0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan8 halaman

Optimalisasi Pemesanan Bahan Baku

Paragraf pertama menjelaskan tujuan pengelolaan persediaan bagi perusahaan dagang dan industri. Paragraf berikutnya membahas pentingnya menjaga persediaan yang tepat untuk memenuhi permintaan tanpa meningkatkan modal kerja berlebih. Paragraf terakhir menjelaskan pentingnya sistem informasi dan pengadaan yang handal agar persediaan dapat dikelola secara optimal.

Diunggah oleh

HAIRUL ANWAR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan8 halaman

Optimalisasi Pemesanan Bahan Baku

Paragraf pertama menjelaskan tujuan pengelolaan persediaan bagi perusahaan dagang dan industri. Paragraf berikutnya membahas pentingnya menjaga persediaan yang tepat untuk memenuhi permintaan tanpa meningkatkan modal kerja berlebih. Paragraf terakhir menjelaskan pentingnya sistem informasi dan pengadaan yang handal agar persediaan dapat dikelola secara optimal.

Diunggah oleh

HAIRUL ANWAR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

Pengelolaan Persediaan

Perusahaan memiliki persediaan dengan maksud untuk menjaga kelancaran


operasinya. Bagi perusahaan dagang, persediaan barang dagangan
memungkinkan perusahaan memenuhi permintaan pembeli. Sedangkan bagi
perusahaan industri, persediaan bahan baku dan barang dalam proses bertujuan
untuk memperlancar kegiatan produksi, sedangkan persediaan barang jadi
dimaksudkan untuk memenuhi permintaan pasar. meskipun demikian tidak
berarti perusahaan harus menyediakan persediaan sebanyak-banyaknya untuk
maksud-maksud tersebut.

persediaan yang tinggi memungkinkan perusahaan memenuhi permintaan yang


mendadak meskipun demikian persediaan yang tinggi akan menyebabkan
perusahaan memerlukan modal kerja yang makin besar pula. Sebenarnya kunci
persoalannya adalah pada kata “mendadak”. Apabila perusahaan mampu
memprediksi dengan tepat kebutuhan akan baku (atau barang jadi), perusahaan
bisa menyediakan persediaan tepat pada hanya sesuai dengan jumlah yang
diperlukan. Pada saat tidak diperlukan, jumlah persediaan bisa saja sangat kecil
atau bahkan nol. Teknik ini yang dikenal sebagai just in time atau zero inventory.

Dengan demikian maka masalahnya adalah reliabilitas sistem informasi dan


sistem pengadaan bahan (atau sistem produksi), sehingga mampu menekan
jumlah persediaan pada waktu yang tidak diperlukan. Masalah pengelolaan
persediaan merupakan contoh lain bahwa keputusan keuangan mungkin
dilakukan bukan oleh "bagian keuangan". Sistem ini biasanya menjadi tanggung
jawab bagian produksi dan/atau bagian pembelian. Bagi manajemen keuangan
kita perlu memahami dampak penggunaan suatu kebijakan persediaan terhadap
aspek keuangan.

7.1. Beberapa Sistem Pengawasan Persediaan

Jumlah persedinan dikaitkan dengan variabel tertentu. Cara ini merupakan cara
yang sangat sederhana. Misalkan perusahaan menetapkan bahwa persediaan
barang jadi rata-rata akan sebesar satu bulan penjualan. Dengan demikian
apabila penjualan meningkat, rata-rata persediaan juga akan meningkat,
demikian pula kalau menurun. Cara lain misalnya mengkaitkan kapan harus
memesan kembali dan jumlah yang dipesan dihubungkan dengan kebutuhan
selama periode tertentu. Misalkan kebijakan perusahaan adalah memesan bahan
baku pada saat jumlah bahan tinggal mencapai dua minggu kebutuhan
produksi, dan jumlah yang dipesan sebesar kebutuhan dua bulan produksi.

