100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
775 tayangan29 halaman

Mini Riset Bisnis Syariah PDF

Bab I memberikan latar belakang tentang bisnis berbasis syariah dan bisnis yang ada di Perumahan Kaliwungu Indah. Bab ini juga menjelaskan rumusan masalah dan tujuan penelitian untuk memahami penerapan bisnis berbasis syariah di perumahan tersebut.

Diunggah oleh

Diana Lidia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
775 tayangan29 halaman

Mini Riset Bisnis Syariah PDF

Bab I memberikan latar belakang tentang bisnis berbasis syariah dan bisnis yang ada di Perumahan Kaliwungu Indah. Bab ini juga menjelaskan rumusan masalah dan tujuan penelitian untuk memahami penerapan bisnis berbasis syariah di perumahan tersebut.

Diunggah oleh

Diana Lidia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bekerja secara informal salah satunya dapat dilakukan dengan berbisnis.

Kehidupan sehari-hari manusia sangatlah berdekatan dengan kata bisnis. Bisnis

adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan

hidup masyarakat. Barang dan jasa akan didistribusikan pada masyarakat yang

membutuhkan, dari kegitatan distribusi inilah pelaku bisnis akan mendapatkan

keuntungan atau profit. Dengan adanya kebutuhan masyarakat akan suatu

barang atau jasa maka bisnis akan muncul untuk memenuhinya. Dengan

masyarakat yang terus berkembang secara kualitatif dan kuantitatif maka bisnis-

pun juga dapat terus berkembang sesuai apa yang dibutuhkan mayarakat.

Perkembangan secara kualitatif dapat dilihat dari pendidikan yang semakin

baik, dan pemikiran yang semakin maju, sedangkan pertumbuhan secara

kuantitatif dapat dilihat dari bertambahnya jumlah penduduk (kelahiran,

pertambahan umur, dan kematian). Bisnis dilakukan secara terus menerus dan

memunculkan pemikiran bahwa bisnis adalah kegiatan untuk mencari

keuntungan materi semata tanpa mempedulikan cara memperoleh keuntungan

tersebut.

Hukum ekonomi klasik menjelaskan bahwa bisnis dapat dilakukan

dengan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan, semua

cara yang dilakukan dianggap halal, bahkan bangsa Barat menetapkan bahwa

1
manusia sebagai homo ecominicus atau manusia adalah manusia yang mengejar

materi saja. Menggunakan modal sekecil mungkin dan mendapatkan hasil yang

berlipat dari modal awalnya. Kegiatan bisnis yang seperti ini menjadikan pelaku

bisnis tidak memikirkan tanggungjawab yang harus dia lakukan. Hal inilah yang

memunculkan pemikiran bahwa bisnis adalah perkerjaan yang tidak bermoral.

Untuk menjadikan bisnis menjadi kegiatan usaha yang baik maka aturan-

aturan bisnis harus di lakukan agar bisnis bisa berjalan dengan baik dan tidak

merugikan orang lain.

Islam mengatur semua kegiatan manusia termasuk dalam melakukan

muamalah dengan memberikan batasan apa saja yang boleh dilakukan (Halal) dan

apa saja yang tidak diperbolehkan (Haram). Dalam bisnis Islam, bisnis yang

dilakukan harus berlandaskan sesuai syaria’ah atau Islamic law. Semua hukum

dan aturan yang ada dilakukan untuk menjaga pebisnis agar mendapatkan

rejeki yang halal dan di ridhai oleh Allah SWT serta terwujudnya kesejahteraan

distribusi yang merata. Maka etika atau aturan tentang bisnis Islam memiliki

peran yang penting juga dalam bisnis berbasis syari’ah.

Bisnis dengan basis syariah akan membawa wirausaha muslim kepada

kesejahteraan dunia dan akherat dengan selalu memenuhi standar etika

perilaku bisnis, yaitu: takwa, kebaikan, ramah dan amanah. Ketaqwaan seorang

wirausaha muslim adalah harus tetap mengingat Allah dalam kegiatan

berbisnisnya, sehingga dalam melakukan kegiatan bisnis seorang wirausahawan

akan menghindari sifat-sifat yang buruk seperti curang, berbohong, dan menipu

pembeli. Seorang yang taqwa akan selalu menjalankan bisnis dengan keyakinan

2
bahwa Allah selalu ada untuk membantu bisnisnya jika dia berbuat baik dan

sesuai dengan ajaran Islam. Ketaqwaannya diukur dengan dengan tingkat

keimanan, intensitas dan kualitas amal salehnya. Apabila dalam bekerja dan

membelanjakan harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan dilandasi

dengan keimanan dan semata-mata mencari ridha Allah, maka amal saleh ini

akan mendapatkan balasan dalam bentuk kekuasaan didunia, baik kuasa

ekonomi maupun kekuasaan sosial atau bahkan kekuasaan politik.

Seorang manusia yang unggul adalah manusia yang taqwa kepada Allah

akan menjalankan bisnis dengan membawa keseimbangan dalam hidupnya,

imbang dalam hal dunia dan akhirat. Islam melalui Rasulullah, mengajarkan

bagaimana bisnis seharusnya dilakukan. Mulai dari etika berbisnis sampai

penggunaan harta yang diperoleh. Kegiatan bisnis yang dijalankan oleh

Rasulullah SAW didasari oleh akhlak mulia dengan kejujuran dan tutur kat a

yang baik.

