Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Pengelolaan Piutang
Hampir setiap jenis barang saat ini dapat dibeli secara kredit. Rumah, mobil,
alat-alat elektronika, bahkan biaya kuliahpun dapat diperoleh secara kredit.
Dengan menjual secara kredit, perusahaan akan memiliki piutang. Mengapa
banyak perusahaan yang menjual barang hasil produksi dan/atau barang
dagangan mereka secara kredit? Alasannya tidak lain adalah karena penjualan
secara kredit tersebut merupakan suatu upaya untuk meningkatkan (atau untuk
mencegah penurunan) penjualan. Dengan penjualan yang makin meningkat,
diharapkan laba juga akan meningkat. Sayangnya memiliki piutang juga
menimbulkan berbagai biaya bagi perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu
melakukan analisis ekonomi tentang piutang. Dimaksudkan dengan analisis
ekonomi adalah analisis yang bertujuan untuk menilai apakah manfaat memiliki
piutang lebih besar ataukah lebih kecil dari biayanya. Apabila diperkirakan
bahwa manfaatnya lebih besar, maka secara ekonomi pemilikan piutang (atau
penjualan kredit) tersebut dibenarkan. Analisis tersebut merupakan salah satu
bagian dari pengelolaan piutang. Masalah lain adalah pengendalian piutang.
Untuk mengendalikan piutang, perusahaan perlu menetapkan kebijaksanaan
kreditnya. Kebijaksanaan ini yang kemudian berfungsi sebagai standar. Apabila
kemudian dalam pelaksanaannya penjualan kredit dan pengumpulan piutang
tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka perusahaan perlu
melakukan perbaikan. Kegiatan untuk menjamin agar hasil sesuai dengan
rencana, merupakan esensi dari fungsi pengendalian.
6.1. Analisis Ekanomi Terhadap Piutang
Setiap analisis ekonomi menyangkut perbandingan antara manfaat dan
pengorbanan. Sejauh manfaat diharapkan lebih besar dari pengorbanan, suatu
keputusan dibenarkan secara ekonomi. Karena itu dalam merencanakan
kebijakan keuangan yang mempengaruhi piutang perlu diidentifikasikan
manfaat dan pengorbanan karena keputusan tersebut. Berikut ini diberikan
berbagai contoh untuk mengidentifikasikan manfaat dan pengorbanan tersebut.
Penjualan kredit tanpa diskon. Misalkan suatu perusahaan dagang semula
melakukan Penjualan secara tunai. Penjualan yang tercapai setiap tahun rata-rata
sebesar Rp800 juta. Perusahaan kemudian merencanakan akan menawarkan
syarat Penjualan n/60. ini berarti bahwa pembeli bisa membayar pembelian
mereka pada hari ke-60. diperkirakan dengan syarat penjualan yang baru
tersebut perusahaan akan bisa meningkatkan penjualan sampai dengan Rpl.050
juta. Profit margin yang diperoleh sekitar 15%. Apakah perusahaan Pedu beralih
ke penjualan kredit, kalau biaya dana sebesar 16%?
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 72
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Tabel 6.1. Analisis Penjualan kredit tanpa diskon dengan penjualan tunai
Manfaat
Tambahan keuntungan karena tambahan penjualan
= (1.050-800) x 15% Rp37,50 juta
Pengorbanan
Perputaran piutang = 360 hari/60 hari
= 6 x dalam satu tahun
Rata-rata = Rp1.050/6
= Rp175 juta
Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang tersebut,
= 85% x Rp175 juta
= Rp148,75 juta
Biaya dana yang harus ditanggung karena memiliki
tambahan piutang = Rp148,75 juta x 16% Rp23,80 juta
Tambahan manfaat bersih Rp13,70 juta
Manfaat yang diperoleh karena menjual secara kredit adalah tambahan laba.