Cara-cara yang sederhana tersebut memungkinkan bagian gudang untuk


mengajukan permohonan pembelian bahan baku apabila melihat bahwa
persediaan telah mencapai batas yang telah ditetapkan. Yang lebih sulit adalah

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 83


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

untuk persediaan barang jadi. Diperlukan koordinasi antara bagian pemasaran


dengan bagian produksi, terutama untuk perusahaan yang menghasilkan
berbagai jenis produk. Sebab dapat saja terjadi bagian produksi justru
memproduksikan jenis barang yang tidak diminta oleh pasar, sedangkan
permintaan produk lain tidak dapat dipenuhi karena persediaannya kosong.

Economic Order Quantity. Salah satu model yang paling sering dibicarakan
dalam berbagai buku teks adalah model Economic Order Quantity (EOQ). Model
ini mendasarkan pada pemikiran yang sama dengan sewaktu kita membicarakan
model persediaan pada pengelolaan kas. Pemikirannya adalah bahwa:

(1) Kalau perusahaan memiliki rata-rata persediaan yang besar, untuk jumlah
kebutuhan yang sama dalam suatu periode, berarti perusahaan tidak perlu
melakukan pembelian terlalu sering. Jadi menghemat biaya pembelian
(pemesanan).

(2) Tetapi kalau perusahaan membeli dalam jumlah besar sehingga bisa
menghemat biaya pembelian, perusahaan akan menanggung persediaan
dalam jumlah yang besar pula. Berarti menanggung biaya simpan yang
terlalu tinggi.

(3) Karena itu perlu dicari jumlah yang akan membuat biaya persediaan terkecil.
Biaya persediaan adalah biaya simpan plus biaya pembelian (pemesanan).

Model yang digunakan sama seperti pada Bab 5.

Misalkan kebutuhan bahan baku dalam satu tahun sebesar D satuan. Pemakaian
bahan dilakukan secara ajeg setiap waktu. Perusahaan tersebut memesan Q
satuan setiap kali pesan. Dengan demikian frekuensi pesanan dalam satu tahun
adalah,

Frekuensi pesanan dalam satu tahun = D/Q


Persediaan yang dimiliki oleh perusahaan akan berkisar dari 0 sampai dengan Q
satuan. Dengan demikian rata-rata persediaan buku tersebut adalah,

Rata-rata persediaan = (Q/2) satuan

Kalau biaya simpan per satuan per tahun dinyatakan sebagai i, maka biaya
simpan per tahun yang akan ditanggung perusahaan adalah,

Biaya simpan per tahun = (Q/2)i

Apabila setiap kali perusahaan memesan memerlukan biaya sebesar o, maka


biaya pemesanan dalam satu tahun adalah,

Biaya pemesanan dalam satu tahun = (D/Q)o


Dengan demikian total biaya persediaan dalam satu tahun (kita beri notasi Y)
adalah,

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 84


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

Y = (0/2)1 + (D/Q)o ...(7.1)

Biaya ini yang harus diminimumkan. Untuk itu persamaan (7.1) tersebut kita
derivasikan terhadap Q, dan kita buat sama dengan nol.
(dY/dQ) = (i/2) - (oD/Q2) = 0
2
(oD/Q ) = (i/2)
2
iQ = 2oD
Q = [(2oD)/r]1/2

Yang juga bisa dinyatakan sebagai,

2oD
Q
i
...(7.2)

Misalkan bahwa kebutuhan bahan baku dalam satu tahun sebesar 3.600 satuan,
dengan harga Rp50.000 per satuan. Kebiasaan perusahaan adalah melakukan
pembelian setiap bulan sekali. Biaya simpan (termasuk biaya modal) berkisar
18% per tahun, sedangkan biaya setiap kali memesan sebesar Rp200.000.
Berdasarkan kebiasaan tersebut, maka biaya persediaannya adalah sebagai
berikut:

Jumlah yang dipesan setiap bulan = 3.600/12


= 300 satuan
Nilai rata-rata persediaan = (300 x Rp50.000)/2
= Rp7,50 juta
Biaya simpan dalam satu tahun = Rp7,50 juta x 18%
= Rpl,35 juta
Biaya pesan dalam satu tahun = Rp200.000 x 12
= Rp2,40 juta
Total biaya persediaan = Rpl,35 + Rp2,40
= Rp3,75 juta

