0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan18 halaman

Laporan Buku Kritis Pendidikan Luar Sekolah

Bab 1 membahas tentang perkembangan pendidikan luar sekolah di Indonesia sejak dahulu kala hingga masa orde baru. Pendidikan luar sekolah berkembang dari pendidikan tradisional yang berakar pada agama dan tradisi masyarakat. Pada masa kemerdekaan, pendidikan luar sekolah diperkuat untuk mendukung pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan. Pemerintah mulai menangani pendidikan luar sekol

Diunggah oleh

Ruston EW Mendröfa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan18 halaman

Laporan Buku Kritis Pendidikan Luar Sekolah

Bab 1 membahas tentang perkembangan pendidikan luar sekolah di Indonesia sejak dahulu kala hingga masa orde baru. Pendidikan luar sekolah berkembang dari pendidikan tradisional yang berakar pada agama dan tradisi masyarakat. Pada masa kemerdekaan, pendidikan luar sekolah diperkuat untuk mendukung pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan. Pemerintah mulai menangani pendidikan luar sekol

Diunggah oleh

Ruston EW Mendröfa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CRITICAL BOOK REPORT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

KETERAMPILAN PENERAPAN KONSEP PLS

Dosen pengampu : Yusnadi, MS

Mahfuzi Irwan, [Link], [Link]

DISUSUN OLEH :

NAMA : RUSTON ELMAN WARIS MENNDROFA

NIM : 1192111008

KELAS : REGULER A PGSD

JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan kasih sayang-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report mata
kuliah Keterampilan Penerapan Konsep Pendidikan Luar Sekolah. Penulis juga mengucapkan
banyak terimakasih kepada Bapak/Ibu dosen yang membimbing mata kuliah ini dan
memberikan kesempatan untuk memaparkan hasil pemahaman penulis mengenai isi suatu
buku.

Sebagai manusia biasa tentu tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna kesempurnaan
tugas ini sehingga tugas-tugas yang akan datang lebih baik lagi. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih dan semoga tugas ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan dan wawasan pembaca.

Medan, Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................4

1.1 Latar Belakang.........................................................................................................4


1.2 Tujuan......................................................................................................................4
1.3 Manfaat....................................................................................................................5
1.4 Identitas Buku .........................................................................................................5

BAB II RINGKASAN...............................................................................................................6

BAB III PEMBAHASAN........................................................................................................14


3.1 Analisis buku utama...............................................................................................14
3.2 Analisis buku pembanding.....................................................................................16

BAB IV PENUTUP.................................................................................................................17
4.1 Kesimpulan.............................................................................................................17
4.2 Saran.......................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah buku sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar. Mengapa? Karena dari
bukulah kita bisa menambah pengetahuan kita selain dari pengalaman. Dalam proses belajar
mengajar, buku adalah instrumen utama yang harus ada. Oleh karena itu, sebelumnya kita
harus mengetahui apakah buku yang akan kita gunakan adalah termasuk layak atau tidak.

Buku yang baik berisi informasi lengkap dan jelas dan mudah di mengerti oleh pembacca.
Namun kenyataannya, tidak semua buku yang memenuhi kriteria tersebut. Masih ada buku
yang bertele-tele dalam menjelaskan maeri yang menjadi pembahasan dalam buku. Ada pula
buku yang terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah yang kadang kurang dipahami dan
diminati oleh pembaca.

Dalam kegiatan belajar mengajar di kampus, seorang mahasiswa diharuskan untuk


mempunyai referensi buku yang baik dan sesuai dengan materi yang dipelajari. Untuk itu,
kita harus tahu buku apa yang termasuk baik untuk menjadi referensi dan sesuai dengan
materi pembelajaran sehingga proses perkuliahan menjadi lancar. Dalam kegiatan Critical
Book Report, kita bisa mengetahui buku yang sudah di kritik beserta kelebihan dan
kekurangannya.

Dan mengacu pada beberapa pemikiran tersebut, saya menggunakan buku dengan judul
Konsep Dasar, Sejarah, dan Asas Pendidikan Luar Sekolah dan buku pembanding dengan
judul Manajemen Pemberdayaan Pada Pendidikan Nonformal untuk menjadikannya sebagai
bahan Critical Book Report saya dan perbandingan dalam referensi buku untuk membantu
jalannya proses pembelajaran.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pada pembuatan Critical Book Report ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan uraian singkat dan isi materi buku
2. Memberikan informasi beberapa kelebihan dan kekurangan isi buku
3. Memberikan kepada mahasiswa referensi buku untuk dipelajari
4. Menyampaikan pendapat serta argumen dan juga pemikiran
5. Memenuhi tugas kuliah
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari pada pembuatan Critical Book Report ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui apa isi buku
2. Mengetahui apa saja kelebihan buku
3. Mengetahui apa saja kekurangan buku
4. Mengetahui perbandingan buku
5. Memudahkan pembaca dalam memahami isi buku
6. Menambah wawasan penulis
1.4 Identitas Buku

