0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan53 halaman

Asuhan Keperawatan HIV pada Anak

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan anak dengan HIV/AIDS, meliputi definisi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan. Secara khusus, dibahas tentang transmisi virus HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui."

Diunggah oleh

Pani Prasetya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan53 halaman

Asuhan Keperawatan HIV pada Anak

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan anak dengan HIV/AIDS, meliputi definisi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan. Secara khusus, dibahas tentang transmisi virus HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui."

Diunggah oleh

Pani Prasetya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

ASKEP HIV PADA ANAK

DOSEN PEMBIMBING : [Link] ardi putrid,[Link]

Di susun oleh :

Nama : sartika priyani

Nim : 1701011005

Prodi : s1 keperawatan

UNIVERSITAS DHARMAS INDOSIA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

TAHUN AJARAN

2019/2020

KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadiraj Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang
ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW. Serta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman.
Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati
indahnya keimanan dan Islam.

Dengan penuh rasa syukur kami ucapkan karena dapat menyelesaikan tugas TENTANG
ASKEP HIV PADA ANAK ini, yang diberikan oleh dosen [Link] Ardi Putri,Mkep. kepada
kami sebagai tugas dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah KEPERAWATAN
ANAK Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan
penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Akhir kata semoga Makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.....................................................................................................

B. Tujuan...................................................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar.........................................................................................................
1. Definisi……………………………………………………………………....
2. Etiologi……………………………………………………………………....
3. Patofisiologi………………………………………………………………….
4. Manifestasi klinik…………………………………………………………….
5. Pemeriksaan penunjang………………………… ……………………………
6. Diagnosisi…………………………………………………………………….
7. Komplikasi……………………………………………………………………
8. Penatalaksanaan………………………………………………………………
B. Konsep keperawatan………………………………………………………………
1. Pengkajian ……………………………………………………………………
2. Diagnose………………………………………………………………………
3. Intervensi keperawatan………………………………………………………..
4. Kasus hiv pada anak…………………………………………………………..
5. Tinjauan kasus…………………………………………………………………
BAB III

TINJAUAN KASUS

BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan................................................................................................................

B. Saran............................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

Infeksi HIV/AIDS ( Human immuno Deficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrom )
pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa homoseksual, sedangkan pada
anak tahun 1983. enam tahun kemudian ( 1989 ), AIDS sudah termasuk penyakit yang mengancam anak
di amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih dari 8000 orang setiap hari saat
ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi HIV dianggap sebagai penyebab kematian
tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.

AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubbinstein dan Amman pada tahun 1983
di Amerika serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di Amerika makin lama makin meningkat.
Pada bulan Desember di Amerika dilaporkan 1995 maupun pada anak yang berumur kurang dari 13 tahun
menderita HIV dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4480 kasus. Jumlah ini merupakan 1,5 % dan seluruh
jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan
AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun pada anak – anak tertinggi didunia
adalah di Afrika.

Sejak dimulainya epidemi HIV/ AIDS, telah mematikan lebih dan 25 juta orang, lebih dan 14 juta
anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya karena AIDS. Setiap tahun juga diperkirakan 3 juta
orang meninggal karena AIDS, 500 000 diantaranya adalah anak usia dibawah 15 tahun. Setiap tahun
pula terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang atau berkembang, dengan angka
transmisi sebesar ini maka dari 37,8 juta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2,1
juta anak- anak dibawah 15 tahun. (WHO 1999)

B.       Tujuan
1.      Mengetahui dan mempelajari tentang HIV AIDS
2. Mengetahui definisi,etiologi dan patofisiologi HIV
3. Menbgetahui manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang
4. Mengetahui diagnosis,komplikasi dan penatalaksanaan
  5. Mengetahui Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada anak yang menderita AIDS

BAB II
PEMBAHASAN
A.    KONSEP DASAR
1.      Definisi
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler yang
disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana kebanyakan
pasien memerlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama perjalanan penyakit.
(Carolyn, M.H.1996:601)
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency virus (HIV). (Mansjoer, 2000:162)
Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih
Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif,
menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa).
Kasus HIV pada anak biasanya paling sering ditemukan akibat transmisi dari ibu yang
sudah memiliki HIV ke anaknya. Kemungkinan besar perpindahan virus ini terjadi selama proses
kehamilan dan juga persalinan.
2.      Etiologi
Penyebab penyakit AIDs adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus
yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat
ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah, dan penularan masa
perinatal.
a.      faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah :
1)      bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual,
2)      bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti,
3)      bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena,
4)       bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang,
5)      anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah seksual), dan
6)      anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.
b.       Cara Penularan
Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui:
1)       Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum)
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara
transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta
(intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.
2)       SElama persalinan (intrapartum)
Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung HIV
melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.
3)       Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi
Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung
pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya
kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding
vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode
pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada
ibu. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi
antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum
persalinan.
4)       Bayi tertular melalui pemberian ASI.
Transmisi pascapersalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI diketahui
banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel yang terinfeksi
HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada
componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV
melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi di mucosa mulut bayi, prematuritas dan
respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan
paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat.

Gejala HIV pada Anak

Infeksi HIV pada anak yang ditularkan oleh ibu sewaktu dalam kandungan atau masa persalinan
biasanya akan menunjukkan tanda dalam rentang waktu 12-18 bulan pertama kehidupan anak.
Meski begitu, ada juga anak yang tidak menunjukkan gejala apa pun hingga usianya lebih dari 5
tahun.

HIV pada anak juga cukup sulit terdeteksi karena gejalanya mirip dengan infeksi virus biasa,
misalnya flu. Kendati demikian, terdapat beberapa gejala yang dapat dicurigai sebagai tanda HIV
pada anak, di antaranya:
1. Berat badan anak tidak bertambah

Tanda HIV pada anak yang cukup jelas adalah berat badan yang sulit bertambah. Idealnya, berat
badan anak usia satu tahun akan mencapai tiga kali berat badan lahir. Namun, anak yang
terinfeksi HIV biasanya akan tampak kurus karena berat badannya tidak kunjung bertambah.

2. Anak mengalami gangguan tumbuh kembang

Anak yang terinfeksi HIV biasanya mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih
lambat. Ini dapat dilihat dari kondisi anak yang sulit atau terlambat duduk, berdiri, berjalan,
terlambat bicara, atau perilaku anak yang tidak seperti anak-anak lain seusianya.

3. Anak sering sakit

Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Namun seiring
bertambahnya usia anak, sistem kekebalan tubuhnya akan semakin kuat. Hal ini seharusnya
membuat anak dapat terhindar dari penyakit.

Waspadailah jika anak sering mengalami demam lebih dari 7 hari, batuk pilek, pembengkakan
kelenjar getah bening, sakit perut, dan infeksi telinga yang sangat sering kambuh dan
berlangsung lama. Bisa jadi hal tersebut menandakan adanya kelemahan sistem kekebalan tubuh
yang kemungkinan disebabkan oleh infeksi HIV.

4. Anak sering terkena infeksi

Salah satu tanda HIV pada anak yang paling spesifik adalah anak sering mengalami infeksi
bakteri, virus, jamur, atau parasit akibat sistem kekebalan tubuhnya yang lemah. Infeksi pada
anak atau orang dewasa yang menderita HIV/AIDS ini disebut infeksi oportunistik. Infeksi ini
bisa berupa:

 Infeksi saluran pernapasan


Infeksi saluran pernapasan pada anak yang sering kambuh dan berat bisa jadi menandakan
tubuhnya lemah karena adanya infeksi virus HIV. Infeksi saluran pernapasan pada anak ini bisa
berupa pneumonia, tuberkulosis, bronkitis, dan bronkiolitis.

