0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan5 halaman

Nilai Ambang Batas Getaran K3

Dokumen tersebut membahas tentang nilai ambang batas getaran yang aman bagi pekerja untuk mencegah gangguan kesehatan. Nilai ambang batas getaran ditetapkan pemerintah berdasarkan waktu pemaparan dan hierarki pengendalian risiko getaran meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan penggunaan alat pelindung diri.

Diunggah oleh

Isma wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan5 halaman

Nilai Ambang Batas Getaran K3

Dokumen tersebut membahas tentang nilai ambang batas getaran yang aman bagi pekerja untuk mencegah gangguan kesehatan. Nilai ambang batas getaran ditetapkan pemerintah berdasarkan waktu pemaparan dan hierarki pengendalian risiko getaran meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan penggunaan alat pelindung diri.

Diunggah oleh

Isma wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nilai Ambang Batas Getaran

Getaran mekanis yang tidak melebihi Nilai Ambang Batas (NAB)

memungkinkan pekerja dapat mengamati obyek yang sedang dikerjakan secara

tepat, cepat, jelas, nyaman dan aman. Karena sebenarnya getaran mekanis yang

tinggi merupakan beban tambahan fisik ataupun psikologis bagi para tenaga kerja.

Adapun akibatnya antara lain yaitu dapat terjadi kelelahan mata dengan gejala-

gejala: penurunan ketajaman mata, penglihatan rangkap/kabur, sakit di sekitar

mata dan terjadinya kesalahankesalahan dalam pekerjaan ataupun terjadi

kecelakaan kerja (wodowati, 2011).

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik

Indonesia Tahun 2011, Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB

adalah standar faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata

tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa

mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari

untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.51/MEN/1999/

dan Standar Internasional Indonesia (SNI) 16-7063-2004 nilai ambang batas

getaran alat kerjayang kontak lansung maupun tidak langsung terhadap tenaga

kerja ditetapkan sebesar 4 m/s2. Dalam upaya pencegahan dan pengendalian risiko

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Pemerintah Indonesia mengatur nilai

ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di lingkungan kerja melalui Peraturan

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011. Adapun

nilai ambang batas getaran untuk pemaparan lengan dan tangan ditampilkan pada

tabel beriku ini.


Nilai Ambang Batas (NAB) Getaran

Jumlah waktu pemaparan per hari


Nilai Ambang Batas (m/s2)
kerja
4 jam dan kurang dari 8 jam 4
2 jam dan kurang dari 4 jam 6
1 jam dan kurang dari 2 jam 8
Kurang dari 1 jam 12
Sumber: Permenaker trans Nomor PER.13/MEN/X/2011

Hierarki Pengendalian
Pengendalian risiko menurut Tarwaka (2008) ada 6 (enam), yaitu (Wulandari,

2011) :

1. Eliminasi (elimination)

Eliminasi adalah suatu pengendalian risiko yang bersifat permanen dan

harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas pertama. Eliminasi

dapat dicapai dengan memindahkan objek kerjaatau sistem kerja yang

berhubungan dengan tempat kerja yang kehadirannya pada batas yang

tidak dapat diterima oleh ketentuan,peraturan atau standar baku K3 atau

kadarnya melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) diperkenankan.

Eliminasi adalah cara pengendalian risiko yang paling baik, karena risiko

terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja ditiadakan.

2. Substitusi (substitution)

Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan

peralatan yang lebih berbahaya dengan yang kurang berbahaya atau yang

lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih

diterima.

3. Rekayasa teknik (engineering control)


Pengendalian atau rekayasa teknik termasuk merubah struktur objek kerja

untuk mencegah tenaga kerja terpapar kepada potensi bahaya, seperti

pemberian pengaman mesin, penutup ban berjalan, pembuatan struktur

pondasi mesin dengan cor beton, pemberian alat bantu mekanik,

pemberian absorben suara pada dinding ruang mesin yang menghasilkan

getaran tinggi.

4. Pengendalian Administrasi (administration control)

Pengendalian administrasi dilakukan dengan menyediakan suatu

sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar

potensi bahaya. Metode pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku

pekerjanya dan memerlukan pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya

pengendalian administrasi ini. Metode ini meliputi rekruitmen tenaga kerja

baru sesuai jenis pekerjaan yang akanditangani, pengaturan waktu kerja

dan waktu istirahat, rotasi kerjauntuk mengurangi kebosanan dan

kejenuhan, penerapan prosedurkerja, pengaturan kembali jadwal kerja,

training keahlian dan training K3.

5. Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri (APD) merupakan sarana pengendalian yang

digunakan untuk jangka pendek dan bersifat sementara jika sistem

pengendalian yang lebih permanen belum dapat di implementasikan. APD

merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian risikodi tempat

kerja. Selain itu APD juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
a. APD tidak menghilangkan risiko bahaya yang ada, tetapi hanya

membatasi antara terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang

diterima. Bila penggunaan APD gagal, maka secara otomatis

bahaya yang ada akan mengenai tubuh pekerja.

b. Penggunaan APD dirasakan tidak nyaman, karena kekurang

leluasaan gerak pada waktu kerja dan dirasakan adanya beban

tambahan karena harus dipakai selama bekerja.

Dalam penggunaan APD tetap dibutuhkan pelatihan atau training

bagi tenaga kerja yang menggunakannya, termasuk pemeliharaannya.

Tenaga kerja juga harus mengerti bahwa penggunaan APD tidak

menghilangkan bahaya yang akan terjadi. Jadi satu bahaya akan tetap

terjadi jika ada kecelakaan.

Sumber:
Kusniawati, Sunu., dkk. 2014. Analisis kebisingan dan getaran mekanis pada
mesin saccof harvester. Jurnal Keteknikan Peternakan. Vol 27 No. 1, hal 35-
40. [Link] (Diakses: 15
April 2019).
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011
tentang Nilai Ambang Batas Getaran. [online]. (Diakses: 13 April 2019).
Prasasti, Ninuk., dkk. 2018. Pengukuran paparan getaran lengan-tangan pada
sistem kalibrasi vibration pen untuk mencegah hand-arm vibration
syndrom. Pulsit Metrologi, hal 345-354. [Link]
download/prosiding/ 2018 (Diakses: 15 April 2019).
Wulandari, Septiani. 2011. Identifikasi Bahaya Penilaian dan Pengendalian
Risiko Area Produksi Line 3 sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja
di PT. Coca Cola Amatil Indonesia. Central Java. [online]. www.
[Link]. (Diakses: 11 April 2019).
Widowati, Evi. 2011. Getaran benang lusi terhadap kelelahan mata. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. Vol 7 No 1, hal 1-6. [Link]
/[Link] p/kemas/article/view/1786 (Diakses: 12 April 2019).

Anda mungkin juga menyukai