BUKU UTAMA

Judul Buku : Konsep Dasar, Sejarah, dan Asas Pendidikan Luar Sekolah

Penulis : Prof. Dr. Yusnadi, MS

Silvia Mariah H, [Link]

Kota Terbit : Medan

Tahun Terbit : 2019

Cetakan : Kedua

Penerbit : UNIMED PRESS

Jumlah Halaman : ii + 189 halaman

ISBN : 978-602-7938-98-4

BUKU PEMBANDING

Judul Buku : Manajemen Pemberdayaan

Pada Pendidikan Nonformal

Penulis : Dr. Abdul Rahmat, [Link]

Kota Terbit : Gorontalo

Tahun Terbit : 2018

Cetakan : Pertama

Penerbit : Ideas Publishing

Jumlah Halaman : vii + 205 halaman

ISBN : 978-602-6635-91-4
BAB II

RINGKASAN

BAB 1 : GERAKAN PEMBANGUNAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

LUAR SEKOLAH DI INDONESIA

Pada negara-negara berkembang, pendidikan yang merupakan satu bagian dari


instrumen pembangunan sosial selalu mendampingingi pembangunan ekonomi dan politik,
bahkan pada saat tertentu akan menentukan keberhasilan pemmbangunan ekonomi dan
politik tersebut. Pada tahap awal kemerdekaan suatu bangsa, pendidikan merupakan gerakan
yang mendapat dukungan luas, tidak sekedar pendidikan persekolahan tetapi juga pendidikan
dalam bentuk lain diluar sistem pendidikan formal.

Pendidikan nonformal dalam bentuk yang paling asli (indigenous) telah ada sejak
dulu. Kehadirannya lebih dulu dari perkembangan pendidikan formal (persekolahan).
Pendidikan nonformal berkembang dari pendidikan tradisional yang biasanya berakar dalam
agama dan tradisi yang dianut oleh warga masyarakat. Kegiatan tersebut merentang dari yang
sederhana sampai dengan yang kompleks (seperti upacara tradisional atau pun upacara adat
yang dilakukan dalam kelompok besar). Pendidikan luar sekolah dengan menggunakan cara-
cara tersebut berkembang dengan sendirinya, kemudian berkembang dalam lingkungan yang
luas. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis dan meneruskan warisan sosial
budaya, kemampuan dan cara kerja dan teknologi masyarakat dari satu generasi ke generasi
berikutnya.

Bagi negara-negara berkembang,pendidikan luar sekolah ditekankan pada “makna”


dalam gerakan pembangunan. Karena dinegara-negara berkembang sebagian besar
penduduknya ada di daerah pedesaan, maka ada dua hal yang sangat ditekankan dalam
gerakan pembangunan masyarakat pedesaan tersebut. Pertama, perbaikan kondisi-kondisi
ekonomi sosial dan kultural. Kedua, pengintegrasian masyarakat pedesaan kedalam
kehidupan bangsa secara keseluruhan agar mereka dapat memberikan kontribusi terhadap
program-program nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan dua hal, yaitu
Pertama, partisipaso warga masyarakat desa untuk memperbaiki taraf kehidupannya melalui
kemampuan dan prakarsanya sendiri. Kedua, tersedianya pelayanan dan bantuan teknik dari
pihak pemerintahan sehingga prakarsa dan swadaya masyarakat dapat diperkuat.

Pendidikan luar sekolah di Indonesia sudah berkembang sejak dulu dalam bentuk
magang, belajar individual, belajar berkelompok, yang dilakukan secara tradisional yang
berkaitan dengan keyakinan agama. Di samping itu, pendidikan luar sekolah di masyarakat
sebelum bangsa Indonesia merdeka telah mengenal berbagai kursus yaitu, kursus kewanitaan,
kursus pengetahuan umum dan politik, kepanduan (pramuka) dan pendidikan olah raga bagi
para pemuda. Kegiatan-kegiatan tersebut diprakarsai oleh pemimpin-pemimpin pergerakan
kemerdekaan.
Mulai tahun 1946 PLS di Indonesia resmi ditangani oleh pemerintah. Kemudian pada
masa orde baru PLS mendapat perhatian yang cukup besar. Hal ini terlihat dalam Pelita II
tentang pembangunan bidang pendidikan. Terlihat bahwa PLS mempunyai peranan yang
cukup besar dalam menunjang pembangunan. Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat
menuntut masyarakat untuk selalu mengadakan penataran dan penyegaran karena kebutuhan-
kebutuhan pribadi yang semakin meningkat sesuai dengan kemajuan zaman.

