MAKALAH SISTEM MANAJEMEN K3
“12 ELEMEN K3”
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2
1. RURI SUKMAWATI DEWI N1A117025
2. FAJAR RISKI MAYDANI N1A117072
3. INDAH ISWANTY N1A117139
4. MUSLIMAH PARADIBA N1A117143
5. [Link] ALFATH S N1A117147
6. RISKI AGUSTIN N1A117158
7. CITRA DAMAYANTI NASUTION N1A117197
KELAS : 5 K3
DOSEN PENGAMPU : RUMITA ENA SARI, [Link].,[Link].
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JAMBI
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan
makalah ini tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Manajemen K3
dengan judul 12 Elemen K3.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Maka dari
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi
terciptanya kesempurnaan dalam makalah ini.
Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat memberikan manfaat terutama
dalam menambah pengetahuan dan pemahaman terhadap materi ini terutama bagi penulis
serta pembaca pada umumnya.
Jambi, Oktober 2019
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang................................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................................5
1.3. Tujuan Penulisan.............................................................................................................5
1.4. Manfaat Penulisan...........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. .............................................................................................................................................
2.2. Metode Pengukuran Konsumsi Energi.........................................................................9
2.3. Metabolisme Basal.........................................................................................................11
2.4. Estimasi Kalori Pekerja................................................................................................12
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................14
3.2. Saran...............................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kegagalan (risk off ailures) pada setiap proses atau aktifitas pekerjaan, dan
saat kecelakaan kerja seberapapun kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian
(loss). Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja terjadi karena Kelelahan
(fatigue), Kondisi kerja dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition),
Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya
(pre-cause) adalah kurangnya training, Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
Di dunia industri, penggunaan tenaga kerja mencapai puncaknya dan
terkonsentrasi di tempat atau lokasi proyek yang relatif sempit. Ditambah sifat
pekerjaan yang mudah menjadi penyebab kecelakaan (elevasi, temperatur, arus
listrik, mengangkut benda-benda berat dan lain-lain), sudah sewajarnya bila
pengelola proyek atau industri mencantumkan masalah keselamatan kerja pada
prioritas pertama. Dengan menyadari pentingnya aspek keselamatan dan kesehatan
kerja dalam penyelenggaraan proyek, terutama pada implementasi fisik, maka
perusahan/industri/proyek umumnya memiliki organisasi atau bidang dengan tugas
khusus menangani maslah keselamatan kerja. Lingkup kerjanya mulai dari menyusun
program, membuat prosedur dan mengawasi, serta membuat laporan penerapan di
lapangan. Dalam rangka Pengembangan Program Kesehatan Kerja yang efektif dan
efisien, diperlukan informasi yang akurat, dan tepat waktu untuk mendukung proses
perencanaan serta menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
Penyusunan program, membuat prosedur, pencatatan dan mengawasi serta
membuat laporan penerapan di lapangan yang berkaitan dengan keselamatan kerja
bagi para pekerja kesemuanya merupakan kegiatan dari manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja. Tujuan dan sasaran sistem Manajemen K3 adalah terciptanya sistem
K3 di tempat kerja yang melibatkan segala pihak sehingga dapat mencegah dan
mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang
aman, efisien, dan produktif.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa Definisi Sistem Manajemen K3?
2. Apa tujuan dari Sistem Manajemen K3?
3. Bagaimana manfaat dari adanya Sistem Manajemen K3?
4. Bagaimana cara menerapkan sistem manajemen K3 ?
5. Apa saja 12 Elemen Sistem Manajemen K3?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar dapat memahami Definisi dari sistem manajemen k3
2. Agar dapat mengetahui tujuan dari sistem manajemen k3
3. Dapat mengetahui manfaat dari sistem manajemen K3
4. Dapat menerapkan sistem manajemen K3 pada dunia kerja
5. Agar dapat mengetahui apa saja 12 elemen dalam sistem manajemen K3
1.4 MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar dapat menambah pengetahuan
tentang sistem manajemen yang ada di dalam ruang lingkup keselamatan dan
kesehatan kerja khususnya bagi pembaca yang membutuhkan informasi ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Sistem Manajemen K3
Sistem manajemen adalah rangkaian kegiatan yang teratur dan saling
berhubungan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dengan
menggunakan manusia dan sumber daya yang ada ( Sucofindo, 1999).
