0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan17 halaman

Metode Penelitian Eksperimen: Definisi dan Karakteristik

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, karakteristik, dan klasifikasi penelitian eksperimen. 2. Terdapat tiga karakteristik utama penelitian eksperimen yaitu manipulasi variabel, mengontrol variabel, dan melakukan observasi. 3. Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara

Diunggah oleh

Indah Agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan17 halaman

Metode Penelitian Eksperimen: Definisi dan Karakteristik

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, karakteristik, dan klasifikasi penelitian eksperimen. 2. Terdapat tiga karakteristik utama penelitian eksperimen yaitu manipulasi variabel, mengontrol variabel, dan melakukan observasi. 3. Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara

Diunggah oleh

Indah Agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penelitian merupakan cara-cara yang sistematis untuk menjawab masalah yang


sedang diteliti. Kata sistematis merupakan kata kunci yang berkaitan dengan metode
ilmiyah yang berarti adanya prosedur yang ditandai dengan teteraturan dan
ketuntasan.(Sarwono 2006:15)
Berbagai macam objek penelitian membuat metode yang digunakan dalam
meneliti semakin beragam pula. Seorang peneliti harus dapat memilih metode
penelitian yang sesuai dengan objek penelitian. Salah satu metode yang akan
diuraikan dalam makalah ini adalah metode penelitian eksperimen.
Metode penelitian eksperimen pada umumnya digunakan dalam penelitian yang
bersifat laboratoris. Namun, bukan berarti bahwa pendekatan ini tidak dapat
digunakan dalam penelitian sosial, termasuk penelitian pendidikan. Jadi, penelitian
eksperimen yang mendasarkan pada paradigma positivistik pada awalnya memang
banyak diterapkan pada penelitian ilmu- ilmu keras (hard-scienc), seperti biologi dan
Fisika, yang kemudian diadopsi untuk diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk
bidang sosial dan pendidikan.(Jaedun 2011:3–4)
Dalam makalah ini akan diuraikan tentang pengertian, karateristik, dan
klasifikasi penelitian eksperimen.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan penelitian eksperimen?
2. Bagaimana karakteristik penelitian eksperimen?
3. Bagaimana klasifikasi dalam penelitian eksperimen?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui dan menampah
pemahaman tentang penelitian eksperimen, dimulai dari pengertian, karakteristik
hingga klasifikasinya.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Penelitian Eksperimen


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , Penelitian adalah kegiatan
pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara
sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu
hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Sedangkan, eksperimen
adalah percobaan yang bersistem dan berencana untuk membuktikan kebenaran suatu
teori. Percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti
menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek
atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala.

Manurut Hadi (1985) penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan


untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan
secara sengaja oleh peneliti. Sejalan dengan hal tersebut, Latipun (2002)
mengemukakan bahwa penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan
dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat manipulasi
terhadap perilaku individu yang diamati. Penelitian eksperimen pada prisipnya dapat
didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang
mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship) (Sukardi 2011:179).
Selanjutnya, metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan utuk
mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan (Sugiyono 2011:72).

Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian
yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk
mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat
kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan,
maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan.

Arikunto (2006) mendefinisikan eksperimen adalah suatu cara untuk mencari


hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja
2
ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan
faktor-faktor lain yang mengganggu. Dengan kata lain bahwa penelitian eksperimen
adalah bagian dari penelitian kuantitatif yang terdapat variabel sehingga dapat
ditemukan sebab akibat yang sengaja ditimbulkan dari variabel tersebut.

Jadi, penelitian eksperimen adalah suatu kegiatan percobaan pengumpulan,


pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif
untuk membuktikan suatu teori atau hipoteis.