BAB 2 : KONSEP PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 tegas


dinyatakan bahwa: Pendidikan adlah usaha sadar da terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara.

Ilmu pendidikan atau pedagogi diartikan sebagai ilmu yang dipelajari untuk
kepentingan pendidikan. Pedagogi adalah seni mendidik atau segala kecakapan yang kita
pergunakan untuk mendidik anak. Istilah lain yang berhubungan dengan ilmu pendidikan
adalah pedagogi teoretis, pedagogi sistematis dan pedagogi historis.

- Pedagogi teoritis adalah ilmu pendidikan ditinjau dari segi teoritis saja, baik yang
meliputi studi tentang fakta-fakta pada anak dan lingkungannya, maupun yang
meliputi renungan-renungan filosofis yang relevan untuk kepentingan pendidikan.
- Pedagogi sistematis menyusun suatu teori berdasarkan suatu sistematika tertentu
- Pedagogi historis meninjau bahan-bahan yang diperoleh dari sejarah pendidikan yaitu
untuk melengkapi teori dengan bahan yang berasal dari fungsi pendidikan di dalam
sejarahnya.
Pendidikan memiliki sifat atau karakteristik praktis dan normatif. Langeveld
menyebut pedagogi sebagai ilmu pengetahuan praktis, karena membicarakan perbuatan
manusia yang disebut pendidikan. Langeveld menyebut pendidikan juga sebagai antropologi
praktis yang normatif, karena di dalamnya dibicarakan penerapan antropologi filsafat, yaitu
ilmu tentang hakekat manusia.
Mendidik dapat didefenisikan sebagai membimbing anak ke suatu tujuan. Tujuan
(yang bersifat normatif) adalah kedewasaan. Kegiatan mendidik berakhir ketika seseorang
telah mencapai tingkat kedewasaan dalam makna luas. Dalam pengertian ini pendidikan
diselenggarakan dalam keluarga secara informal dan di sekolah sebagai kegiatan formal.
Menurut ICED, pendidikan itu menyerupai belajar. Tegasnya pendidikan adalah proses
belajar yang terus menerus. Dengan demikian pendidikan itu tidak hanya diselenggarakan di
sekolah saja, tetapi di luar sekolah. Sekolah hanya salah satu saja dari lembaga pendidikan
yang ada di masyarakat untuk membantu individu-individu belajar. Masih banyak lembaga-
lembaga lain seefektif dan seefisien sekolah yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan.
Konsep ICED ini merupakan titik tolak dari konsep life long education.
Dalam konsep pendidikan seumur hidup terkandung gagasan belajar untuk hidup
(learning to be) dan masyarakat gemar belajar (learning society). Learning to be memiliki
tujuan akhir dari berfikir, belajar menjadi warga negara yang produktif. Lebih luas lagi tujuan
dari proses penemuan dari perwujudan diri untuk mencapai tingkat kualitas hidup yang
memadai. The learning society adalah masyarakat yang terdapat di dalam lembaga
pendidikan dan non pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan.
Pendidikan seumur hidup merupakan proses yang sangat panjang, mencakup
keseluruhan kurun waktu kehidupan individu. Dia mencakup pendidikan informal, formal
dan nonformal termasuk pendidikan orang dewasa. Lembaga yang memiliki peranan dalam
pendidikan seumur hidup adalah keluarga dan masyarakat, termasuk kelompok-kelompok
tetangga, sosio budaya, dan politik, kelompok profesional dan sebagainya. Pendidikan
seumur hidup memiliki sifat fleksibel, berusaha mencari kesinambungan dan kaitan antara
dimensi vertikal atau longitudinal, dan integrasi setiap dimensi horizontal pada setiap tahap
kehidupan. Persyaratan pokok pendidikan horizontal pada setiap tahap kehidupan.
Persyaratan pokok pendidikan seumur hidup meliputi kesempatan dan edukabiliti.

