0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan16 halaman

Penggunaan Restrain Fisik dalam Keperawatan

Makalah ini membahas tentang restrain atau pengekangan fisik pada pasien kejiwaan, yang merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk mengurangi perilaku kekerasan pasien. Restrain bertujuan melindungi pasien dan lingkungan, serta menurunkan agresivitas. Terdapat berbagai jenis, indikasi, prinsip, komplikasi, dan hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Diunggah oleh

Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan16 halaman

Penggunaan Restrain Fisik dalam Keperawatan

Makalah ini membahas tentang restrain atau pengekangan fisik pada pasien kejiwaan, yang merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk mengurangi perilaku kekerasan pasien. Restrain bertujuan melindungi pasien dan lingkungan, serta menurunkan agresivitas. Terdapat berbagai jenis, indikasi, prinsip, komplikasi, dan hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Diunggah oleh

Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA “RESTRAIN”

Dosen Pengampu : Deden Dermawan, [Link]., Ns., [Link]

Disusun Oleh
Nama : Putri Puspitasari
NIM : 18121067

POLITEKNIK KESEHATAN BHAKTI MULIA


PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
2018
A. Pengertian Restrain
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual untuk
membatasi mobilitas fisik [Link] dilakukan pada kondisi khsusu, merupakan
intervensi yang terakhir jika perilaku klien sudah tidak dapat diatasi atau dikontrol dengan
strategi perilaku maupum modifikasi lingkungan.
Restrain atau pengekangan fisik adalah salah satu tindakan keperawatan untuk klien
dengan perilaku kekerasan. Restrain merupakan aplikasi langsung kekuatan fisik pada
individu, tanpa ijin individu tersebut untuk membatasi kebebasan geraknya. Kekuatan
fisik ini dapat menggunakan tenaga manusia, alat mekanis atau kombinasi keduanya.
Pengekangan fisik termasuk penggunaan pengekangan mekanik seperti manset untuk
pergelangan tangan dan pergelangan kaki, serta sprei [Link] dengan tenaga
manusia terjadi ketika anggota staf secara fisik mengendalikan klien dan
memindahkannya ke ruangan. Restrain mekanis adalah berupa peralatan, biasanya restrain
pada pergelangan tangan, kaki yang diikatkan pada tempat tidur untuk mengurangi agresi
fisik klien seperti memukul, menendang, dan menjambak rambut.

B. Tujuan Restrain
1. Melindungi pasien dari cedera fisik
2. Memberikan lingkungan yang aman
3. Strategi untuk menurunkan agresifitas

C. Indikasi Penggunaan Restrain


Penggunaan tekhnik pengendalian fisik (restrain) dapat siterapkan dalam keadaan :
1. Pasien yang membutuhkan diagnosa atau perawatan dan tidak bisa menjadi
kooperatif karena suatu keterbatasan misalnya : pasien dibawah umur, pasien
agresif atau aktif dan pasien yang memiliki retardasi mental.
2. Ketika keamanan pasien atau orang lain yang terlibat dalam perawatan dapat
terancam tanpa pengendalian fisik (restraint).
3. Sebagai bagian dari suatu perawatan ketika pasien dalam pengaruh obat sedasi.
4. Perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri dan lingkungannya.
5. Perilaku agitasi yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan.
6. Klien yang mengalami gangguan kesadaran.
7. Klien yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan rasa aman dan
pengendalian diri.
8. Ancaman terhadap integritas tubuh berhubungan dengan penolakan klien untuk
istirahat makan dan minum.

D. Kontraindikasi Pengunaan Restrain


Penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint) tidak boleh diterapkan dalam keadaan
yaitu:
1. Tidak bisa mendapatkan izin tertulis dari orang tua pasien untuk melaksaanakan
prosedur kegiatan.
2. Pasien pasien kooperatif.
3. Pasien-pasien memiliki komplikasi kondisi fisik

E. Prinsip Tindakan Restrain


Prinsip dari tindakan restrain ini adalah melindungi klien dari cedera fisik dan
memberikan lingkungan yang nyaman. Restrain dapat menyebabkan klien merasa tidak
dihargai hak asasinya sebagai manusia, untuk mencegah perasaan tersebut perawat harus
mengidentifikasi faktor pencetus apakah sesuai dengan indikasi terapi, dan terapi ini
hanya untuk intervensi yang paling akhir apabila intervensi yang lain gagal mengatasi
perilaku agitasi klien. Kemungkinan mencederai klien dalam proses restrain sangat besar,
sehingga perlu disiapkan jumlah tenaga perawat yang cukup dan harus terlatih untuk
mengendalikan perilaku klien. Perlu juga dibuat perencanaan pendekatan dengan klien,
penggunaan restrain yang aman dan lingkungan restrain harus bebas dari benda-benda
berbahaya.