2.2 Karakteristik Penelitian Eksperimen

Karakteristik Penelitian Eksperimen (Sukardi 2009:181):


1. Memanipulasi

Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen adalah


adanya tindakan manipulasi variabel yang secara terencana dilakukan oleh si
peneliti. Memanipulasi ini tidak mempunyai arti yang negatif seperti yang terjadi di
luar konteks penelitian. Yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau
perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah
yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan
efek dalam variabel terikat. Pada penelitian pendidikan dan penelitian tingkah laku,
manipulasi variabel, misalnya peneliti mengambil bentuk sifat di mana peneliti
melaksanakan sesuatu sebagai penentu awal dengan kondisi yang bervariasi pada
subjek yang diteliti. Misalnya dalam suatu proses penelitian laboraturium, dua
kelompok yaitu treatment dan kelompok kontrol diberikan suhu ruangan yang
bertingkat, yaitu dingin, sedang, dan panas.

Perbedaan kondisi ruang tersebut direncanakan sebagai penentu awal agar


mereka memperoleh hasil yang mungkin berbeda diantara kedua grup. Perbedaan
yang muncul tersebut diperhitungkan sebagai akibat adanya manipulasi variabel
terhadap dua kelompok.

2. Mengontrol Variabel

Mengotrol merupakan usaha untuk memindahkan pengaruh variabel lain pada


variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan variabel tersebut.
3
Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen
memiliki peranan penting, karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis,
seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan
pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat.

Tujuan kontrol dalam eksperimen adalah mengatur situasi, agar efek dari
variabel dapat diteliti.(Sudjana and Ibrahim 1989:22)

3. Melakukan Observasi

Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap


kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan
mencatat fenomena apa yang muncul yang memungkinkan terjadinya perbedaan di
antara kedua kelompok. Tindakan observasi dilakukan peneliti pada umumnya
mempunyai tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul
dalam variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel.

Dalam proses eksperimen yang biasanya ada dua kelompok variabel, yaitu
variabel bebas dan variabel terikat, maka peneliti dianjurkan untuk lebih melakukan
pengamatan pada variabel terikat, yaitu variabel yang biasanya menerima akibat
terjadinya perubahan secara sistematis dalam variabel bebas.

Ada tiga hal yang menjadi karakteristik penelitian eksperimental(Jalaludin


Rahmat:1984) :
1.       Manipulasi, dimana peneliti menjadikan salah satu dari sekian variabel bebas
untuk menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti, sehingga variabel
lain dipakai sebagai pembanding yang bisa membedakan antara yang memperoleh
perlakuan/manipulasi dengan yang tidak memperoleh perlakuan/manipulasi.
2.      Pengendalian, dimana peneliti menginginkan variabel yang diukur itu
mengalami kesamaan sesuai dengan keinginan peneliti dengan menambahkan faktor
lain ke dalam variabel atau membuang faktor lain yang tidak diinginkan peneliti dari
variabel.
3.      Pengamatan, dimana peneliti melakukan suatu kegiatan mengamati untuk
mengetahui apakah ada pengaruh manipulasi variabel (bebas) yang telah

4
dilakukannya terhadap variabel lain (terikat) dalam penelitian eksperimental yang
dilakukannya.

Salah satu syarat untuk menentukan atau memilih desain eksperimen yang akan
digunakan,agar memperoleh hasil yang benar adalah validitas dari desain yang
digunakan untuk melakukan eksperimen terhadap suatu masalah.
Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan oleh
variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat digeneralisasikan
pada situasi di luar setting eksperimental (Emzir:2009) Sehingga ada dua kondisi
yang harus diterima yakni faktor internal dan eksternal.

1.      Validitas Internal
Validitas ini mengacu pada kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel
bebas adalah suatu hasil langsung dari variabel beas yang dimanipulasi dan bukan
dari variabel lain. Campbel dan Stanley (dalam Gay:1981) sebagaimana dikutip
Emzir (2009) mengidentifikasi delapan ancaman utama terhadap validitas internal,
antara lain:
a. Historis, dimana munculnya suatu kejadian yang bukan bagian dari perlakuan
dalam eksperimen yang dilakukan, tetapi mempengaruhi model, karakter, dan
penampilan variabel bebas.
b. Maturasi, dimana terjadi perubahan fisik atau mental peneliti atau obyek yang
diteliti yang mungkin muncul selama suatu periode tertentu yang mempengaruhi
proses pengukuran dalam penelitian.
c. Testing, dimana sering terjadi ketidak efektifan suatu penelitian yang
menggunakan metode test karena suatu kegiatan test yang dilakukan dengan
menggunakan pra test dan post test, apalagi dengan rentang waktu yang cukup
panjang, dan terkadang nilai pra test dan post test yang sama.
d. Instrumentasi, instrumentasi sering muncul karena kurang konsistensinya
instrumen pengukuran yang mungkin menghasilkan penilaian performansi yang tidak
valid. Dimana jika dua test berbeda digunakan untuk pratest dan postest, dan test-test
tersebut tidak sama tingkat kesulitannya, maka instrumentasi dapat muncul.