BAB 3 : KONSEP PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


Perhatian yang besar terhadap pendidikan luar sekolah dari pemerintah dan warga
masyarakat di negara-negara berkembang muncul dengan diresmikannya gagasan pendidikan
seumur hidup, beberapa studi kasus dilakukan diantaranya oleh lembaga-lembaga
internasional seperti ICED, ASEAN, berbagai Universitas di Amerika, dan lain-lain.
Untuk memahami konsep pendidikan luar sekolah dapat ditinjau dari dua sudut
pandang:
- Konsep konvensional dari pendidikan
- Dinamika kesadaran tujuan dalam proses pendidikan
Untuk memahami pendidikan nonformal secara berdampingan dengan pendidika
formal, keduanya ditinjau dari sisi perbedaan dan persamaanya. Dalam memandang
pendidikan nonformal dalam konteks pendidikan harus dipandang secara konfrehensif
(menyeluruh). Mana yang tergolong pendidikan formal, nonformal dan informal bergantung
kepada dinamika kesadaran tujuan tentang proses pendidikan dari pihak sumber belajar dan
dari pihak warga belajar. Titik tolaknya adalah unsur-unsur pendidikan yang utama adalah
belajar, sumber belajar dan pembelajaran.
Program PLS disusun dengan memperhatikan tujuan, partisipasi, metode, materi
belajar evaluasi dan struktur organisasi dari program tersebut. Jika menginginkan program
PLS yang disusun efektif, maka penyusunannya harus berlandaskan pada dasar konseptual
tentang hal-hal tersebut. Dasar konseptual dimaksud dapat dinyatakan dalam bentuk
hipotesis. Fungsi pendidikan nonformal yaitu:
- Suplemen, berarti materi yang diajarkan berfungsi sebagai tambahan terhadap materi
yang diajarkan di sekolah. Contohnya, kegiatan ekstrakurikuler.
- Komplemen, berarti materi yang disajikan dalam pendidikan nonformal berfungsi
melengkapi hal-hal yang diperoleh di sekolah. Ini disebabkan karena tidak semua hal
dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah
- Substitusi, berarti bahwa pendidikan nonformal berfungsi menggantikan fungsi
sekolah.
BAB 4 : PENGERTIAN DASAR DAN PENAMAAN LAIN PENDIDIKAN

NON FORMAL.

Mempelajari pengertian istilah dimulai dengan menelaah definisi istilah tersebut,


menelaah definisi pendidikan nonformal cukup sulit oleh karena belum tersedianya rumusan
definisi yang komprehensif dan baku. Sekalipun seperti Kleins mengajukan definisinya
dengan ancang-ancang yang panjang, namun cukup holistik tetapi kompleks, dengan
mengetengahkan subsistem organisasi, manusia, dan kurikulum, yang masing-masing
memiliki dua komponen pokok. Kleins juga mengajukan tiga kelas macam karakteristik
pendidikan nonformal.

Ada juga yang tidak mengajukan definisinya, akan tetapi terlebih dahulu
mengidentifikasi beberapa parameter pendidikan non formal yang meliputi sistem
penyampaian, tujuan , karakteristik pedagogik dan “creedentials” serta kebutuhan. Setelah itu
dia merekapitulasi adanya definisi pragmatik yang meliputi:

- Adanya kaitan dalam beberapa hal antara pendidikan persekolahan dengan pendidikan
nonformal
- Penekanan bahwa pendidikan formal tidak bersifat insidental atau informal
- Ketidakformalan pendidikan non formal terletak pada sponsor, lokasi dan administrasi

Beberapa definisi yang singkat telah diajukan oleh Coombs, Supardjo Adikusump, dan
Coleta. Definisi-definisi tersebut selalu dikaitkan dengan kenyataan, bahwa penyelenggara
pendidikan non formal, adalah diluar sistem persekolahan yang ada.

Pendidikan non formal bukan satu-satunya nama untuk semua kegiatan pendidikan
yang diselenggarakan di luar sekolah. Yang tercakup ke dalam pendidikan nonformal adalah:

- Pendidikan massa (mass education)


- Pendidikan orang dewasa (adult education), meliputi pendidikan lanjutan, pendidikan
pembaharuan, pendidikan kader organisasi, dan pendidikan populer.
- Exstension education
- Pendidikan dasar (fundamental education)
Di Indonesia, agricultural extension education disebut penyuluhan pertanian. Penyuluhan
pertanian diberikan oleh PPL kepada para petani yang tergabung dalam kelompok tani.
Bahwa penyuluhan pertanian merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal tampak dari
ciri-cirinya, yaitu:
- Kegiatannya dilakukan diluar sistem pendidikan persekolahan
- Di dalam kegiatannya terdapat proses komunikasi yang teratur dan terarah antara PPL
dengan para petani, dan diantara para petani itu sendiri
- Dilakukan dengan pengorganisasian tertentu
- Tujuannya selalu berorientasi pada hal-hal yang perlu dan penting bagi kehidupan
- Mempunyai isi program pendidikan dan urutan materi yang logis.
BAB 5 : LANDASAN HUKUM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DI INDONESIA

a) Pendidikan menurut UUD 1945


b) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 1991 tentang
Pendidikan Luar Sekolah
c) Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
d) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81
Tahun 2013 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Nonformal

