Asuhan Keperawatan HIV pada Anak
Asuhan Keperawatan HIV pada Anak
Di susun oleh :
Nim : 1701011005
Prodi : s1 keperawatan
TAHUN AJARAN
2019/2020
KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadiraj Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang
ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW. Serta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman.
Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati
indahnya keimanan dan Islam.
Dengan penuh rasa syukur kami ucapkan karena dapat menyelesaikan tugas TENTANG
ASKEP HIV PADA ANAK ini, yang diberikan oleh dosen [Link] Ardi Putri,Mkep. kepada
kami sebagai tugas dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah KEPERAWATAN
ANAK Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan
penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga Makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................................................
B. Tujuan...................................................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar.........................................................................................................
1. Definisi……………………………………………………………………....
2. Etiologi……………………………………………………………………....
3. Patofisiologi………………………………………………………………….
4. Manifestasi klinik…………………………………………………………….
5. Pemeriksaan penunjang………………………… ……………………………
6. Diagnosisi…………………………………………………………………….
7. Komplikasi……………………………………………………………………
8. Penatalaksanaan………………………………………………………………
B. Konsep keperawatan………………………………………………………………
1. Pengkajian ……………………………………………………………………
2. Diagnose………………………………………………………………………
3. Intervensi keperawatan………………………………………………………..
4. Kasus hiv pada anak…………………………………………………………..
5. Tinjauan kasus…………………………………………………………………
BAB III
TINJAUAN KASUS
BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan................................................................................................................
B. Saran............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi HIV/AIDS ( Human immuno Deficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrom )
pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa homoseksual, sedangkan pada
anak tahun 1983. enam tahun kemudian ( 1989 ), AIDS sudah termasuk penyakit yang mengancam anak
di amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih dari 8000 orang setiap hari saat
ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi HIV dianggap sebagai penyebab kematian
tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubbinstein dan Amman pada tahun 1983
di Amerika serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di Amerika makin lama makin meningkat.
Pada bulan Desember di Amerika dilaporkan 1995 maupun pada anak yang berumur kurang dari 13 tahun
menderita HIV dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4480 kasus. Jumlah ini merupakan 1,5 % dan seluruh
jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan
AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun pada anak – anak tertinggi didunia
adalah di Afrika.
Sejak dimulainya epidemi HIV/ AIDS, telah mematikan lebih dan 25 juta orang, lebih dan 14 juta
anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya karena AIDS. Setiap tahun juga diperkirakan 3 juta
orang meninggal karena AIDS, 500 000 diantaranya adalah anak usia dibawah 15 tahun. Setiap tahun
pula terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang atau berkembang, dengan angka
transmisi sebesar ini maka dari 37,8 juta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2,1
juta anak- anak dibawah 15 tahun. (WHO 1999)
B. Tujuan
1. Mengetahui dan mempelajari tentang HIV AIDS
2. Mengetahui definisi,etiologi dan patofisiologi HIV
3. Menbgetahui manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang
4. Mengetahui diagnosis,komplikasi dan penatalaksanaan
5. Mengetahui Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada anak yang menderita AIDS
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR
1. Definisi
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler yang
disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana kebanyakan
pasien memerlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama perjalanan penyakit.
(Carolyn, M.H.1996:601)
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency virus (HIV). (Mansjoer, 2000:162)
Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih
Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif,
menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa).
Kasus HIV pada anak biasanya paling sering ditemukan akibat transmisi dari ibu yang
sudah memiliki HIV ke anaknya. Kemungkinan besar perpindahan virus ini terjadi selama proses
kehamilan dan juga persalinan.
2. Etiologi
Penyebab penyakit AIDs adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus
yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat
ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah, dan penularan masa
perinatal.
a. faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah :
1) bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual,
2) bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti,
3) bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena,
4) bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang,
5) anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah seksual), dan
6) anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.
b. Cara Penularan
Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui:
1) Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum)
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara
transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta
(intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.
2) SElama persalinan (intrapartum)
Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung HIV
melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.
3) Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi
Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung
pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya
kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding
vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode
pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada
ibu. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi
antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum
persalinan.
4) Bayi tertular melalui pemberian ASI.
Transmisi pascapersalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI diketahui
banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel yang terinfeksi
HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada
componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV
melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi di mucosa mulut bayi, prematuritas dan
respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan
paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat.
Infeksi HIV pada anak yang ditularkan oleh ibu sewaktu dalam kandungan atau masa persalinan
biasanya akan menunjukkan tanda dalam rentang waktu 12-18 bulan pertama kehidupan anak.
Meski begitu, ada juga anak yang tidak menunjukkan gejala apa pun hingga usianya lebih dari 5
tahun.