 Infeksi jamur di mulut dan tenggorokan


Disebut juga oral trush atau sariawan akibat infeksi jamur. Tanda HIV pada anak ini bisa dilihat
dari munculnya bercak putih dan kemerahan di lidah, gusi, dan mulut.
Sariawan pada penderita HIV bisa terjadi lebih dari satu bulan, berulang, dan tidak kunjung
sembuh dengan pemberian obat antijamur. Sariawan ini juga biasanya dapat meluas dan
berkembang menjadi infeksi jamur tenggorokan.

 Infeksi saluran pencernaan


Anak dengan infeksi HIV sangat rentan terkena infeksi pada saluran cerna. Beberapa penyakit
infeksi pada saluran cerna yang sering dialami oleh anak dengan infeksi HIV ini bisa berupa diare
kronis, infeksi pada hati dan limpa, kolera, disentri, dan demam tifoid yang sering kambuh atau
berulang.
 Infeksi cytomegalovirus (CMV)
Cytomegalovirus adalah infeksi yang disebabkan oleh salah satu kelompok virus herpes. Infeksi
virus ini lebih rentan terjadi pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, seperti penderita
HIV/AIDS. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, dan paru-
paru.

Selain infeksi-infeksi tersebut, anak dengan HIV juga rentan mengalami penyakit infeksi lain
yang berat, seperti meningitis dan sepsis.

Anak-anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena infeksi HIV dapat mengalami
kekambuhan infeksi hingga lebih dari 4 kali dalam kurun waktu 6-12 bulan. Infeksi ini
seharusnya lebih jarang terjadi jika anak memiliki daya tahan tubuh yang normal.

5. Masalah pada kulit

Anak-anak yang menderita infeksi HIV juga bisa lebih sering mengalami masalah pada kulit.
Keluhan-keluhan ini bisa berupa adanya ruam, bentol-bentol, koreng, dan gatal-gatal di kulit
yang cepat meluas.

Gangguan pada kulit ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi kulit (misalnya infeksi
jamur, infeksi bakteri, dan herpes), dermatitis, hingga kelainan kulit yang disebut sarkoma
kaposi.

Setiap anak dengan infeksi HIV bisa saja mengalami gejala yang berbeda atau bahkan tidak
mengalami gejala sama sekali. Munculnya tanda-tanda di atas juga bukan berarti anak pasti
terinfeksi HIV. Tanda tersebut bisa saja muncul karena melemahnya daya tahan tubuh akibat
penyebab lain, seperti gizi buruk atau efek samping pengobatan tertentu.

Namun jika Anda ragu, sebaiknya bawa anak ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lengkap.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menyarankan tes HIV jika Si Kecil menunjukkan
gejala yang dicurigai HIV, memiliki orang tua yang positif HIV, atau mempunyai orang tua
dengan riwayat perilaku berisiko tertular infeksi HIV.

Jika hasil tes menunjukkan anak positif HIV, dokter akan segera memberikan obat antiretroviral
untuk mengurangi jumlah virus HIV dan membantu memperkuat daya tahan tubuh anak.

Infeksi HIV memang belum dapat disembuhkan, tetapi dengan rutin mendapatkan pengobatan
dan menjalani evaluasi kesehatan secara berkala, anak dengan HIV bisa hidup dengan sehat.

Oleh karena itu, anak yang dicurigai menderita HIV atau sudah terdiagnosis HIV perlu
mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan dari dokter sedini mungkin