Berdasarkan Undang-undang tentang Pendidikan Luar Sekolah di Indonesia maka


Pendidikan Nonformal meliputi:
- Pendidikan kecakapan hidup
- Pendidikan anak usia dini
- Pendidikan kepemudaan
- Pendidikan pemberdayaan perempuan
- Pendidikan keaksaraan
- Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja
- Pendidikan kesetaraan, dan
- Pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas :
- Lembaga kursus
- Lembaga pelatihan
- Kelompok belajar
- Pusat kegiatan belajar masyarakat
- Majelis taklim, serta
- Satuan pendidikan yang sejenis.
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri,
mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program
pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang dituju
oleh pemerintah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

BAB 6 : KESTARAAN PENDIDIKAN FORMAL, PENDIDIKAN NONFORMAL,

DAN PENDIDIKAN INFORMAL

Perbedaan dan persamaan pendidikan non formal dapat ditinjau dari karakteristiknya,
berdasarkan variabel tujuan, waktu, isi, penyajian, dan pengawasan. Ditinjau dari tujuan
perbedaan itu terletak pada jangka waktu belajar dan orientasi belajarnya. Menurut variabel
waktu, perbedaan itu dapat dilihat dari segi jangka waktunya, penyiapan bagi kehidupan masa
kini atau masa datang, dan kesinambungan waktu (terus-menerus atau tidak ). Ditinjau dari
variabel isi, apakah menekankan kepentingan individual atau menyamaratakan semua peserta
Menurut variabel penyajian, perbedaan ditekankan pada pusat kegiatan belajar mengajar,
hubungannya dengan kehidupan dalam masyarakat, berpusat pada pendidikan atau peserta
didik. Dilihat dari segi pengawasan, apakah dilakukan oleh pihak lain atau diatur sendiri,
apakah bersifat birokratis tinggi atau demokratis.

Perbedaan yang paling menonjol terdapat pada struktur, di satu pihak sangat ketat
(yaitu pendidikan formal), sedangkan di lain pihak fleksibel yang mungkin dalam kondisi
tertentu tidak menonjol. Dengan cara yang sama dapat pula dibedakan antara pendidikan
nonformal dengan pendidikan informal.

BAB 7 : TUGAS-TUGAS DAN SASARAN POPULASI PENDIDIKAN NONFORMAL

Tugas-tugas pendidikan nonformal dapat ditinjau dalam kaitannya dengan pendidikan


formal di negara-negara industri. Tugas-tugas pendidikan nonformal antara lain, menyiapkan
usia pra sekolah untuk memasuki pendidikan sekolah memberikan pengalaman belajar diluar
pendidikan formal yang bersifat melengkapi pendidikan formal, dan memebrikan kesempatan
belajar kepada pemuda dan orang dewasa yang telah menamatkan pendidikan nonformal
guna memperoleh pengetahuan lebih lanjut. Di negara-negara sedang berkembang tugas-
tugas itu lebih luas lagi. Pendidikan nonformal memberikan pendidikan dengan materi yang
sama dengan yang diberikan di sekolah-sekolah formal.

Sasaran populasi pendidikan nonformal dapat ditinjau dari segi usia, lingkungan
sosial budaya, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tingkat pendidikan. Ditinjau dari segi
usia, yaitu usia 0₋6 tahun, 7₋12 tahun, 13₋18 tahun, 19-24 tahun, dan 25 tahun ke atas. Di
tinjau dari lingkungan sosial budaya, yaitu masyarakat pedesaan, warga masyarakat
perkotaan, dan warga terasing, golongan taraf yang ekonominya berkecukupan, dan golongan
taraf yang ekonominya rendah. Ditinjau dari mata pencaharian, yaitu petani, pengrajin,
pedagang, industriawan, lapangan jasa, sopir, buruh, tukang, pegawai negeri, dan ABRI.
Ditinjau dari taraf pendidikan, yaitu pra aksarawan dan aksarawan. Terakhir sasaran populasi
dari kelompok khusus dan anak-anak yang mengalami penyimpangan sosial.