HIV pada anak juga cukup sulit terdeteksi karena gejalanya mirip dengan infeksi virus biasa,
misalnya flu. Kendati demikian, terdapat beberapa gejala yang dapat dicurigai sebagai tanda HIV
pada anak, di antaranya:
1. Berat badan anak tidak bertambah
Tanda HIV pada anak yang cukup jelas adalah berat badan yang sulit bertambah. Idealnya, berat
badan anak usia satu tahun akan mencapai tiga kali berat badan lahir. Namun, anak yang
terinfeksi HIV biasanya akan tampak kurus karena berat badannya tidak kunjung bertambah.
Anak yang terinfeksi HIV biasanya mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih
lambat. Ini dapat dilihat dari kondisi anak yang sulit atau terlambat duduk, berdiri, berjalan,
terlambat bicara, atau perilaku anak yang tidak seperti anak-anak lain seusianya.
Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Namun seiring
bertambahnya usia anak, sistem kekebalan tubuhnya akan semakin kuat. Hal ini seharusnya
membuat anak dapat terhindar dari penyakit.
Waspadailah jika anak sering mengalami demam lebih dari 7 hari, batuk pilek, pembengkakan
kelenjar getah bening, sakit perut, dan infeksi telinga yang sangat sering kambuh dan
berlangsung lama. Bisa jadi hal tersebut menandakan adanya kelemahan sistem kekebalan tubuh
yang kemungkinan disebabkan oleh infeksi HIV.
Salah satu tanda HIV pada anak yang paling spesifik adalah anak sering mengalami infeksi
bakteri, virus, jamur, atau parasit akibat sistem kekebalan tubuhnya yang lemah. Infeksi pada
anak atau orang dewasa yang menderita HIV/AIDS ini disebut infeksi oportunistik. Infeksi ini
bisa berupa:
Selain infeksi-infeksi tersebut, anak dengan HIV juga rentan mengalami penyakit infeksi lain
yang berat, seperti meningitis dan sepsis.
Anak-anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena infeksi HIV dapat mengalami
kekambuhan infeksi hingga lebih dari 4 kali dalam kurun waktu 6-12 bulan. Infeksi ini
seharusnya lebih jarang terjadi jika anak memiliki daya tahan tubuh yang normal.
Anak-anak yang menderita infeksi HIV juga bisa lebih sering mengalami masalah pada kulit.
Keluhan-keluhan ini bisa berupa adanya ruam, bentol-bentol, koreng, dan gatal-gatal di kulit
yang cepat meluas.
Gangguan pada kulit ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi kulit (misalnya infeksi
jamur, infeksi bakteri, dan herpes), dermatitis, hingga kelainan kulit yang disebut sarkoma
kaposi.
Setiap anak dengan infeksi HIV bisa saja mengalami gejala yang berbeda atau bahkan tidak
mengalami gejala sama sekali. Munculnya tanda-tanda di atas juga bukan berarti anak pasti
terinfeksi HIV. Tanda tersebut bisa saja muncul karena melemahnya daya tahan tubuh akibat
penyebab lain, seperti gizi buruk atau efek samping pengobatan tertentu.
Namun jika Anda ragu, sebaiknya bawa anak ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lengkap.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menyarankan tes HIV jika Si Kecil menunjukkan
gejala yang dicurigai HIV, memiliki orang tua yang positif HIV, atau mempunyai orang tua
dengan riwayat perilaku berisiko tertular infeksi HIV.
Jika hasil tes menunjukkan anak positif HIV, dokter akan segera memberikan obat antiretroviral
untuk mengurangi jumlah virus HIV dan membantu memperkuat daya tahan tubuh anak.
Infeksi HIV memang belum dapat disembuhkan, tetapi dengan rutin mendapatkan pengobatan
dan menjalani evaluasi kesehatan secara berkala, anak dengan HIV bisa hidup dengan sehat.
Oleh karena itu, anak yang dicurigai menderita HIV atau sudah terdiagnosis HIV perlu
mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan dari dokter sedini mungkin
3. Patofisiologi
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja
sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan peran kritis
dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan bertahap
bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan
penurunan sel CD4.
HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai
reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup linfosit penolong dengan peran kritis dalam
mempertahankan responsivitas imun, juga memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan
dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4
ini tidak pasti, meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi
apoptosis melalui antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang
terinfeksi melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor
limfosit atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit. Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus
laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel kromafin
mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin, pemulihan virus
yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi terkait HIV melibatkan banyak
organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan terutama disebabkan oleh
infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun “ priode inkubasi “
atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada infeksi
perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi imun sering
tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B; hipergameglobulinemia dengan
produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara anak-anak yang terinfeksi HIV dari
pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6 bulan. Ketidak mampuan untuk berespon
terhadap antigen baru ini dengan produksi imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa
pajanan antigen sebelumnya, berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih
berat pada infeksi HIV pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan
mungkin tidak berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV
sering memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CD8 yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi pada
infeksi HIV anak.
4. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai penyakit
berat yang dinamakan AIDS. AIDS pada anak terutama terjadi pada umur muda karena sebagian
besar (>80%) AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak. Lima puluh persen
kasus AIDS anak berumur < l tahun dan 82% berumur <3 tahun. Meskipun demikian ada juga
bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal belum memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10
tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh mikroorganisme yang ada di
lingkungan anak. Oleh karena itu, manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa :
a. gagal tumbuh
b. berat badan menurun,
c. anemia,
d. panas berulang,
e. limfadenopati, dan
f. hepatosplenomegali
Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya infeksi oportunistik,
yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur, atau protozoa yang lazimnya tidak memberikan
penyakit pada anak normal. Karena adanya penurunan fungsi imun, terutama imunitas selular,
maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut, yang biasanya lebih lama,
lebih berat serta sering berulang. Penyakit tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat
menyebar ke esofagus, radang paru karena Pneumocystis carinii, radang paru karena
mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak. Bila anak terserang Mycobacterium
tuberculosis, penyakitnya akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak
sering juga menderita diare berulang.
Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah pneumonia
interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada
jaringan paru. Manifestasi klinisnya berupa
a. hipoksia,
b. sesak napas,
c. jari tabuh, dan
d. limfadenopati.
e. Secara radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus bilateral, terkadang dengan
adenopati di hilus dan mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati kronik yang
mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran ketrampilan motorik dan daya
intelektual, sehingga terjadi retardasi mental dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan
manifestasi primer infeksi HIV. Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala
terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat atau cairan
serebrospinal.
5. Pemeriksaan penunjang
Menurut Hidayat (2008) diagnosis HIV dapat tegakkan dengan menguji HIV. Tes ini
meliputi tes Elisa, latex agglutination dan western blot. Penilaian Elisa dan latex agglutination
dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan positif HIV
harus dipastikan dengan tes western blot. Tes lain adalah dengan cara menguji antigen HIV,
yaitu tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR. Bila pemeriksaan pada kulit, maka
dideteksi dengan tes antibodi (biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu HIV.
6. Diagnosis
Diagnosis awal bayi yang terinfeksi sangat diinginkan, tetapi pengenalan awal bayi yang
beresiko HIV lebih penting. Hanya jika infeksi HIV pada perempuan hamil teridentifikasi,
terhadap kesempatan untuk mengubah ibu dan bayi secara cepat dengan terapi antiviral atau
preventif. Oleh karena itu uji dan konseling HIV harus menjadi bagian rutin pada perawatan
kehamilan.
a. pada bayi yang mendapat asi
Bila seorang bayi yang terpapar infeksi HIV mendapat ASI, ia akan terus berisiko
tertulari HIV selama masa pemberian ASI; karenanya uji virologik negatif pada bayi yang terus
mendapat ASI tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV. Dianjurkan uji virologik
dilakukan setelah bayi tidak lagi mendapat ASI selama minimal 6 minggu. Bila saat itu bayi
sudah berumur 9-18 bulan saat pemberian ASI dihentikan, uji antibodi dapat dilakukan sebelum
uji virologik, karena secara praktis uji antibodi jauh lebih murah. Bila hasil uji antibodi positif,
maka pemeriksaan uji virologik diperlukan untuk mendiagnosis pasti, meskipun waktu yang
pasti anak-anak membuat antibodi anti HIV pada yang terinfeksi post partum belum diketahui.
b. Pada Bayi dan anak yang terpapar HIV dan memiliki gejala klinis
Bila uji virologik tidak dapat dilakukan tetapi ada tempat yang mampu memeriksa, semua
bayi kurang dari 12 bulan yang terpapar HIV dan menunjukkan gejala dan tanda infeksi HIV
harus dirujuk untuk uji virologik. Hasil yang positif pada stadium apapun menunjukkan positif
infeksi HIV.
c. Pada Bayi dan anak yang terpapar HIV asimtomatik
Pada usia 12 bulan, sebagian besar bayi yang terpapar HIV sudah tidak lagi memiliki
antibodi maternal. Hasil uji antibodi yang positif pada usia ini dapat dianggap indikasi tertular
(94.5% seroreversi pada usia 12 bulan; Spesifisitas 96%) dan harus diulang pada usia 18 bulan.
d. Pada Anak yang berumur kurang dari 18 bulan
Diagnosis definitif laboratoris infeksi HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan
hanya dapat ditegakkan melalui uji virologik. Hasil yang positif memastikan terdapat infeksi
HIV. Tetapi bila akses untuk uji virologik ini terbatas, WHO menganjurkan untuk dilakukan
pada usia 6-8 minggu, dimana bayi yang tertular in utero, maupun intra partum dapat tercakup.
Uji virologik yang dilakukan pada usia 48 jam dapat mengidentifikasi bayi yang tertular in utero,
tetapi sensitivitasnya masih sekitar 48%. Bila dilakukan pada usia 4 minggu maka sensitivitasnya
naik menjadi 98%.
Satu hasil positif uji virologik pada usia berapa pun dianggap diagnostik pasti. Meskipun
demikian tetap direkomendasikan untuk melakukan uji ulang pada sampel darah yang berbeda.
Bila tidak mungkin dilakukan dua kali maka harus dipastikan kehandalan laboratorium penguji.
