Formulasi Ransum Ruminansia Ternak
Formulasi Ransum Ruminansia Ternak
RANSUM RUMINANSIA
Disusun oleh:
Kelompok III
i
HALAMAN PENGESAHAN
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
sehingga atas limpahan rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan
laporan Ransum Ruminansia. Penyusun mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan
ini, diantaranya :
1. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., selaku dekan Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
2. Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., Ir.
Nanung Danar Dono, [Link]., MP., Ph.D., IPM., R. Edwin Indarto,
[Link]., MP., dan Insani Hubi Zulfa, [Link]., [Link]., selaku dosen
pengampu mata kuliah Ransum Ruminansia Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
3. Seluruh Asisten Praktikum Ransum Ruminansia Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
4. Laboran Laboratorium Ilmu Makanan Ternak,
5. Pihak-pihak yang telah membantu dan tidak bisa kami sebutkan
satu-persatu.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan,
untuk itu segala kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan. Kritik
dan saran tersebut kiranya dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas
dan kuantitas penyusun dimasa yang akan datang.
Semoga dengan tersusunnya laporan Ransum Ruminansia ini dapat
memberi sumbangsih yang bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi
mahasiswa peternakan Universitas Gadjah Mada dalam memperkaya
khasanah budaya serta ilmu yang dimiliki.
Yogyakarta, Mei 2019
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................iii
DAFTAR ISI......................................................................................................iv
DAFTAR TABEL................................................................................................v
DAFTAR GRAFIK.............................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................vii
PENDAHULUAN...............................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................2
Bahan Pakan.................................................................................................2
Ransum dan Ransum Seimbang...................................................................5
Formulasi Ransum.........................................................................................6
Produktivitas Ternak......................................................................................8
BAB III MATERI DAN METODE.......................................................................9
Penyusunan Ransum....................................................................................9
Pencampuran Pakan.....................................................................................9
Penimbangan Ternak..................................................................................10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................11
Formulasi dan Pemberian Ransum.............................................................11
Produktivitas Ternak....................................................................................12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................16
Kesimpulan..................................................................................................16
Saran...........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................17
LAMPIRAN......................................................................................................18
iv
DAFTAR TABEL
v
DAFTAR GRAFIK
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vii
BAB I
PENDAHULUAN
Pakan merupakan salah satu faktor utama dalam kehidupan ternak. Pakan
menjadi sumber energi bagi ternak dalam beraktivitas dan memenuhi kebutuhan nutrisi
lain seperti protein, lemak dan mineral. Pakan menjadi faktor yang harus
dipertimbangkan susunan dan komposisi pemberiannya dalam usaha peternakan selain
faktor genetik. Kebutuhan pakan yang bervariasi antar ternak menjadi catatan yang
cukup penting dalam memelihara ternak.
Ternak ruminansia adalah ternak yang memiliki lambung jamak yaitu rumen,
vertikulum, omasum dan abomasum. Ternak ruminansia merupakan ternak berkuku
genap seperti sapi, kambing, domba dan kerbau. Nama ruminansia berasal dari bahasa
Latin “ruminare” yang artinya mengunyah kembali atau memamah biak. Rumen ternak
ruminansia terdapat berjuta-juta mikroba yang hidup bersimbiosis dengan ternak inang
dan sangat berguna dalam proses pencernaan. Dengan mikroba-mikroba tersebut,
ternak ruminansia mampu memanfaatkan bahan makanan berkadar serat tingi seperti
rumput-rumputan.
Ternak dalam memenuhi kebutuhan hidup pokok, produksi dan reproduksi maka
pakan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan ternak dan berkualitas, selain
rerumputan ternak dapat diberikan kosentrat sebagai pelengkap nutrien kedalam
ransum pakan. Kosentrat adalah pakan tambahan ternak yang berfungsi sebagai
pelengkap nutrien didalam pakan seperti sumber protein, vitamin dan mineral yang
sangat dibutuhkan oleh ternak. Ransum pakan adalah campuran dari beberapa pakan
yang disusun sesuai dengan kebutuhan ternak sehingga zat gizi didalam ransum dapat
mencukupi hidup pokok, produksi dan reproduksi ternak. Ransum ternak dapat dilihat
berdasarkan berat badan dan fase pertumbuhan ternak.
1
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan Pakan
Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna
sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorpsi dan bermanfaat bagi ternak. Oleh karena
itu agar dapat disebut sebagai bahan pakan maka harus memenuhi semua persyaratan
tersebut, sedang yang dimaksud dengan pakan adalah bahan yang dapat dimakan,
dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan tidak menimbulkan
keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang mengkonsumsinya (Kamal,
1998).