3.      Patofisiologi

HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja
sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan peran kritis
dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan bertahap
bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan
penurunan sel CD4.
HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai
reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup linfosit penolong dengan peran kritis dalam
mempertahankan responsivitas imun, juga memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan
dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4
ini tidak pasti, meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi
apoptosis melalui antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang
terinfeksi melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor
limfosit atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit. Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus
laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel kromafin
mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin, pemulihan virus
yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi terkait HIV melibatkan banyak
organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan terutama disebabkan oleh
infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun “ priode inkubasi “ 
atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada infeksi
perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi imun sering
tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B; hipergameglobulinemia dengan
produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara anak-anak yang terinfeksi HIV dari
pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6 bulan. Ketidak mampuan untuk berespon
terhadap antigen baru ini dengan produksi imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa
pajanan antigen sebelumnya, berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih
berat pada infeksi HIV pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan
mungkin tidak berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV
sering memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CD8 yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi pada
infeksi HIV anak.
4.      Manifestasi klinik
Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai penyakit
berat yang dinamakan AIDS. AIDS pada anak terutama terjadi pada umur muda karena sebagian
besar (>80%) AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak. Lima puluh persen
kasus AIDS anak berumur < l tahun dan 82% berumur <3 tahun. Meskipun demikian ada juga
bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal belum memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10
tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh mikroorganisme yang ada di
lingkungan anak. Oleh karena itu, manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa  : 
a.      gagal tumbuh
b.       berat badan menurun,
c.        anemia,
d.      panas berulang,
e.       limfadenopati, dan
f.         hepatosplenomegali
Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya infeksi oportunistik,
yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur, atau protozoa yang lazimnya tidak memberikan
penyakit pada anak normal. Karena adanya penurunan fungsi imun, terutama imunitas selular,
maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut, yang biasanya lebih lama,
lebih berat serta sering berulang. Penyakit tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat
menyebar ke esofagus, radang paru karena Pneumocystis carinii, radang paru karena
mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak. Bila anak terserang Mycobacterium
tuberculosis, penyakitnya akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak
sering juga menderita diare berulang.
Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah pneumonia
interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada
jaringan paru. Manifestasi klinisnya berupa
a.      hipoksia,
b.      sesak napas,
c.        jari tabuh, dan
d.      limfadenopati.
e.       Secara radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus bilateral, terkadang dengan
adenopati di hilus dan mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati kronik yang
mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran ketrampilan motorik dan daya
intelektual, sehingga terjadi retardasi mental dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan
manifestasi primer infeksi HIV. Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala
terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat atau cairan
serebrospinal.
5.      Pemeriksaan penunjang
Menurut Hidayat (2008) diagnosis HIV dapat tegakkan dengan menguji HIV. Tes ini
meliputi tes Elisa, latex agglutination dan western blot. Penilaian Elisa dan latex agglutination
dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan positif HIV
harus dipastikan dengan tes western blot. Tes lain adalah dengan cara menguji antigen HIV,
yaitu tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR. Bila pemeriksaan pada kulit, maka
dideteksi dengan tes antibodi (biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu HIV.
6.      Diagnosis
Diagnosis awal bayi yang terinfeksi sangat diinginkan, tetapi pengenalan awal bayi yang
beresiko HIV lebih penting. Hanya jika infeksi HIV pada perempuan hamil teridentifikasi,
terhadap kesempatan untuk mengubah ibu dan bayi secara cepat dengan terapi antiviral atau
preventif. Oleh karena itu uji dan konseling HIV harus menjadi bagian rutin pada perawatan
kehamilan.
a.      pada bayi yang mendapat asi
Bila seorang bayi yang terpapar infeksi HIV mendapat ASI, ia akan terus berisiko
tertulari HIV selama masa pemberian ASI; karenanya uji virologik negatif pada bayi yang terus
mendapat ASI tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV. Dianjurkan uji virologik
dilakukan setelah bayi tidak lagi mendapat ASI selama minimal 6 minggu. Bila saat itu bayi
sudah berumur 9-18 bulan saat pemberian ASI dihentikan, uji antibodi dapat dilakukan sebelum
uji virologik, karena secara praktis uji antibodi jauh lebih murah. Bila hasil uji antibodi positif,
maka pemeriksaan uji virologik diperlukan untuk mendiagnosis pasti, meskipun waktu yang
pasti anak-anak membuat antibodi anti HIV pada yang terinfeksi post partum belum diketahui. 
b.      Pada Bayi dan anak yang terpapar HIV dan memiliki gejala klinis
Bila uji virologik tidak dapat dilakukan tetapi ada tempat yang mampu memeriksa, semua
bayi kurang dari 12 bulan yang terpapar HIV dan menunjukkan gejala dan tanda infeksi HIV
harus dirujuk untuk uji virologik. Hasil yang positif pada stadium apapun menunjukkan positif
infeksi HIV.
c.       Pada  Bayi dan anak yang terpapar HIV asimtomatik
Pada usia 12 bulan, sebagian besar bayi yang terpapar HIV sudah tidak lagi memiliki
antibodi maternal. Hasil uji antibodi yang positif pada usia ini dapat dianggap indikasi tertular
(94.5% seroreversi pada usia 12 bulan; Spesifisitas 96%) dan harus diulang pada usia 18 bulan.
d.     Pada Anak yang berumur kurang dari 18 bulan
Diagnosis definitif laboratoris infeksi HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan
hanya dapat ditegakkan melalui uji virologik. Hasil yang positif memastikan terdapat infeksi
HIV. Tetapi bila akses untuk uji virologik ini terbatas, WHO menganjurkan untuk dilakukan
pada usia 6-8 minggu, dimana bayi yang tertular in utero, maupun intra partum dapat tercakup.
Uji virologik yang dilakukan pada usia 48 jam dapat mengidentifikasi bayi yang tertular in utero,
tetapi sensitivitasnya masih sekitar 48%. Bila dilakukan pada usia 4 minggu maka sensitivitasnya
naik menjadi 98%.
Satu hasil positif uji virologik pada usia berapa pun dianggap diagnostik pasti. Meskipun
demikian tetap direkomendasikan untuk melakukan uji ulang pada sampel darah yang berbeda.
Bila tidak mungkin dilakukan dua kali maka harus dipastikan kehandalan laboratorium penguji.
Pada anak yang didiagnosis infeksi HIV hanya dengan satu kali pemeriksaan virologik
yang positif, harus dilakukan uji antibodi anti HIV pada usia lebih dari 18 bulan.  
e.      Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan 
Diagnosis definitif infeksi HIV pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan (apakah
paparannya diketahui atau tidak) dapat menggunakan uji antibodi, sesuai proses diagnosis pada
orang dewasa. Konfirmasi hasil yang positif harus mengikuti algoritme standar nasional, paling
tidak menggunakan reagen uji antibodi yang berbeda.
7.       Komplikasi
a.      Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim dalam
rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan
lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit
di balik sternum (nyeri retrosternal).
b.      Neurologik
•     ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS dementia
complex). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan
berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. stadium lanjut
mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan efektif seperti
pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor,
inkontinensia, dan kematian.
•     Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku kuduk,
mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis
cairan serebospinal.
c.       Gastrointestinal
Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB > 10% dari BB awal, diare
yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam yang kambuhan
atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala ini.
-       Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
-       Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan
anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
-       Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat
infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.
d.     Respirasi
Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea), batuk-batuk,
nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti
yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides.
e.      Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi
sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum
merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas.
dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit
kepala serta [Link] AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang
disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema
dan psoriasis.
f.        Sensorik
-          Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis sitomegalovirus
berefek kebutaan
-          Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri
yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.
8.      Pemeriksaan Penunjang
1.      Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
-          ELISA (positif; hasil tes yang positif dipastikan dengan western blot)
-          Western blot (positif)
-          P24 antigen test (positif untuk protein virus yang bebas)
-          Kultur HIV(positif; kalau dua kali uji-kadar secara berturut-turut mendeteksi enzim reverse
transcriptase atau antigen p24 dengan kadar yang meningkat)
2.      Tes untuk deteksi gangguan system imun.
-          LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
-          CD4 limfosit (menurun; mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi terhadap antigen)
-          Rasio CD4/CD8 limfosit (menurun)
-          Serum mikroglobulin B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya penyakit).
-          Kadar immunoglobulin (meningkat)
9.      Penatalaksanaan
1.      Perawatan
Menurut Hidayat (2008) perawatan pada anak yang terinfeksi HIV antara lain:
  Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan
terjadi infeksi
  Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
  Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu
azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus,
sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
  Mengatasi dampak psikososial
  Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang
dilakukan oleh tenaga medis
  Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu memperhatikan
perlindungan universal (universal precaution)
2.      pengobatan
Pengobatan medikamentosa mencakupi pemberian obat-obat profilaksis infeksi
oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah dilakukan
dan menunjukkan kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada penderita HIV yang
berusia kurang dari 12 bulan dan siapapun yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga dipastikan
bahaya infeksi pneumonia akibat parasit Pneumocystis jiroveci dihindari. Pemberian Isoniazid
(INH) sebagai profilaksis penyakit TBC pada penderita HIV masih diperdebatkan. Kalangan
yang setuju berpendapat langkah ini bermanfaat untuk menghindari penyakit TBC yang berat,
dan harus dibuktikan dengan metode diagnosis yang handal. Kalangan yang menolak
menganggap bahwa di negara endemis TBC, kemungkinan infeksi TBC natural sudah terjadi.
Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan
dan yang tidak.
Obat profilaksis lain adalah preparat nistatin untuk antikandida, pirimetamin untuk toksoplasma,
preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang diberikan sesuai kondisi klinis yang ditemukan
pada penderita.
Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset mengenai obat ARV terjadi
sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus dalam bentuk DNA proviral
pada stadium dorman di sel CD4 memori. Pengobatan infeksi HIV dan AIDS sekarang
menggunakan paling tidak 3 kelas anti virus, dengan sasaran molekul virus dimana tidak ada
homolog manusia. Obat pertama ditemukan pada tahun 1990, yaitu Azidothymidine (AZT) suatu
analog nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim transkriptase
riversi. Bila obat ini digunakan sendiri, secara bermakna dapat mengurangi kadar RNA HIV
plasma selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya progresivitas penyakti HIV tidak
dipengaruhi oleh pemakaian AZT, karena pada jangka panjang virus HIV berevolusi membentuk
mutan yang resisten terhadap obat.
3.      Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui :

1. Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar vital load
rendah sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif
untuk menularkan HIV.
2. Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral(Nevirapine) saat persalinan dan bayi baru
dilahirkan dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectio caesar karena
terbukti mengurangi resiko penularan sebanyak 80%.
3. Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko dan manfaat ASI

B.                 KONSEP KEPERAWATAN

A.      Pengkajian
Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-rata dimasa perinatal sekitar usia 9 –
17 tahun.
  Keluhan utama dapat berupa :
         Demam dan diare yang berkepanjangan
         Tachipnae
         Batuk
         Sesak nafas
         Hipoksia
  Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
         Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
         Diare lebih dan satu bulan
         Demam lebih dan satu bulan
         Mulut dan faring dijumpai bercak putih
         Limfadenopati yang menyeluruh
         Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
         Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
         Dermatitis yang menyeluruh

  Pada riwayat penyakit dahulu adanya riwayat transfusi darah ( dari orang yang terinfeksi
HIV / AIDS ). Pada ibu atau hubungan seksual. Kemudian pada riwayat penyakit keluarga dapat
dimungkinkan :
         Adanya orang tua yang terinfeksi HIV / AIDS atau penyalahgunaan obat
         Adanya riwayat ibu selama hamil terinfeksi HIV ( 50 % TERTULAR )
         Adanya penularan terjadi pada minggu ke 9 hingga minggu ke 20 dari kehamilan
         Adanya penularan pada proses melahirkan
         Terjadinya kontak darah dan bayi.
         Adanya penularan setelah lahir dapat terjadi melalui ASI
         Adanya kejanggalan pertumbuhan (failure to thrife )

  Pada pengkajian faktor resiko anak dan bayi tertular HIV diantaranya :
         Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
         Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti-ganti
         Bayi yang lahir dan ibu dengan penyalahgunaan obat melalui vena
         Bayi atau anak yang mendapat tranfusi darah atau produk darah yang berulang
         Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik atau tusuk bekas yang tidak steril
         Anak remaja yang berhubungan seksual yang berganti-ganti pasangan

  Gambaran klinis pada anak nonspesifik seperti :