Pada anak yang didiagnosis infeksi HIV hanya dengan satu kali pemeriksaan virologik
yang positif, harus dilakukan uji antibodi anti HIV pada usia lebih dari 18 bulan.
e. Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan
Diagnosis definitif infeksi HIV pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan (apakah
paparannya diketahui atau tidak) dapat menggunakan uji antibodi, sesuai proses diagnosis pada
orang dewasa. Konfirmasi hasil yang positif harus mengikuti algoritme standar nasional, paling
tidak menggunakan reagen uji antibodi yang berbeda.
7. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim dalam
rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan
lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit
di balik sternum (nyeri retrosternal).
b. Neurologik
• ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS dementia
complex). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan
berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. stadium lanjut
mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan efektif seperti
pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor,
inkontinensia, dan kematian.
• Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku kuduk,
mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis
cairan serebospinal.
c. Gastrointestinal
Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB > 10% dari BB awal, diare
yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam yang kambuhan
atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala ini.
- Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
- Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan
anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
- Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat
infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.
d. Respirasi
Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea), batuk-batuk,
nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti
yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi
sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum
merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas.
dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit
kepala serta [Link] AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang
disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema
dan psoriasis.
f. Sensorik
- Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis sitomegalovirus
berefek kebutaan
- Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri
yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.
8. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
- ELISA (positif; hasil tes yang positif dipastikan dengan western blot)
- Western blot (positif)
- P24 antigen test (positif untuk protein virus yang bebas)
- Kultur HIV(positif; kalau dua kali uji-kadar secara berturut-turut mendeteksi enzim reverse
transcriptase atau antigen p24 dengan kadar yang meningkat)
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
- LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
- CD4 limfosit (menurun; mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi terhadap antigen)
- Rasio CD4/CD8 limfosit (menurun)
- Serum mikroglobulin B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya penyakit).
- Kadar immunoglobulin (meningkat)
9. Penatalaksanaan
1. Perawatan
Menurut Hidayat (2008) perawatan pada anak yang terinfeksi HIV antara lain:
Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan
terjadi infeksi
Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu
azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus,
sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
Mengatasi dampak psikososial
Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang
dilakukan oleh tenaga medis
Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu memperhatikan
perlindungan universal (universal precaution)
2. pengobatan
Pengobatan medikamentosa mencakupi pemberian obat-obat profilaksis infeksi
oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah dilakukan
dan menunjukkan kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada penderita HIV yang
berusia kurang dari 12 bulan dan siapapun yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga dipastikan
bahaya infeksi pneumonia akibat parasit Pneumocystis jiroveci dihindari. Pemberian Isoniazid
(INH) sebagai profilaksis penyakit TBC pada penderita HIV masih diperdebatkan. Kalangan
yang setuju berpendapat langkah ini bermanfaat untuk menghindari penyakit TBC yang berat,
dan harus dibuktikan dengan metode diagnosis yang handal. Kalangan yang menolak
menganggap bahwa di negara endemis TBC, kemungkinan infeksi TBC natural sudah terjadi.
Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan
dan yang tidak.
Obat profilaksis lain adalah preparat nistatin untuk antikandida, pirimetamin untuk toksoplasma,
preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang diberikan sesuai kondisi klinis yang ditemukan
pada penderita.
Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset mengenai obat ARV terjadi
sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus dalam bentuk DNA proviral
pada stadium dorman di sel CD4 memori. Pengobatan infeksi HIV dan AIDS sekarang
menggunakan paling tidak 3 kelas anti virus, dengan sasaran molekul virus dimana tidak ada
homolog manusia. Obat pertama ditemukan pada tahun 1990, yaitu Azidothymidine (AZT) suatu
analog nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim transkriptase
riversi. Bila obat ini digunakan sendiri, secara bermakna dapat mengurangi kadar RNA HIV
plasma selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya progresivitas penyakti HIV tidak
dipengaruhi oleh pemakaian AZT, karena pada jangka panjang virus HIV berevolusi membentuk
mutan yang resisten terhadap obat.
3. Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui :
1. Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar vital load
rendah sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif
untuk menularkan HIV.
2. Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral(Nevirapine) saat persalinan dan bayi baru
dilahirkan dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectio caesar karena
terbukti mengurangi resiko penularan sebanyak 80%.
3. Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko dan manfaat ASI
A. Pengkajian
Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-rata dimasa perinatal sekitar usia 9 –
17 tahun.
Keluhan utama dapat berupa :
Demam dan diare yang berkepanjangan
Tachipnae
Batuk
Sesak nafas
Hipoksia
Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
Diare lebih dan satu bulan
Demam lebih dan satu bulan
Mulut dan faring dijumpai bercak putih
Limfadenopati yang menyeluruh
Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
Dermatitis yang menyeluruh
Pada riwayat penyakit dahulu adanya riwayat transfusi darah ( dari orang yang terinfeksi
HIV / AIDS ). Pada ibu atau hubungan seksual. Kemudian pada riwayat penyakit keluarga dapat
dimungkinkan :
Adanya orang tua yang terinfeksi HIV / AIDS atau penyalahgunaan obat
Adanya riwayat ibu selama hamil terinfeksi HIV ( 50 % TERTULAR )
Adanya penularan terjadi pada minggu ke 9 hingga minggu ke 20 dari kehamilan
Adanya penularan pada proses melahirkan
Terjadinya kontak darah dan bayi.