Gaplek. Gaplek adalah umbi kayu setelah dikupas kulitnya dan dikeringkan
dengan menggunakan sinar matahari. Tujuan pengeringan ubi kayu ini adalah agar
dapat disimpan dalam waktu cukup lama, mudah penanganannya dan untuk
mengurangi atau menghilangkan kandungan glukosida yang dapat menghasilkan HCN
oleh adanya aktivitas enzim tertentu. Gaplek banyak diproduksi di daerah Gunungkidul,
DIY. Protein yang terkandung dalam gaplek sebesar 1,7%, serat kasar 1,6%, energi
metabolisme 2600 kkal/kg, Ca 0,12%, dan P 0,04% (Agus, 2018).
Pollard. Pollard merupakan limbah dari penggilingan gandum menjadi terigu.
Australia merupakan penghasil pollard terbesar di dunia. Angka konversi pollard dari
bahan baku sekitar 25 sampai 26%. Pollard merupakan pakan yang popular dan
penting pada pakan ternak, karena palatabilitanya cukup tinggi. Pollard tidak
mempunyai antinutrisi, tetapi penggunaan pollard perlu dibatasi mengingat adanya sifat
pencahar yang ada pada pollard. Karena danya sifat pencahar, maka pollard akan
bernilai apabila diberikan pada ternak yang baru atau setelah melahirkan. Pollard juga
akan bernilai sangat baik apabila diberikan pada ternak-ternak dara (Tim Laboratorium
IPB, 2012). Komposisi kimia pollard antara lain DM 90,3%, abu 3,5%, protein kasar
16,3%, lemak kasar 4,9%, dan serat kasar 8,8%(Annyu, 2016).
Kleci. Potensi kulit ari kedelai atau kleci sangat besar karena pada proses
pembuatan tempe selalu dihasilkan limbah kulit ari kedelai. Kleci banyak diperoleh di
daerah Jawa. Salah satu upaya memanfaatkan limbah sebagai pakan ternak, namun
2
rendahnya kandungan gizi yaitu serat kasar yang tinggi ini merupakan faktor pembatas
penggunaan kulit ari kedelai sebagai pakan ternak sehingga perlu pengolahan agar
penggunaannya optimal. Kandungan nutrisi dari kulit ari kedelai antara lain PK 14,45%,
LK 3,04%, Abu 3,15%, SK 47,01%, EM 3060,48 Kkal/kg (Rohmawati et al., 2015).
Kulit Kopi. Kulit buah kopi merupakan limbah dari pengolahan buah kopi
untuk mendapatkan biji kopi yang selanjutnya digiling menjadi bubuk kopi. Produsen
kulit kopi terbesar berasal dari pulau Sumatera. Kandungan nutrien kulit buah kopi
dipengaruhi oleh metode pengolahannya apakah secara basah atau kering. Kulit kopi
cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia baik itu
ruminansia kecil maupun ruminansia besar. Kulit kopi diberikan langsung dalam bentuk
basah, kadar air yang cukup tinggi sehingga mudah rusak dan kurang disukai ternak.
Tingginya kandungan serat kasar dan adanya kandungan tanin, kafein dan lignin pada
kulit kopi non fermentasi yang dapat mengganggu pencernaan ternak jika diberikan
dalam jumlah banyak. Salah satu cara untuk meminimalkan faktor pembatas tersebut,
kulit kopi diolah terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Salah satu proses
pengolahan yang dapat dilakukan adalah teknologi fermentasi. Kandungan nutrien kulit
buah kopi basah adalah DM 91,8%, protein kasar 11,3%, serat kasar 18,5%, abu 8,9%.
Kandungan mineral kulit kopi antara lain Calsium 0,32%DM dan Fosfor 0,13%DM
(Marcel, 2011).
Premix. Premix adalah sebutan untuk suatu suplementasi vitamin, mineral,
asam amino, dan antibioitk. Premix memiliki merek dagang antara lain Premix-A, Top-
Mix, Vitramix, Velmix Poultry Plus, Viterna, Mineral Mix, dan Rhodiamix. Premix
merupakan vitamin, mineral dan antibiotik yang digunakan sebagai imbuhan pakan
unggas dan juga ternak besar. Pencampuran premix pada pakan ruminansia ini
bertujuan untuk menutupi kekurangan nilai gizi pada pakan tersebut karena pada
umumnya bahan baku pakan yang dipergunakan sangat variatif kadar gizinya (Yaman,
2010).
Bungkil Kedelai. Bungkil kedelai merupakan salah satu bahan pakan utama
untuk ternak non ruminansia seperti babi dan unggas. Bungkil kedelai digunakan
sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya yang tinggi serta kandungan asam
aminonya yang lengkap (Fardani, 2014). Kandungan nutrient bungkil kedelai antara lain
3
protein 37,69%, lemak kasar 28,3%, abu 4,29%, serat kasar 5,44%, karbohidrat
16,31%, Energi 469.80 kcal/100 g (Etiosa, 2017).