F. Hal-Hal Yang Perlu Di Perhatikan Dalam Penggunaan Restraint


Pada kondisi gawat darurat, restrain/seklusi dapat dilakukan tanpa order dokter.
Sesegera mungkin (< 1jam) setelah melakukan restrain, perawat melaporkan pada dokter
untuk mendapatkan legalitas tindakan baik secara verbal maupun tertulis.
Alat restrain bukan tanpa resiko dan harus diperiksa dan di dokumentasikan untuk
memastikan bahwa alat tersebut mencapai tujuan pemasangannya, bahwa alat tersebut
dipasang dengan benar dan bahwa alat tersebut tidak merusak sirkulasi, sensai, atau
integritas kulit

G. Komplikasi Tindakan Restrain


Komplikasi yang dapat terjadi akibat restraint, sebagai berikut:
1. Gangguan sirkulasi
2. Gangguan integritas kulit
3. Penurunan neurosensori
4. Luka tekan dan kontraktur
5. Pengurangan massa tulang dan otot
6. Fraktur
7. Gangguan nutrisi dan hidrasi
8. Aspirasi dan kesulitan bernafas
9. Inkontinensia
H. Klasifikasi Restrain
1. Restrain fisik adalah restrain dengan metode manual atau alat bantu mekanik, atau
alat-alat yang dipasang pada tubuh pasien sehingga pasien tidak dapat bergerak
dengan mudah dan terbatasnya gerakan. Restrain fisik perlu dipertimbangkan sebagai
usaha terakhir setelah alternative lain tidak berhasil.
a. Contoh restrain fisik: rompi, tali atau ikat pinggang, dasi, penggunaan pembatas
disisi tempat tidur.
b. Prosedur restrain fisik
1) Salah satu anggota staf ditunjuk untuk berdialog dengan pasien
2) Anggota tim restrain lain bersiap dibagian yang akan dilakukan pengekangan
3) Tim anggota memutuskan dan memberi sinyal secara lisan atau secara fisik
untuk dimulainya pengekangan
4) Ketika sinyal sudah diberikan, anggota tim memulai pengekangan di
ekstremitas atau dan/atau bawah dengan meminimalkan rasa sakit dan ketidak
nyamanan.
5) Salah satu anggota tim bertanggung jawab untuk memfiksasi kepala pasien.
6) Jika restrain sulit dilakukan, pindahkan pasien ke lantai untuk mengontrol
keadaan, idealnya pengekangan posisi supinasi.
7) Ketika pasien terkendali, pastikan bahwa jalan nafas bebas dan tidak ada
tekanan langsung pada kepala, leher, wajah, jalan nafas, genitalia, payudara,
dada, abdomen atau pembuluh darah besar.
c. Observasi selama restrain fisik
1) Airway, pulsasi, warna kulit (apakah terdapat sianosis atau tidak), tanda-tanda
vital
2) Perdarahan
3) Trauma fisik lain dan kenyamanan
4) Observasi neurologis
5) Status mental
6) Respon terhadap pemasangan restrain fisik
7) Longgarkan restrain setiap 2 jam selama 15 menit
8) Perhatikan asupan cairan/makanan dan penggunaan kamar mandi
9) Re-evaluasi setiap 2 jam dan kapapun terdapat perubahan kondisi yang
signifikan
10) Edukasi pasien dan keluarga mengenai alasan penggunaan restrain dan kapan
restrain akan dileaskan
11) Dokumentasikan tindakan: Deskripsi kondisi pasien, Deskripsi perilaku pasien,
Deskripsi alasan dan jenis penggunaan restraint / isolasi, Evaluasi perilaku dan
kondisi medis pasien setelah pengaplikasian restraint / isolasi, Intervensi
alternatif / yang bersifat kurang restriktif yang telah dilakukan, Respons pasien
terhadap intervensi yang digunakan, termasuk rasionalisasi penggunaan
restraint/ isolasi