Salah satu yang peneliti lihat adalah pelaku bisnis yang berada di

Perumahan Kaliwungu Indah. Perumahan kaliwungu indah terletak di desa

Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. Perumahan ini

berdiri dengan tipe rumah 21 atas ditanah seluas ± 11.046 M2 dengan pembagian

blok A, B, dan C. Pada awalnya, baru beberapa orang saja yang menempati

rumah di perumahan ini. Namun lambat laun perumahan ini banyak diminati dan

dalam waktu hampir sepuluh tahun dari pertama berdirinya, banyak warga

berdatangan dari berbagai daerah. Ramainya lingkungan Perumahan

Kaliwungu Indah ini dimanfaatkan beberapa warganya untuk memulai bisnis

3
dalam berbagai hal. Kegiatan bisnis ini terus berkembang seiring bertambahnya

warga yang menetap di lingkungan perumahan.

Satu deretan ruko yang berjumlah 18 ruko berukuran ± 3X4 m2 disewakan

untuk berbagai usaha. Jarak ruko yang berada didepan perumahan membuat

beberapa orang enggan datang. Hal itu dimanfaatkan beberapa warga untuk

membuka usahanya dirumah agar tetangganya lebih mudah dalam memenuhi

kebutuhannya. Macam-macam bisnis yang ada di Perumahan Kaliwungu Indah

ini antara lain:

Tabel 1.
USAHA YANG ADA DI PERUMAHAN
KALIWUNGU INDAH
Jenis usaha Jumlah
Toko sembako 48
Penjual jajanan 18
Penjahit 6
Salon dan rias pengantin 4
TOSERBA 4
Penjual sayuran 4
Warung makan 3
Fotocopy 3
lain-lain 50
Total 140
Sumber Data: Pengolahan data primer

Bisnis yang ada di Perumahan Kaliwungu Indah ini mendapatkan respon


yang baik dari pemerintah dengan meminjamkan dana sebagai modal usaha
melalui program PNPM.
Dengan adanya hal ini peneliti ingin mengetahui apakah wirausaha

muslim yang tinggal di Perumahan Kaliwungu Indah dengan mayoritas

4
masyarakatnya beragama Islam sudah paham dan menerapkan hukum agama

Islam sebagai landasan kegiatan bisnisnya. Sehingga peniliti ingin melakukan

penelitian dengan judul ANALISIS PENERAPAN BISNIS BERBASIS

SYARI’AH PADA WIRAUSAHA MUSLIM (Study Pada Wirausaha

Muslim di Perumahan Kaliwungu Indah-Kendal).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan bisnis berbasis syariah pada wirausaha muslim

Perumahan Kaliwungu Indah dalam usahanya?

2. Bagaimana perilaku bisnis wirausaha muslim di Perumahan Kaliwungu

Indah yang sesuai dengan bisnis berbasis syariah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan yang ingin penulis capai adalah sebagai berikut:

a. Untuk memahami tentang konsep bisnis yang sesuai dengan syari’ah

b. Untuk mengetahui arti wirausaha menurut agama Islam

c. Untuk mengetahui tentang pemahaman bisnis berbasis syari’ah pada

wirausahawan muslim di perumahan kaliwungu indah..

2. Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, yaitu:

a) Manfaat Teoritis

5
1) Sebagai bahan referensi yang diharapkan dapat menambah

wawasan bagi pembaca terutama tentang bisnis berbasis syariah

pada wirausahawan muslim

2) Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang

ilmu ekonomi Islam

3) Bagi peneliti baru, diharapkan dapat dijadikan sumber informasi

dan referensi untuk kemungkinan penelitian topik-topik yang

berkaitan baik yang bersifat melengkapi ataupun lanjutan.

b) Manfaat praktis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi wirausahawan

muslim yang ada di perumahan kaliwungu indah.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bisnis Berbasis Syariah

1. Pengertian Bisnis

Secara historis kata bisnis berasal dari bahasa Inggris yaitu “business”,

dari kata dasar “busy”yang artinya "sibuk". Sibuk mengerjakan aktivitas dan

pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Dalam kamus bahasa indonesia bisnis

adalah usaha dagang; usaha komersial. Bisnis sendiri memiliki dua pengertian

yang berbeda, yakni : pertama, bisnis adalah sebuah kegiatan. Kedua, bisnis

adalah sebuah perusahaan. Bisnis dapat dikatakan sebuah kegiatan yang

terorganisir karena didalam bisnis ada banyak kegiatan yang dilakukan. Kegiatan

dimulai dengan input berupa mengelola barang lalu diproses setelah itu

menghasilkan output berupa barang setengah jadi atau barang jadi. Sedangkan

secara etimologi, bisnis memiliki arti dimana seseorang atau sekelompok dalam

keadaan yang sibuk dan menghasilkan keuntungan ata profit bagi dirinya atau

kelompok.

Menurut Raymond E. Glos dalam bukunya “Businnes: Its Nature and

Evironment: An Introduction”, Bisnis merupakan seluruh kegiatan yang

diorganisasikan oleh orang- orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan

dan industri yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan

mempertahankan dan memperbaiki standar serta kualitas hidup mereka.

7
Pengertian bisnis dapat dilihat dari berbabagi aspek, antara lain: jenis

kegiatannya, kegunaan dan manfaatnya, motif dilaksanakannya, dan siapa

pelakunya. Dilihat dari jenis kegiatannya bisnis dibedakan menjadi empat, yaitu:

pertama, bisnis yang bergerak dalam pertambangan bisnis ini disebut dengan

bisnis eksekutif. Kedua, bisnis agraris atau bisnis yang berkaitan dengan

bercocok tanam atau dibidang pertanian. Ketiga, bisnis industri. Keempat, bisnis

yang bergerak dibidang jasa. Bisnis yang dilihat dari sisi kegunaan dan

manfaatnya dibagi menjadi empat yaitu: bentuk barang yang diubah dari mentah

ke benda yang telah jadi, kegunaan tempat, kegunaan waktu, dan kegunaan

kepemilikan. Jika dilihat dari segi motifnya dibedakan menjadi dua yaitu: profit

motive dan non provit motive. Sedangkan dari segi pelakunya dilakukan oleh

individu dan kelompok yang dijalankan menggunakan menejemen.