Bungkil Kopra. Bungkil kopra merupakan kegiatan samping dari kegiatan
ekstraksi minyak kelapa. Penghasil bungkil kopra terbesar yaitu di Sumatera dan
Kalimantan. Selanjutnya ditepungkan lagi dengan menggunakan saringan yang halus
0,5 mm. Kandungan komposisi nutrient pada bungkil kopra DM 90 sampai 96%, protein
kasar 15 sampai 25 %, serat kasar 7 sampai 15%, lemak 7%, abu 6 sampai 8%
(Sundu, 2009).
Kedelai Afkir. Penggunaan kedelai afkir dalam pakan ternak telah ditinjau,
keduanya dari sudut pandang nutrisi dan ekonomi. Faktor utama menentukan
kandungan energi yang dapat dimetabolisme (ME) dari kedelai afkir adalah kecernaan
lemak. Kedelai afkir mengandung ME 3310 Kcal kg, abu 55 DM, protein kasar 406 DM,
lemak kasar 231 DM, serat kasar 57 DM (Kan, 1988).
4
Ransum sumber energi merupakan ransum dengan proporsi bahan pakan di
dalamnya yang berupa sumber energi sangat tinggi dibandingkan sumber proteinnya.
Begitu pula sebaliknya dengan ransum sumber protein yaitu ransum dengan proporsi
bahan pakan sumber protein yang tinggi dibandingan kandungan nutrien lainnya
(Miskiyah et al., 2006).
Ternak menyerap energi di dalam pakan terutama untuk hidup pokok, dan
apabila masih ada kelebihan energi akan digunakan untuk produksi, namun sebagian
energi diserap di dalam tubuh akan dikonversi menjadi panas tubuh. Pemanfaatan
energi dipengaruhi oleh kualitas pakan yang dikonsumsi, termasuk imbangan protein
kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) atau energi. Kebutuhan rasio protein-
energi pakan lebih besar pada ternak ruminansia muda yang sedang tumbuh dengan
cepat (Soeparno, 2005). Rasio protein-energi yang sinkron akan menunjukkan efisiensi
fermentasi yang optimal, dalam hal ini energi pakan yang dimanfaatkan untuk proses
tersebut akan optimal pula (Ginting, 2005).
Suplemen katalitik adalah pemberian bahan pakan dalam jumlah kecil bahan
kering ransum, dan diharapkan berguna dan memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap peingkatan produktivitas ruminan (Preston dan Leng, 1987 dalam Uhi, 2006).
Suplementasi bertujuan meningkatkan kecernaan maksimal dengan mengoptimalkan
aktivitas mikroorganisme rumen. Suplementasi dengan bahan yang dapat mensuplai
misalnya nitrogen dan energi, menyebabkan mikroorganisme rumen dapat meingkatkan
laju degradasi serat kasar, selanjutnya meningkatkan konsumsi pakan (Uhi, 2006).
Suplementasi urea sering digunakan sebagai sumber protein kasar yang ekonomis dan
dapat meningkatkan efisiensi konversi pakan (Galina, 2000 dalam Prasetiyono, 2007).
Konsumsi ransum akan menurun apabila ransum dengan kandungan energi tinggi,
apabila kandungan protein tidak diperhatikan maka akan terjadi defisiensi yang
berakibat buruk pada produktivitas. Tingkat konsumsi protein sangat ditentukan oleh
tingkat konsumsi ransum, karena apabila ternak mengkonsumsi ransum dalam jumlah
yang lebih banyak maka akibatnya ternak akan mengkonsumsi lebih banyak protein
sehingga terjadi kelebihan protein dalam tubuh. Oleh sebab itu tingkat energi dan
protein yang tepat akan menghasulkan produktivitas dan performa yang maksimal
(Zurmiati, 2017).
5
Formulasi Ransum
Formulasi ransum adalah salah satu cara pemenuhan gizi pakan yang
berkualitas dan dicari harga yang ekonomis, dengan cara menggabungkan bahan
pakan yang mempuyai keunggulan disatukan menjadi sebuah formula. Formula dasar
yang biasa digunakan adalah penggabungan dari hijauan dan konsentrat (makanan
penguat). Formulasi ransum bertujuan untuk menyeimbangkan antara penyusunan
ransum sesuai dengan kebutuhan ternak dan tujuan pemeliharaan ternak (Santosa,
2009).