Sedangkan pengorbanannya adalah tambahan biaya dana. Tambahan biaya
tersebut timbul karena perusahaan akan memerlukan dana yang lebih banyak
apabila menjual secara kredit. Tambahan dana tersebut diperlukan untuk
membiayai Piutang (pada waktu perusahaan menjual secara tunai, tentu saja
piutang tidak ada). Perhatikan bahwa biaya dana mungkin bersifat eksplisit
(artinya benar-benar dikeluarkan, seperti kalau kita membayar bunga karena
menggunakan hutang), tetapi mungkin juga bersifat inplisit (tidak benar-benar
dikeluarkan, tetapi dana tersebut mempunyai opportunity cost). opportunity cost
menunjukkan manfaat yang hilang karena kita memilih suatu alternatif.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa manfaat lebih besar dari pengorbanan,
sehingga diperoleh manfaat bersih yang positif ini berarti bahwa rencana untuk
menjual secara kredit diharapkan memberikan hasil yang menguntungkan.
Menjual secara kredit dengan diskon. Sering perusahaan mengintrodusir diskon
dengan maksud agar para pembeli mempercepat pembayaran mereka. Dengan
demikian bisa ditekan keperluan dana akan tambahan piulang, meskipun biaya
karena diberikannya diskon perlu diperhatikan. Misalkan perusahaan
menawarkan syarat penjualan 2/20 net 60. ini berarti bahwa kalau pembeli
melunasi pembeliannya pada had ke-20, mereka akan memperoleh diskon 2%,
tetapi kalau melunasi pada hari ke-60-harus membayar dengan harga penuh.
Diperkirakan 50% akan memanfaatkan diskon, dan sisanya membayar pada hari
ke-60. Apakah perusahaan sebaiknya mengintrodusir diskon atau menjual tanpa
diskon?
Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa diskon yang diberikan ternyata lebih
besar dari pada penghematan biaya. Dengan demikian maka maka perusahaan
tidak perlu memberikan diskon, karena dengan syarat penjualan 2/20 net
diperkirakan akan memberikan manfaat bersih yang negatif.
6.2. Analisis penjualan kredit dengan diskon dibandingkan dengan tanpa diskon
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 73
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Manfaat
Rata-rata pembayaran piutang
= 0,5(20) + 0,5(60) = 40 hari
Perputaran piutang
= 360/40 =9x
Rata-rata piutang
= 1.050/9 = Rp116,67 juta
Rata-rata dana yang diperlukan untuk membiayai piutang
= Rp116,67 juta – Rp85% = Rp99,17 juta
Penurunan biaya dana
= (Rp148,75 – Rp99,17) x 16% = Rp7,93 juta
Pengorbanan
Diskon yang diberikan,
= 2% x 50% x Rp1.050 Rp10,50 juta
Manfaat bersih (Rp2,57 juta)
Penjualan kredit dengan kemungkinan piutang tidak terkumpul. Contoh-contoh di
atas menggunakan asumsi bahwa semua pembeli akan melunasi pembelian
meraka. Padahal kalau perusahaan menjual secara kredit, selalu terdapat
kemungkinan bahwa sebagian piutang tidak tertagih. Sekarang kita bandingkan
seandainya penjualan dilakukan secara kredit tetapi dengan mempertimbangkan
kemungkinan adanya piutang yang tidak tertagih. Misalkan dari penjualan
dengan syarat n/60 tersebut diperkirakan 1% tidak terbayar. Apakah perusahaan
sebaiknya menjual secara kredit ataukah tetap tunai?