2. Restrain kimia adalah restrain dalam bentuk zat kimia. 3 kelas utama yang digunakan
untuk restrain kimia, yaitu golongan benzodiazepine, antipsikotik tipikal, dan
antipsikotik atipikal.
a. Indikasi:
1) Untuk menenangkan pasien dan memfasilitasi pemeriksaan pada pasien agresif
2) Untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan kemanan ketika restrain fisik
3) Untuk memberikan kemanan dan perawatan pada pasien yang gelisah dengan
psikosis
b. Benzodiazepine
1) Efektif untuk agitasi akut dan sedative.
2) 2 benzoiazepine utama yang digunakan untuk mengontrol agitasi adalah
Lorazepam dan Midazolam, keduanya dapat diberikan secara peroral (PO),
intravena (IV) atau intramuscular (IM).
3) Beberapa penelitian telah memperlihatkan hasil antara benzodiazepine dan
antipsikotik tipikal memiliki efektivitas yang serupa untuk menekan agitasi dan
waktu sedasi. Pada penelitian memperlihatkan bahwa Midazolam memiliki
efek sedasi lebih cepat dibandingkan Haloperidol atau Lorazepam.
4) Efek samping utama benzodiazepine adalah depresi pernafasan. Efek samping
lain meliputi hipotensi dan somnolen yang ekstrim. Meskipun efek samping
yang berat, benzodiazepine tetap digunakan sebagai pengobatan untuk
mengontrol agitasi dan memberikan efek sedative. Terutama efektif untuk
pasien dengan alcohol withdrawl syndrome, pasien agitasi dengan kejang atau
risiko kejang, dan pasien yang memiliki risiko tinggi efek ekstrapiramidal
dengan penggunaan antipsikotik.

c. Antipsikotik tipikal
1) Yang termasuk antipsikotik tipikal adalah golongan Butyrophenones dan
Phenothiazines.
2) Dua obat utama yang digunakan untuk agitasi dan kekerasan adalah
Haloperidol dan Droperidol.
3) Haloperidol telah lama digunakan, baik dengan PO atau IM, untuk mengontrol
kekerasan dan psikotik akut.
4) Pada pemberian IM, Droperidol memiliki onset lebih cepat yaitu 2-10 menit
dengan puncak sampai 30 menit. Sedangkan Haloperidol memiliki onset 30-45
menit dan pada beebrapa pasien dapat mencapai 60 menit.
5) Kekurangan utama antipsikotik tipikal adalah efek samping yang berat.
Droperidol diberikan peringatan black box oleh FDA dikarenakan efek
samping perpanjangan gelombang QT yang dapat menyebabkan torsade de
pointes dan disritmia jantung lainnya, sedangkan Haloperidol diberi peringatan
oleh FDA mengenai penggunaan pada pasien lanjut usia dengan dementia-
related psyhcosis.
6) Selain itu, antispsikotik tipikal diketahui akibat efek samping gejala
ekstrapiramidal seperti tardive dyskinesia, dystonia, akatisia, dan drug-induced
parkinsonism.
7) Kesimpulannya, penggunaan antipsikotik tipikal memberikan efektivitas yang
tinggi sebagai sedasi dan mengontrol agitasi akut, namun dengan efek samping
yang serius, terutama pasien berisiko terjadinya perpanjangan gelombang QT.