2. Pengertian Bisnis Berbasis Syariah

Definisi dari bisnis sendiri adalah kegiatan yang terorganisir dimulai

dengan input berupa mengelola barang lalu diproses setelah itu menghasilkan

output berupa barang setengah jadi atau barang jadi, distribusikan kepada

masyarakat dan dari distritribusi ini akan diperoleh profit atau keuntungan. Al-

Qur’an menjelaskan tentang konsep bisnis dengan beberapa kata yang

diantaranya adalah kata : al Tijarah (berdagang, berniaga), al- bai’u (menjual),

dan tadayantum (muamalah).

Al-Tijarah dari kata dasar t-j-r, tajara, tajaratan wal tajiratan yang

memiliki makna dagang, berniaga. Kata tijarah dalam Al-Qur’an dapat ditemui

di surat al-Baqarah ayat282, an-Nisa ayat 29, at-Taubah ayat 24, an-Nur ayat

8
37, Fatir ayat 29, as-Shaff ayat 10, dan al-Jumu’ah ayat 11. Beberapa ayat

tersebut menjelaskan tentang perniagaan dalam konteks material dan non

material. Surat at-Taubah ayat 24, an-Nur ayat 37, dan al- Jumu’ah ayat 11

menjelaskan tentang jual-beli dalam konteks material. Sedangkan ayat yang

menjelaskan tentang konteks material dan nonmaterial ada di al-Baqarah ayat

282, an-Nisa ayat 29, Fatir ayat 29, dan as-Shaff ayat 10. Perdagangan yang

dimaksud adalah perdagangan yang baik sesuai yang diatur dalam Al-Qur’an

dan hadist. Sedangkan Jual- beli yang dilakukan harus menguntungkan dan

bermanfaat bagi banyak orang sekitar. Jual beli yang dilakukan didasari

dengan kerelaan diantara kedua belah pihak dan dilakukan dengan

keterbukaan atau jujur pada kondisi barang dan jasa agar orang lain tidak merasa

kecewa. Menggunakan harta yang diperoleh dari usahanya dengan baik dan

tidak berfoya-foya, membantu orang lain dengan harta yang dia miliki.

Kata al-bai’ dalam surat al-Baqarah ayat 254

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah)

sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari

yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan

orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”.

Selain al-bai’ dan tijarah, dalam al-Qur’an bisnis juga disebut

dengan kata tadayantum yang disebut satu kali pada surat al-Baqarah ayat 282

9
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak

secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.

Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.”.

Mua’malah Yang dimaksud adalah kegiatan ekonomi, seperti: jual-beli, sewa

menyewa, dan hutang piutang, dan lainnya.

Agama Islam mengenal kata syari’ah atau hukum Islam atau Islamic Laws

yang mengatur tentang ibadah dan muamalah. Syariah memiliki landasan yang

kuat dalam bentuk kebijaksanaan dan kebahagiaan manusia untuk kehidupan

didunia dan di akhirat. Menurut bahasa, syari’ah artinya adalah jalan yang lurus

atau jalan yang menuju mata air yang mengalir yang ingin diminum. Syaikh Al-

Qardhawi mendefinisikan kata syariah memiliki pengertian yang cukup luas dan

10
komprehensif. Didalamnya mengandung pengertian aspek ibadah, muamalah,

ekonomi, dan keluarga.

Hermawan Kartajaya dan Syakir Sula memberi pengertian bahwa bisnis

syariah adalah bisnis yang santun, bisnis yang penuh kebersamaan dan

penghormatan atas hak masing- masing baik penjual maupun pembeli. Syafi’i

Antonio, syariah mempunyai keunikan tersendiri, Syariah tidak saja

komprehensif, tetapi juga universal. Universal bermakna bahwa syariah dapat

diterapkan dalam setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia Keuniversalan ini

terutama pada bidang sosial (ekonomi) yang tidak membeda-bedakan antara

kalangan Muslim dan non-Muslim. Untuk menjawab masalah-masalah ini

Allah telah menurunkan kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam.

Dari pengertian tersebut, bisnis berbasis syariah adalah kegiatan bisnis

yang dilakukan oleh seseorang dengan berlandaskan syariat agama islam, dimana

setiap cara memperoleh dan menggunakan harta yang mereka dapatkan harus

sesuai dengan aturan agama islam (halal dan haram). Dalam bisnis Islam

seseorang harus selalu mengingat dan menyerahkan semua hasil usaha yang telah

dilakukan kepada Allah Swt, dengan berserah diri kepada Allah dan menganggap

kerja sebagai ibadah seseorang akan selalu ikhlas dalam bekerja inilah yang

dimaksud dengan tauhid uluhiyah.

Muhammad Ismail Yusanto Dan Muhammad Karebet Widjajakusuma

menyebutkan ciri-ciri dari bisnis Islam dan bisnis non-Islam dalam sebuah

ilustrasi sebagai berikut:

11
Tabel 2.

CIRI-CIRI BISNIS ISLAMI DAN BISNIS NON-ISLAMI

Islami Ruang lingkup Non-Islami


Aqidah islam ASAS Sekularisme
(nilai-nilai materialisme).
Dunia-akherat MOTIVASI Dunia
Profit dan benefit, ORIENTASI Profit, pertumbuhan,
keberlangsungan, pertumbuhan,
keberlangsungan
keberkahan
Bisnis bagian dari ibadah ETOS KERJA Bisnis adalah kebutuhan duniawi
Maju dan produktif, konsekuensi SIKAP Maju dan produktif
keimanan dan manifestasi sekaligus konsumtif,
MENTAL
kemusliman konsekuensi aktualisasi diri
Cakap dan ahli dibidangnya, KEAHLIAN Cakap dan ahli
konsekuensi dari kewajiban dibidangnya, konsekuensi dari
seorang muslim motivasi reward dan punishment
Terpercaya dan amanah AMANAH Tergantung kemauan
individu(pemilik modal),
tujuan
Halal MODAL Halal dan haram
Sesuai akad kerja SDM Sesuai akad kerja atau
sesuai
Halal SUMBER Halal dan haram
DAYA keinginan pemilik modal
Visis dan misi terkait erat dengan MENEJEMEN Visi dan mis ditetapkan
misi penciptaan manusia di dunia STRATEGIK berdasarkan
Jaminan halal setiap input, proses MENEJEMEN Tidak ada jaminan halal bagi
pada kepentingan material
dan output, produktivitas islami OPERASI setiap
Jaminan halal bagi setiap MENEJEMEN Tidak ada jaminan halal bagi
input, proses dan output,
masukan, proses dan keluaran KEUANGAN setiap
mengedepankan produktivitas
keuangan
dalam koridor manfaat
Pemasaran dalam koridor jaminan masukan, menghalalkan
MENEJEMEN Pemasaran proses dan segala
halal keluaran
PEMASARAN cara keuangan
Profesionalisme dan MENEJEMEN SDM profesional, SDM
berkepribadian islami, SDM SDM adalah
adalah pengelola bisnis,
bertanggung jawab pada diri, faktor produksi, SDM
majikan dan Allah Swt bertanggungjawab pada diri dan
majikan

12
Sumber data: buku karangan Ismail Yusanto Dan Muhammad Karebet
dengan judul “Mengagas Bisnis Islam” halaman 22.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ciri-ciri dari bisnis islam

sangatlah berbeda dengan bisnis konvensional yang hanya mengejar

keuntungan saja. Sedangkan dalam bisnis yang berdasarkan syariah, pelaku

bisnisnya sangat berhati-hati dalam melakukan kegiatan bisnisnya. Dari asas

sampai menejemen SDM yang digunakan, bisnis berbasis syariah selalu

menjalankan kewajiban dan haknya antar sesama manusia dan kepada Allah Swt.

3. Etika Bisnis Islam

Kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang artinya adalah

norma, nilai, kaidah, ukuran bagi tingkah lakuk yang baik. Sedangkan artinya

dalam bentuk jamak adalah ta etha atau adat istiadat. Banyak sekali pengertian

tentang kata etika, dalam kamus bahasa Indonesia kata etika berarti kumpulan

asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak atau asas perilaku yang menjadi

pedoman atau patokan perilaku tersebut. Menurut David P. Baron, etika adalah

suatu pendekatan yang sistematis atas penilaian moral yang didasarkan pada

penalaran, analisis, sintesis, dan reflektif. Lawrence, Weber, dan Post

berpendapat bahwa etika adalah suatu konsepsi tentang tingkah laku yang

benar dan salah.

Etika Islam sendiri didasarkan pada hak manusia atas kemerdekaan. Pada

prinsipnya kemerdekaan dalah hak manusia untuk hidup yang harus terus

dijaga dan dilindungi dengan kebaikan dan kebenaran. Islam juga memiliki

aturan tentang etika yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis dalam berbisnis.

13
Etika dipandang sama dengan akhlak yang membahas tentang perilaku baik

buruknya seseorang. Titik sentral dari etika bisnis islam sendiri adalah untuk

menjaga perilaku wirausaha muslim dengan tetap bertanggungjawab karena

percaya kepada Allah SWT. Etika bisnis islam bersumber pada Al-Qur’an sebagai

pedoman. Al-qur’an adalah sumber segala ajaran bagi seluruh umat muslim yang

menjelaskan tentang norma, aturan atau hukum, dan nilai-nilai yang

mengatur segala aktifitas manusia termasuk dalam kegiatan bisnis.

Setiap pelaku bisnis islam memiliki aturan-aturan atau etika yang harus

dilakukan. Hal ini dilakukan karena manusia tidak hanya hidup sendiri melainkan

sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan memiliki pertanggung

jawaban yang akan dia ajukan kepada Allah Swt. Prinsip-prinsip etika bisnis

Islam yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadist yang telah diterapkan oleh

Rasulullah saat menjalankan bisnisnya. Menurut Yusuf Qardhawi etika diterapkan

pada kegiatan ekonomi yang dilakukan. Qardhawi berpendapat jika ekonomi

(bisnis) dan akhlak (etika) saling berkaitan karena akhlak adalah daging dan urat

nadi kehidupan yang Islami. Tanpa adanya akhlak dalam bisnis, manusia akan

semena-mena dalam menjalankan bisnis tanpa melihat halal dan haram.

Berikut adalah etika bisnis menurut Qardhawi sesuai dengan bidang ekonomi.

Bisnis dengan melakukan jual beli adalah perdagangan yang dilakukan di

dunia, sedangkan bisnis akhirat dilakukan dengan melaksanakan kewajiban

Syariat Islam yang ada. Keuntungan yang akan diperoleh di akhirat akan lebih

utama dari pada keuntungan yang diperoleh di dunia. Wirausaha Muslim yang

baik harusnya tetap melakukan ibadah wajibnya pada saat menjalankan usahanya.

14
Tidak ada alasan untuk meninggalkan ibadah wajib bagi umat muslim

bagaimanapun keadaannya.