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau biasa disebut
SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi
struktur organisasi perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur proses dan
sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan pencapaian , pengkajian dan
pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian
resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman
(Permenaker No : PER. 05/MEN/1996).
Jadi, sistem manajemen K3 merupakan rangkaian kegiatan yang teratur dan
saling berhubungan secara keseluruhan yang berguna dalam pengendalian resiko
yang berkaitan dengan kegiatan kerja agar dapat menciptakan suasana tempat kerja
yang aman. Sistem manajemen K3 dalam pelaksanaannya juga memiliki pola tahapan
dalam kosep dasarnya. Pola tahapan pada konsep dasar tersebut disebut “Plan-Do-
Check-Action”, yang meliputi :
a. Penetapan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan menjami komitmen
terhadap penerapan SMK3.
b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan SMK3.
c. Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dengan
mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan
untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran.
d. Mengukur dan memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja serta melakukan tindakan pencegahan dan perbaikan.
e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara
berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan
kesehatan kerja.
Dengan demikian sektor industri dapat memiliki dua dimensi yang sesuai
dengan kemampuan dan Policy Managementnya dalam penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yaitu :
a. Innovative Management dengan melakukan inovasi manajemen melalui
“Unsafe Condition Minimalizers” yang artinya adalah bagaimana kita dituntut
untuk memperkecil atau mengurangi insiden yang diakibatkan oleh kondisi
tempat kerja seperti, organisasi, peralatan kerja (mesin-mesin), lingkungan kerja
dan sistem kerja.
b. Raditional Sistem dalam penyelamatan pekerjaan melalui “Unsafe Act
Minimalizers” yang artinya adalah bagaimana kita dituntut untuk memperkecil
atau mengurangi tingkah laku orang yang tidak nyaman.
c. Mengukur dan memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja serta melakukan tindakan pencegahan dan perbaikan.
d. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara
berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan
kesehatan kerja.
Dengan demikian sektor industri dapat memiliki dua dimensi yang sesuai
dengan kemampuan dan Policy Managementnya dalam penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yaitu :
a. Innovative Management dengan melakukan inovasi manajemen melalui
“Unsafe Condition Minimalizers” yang artinya adalah bagaimana kita dituntut
untuk memperkecil atau mengurangi insiden yang diakibatkan oleh kondisi
tempat kerja seperti, organisasi, peralatan kerja (mesin-mesin), lingkungan kerja
dan sistem kerja.
b. Raditional Sistem dalam penyelamatan pekerjaan melalui “Unsafe Act
Minimalizers” yang artinya adalah bagaimana kita dituntut untuk memperkecil
atau mengurangi tingkah laku orang yang tidak nyaman.
2.2. Tujuan dari Sistem Manajemen K3
Tujuan yang ingin dicapai pada sistem manajemen K3 meliputi berbagai
golongan. Dari beberapa golongan tersebut diharapkan dapat menjadikan sebuah
sistem manajemen K3 yang baik dalam pelaksanaannya. Sistem manajemen K3
tersebut dapat digolongkan meliputi:
a. Alat ukur kinerja K3 dalam organisasi.
Sistem manajemen K3 digunakan untuk menilai dan mengukur kinerja
penerapan K3 dalam organisasi. Dengan membandingkan pencapaian K3
organisasi dengan persyaratan tesebut, organisasi dapat mengetahui tingkat
pencapaian K3.
b. Pedoman implementasi K3 dalam organisasi
Sistem manajemen K3 dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan
dalam mengembangkan sistem manajemen K3. Beberapa bentuk sistem
manajemen K3 yang digunakan sebagai acuan misalnya ILO OHSMS
Guidelines, API HSE MS Guidelines, Oil and Gas Producer Forum ( OGP )
HASEMS Guidelines, ISRS dari DNV dan lainnya.
c. Dasar penghargaan (awards)
Sistem manajemen K3 juga digunakan sebagai dasar untuk pemberian
penghargaan K3 atas pencapaian kinerja K3. Penghargaan K3 diberikan baik
oleh instansi pemerintah maupun lembaga independent lainnya.
d. Sertifikasi penerapan K3
Sistem manajemen K3 juga dapat digunakan untuk sertifikasi
penerapan manajemen K3 dalam [Link] diberikan oleh lembaga
sertifikat yang telah diakreditasi oleh suati badan akreditasi. Sistem sertifikasi
dewasa ini telah berkembang secara global Karena dapat diacu di Seluruh
dunia.