         Gagal tumbuh
         Berat badan menurun
         Anemia
         Panas berulang
         Limpadenopati
         Adanya infeksi oportunitis yang merupakan infeksi oleh kuman, parasit, jamur atau protozoa yang
menurunkan fungsi immun pada immunitas selular seperti adanya kandidiasis pada mulut yang dapat
menyebar ke esofagus, adanya keradangan paru, encelofati dll

B.       Pemeriksaan Fisik


1.      Pemeriksaan Mata
o   Adanya cotton wool spot ( bercak katun wol ) pada retina
o   Retinitis sitomegalovirus
o   Khoroiditis toksoplasma
o   Infeksi pada tepi kelopak mata.
o   Mata merah, perih, gatal, berair, banyak sekret, serta berkerak
o   Lesi pada retina dengan gambaran bercak / eksudat kekuningan, tunggal / multiple
2.      Pemeriksaan Mulut
         Adanya stomatitis gangrenosa
         Peridontitis
         Sarkoma kaposi pada mulut dimulai sebagai bercak merah datar kemudian menjadi biru dan sering pada
platum (Bates Barbara 1998)
3.      Pemeriksaan Telinga
         Adanya otitis media
         Adanya nyeri
         Kehilangan pendengaran
4.      Sistem pernafasan
         Adanya batuk yang lama dengan atau tanpa sputum
         Sesak nafas
         Tachipnea
         Hipoksia
         Nyeri dada
         Nafas pendek waktu istirahat
         Gagal nafas
5.      Pemeriksaan Sistem Pencernaan
         Berat badan menurun
         Anoreksia
         Nyeri pada saat menelan
         Kesulitan menelan
         Bercak putih kekuningan pada mukosa mulut
         Faringitis
         Kandidiasis esophagus
         Kandidiasis mulut
         Selaput lendir kering
         Hepatomegali
         Mual dan muntah
         Pembesaran limfa
6.      Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular
         Suhu tubuh meningkat
         Nadi cepat, tekanan darah meningkat
         Gejala gagal jantung kongestiv sekuder akibat kardiomiopatikarena HIV
7.      Pemeriksaan Sistem Integumen
         Adanya varicela ( lesi yang sangat luas vesikel yang besar )
         Haemorargie
         Herpes zoster
         Nyeri panas serta malaise
8.      Pemeriksaan sistem perkemihan
         Didapatkan air seni yang berkurang
         Annuria
         Proteinuria
         Adanya pembesaran kelenjar parotis
         Limfadenopati
9.      Pemeriksaan Sistem Neurologi
         Adanya sakit kepala
         Somnolen
         Sukar berkonsentrasi
         Perubahan perilaku
         Nyeri otot
         Kejang-kejang
         Encelopati
         Gangguan psikomotor
         Penururnan kesadaran
         Delirium
         Meningitis
         Keterlambatan perkembangan
10.  Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
         Nyeri persendian
         Letih, gangguan gerak
         Nyeri otot ( Bates Barbara 1998 )

C.      Pemeriksaan Laboratorium


Kemudian pada pemeriksaan diagnostik atau laboratorium didapatkan adanya anemia,
leukositopenia, trombositopenia, jumlah sel T4 menurun bila T4 dibawah 200, fase AIDS normal 1000-
2000 permikrositer., tes anti body anti-HIV ( tes Ellisa ) menunjukan terinfeksi HIV atau tidak, atau
dengan menguji antibodi anti HIV. Tes ini meliputi tes Elisa, Lateks, Agglutination,dan western blot.
Penilaian elisa dan latex menunjukan orang terinfeksi HIV atau tidak, apabila dikatakan positif harus
dibuktikan dengan tes western blot.
Tes lain adalah dengan menguji antigen HIV yaitu tes antigen P24 (dengan polymerase chain
reaction - PCR). Kulit dideteksi dengan tes antibody ( biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu
terjangkit HIV).
KASUS HIV PADA ANAK

            Ny. S membawa anaknya ke rumah sakit karena anaknya batuk terus- terusan dan di
sertai sesak [Link] Ny S sudah sekitar seminggu batuk anaknya tidak mau berhenti dan
dua hari yang lalu batuknya mulai disertai sesak napas. klien kelihatan tampak sesak.
Ibu klien mengatakan anaknya diare, terus – terusan buang air besar sampai 5 x dalam
sehari. klien tampak lemah,mata [Link] demam dan tidak mau [Link] kelihatan
agak kurus dan sudah tidak beraktivitas sebagaimana biasanya. Keluarga klien mengatakan
sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Setelah di lakukan pemeriksaan di dapatkan
TTV                  Suhu             : 38,5 º  C       
- Nadi             : 120x/m
- Pernafasan   : 28x / m
- TD                 : 95/60 mmHg
BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    PENGKAJIAN  PERAWATAN ANAK


I.       Identitas Klien :
Nama/nama panggilan       : An. J
Tempat tanggal lahir/usia  : kendari, 20 Mei 2010
Jenis Kelamin                       : perempuan
A g a m a                               : Islam
Pendidikan                           : -
Alamat                                   : BTN revalina Blok C No.3
Tanggal masuk                     : 24 Mei 2011
Tanggal pengkajian                         : 25 Mei 2011
Diagnosa Medik                   : HIV-AIDS
II.    Identitas Orang Tua
1.      Ayah
a.      N  a  m  a                   : Tn. Budi
b.      U  m  u  r                    : 28 tahun
c.       Pendidikan               : SMP
d.     Pekerjaan                   : Pedagang
e.      A g a m a                   : Islam
f.        A l a m a t                  : BTN revalina Blok C No.3
2.       Ibu
            a. N  a  m  a               : Ny. S
            b. U s i a                     : 22 tahun
            c. Pendidikan            : SMP
            d. Pekerjaan              : Ibu Rumah Tangga
            e. A g a m a               : Islam
            f. A l a m a t               : BTN revalina Blok C No.3

3.      Identitas Saudara Kandung


No. N  a  m  a Usia Hubungan Status Kesehatan
1. - - - -

III. Keluhan Utama


Orangtua klien mengeluhkan anaknya batuk- batuk disertai sesak napas.
IV. Riwayat Kesehatan.
1.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien terus batuk – batuk sejak satu minggu yang lalu, kemudian dua hari yang lalu mulai
disertai sesak [Link] juga terkena diare dengan frekuensi BAB cukup [Link] semalam
klien
 demam dan di perparah lagi klien tidak mau menyusu, karena itu orang tua klien membawanya
ke rumah sakit.
2.      Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak 0-5 tahun)
1)      Prenatal Care
  Pemeriksaan kehamilan  1 kali
  Keluhan selama hamil  Ngidam, kadang-kadang demam dan lemas
  Riwayat terkena sinar  tidak ada
  Kenaikan berat badan selama kehamilan 2 kg
  Imunisasi 2 kali
  Golongan darah  Ibu : O /golongan darah ayah : A

2)      N a t a l
  Tempat melahirkan di Puskesmas oleh bidan
  Lama dan jenis persalinan  : Spontan/normal
  Penolong persalinan  Dokter Kebidanan
  Tidak ada  komplikasi selama persalinan ataupun setelah persalinan (sedikit perdarahan daerah
vagina).
3)      Post Natal
  Kondisi Bayi : BB lahir 2 kg, PB 47 cm
  Pada saat lahir kondisi anak baik
(untuk semua usia)
         Penyakit  yang pernah dialami  demam setelah imunisasi
         Kecelakaan yang pernah dialami: tidak ada
         Imunisasi belum lengkap
         Alergi belum nampak
         Perkembangan anak  dibanding saudara-saudara  : Anak pertama
V.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Anggota keluarga    : Ibu klien positif  HIV
Genogram
Penjelasan :
Generasi I  = Kakek dan nenek klien meninggal bukan karena penyakit yang sama dengan klien
Generasi II  = Saudara laki-laki dari bapak klien meninggal karena kecelakaan tidak ada riwayat
penyakit yang sama dengan klien
Generasi III = Klien anak pertama. Belum mempunyai saudara, klien saat ini di rasawat di RS
dengan diangnosa postif HIV.
VI. Riwayat Imunisasi
Waktu Reaksi setelah
No. Jenis Imunisasi Pemberian pemberian
1. BCG 1 bulan Demam
2. DPT 1 bulan Demam
3. Polio - -
4. Campak - -
5. Hepatitis Lupa lupa