d. Terapi kombinasi
1) Beberapa percobaan kombinasi benzodiazepine dengan antisikotik tipikal
menghasilkan onset sedative yang lebih cepat dengan efek samping yang
mirip.
2) Kombinasi Lorazepam dan Haloperidol dapat dipertimbangkan untuk
mengontrol kekerasan dan agitasi pada serangan akut.
e. Antipsikotik atipikal
1) Yaitu Risperidone, Olanzapine, dan Ziprasidone
2) Mekanisme kerja antipsikotik atipikal yaitu dengan menghambat reseptor
serotonin 5-HT2 dengan hanya sedikit menghambat reseptor D2. Mekanisme
tersebut menyebabkan efek samping ekstrapiramidan yang rendah.
3) Perbandingan antara Olanzapine dengan Lorazepam untuk penggunaan
psikotik akut memiliki efektifitas yang sama namun toleransi lebih baik
daripada Lorazepam,
4) Perbandingan antara Olanzapine IM 10 mg dapat menekan agitasi secara
signifikan lebih baik daripada Haloperidol IM 7.5 mg dengan efek samping
yang tidak ada pada pemberian Olanzapine.
5) Risperidone memperlihatkan efikasi pengobatan yang sama dengan
Haloperidol pada pengobatan psikotik, dengan efek samping yang berbeda
secara signifikan. Namun penggunaan risperidon untuk agitasi akut masih
terbatas.

I. Macam-macam restrain
1. Limb restraints (restrain pergelangan tangan), elbow restraints (khusus untuk daerah
sikut), restrain ini digunakan pada umumnya untuk anak-anak atau bayi guna
mencegah anak menekuk tangan dan mencapai insisi atau alat terapeutik lain yang
menempel pada anak.  

.
2. Mummy restraints (pada bayi), crib nets (box bayi dengan penghalang), teknik ini
dilakukan untuk mengontrol pergerakan selama pemeriksaan.
3. Jacket restraints (jaket), Restrain ini mencegah pasien turun dari tempat tidur tanpa
menyakiti fisik pasien dan pasien tetap dapat dengan leluasa menggerakkan
ekstremitasnya. Alat pengaman yang terbuat dari kain berbentuk persegi panjang yang
dimodifikasi seperti kutang di mana dibagian depan dada terpasang 2 tali panjang
yang mengarah ke kiri dan kanan tubuh pasien. Sedang di bagian punggung pasien
terpasang 4 tali pengikat. Cara pemakaian: Pasien dipakaikan baju/ kaos, Pasang jaket
pada tubuh pasien bagian atas, Tali bagian punggung dengan arah menyilang dan ikat
tali simpul yang mudah dibuka, Tali bagian dada masing-masing ikatkan pada tempat
tidur sisi, kiri dan kanan dengan membuat simpul yang mudah dibuka

4. Belt restraints (sabuk). Alat pengaman pasien yang terbuat dari kain (wisel) yang
dipasangkan pada anggota tubuh bagian dada dan diikatkan pada ke dua sisi tempat
tidur. Sabuk pengaman yang sudah terpasang pada kereta dorong/kursi roda cara
pemakaian yaitu Pasien ditidurkan/didudukkan dalam kereta dorong/kursi roda
kemudian sabuk pengaman dipasang dan di kunci.
5. Mitt or hand restraints (restrain tangan) untuk menutup tangan pasien guna
menghindari pasien melakukan garukan atau hal lain yang dapat membahayakan
dirinya atau orang lain

J. Restrain ICU
1. Restrain secara luas digunakan di ICU untuk memfasilitasi toleransi pasien terhadap
terapi invasive dan menghindari konsekuensi yang berpotensi mengancam nyawa
terkait dengan penghentian mendadak intervensi tersebut.
2. Penggunaan restrain di ICU untuk mempertahankan terapi invasive yang sedang
digunakan saat pasien tidak dapat memahami kegunaan terapi tersebut.
3. Agitasi merupakan faktor utama yang mendorong penggunaan restrain di ICU yang
banyak dialami oleh pasien kritis.
4. Perubahan status mental sering membuat pasien ICU tidak dapat memahami tujuan
dari terapi yang merupakan bagian dari perawatan. Penyebab agitasi di ICU berbagai
macam, seperti sepsis, ketidaknyamanan pemasangan intubasi endotrakeal, prosedur
bedah dan diagnostic, kecemasan dan kurang tidur.
5. Restrain yang digunakan adalah restrain fisik, yaitu untuk membatasi pergerakan
pasien.
6. Restrain fisik yang digunakan di ICU termasuk, tapi tidak terbatas pada itu, yaitu:
 soft wrist dan ankle restrain
 rompi/jaket
 two- to five point leather restraints