Tabel 6.3. Analisis penjualan kredit tanpa diskon dengan penjualan tunai
(memperhatikan kemungkinan piutang tidak tertagih)
Manfaat
Tambahan keuntungan karena tambahan penjualan
= (1.050-800) x 15% Rp37,50 juta
Pengorbanan
Perputaran piutang = 360 hari/60 hari
Rata-rata = Rp1.050/6
= Rp175 juta
Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang tersebut,
= Rp148,75 juta
Biaya dana yang harus ditanggung karena memiliki
tambahan piutang = Rp148,75 juta x 16% = Rp23,80 juta
Kerugian karena penjualan tidak terbayar,
= 1% x Rp1.050 juta = Rp10,50 juta
Total tambahan biaya Rp34,30 juta
Tambahan manfaat bersih Rp 3,20 juta
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 74
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Analisis pada Tabel 6.3 menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan
kemungkinan penjualan tidak terbayar, penjualan kredit diharapkan masih
menguntungkan apabila dibandingkan dengan penjualan secara tunai.
Faktar-faktor lain. Penjualan yang bersifat musiman bisa diberikan potongan
khusus pada waktu penjualan sedang off, agar bisa meningkatkan penjualan.
Perusahaan juga bisa membentuk bagian penaglhan kredit agar jumlah kredit
macet berkurang, dan/atau periode pengumpulan piutang menjadi makin cepat.
Apakah cara-cara tersebut bisa dibenarkan secara ekonomi, analisis yang perlu
dilakukan tetap dengan membandingkan antara manfaat dan pengorbanan.
Misalkan perputaran piutang ternyata mencapai hanya 4x dalam satu tahun,
padahal persyaratan penjualan adalah n/60. Hal tersebut clapat terjadi karena
beberapa sebab.
(1) Pemberian kredit tidak dilakukan secara ketat sesuai dengan standar kredit.
Dengan demikian, disamping menentukan syarat penjualan (seperti n/60
ataupun 2/10/net 60) perusahaan perlu menentukan standar kreditnya.
Standar kredit menunjukkan siapa yang diizinkan membeli secara kredit.
Mungkin standar kredit ditentukan sangat ketat (misalnya hanya untuk
mereka yang berpenghasilan tetap dan angsuran kredit mencapai hanya 10%
dari total penghasilan) atau agak longgar. Semakin ketat standar kredit,
semakin kecil kemungkinan piutang tidak tertagih, dan sebaliknya. Hanya
saja apabila standar kredit semakin ketat, (calon) pembeli yang memenuhi
persyaratan mungkin ticlak banyak sehingga penjualan tidak setinggi yang
diharapkan.
(2) Kegiatan bagian kredit tidak baik. Sering kasus-kasus macetnya piutang
menunjukkan bahwa kemacetan tersebut disebabkan perusahaan tidak
menagih piutangnya. Terlambatnya penagihan dapat disebabkan karena
manajemen yang tidak baik (seperti sistem pencatatan piutang yang tidak
segera menunjukkan mana piutang yang harus ditagih), meskipun dapat
pula karena pembeli yang "nakal".
Misalkan sekarang bahwa penjualan kredit setlap tahun mencapai Rp12.000 juta,
maka piutang mencapai Rp3.000 juta dan bukannya Rp2.000 juta sebagaimana
standar penjualan. Apabila profit margin adalah sebesar 10%, maka perusahaan
memerlukan penambahan dana (karena keterlambatan pengumpulan piutang)
sebesar,
0190 (Rp3.000-Rp2.000)= Rp900 juta
Apabila biaya dana adalah sebesar 15%, maka kerugian karena tertundanya
pengumpulan piutang adalah,
0,15 (Rp900 juta)= Rp135 juta
Karena itu, apabila perusahaan dapat mempercepat pengumpulan piutang
(misalnya dengan menambah jumlah karyawan bagian penagihan) kembali ke 6x
perputaran dalam satu tahun, tetapi memerlukan biaya kurang dari Rp135 juta
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 75
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
dalam satu tahun, maka penambahan biaya tersebut dapat dibenarkan secara
ekonomis.