Formulasi ransum diberikan pada ternak yang masih pada proses masa dewasa
tubuh atau perkembangan otot dan lemak tubuh, serta kebutuhan akan sumber energi,
protein, mineral dan vitamin tercukupi dalam 24 jam. Biasanya pada ternak ruminansia
pemberian kadar protein tidak efisien, lebih banyak pemberian serat kasar, sedangkan
untuk ternak unggas pemberian kandungan protein lebih banyak karena dipergunakan
untuk produksi daging atau produksi telur. Metode mendapatkan ransum yang murah
dan berkualitas diperlukan suatu teknik atau metode formulasi ransum yang mudah
untuk digunakan, cepat, akurat dalam penentuan komposisi bahan (perhitungan) dan
yang paling utama adalah mendapatkan biaya serendah mungkin dalam
perhitungannya (Sutrisno et al., 2015).
Trial and error method. Trial and Error Method merupakan salah satu metode
yang paling sederhana untuk menyusun ransum. Penyusunan ransum dengan metode
ini harus melakukan perhitungan nutrien berulang-ulang secara coba-coba, sehingga
diperoleh kandungan nutrien yang diinginkan. Penyusunan ransum dengan metode ini
harus memperhatikan beberapa hal antara lain bahan baku yang digunakan, daftar
analisis bahan baku pakan, dan kadungan nutrien yang diinginkan (Sudarmono, 2003).
Pearson and Square method. Metode person and square ini memungkinkan
pencampuran dari dua pakan (atau campuran pakan) dengan konsentrasi nutrisi yang
berbeda ke dalam campuran dengan konsentrasi yang diinginkan sesuai dengan
standar kebutuhan tiap-tiap ternak. Pearson Square adalah cara yang sederhana, cepat
untuk menghitung jumlah pakan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
ternak dan hewan lainnya. Metode ini hanya efisien apabila tidak lebih dari 2 bahan
6
yang digunakan, namun memungkinkan untuk menggunakan metode ini lebih dari 2
bahan pakan (Sutrismo et al., 2015).
Exactmethod. Metode ini lebih praktis digunakan untuk menyusun ransum ternak
ruminansia, walaupun dapat pula digunakan untuk ternak non ruminansia. Penggunaan
metode ini harus diketahui adanya beberapa ketentuan terlebih dahulu. Ketentuan
tersebut yaitu meliputi jumlah nutrien yang dibutuhkan ternak sesuai dengan bobot
kadarnya, macam dan kandungan nutrien bahan pakan yang akan digunakan untuk
menyusun ransum, jumlah pakan hijauan untuk memenuhi semua TDN (total digestible
nutrien) yang dibutuhkan, jumlah konsentrat untuk memenuhi sebagian dari pakan
hijauan, dan pengujian kendungan nutrien ransum (Kamal, 1998).
Simultaneous equation method. Metode ini disebut pula dengan nama
persamaan aljabar. Penggunaan XY (aljabar) karena ada dua hal yang belum diketahui
dan yang akan dicari, misalnya PK (X%) dan ME (Y mcal/kg). Di samping itu bahan
pakan yang akan digunakan adalah lebih dari dua macam (Kamal, 1998).
Linear programing method. Metode ini merupakan penjabaran dari simultaneous
equation method yang biasanya dilakukan dengan bantuan komputer. Metode ini
menggunakan berbagai macam bahan pakan dan menggunakan berbagai macam
faktor pembatas. Keunggulan dari metode ini, yaitu efektif, efisien dalam waktu dan
keakuratan tinggi (Kamal, 1998).
Metode yang sering dilakukan oleh peternak saat ini adalah trial and error yaitu
dengan cara mengubah-ubah komposisi (%) jumlah bahan pakan dalam ransum.
Penyusunan ransum digunakan kriteria rasional, ekonomis dan applicable. Saat ini,
telah tersedia beberapa soft-ware atau program yang dapat digunakan untuk
penyusunan formula ransum. Program yang sering digunakan adalah MIXIT-2 atau
aplikasi EXCEL. Dalam penyusunan formula ransum diperlukan kandungan nutrisi
bahan pakan, harga bahan pakan, batas penggunaan bahan pakan, kebutuhan nutrisi
ternak dan perhitungan ekonomis (Sudarmono, 2003).
Status nutrisi ternak merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi
untuk ternak yang diindikasikan oleh bobot tubuh dan tinggi badan ternak. Status gizi
juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Status nutrisi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
7
faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal dari status gizi yaitu cuaca, ketersediaan
bahan pakan, kualitas pakan, dan kebersihan sekitar lingkungan ternak. Faktor internal
meliputi umur ternak, kesehatan ternak, dan genetik. Pakan yang baik adalah pakan
yang kandungan gizinya dapat diserap tubuh dan mencukupi kebutuhan ternak sesuai
status fisiologisnya. Nilai gizi bahan pakan bervariasi, maka penyusunan ransum yang
baik adalah ketepatan memasangkan satu jenis bahan pakan dengan bahan pakan lain
untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya (Septori et al., 2016).