Adanya penularan setelah lahir dapat terjadi melalui ASI
Adanya kejanggalan pertumbuhan (failure to thrife )
Pada pengkajian faktor resiko anak dan bayi tertular HIV diantaranya :
Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti-ganti
Bayi yang lahir dan ibu dengan penyalahgunaan obat melalui vena
Bayi atau anak yang mendapat tranfusi darah atau produk darah yang berulang
Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik atau tusuk bekas yang tidak steril
Anak remaja yang berhubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
Ny. S membawa anaknya ke rumah sakit karena anaknya batuk terus- terusan dan di
sertai sesak [Link] Ny S sudah sekitar seminggu batuk anaknya tidak mau berhenti dan
dua hari yang lalu batuknya mulai disertai sesak napas. klien kelihatan tampak sesak.
Ibu klien mengatakan anaknya diare, terus – terusan buang air besar sampai 5 x dalam
sehari. klien tampak lemah,mata [Link] demam dan tidak mau [Link] kelihatan
agak kurus dan sudah tidak beraktivitas sebagaimana biasanya. Keluarga klien mengatakan
sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Setelah di lakukan pemeriksaan di dapatkan
TTV Suhu : 38,5 º C
- Nadi : 120x/m
- Pernafasan : 28x / m
- TD : 95/60 mmHg
BAB III
TINJAUAN KASUS
2) N a t a l
Tempat melahirkan di Puskesmas oleh bidan
Lama dan jenis persalinan : Spontan/normal
Penolong persalinan Dokter Kebidanan
Tidak ada komplikasi selama persalinan ataupun setelah persalinan (sedikit perdarahan daerah
vagina).
3) Post Natal
Kondisi Bayi : BB lahir 2 kg, PB 47 cm
Pada saat lahir kondisi anak baik
(untuk semua usia)
Penyakit yang pernah dialami demam setelah imunisasi
Kecelakaan yang pernah dialami: tidak ada
Imunisasi belum lengkap
Alergi belum nampak
Perkembangan anak dibanding saudara-saudara : Anak pertama
V. Riwayat Kesehatan Keluarga
Anggota keluarga : Ibu klien positif HIV
Genogram
Penjelasan :
Generasi I = Kakek dan nenek klien meninggal bukan karena penyakit yang sama dengan klien
Generasi II = Saudara laki-laki dari bapak klien meninggal karena kecelakaan tidak ada riwayat
penyakit yang sama dengan klien
Generasi III = Klien anak pertama. Belum mempunyai saudara, klien saat ini di rasawat di RS
dengan diangnosa postif HIV.
VI. Riwayat Imunisasi
Waktu Reaksi setelah
No. Jenis Imunisasi Pemberian pemberian
1. BCG 1 bulan Demam
2. DPT 1 bulan Demam
3. Polio - -
4. Campak - -
5. Hepatitis Lupa lupa
b. Cairan
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1. Jenis minuman ASI Tidak ada
2. Frekwensi minum Setiap kali haus Sering
3. Kebutuhan cairan Tidak diketahui Tergantung
4. Cara pemberian ASI Infuse
[Link]/Tidur
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1. Jam tidur
Siang 11.00 – 13.00 Jam 12.00-13.00
Malam Jam 20.00- 06.00 Jam 21.00-7.00
2. Pola tidur Tidur dilaksanakan Tidur dilaksanakan
pada siang dan malam pada siang dan malam
hari hari
3. Kebiasaan sebelum Menyusu Menyusu
tidur
4. Kesulitan tidur
Gelisah Sering terbangun
karena popoknya
basah oleh feses.
e. Olahraga
Tidak dikaji
f. Personal Hygiene
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1. Mandi
Cara Dikerjakan oleh orang tua Tidak pernah mandi
2 x sehari hanya dilap badan
Frekwensi 1x sehari/melap
Sabun badan
alat mandi Pake air hangat
Kadang-kadang
2. Cuci rambut Tidak menentu belum pernah
frekwensi Dikerjakan oleh orang tua dilakukan
Cara Setiap kali kuku
terlihat panjang
3. Gunting kuku Di kerjakan oleh orang tua belum pernah
frekwensi dilakukan
Cara
g. Aktifitas/mobilitas fisik
Tidak dikaji
h. Rekreasi
Tidak dikaji
XIII. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum klien : lemah gelisah dan batuk sesak
Ekspresi wajah biasa kadang tersenyum dan cengeng bila diajak bermain.