5
e. Regresi Statistik, dimana regresi statistik ini sering muncul bila subyek dipilih
berdasarkan skor ekstrem dan mengacu pada kecenderungan subyektif yang memiliki
skor yang paling tinggi pada pratest ke skor yang lebih rendah pada postes,
begitupun sebaliknya.
f. Seleksi subyek yang berbeda, dimana biasanya muncul bila kelompok yang ada
digunakan dan mengacu pada fakta bahwa kelompok tersebut mungkin berbeda
sebelum kegiatan penelitian dimulai.
g. Mortalitas, dimana sering terjadi bahwa subyek yang terkadang drop out dari
lingkup penelitian dan memiliki karakteristik kuat yang dapat mempengaruhi hasil
penelitian.
h. Interaksi seleksi Maturasi, dimana satu kelompok akan termaturasi dengan hasil
kelompok lain tanpa melalui perlakuan.

2.      Validitas Eksternal
Validitas ini mengacu pada kemampuan generalisasi suatu penelitian. Dimana
dibutuhkan kemampuan suatu sampel populasi yang benar-benar bisa
digeneralisasikan ke populasi yang lain pada waktu dan kondisi yang lain.
Campbell dan Stanley dalam Gay (1981) yang dikutip Emzir (2009) mengidentifikasi
beberapa ancaman terhadap validitas eksternal, diantaranya:
a. Interaksi Prates-Perlakuan, dimana biasanya sering muncul bila respons subjek
berbeda pada setiap perlakuan karena mengikuti prates.
b. Interaksi Seleksi-Perlakuan, dimana akibat yang muncul bila subjek tidak dipilih
secara acak sehingga seleksi subjek yang berbeda diasosiasikan dengan
ketidakvalidan internal.
c. Spesifisitas Variabel, adalah suatu ancaman terhadap yang tidak mengindahkan
generalisabilitas dari desain eksperimental yang digunakan.
d. Pengaturan Reaktif, mengacu pada faktor-faktor yang diasosiasikan dengan cara
bagaimana penelitian dilakukan dan perasaan serta sikap subjek yang dilibatkan.
e. Interferensi Perlakuan Jamak, biasanya sering muncul bila subjek yang sama
menerima lebih dari satu perlakuan dalam pergantian.
f. Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen, sering muncul bila keakraban subjek
dan peneliti mempengaruhi hasil penelitian.

6
Wiersma (1991) dalam Emzir (2009) mengemukakan kriteria-kriteria untuk suatu
desain penelitian eksperimental yang baik, diantaranya;
1. Kontrol eksperimental yang memadai
2. Mengurangi artifisialitas (dalam merealisasikan suatu hasil eksperimen ke non-
eksperimen)
3. Dasar untuk perbandingan dalam menentukan apakah terdapat pengaruh atau tidak
4. Informasi yang memadai dari data yang akan diambil untuk memutuskan hipotesis
5. Data yang diambil tidak terkontaminasi dan memadai dan mencerminkan
pengaruh
6. Tidak mencampurkan variabel yang relevan agar variabel lain tidak
mempengaruhi:
a. Keterwakilan dengan menggunakan randomisasi aspek-aspek yang akan diukur
b. Kecermatan terhadap karakteristik desain yang akan dilakukan
Dengan demikian maka suatu desain eksperimental yang dipilih oleh peneliti
membutuhkan perluasan terutama pada prosedur dari setiap penelitian yang akan
dilakukan.