Dengan menerapkan model EOQ, perusahaan akan dapat menekan biaya


persediaannya. Penerapan rumus EOQ menghasilkan jumlah pembelian sebagai
berikut:

Q = [(2 x 3.600 x Rp200.000)/(0,18)(Rp50.000)]1/2

= 400 satuan

Dengan demikian maka

Biaya pesan = (3-600/400) x Rp200.000


= Rp1,80 juta
Biaya simpan = [(400 x Rp50.000)/2] x 18%
= Rpl,80 juta

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 85


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

Total biaya persediaan = Rpl,80 + Rpl,80


= Rp3,60 juta
Yang berarti perusahaan dapat menghemat biaya sebesar Rp150.000 dalam satu
tahun.

Apabila waktu yang diperlukan sejak saat bahan dipesan sampai dengan bahan
sampa di perusahaan adalah selama setengah bulan (disebut sebagai lead time),
maka perusahaan harus memesan pada saat bahan baku mencapai D/24. Tingkat
persediaan ini disebut sebagai titik pernesanan kembali (reorder point).
Dalam contoh yang kita pergunakan berarti titik pesan kembalinya adalah,

3.600/24 = 150 unit


Jadi pada waktu jumlah bahan baku telah mencapai 150 unit, perusahaan akan
melakukan pemesanan kembali.

Untuk berjaga-jaga terhadap ketidakpastian, baik dalam hal penggunaan


maupun dalam hal lead time, perusahaan mungkin menetapkan perlunya
persediaan keamanan (safety stocks). Sebab mungkin terjadi bahwa selama lead
time penggunaan bahan meningkat, atau pengiriman bahan mengalami
keterlambatan. Misalkan ternyata pengiriman mengalami keterlambatan,
bukannya setengah bulan tetapi mencapai satu bulan. Dengan demikian apabila
perusahaan tidak memiliki safety stocks perusahaan akan kehabisan bahan
(stockout) sebanyak 150 unit.

Penentuan besarnya persediaan keamanan bisa dilakukan dengan


membandingkan biaya kerugian yang diharapkan kalau perusahaan kehabisan
Persediaan (expected loss pada saat perusahaan memiliki safety stock yang lebih
besar. Cara ini memerlukan estimasi tentang stockout costs dan probabilitas
kehabisan bahan.

Sekarang misalkan perusahaan menentukan safety stocks sebanyak 150 unit. Apa
yang terjadi dengan rata-rata persediaan? Sebelum perusahaan menentukan
safety stocks perkembangan jumlah bahan baku ditunjukkan pada Gambar 7.1.

400

150 Recorder point

0 Waktu

Gambar 7.1. Perkembangan persediaan bahan baku sewaktu tidak memiliki safety stock

Pada saat tidak terdapat safety stocks maka jumlah persediaan maksimal adalah
400 nit, dengan minimal nol unit. Karena itu rata-rata persediaan adalah 200 unit.
Selama satu tahun terdapat 9 "segitiga", karena dilakukan 9x pembelian selama
satu tahun tersebut. Reorder point dilakukan pada titik 150 unit.

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 86


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

Pada saat ditentukan persediaan keamanan sebanyak 150 unit, maka


perkembangan persediaan bahan baku akan nampak seperti pada Gambar 7.2.

550

300 Recorder point

150
SAFETY STOCKS

Gambar 7.2. Perkembangan persdiaan bahan baku dengan safety stock sebanyak 150 unit
Perhatikan bahwa dengan adanya persediaan keamanan sebanyak 150 unit akan
membuat persediaan maksimum mencapai 550 unit, dan minimum 150 unit.
Dengan demikian rata-rata persediaan adalah 350 unit. Meskipun demikian
frekuensi pembelian selama satu tahun tetap tidak mengalami perubahan, yaitu
9x. Hanya saja sekarang reorder point dilakukan pada saat persediaan mencapai
300 unit.