B. Wirausaha

1. Pengertian

“Wira” dalam bahasa Indonesia berarti gagah dan “usaha” adalah

tindakan untuk mendapatkan suatu hasil. Wirausaha adalah tindakan seseorang

yang dengan gagah melakukan suatu usaha atau tindakan untuk mendapatkan

hasil. Sedangkan menurut Geoffrey G. Meredith, wirausaha adalah orang-orang

yang mampu melihat dan menilai kegiatan bisnis, mengumpulkan sumber daya

yang dapat digunakan dan diambil keuntungannya dan mengambil suatu tindakan

agat dapat meraih kesuksesan.

Wirausaha atau dalam bahasa Inggris disebut dengan entrepreneurship

berasal dari kata entrepreneur, Menurut Soeparman Soemahamidjaja istilah

ini digunakan oleh Cantilon dalam Essai sur la nature du commerce sebutan

bagi pedagang yang membeli barang di daerah-daerah dan menjualnya lagi

dengan harga yang tidak pasti. Menurut Soersasono, wirausaha memiliki

pengertian yang sama dengan wiraswasta yang menjalankan bisnis dalam

lingkup yang dijalankan oleh swasta, koperasi, dan BUMN.

Menurut Arif F. Hadipranata, wirausaha adalah sosok pengambil risiko

yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima

keuntungan financial ataupun non uang. Marzuki Usman berpendapat bahwa

wirausaha dalam konteks menejemen adalah orang yang mempunyai kemampuan

15
menggunakan sumber daya finansial (money), bahan mentah (materials), dan

tenaga kerja (labor), untuk menghasilkan produk baru dengan bisnis baru yang

dapat membuat organisasi usaha.

Sedangkan menurut Peter F. Drucker kewirausahaan adalah kemampuan

dalam menciptakan sasuatu yang baru dan berbeda. Pendapat Peter F. Drucker

dapat dipahami bahwa wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan sesuatu

yang berbeda dari sesuatu yang belum ada maupun sesuatu yang sudah ada.

Untuk memulai berwirausaha, seseorang perlu memulai mengerjakan suatu hal

yang baru dan berbeda dari yang lain. Nilai untuk mengerjakan suatu hal yang

baru dan berbeda inilah disebut dengan kewirausahaan. Zimmerer menjelaskan

bahwa kewirausahaan adalah proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam

memecahkan masalah dan dapat menemukan peluang untuk membuat kehidupan

lebih baik lagi dengan berusaha.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat dipahami bahwa wirausaha adalah

suatu sikap mental yang berani menanggung semua resiko yang ada

dihadapannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan

menggunakan kreativitas dan inovasi. Dengan sikap ini seorang yang berpikiran

maju dan bisa berdiri dengan kedua kakinya sediri atau benar-benar mandiri

adalah wirausaha yang dapat dibilang sukses. Sikap pemberani, berpikiran maju,

dan siap menanggung resiko yang ada dihadapannya akan membawa

pengusaha dapat mengembangkan usahanya terus sepanjang waktu. Sikap

berani menanggung resiko yang dimiliki seorang wirausaha akan sangat berguna

di awal saat usaha baru dimulai. Karena setiap usaha yang akan dilakukan

16
haruslah melewati perhitungan yang matang dan terkadang perhitungan tersebut

bisa saja meleset dan berubah menjadi rugi.

2. Perilaku Bisnis Wirausaha Muslim

Bisnis seringkali dinilai sebagai profesi yang tidak baik karena banyak

penipuan dan hal-hal yang melanggar etika dilakukan untuk mendapatkan

keuntungan dengan cepat dan lebih besar dalam menjalankan bisnis. Jelas

sekali bahwa bisnis memiliki tujuan untuk mencari profit semata dan bukan

kegiatan sosial dengan membantu orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Menurut Milton Friedman , tidak mungkin bisnis tidak mencari keuntungan.

Milton melihat bahwa kenyataannya bahwa keuntungan adalah satu-satunya

motivasi bagi pelaku bisnis. Pada akhirnya etika bisnis kembali kepada pelaku

bisnisnya sendiri. Ada dua aspek yang digunakan sebagai tolak ukur etika yaitu:

prinsip imbal balik dan iktikad baik.

Perilaku seorang muslim dalam berbisnis sangat diperlukan sebagai

investasi yang dapat menguntungkan dan menjamin kehidupannya di dunia dan

akhirat. Al-Qur’an dan hadist adalah panduan bagi perilaku seseorang dengan

menyelasarkan perilakunya dengan perilaku Rasulullah. Perilaku bisnis seorang

wirausaha muslim dapat dilihat dari ketaqwaannya, sikap amanah yang dia

miliki, kebaikannya, cara mereka melayani pembeli atau pelanggannya dengan

ramah, serta semua kegiaan bisnisnya hanya dilakukan untuk ibadah semata.

a. Taqwa

b. Amanah

c. Rendah Hati

17
d. Melayani dengan baik

e. Bermurah hati dan membangun hubungan baik

f. Bekerja sebagai ibadah

3. Orientasi Bisnis Wirausaha Muslim

Islam sangat menghargai kerja keras seseorang, kerja keras yang

dilakukan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Seorang manusia yang unggul

adalah manusia yang taqwa kepada Allah. Ketaqwaannya diukur dengan

dengan tingkat keimanan, intensitas dan kualitas amal salehnya. Dalam berbisnis

seorang muslim selalu patuh dengan syariat agama Islam. Seorang muslim yang

menjalankan bisnis diharapkan membawa keseimbangan dalam hidupnya, imbang

dalam hal dunia dan akhirat. Melalui Rasulullah, islam mengajarkan bagaimana

bisnis seharusnya dilakukan. Mulai dari etika berbisnis sampai penggunaan

harta yang diperoleh. Dengan berpegang pada syariat Islam, bisnis mempunyai

tujuan dalam empat hal, yaitu:

a. Profit

b. Pertumbuhan

c. Keberlangsungan

d. Ridha Allah SWT

Islam mengajarkan kepada penganutnya bahwa harta yang telah

didapatkan bukanlah tujuan akhir dari hidup, tetapi dengan fasilitas berupa

harta kekayaan seseorang dapat membantu sesamanya dengan lebih baik.

