TUGAS TEORI BEDAH DAN ANESTESI
MAKALAH LAMPU OPERASI
Denis Kurniar Wicaksono
P27838018038
2A2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Lampu operasi adalah lampu yang digunakan untuk penerangan
kegiatan pembedahan di kamar operasi. Penggunaan lampu operasi biasa
dipasang secara manual atau secara mobile. Untuk pemasangan secara
manual digunakan pada ruang operasi sedangkan untuk ruang tindakan rawat
jalan/darurat digunakan lampu dengan system mobile. Lampu operasi tidak
sama dengan lampu penerangan biasa, lampu operasi memerlukan reflector
khusus yang dapat memfokuskan cahaya sehingga tidak timbul bayangan dan
tepat pada objek. Untuk penggantian intensitas lampu operasi di rumah sakit,
pada umumnya masih menggunakan tombol manual. Pada saat proses
penggantian intensitas lampu operasi tersebut user melakukan dengan
menekan tombol dimana user yang masih dalam kondisi menggunaka hand
glove, hal dikhawatirkan akan terjadi kontaminasi bakteri yang akan
berdampak pada pasien yang sedang dioperasi. Selain intensitas, lampu
operasi juga bisa diatur arah penyinarannya. Kebanyakan pada rumah sakit
pengaturan arah penyinaaran dilakukan dengan menarik tuas manual. Hal
tersebut juga mengakibatkan kontaminasi bakteri.
1.2 BATASAN MASALAH
Mahasiswa dapat memahami pengertian Lampu Operasi, blok diagram,
prinsip kerja, perawatan dan troubleshooting Lampu Operasi .
1.3 RUMUSAN MASALAH
Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai hal yang berkaitan dengan
lampu operasi, seperti teori dasar, jenis lampu operasi, perawatan, serta
troubleshooting.
1.4 TUJUAN
1. Mengetahui blok diagram dan cara kerja dari lampu operasi.
2. Mengetahui perawatan dari lampu operasi.
3. Mampu menganalisa masalah jika terjadi kerusakan dari lampu operasi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Lampu Operasi
Lampu operasi merupakan sebuah perangkat medis yang digunakan
untuk membantu tenaga medis selama prosedur pembedahan dengan
menerangi area lokal atau rongga pasien. Sebuah kombinasi dari lampu
operasi biasa disebut dengan “Sistem lampu operasi” Lampu operasi
mempunyai beberapa tipe yang disesuaikan dengan kebutuhan dengan
menggunakan Halogen maupun dengan system terbaru (LED). Teknologi
LED di desain dengan isolasi panas yang kompleks untuk mengurangi
turbulensi panas di di permukaan atas lampu LED. Dengan ukuran yang lebih
keil maka sinar jatuh tepat pada area Bedah pada operasi, sehingga dapat
mencegah infeksi silang.
Beberapa kualifikasi dasar untuk kelayakan lampu operasi adalah
sebagai berikut :
a. Cahaya homogen
Cahaya yang digunakan harus menggunakan pencahayaan yang baik pada
permukaan yang datar, sempit atau jauh di dalam rongga, di mana hal ini
akan memudahkan dalam proses operasi. Meskipun hal ini tidak ada
kendala serius yang terjadi, biasanya kendala yang ada adalah cahaya
terhalang oleh kepala atau tangan ahli medis yang sedang bertugas.
b. Lux
Penerangan sentral yang digunakan harus berada di antara 160.000 dan
40.000 lux. Lux merupakan satuan untuk menyatakan jumlah cahaya yang
tampak di mana diukur dengan suatu alat yang bernama luxmeter pada
titik tertentu.
c. Diameter Bidang
Diameter bidang cahaya pada sekitar pusat cahaya berakhir di mana
pencahayaan mencapai 10% dari Ec, ini biasanya diketahui dengan
diameter bidang cahaya D10. Diameter bidang cahaya pada sekitar pusat
cahaya berakhir di mana pencahayaan mencapai 50% Ec, ini disebut
dengan diameter bidang cahaya D10. Nilai yang dilaporkan adalah rata-
rata dari empat penampang yang berbeda dari pusat cahaya. Diameter D50
minimal harus 50% dari D10.