Masalah yang perlu diperhatikan dalam penerapan model tersebut adalah pada
asumsi-asumsi yang mendasarinya. Sebagai misal model tersebut menggunakan
asumsi harga bahan baku konstan. Bisa terjadi pada saat diperkirakan akan
terjadi kenaikan harga bahan baku, perusahaan sengaja membeli dalam jumlah
besar. Demikian juga kadang. kadang perusahaan melakukan pembelian di atas
jumlah yang paling ekonomis (atau melanggar kebijakan yang biasa dianut)
dengan maksud untuk memperoleh quantity discount.

Untuk ilustrasi, misalkan perusahaan di atas memperoleh tawaran quantity


discount sebesar 2% apabila perusahaan membeli dalam jumlah minimal 1.000
unit setiap kali pembelian. Apabila perusahaan memanfaatkan discount ini, maka
biaya yang dapat dihemat adalah,

2% x 3.600 x Rp50.000 = Rp3.600.000

Tetapi sebagai akibatnya biaya persediaan akan naik apabila dibandingkan


dengan biaya persedlaan dengan menggunakan EOQ. Biaya persediaan akan
sebesar,

Biaya pesan = 3,6 x Rp200.000 = Rp 720.000


Biaya simpan = (1000/2) x 0,18 x Rp50.000 = Rp4.500.000
Biaya persediaan Rp5.220.000

Dengan demikian tambahan biaya persediaan adalah,


Rp5.220.000 - Rp3.600.000 = Rpl.620.000
Karena tambahan biaya masih lebih kecil dibandingkan dengan diskon yang
dinikmati maka perusahaan sebaiknya memanfaatkan tawaran quantity discount
tersebut. Dengan demikian perusahaan tidak akan membeli dalam jumlah sesuai
dengan rumus EOQ.

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 87


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

7.2. Kaitan Pengelolaan Persediaan dengan Manajemen Keuangan

Apabila perusahaan mengelola persediaan dengan dikaitkan pada faktor tertentu


(misal produksi atau penjualan), sangat boleh jadi bahwa jumlah persediaan
akan proporsional dengan faktor tersebut. Sebagai misal perusahaan
menentukan bahwa persediaan barang jadi sebesar setengah bulan penjualan.
Dengan demikian apabila penjualan dalam satu tahun sebesar Rp48.000 juta,
maka persediaan akan sebesar Rp48.000/24 = Rp2.000 juta. Apabila penjualan
meningkat menjadi Rp60.000 juta (naik 25%), maka persediaan akan naik
menjadi Rp60.000 juta/24 = Rp2.500 juta (juga naik 25%).

Dalam keadaan semacam ini masuk akal kalau manajer keuangan menggunakan
metode sales percentage untuk merencanakan keuangan atau menggunakan data
tahun lalu sebagai dasar perbandingan rasio perputaran persediaan (lihat Bab 4).
Masalah menjadi lain kalau diterapkan model EOQ. Perhatikan bahwa
persamaan (9.2) tidak menunjukkan sifat hubungan yang linier. Masalah akan
makin kompleks kalau dimasukkan adanya faktor safety stock. Penerapan model
ini menyebabkan kita tidak bisa membandingkan efisiensi pengaturan
persediaan (yang diukur dengan perputaran persediaan) dari waktu ke waktu.

Kalau kita menggunakan contoh yang sama dengan contoh di atas, maka
seandainya perusahaan menerapkan model EOQ tanpa persediaan keamanan
maka perputaran bahan baku adalah,

Pemakaian bahan/rata-rata persediaan = 180 juta/10 juta = 18x

Sekarang misalkan pemakaian bahan meningkat 25% menjadi 4.500 unit dalam
satu tahun. Perhitungan EOQ akan berubah menjadi,

Q = [(2 x 4.500 x Rp200.000)/(0,18)(Rp50.000)]1/2


= 447

Dengan demikian nilai rata-rata persediaan adalah,

(447 x Rp50.000)/2 = Rp11,175 juta

Yang berarti perputaran persediaan bahan baku menjadi,

(4.500xRp50.000)/Rp11,175 juta = 20,13x

Dengan demiklan apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya,


perputaran persediaan nampak meningkat. Hal ini mungkin ditafsirkan
membaiknya manajemen persediaan. Padahal sebenarnya kebijaksanaan yang
diterapkan sama saja. Yaitu menerapkan EOQ.