2.3. Manfaat sistem manajemen K3
Manfaat penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja bagi
perusahaan menurut Tarwaka (2008) adalah :
a) Pihak manajemen dapat mengetahui kelemahan-kelemahan unsur sistem
operasional sebelum timbul gangguan operasional, kecelakaan, insiden dan
kerugian-kerugian lainnya.
b) Dapat diketahui gambaran secara jelas dan lengkap tentang kinerja K3 di
perusahaan.
c) Dapat meningkatkan pemenuhan terhadap peraturan perundangan bidang K3.
d) Dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran tentang K3,
khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pelaksanaan audit.
e) Dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Penerapan sistem manajemen kesehatan dan kesalamatan kerja bagi duni industri/usaha
memiliki banyak manfaat antara lain:
a) Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja.
b) Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja.
c) Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja merasa
aman dalam bekerja.
d) Meningkatkan image market terhadap perusahaan.
e) Menciptakan hubungan yang harmonis bagi karyawan dan perusahaan.
f) Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik, sehingga membuat umur
alat semakin lama.
2.4. Penerapan sistem manajemen K3
Dalam pasal 87 (1) : UU No 13 Tahun 2003 Tentang ketenagakerjaan dinyatakan
bahwa : setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen K3 yang terintegrasi
dengan sistem manajemen perusahaan. Selanjutnya ketentuan mengenai penerapan
sistem manajemen K3 diatur dalam Permenaker RI. [Link].05 / MEN / 1996 tentang
sistem Manajemen K3. Pada pasal 3 ( 1dan 2 ) dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang
mempekerjakan Tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung
potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang
dapat mengekibatkan kecelakaan kerja seperti peledekan, kebakaran, pencemaran
lingkungan dan Penyakit Akibat Kerja WAJIB menerapkan Sistem Manajemen K3.
9
Dengan demikian kewajiban penerapan Sistem Manajemen K3 didasarkan pada
dua hal yaitu ukuran besarnya perusahaan dan potensi bahaya yang ditimbulkan.
Meskipun perusahaan hanya mempekerjakan tenaga kerja kurang dari 100 orang tetapi
apabila tingkat resiko bahayanya besar juga berkewajiban menerapkan Sistem
Manajemen K3 di perusahaannya. Berdasarkan hal tersebut maka, penerapan Sistem
Manajemen K3 bukanlah suka rela (voluntary), tetapi keharusan yang dimandatkan oleh
peraturan perundangan (Mandatory).
Selanjutnya untuk menerapkan Sistem Manajemen K3 seperti yang tertuang
dalam pasal 4 Permennaker RI. No. Per. 05/MEN/1996 beserta pedoman penerapan pada
lampiran 1 maka organisasi perusahaan diwajibkan untuk melaksanakan 5 ketentuan
pokok yaitu :
1) Menerapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem
Manajemen K3.
2) Adanya kebijakan K3 yang dinyatakan secara tertulis dan ditanda tangani oleh
pengurus yang memuat keseluruhan visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekat
melaksanakan K3, kerangka dan program Kerja yang mencakup kegiatan perusahaan
secara menyeluruh. Didalam membuat kebijakan K3 harus dikonsultasikan dengan
perwakilan pekerja dan disebar luaskan kepada semua tenaga kerja, pemasok,
pelanggan dan kontraktor. Kebijakan perusahaan harus selalui ditinjau ulang atau di
review untuk peningkatan kinerja K3.
3) Adanya komitmen dari pucuk pimpinan ( top management ) terhadap K3
2.5. 12 elemen sistem manajemen K3
10
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
11
DAFTAR PUSTAKA
12