dan
observasi yang diperoleh diatas maka dapat disimpulkan bahwa adanya keteladanan berupa
sholat dhuha yang dilakukan guru dengan mengajak murid-murid untuk melakukan sholat
bersama-sama diruang sekolah dengan catatan guru sedang tidak halangan atau ada kegiatan
yang lain.
Keteladanan Sopan santun dalam berkata dan bersikap kepada orang yang lebih tua
Sebagaimana penjelasan dari Ibu Idatul Lailis Semani selaku guru. Beliau menjelaskan
bahwa adanya keteladanan sikap seperti membungkukkan badan ketika lewat didepan orang
5
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
tua, dan perkataan seperti berkata yang halus, tidak membentak-bentak kepada orang yang
lebih tua. Biasanya dengan guru memberikan contoh terlebih dahulu kemudian anak-anak
menirukannya. Hal tersebut diatas diperkuat dari adanya hasil observasi yang menunjukkan
bahwa adanya pembelajaran mengenai berkata yang sopan seperti enggeh, mboten, dan
sebagainya kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan bahasa daerah setempat.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi diatas dapat disimpulkan bahwa guru
memberikan contoh keteladanan berupa berkata yang sopan kepada orang yang lebih tua.
Keteladanan Meminta maaf ketika berbuat salah Sebagaimana penjelasan dari Ibu
Idatul Lailis Semani selaku guru menjelaskan bahwa anak dilatih untuk meminta maaf
kepada teman. Biasanya pada saat bermain ada anak yang rebutan mainan sehingga
terkadang anak yang menangis atau bertengkar, dan salah satu dari mereka tidak ada yang
mau meminta maaf. Pada saat itu kita minta anak untuk saling bersalaman dan kita
memberikan contoh perkataan cara meminta maaf yang baik kepada teman Hal tersebut
diperkuat dengan adanya penjelasaan dari Ibu Endang Maimunah selaku guru pendamping
yang menjelaskan bahwa biasanya kita meminta anak untuk bersalaman ketika ada anak
yang bertengkar. Kita memberikan contoh cara meminta maaf yang baik karena biasanya
anak meminta maafnya masih kurang baik. Hal tersebut diatas diperkuat dengan adanya
penjelasan dari Bpk Molyadi Spd selaku kepala sekolah TK Al-Muhsin Tagangser Daya,
Pasean, Pamekasan yang menjelaskan bahwa anak itu kan sifatnya egois. Jadi terkadang
kita masih memberikan contoh untuk meminta maaf yang baik kepada teman Berdasarkan
hasil wawancara dan observasi yang diperoleh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat adanya contoh meminta maaf yang baik kepada teman yang diberikan oleh guru
pada saat ada anak berbuat salah atau bertengkar dengan temannya.
Keteladanan Mengucapkan “tolong” dalam meminta bantuan Sebagaimana
penjelasana dari Ibu Idatul Laisis Semani selaku guru kelas. Beliau menjelaskan bahwa pada
saat kita membutuhkan bantuan orang lain hendaknya kita sertai dengan kata “tolong”
meskipun kita meminta tolongnya kepada anak-anak atau orang yang lebih muda dari kita.
Contohnya seperti kita meminta anak untuk membunagkan sampah maka perintahnya bukan
“buangkan sampah itu!” melainkan “mas/mbak tolong buangkan sampah itu!” Berdasarkan
hasil wawancara dan observasi yang diperoleh diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat
contoh dari guru pada saat meminta bantuan disertai dengan kata “tolong”.