d. Penampakan warna
Pada saat membedakan jaringan warna dalam rongga yang benar, indeks
rendering warna (Ra) harus antara 85 dan 100.
e. Kemungkinan cadangan
Ketika terjadi gangguan dari sumber daya listrik, cahaya harus
dikembalikan dalam waktu 5 detik dengan intensitas lux sebelumnya
setidaknya 50%, akan tetapi tidak kurang dari 40.000 lux. Dalam waktu 40
detik cahaya harus benar-benar dikembalikan dalam kecerahan aslinya.
Yang paling penting dari semua itu adalah adanya trafo untuk mengatur
tegangan listrik yang akan dipergunakan, di mana biasanya tegangan yang
diperlukan sebesar 24 volt. Dan yang tidak kalah penting adalah adanya saklar
yang dipergunakan untuk menyalakan lampu operasi.
2.2 Prinsip Kerja Lampu Operasi
1. Lampu Operasi Halogen
Prinsip kerja dari lampu ini adalah dengan memanfaatkan tegangan dari
PLN untuk menyuplai lampu yang sebelumnya masuk rangkaian dimer untuk
mengatur intensitas lampu. Lampu operasi tidak sama dengan lampu-lampu
pada umumnya, arena lampu operasi harus memiliki syarat tidak boleh panas
dan tidak ada bayangan karena dapat mengganggu proses tindakan operasi,
oleh karena itu lampu operasi ini memakai lampu khusus yaitu lampu halogen.
Sifat dari lampu halogen adalah sebagai berikut.
Memiliki kepekaan yang cukup tinggi
Termasuk zat kimia
Bukan radio aktif
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan lampu halogen
adalah tidak boleh disentuh dengan tangan karena tangan mengandung
keringat sehingga lampu akan pecah karena panas. Bentuknya ada yang ulir
dan ada yang soket (pemasangan).
Gambar 3.1 Lampu Operasi Halogen
2. Lampu Operasi LED
Cara kerja dari lampu operasi adalah merubah energy listrik menjadi
cahaya oleh LED. Proses pembentukan cahaya pada LED yaitu
Mengubah elektron menjadi foton. Elektron yang dialiri oleh sumber
tegangan (FORWARD BIAS) akan mengalami medan elektromagnetik
hingga menimbulkan arus listrik. Arus listrik ini kemudian akan
meng”ON”kan dioda (LED) hingga foton dalam LED akan memancarkan
energi dalam bentuk cahaya LED ( Lizuka, 2008). Berikut gambaran
mengenai prinsip kerja dari LED.
Dalam LED, dapat dipandang sebagai sebuah kristal. Kristal ini terdiri
dari lubang (hole) dan elektron (ion), setiap elektron akan mengisi lubang
yang kosong dalam rekombinasi ini disebabkan oleh hantaran arus listrik dari
sumber tegangan (panjar maju). Ketika elektron telah berekombinasi dengan
lubang tadi, menyebabkan elektron terlepas dari energi ikatnya. Rekombinasi
ini menghasilkan energi yang terlepas dari elektron. Energi yang terlepas
inilah digunakan untuk memancarkan foton (rekombinasi radiaktif),
sebagaian lain digunakan untuk memanaskan partikel-partikel kristal
(rekombinasi non-radiaktif). Pancaran cahaya ini merupakan cahaya sebuah
LED. Beberapa karakteristik dari Light Emitting Diode (LED) antara lain :
Warna (panjang gelombang) ditentukan oleh band-gap
Intensitas cahaya hasil berbanding lurus dengan arus
Non linieritas tampak pada arus rendah dan tinggi
Pemanasan sendiri (self heating) menurunkan efisiensi pada arus tinggi.