BAB 8 : KRITIK TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL, ISU-ISU DAN

PERMASALAHAN DALAM PENDIDIKAN NONFORMAL

Ivan Illich dan Paulo Freire mengkritik pendidikan sekolah dari gaya pendidikannya
yang tradisional. Kritik bertitik tolak yang sama yaitu membebaskan manusia.
Menurut Illich, penghargaan yang berlebihan yang diberikan kepada sekolah
mengakibatkan masyarakat tidak berdaya cipta. Gaya guru yang sebagai hakim, pemimpin
ideologi atau dokter yang telah meniadakan rasa aman bagi murid harus menciptakan kondisi
kebalikan dari sekolah dengan cara memberi kebebasan kepada warga belajar memilih sendiri
tentang apa yang akan dipelajari, dari siapa dan kapan.
Freire menganggap sekolah sebagai “sistem penjinakkan” (domestiaction). Sistem
paternalisme telah mengakibatkan kebodohan, kemiskinan dan kemelaratan pada masyarakat.
Untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan dan sebagainya, disarankan dipergunakan
metode praxis. Konsep conscienlization (kepercayaan pada diri sendiri dan lingkungan)
dengan metode praxis tersebut dapat membebaskan warga masyarakat dari belenggu
kebodohan.
Harapan-harapan terhadap PLS dilandasi pada keyakinan bahwa PLS merupakan
pendekatan yang efektif, fungsional, inovatif, bersifat praktis. Harapan yang terlalu tinggi
terhadap PLS dianggap kurang beralasan, oleh karena dalam PLS itu sendiri terkandung
berbagai isu dan permasalahan yang kritis. Isu-isu yang umum ada dalam PLS di Indonesia
dan di negara-negara berkembang lainnya adalah:
- Menyangkut kebutuhan yang luas dan masal
- Kelompok masyarakat terabaikan
- Kebutuhan belajar yang paling diabaikan
- Pengintegrasian pendidikan formal dan nonformal
- Bentuk metode instruksional dan media yang efektif dalam pendidikan nonformal
- Pembangkitan motivasi belajar
- Fasillitas
- Biaya dan sumber
- Evaluasi
- Penciptaan harmonisasi usaha-usaha
Permasalahan yang kritis dalam pendidikan nonformal yaitu:
- Terhadap pendidikan nonformal terlalu dibebankan harapan-harapan yang tinggi
- Masalah yang menyangkut departemen yang menaungi pendidikan nonformal.
- Masalah yang menyangkut kebutuhan pokok yang esensial
- Masalah tenaga pendidik dalam pendidikan nonformal
- Masalah sentralitas atau regionalitas perencanaan

BAB 9 : FALSAFAH PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Pancasila merupakan landasan filosofis adil, sedangkan UUD 1945 adalah landasan
dalam mencapai tujuan kemerdekaan nasional. Pendidikan tidak hanya menunjang
tercapainya tujuan-tujuan ekonomi, tetapi juga harus memperkokoh nilai-nilai bangsa dan
negara yang dianggap luhur. Landasan operasional dalam pengelolaan pendidikan adalah
berpegang kepada pasal 31 UUD 1945.
Pendidikan Indonesia diharapkan melahirkan manusia Indonesia dengan ketujuh
rangkaian sifat seperti yang telah dilukiskan di dalam Undang-undang sistem pendidikan
nasional Nomor 20 tahun 2003. Keduanya adalah proses belajar yang direncanakan dan
diorganisir untuk diikuti oleh para siswa guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menurut perkembangannya yang wajar pendidikan nonformal harus dapat langsung
membantu kualitas dan martabat kita sebagai individu dan warga negara yang dengan
kemampuan dan kepercayaan pada diri sendiri harus dapat mengendalikan perubahan dan
kemajuan. Karena daerah atau medan kerjanya lebih cair dan luas, dan lebih langsung
berhubungan dengan dunia kerja, rekreasi, seni, budaya, efektif dan relevan dengan
mencerdaskan kehidupan bangsa serta memanfaatkan diri untuk menjadi salah satu sarana
pokok dalam mencapai pembangunan ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

BAB 10 : ASAS-ASAS PENDIDIKAN NONFORMAL

Inovasi adalah salah satu asas yang harus diterapkan di dalam perencanaan
pendidikan, baik di dalam perencanaan program pendidikan formal maupun nonformal.
Pendidikan seumur hidup atau (life long education) merupakan salah satu asas pokok di
dalam perencanaan dan pengembangan keseluruhan sistem pendidikan nasional. Untuk
meningkatkan efektivitas serta efisiensi sistem pendidikan, maka di dalam perencanaannya
harus diperhitungkan asas-asas komprehensif integrasi, aspek-aspek kuantitatif dan kualitatif,
serta pendayagunaan semua sumber-sumber sosial dan fisik tersedia atau yang mungkin dapat
disediakan.
Laju perkembangan pendidikan nonformal disebabkan pula asas yang digunakannya
yaitu kebutuhan pendidikan seumur hidup dan relevansi dengan pembangunan dengan
masyarakat atau pembangunan itu sendiri. Asas kebutuhan telah memantapkan pendidikan
nonformal sehingga program-program berpusat pada warga belajar, partisipasi yang optimal
dari warga belajar dari dalam, oleh dan untuk masyarakat maka pendidikan nonformal
ditumbuhkan di atas sikap pemilikan dan tanggung jawab bersama.
BAB III