Ajaran Islam yang luhur dan indah senantiasa menggalakkan manusia agar terus

berbuat amal sosial kepada sesama manusia.

18
BAB III

HASIL PENELITIAN

A. Analisis Penerapan Bisnis Berbasis Syariah pada Wirausaha Muslim

dalam Usahanya

Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan, bisnis yang dilakukan

wirausaha muslim di Perumahan Kaliwungu Indah dalam aturan-aturan syari’ah.

Aturan syari’ah dalam kegiatan bisnis dipaparkan pada etika bisnis Islam yang

ada, yaitu: kesatuan (tauhid), keadilan, tidak melakukan monopoli,

tanggungjawab, jujur, produk yang dijual halal, tidak melakukan praktek mal

bisnis. Etika bisnis Islam yang dijalankan adalah menjual barang yang tidak

membahayakan atau merugikan orang lain dan halal. Menjual barang yang

dibutuhkan orang lain dan tidak ada unsur najis. Barang yang diperdagangkan

seperti ikan hias, tanaman, aksesoris, pulsa, snack yang telah terdaftar di BPOM

atau jelas bahan bakunya, dan kredit yang jelas akadnya.

Warung yang menjual makanan tetap menjaga kebersihan dan tidak

menjual makanan yang mengandung unsur haram seperti daging babi, minyak

babi, dan makanan yang dijual selalu diganti setiap hari (tidak makanan

basi). Makanan diolah dengan baik tanpa menggunakan bahan pengawet. Penjual

makanan seperti ibu Yuwar selalu menghabiskan jualannya hari itu juga dan

mengganti masakan keesokan harinya. Apabila jualannya tidak habis maka dia

akan memberikan sisa penjualannya tersebut pada tetangga sekitarnya.

19
Etika bisnis Islam yang selanjutnya adalah tidak boleh melakukan

monopoli. Monopoli tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam, karena semua orang

boleh berbisnis. Monopoli diperbolehkan selama penjual yang sebagai penjual

satu-satunya tidak melakukan ikhtikar (menimbun) barang untuk mendapatkan

keuntungan yang lebih atau istilah ekonominya monopoly’s rent. Dari

sepuluh orang narasumber, mereka belum pernah menyetok barang dengan

jumlah banyak dan menjualnya kembali dengan harga yang tinggi.

Kegiatan menimbunpun dilakukan jika memang diperlukan, seperti Ibu

Sri Lestari yang tidak menyetok sampai berkarung-karung walaupun ikan hias

yang akan dijualnya langka. Ibu Sri Lestari pernah membeli ikan hias dengan

jumlah banyak namun ikan yang dibeli dalam jumlah banyak tersebut tidak

hanya satu jenis ikan dan dia kumpulkan sampai berbulan-bulan. Ikan hias yang

sedikit sulit di pasaran dia beli dengan harga lebih mahal dari biasanya dari

tengkulak, maka dia menjual dengan melebihkan harga dari harga biasa dia jual.

Hasil yang dia ambil bisa sampai 100% mengingat resiko ikan lebih tinggi

karena gampang untuk mati dan ikan yang kurang baik tidak akan dia jual

kepada pembeli. Toko serba ada milik Bapak Gufron juga tidak pernah

membeli barang engan jumlah banyak dan disimpan berbulan-bulan

menunggu barang tersebut langka dipasaran.

Menurut Bapak Gufron, tokonya diisi sesuai kebutuhan. Jika barang yang

ada sudah habis maka akan dia akan membeli dari tengkulak dengan jumlah yang

cukup. Dia menganggap menjual barang langka dengan harga mahal

menjadikan usahanya akan sepi karena akan banyak orang yang tidak suka

20
dengan hal itu. Selain tidak menimbun barang dagangan, wirausaha muslim akan

memberikan kebebasan penjual lain untuk berjualan didekatnya serta tidak

memberikan harga dibawah harga standar untuk menarik pembeli agar

semuanya membeli di tempatnya. Ibu Asih juga akan menyetok mainan

anak-anakka mainan jenis tersebut memang sedang digemari. Hal itu

dilakukan untuk mengantisipasi kehabisan stok.

Enam orang narasumber menyatakan bahwa mereka selalu menyisihkan

penghasilannya untuk infaq dan sodaqah sesuai dengan kemampuan mereka.

Ibu Siti Fatimah dan Bapak Sugiarto menyisihkan penghasilannya setiap bulan

dan memberikannya langsung pada anak yatim piatu dan orang yang dirasakan

lebih membutuhkan yang beliau ketahui. Bantuan yang mereka berikan tidak

hanya berupa uang bahkan barang berupa baju yang masih layak pakai. Ibu Sri

Lestari, Ibu Yuwar, Ibu Asri, dan Ibu Nurul menyusihkan penghasilannya untuk

bersodaqah dan infaq hampir setiap hari setelah hasil berjualannya sudah

terkumpul. Ibu Yuwar dan Ibu Asri bahkan memiliki satu kotak khusus untuk

mengumpulkan sodaqoh yang mereka berikan pada yayasan Tahfidz dan Amanah.

Wirausahawan yang mayoritas memiliki pemahaman tentang agama

Islam, menjalankan usahanya dengan berpegang pada aturan Islam. Sehingga

wirausaha muslim di Perumahan Kaliwungu Indah yang diwakili oleh sepuluh

orang tersebut dapat dikatakn telah menerapkan bisnis berbasis syari’ah pada

kegiatan bisnisnya.