Gambar 3.3 Blok Diagram Lampu Operasi LED
2.3 Blok Diagram Lampu Operasi
AC Digital Selector
110/230 TRAFO - Power Kontrol LED
V - Intensitas kontrol
Gambar 3.3 Blok Diagram Lampu Operasi LED
1. AC 110/230 adalah sebagai sumber catu daya utama
2. Intensitas Regulator adalah sebagai pengatur tegangan yang akan megubah
intensitas cahaya yang akan dihasilkan oleh LED.
3. Trafo adalah sebagai penurun tegangan sesuai batas maksimal tegangan
kerja LED.
4. Rectifier adalah sebagai penyearah arus dari arus AC menjadi DC. Karena
LED bekerja dengan tegangan DC.
5. LED1-LED6 adalah sebagai penghasil cahaya dengan prinsip mengubah
energi listrik menjadi cahaya.
Dari sumber daya “AC110/230 V” tegangan akan diatur di “Intensitas
Regulator”. Disini tegangan diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kebutuhan untuk membuat perbedaan intensitas cahaya yang akan dihasilkan
LED1-6, setelah tegangan diatur tegangan yang semula AC akan di searahkan
menjadi DC oleh “Rectifier” karena tegangan yang dibutuhkan LED1-6 adalah
DC. Kemudian tegangan memberikan energy untuk “LED1-6” bekerja
sehingga menghasilkan cahaya. Besar kecilnya intensitas cahaya yang
dihasilakan LED1-6 tergantung dari besarnya tegangan yang dihasilakan oleh
intensitas regulator. Semakin besar tegangan intensitas cahaya yang dihasilkan
semakin kuat.
Digital Selector
Power
TRAFO - Power Kontrol LAMP
Supply
- Intensitas kontrol
Gambar 3.4 Blok Diagram Lampu Operasi Halogen
Cara kerja lampu operasi yaitu tegangan dari supply PLN masuk ke trafo
step down untuk menurunkan tegangannya, kemudian akan masuk ke blok
rangkaian digital selector. Rangkaian digital selector akan mengatur power
dan untuk mengatur intensitas cahayanya dengan mengatur potensiometer.
Dari blok digital selector ini intensitas lampu dapat diatur sesuai kebutuhan
untuk melakukan operasi. Dan kemudian masuk kelampu untuk menyinari
objek.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lampu Operasi adalah lampu yang digunakan untuk penerangan kegiatan
operasi. Lampu operasi dipasang secara manual dan mobile untuk ruang-ruang
tertentu dipasang secara manual, untuk tindakan rawat jalan digunakan sistem
yang mobile. Lampu operasi tidak sama dengan lampu penerangan biasa lampu
operasi memerlukan reflector khusus yang dapat memfokuskan cahaya sehingga
tidak timbul bayangan dan tepat pada obyek yang dioperasi.
Lampu operasi mempunyai beberapa tipe yang disesuaikan dengan
kebutuhan dengan menggunakan Halogen maupun dengan system terbaru (LED).
Teknologi LED di desain dengan isolasi panas yang kompleks untuk mengurangi
turbulensi panas di di permukaan atas lampu LED. Dengan ukuran yang lebih keil
maka sinar jatuh tepat pada area Bedah pada operasi, sehingga dapat mencegah
infeksi silang. Lampu halogen adalah sebuah lampu pijar dimana
sebuah filamen wolfram disegel di dalam sampul transparan kompak yang diisi
dengan gas lembam dan sedikit unsur halogen seperti iodin atau bromin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Fajar, Ahmadfauzi, 2018, “Prinsip kerja lampu operasi”.
[Link]
Diakses pada : 25 April 2020
2. No Name, 2015, “Lampu Operasi Halogen”.
[Link]
Diakses pada : 25 April 2020
3. No Name, 2016, “ Lampu Operasi LED”.
[Link]
Diakses pada : 25 April 2020
4. Violeta, Cindy, 2018, “ Laporan Lampu Operasi”.
[Link]
Diakses pada : 25 April 2020