Berpakaian bersih karena selalu dijaga oleh ibunya.
b. Tanda-tanda vital:
- Suhu : 38,5 º C
- Nadi : 120x/m
- Pernafasan : 70 x / m
- TD : 95/60 mmHg
c. Antropometri
- Panjang badan : 50 cm
- Berat badan : 5 kg
- Lingkaran lengan atas : tidak dikaji
- lingkaran kepala : tidak dikaji
- lingkaran dada : tidak di kaji
- Lingkaran perut :tidak dikaji
- Skin fold : tidak dikaji
d. Head To Toe
o Kulit :
Pucat dan turgor kulit agak buruk
o Kepal dan leher :
Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada peradangan
o Kuku : Jari tabuh
o Mata / penglihatan :
Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
o Hidung :
Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi penciuman normal
o Telinga :
Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
o Mulut dan gigi
Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan dan perdarahan pada
gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir pecah-pecah.
o Leher. Terjadi peradangan pada eksofagus.
o Dada : dada masih terlihat normal
o Abdomen : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat dan perut mules dan
mual.
o Perineum dan genitalia
Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
o Extremitas atas/ bawah
Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat tidak ada energi karena diare dan
proses penyakit.
e. Sistem Pernafasan
Hidung : Simetris, pernafasan cuping hidung : ada, secret : ada
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe di sub mandibula.
D a d a :
- Bentuk dada : Normal
- Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal : 1 : 1
- Gerakan dada : simetris, tidak terdapat retraksi
- Suara nafas : ronki
- Suara nafas tambahan : ronki
Tida ada clubbling finger
f. Sistem kardiovaskuler :
Conjungtiva : Tidak anemia, bibir : pucat/cyanosis, arteri carotis : berisi reguler , tekanan vena
jugularis : tidak meninggi
Ukuran Jantung : tidak ada pembesaran
Suara jantung : Tidak ada bunyi abnormal
Capillary refilling time > 2 detik
g. Sistem pencernaan:
- Mulut : terjadi peradangan pada mukosa mulut
- Abdomen : distensi abdomen, peristaltic meningkat > 25x/mnt akibat adanya virus yang
menyerang usus
- Gaster : nafsu makan menurun, mules, mual muntah, minum normal,
- Anus : terdapat bintik dan meradang gatal
h. Sistem indra
1. Mata : agak cekung
2. Hidung : Penciuman kurang baik,
3. Telinga
- Keadaan daun telinga : kanal auditorius kurang bersih akibat benyebaran penyakit
- Fungsi pendengaran kesan baik
i. Sistem Saraf
1. Fungsi serebral:
Status mental : Orientasi masih tergantung orang tua
Bicara : -
Kesadaran : Eyes (membuka mata spontan) = 4, motorik (bergerak mengikuti perintah) = 6,
verbal (bicara normal) = 5
2. Fungsi kranial :
Saat pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan dari Nervus I – Nervus XII.
3. Fungsi motorik : Klien nampak lemah, seluruh aktifitasnya dibantu oleh orang tua
4. Fungsi sensorik : suhu, nyeri, getaran, posisi, diskriminasi (terkesan terganggu)
5. Fungsi cerebellum : Koordinasi, keseimbangan kesan normal
6. Refleks : bisip, trisep, patela dan babinski terkesan normal.
j. Sistem Muskulo Skeletal
1. Kepala : Betuk kurang baik, sedikit nyeri
2. Vertebrae: Tidak ditemukan skoliosis, lordosis, kiposis, ROM pasif, klien malas bergerak,
aktifitas utama klien adalah berbaring di tempat tidur.
3. Lutut : tidak bengkak, tidak kaku, gerakan aktif, kemampuan jalan baik
4. Tangan tidak bengkak, gerakan dan ROM aktif
k. Sistem integumen
warna kulit pucat dan terdapat bintik-bintik dengan gatal, turgor menurun > 2 dt,
suhu meningkat 39 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time
memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
l. Sistem endokrin
Kelenjar tiroid tidak nampak, teraba tidak ada pembesaran
Suhu tubuh tidak tetap, keringat normal,
Tidak ada riwayat diabetes
m. Sistem Perkemihan
Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam), frekuensi berkurang.
Tidak ditemukan odema
Tidak ditemukan adanya nokturia, disuria , dan kencing batu
n. Sistem Reproduksi
Alat genetalia termasuk glans penis dan orificium uretra eksterna merah dan gatal
o. Sistem Imun
Klien tidak ada riwayat alergi
Imunisasi lengkap
Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca tidak ada
Riwayat transfusi darah tidak ada
XIV. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
6 tahun ke atas
Tidak di kaji karena klien saat ini masih berumur satu tahun
XV. Terapi Saat ini :
Infus RL 20 tts/m
Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV, sebagai pengganti vaksin
poliovirus (OPV), anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV)
Keperawatan :
Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan
terjadi infeksi
Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu
azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus,
sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
Mengatasi dampak psikososial
Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang
dilakukan oleh tenaga medis
Hasil Laboratorium tanggal 23Mei 2011: Tidak dikaji
XVI. Klasifikasi Data
Data Subjektif
- Ibu klien mengatakan anaknya batuk-batuk dan sesak
- Ibu klien mangatakan anaknya demam tinggi dan terus-menerus
- ibu klien mengatakan, klien tidak mau menyusu/tidak minum susu
- Ibu klien mengatakan anaknya susah menelan akibat luka-luka pada mulutnya
- ibu klien mengatakan anaknya sering buang air besar dan encer
- ibu klien mengatakan anaknya tidak dapat beraktivitas
- ibu klien mengatakan sangat khawatir dengan kondisi anaknya, maka dari itu anaknya di bawa
ke RS.