2.3 Klasifikasi Penelitian Eksperimen

Desain yang dapat digunakan dalam pelaksanaan eksperimen secara garis besar
dapat dibedakan ke dalam : 1) Desain tanpa kelompok pembanding; 2) Desain
dengan kelompok pembanding; 3) Desain counterbalance; 4) Desain faktorial.(Ali
1987:135)
1. Desain Pratest-Posttest/Pascatest

dilakukan hanya terhadap satu kelompok, yakni kelompok eksperimen, dengan


car menganalisis X melalui skor yang diperoleh dari pelaksanaan pretest (T1) dan
posttest (T2). Dilakukan dengan cara mengadakan percobaan terhadap satu
kelompok, tanpa menggunakan kelompok pembanding dengan terlebih dahulu
meneliti situasi variabel bebas (Y) melalui pretest (T1) sebelum mengadakan
pengukuran dan mengidentifikasi pengaruh variabel terikat (X); kemudian barulah
mengadakan eksperimen.

7
Hasil pengukuran yang dilakukan melalui posttest (T2) dibandingkan dengan
hasil T1, untuk mengetahui hubungan sebab akibat dari munculnya X.

T2
T1 x

Langkah-langkah :
 Memberikan pretest untuk mengukur variabel terikat sebelum perlakuan
dilakukan (T1)
 Memberikan perlakuan eksperimen kepada subjek (variabel X)
 Memberikan test lagi (posttest/pascatest) untuk mengukur variabel terikat, setelah
perlakuan (T2).

2. Desain Kelompok Pembanding

Dilakukan dengan cara mengadakan eksperimen terhadap dua kelompok atau


lebih, dan menjadikan sebagian kelompok sebagai kelompok eksperimen,
sedangkan kelompok lain dijadikan kelompok pembanding, dengan tujuan untuk
meningkatkan kontrol dan mempertinggi validitas.
Dua kelompok dianggap sama dalam semua aspek yang relevan dan perbedaan
hanya terdapat dalam perlakuan. Hasil pengukuran variabel terikat dari kedua
kelompok dibandingkan untuk melihat efek dari perlakuan X.

Se (diacak) T1e X T2e

Sp (diacak) T1p
T2p

8
Langkah-langkah :
 Memilih siswa dengan latar belakang yang sama (homogen)

 Secara acak diambil sampel untuk kelompok eksperimen (Se) dan kelompok
pembanding (Sp)

 Mengadakan pretest (T1) terhadap Se untuk memperoleh skor T1e dan terhadap
Sp untuk memperoleh skor T1p

 Melakukan percobaan terhadap Se dengan selalu mengontrol situasi Y

 Terhadap Sp dapat dilakukan pengajaran dengan materi yang sama dengan


metode lain, bukan dengan metode yang sedang di-eksperimen- kan

 Mengadakan posttest untuk memperoleh skor T2e maupun T2p


 Dengan menggunakan metode statistika dicari perbedaan antara rata- rata T1 dan
T2 baik dari Se maupun Sp.
 Membandingkan rata-rata antar kelompok untuk melihat apakah variabel
eksperimen (X) dapat menyebabkan perubahan pada kelompok eksperimen.

3. Desain Counterbalance

Dikenal juga dengan nama “Desain Rotasi” digunakan untuk mengatasi


kelemahan-kelemahan desain yang pengambilan S untuk sampel dilakukan secara
tidak acak. , terutama jika anggota sampel terbatas, jika menggunakan pretest, dan
yang ditest lebih dari satu variasi X. Pelaksanaannya dilakukan dengan mengambil
dua kelompok atau lebih, dan setiap kelompok diexpose kepada sejumlah X(sesuai
dengan jumlah kelompok) secara bergantian, sehingga setiap kelompok mengalami
diexpose kepada masing-masing X.

Xa Xb
Kelompok A

Xb Xa
Kelompok B

9
Dari bagan tersebut dapat dilihat, masing-masing kelompok diexpose kepada
eksperimen yang dilakukan terhadap masing-masing X secara bergantian.
Langkah-langkah :
 Nenetapkan dua kelompok atau lebih untuk dieksperimen. misalnya
eksperimen tentang efektifitas dua macam metode mengajar, tiap metode
dieksperimenkan masing-masing dua kali, sekali pada kelompok pertama dan
sekali pada kelompok kedua
 Melakukan eksperimen dengan cara sebagaimana dijelaskan diatas.
 Dari tiap kelompok masing-masing diexpose pada Xa dan Xb
 Mencari rata-rata dari setiap kelompok yang diexpose terhadap tiap X.