PEMBAHASAN

[Link] Isi Buku Utama

Dalam buku utama dengan judul Konsep Dasar, Sejarah, dan Asas Pendidikan Luar
Sekolah kita akan menemukan pembahasan tentang Pendidikan masyarakat atau Pendidikan
Luar Sekolah.

Pada bab 1 materi yang dijelaskan yaitu gerakan pembangunan dan perkembangan
pendidikan luar sekolah di Indonesia, asal usul munculnya pendidikan luar sekolah di
Indonesia yaitu berkembang dari pendidikan tradisional yang biasanya berakar dalam agama
dan tradisi yang dianut oleh suatu komunitas masyarakat. Selanjutnya yaitu makna
pendidikan luar sekolah dalam gerakan pembangunan, bagaimana perkembangan PLS di
Indonesia, dan faktor pendorong perkembangan PLS.

Keterangan: Pada bab ini materi tentang gerakan pembangunan dan perkembangan PLS di
Indonesia dan juga asal-usul PLS di Indonesia masih kurang jelas atau kurang banyak,
seharusnya dijelaskan secara lebih detail lagi.

Pada bab 2 materi yang dijelaskan tentang pengertian pendidikan secara teoritis, historis
dan sistematis, menjelaskan definisi mendidik dan komponennya, dan juga definisi dan
konsep serta karakteristik pendidikan seumur hidup.

Keterangan: Pada bab ini sudah dijelaskan tentang konsep pendidikan, hanya saja ada istilah-
istilah yang sulit untuk dipahami.

Pada bab 3 materi yang dijelaskan tentang konsep pendidikan luar sekolah, tujuan,
partisipasi, metode, materi belajar, evaluasi, struktur organisasi program PLS, dan juga fungsi
PLS sebagai suplemen, komplemen, dan substitusi.

Keterangan: Materi pada bab ini sudah cukup jelas dan mudah dipahami

Pada bab 4 materi yang dijelaskan tentang pengertian dasar dan penamaan lain
pendidikan nonformal, definisi dan karakteristik pendidikan nonformal, dan juga tentang
pendidikan formal dan informal serta pendidikan massa.

Keterangan: Materi pada bab ini sudah dijelaskan sesuai dengan indikatornya, hanya tidak
ada gambar penjelas yang mendukung isi buku

Pada bab 5 materi yang dijelaskan tentang landasan hukum Pendidikan Luar Sekolah di
Indonesia baik yang tercantum dalam UUD 1945 dan juga yang tercantum dalam peraturan
pemerintah.
Keterangan: Pada bab ini penjelasan tentang landasan hukum Pendidikan Luar Sekolah
dijelaskan dengan rinci

Pada bab 6 materi yang dijelaskan tentang kesetaraan pendidikan formal, nonformal, dan
informal dan juga persamaan dan perbedaannya serta karakteristiknya.

Keterangan: Pada bab ini, materi tentang perbedaan dan persamaan pendidikan formal,
nonformal, dan informal dijelaskan sangat jelas apalagi diuraikan dalam bentuk tabel.

Pada bab 7 materi yang dijelaskan tentang tugas-tugas pendidikan nonformal baik di
negara maju dan negara berkembang, serta sasaran populasi pendidikan nonformal
berdasarkan usia, lingkungan sosial budaya, dan sosial ekonomi, termasuk mata pencaharian.

Keterangan: Pada bab ini telah dijelaskan cukup banyak tentang tugas dan sasaran populasi
pendidikan nonformal, hanya saja materinya dipaparkan terlalu banyak karena banyak
terdapat istilah asing atau penjelasan dalam bahasa Inggris dan juga gambar dalam materi ini
kurang menarik.

Pada bab 8 materi yang dijelaskan tentang kritik terhadap pendidikan formal dari Ivan
Illich dan Paulo Freire, kelemahan pendidikan formal, latar belakang mengapa masyarakat
menaruh harapan terhadap pendidikan nonformal, dan juga masalah kritis dalam pendidikan
nonformal.