Keteladanan Mengucapkan salam dan berjabat tangan ketika bertemu Sebagaimana
penjelasan yang disampaikan oleh Ibu Idatul Lailis Semani selaku guru kelas. Beliau
menjelaskan bahwa setiap hari setibanya disekolah guru berjabat tangan dan mengucapkan
salam dengan sesama guru, dan tidak hanya sesama guru saja tetapi juga dengan orang tua
wali murid serta murid-murid yang lain Hal tersebut diperkuat dengan adanya penjelasan
dari Bpk Molyadi Spd selaku kepala sekolah TK Al-Muhsin Tagangser Daya, Pasean,
Pamekasan Beliau menjelaskan bahwa penanaman nilai agama moral tidak hanya praktek
sholat dhuha saja, akan tetapi adanya salaman sesama guru, guru dengan orang tua wali
murid dan mengucap salam setiap pagi hari ketika sesampainya di sekolah juga merupakan
salah satu contoh dari penanaman nilai agama moral Berdasarkan hasil wawancara dan
observasi yang diperoleh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat adanya contoh
yang diberikan oleh guru berupa mengucapkan salam dan berjabat tangan ketika bertemu
dan setibanya disekolah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan implementasi pengembangan nilai
agama moral pada anak usia dini melalui metode keteladanan di TK Al-Muhsin Tagangser
Daya, Pasean, Pamekasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Metode
keteladan Hafalan surat pendek dan doa-doa harian, Praktek sholat dhuha yang dilakukan
6
Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 01 No. 01, JUNI 2019
Homepage: [Link]
P-ISSN:
E-ISSN:
oleh guru dengan mengajak serta murid-murid, Sopan santun dalam berkata dan bersikap
kepada orang yang lebih tua, dan Metode keteladan Meminta maaf ketika berbuat salah,
Mengucapkan “tolong” dalam meminta bantuan, Mengucapkan salam dan berjabat tangan
ketika bertemu
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Susanto. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam Berbagai
Aspeknya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta.
Isjoni. 2011. Model Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta
Kemendikbud. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kemendikbud.
....................... 2013. Pengembangan 5 Aspek kemampuan Anak Usia Dini. Jakarta:
Kemendikbud.
Lexy [Link]. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Otib Satibi Hidayat. 2008. Metode Pengembangan Moral Dan Nilai-Nilai Agama. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Winda Gunarti. 2008. Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar AUD.
Jakarta: Universitas Terbuka. [Link]/2016/08/macam-macam-metode-
[Link] (diakses pada tanggal 02 Mei 2017, pukul 20:00 WIB)
Asti Inawati. 2017. Strategi Pengembangan Moral dan Nilai Agama Untu Anak Usia Dini,
Jurnal Pendidikan Anak, Vol. 3 No. 1
Lawrence Kholbergh. 1979. The claim to moral adequacy of a highest judgment. The journal
of philosophy, Vol.70 No.18 stage of moral
Machsunah, Yayuk Chayatun. 2017. Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan
Pendidik (Studi Kasus Di Lbb Taman Pintar: Sahabat Sekolah Anak Lamongan).
Journal Stkip Pgri Lamongan, Vol.1 No.2
Sabi'ati, Amin. 2016. Membangun Karakter Aud Dalam Pengembangan Nilai Agama Dan
Moral Di Ra Masyithoh Pabelan Kab. Semarang. Al Athfal: jurnal pendidikan
Anak, Vol.2 No.4
William C Campbell, Frank J Cavico, Pedro F. Pellet, Bahaudin J. Mubtaja,. 2010. Applying
Moral Development Literature And Aethnical Theories To Administration of Taxes
In Kosovo, Internasional Business and Economics Research Journal, Vol. 9, No. 7
Hafsah Sitompul 2006 Metode Keteladanan dan Pembiasaan Jurnal Darul ‘Ilmi Vol. 04,
No. 01 Januari 2016.
Ariffiana Zelvi, 2017. Proses Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Anak Usia Dini Dalam
Keluarga Di Kampung Gambiran Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta, Jurnal.
Pendidikan Anak Usia Dini Edisi 1 Tahun ke-6 2017, diakses September 2018.
Muhammad Ali Saputra, (2014), Menanaman Nilai-Nilai Agama Pada Anak Usia Dini Di
R.A. di Addariyah Kota Palopo, Jurnal. Diakses September, 2018.