 Mencari perbedaan rata-rata, kemudian dilihat apakah perbedaan itu signifikan


atau tidak

4. Desain Faktorial

Peneliti bebas melakukan manipulasi variabel bebas untuk melihat efeknya pada
variabel terikat. Dalam prakteknya di lapangan, perlakuan murni variabel bebas dan
efeknya terhadap variabel terikat sulit dilaksanakan, sebab bagaimanapun juga ada
variabel lain yang berinteraksi akibat kompleksnya kondisi eksperimen.(Sudjana
and Ibrahim 1989:48) Penelitian pendidikan tidak mungkin dapat memisahkan satu
variabel dari variabel lain sebab dalam proses pendidikan banyak melibatkan
interaksi antar manusia dan manusia dengan lingkungan pendidikan. Sebagai contoh
perlakuan metode mengajar yang diberikan kepada siswa di sekolah, efektifitasnya
bisa saja bergantung kepada gurunya, siswanya, peralatan, suasana kelas, disiplin
dan lain-lain. Faktor siswa seperti inteligensi, minat, sikap, dan lain-lain turut
berpengaruh terhadap hasil eksperimen. Dengan demikian temuan dari desain
variabel tunggal kurang bermakna untuk dapat mengatasi kelemahan tersebut. Atas
dasar itu maka dalam penelitian pendidikan berkembang pemikiran mencari desain
lain, satu diantaranya adalah desain faktorial.
Desain faktorial merupakan desain yang dapat memberikan
perlakuan/manipulasi dua variabel bebas atau lebih pada waktu bersamaan untuk
melihat efek masing-masing variabel bebas, secara terpisah dan secara bersamaan
terhadap variabel terikat dan efek-efek yang terjadi akibat adanya interaksi beberapa
variabel.
10
Sebagai contoh, penelitian akan melihat efektifitas metode diskusi pada siswa
yang berintelegensi tinggi dan pada siswa yang berintelegensi rendah pada prestasi
belajar (variabel terikat). Subjek yang diteliti adalah siswa SD kelas V terdiri atas
dua kelompok, yakni kelompok siswa yang berintelegen tinggi dan kelompok siswa
yang berintegensi rendah. Banyak siswa masing- masing harus sama, misalkan 30
siswa.
Desain dapat dituliskan sebagai berikut :

Variabel bebas Metode Diskusi


Variabel Atribut IQ Tinggi IQ rendah
Variabel Terikat Prestasi Belajar Prestasi Belajar

Sel 1 Sel 2

Dari desain tersebut dapat diketahui efek metode diskusi pada prestasi belajar
secara keseluruhan, efek metode diskusi pada intelegen tinggi dan pada intelegen
rendah dalam hal prestasi belajar serta efek interaksi metode diskusi dengan taraf
intelegensi pada prestasi belajar.

Wiersma (1991) dalam Emzir (2009) mengemukakan kriteria-kriteria untuk suatu


desain penelitian eksperimental yang baik, diantaranya;
1. Kontrol eksperimental yang memadai
2. Mengurangi artifisialitas (dalam merealisasikan suatu hasil eksperimen ke non-
eksperimen)
3. Dasar untuk perbandingan dalam menentukan apakah terdapat pengaruh atau tidak
4. Informasi yang memadai dari data yang akan diambil untuk memutuskan hipotesis
5. Data yang diambil tidak terkontaminasi dan memadai dan mencerminkan
pengaruh
6. Tidak mencampurkan variabel yang relevan agar variabel lain tidak
mempengaruhi:
a. Keterwakilan dengan menggunakan randomisasi aspek-aspek yang akan diukur
b. Kecermatan terhadap karakteristik desain yang akan dilakukan.