6.2. Siapa yang Diizinkan Membeli Secara Kredit?
Sekali perusahaan memutuskan untuk menjual secara kredit, timbul masalah
tentang siapa yang akan diijinkan untuk membeli secara kredit. Perlu ditentukan
standar dan kemudian dilakukan evaluasi terhadap para pembeli. Standar bisa
ditentukan berdasarkan atas evaluasi data historis terhadap variabel-variabel
tertentu, atau karena pertimbangan tertentu. Sebagai misal, karyawan yang
berpenghasilan tetap mungkin diijinkan membeli secara kredit karena ada kerja
sama dengan organisasi tempat karyawan tersebut bekerja (misal akan
memotong gaji setiap bulan sesuai dengan angsuran yang ditetapkan).
Evaluasi juga bisa dilakukan terhadap data historis variabel-variabel tertentu.
Sebagai misal, data historis menunjukkan bahwa karyawan yang telah
berkeluarga, mempunyai tempat tinggal sendiri, telah lama memangku suatu
jabatan tertentu, lebih tepat memenuhi pembayaran pada waktunya
dibandingkan dengan yang masing single, belum mempunyai tempat tinggal
sendiri, baru memangku jabatan tertentu, dan sebagainya. Karena itu mungkin
sekali kalau pembeli adalah individu, mereka diminta untulk mengisi formulir
seperti yang pada Tabel di bawah ini.
Contoh berikut menunjukkan sebagian formulir yang dipergunakan untuk
memperoleh informasi yang akan dipergunakan untuk analisis kredit terhadap
pembeli individual. Umumnya dijumpai hubungan (korelasi) tertentu antara
faktor-faktor tertentu dengan ketepatan pembeli melunasi pembelian mereka.
Sebagai misal, kalau seseorang telah lama bertempat tinggal di satu alamat,
rumah yang ditempati milik sendiri, mempunyai telpon, berkeluarga, dan telah
bekerja cukup lama, seringkali pembeli tersebut memang merupakan pembeli
yang baik.
Karena informasi yang dicantumkan dalam formulir sebagaimana pada tabel 6.4.
dan bagaimana melakukan analisis dan penafsirannya, haruslah dirancang
dengan seksama. Jangan sampai informasi yang diperoleh bukan hanya tidak
ada manfaatnya bahkan mungkin menyesatkan.
Untuk pembeli yang merupakan perusahaan, informasi yang diperlukan
biasanya menyangkut laporan keuangan (plus informasi dari rekan bisnis, dan
lain-lain). Sering bisa dibuat suatu model yang memisahkan (to discriminate)
pelanggan yang baik (dalam membayar tepat pada waktunya dan pelanggan
yang buruk (tidak membayar)). Teknik ini dalam statistik disebut sebagai
discriminant analysis.
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 76
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Tabel 6.4. Contoh informasi yang ingin diperoleh untuk langganan individu
1. Nama :______________
2. Alamat :______________
______________ Sudah berapa lama Anda tinggal di alamat tsb?
______________ < satu tahun ______ (1)
1 - 3 tahun ______ (2)
> tiga tahun ______ (3)
Apakah rumah tersebut,
Milik sendiri _________ (4)
Kontrak _________ (5)
Ikut/milik orang tua ____ (6)
3. Apakah rumah Anda memiliki telepon?
Ya _______ (7) Nomor: ________
Tidak _______ (8)
4. Status perkawinan:
Belum menikah _______ (9)
Menikah _______ (10)
Bercerai _______ (11)
5. Pekerjaan Anda?
___________________________________________________
6. Sudah berapa lama Anda di tempat Anda saat ini?
< satu tahun ________ (12)
1-3 tahun ________ (13)
>3 tahun ________ (14)
Terima kasih atas kesediaan Anda mengisi formulir ini.
__________, 20X3
Tanda tangan
Nama Terang: ____________________
Misalkan kita memperoieh data dari 15 perusahaan dengan debt to equity ratio
(DER) turn on equity (ROE) sebagaimana yang dicantumkan pada Tabel 6.5.