VII.            Riwayat Tumbuh Kembang


a.      Pertumbuhan Fisik
1.      Berat Badan  : BB lahir 2 kg, BB masuk RS : 5 kg.
2.      Tinggi Badan : PB lahir 47 cm, PB masuk RS : 45 Cm
b.      Perkembangan tiap tahap
      Usia anak saat :
1.      Berguling             : 5 bulan
2.      Duduk                 : 8 bulan
3.      Merangkak          : 10 bulan
4.      Berdiri                  :  12 bulan
5.      Berjalan                :  belum
6.      Senyum kepada orang lain pertama kali : lupa
7.      Bicara pertama  kali       : memanggil ibunya
8.      Berpakaian tanpa bantuan : masih di bantu ibunya secara penuh
VIII.    Riwayat Nutrisi
a.       Pemberian ASI
1.      Pertama kali di susui : setengah jam setelah lahir
2.      Cara Pemberian      : Setiap Kali menangis dan tanpa menangis
3.      Lama Pemberin      : 10 - 15 manit
4.      Diberikan sampai usia : sampai saat ini
b.      Pemberian Susu Formula : SGM
c.       Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia  sampai nutrisi saat ini
U s  i   a Jenis Nutrisi Lama Pemberian
1.      0  - 6  ASI 10- 15 menit
2.      7- saat ini Asi dan susu formula Setiap saat

IX. Riwayat Psiko Sosial


         Anak tinggal di rumah
         Lingkungan berada di tepi kota
         Rumah  tidak ada fasilitas lengkap
         Di Rumah tidak ada tangga yang  berbahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan, anak bebas
bermain di luar dengan teman-temannya
         Hubungan antar anggota kelurga  baik
         Pengasuh anak adalah  orang tua
X.    Riwayat spiritual
         Anggota Keluarga cukup  taat melaksanakan ibadah
         Kegiatan keagamaan : jarang mengikuti kegiatan keagamaan
XI. Reaksi Hospitalisasi
a.       Pengalaman Keluarga tentang Sakit dan rawat inap
-          Orang tua membawa anaknya ke RS karena khawatir dan cemas tentang keadaan anaknya yang
tiba – tiba sesak napas
-          Dokter menceritakan tentang kondisi anaknya tetapi kelihatannya orang tua  belum mengerti 
hal ini dibuktikan dengan  ekspresi wajah orang tua  dan pertanyaan  yang timbul sekitar keadaan
anaknya
-          Orang tua saat masuk di RS sangat merasa khwatir dengan keadaan anaknya dan selalu
menanyakan kondisi anaknya
-          Orang tua selalu menjaga anaknya  bergantian antara ayah, ibu dan dan keluarga yang lain.
b.      Pemahaman anak tentang sakit dan rawat Inap
Anak belum mampu berbicara.
XII.        Aktivitas Sehari-hari
a. Nutrisi
Kondisi Sebelum Sakit Saat  sakit
1.      Keinginan Menyusu Baik Kurang
2.      Frekwensi Menyusui 7 kali Kurang sekali
3.      Susu formula Baik Kurang sekali

b. Cairan
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1.      Jenis minuman ASI Tidak ada
2.      Frekwensi minum Setiap kali haus Sering
3.      Kebutuhan cairan Tidak diketahui Tergantung
4.      Cara pemberian ASI Infuse

c.  Eliminasi  (BAB & BAK)


Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1.      Tempat pembuangan Kain sarung Popok
2.      Frekwensi/waktu
BAK= sering BAB =  BAK = sering, BAB = 4-
3.      Konsistensi 2 x sehari 5x sehari
4.      Kesulitan
5.      Obat pencahar Sering encer Encer
Tidak ada Tidak ada
Tidak pernah
 Digunakan