 No-No arm boards when tied to the bed or crib (pada pasein anak)
 Body webs.
7. Restrain kimia yang digunakan adalah untuk mengontrol agitasi dan pada beberapa
kasus menyebabkan koma dan paralisis. Obat yang digunakan termasuk analgesic,
terutama analgesik opioid, benzodiazepine dan sedative lain, transquilizer mayor, agen
disosiatif, dan agen penghambat neuromuscular.
8. Indikasi dari tindakan restrain di ICU adalah untuk menjamin keamanan pasien,
terutama mengurangi risiko pelepasan sendiri alat invasive.
9. Alternative terapi restraining adalah mengatasi agitasi . Sedative dan analgesic
biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri dan ansietas pada pasien ICU. Namun jika
alternative gagal, maka restrain diperlukan.

K. Restrain Bedah
1. Digunakan untuk manajemen perawatan pada pasien yang menunjukan perilaku yang
dapat mengganggu tindakan (pemasangan infus, pemasangan kateter, pembalutan).
2. Penggunaan restrain:
a. Melakukan pemeriksaan
b. Pengelolaan luka
c. Pemasangan IV line
d. Pemberian perawatan medis lain yang diperlukan
3. Keadaan dimana restrain fisik tersebut tidak dianggap sebagai tindakan restrain
a. Ketika digunakan sebagai tujuan keamanan, penahanan atau keselamatan publik
pada pasien dibawah pengawasan polisi.
b. Ketika digunakan sebagai dukungan mekanik sukarela untuk mendapatkan posisi
tubuh yang tepat, keseimbangan atau keselarasan.
c. Ketika digunakan sebagai posisi atau perangkat keamanan untuk mempertahankan
posisi, mambatasi mobilitas atau sementara melumpuhkan pasien selama prosedur
medis, diagnostic, atau bedah.
4. Berikut adalah alat dan metode/alat restrain yang sering digunakan pada perawatan
medis atau bedah:
a. Penggunaan papan fiksasi infus di tangan pasien diikat ke tempat tidur atau
keseluruhan lengan pasien diimobilisasi sehingga pasien tidak dapat mengakses
bagian tubuhnya secara bebas.
b. Beragam jenis sarung tangan diikat/ditempelkan ke tempat tidur / menggunakan
fiksator pergelangan tangan bersamaan dengan sarung tangan tersebut.
5. Tipe-tipe restrain fisik  menggunakan bahan elastic atau keras.
1. Soft Foam Wrist or ankle straps  gunakan restrain elastik, masukan ekstremitas
kedalam limb restrain, kencangkan restrain sehingga pasien tidak ampu untuk
melepaskan atau pergerakan ektremitas terbatas, hati-hati agar tidak sampai
menghambat aliran darah pada bagian ekstremitas.

i.
2. Roll Belts  posisi pasien ditengah kasur, gunakan tali untuk mengamankan posisi
tidur.

i.

3. All 4 side rails up on a bed


i.
4. Mitts (secured or unsecured to bed frame) ditempatkan di tangan dan diikat
diatas pergelangan tangan.

L. Restrain pada emergensi psikiatrik


1. Four-point restraints mungkin diperlukan untuk pasien dengan gangguan kejiwaan
atau perubahan status mental yang timbul kekerasan dan membahayakan.
2. Indikasi:
a. Ketika pasien agresif
b. Ketika pasien jelas membahayakan diri sendiri dan orang lain
c. Ketika alternative lain tidak berhasil
d. Ketika tampak bahwa keterlambatan restrain dapat menimbulkan bahaya yang
serius bagi pasien dan orang lain
3. Upaya deeskalasi yang harus dipertimbangan sebelum menerapkan four-point
restraints, yaitu:
a. Meminta kerjasama secara lisan dengan menjaga sikap yang tidak agresif dan
halus
b. Terdapat keamanan adekuat dan memadai
c. Mengarahkan dan/atau mengalihkan emosi pasien
d. Menawarkan pengobatan yang tepat
4. Peralatan
a. Sarung tangan sekali pakai
b. Restrain bahan nilon elastic
c. Bed rumah sakit atau brankar kokoh
d. Bantalan untuk setiap yang titik yang mengenai tekanan
e. Siapkan restrain kimia (misalnya Haloperidol 5 mg IM, atau Lorazepam 2 mg IM)
5. Posisi pasien
a. Pasien dalam posisi terlentang
b. Kepala dinaikan 30o untuk mencegah aspirasi
c. Posisi telungkup meningkatkan risiko sufokasi dan hanya digunakan untuk pilihan
sekunder
d. Jangan menggunakan bantal dibawah kepala pasien dalam posisi tersebut