Tabel 6.5. Rasio-rasio DER dan ROE dari perusahaan yang baik dan yang buruk
Perusahaan DER ROE Status
1 110.00 20.00 Baik
2 80.00 17.00 Baik
3 75.00 19.00 Baik
4 84.00 17.50 Baik
5 93.00 21.00 Baik
6 87.00 15.20 Baik
7 95.00 14.50 Baik
8 67.00 14.00 Baik
9 85.00 13.00 Baik
10 82.00 11.00 Baik
11 169.00 -5.00 Buruk
12 200.00 -15.00 Buruk
13 180.00 0.00 Buruk
14 175.00 -12.00 Buruk
15 195.00 -8.00 Buruk
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 77
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Apabila data dalam tabel tersebut digambarkan, maka akan nampak seperti yang
terlihat pada Gambar 6.1. Gambar tersebut menunjukkan adanya
pengelompokan perusahaan, yaitu yang baik dan yang buruk. Kalau kita
gambarkan garis pemisah maka perusahaan yang ada di atas garis pemisah
merupakan perusahaan yang buruk (yaitu perusahaan dengan tanda o)
sedangkan yang di bawah merupakan perusahaan yang baik (yaitu perusahaan
dengan tanda *). Dengan demikian apabila ada suatu perusahaan yang ingin
membeli secara kredit, dan kemudian kita plotkan dalam gambar tersebut
ternyata berada di bawah garis, maka perusahaan tersebut kita nilai baik
sehingga kredit diberikan. Dan sebaliknya.
DER
200
Keterangan:
* = Baik
O = Buruk
67 ROE
-15 21
Gambar 6.1. Return on Equity dan DER dari perusahaan yang baik dan tidak
Dengan melakukan pengamatan sepintas terhadap gambar tersebut kita dapat
menyimpulkan adanya hubungan antara DER dan ROE dengan baik tidaknya
perusahaan. Perusahaan yang mempunyai DER tinggi dan ROE rendah (atau
bahkan negatif akan terklasifikasikan sebagai perusahaan yang tidak baik. Tentu
saja kita dapat menggunakan lebih dari dua varlabel untuk memisahkan
perusahaan yang baik dan yang buruk. Salah satu peneliti yang telah
menerapkan analisis diskriminan untuk memisahkan perusahaan yang bangkrut
dan tidak adalah Altman.
6.3. Analisis Terhadap Calon Pembeli
Sewaktu perusahaan memutuskan untuk memperkenankan seorang (calon)
pembeli membeli secara kredit, perusahaan dihadapkan pada kemungkinan
bahwa (calon) pembeli tersebut tidak membayar pembeliannya. Meskipun jalur
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 78
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
hukum terbuka untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi kalau nilai
pembelian tidaklah terlalu besar,
Peruhaan mungkin enggan menempuh jalur hukum. Dengan demikian masalah
yang dihadapi perusahaan adalah: secara individual hutang para pembeli
tersebut relafif kecil tetapi secara keseluruhan menjadi cukup besar. Sayangnya
perusahaan tidak mungkin menempuh jalur hukum secara kolektif untuk
pembeli-pembeli yang nakal.
Untuk itu dapat dilakukan analisis dengan menggunakan asumsi bahwa
seandainya pembeli tidak melunasi pembelian mereka, jumlah yang dibeli
tersebut dianggap hilang sebagai kerugian. Analisis ini memerlukan penerapan
konsep statistik.
Misalkan seorang pembeli akan membeli dengan kredit suatu barang dengan
harga, Harga pokok barang tersebut Rp80, dan diperkirakan probabilitas
pembeli tersebut akan melunasi pembeliannya adalah 0,95. Apakah permohonan
tersebut sebaiknya dikabulkan?
Apabila permohonan tersebut ditolak, maka kerugian perusahaan sama dengan
nol. Dengan demikian permohonan tersebut dapat dikabulkan hanya apabila
diharapkan akan memberikan laba yang lebih besar dari nol (expected profit > 0).
