NAMA : AKMAL ABIYAN HAKIM
KELAS : C (TEKNIK PENGOLAHAN HASIL HUTAN )
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI
Nomor : P. 20 / PHPL SET / 2015
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS INVENTARISASI TEGAKAN SEBELUM PENEBANGAN
(ITSP) DALAM HUTAN PRODUKSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI,
Menimbang :
a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-11/2014 tentang
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala dan Rencana Kerja Pada Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri dan Peraturan Nomor P.33/Menhut-11/2014
tentang Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala dan Rencana Kerja Pada Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam, berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal
Pengelolaan Hutan Produksi Lestari tentang Petunjuk dalam Hutan Produksi;
b. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Mengingat :
1. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun2004 Tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
2. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Hutan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi
Kementerian Negara
5. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Keputusan Presiden nomor 121/P/2014 tentang Pembentukan Kementerian
dan Pengangkatan Kabinet Kerja Tahun 2014-2019;
6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.67/Menhut-11/2006 tentang Kriteria dan Standar
Inventarisasi Hutan;
7. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.11/Menhut-11/2009 tentang Sistem Silvikultur
dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Produksi dengan
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.65/Menhut-11/2014
8. Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.30/Menhut- 11/2014 tentang Inventarisasi Hutan
Menyeluruh Berkala dan Rencana Kerja Pada Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
Hutan Tanaman Industri
9. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut- 11/2014 tentang Inventarisasi Hutan
Menyeluruh Berkala dan Rencana Kerja Pada Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
dalam Hutan Alam
10. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.54/Menhut- 11/2014 tentang Kompetensi dan
Sertifikasi Tenaga Teknis dan Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi
Lestari
11. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.62/Menhut- 11/2014 tentang Izin Pemanfaatan
Kayu 13. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.18/MenLHK-
11/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Peraturan Kehutanan Menteri Nomor Lingkungan Hidup dan P.42/Menlhk-
Setjen/2015tentang Penatausahaan Hasil Hutan Kayu yang Berasal Dari Hutan Tanaman
Pada Hutan Produksi
12. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.43/ MenLHK-11/2015
tentang Penatausahaan Hasil Hutan Kayu yang berasal dari hutan alam
13. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.44/Menlhk-Setjen/2015
tentang Tata Cara Pengenaan, Pemungutan dan Penyetoran Provisi Sumber Daya Hutan,
Dana Reboisasi, Penggantian Nilai Tegakan, Ganti Rugi Tegakan dan luran Izin Usaha
Pemamanfaatan Hutan
17. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.45/Menlhk-Setjen/2015
tentang Integrasi Sistem Informasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.46/Menlhk-Setjen/2015 tentang Pedoman Post
Audit Terhadap Pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Izin
Menetapkan :
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI
TENTANG PETUNJUK TEKNIS INVENTARISASI TEGAKAN SEBELUM PENEBANGAN
(ITSP) DALAM HUTAN PRODUKSI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Inventarisasi Hutan adalah kegiatan pengumpulan dan penyusunan data dan fakta
mengenai sumberdaya hutanuntuk pengelolaan
2. Hutan Alam adalah suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang
secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam
lingkungannya.
3. Timber Cruising adalah kegiatan pengukuran, pengamatan dan pencatatan
terhadap pohon yang direncanakan akan ditebang, pohon inti, pohon yang
dilindungi dan permudaan, data lapangan lainnya serta informasi tentang keadaan
lapangan/lingkungan
4. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan yang selanjutnya disingkat ITSP
adalah kegiatan inventarisasi hutan antara lain pada IUPHHK-HA, IUPHHK-HT
khususnya pada hutan alam yang menggunakan system silvikultur non THPB,
IPHHK Hutan Alam, IPK, IPPKH,
5. Laporan Hasil Cruising yang selanjutnya disingkat LHC adalah hasil pengolahan
data pohon dari pelaksanaan kegiatan timber cruising pada petak kerja tebangan
6. Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Perencanaan Hutan yang
selanjutnya disingkat GANISPHPL yang memiliki kompentensi dalam kegiatan
(IHMB), timber cruising, penyusunan LHC petak kerja tebangan tahunan, LHC
blok kerja tebangan tahunan (PUP), penyusunan RKUPHHK serta penyusunan
Usulan RKT dan pembuatan peta areal kerja
7. Faktor pengaman yang selanjutnya disebut Fp adalah konstanta pengali pada hasil
timber cruising yang besarnya 0,8 yang digunakan sebagai faktor kelestarian,
8. Faktor eksploitasi yang selanjutnya disebut Fe adalah konstanta sebagai faktor
pengali pada hasil timber cruising yang besarnya 0,7 - 0,9 yang ditetapkan
berdasarkan kemampuan pemegang (IUPHHK) dan (ILS)
9. Direktur Jenaeral adalah direktur jenderal yang diserahi tugas dan tanggung jawab
di bidang Pengelolaan Hutan Produksi Lestari.
10. Dinas Provinsi adalah dinas yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang
kehutanan di daerah provinsi.
11. Balai adalah Unit Pelaksana Teknis yang diserahi tugas dan tanggung jawab di
bidang Pengelolaan Hutan Produksi Lestari
12. Kesatuan Pengelolaan Hutan yang selanjutnya disebut KPH adalah wilayah
pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola
secara efesien dan lestari.
Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
(1) ITSP dimaksudkan untuk memberikan pedoman Unit Manajemen dalam menyusun dan
melaporkan kondisi tegakan dan informasi lainnya secara tertib dan benar dalam
perencanaan penebangan yang efektif dan efisien.