[Link]/Tidur
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1.      Jam tidur
        Siang 11.00 – 13.00 Jam 12.00-13.00
        Malam  Jam 20.00- 06.00 Jam 21.00-7.00
2.      Pola tidur Tidur dilaksanakan Tidur dilaksanakan
 pada siang dan malam  pada siang dan malam
hari hari
3.      Kebiasaan sebelum Menyusu Menyusu
tidur
4.      Kesulitan tidur
Gelisah Sering terbangun
 karena popoknya
 basah oleh feses.
e. Olahraga
Tidak dikaji
f.   Personal Hygiene
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
1.      Mandi
        Cara Dikerjakan oleh orang tua Tidak  pernah mandi
2 x sehari  hanya dilap badan
        Frekwensi 1x sehari/melap
Sabun badan
        alat mandi Pake air hangat
Kadang-kadang
2.      Cuci rambut Tidak menentu belum pernah
        frekwensi Dikerjakan oleh orang tua  dilakukan
        Cara Setiap kali kuku
 terlihat panjang
3.      Gunting kuku Di kerjakan oleh orang tua belum pernah
        frekwensi  dilakukan
        Cara
g. Aktifitas/mobilitas fisik
Tidak dikaji
h. Rekreasi
Tidak dikaji
XIII.     Pemeriksaan Fisik
a.      Keadaan umum klien :  lemah gelisah dan batuk sesak
  Ekspresi wajah biasa kadang tersenyum dan cengeng bila diajak bermain.
  Berpakaian bersih karena selalu dijaga oleh ibunya.
b.      Tanda-tanda vital:
- Suhu             : 38,5 º  C
- Nadi             : 120x/m
- Pernafasan   : 70 x / m
- TD                 : 95/60 mmHg
c.       Antropometri
                        - Panjang badan                    : 50 cm
                        - Berat badan                         : 5 kg
                        - Lingkaran lengan atas       : tidak dikaji
                        - lingkaran kepala                : tidak dikaji
                        - lingkaran dada                   : tidak di kaji
                        - Lingkaran perut                 :tidak dikaji
                        - Skin fold                              : tidak dikaji
d.     Head To Toe
o   Kulit  :
Pucat dan turgor kulit agak buruk
o   Kepal dan leher :
Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada peradangan
o   Kuku :  Jari tabuh
o   Mata / penglihatan :
Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
o   Hidung   :
Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi,  tidak ada polip, dan fxungsi penciuman normal
o   Telinga    :
Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
o   Mulut dan gigi
Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan dan perdarahan  pada
gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir pecah-pecah.
o   Leher.      Terjadi peradangan pada eksofagus.
o   Dada : dada masih terlihat normal
o   Abdomen            : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat  dan perut mules dan
mual.
o   Perineum dan genitalia           
Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
o   Extremitas atas/ bawah           
Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat tidak ada energi karena diare dan
proses penyakit.
e.      Sistem Pernafasan
         Hidung    : Simetris, pernafasan cuping hidung : ada, secret : ada
         Leher        : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe di sub mandibula.
         D a d a      :
-          Bentuk dada : Normal
-          Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal :  1 : 1
-          Gerakan dada           : simetris, tidak terdapat retraksi
-          Suara nafas    : ronki
-          Suara nafas tambahan : ronki
         Tida ada clubbling finger
f.        Sistem kardiovaskuler :
         Conjungtiva : Tidak anemia, bibir : pucat/cyanosis, arteri carotis : berisi reguler , tekanan vena
jugularis : tidak meninggi
         Ukuran Jantung : tidak ada pembesaran
         Suara jantung : Tidak ada bunyi abnormal
         Capillary refilling time > 2 detik
g.      Sistem pencernaan:
-          Mulut : terjadi peradangan pada mukosa mulut
-          Abdomen : distensi abdomen, peristaltic meningkat > 25x/mnt akibat adanya virus yang
menyerang usus
-          Gaster  : nafsu makan menurun,  mules, mual muntah, minum normal,
-          Anus : terdapat bintik dan meradang gatal
h.      Sistem indra
1.      Mata : agak  cekung
2.      Hidung : Penciuman kurang baik,
3.      Telinga
-          Keadaan daun telinga : kanal auditorius  kurang bersih akibat benyebaran penyakit
-          Fungsi pendengaran kesan baik
i.        Sistem Saraf
1.      Fungsi serebral:
  Status mental : Orientasi masih tergantung orang tua
  Bicara : -
  Kesadaran : Eyes (membuka mata spontan) = 4, motorik (bergerak mengikuti perintah) = 6,
verbal (bicara normal) = 5
2.      Fungsi kranial :
Saat pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan dari Nervus I – Nervus XII.
3.      Fungsi motorik : Klien nampak lemah, seluruh aktifitasnya dibantu oleh   orang tua
4.      Fungsi sensorik : suhu, nyeri, getaran, posisi, diskriminasi (terkesan terganggu)
5.      Fungsi cerebellum : Koordinasi, keseimbangan  kesan normal
6.      Refleks : bisip, trisep,  patela dan babinski terkesan normal.
j.        Sistem Muskulo Skeletal
1.      Kepala : Betuk kurang baik, sedikit nyeri
2.      Vertebrae: Tidak ditemukan skoliosis, lordosis, kiposis, ROM pasif, klien malas bergerak, 
aktifitas utama klien adalah berbaring di tempat tidur.
3.      Lutut :  tidak bengkak, tidak kaku,  gerakan aktif, kemampuan jalan baik
4.      Tangan  tidak bengkak,  gerakan dan ROM aktif
k.      Sistem  integumen
  warna kulit pucat dan terdapat bintik-bintik dengan gatal, turgor menurun > 2 dt,
  suhu meningkat 39 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time
memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
l.        Sistem endokrin
         Kelenjar tiroid  tidak nampak, teraba tidak ada pembesaran
         Suhu tubuh tidak tetap, keringat  normal,
         Tidak ada riwayat diabetes
m.   Sistem Perkemihan
         Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam), frekuensi berkurang.
         Tidak ditemukan odema
         Tidak ditemukan adanya nokturia, disuria , dan kencing batu
n.      Sistem Reproduksi
Alat genetalia termasuk glans penis  dan orificium  uretra eksterna  merah dan gatal
o.      Sistem Imun
         Klien tidak ada riwayat alergi
         Imunisasi lengkap
         Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca tidak ada
         Riwayat transfusi darah tidak ada
XIV.     Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
         6 tahun ke atas
Tidak di kaji karena klien saat ini masih berumur satu tahun
XV.     Terapi Saat ini  :
         Infus RL 20 tts/m
         Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV, sebagai pengganti vaksin
poliovirus (OPV), anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV)
         Keperawatan :
  Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan
terjadi infeksi
  Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
  Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu
azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus,
sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
  Mengatasi dampak psikososial
  Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang
dilakukan oleh tenaga medis
Hasil Laboratorium tanggal 23Mei 2011:  Tidak dikaji
XVI.     Klasifikasi Data
         Data Subjektif
-          Ibu klien mengatakan anaknya batuk-batuk dan sesak
-          Ibu  klien mangatakan anaknya demam tinggi dan terus-menerus
-          ibu klien mengatakan, klien tidak mau menyusu/tidak minum susu
-          Ibu klien mengatakan anaknya susah menelan akibat luka-luka pada mulutnya
-          ibu klien mengatakan anaknya sering buang air besar dan encer
-          ibu klien mengatakan anaknya tidak dapat beraktivitas
-          ibu klien mengatakan sangat khawatir dengan kondisi anaknya, maka dari itu anaknya di bawa
ke RS.
         Data Objektif
-          Klien selama di RS nampak batuk terus dan gelisah nampak sesak sesak
-          Klien nampak teraba panas dengan suhu 39 0C,  Nadi         : 120x/m, P : 28x /m dan TD : 95/60
mmHg
-          Klien nampak tidak mau disusui, berat badan klien turun dari 6kg menjdi 5 kg
-          Klien nampak selalu  BAB dan diRS terhitung 4-5/kali
-          Kulit klien nampak kering, nampak cekung pada mata
-          Klien tampak sangat lemah
-          Keluarga klien nampak gelisah dan selalu menanyakan kondisi anaknya.

XVII.  Prioritas Data


1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
DS       : Keluarga klien mengatakan anaknya batuk-batuk dan sesak
DO      : Klien selama di RS nampak batuk terus dan gelisah nampak sesak sesak
2.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspnsi paru.
DS : keluarga klien mengatakan anaknya susah bernapas
DO : klien tampak kelihatan sesak
3.      Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder terhadap reaksi
antigen dan antibody
DS       : Keluarga klien mangatakan anaknya demam terus-menerus
DO      : Klien nampak teraba panas dengan suhu 38,5 0C,  Nadi : 120x/m, P : 28x / m dn TD :
95/60 mmHg
4.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran sekunder karena kehilangan nafsu
makan dan diare
DS          : Keluarga klien mengatakan anaknya sering buang air   besar dan encer
DO        :Klien nampak selalu mengeluh ingin BAB dan di RS
                 terhitung 4-5/kali. Kulit klien nampak kering, nampak cekung pada mata
5.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekambuhan penyakit,
diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
DS :
-          Keluarga klien mengatakan, klien tidak mau menyusu
-          Ibu klien mengatakan anaknya susah menyusui akibat luka-luka pada mulutnya
DO : Klien nampak cengeng bila ingin disusui, BB klien turun dari 6 kg menjadi 5 kg.
6.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
DS : Ibu klien mengatakan anaknya tidak bisa beraktivitas sebagai mana biasanya.
DO : klien tampak sangat lemah
7.      Kecemas berhubungan dengan perubahan kesehatan yang diderita klien
DS   : Keluarga klien mengatakan sangat khawatir dengan kondisi anaknya, maka dari itu
anaknya di bawa ke RS.
DO         :  Keluarga klien nampak gelisah dan selalu menanyakan kondisi anaknya.

XVIII.              Analisa Data


No Data Etilogi Masalah
1 DS       : Kandidiasis Bersihan jalan nafas
        Keluarga klien mengatakan   tidak efektif
anaknya batuk-batuk dan
sesak
Menginfeksi bronkus
DO      :  
        Klien selama di RS nampak
batuk terus dan gelisah
Aktivitas bronkus
nampak sesak sesak
berkurang
 

Penumpukan sekret
 

Batuk inefektif
DS : Menginfeksi bronkus Pola napas tidak efektif
2 keluarga klien mengatakan Aktivitas bronkus
anaknya susah bernapas berkurang
DO : Peningkatan sekret
 Klien tampak kelihatan sesak bronkial
Penumpukan sekret
Pengembangan
ekspansi paru
menurun
Seak naf
Kuman mengeluarkan
endotoksin
 
DS       : Hipertermi
        Keluarga klien
Merangsang
mangatakan anaknya demam
pengeluaran zat
3 terus-menerus
pirogen oleh leukosit
DO      :
pada jaringan yg
        Klien nampak teraba panas
meradang
dengan suhu 38,5 0C,  Nadi   :
 
120x/m, P : 28x / m dn TD :
95/60 mmHg
Melepas zat IL-1,
prostaglandin E2
(pirogen leukosi &
pirogen endokrin
 

Mencapai hipotalamus
(set point)
4 DS : Invasi virus ke dlm Kekurangan volume
        Keluarga klien tubuh cairan
mengatakan anaknya sering
buang air besar dan encer Masuk ke sirkulasi
DO :
        Klien nampak selalu BAB Masuk ke saluran
dan diRS gastrointerstinal
         terhitung 4-5/hari  