Data Objektif
- Klien selama di RS nampak batuk terus dan gelisah nampak sesak sesak
- Klien nampak teraba panas dengan suhu 39 0C, Nadi : 120x/m, P : 28x /m dan TD : 95/60
mmHg
- Klien nampak tidak mau disusui, berat badan klien turun dari 6kg menjdi 5 kg
- Klien nampak selalu BAB dan diRS terhitung 4-5/kali
- Kulit klien nampak kering, nampak cekung pada mata
- Klien tampak sangat lemah
- Keluarga klien nampak gelisah dan selalu menanyakan kondisi anaknya.
Penumpukan sekret
Batuk inefektif
DS : Menginfeksi bronkus Pola napas tidak efektif
2 keluarga klien mengatakan Aktivitas bronkus
anaknya susah bernapas berkurang
DO : Peningkatan sekret
Klien tampak kelihatan sesak bronkial
Penumpukan sekret
Pengembangan
ekspansi paru
menurun
Seak naf
Kuman mengeluarkan
endotoksin
DS : Hipertermi
Keluarga klien
Merangsang
mangatakan anaknya demam
pengeluaran zat
3 terus-menerus
pirogen oleh leukosit
DO :
pada jaringan yg
Klien nampak teraba panas
meradang
dengan suhu 38,5 0C, Nadi :
120x/m, P : 28x / m dn TD :
95/60 mmHg
Melepas zat IL-1,
prostaglandin E2
(pirogen leukosi &
pirogen endokrin
Mencapai hipotalamus
(set point)
4 DS : Invasi virus ke dlm Kekurangan volume
Keluarga klien tubuh cairan
mengatakan anaknya sering
buang air besar dan encer Masuk ke sirkulasi
DO :
Klien nampak selalu BAB Masuk ke saluran
dan diRS gastrointerstinal
terhitung 4-5/hari
Peningkatan gerak
peristaltik usus
Diare
Intake inadekuat
5 DS : kandidiasis Perubahan nutrisi
Keluarga klien kurang dari kebutuhan
mengatakan, klien Lesi oral tubuh
tidak mau
makan/malas makan
Ibu klien mengatakan
Ketidakmampuan
anaknya susah menyusu
menelan akibat luka-luka
pada mulutnya Perubahan indra
DO : pengecap
Klien nampak cengeng bila
ingin diberi
makan dan porsi
Menurunkan
makannya tidak habis serta
keinginan menyusu
BB turun
menjadi 6 kg dari
5kg.
6 DS : kandidiasis Intoleransi aktivitas
ibu klien mengatakan
anaknya malas Lesi oral
beraktivitas
DO :
klien kelihatan tampak lemah
Ketidakmampuan
menyusu
Menurunkan
keinginan menyusu
Tubuh lemah
7 DS : AIDS Cemas
Keluarga klien
mengatakan sangat
khawatir dengan
Perubahan status
kondisi anaknya,
kesehatan
maka dari itu
anaknya di bawa ke
RS.
Kurang informasi
DO :
Keluarga klien nampak
Merasa ketakutan
gelisah dan selalu
akan penyakit
menanyakan kondisi anaknya.
anaknya
B. DIAGNOSA
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret
2. Pola napas tidk efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
3. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder terhadap reaksi
antigen dan antibody
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemasukan dan pengeluaran sekunder karena
kehilangan nafsu makan dan diare
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekambuhan penyakit,
diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
7. Kecemas berhubungan dengan perubahan kesehatan yang diderita klien
INTERVENSI
DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL
1. Bersihan Anak Auskultasi area paru, Penurunan
Klien merasa aliran
jalan nafas menunjukkan nyaman catat area udara
tidak efektif jalan nafas ketika penurunan/tidak ada terjadi pada
berhubunga yang efektif bernapas aliran udara dan area konsolidasi
n dengan Klien bunyi napas dengan cairan.
akumulasi menunjukka adventisius
sekret n pola napas
DS : yang efektif kaji ulang
Keluarga tanda-tanda pernapasan dangkal
vital
klien (irama dan
mengatakan dan frekuensi, serta gerakan dada tidak
anaknya gerakan dinding dada simetris terjadi
batuk-batuk karena
dan sesak Bantu pasien latihan ketidaknyaman
DO : napas sering. gerakan dinding
Klien selama dada.
di RS
nampak Napas dalam
batuk terus memudahkan
dan gelisah ekspansi maksimum
nampak sesak paru/jalan napas
sesak Penghisapan sesuai lebih kecil
indikasi
Merangsang batuk
atau
pembersihan jalan
Berikan cairan
napas
sedikitnya 2500
secara mekanik
ml/hari
Cairan (khususnya
(kecuali
yang hangat)
kontraindikasi)
memobilisasi dan
mengeluarkan
Memberikan obat
sekret
yang
dapat meningkatkan
alat untuk
efektifnya jalan nafas
menurunkan
(seperti
spasme bronkhus
bronchodilator
dengan
memobilisasi sekret.