Tabel 6.6 Analisis expected profit
Expected profit = prob. akan membayar (harga-biaya) – prob. tidak membayar (biaya)
= 0,95 (100-80) – 0,05(80)
= 19 – 4
= 15
Karena expected profit positif, maka permohonan tersebut sebaliknya dikabulkan
Dengan demikian sejauh probabilitas Pembeli akan membayar masih di atas
80%, maka permohonan tersebut sebaiknya dikabulkan. Cut-off probabilitas
sebesar 80% tersebut diperoleh dari persamaan berikut ini. Pada saat expected
profit sama dengan nol, maka kita berada dalam posisi indifference. Dengan
demikian apabila probabilitas akan membayar diberi notasi p, maka
0 = p(100-80) - (1-p)(80)
= 20p - 80 + 80p
p = 0,80
Tentu saja semakin besar p semakin besar dorongan agar permohonan tersebut
dikabulkan. Trade-off antara mengabulkan (memperoleh laba. tetapi mungkin
jugs tidak terbayar) dan menolak (tidak akan terjadi kerugian karena tidak
terbayar, tetapi kehilangan penjualan) selalu muncul dalam analisis.
Dasar pernikiran yang sama dapat diterapkan untuk persoalan berikut ini.
Misalkan data historis menunjukkan bahwa kelompok pembeli yang "baik"
mempunyai rata-rata periode pengumpulan piutang 30 hari. Rata-rata biaya
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 79
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
pengumpulan Rp100 dan probabilitas piutang tidak terbayar hanya 0,02 (atau
2%).
Permohonan pembelian kredit dikabulkan kalau biaya penerimaan lebih besar
dari biaya penolakan. Biaya yang cliharapkan dari masing-masing alternatif
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Biaya penerimaan = Prob. tidak membayar (biaya variabel per unit) unit yang
dibeli (Tingkat keuntungan yang disyaratkan) (Periode
pengumpulan/36 (biaya variabel per unit) unit yang dibeli
+ Biaya pengumpulan
Biaya penolakan = (1-Prob. tidak terbayar) (laba marginal per unit) unit yang
dibeli
Misalkan biaya variabel (juga disebut sebagai biaya marginal) sebesar Rpl.800
per unit dan laba marginal (artinya tambahan laba yang diperoleh dari setiap
tambahan satu unit penjualan) Rpl.200 dan tingkat keuntungan yang disyaratkan
sebesar 18%. Dengan demikian apabila X adalah unit yang dibeli, maka untuk
kelompok "baik" biaya penerima dan penolakan yang diharapkan adalah,
Biaya penerimaan = 0,02(1.800 X) + 0,18(30/360)1.800 X + 100
= 36X + 27X + 100 = 63X + 100
Biaya penolakan = (1 - 0,02) 1.200 X
= 1.176X
Apa arti persamaan-persamaan tersebut. Apabila (calon) pembeli yang
dikelompokk,: "baik" bermaksud membeli 3.000 unit, maka
Biaya penerimaan = 63(3,000) + 100
= 189.100
Biaya penolakan = 1.176(3.000)
= 3.528.000
Dengan demikian apabila pembelian tersebut ditolak, maka biaya penolakannya
lebih besar daripada biaya penerimaannya. Karena itu seharusnya permohonan
pembelian tersebut dikabulkan.
6.4. Ringkasan
Keputusan tentang berapa banyak piutang akhirnya akan dimiliki perusahaan
maka tergantung sebagian besar pada bagian pemasaran. Meskipun demikian,
dampak keputusan tersebut akan terasa pada bagian keuangan, paling tidak
yang menyangkut masalah pendanaan. Dengan demikian, nampak bahwa
keputusan-keputusan keuanga bukan hanya terbatas dilakukan oleh bagian
keuangan saja.