Peningkatan gerak
peristaltik usus
 

Diare
Intake inadekuat
5 DS : kandidiasis Perubahan nutrisi
        Keluarga klien kurang dari kebutuhan
mengatakan, klien Lesi oral tubuh
 tidak mau  
 makan/malas makan
        Ibu klien mengatakan
Ketidakmampuan
anaknya susah menyusu
 menelan akibat luka-luka
pada mulutnya Perubahan indra
DO : pengecap
        Klien nampak cengeng bila  
ingin diberi
 makan dan porsi
Menurunkan
 makannya tidak habis serta
keinginan menyusu
BB turun
 menjadi 6 kg dari
 5kg.
6 DS       : kandidiasis Intoleransi aktivitas
        ibu klien mengatakan
anaknya malas Lesi oral
         beraktivitas  
DO      :
        klien kelihatan tampak lemah

Ketidakmampuan
menyusu

Menurunkan
keinginan menyusu

Tubuh lemah
7 DS : AIDS Cemas
        Keluarga klien  
 mengatakan sangat
 khawatir dengan
Perubahan status
 kondisi anaknya,
kesehatan
 maka dari itu
 
 anaknya di bawa ke
 RS.
Kurang informasi
DO :
        Keluarga klien nampak
Merasa ketakutan
gelisah dan selalu
akan penyakit
menanyakan kondisi anaknya.
anaknya

B.     DIAGNOSA
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret
2.      Pola napas tidk efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
3.      Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder terhadap reaksi
antigen dan antibody
4.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemasukan dan pengeluaran sekunder karena
kehilangan nafsu makan dan diare
5.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekambuhan penyakit,
diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
6.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
7.      Kecemas berhubungan dengan perubahan kesehatan yang diderita klien
 
INTERVENSI
DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL
1. Bersihan Anak   Auskultasi area paru,   Penurunan
Klien merasa aliran
jalan nafas menunjukkan nyaman  catat area udara
tidak efektif jalan nafas ketika penurunan/tidak ada  terjadi pada
berhubunga  yang efektif bernapas aliran udara dan  area konsolidasi
n dengan Klien  bunyi napas dengan cairan.
akumulasi menunjukka  adventisius
sekret n pola napas
DS       : yang efektif   kaji ulang
        Keluarga  tanda-tanda   pernapasan dangkal
vital
klien (irama dan
mengatakan  dan frekuensi, serta  gerakan dada tidak
anaknya gerakan dinding dada simetris terjadi
batuk-batuk karena
dan sesak   Bantu pasien latihan ketidaknyaman
DO      : napas sering. gerakan dinding
        Klien selama dada.
di RS
 nampak   Napas dalam
batuk terus memudahkan
dan gelisah ekspansi maksimum
nampak sesak paru/jalan napas
sesak   Penghisapan sesuai lebih kecil
indikasi

  Merangsang batuk
atau
 pembersihan jalan
  Berikan cairan
napas
sedikitnya 2500
 secara mekanik
ml/hari
  Cairan (khususnya
 (kecuali
yang hangat)
kontraindikasi)
 memobilisasi dan
mengeluarkan
  Memberikan obat
sekret
yang
 dapat meningkatkan
  alat untuk
efektifnya jalan nafas
 menurunkan
 (seperti
spasme bronkhus
bronchodilator
dengan
memobilisasi sekret.
2. pola Anak dapat klien  kaji  Kecepatan biasanya
 napas tidak menunjukan -        Menunjukanfrekuensi, kedalaman meningkat. Dispnue
efektif pola napas pola nafas pernafasan dan dan terjadi
Ditandai  yang efektif efektif ekspansi paru. Catat peningkatan kerja
dengan : dengan upaya pernafasan, nafas.
DS : frekuensi dan Auskultasi bunyi  Bunyi nafas
 Keluarga kedalaman nafas dan catat menurun / tidak ada
klien dalam adanya bunyi seperti bila jalan nafas
mengatakan rentang ronchi. obstruktif sekunder
anaknya normal. terhadap
 susah pendarahan.
bernapas  Tinggkan kepala dan  Duduk tinggi
DO : bantu mengubah memungkinkan
 klien tampak posisi. ekspansi paru
kelihatan  Observasi pola batuk memudahkan
sesak dan karakter sekret. pernafasan.
 Kongesti alveolar
mengakibatkan
 Berikan oksigen
batuk kering /
tambahan.
iritasi.
 Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
nafas.

 Pertahankan
lingkungan sejuk,
dengan menggunakan
piyama dan selimut
yang tidak tebal.
Klien   Lingkungan yang
menunjukka sejuk
n suhu   Pantau suhu  membantu
 yang  tubuh anak menurunkan suhu
[Link] normal.  setiap 1-2 jam, bila tubuh
berhubunga Klien terjadi  dengan cara
n dengan mampu  peningkatan secara  radiasi
 pelepasan menunjukka tiba-tib   Peningkatan suhu
pyrogen dari n TTV   Beri secara
hipotalamus  yang normal antimikroba/antibiotik  tiba-tiba akan
sekunder : jika  mengakibatkan
terhadap  suhu 36’5  disaranka kejang
reaksi  0C,  Nadi :
antigen dan 80x/m, P :   Antimikroba
antibody 20x / m dn mungkin disarankan
DS       :  
 TD : 110/80 Berikan kompres untuk mengobati
        ibu klien mmHg dengan suhu 37 oC organismo
mangatakan pada anak penyebab
anaknya   Kolaboratif :   Kompres hangat
demam terus- Beri antipiretik sesuai efektif
menerus petunju  mendinginkan
DO      : tubuh melalui
Klien nampak  cara konduksi
teraba panas   Antipiretik seperti
dengan suhu asetaminofen
38,5 0C, (Tylenol), efektif
Nadi            : menurunkan demam
120x/m, P :
28x / m dn
TD : 95/60
mmHg

Anak akan
mempertahanka
n suhu
 tubuh kurang
dari
 37,5 oC

4. keseimbangan Tidak ada   Ukur dan   dokumentasi yang


catat
Kekurangan cairan ada tanda- pemasukan dan akurat
volume  tubuh adekuat tanda pengeluaran. Tinjau  akan membantu
 cairan dehidrasi ulang catatan intra dalam
berhubunga (tanda-tanda operasi. mengidentifikasi
n dengan vital stabil, pengeluaran cairan.
 pemasukan kualitas   hipotensi, takikardia,
dan denyut nadi   Pantau tanda-tanda peningkatan
pengeluaran. baik, turgor vital. pernapasan
DS : kulit normal, mengindikasikan
        Ibu klien membran kekurangan
mengatakan mukosa  cairan.
anaknya lembab dan   Letakkan pasien pada  Elevasi kepala
sering buang pengeluaran  posisi yang  dan posisi
air besar dan urine yang  sesuai, tergantung  miring akan
encer sesuai) pada kekuatan  mencegah
DO : pernapasan. terjadinya aspirasi
        Klien dari
nampak selalu   Pantau suhu  muntah.
BAB dan  kulit, palpasi denyut
diRS perifer.   Kulit yang
terhitung 4  dingin/lembab,
-5/hari. denyut yang
- Kulit klien  lemah
nampak mengindikasikan
kering, penurunan
nampak   Kolaborasi, berikan  sirkulasi perifer.
cekung pada cairan   Gantikan kehilangan
parenteral,
mata produksi darah dan cairan yang telah
atau plasma didokumentasikan.
ekspander.
5 Perubahan Pasien Nafsu   Berikan makanan dan  Untuk memenuhi
nutrisi mendapatkan menyusu  kudapan tinggi kalori kebutuhan tubuh
kurang dari nutrisi yang meningkat  dan
kebutuhan  optimal dengan BB  protein   Untuk mendorong
tubuh kriteria hasil meningkat   Beri makanan agar anak mau
DS :  anak atau normal  yang disukai makan
        Keluarga mengkonsumsi sesuai umur  anak   Untuk
klien jumlah   Perkaya makanan memaksimalkan
mengatakan,  nutrien yang dengan suplemen kualitas
klien tidak cukup nutrisi. asupan makanan
mau menyusu   Berikan   Ketika anak
makanan
        Ibu klien ketika anak mau makan
mengatakan  sedang mau makan adalah kesempatan
anaknya dengan baik yang berharga
susah  bagi perawat
menelan   Gunakan kreativitas  maupun orang
DO : Klien untuk mendorong  tua.
nampak anak   Dapat menarik minat
cengeng bila anak
ingin   Pantau berat  untuk makan
 Disusui.  dan menghabiskan
  badan dan
porsi makanan
 pertumbuhan
  Pemantauan berat
  Kolaboratif :
badan
 obat antijamur sesuai
 dilakukan sehingga
instruksi
intervensi nu
  Untuk mengobati
kandidiasis oral