Produktivitas Ternak
Produktivitas dan indeks reproduksi induk merupakan suatu kriteria produktivitas
yang penting. Penampilan produktivitas kambing merupakan hasil interaksi antara
faktor genetik dengan lingkungan. Dua hal mendasar yang terjadi selama pertumbuhan
adalah pertambahan bobot hidup dan perubahan bentuk tubuh. Pertambahan bobot
hidup dinyatakan sebagai pertumbuhan dan perubahan bentuk tubuh dinyatakan
sebagai perkembangan (Mulyono, 2002). Pertambahan bobot badan merupakan salah
satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan makanan ternak,
karena pertumbuhan yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu
indikasi pemanfaatan zat-zat yang diberikan (Sadi, 2014).
Suatu penelitian telah dilaksanakan dengan tujuan mengkaji pemanfaatan
protein pada domba lokal jantan dengan perlakuan pemberian pakan siang dan malam
hari. Materi yang digunakan dalam penelitian berupa 12 ekor domba lokal jantan
dengan bobot badan awal rata-rata 24,15 + 2,5 kg (CV=10,51%) dan umur sekitar 1
tahun. Pakan yang diberikan berupa pakan komplit berbentuk pelet. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan.
Perlakuan yang diterapkan adalah waktu pemberian pakan, yaitu pemberian pakan
pada jam 6 pagi sampai jam 6 sore (T1), pemberian pakan pada jam 6 sore sampai jam
6 pagi dan (T2), dan pemberian pakan selama 24 jam (T3). Parameter yang diamati
adalah konsumsi bahan kering (BK), pertambahan bobot badan harian (PBBH),
kecernaan protein dan deposisi protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua
parameter yang diamati tidak berbeda nyata (P>0,05). Rata-rata konsumsi BK, PBBH,
kecernaan protein, dan deposisi protein berturut- turut adalah 1.107,9 g, 103,8 g, 79,3%
8
dan 60,5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa waktu pemberian
pakan belum mampu meningkatkan pemanfaatan protein pakan pada domba lokal
jantan (Sayekti dkk, 2015).
9
BAB III
MATERI DAN METODE
Penyusunan Ransum
Materi. Materi alat dan bahan yang di gunakan dalam penyusunan ransum pada
ternak ruminansia yakni dengan menggunakan Jenis ternak domba ekor tipis seanyak 4
Ekor dalam setiap Kelompok.
10
protein. Pencampuran bahan pakan diberdasarkan dengan ukuran molekul bahan
pakan .
11
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
16
Produktivitas Ternak
Tabel 1. Pertambahan bobot badan rata-rata domba pakan sumber protein SBM
17
Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil yang berbeda-beda pada setiap
perlakuan. Hasil menunjukkan ADG tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan
pemberian sumber protein SBM sebanyak 500 gram. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
pemberian pakan sumber protein akan menyebabkan peningkatan konsumsi protein
yang juga semakin tinggi. Meningkatnya konsumsi protein akan meningkatkan populasi
mikroba rumen. Peningkatan populasi mikroba rumen diharapkan dapat digunakan
sebagai salah satu sumber protein selain protein murni untuk meningkatkan jumlah
protein terdeposisi dalam tubuh ternak dan dimanfaatkan ternak untuk memenuhi hidup
pokok dan berproduksi. Widyawati (2010) menyatakan bahwa konsumsi protein ransum
memberikan gambaran jumlah asupan protein untuk memenuhi kebutuhan protein bagi
pertumbuhan optimal ternak domba . Mahesti (2009) menyatakan bahwa pemberian
pakan dengan kadar protein tinggi diharapkan dapat meningkatkan jumlah protein yang
terdeposisi di dalam tubuh karena deposisi protein didapatkan dari hasil pengurangan
protein yang terkonsumsi dengan protein feses dan urin.
Perlakuan dengan pemberian 400 gram lebih rendah hal ini dikarenakan
pemberian suplementasi protein pada ransum kurang dimanfaatkan secara optimal oleh
ternak sehingga efisiensi protein yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan menjadi
rendah. Sedangkan pada pemberian yang lebih rendah yaitu 300 gram memberikan
ADG yang lebih tinggi dibandingkan pemberian 400 gram hal ini memberikan indikasi
bahwa sejumlah protein yang dikonsumsi secara efisien dikonversikan menjadi bobot
badan dan suplementasi protein menunjukkan adanya kecenderungan untuk perbaikan
performan domba. (2010) menyatakan bahwa untuk terjadinya sintesis jaringan tubuh
ternak membutuhkan nutrien yang cukup, seperti vitamin, mineral, protein dan energi.