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 80
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
Analisis ekonomi tentang piutang pada dasarnya mencoba membandingkan
manfaat dan pengorbanan yang timbul karena memiliki piutang. Karena itulah
diperlukan identifikasi manfaat dan pengorbanan tersebut.
Jumlah piutang yang dimiliki perusahaan, disamping ditentukan oleh penjualan,
persyaratan penjualan, dan standar kredit, juga dipengaruhi oleh manajemen
pengumpulan) piutangnya. Pencatatan piutang yang tidak baik, karyawan yang
kurang, merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mengapa rata-rata piutang
meningkat, membuat perputaran piutang lebih rendah dari standar persyaratan
penjualan.
Analisis untuk mengenali (calon) pembeli yang baik dan yang buruk dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang mungkin dipergunakan
adalah dengan menggunakan analisis diskriminan. Dalam setiap analisis untuk
pengambilan keputusan muncul trade-Off antara menolak atau mengabulkan
permohonan.
Konsep-konsep Penting dalam Bab ini
Perputaran piutang
Analisis ekonomi piutang
Analisis diskriminan
Syarat penjualan
Standar kredit
Analisis expected profit
Pertanyaan dan Soal
1. Manajer keuangan PT BOURNVILLE mengeluh bahwa perputaran
piutangnya terlalu lambat, yaitu hanya 3x dalam satu tahun. la ingin
mempercepat pengumpulan piutang dengan memberikan discount 2/30 net
120. Penjualan selama satu tahun berkisar Rp6.000 juta, dengan profit margin
15%. Seandainya 50% pembeli memanfaatkan discount yang ditawarkan,
berapakah rata-rata periode pengumpulan piutangnya? Apakah penawaran
discount tersebut menguntungkan secara ekonomi apabila biaya dana sebesar
18% per tahun?
2. Apakah tawaran discount pada syarat penjualan 2130 net 120 memang akan
menalak para pembeli untuk memanfaatkan discount tersebut?
3. Manajer keuangan PT DANA mengamati bahwa pengumpulan piutang yang
sering, lambat lebih banyak disebabkan karena administrasi piutang yang
kurang tertib. Sebagai akibatnya perusahaan sering terlambat menagih
piutangnya. Untuk itu perusahaan sedang merencanakan untuk memasang
sistern informasi dengan mengandalkan komputer sehingga setiap hari selalu
bisa diketahui pembeli mana yang harus ditagih. Investasi pada peralatan
komputer memerlukan dana Sebesar Rp50 juta, dengan biaya pengoperasian
setiap tahun sebesar Rp20 juta. Sistem tersebut diperkirakan bisa
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 81
Bab 6__________________________________________________________________Pengelolaan Piutang
dipergunakan selama 4 tahun. Dengan menggunakan sistem baru tersebut
diharapkan periode pengumpulan piutang bisa menjadi 60 hari,
dibandingkan dengan sistem lama yang memakan waktu 80 hari. Penjualan
kredit dalam satu tahun mencapai Rp3.000 juta. Biaya dana 18%. Apakah
sebaiknya perusahaan menginvestasikan dananya pada sistem yang baru?
4. Seandainya penjualan perusahaan diperkirakan meningkat 10% setiap tahun,
apakah rencana tersebut (soal nomor 3) menguntungkan?
5. Setiap satuan produk yang dijual PT LEUVENARDI memberikan profit
margin 30%. Seorang pembeli akan mengajukan secara kredit. Karena
pimpinan PT LEUVENARDI belum mempunyai informasi tentang pembeli
tersebut, ia memperkirakan bahwa ada probabilitas sebesar 10% pembeli
tersebut tidak akan melunasi pembeliannya. Apakah perusahaan sebaiknya
mengijinkan kredit tersebut? Berapa probabilitas minimum untuk melunasi
pembayaran agar permohonan pembelian kredit dapat dikabulkan?
Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 82