Fenomena sebaliknya akan muncul apabila pemakaian bahan berkurang.


Artinya, perputaran persediaan bahan baku akan menurun apabila diterapkan

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 88


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

model EOQ dan terjadi penurunan aktivitas perusahaan. Karena itulah


penggunaan rasio-rasio keuangan sebagai ukuran kinerja manajemen perlu
berhati-hati, dan pernahaman terhadap kebijaksanaan perusahaan perlu
dilakukan agar tidak terjadi kesalahan penafsiran.

7.3. Ringkasan

Pengaturan persediaan pada umumnya berada di bawah wewenang bagian


produksi atau pembelian. Meskipun demikian, keputusan-keputusan yang
diambil akan mempunyai dampak bagi keuangan perusahaan. Secara umum
terdapat dua kekuatan yang berlawanan untuk memiliki persediaan yang
banyak atau sedikit.

Persediaan yang besar akan menimbulkan keluwesan yang lebih besar bagi
perusahaan, tetapi akan menimbulkan biaya yang besar pula. Sebaliknya
persediaan yang kecil akan menghemat biaya, tetapi dapat menimbulkan
gangguan produksi dan/atau penjualan.

Karena itulah muncul konsep "persediaan hanya apabila diperlukan". Berbagai


metode dicoba untuk mengatur persediaan, dengan tujuan untuk
menyeimbangkan antara biaya yang timbul karena memiliki persediaan dan
kerugian yang mungkin terjadi kalau kehabisan persediaan.

Konsep-konsep Penting dalam Bab ini

Economic order quality


Biaya pesan
Biaya simpan
Biaya persediaan
Lead time
Reorder point
Safety stock
Stockout cost
Perputaran bahan baku

Pertanyaan dan Soal

1. PT Inti ingin menerapkan model EOQ untuk pengawasan persediaan bahan


baku karena diamati pemakaian bahan relatif konstan dari waktu ke waktu.
Kebutuhan bahan baku dalam satu tahun sebesar 12 juta unit, dengan harga
Rpl00 per unit. Untuk pernesanan diperlukan biaya sebesar Rp250.000 sekali
pesan, dan biaya modal yang relevan ditaksir sebesar 16%. Berapa jumlah
bahan baku yang seharusnya dibeli setiap kali pembelian? Berapa kali
frekuensi dalam satu tahun?

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 89


Bab 7________________________________________________________________Pengelolaan Persediaan

2. Misalkan kemudian operasi perusahaan pada soal nomor 1 mengalami


penurunan, sehingga pemakaian bahan baku berkurang sebesar 25%. Berapa
jumlah bahan baku yang seharusnya dibeli setiap kali pembelian? Berapa
frekuensi beli dalam satu tahun? Apa kesimpulan Saudara?

3. Analis keuangan perusahaan tersebut (soal nomor 1 dan 2) biasa menghitung


efisiensi persediaan bahan baku dengan menggunakan rumus,

Biaya bahan
Perputaran 
Rata  rata persediaan bahan

la berpendapat bahwa semakin tinggi perputaran bahan baku, semakin


efisien pengelolaan persediaan bahan baku. Dengan menggunakan
perhitungan pada soal nomor 1 dan 2, hitunglah perputaran bahan baku
sebelum dan setelah mengalami penurunan kegiatan. Apa kesimpulan
Saudara?

4. Misalkan perusahaan (soal nomor 1 dan 2) menetapkan persediaan


keamanan (safety stock) sebesar 100.000 satuan. Berapakah perputaran
persediaan bahan baku apabila perusahaan menggunakan model EOQ?

5. Apakah manajer keuangan perlu mengetahui kebijaksanaan persediaan yang


diambil oleh manajer produksi atau bagian pembelian? Mengapa?

Mata Kuliah Manajemen Keuangan_________________________________________________ 90

Anda mungkin juga menyukai