Suplementasi protein menjadi kurang efisien pemanfaatannya pada tubuh ternak,
diduga karena tidak cukupnya asupan nutrien yang lainnya, sehingga proses
metabolisme nutrien dalam tubuh ternak tidak terjadi secara optimal. Pulungan dan
Budhiman et al. (2012) menambahkan bahwa penggunaan pakan yang memiliki
kandungan protein yang tinggi perlu diimbangi dengan jumlah energinya agar
memaksimalkan kecernaannya. Pakan yang memiliki kadar protein tinggi tidak bisa
18
dicerna apabila energi dalam pakan rendah, karena dalam pencernaan protein
membutuhkan energi dengan perbandingan protein dengan energi adalah 1:150.
20
18
16
14
12
10
8 300 gram
6 400 gram
4 500 gram
2
0
al I II r
n an hi
aw ga ak
n an ang n
nga im
b b nga
ba n n im ba
im pe pe im
n n
pe pe
20
Nursasih (2005) menyatakan bahwa pertambahan bobot badan ternak
ruminansia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan, maksudnya penilaian
pertambahan bobot badan ternak sebanding dengan ransum yang dikonsumsi.
Sedangkan menurut National Research Council, (2006) pertambahanbobot badan
dipengaruhi oleh beberapafaktorantara lain total protein yang diperoleh setiap harinya,
jenis ternak, umur, keadaan genetis lingkungan, kondisi setiap individu dan manajemen
tata laksana.
21
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Hasil
menunjukkan gain dan ADG tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan pemberian
sumber protein SBM sebanyak 500 gram. Gain dan ADG terendah diperoleh pada
perlakuan dengan pemberian sumber protein SBM sebanyak 400 gram. Hasil secara
umum telah sesuai dengan literatur baik dari perlakuan serta kontrol.
Saran
Saran untuk praktikum ransum ruminansia 2019 adalah sebaiknya dilakukan
persiapan peralatan dan penambahan peralatan seperti timbangan dan ban agar bias
meminimalisir serta mengefisensi waktu. serta memiliki rencana cadangan sehingga
tidak terladi perpanjangan waktu yang berlebihan, karena tidak semua praktikan
memiliki waktu luang berlebih untuk pelaksanaan praktikum yang molor. Terima kasih.
22
DAFTAR PUSTAKA
Abel, H. J., Becker. K., Meske, C., Friedrich, W. 1984. Possibilities of using heat-treates
fullfat soybeans in crap feeding. Aquaculture. Elsevier Science Publisher.
Amsterdam
Abrianto, P. 2011. Cara Mengolah Gamal Untuk Pakan Ternak Sapi. Adnan. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Basya, S. 2013. Perimbangan optimal hijauan dan konsentrat dalam ransum kambing
perah laktasi. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Budhiman, R., D. Soetrisno., S. P. S. Budhi., dan A. Indrianto. 2012. Three napier grass
(Pennisetum purpureum schum) cultivars harvested at different age. [Link]
[Link]. 37(4): 294-301.
Cheeke, P. R. 1999. Apllied Animal Nutrition Feeds and Feeding. 2nd Ed. New Jersey:
Prentice Hall. Upper Saddle River. New Jersey.
Chuzaemi. S. 2002. Arah dan Sasaran Penelitian Nutrien Sapi Potong Di Indonesia.
Workshop Sapi Potong. Lolit Sapi Potong Grati. Pasuruan.
Ginting, S.P. 2005. Sinkronisasi degradasi protein dan energi dalam rumen untuk
memaksimalkan produksi protein mikroba. Wartazoa 15 (1):1-10.
Hall Inc. New Jersey
Hartadi H., S., Reksohadiprajo, Tillman, A.D .1980. Tabel-Tabel dari Komposisi Bahan
MakananTernak untuk Indonesia. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Hertrampf JW and Pascual FP. 2000. Handbook Ingredients for Aquaculture Feeds.
London UK. Kluwer Academic Publisher
Hutagalung, R.I. 1999. Definisi dan Standar Bahan Baku Pakan. Kumpulan Makalah
Feed Qualiy Management Workshop. American Soybean Association dan Balai
Penelitian Ternak. hlm. 2-13.
Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Fakultas Peternakan Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Mahesti, G. 2009. Pemanfaatan protein pada domba lokal jantan dengan bobot badan
dan aras pemberian pakan yang berbeda. Tesis. Universitas Diponegoro,
Semarang.
Miskiyah, Mulyawati, I., dan Haliza, W. 2015. Pemanfaatan Ampas Kelapa Limbah
Pengolahan Minyak Kelapa Murni Menjadi Pakan. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan Dan Veteriner.