(2) Tujuan dari Penetapan Pedoman Teknis ITSP, yaitu :
a. Untuk memperoleh deskripsi tegakan serta mengetahui posisi kordinat di lapangan;
b. Sebagai bahan untuk membuat perencanaan produksi yang meliputi LHC oleh Ganis
Perencanaan Hutan, serta Peta Pohon
c. Bagi pemerintah untuk sarana pengendalian dalam kepatuhan unit manajemen sebagai
dasar awal penghitungan PNBP.
ВАВ І
SUBYEK PELAKSANA ITSP
Pasal 3
Kegiatan ITSP diwajibkan kepada :
a. (IUPHHK-HA);
b. (IUPHAK-HT)
c. Pemegang IPK/IPPKH;
d. Pemegang hak atas kayu dari pohon tumbuh alami; dan
e. Pemegang Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu dari Hutan Alam (IPHHK Hutan Alam).
BAB III
PERENCANAAN ITSP
Pasal 4
(1) Kegiatan ITSP oleh pemegang IUPHHK-HA atau IUPHUK- HT wajib dilaksanakan
paling lambat 2 (dua) tahun sebelum penebangan sebagai dasar penyusunan rencana
(2) Kegiatan ITSP oleh Pemegang IPK/IPPKH, hak atas kayu dari pohon tumbuh alami,
IPHHK Hutan Alam wajib dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum
penebangan
(3) ITSP dilaksanakan oleh Tim yang dipimpin oleh GANISPHPL- CANHUT
(4) Tim ITSP terdiri dari ketua tim, pencatat tally sheet, compass man (front chainman),
perintis (brusher), pemegang tali ukur belakang (back chainman), timber marker dan
pembantu umum.
(5) ITSP dilakukan dengan intensitas 100 % (seratus persen) terhadap pohon berdiameter 10
cm keatas sedangkan terhadap pohon dalam petak dilakukan inventarisasi hanya terhadap
pohon berdiameter 40 cm ke atas pada Hutan Produksi atau 50 cm keatas pada Hutan
Produksi Terbatas,
(6) Peralatan kerja yang diperlukan dalam kegiatan timber cruising, antara lain yaitu:
a. Peta Kerja skala 1:10.000
b. Peta penafsiran Citra Resolusi Tinggi,
c. Kompas/GPS,
d. Alat pengukur tinggi pohon,
e. Alat pengukur diameter pohon,
f. ID Barcode dan barcode reader,
g. Buku Tally Sheet,
h. Gun stapler/paku, dan
i. UHV,
BAB IV
PELAKSANAAN ITSP
Bagian Kesatu
Jalur ITSP
Pasal 5
(1) Penentuan titik nol sebagai awal dalam pembuatan jalur inventarisasi hutan
(2) Penomoran jalur inventarisasi dimulai dari angka 0 (nol) pada batas areal utara selatan
sebelah kiri.
(3) Jalur-jalur inventarisasi tegakan dibuat dengan arah utara-selatan
(4) Setiap jalur inventarisasi dibuat selebar 20 (dua puluh) meter dan jalur pengamatan (Petak
Ukur) setiap panjang 20 (dua puluh) meter,
Bagian Kedua
Pengambilan Data Dilapangan
Pasal 6
(1) Pelaksanaan inventarisasi tegakan dilakukan dengan mengidentifikasi jenis pohon,
mengukur diameter dan tinggi pohon serta mencatat kondisi lapangan,
(2) Pengamatan dilakukan secara berurutan pada setiap jalur inventarisasi dalam Petak Ukur
pengamatan dan dituangkan dalam Tally Sheet.
(3) Letak pengukuran diameter adalah setinggi dada (+ 130 cm dpt) dan diatas banir
(4) Tinggi pohon yang diukur adalah tinggi pohon bebas cabang dari
(5) Penandaan pohon yang akan ditebang menggunakan Label ID Barcode.
(6) Label ID Barcode memuat atribut tentang fungsi hutan, nomor petak kerja, nomor pohon,
jenis pohon, ukuran diameter, tinggi pohon bebas cabang dan posisi pohon
(7) Pembuatan sketsa pohon didalam jalur cruising berdasarkan sistem koordinat geografis.
Bagian Ketiga Pengolahan Data
Pasal 7
(1) Data dari hasil inventarisasi/ cruising pada tally sheet dilapangan dimasukan kedalam
aplikasi SIPUHH berdasarkan penomoran pada kode barcode secara online
(2) Rumus volume pohon yang dipergunakan adalah: Vol (m3) - 0,7854" (d 2)"H"fb
(3) Peta topografi dapat dibuat berdasar informasi inventarisasi kontur dilapangan
Pasal 8
(1) Format realisasi ITSP
(2) Hasil ITSP (RLHC) untuk sistem silvikultur TPTI di tanah kering/daratan dan tanah
basah/rawa
(3) Hasil ITSP (RLHC) untuk system silvikultur TPTJ
BAB V
PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN
Pasal 9
(1) Kepala KPH, Kepala Balai dan Kepala Dinas Provinsi melakukan pembinaan teknis dan
pengendalian terhadap pelaksanaan ITSP di wilayah kerjanya Direktorat Jenderu
persama-sama KPH, Balai dan Dinas Provinsi dapat melaksanakan Supervisl terhadap
pelaksanaan ITSP pada pemegang izin.
BAB VII
PENUTUP
Pasal 10
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.