21
B. Analisis Perilaku Bisnis Wirausaha Muslim Di Perumahan

Kaliwungu Indah Sesuai dengan Bisnis Berbasis Syariah

Usaha yang dilakukan tidak meninggalkan kewajiban dalam beribadah

dengan tetap melakukan ibadah wajib seperti sholat, puasa, dan membayar

zakat fitrah setiap tahunnya. Wirausaha muslim yang takwa akan selalu

mengingat Allah dalam setiap aktifitas yang mereka lakukan. Sepuluh orang yang

dijadikan sebagai narasumber penelitian ini melakukan usahanya dengan tetap

menjalankan ibadah wajibnya karena merasa itu sudah tidak bisa digantikan

dengan yang lain. Empat orang tetap mengutamakan sholat tepat waktu saat akan

memulai bekerja atau saat membuka usaha. Mereka akan menutup toko sebentar

saat adzan dhuhur dan magrib agar tidak mengganggu ibadah sholatnya.

Menghentikan aktifitas saat adzan subuh terdengar, mengerjakan sholat tepat

waktu saat berjualan ataupun memulai aktifitas berdagang. Mereka akan memilih

melaksanakan sholat lebih dulu daripada melayani pembeli. Tentu saja

dengan kata-kata yang baik mereka akan meminta ijin kepada pembeli untuk

menunggunya melakukan sholat.

Lima orang menyatakan bahwa sesibuk apapun mereka berdagang, sholat

tetap dilaksanakan walaupun waktunya mepet. Narasumber yang melakukan

sholat tidak tepat waktu biasanya berdagang dengan cara berkeliling sehingga

mereka harus mencari tempat yang tidak jauh dari lokasi mereka berjualan.

Berdagang dengan cara berkeliling tidak menghalangi mereka untuk tetap

melakukan sholat dengan mencari masjid atau mushola terdekat yang dirasa bersih

22
dan aman. Jika mushola yang ditemukan dirasa kurang baik dan bersih, maka

lebih memilih melakukan sholat dirumah orang.

Tidak hanya ibadah wajib yang mereka lakukan, ada beberapa amalan

yang tetap mereka lakukan disela kegiatan usaha seperti sholat dhuha dan

membaca Al-Qur’an. Seperti ibu Asih yang tetap melakukan sholat dhuha

disela-sela berjualan mainan anak disekolah. Beliau akan ke masjid didekat

sekolahan tempatnya berjualan untuk melakukan sholat dhuha saat anak-anak

sedang jam pelajaran. Lain lagi dengan Ibu Asri yang membaca Al-Qur’an saat

beliau menjaga tokonya. Membaca Al-Qur’an dilakukan saat toko sedang tidak

ada pembeli. Selain membaca Al-Qur’an, beliau sekeluarga melakukan sholat

dhuha setiap hari dan menganggap sholat dhuha harus dilakukan setiap hari.

Perilaku bisnis Islam lainnya adalah bermurah hati dan menjaga

hubungan baik dengan pembeli. Sikap murah hati ditunjukkan dengan

memberikan tenggang waktu pembayaran jika pembeli belum dapat membayar

kekurangannya atau memberikan kelebihan barupa barang kepada pembeli.

Delapan dari sepuluh narasumber mengatakan mereka tetap memberikan

tenggang waktu dalam pembayaran kepada pembelinya. Dengan diberikan

pertolongan dalam bentuk penangguhan pembayaran diharapkan pembeli juga

memberikan kemudahan bagi penjual. Mereka memberikan kepercayaan dengan

memberikan waktu pembayaran karena dirasa pembelinya rata-rata adalah

tetangga mereka sendiri.

Memberikan waktu pembayaran bagi pembelinya dilakukan para

wirausaha muslim untuk bisa saling membantu sesama. Ibu Ngatmini lebih

23
memilih memberikan barang dagangannya secara cuma-cuma jika dirasa pembeli

tersebut memang orang yang membutuhkan bantuan. Menurutnya memberikan

barang dagangan dapat membantu orang lain dari pada hanya memberikan

tenggang waktu, asal orang yang diberi memang benar-benar tidak mampu. Ibu

Yuwar juga melakukan hal yang serupa dengan melebihi porsi makanan. Hal ini

dilakukan jika pembeli dirasa membutuhkan dan kekurangan. Dengan

memberikan porsi yang lebih dari takaran biasanya dia berharap pembeli

tersebut dapat makan dengan cukup.

Keberkahan yang mereka cari dari usaha bisnis yang dilakukan

menjadi hal utama. Kegiatan yang mereka lakukan semata-mata untuk beribadah

kepada Allah Swt. Hal ini ditunjukkan dengan bekerja yang baik dan cara yang

dilakukan juga baik. Bisnis yang mereka kerjakan juga jauh dari kata kecurangan,

penipuan, dan praktek mal bisnis lainnya. Kejujuran dalam berdagang dilakukan

untuk menjaga kepercayaan orang lain. Seseorang harus menanamkan sifat jujur

karena jujur adalah akhlak yang paling utama untuk memperbaiki kinerja

bisnis.

Setelah mendapatkan profit atau keuntungan dari usahanya, seorang

wirausaha muslim tidak berpuas diri. Mereka akan menjalankan usahanya dengan

jauh lebih baik dan terjadi pertumbuhan pada usahanya. Ketika pertumbuhan

sudahh didapatkan maka usaha akan berlangsung lama. Seperti usaha yang

dilakukan oleh delapan narasumber yang sudah berjalan lama mulai dari empat

tahun sampai lima belas tahun berjalan. Usaha mempertahankanya pun tetap

24
dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam dengan tidak melakukan kecurangan

dan menutup rejeki orang lain.

Perilaku bisnis yang dikerjakan akan membawa mereka pada tujuan yang

benar. Tidak hanya tujuan dunia tetapi juga tujuan akhirat mereka.