Mulyono, S. 2002. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba Cetakan IV. Penebar
Swadaya. Jakarta.
23
Murdjito, G., I.G.S. Budisatria., Panjono., N. Ngadiyono., E. Baliarti. 2011. Kinerja
kambing bligon yang dipelihara peternak di desa giri sekar, panggang,
gunungkidul. Buletin Peternakan Vol. 35(2): 86-95, Juni 2011. ISSN 0126-4400.
Murni, R., Suparjo., Akmal dan Ginting, D.L., 2008. Buku Ajar Teknologi Pemanfaatan
Limbah Untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Jambi.
National Research Council. 2006. Nutrient Requirements of Small Ruminants (Sheep,
Goats, Cervids, and New World Camelids). National Academic Press. Washington
D.C.
Natsir, M. H., Eko W., Osfar S. 2017. Industri Pakan Ternak. UB Press. Malang. Pp 9.
Nursasih, E. 2005. Kecernaan zat makanan dan efisiensi pakan pada kambing
Peranakan Etawah yang mendapat ransum dengan sumber serat berbeda.
Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Purbowati, E., C.I. Sutrisno, E. Baliarti, S.P.S. Budhi dan W. Lestariana. 2008.
Pemanfaatan energi pakan komplit berkadar protein-energi berbeda pada domba
lokal jantan yang digemukkan secara feedlot. Jurnal Pengembangan Peternakan
Tropis. 33 (1): 59-65.
Rianto, E dan C. M. S. Lestari. 2011. Produktivitas domba ekor tipis jantan yang diberi
pollard dengan aras berbeda. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Semarang.
Rohmawati, D., Irfan, H. D., Eko W. 2015. Nilai nutrisi tepung kulit ari kedelai dengan
level inokulum ragi tape dan waktu inkubasi berbeda. J. Ternak Tropika Vol. 16,
No.1: 30-33
Sadi, R. 2014. Performans kambing marica dan kambing peranakan etawah (PE) betina
yang dipelihara secara intensif. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Santosa, Undang. 2009. Mengelola Peternakan Sapi Secara Professional. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sayekti, I., E. Purbowati, dan E. Rianto. 2015. Pemanfaatan protein pakan pada domba
lokal jantan yang mendapat pakan pada siang dan malam hari. Animal Agriculture
Journal.4(1): 22-27.
Sayekti, I., Purbowati, E., Rianto, E. 2015. Pemanfaatan protein pakan pada domba
lokal jantan yang mendapat pakan pada siang dan malam hari. Animal Agriculture
Journal. Vol 4(1): 22-27.
Septori, R., Erwanto, Rudy S. 2016. Status nutrisi sapi peranakan ongole di kecamatan
bumi agung kabupaten lampung timur. Faculty of Agriculture Lampung University.
Lampung.
Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Subekti, E. 2009. Ketahanan pakan ternak indonesia. Mediagro. 5(2):63-71.
24
Sudarmono, A. S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius.
Yogyakarta.
Sutrisno, A., Wibowo, J., dan Setiawan, H. B. 2015. Rancang bangun aplikasi
pengoptimalan komposisi pakan kambing peranakan etawa menggunakan metode
pearson square pada peternakan nyoto. JSIKA Vol. 4 (2) : 1 – 9.
Tim Laboratorium IPB.. 2012. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Ilmu dan
Teknologi Pakan. Fapet. IPB
Uhi, T., H. 2006. Perbandingan suplemen katalitik dengan bungkil kedelai terhadap
penampilan domba. Jurnal Ilmu Ternak. Vol 6 (1): 1-6.
Yaman, A. 2010. Penggunaan Bungkil kedelai (6 minggu panen). Penerbit Swadaya
Bogor.
Yopi, Purnawan A, Thontowi A, Hermansyah H, Wijanarko A. 2006. Preparasi Mannnan
dan Mannanase Kasar dari Bungkil Kelapa Sawit. Jurnal Teknoogi 4: 312-
319.
Zulfanita, Eny R., dan Utami M. D. P. 2011. Pembatasan ransum berpengaruh terhadap
pertambahan bobot badan ayam broiler pada periode pertumbuhan. Vol. 7(1) : 59
– 67.
Zurmiati, Wizna, Abbas, M. H., Mahata, M. E. 2017. Imbangan energi dan protein
ransum terhadap pertumbuhan itik pitalah yang diberi probiotin Bacillus
amuloliquefaciens. Jurnal Peternakan Indonesia. Padang.
Marcel, K. G., Andrem K. B., Viviane, Z., Seraphin, K. 2011. Potential food waste and
by-products of coffe in animal feed. Electronic Journal of Biology. Vol. 7(4): 74-80
Aanyu, M., Ondhoro, C. C. 2016. Effects of storage and duration on proximate
composition of non-conventional fish feed ingredients and farm-made feed.