6. Teknik Restrain
a. Alat dan Persiapan
1) Tali
2) Jaket/Baju Restrain (Jika yang digunakan ialah teknik restrain jaket)
3) Bantalan untuk tulang yang menonjol (Jika yang digunakan ialah teknik
restrain lengan dan siku)
b. Restrain Mumi
1) Lebih baik lima atau minimal empat orang harus digunakan untuk mengikat
pasien. Pengikat kulit adalah jenis pengikatan yang paling aman dan paling
menjamin.
2) Jelaskan kepada pasien mengapa mereka akan diikat.
3) Seorang anggota keluarga harus selalu terlihat dan menetramkan pasien yang
diikat. Penentraman membantu menghilangkan rasa takut, ketidakberdayaan,
dan hilangnya kendali pasien.
4) Pasien harus diikat dengan kedua tungkai terpisah dan satu lengan diikat di
satu sisi dan lengan lain diikat diatas kepala pasien.
5) Pengikatan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga aliran darah pasien
tidak tertekan/terhambat.
6) Kepala pasien agak ditinggikan untuk menurunkan perasaan kerentanan dan
untuk menurunkan kemungkinan tersedak.
7) Pengikatan harus diperiksa secara berkala demi keamanan dan kenyamanan.
8) Setelah diikat, keluarga harus menenangkan pasien dengan cara
berkomunikasi.
9) Setelah pasien dikendalikan, satu ikatan sekali waktu harus dilepas dengan
interval lima menit sampai pasien hanya memiliki dua ikatan. Kedua ikatan
lainnya harus dilepaskan pada waktu yang bersamaan, karena tidak dianjurkan
membiarkan pasien hanya dengan satu ikatan.

Teknik Restrain

Cara penyimpulan Tali restrain


7. Restrain Jaket
a. Ulangi prosedur, a, b, dan c sama dengan yang diatas.
b. Sepanjang pinggang, jaket tanpa lengan dengan penutup punggung yang diikat
dengan tali pengikat.
c. Pengikat panjang pada dasar jaket mengamankan pasien dari tempat tidur, kursi
antara lain tempat tidur.
8. Restrain Lengan dan Kaki
a. Ulangi prosedur, a, b, dan c sama dengan yang diatas.

b. Handuk dilipat, dipeniti mengitari ekstremitas

c. Balutan kasa atau katun, diberi bantalan dengan benar

9. Restrain Siku

a. Ulangi prosedur, a, b, dan c sama dengan yang diatas.


b. Segi empat muslin dengan kantong vertical untuk menampng depressor lidah
untuk memberikan kekakuan vertical dan fleksibilitas horizontal; ikatan
mengencangkan alat mengitari lengan
c. Roller handuk diameter besar yang diberi bantalan
d. Wadah plastik tubuler dengan puncak dan dasar yang dibuang dan bantalan yang
sesuai untuk kenyamanan dan keamanan.
DAFTAR PUSTAKA

Yosep, I. Keperawatan Jiwa Edisi Refisi. Bandung: PT Refka Adiatama, 2013

Damaiyanti. M, Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Pt Refika Aditama

Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika

Stuart, GW. 2006. Buku saku keperawatan jiwa (terjemahan). Edisi 5. Jakarta : EGC Nasir &
Muhith. 2011. Dasar-dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Jakarta : Salemba
Medika.

Copel, Linda Carman. 2007. Kesehatan Jiwa & Psikiatri. edisi 2. Jakarta : EGC.

Townsend, Mary C. 2010. Diagnosis Keperawatan Psikiatri. Jakarta : EGC

Amelia Lestari. Tugas 2 Restraint. [Link]


Diakses pada 24 April 2020

Anda mungkin juga menyukai