Berdasarkan analisis Hampir semua wirausaha muslim di Perumahan Kaliwungu

Indah telah menanamkan perilaku bisnis yang baik dan sesuai dengan ajaran

agama Islam.

25
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan hasil penelitian yang

dilakukan, kesimpulan dari hasil penelitian analisis penerapan bisnis berbasis

syari’ah pada wirausaha muslim (study pada wirausaha muslim di perumahan

kaliwungu indah-kendal) adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan agama

yang dimiliki oleh wirausaha muslim telah diterapkan dalam kegiatan

bisnisnya. Mereka menjalankan bisnis dengan tetap memakai aturan yang

diperbolehkan maupun yang dilarang oleh ajaran agama. Kegiatan ini

menjadikan warga menjadi lebih baik dalam mendalami ilmu agama. Hal

tersebut juga dapat dilihat dalam kegiatan bisnisnya.

2. Perilaku wirausahawan muslim dalam berwirausaha dikatakan sesuai

dengan bisnis berbasis syariah yang dilihat dari

a. Ketaqwaan, dilihat dari ibadah wajib yang tidak pernah ditinggalkan

walaupun saat berbisnis. Selain itu ada amalan-amalan yang tetap mereka

lakukan disela-sela kegiatan bisnis.

b. Cara mereka melayani pembeli dengan ramah (Khidmah).

Bagaimanapun pembeli adalah asset yang harus di jaga.

c. Sikap amanah dengan menjaga kepercayaan pembeli.

d. Kebaikannya (Aqshid).

26
e. Bermurah hati dan menjaga hubungan baik dengan pembeli.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan, saran yang dapat diambil agar dapat

mempertahankan, menjaga, dan mengembangkan kegiatan bisnis berbasis syariah

yang telah berjalan dengan baik maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. Perlu diadakan pembentukan perkumpulan wirausaha muslim untuk saling

bertukar gagasan atau ilmu tentang bisnis yang baik sesuai dengan aturan

agama Islam.

2. Para wirausahawan lebih banyak menggal ilmu agama agar lebih memahami

tentang ilmu agama Islam. Pengetahuan yang baik tentang agama akan

membawa wirausaha pada keseimbangan dunia dan akhirat.

3. Penghasilan yang disisihkan untuk zakat, infaq, dan sodaqah semoga

digunakan dan diberikan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat

sekitar dan masyarakat umum.

4. Perlu diadakannya penyampaian materi tentang bisnis syari’ah agar wirausaha

lebih memahami bisnis yang sesuai dengan syari’ah.

5. Semoga wirausaha muslim yang ada di perumahan kaliwungu indah

khususnya dapat selalu menerapkan ajaran agama dalam setiap kegiatannya.

27
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Ma’ruf. Wirausaha Berbasis Syariah, Banjarmasin: Antasari Press,


2011.

Abu Sinn, Ahmad Ibrahim. Menejemen Syariah Sebuah Kajian Historis dan
Kontemporer, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.

Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. Etika Bisnis dan Profesi Tantangan
Membangun Manusia Seutuhnya, Jakarta: Salemba Empat, 2014.

Ahmad, Mustaq. Etika Bisnis dalam Islam, penerjemah Samson Rahman judul
asli Business Ethics in Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.

Al Arif, M. Nur Rianto dan Euis Amalia. Teori Mikro Ekonomi: Suatu
Perbandingan Ekonomi Islam Dan Ekonomi Konvensional, Jakarta:
Kencana, 2010.

Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. “Jual Beli yang Dilarang


dalam Islam”, [Link] Januari, 2008.

Amirul dan Imam Hardjanto. Pengantar Bisnis, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005.

Arifin, Johan. Etika Bisnis Islami, Semarang: Walisongo Press, 2009.

Arijanto, Agus. Etika Bisnis Bagi Pelaku Bisnis, Jakarta: Rajawali Press, 2012.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:


Rineka Cipta, 2010.

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. Taisiru al-Aliyyul Qadir Ii Ikhtishari Tafsir


Ibnu Katsir, Terj. Syihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press,1999.

Casson, Mark. Entrepreneurship: Teori, Jejaring, Sejarah, penerjemah


Benri Sjah judul asli Entrepeneurship Teory, Network, history, jakarta:
Rajawali pers, 2012.

Djakfar, Muhammad. Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, Malang: UIN-Malang


Press, 2007.

Fahmi Firmansyah, Adimas. Praktek etika bisnis islam (Studi kasus pada
toko santri syariah Surakarta), Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2013.

28
Fairuzah Aisyah, Ly. Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Usaha Bisnis Busana
Muslim (Studi pada CV. Azka Syahrani Collection), skripsi, Jakarta: UIN
Syarif Hidayatullah, 2011.

Ghazaly, Abdul Rahman. Fiqih Muamalah, Jakarta: Kencana Prenada Media


Group, 2010.

Gitosudarmo, Indriyo. Pengantar Bisnis Edisi 2, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta,


2008.

Hasan, Ali. Manajemen Bisnis Syari’ah (Kaya di Dunia Terhormat di Akhirat),


Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009.

Ismail Yusanto, Muhammad dan Muhammad Karebet Widjajakusuma.


Mengagas Bisnis Islam, Jakarta:Gema Insani Press,2002.

Juliansayah, Hafiz. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Etika Bisnis Islam


Pedagang Pasar Ciputat, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011.

Jusmaliani , et al. Bisnis Berbasis Syari’ah, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Kartajaya, Hermawan dan Muhammad Syakir Sula. Syariah Marketing,


Bandung:Mizan, 2006.

Kasmir. Kewirausahaan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.

Malahayati. Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah, Yogyakarta: Jogja Great!


Publisher, 2010.

29

Anda mungkin juga menyukai