Keterangan: Pada bab ini, dijelaskan tentang kritik terhadap pendidikan formal, dan juga isu
dan permasalahan dalam pendidikan nonformal, sebaiknya perlu juga dijelaskan bagaimana
cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pada bab 9 materi yang dijelaskan tentang falsafah pendidikan luar sekolah yaitu
Pancasila dan UUD 1945, landasan operasional pendidikan nasional dan pendidikan
nonformal, tujuan umum pendidikan nasional sesuai dengan GBHN, dan hubungan antar
peranan dan fungsi pendidikan nonformal dengan pendidikan lain.

Keterangan: materi pada bab ini cukup jelas yaitu menjelaskan tentang falsafah pendidikan
luar sekolah yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Pada bab 10 materi yang dijelaskan tentang asas-asas pendidikan nonformal, meliputi
asas inovasi, asas penentuan dan perumusan tujuan, asas perencanaan dan pengembangan,
asas kebutuhan, asas pendidikan seumur hidup, dan asas relevansi dengan pembangunan.

Keterangan: pada bab ini materi tentang asas-asas pendidikan nonformal dijelaskan dengan
lengkap dan rinci bahkan dijabarkan dengan contoh dan intinya asas-asas pendidikan
nonformal bertujuan untuk saling mengkait, saling menguatkan, saling mendukung dalam
menancapkan pendidikan nonformal sebagai pendidikan pembangunan.
3.2 Analisis isi buku pembanding

Dalam buku pembanding berjudul Manajemen Pemberdayaan Pada Pendidikan


Nonformal tidak jauh beda dengan buku utama. Dalam buku pembanding ini kebanyakan
dilengkapi dengan pendekatan ke masyarakat berdasarkan teori dan pengalaman, mencari
data lapangan dan menganalisis data, merencanakan program pemberdayaan, mendampingi
hingga melakukan monitoring secara berkala dan evaluasi. Buku ini terdiri atas 9 bab yaitu,
kebutuhan pendidikan nonformal, perkembangan pendidikan nonformal di berbagai negara,
pengelolaan pendidikan nonformal, pengembangan program pada pendidikan nonformal,
perencanaan program pendidikan nonformal, memahami masalah sosial masyarakat, desain
program pemberdayaan dengan kerangka kerja logis (logframe), participation action
research: model riset pada manajemen pendidikan nonformal, dan evaluasi program
pendidikan non formal.

Buku Karya Dr. Abdul Rahmat, [Link] ini dijelaskan secara lengkap dan menarik dan
menggunakan bahasa yang ilmiah dan cukup dimengerti. Disertai juga dengan tabel dan juga
grafik serta gambar pendukung untuk memperjelas isi buku. Kekurangan buku ini yaitu
materi terlalu banyak dan banyak istilah asing yang sulit dipahami oleh pembaca. Jadi
intinya, buku ini sangat cocok untuk para calon pendidik terkhusus calon pendidik baik dari
kalangan pengajar SD sampai perguruan tinggi agar bisa mengembangkan peserta didik
melalui buku ini.
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa Critical Book
merupakan kegiatan untuk mengkritisi buku, untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
buku, baik dalam sistematika penulisan, penggunaan bahasa, isi materi dan tampilan buku.
Hal tersebut dilakukan agar buku yang di kritik dapat direvisi agar menjadi buku yang lebih
baik.

Berdasarkan penjelasan penulis sesuai kekurangan dan kelebihan buku, maka penulis
menyimpulkan bahwasanya buku ini sudah cukup mampu untuk dijadikan bahan ajaran di
kampus atau di perkuliahan atau bahkan sekedar panduan bagi guru sebagai pegangan untuk
melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, dari penjelasan yang
menyenangkan dan baik dapat mempermudah pembaca memahami dan mencontoh apa yang
dibuat penulis untuk dapat benar-benar mengimplementasikannya dalam kegiatan proses
belajar mengajar.

4.2 SARAN

Selain itu, terdapat pula beberapa saran dari penulis untuk penulis buku yang dikritik.
Yaitu agar untuk kedepannya lebih memperbaiki sisi yang dirasa kurang sempurna baik dari
segi penulisan maupun segi pembahasan. Saran pula bagi guru agar lebih bisa menggunakan
buku ini sebagai pedoman dan referensi dalam pembuatan media pembelajaran agar lebih
menarik untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Yusnadi., Mariah, Silvia. 2019. Konsep Dasar, Sejarah, dan Asas Pendidikan Luar Sekolah.
Medan : UNIMED PRESS

Rahmat, Abdul. 2018. Manjemen Pemberdayaan pada Pendidikan Nonformal. Gorontalo :


Ideas Publishing.

Anda mungkin juga menyukai