2. pola Anak dapat klien kaji Kecepatan biasanya
napas tidak menunjukan - Menunjukanfrekuensi, kedalaman meningkat. Dispnue
efektif pola napas pola nafas pernafasan dan dan terjadi
Ditandai yang efektif efektif ekspansi paru. Catat peningkatan kerja
dengan : dengan upaya pernafasan, nafas.
DS : frekuensi dan Auskultasi bunyi Bunyi nafas
Keluarga kedalaman nafas dan catat menurun / tidak ada
klien dalam adanya bunyi seperti bila jalan nafas
mengatakan rentang ronchi. obstruktif sekunder
anaknya normal. terhadap
susah pendarahan.
bernapas Tinggkan kepala dan Duduk tinggi
DO : bantu mengubah memungkinkan
klien tampak posisi. ekspansi paru
kelihatan Observasi pola batuk memudahkan
sesak dan karakter sekret. pernafasan.
Kongesti alveolar
mengakibatkan
Berikan oksigen
batuk kering /
tambahan.
iritasi.
Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
nafas.
Pertahankan
lingkungan sejuk,
dengan menggunakan
piyama dan selimut
yang tidak tebal.
Klien Lingkungan yang
menunjukka sejuk
n suhu Pantau suhu membantu
yang tubuh anak menurunkan suhu
[Link] normal. setiap 1-2 jam, bila tubuh
berhubunga Klien terjadi dengan cara
n dengan mampu peningkatan secara radiasi
pelepasan menunjukka tiba-tib Peningkatan suhu
pyrogen dari n TTV Beri secara
hipotalamus yang normal antimikroba/antibiotik tiba-tiba akan
sekunder : jika mengakibatkan
terhadap suhu 36’5 disaranka kejang
reaksi 0C, Nadi :
antigen dan 80x/m, P : Antimikroba
antibody 20x / m dn mungkin disarankan
DS :
TD : 110/80 Berikan kompres untuk mengobati
ibu klien mmHg dengan suhu 37 oC organismo
mangatakan pada anak penyebab
anaknya Kolaboratif : Kompres hangat
demam terus- Beri antipiretik sesuai efektif
menerus petunju mendinginkan
DO : tubuh melalui
Klien nampak cara konduksi
teraba panas Antipiretik seperti
dengan suhu asetaminofen
38,5 0C, (Tylenol), efektif
Nadi : menurunkan demam
120x/m, P :
28x / m dn
TD : 95/60
mmHg
Anak akan
mempertahanka
n suhu
tubuh kurang
dari
37,5 oC
JA
[Link]/Tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
M
Hipertermi Mempertahankan lingkungan sejuk,
berhubungan 09.00 dengan menggunakan piyama dan 26 Mei 2011, jam 10.00
dengan selimut yang tidak tebal serta wita
pelepasan pertahankan suhu ruangan antara 22o S:
pyrogen dari dan 24 oC Ibu pasien mengatakan
hipotalamus Memantau suhu tubuh anak setiap 1- anaknya masih demam
sekunder 2 jam, bila terjadi peningkatan
terhadap secara tiba-tib O: Klien Nampak teraba
reaksi antigen Memberikan antimikroba/antibiotik panas.
dan antibody jira disaranka
Memberikan kompres dengan suhu A: Masalah belum teratasi
25-05-2011 37 oC pada anak untuk menurunkan
demam P: Intervensi 1,4 dan 5
Kolaboratif : dilanjutkan
Beri antipiretik sesuai
petunjuk
25-05-2011
P: Intervensi ditingkatkan.
AIDS (Aquired immuno deficiency syndrom ) merupakan kumpulan gejala akibat melemahnya
daya tahan tubuh sebagai akibat dari infeksi virus HIV. Virus ini mempunyai sistem kerja menyerang
jenis sel darah putih yang menangkal infeksi. Sehingga pada ornag yang mengidap HIV/AIDS akan
mudah terserang infeksi atau virus dari luar.
Cara paling efektiv dan efisien untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal
adalah dengan mengurangi penularan dan ibu ke anaknya (mother-to-child-transmision ( MTCT )). Upaya
pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu :
Behrman, dkk (1999) Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15. Jakatra : EGC
Betz, Cecily L (2002) Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC Blog Riyawan | Kumpulan Artikel Farmasi &
Keperawatan Doenges,
Marilynn E (2001) Rencana Keperawatan Maternal / Bayi. Edisi 2. Jakarta : EGC Rampengan & Laurentz
(1999) Ilmu Penyakit Tropik pada Anak. Jakarta : EGC
Wartono, JH (1999) AIDS Dikenal Untuk Dihindari. Jakarta : Lembaga Pengembangan Informasi Indonesia