Journal of Global Agriculture and Ecology. Vol. 6(3):162-169
Sundu, B., Kumar, A., Dingle, J. 2009. Feeding value of copra meal for broilers. World’s
Poultry Science Journal. Sulawesi Tengah. Vol. 65
Etiosa, O. R., Chika, N. B., Benedicta, A. 2017. Mineral and proximate composition of
soya bean. Asian Journal of Physical and Chemical Sciences. Vol 4(3): 1-6
Kan, C. A., Scheele, C. W., Janssen, W. M. M. A. 1988. The energy content of full-fat
soya beans in meal and pelleted feeds for adult cocks and broilers. Animal Feed
Science and Technology. Elsevier Science Publisher. Amsterdam. Vol 19
Fardani, D. 2014. Peningkatan kualitas nutrien bungkil kedelai yang difermentasi
menggunakan bakteri penghasil fitase dari tanah sekitar buangan limbah industri
tahu. Skripsi. UGM. Yogyakarta
25
LAMPIRAN
26
Determining appropriate feed intake for sheep involves considering the animal's weight, the nutrient density of the feed, and the growth stage of the sheep. Factors such as protein and energy adequacy must be assessed based on the daily gain objectives. Additionally, health status, the presence of any nutritional stressors, and specific experimental findings like increased digestibility from feed restriction should inform intake levels to optimize growth and health outcomes .
Economically, gaplek is more affordable than corn, with costs significantly lower per kilogram. Nutritionally, gaplek offers high energy content (2,900 to 3,200 kcal) but has low protein content (0.7 to 1.3%). While it can effectively replace some energy-providing components of corn, its lack of protein necessitates supplementation with other protein-rich feed ingredients to ensure balanced animal nutrition. Thus, it offers cost-saving benefits but requires careful formulation to avoid nutritional deficiencies .
The processing method of coffee pulp significantly affects its nutritional value as animal feed. Wet processing tends to increase moisture content, which can lead to spoilage and reduced palatability. On the other hand, fermentation can reduce harmful components such as tannins and lignin, improving digestibility and making it more suitable for livestock feed. Thus, appropriate processing can turn coffee pulp from a low-digestibility waste product into a nutritional feed component .
Soybean meal is high in protein and offers a complete amino acid profile, making it a valuable feed component. However, it can contain anti-nutritional factors such as trypsin inhibitors, which can reduce protein digestibility in non-ruminants. Proper processing is necessary to reduce these factors. Additionally, its high nutrient levels must be carefully balanced with other feed ingredients to avoid excessive intake, which could lead to digestive issues or nutrient imbalances .
When creating a premix, it is essential to understand the availability and digestibility of different vitamin and mineral sources used. The specific nutrient requirements of the target livestock species must be considered, and the premix should be formulated to complement the rest of the feed. Also, it is crucial to ensure that the premix components do not pose toxicity risks and that they provide the necessary nutrition in a form that is stable and bioavailable .
Protein supplementation increases the availability of ammonia in the rumen, which supports the growth and proliferation of rumen microbes. These microbes play a critical role in breaking down feed into nutrients that animals can absorb, enhancing the degradation of fibrous feedstuffs, and ultimately improving the productivity of livestock. Higher protein intake optimizes rumen function and leads to better weight gain and feed efficiency .
Coffee pulp has a high crude fiber content and contains tannins, caffeine, and lignin which can hinder digestion in livestock if given in large quantities. To mitigate these nutritional limitations, the coffee pulp should be processed before being given to animals. One recommended processing method is fermentation, which can help reduce the inhibitory components and enhance digestibility .
The Pearson’s square method is a simple technique used for mixing two feed ingredients to achieve a desired level of a specific nutrient in the feed, such as protein or energy. It involves calculating the difference between the nutrient contents of the individual ingredients and the desired nutrient level to determine the proportions needed. It is primarily used for balancing a single nutrient in a mixture of two ingredients .
Feed restriction has been shown to increase the digestibility of organic matter, gross energy, and crude protein in sheep. However, it can negatively impact reproductive status, delay ovulation, and slow down growth. Therefore, while feed restriction can enhance certain metabolic efficiencies, it may not be beneficial for overall growth and reproductive performance .
Balancing TDN and protein intake is crucial for maximizing ruminant productivity. TDN measures the energy content of feed, while proteins are crucial for microbial activity in the rumen. An optimal balance ensures efficient fermentation and digestion, supporting animal growth, milk production, and reproduction. Insufficient TDN can limit protein digestion, while excess without energy can lead to metabolic disorders. Therefore, a balanced diet is essential for maintaining health and productivity .