11
Dengan demikian maka suatu desain eksperimental yang dipilih oleh peneliti
membutuhkan perluasan terutama pada prosedur dari setiap penelitian yang akan
dilakukan. Emzir (2009) mengklasifikasikan desain eksperimental dalam dua
kategori yakni:
1. Desain Variabel Tunggal, yang melibatkan satu variabel bebas (yang
dimanipulasi) yang terdiri atas;
a.   Pra-Experimental Designs (non-designs)
Dikatakan pre-experimental design, karena desain ini belum merupakan eksperimen
sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel luar yang ikut
berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (dependen). Jadi hasil
eksperimen yang merupakan variabel terikat (dependen) itu bukan semata-mata
dipengaruhi oleh variabel bebas (independen). Hal ini bisa saja terjadi karena tidak
adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara acak (random). Bentuk pra-
experimental designs antara lain:
1)  One-Shot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)
Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment
(perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel
independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini
subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya.
2) One Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)
Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest
sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih
akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
3) Intact-Group Comparison
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi
dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan
setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).

b. True Experimental Design


Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam
desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi
jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan
rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah
12
bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol
diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya
kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental
terbagi atas :
1. Posstest-Only Control Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random
(R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok
yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi
perlakuan disebut kelompok kontrol.
2. Pretest-Posttest Control Group Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian
diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol.
3. The Solomon Four-Group Design
Dalam desain ini, dimana salah satu dari empat kelompok dipilih secara random. Dua
kelompok diberi pratest dan dua kelompok tidak. Kemudian satu dari kelompok
pratest dan satu dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu
keempat kelompok ini diberi posttest.

4. Quasi Experimental Design


Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental
design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi
tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang
mempengaruhi pelaksanaan experimen. Walaupun demikian, desain ini lebih baik
dari pre-experimental design. Quasi Experimental Design digunakan karena pada
kenyataannya sulit medapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk
[Link] eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:
a)      Time Series Design
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih
secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali
dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok
sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya
berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak
13
konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas, maka
baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu
kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.
b)      Nonequivalent Control Group Design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada
desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara
[Link] desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol
dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui
random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan
terakhir diberikan postes.
c)      Conterbalanced Design
Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan
perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.
1)      Desain Faktorial, yang melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-
kurangnya satu yang dimanipulasi).
Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-eksperimental
dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual
dan dalam interaksi satu sama lain.
Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel
eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol
atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari
variabel kontrol, selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang
tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimental variabel tunggal.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

15
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohamad 1987 Penelitian Kependidikan : Prosedur Dan Strategi. Bandung:


Angkasa.

Emzir 2010 Metodologi Penelitian Pendidikan : Kuantitatif Dan Kualitatif.


Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hadjar, Ibnu 1996 Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif Dalam


Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Jaedun, Amat 2011 Metodologi Penelitian Eksperimen. Fakultas Teknik UNY.


[Link]
[Link], accessed November 14, 2016.

Sarwono, Jonatha 2006 Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif. Graha Ilmu.

Sudjana, Nana, and Ibrahi 1989 Penelitian Dan Penilaian Pendidikan. Bandung:
Sinar Baru.

Sugiyono 2012 Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sukardi 2009 Metodologi Penelitian Pendidikan : Kompetensi Dan Praktiknya.


Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi : Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta,


Jakarta: 2006.
Domu, Ichdar : Bahan Kuliah Metodologi Penelitian, Program Studi Manajemen
Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado: 2009.
Emzir : Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif dan Kualitatif, Raja Grafindo
Persada, Jakarta: 2009.
Sugiyono : Metodologi Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D, Alfabeta, Bandung: 2009.
Ali,Muhammad :PenelitianKependidikan Prosedur dan Strategi :
Angkasa,Bandung,1982
Slamet :Pengantar Penelitian Kuantitatif ,UNS,Surakarta,2006
Suryabrata,Sumadi : Metodologi Penelitian,RajaGrafindo Persada,Jakarta,1983
Rahmat,Jalaludin :Metodologi Penelitian Komunikasi,Remaja Rosdakarya,Bandung1984

16
17

Anda mungkin juga menyukai