[Link] Adanya -Anak dapat


aktivitas peningkatan beraktivitas  Evalusi respon Menetapkan
berhubungan toleransi sebagaimana terhadap aktivitas. kemampuan/kebutu
dengan aktivitas biasanya Catat laporan dispnea, han klien dan
 kelemahan peningkatan memudahkan
DS : Ibu -anak tidak kelemahan/kelelahan pilihan intervensi
 klien tampak  Berikan Menurunkan stress
mengatakan lemah lingkungan tenang dan rangsangan
anaknya dan batasi pengunjung berlebihan,
 tidak bisa selama fase akut meningkatkan
 beraktivitas sesuai indikasi. istirahat
sebagai mana   Bantu klien memilih
biasanya. posisi nyaman untuk Klien mungkun
DO : klien istirahat dan tidur. nyaman dengan
tampak sangat kepala tinggi
lemah
[Link] Setelah Keluarga   Kenali   Dengan mengkaji
masalah
DS : dilakukan Mau keluarga dan masalah yang
Keluarga tindakan menerima   kebutuhan akan  dihadapi keluarga
klien perawatan tindakan informasi dan perawat dapat
mengatakan selama 3 x 24 perawatan, dukungan  membuat rencana
sangat jam, klien klien tampak intervensi yang
khawatir mampu tenang dan tepat.
dengan beradaptasi tidak rewel   Kaji   Tingkat pemahaman
pemahaman
kondisi keluarga tentang keluarga  sangat
anaknya diagnosa dan diperlukan perawat
DO      :   rencana perawatan untuk
Keluarga  menentukan
klien nampak   Tekankan dan jelaskan intervensi
gelisah dan  
penjelasan profesional penjelasan yang
selalu kesehatan tentang tepat dari
menanyakan kondisi anak.  profesional akan
kondisi mempertegas bahwa
 anaknya. informasi yang
didapatkan tentang
  Gunakan setiap
penyakit dan
kesempatan untuk
 terapinya tersebut
meningkatkan
tepat
pemahaman keluarga
  Untuk memfasilitasi
tentang penyakit.
keluarga belajar dan
meningkatkan
  Bantu orang tua
kemampuannya
mengintepretasikan
dalam
perilaku dan respon
 merawat klien
bayi atau anak
  Menginteoretasikan
  Rujuk pada kelompok
perilaku
pendukung dan
lembaga-lembaga  dan respon
khusus (mis yayasan  bayi atau anak
HIV/AIDS Indonesia  secara tepat
membantu keluarga
dalam mengambil
keputusan
untuk dukungan
interpersonal
tambahan dan
konkret (misalnya
pelayanan sosial.
           

IMPLEMENTASI  DAN EVALUASI KEPERAWATAN

[Link]/Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Bersihan   Mengauskultasi area paru, catat 26 Mei  2011, jam 07.30
jalan nafas 07.30 area penurunan/tidak ada aliran Wita
tidak efektif udara dan bunyi napas adventisius S:
berhubunga   Mengkaji ulang tanda-tanda vital Ibu pasien mengatakan
n dengan (irama dan frekuensi, serta gerakan anak masih sesak
akumulasi dinding dada O:
sekret   Membantu pasien latihan napas Klien Masih nampak
25-05-2011 sering. Tunjukkan/bantu pasien gelisah
mempelajari melakukan batuk, Nampak sesak
misalnya menekan dada dan batuk
efektif sementara posisi duduk A: Masalah belum
tinggi teratasi
  menghisap sesuai indikasi
  Memberikan cairan P: Intervensi 3,4,5 dan 6
 sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali dilanjutkan
kontraindikasi).
 Tawarkan air hangat dari pada
dingin
  Memberikan obat yang
 dapat meningkatkan
 efektifnya jalan nafas

NO DX/ Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Pola napas tidak 08.00   mengkaji frekuensi, 26- 05-2011, JAM 08.00
efektif berhubungan kedalaman pernafasan dan
dengan penurunan ekspansi paru. S : ibu klien mengatakan
ekspansi paru   .mengAuskultasi bunyi pola nafas anaknya sudah
nafas dan catat adanya agak baikan
25-05-2011 bunyi seperti ronchi.
   meninggikan kepala dan O : klien nampak bernafas
bantu mengubah posisi. dengan normal tetapi belum
  mengobservasi pola batuk terlalu pulih
dan karakter sekret.
  memberikan oksigen A : masalah belum teratasi
tambahan.
  memberikan humidifikasi P : intervensi dilanjutkan
tambahan, mis : nebuliser (intervensi 3,4 dan 5)
ultrasonik.

JA
[Link]/Tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
M
Hipertermi   Mempertahankan lingkungan sejuk,
   
berhubungan 09.00 dengan menggunakan piyama dan 26 Mei 2011, jam 10.00
dengan selimut yang tidak tebal serta wita
pelepasan pertahankan suhu ruangan antara 22o S:
pyrogen dari dan 24 oC  Ibu pasien mengatakan
hipotalamus   Memantau suhu tubuh anak setiap 1- anaknya masih demam
sekunder 2 jam, bila terjadi peningkatan
terhadap secara tiba-tib O: Klien Nampak teraba
reaksi antigen   Memberikan antimikroba/antibiotik panas.
dan antibody jira disaranka
  Memberikan kompres dengan suhu A: Masalah belum teratasi
25-05-2011 37 oC pada anak untuk menurunkan
demam P: Intervensi  1,4 dan 5
  Kolaboratif : dilanjutkan
Beri antipiretik sesuai
 petunjuk

[Link]/Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Kekurangan   Mengukur dan catat pemasukan dan 26 Mei 2011, jam 12.00
volume 11.00 pengeluaran. Wita
cairan   Memantau tanda-tanda vital. S:
berhubunga   Meletakkan pasien pada posisi yang  Ibu pasien mengatakan
n dengan sesuai, tergantung pada kekuatan anaknya sering BAB
pemasukan pernapasan. O:
dan   Memantau suhu kulit, palpasi denyut Pasien Nampak kulitnya
pengeluaran perifer. kering, cekung pada mata
sekunder   Kolaborasi, berikan cairan parenteral,
karena produksi darah dan atau plasma A: Masalah belum teratasi.
kehilangan ekspander sesuai petunjuk.
nafsu makan Tingkatkan kecepatan IV jika P: Intervensi  1,4 dan 5 di
dan diare diperluakan. lanjutkan

25-05-2011

[Link]/Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Perubahan   Memberikan makanan dan kudapan 26  Mei 2011, jam 13.30
nutrisi 12.30 tinggi kalori dan tinggi protein Wita
kurang dari   Memberi makanan yang disukai anak S:
kebutuhan   Perkaya makanan dengan   Ibu pasien mengatakan
tubuh  suplemen nutrisi, misalnya susu bubuk klien tidak mau
berhubunga atau suplemen yang dijual bebas makan/malas makan
n dengan   Memberikan makanan ketika O:
kekambuhan  anak sedang mau makan  Pasien Nampak cengeng
penyakit,  dengan baik bila mau makan
diare,   Mengunakan kreativitas untuk
kehilangan mendorong anak A: Masalah belum teratasi.
nafsu   Memantau berat badan dan
makan,  pertumbuhan P: Intervensi ditingkatkan.
kandidiasis   Kolaboratif : Berikan obat antijamur
oral sesuai instruksi
25-05-2011
[Link]/Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
Intoleransi   mengevalusi respon terhadap 26 Mei2011, jam 14.30
aktivitas 14.30 aktivitas. Catat laporan dispnea, Wita
peningkatan kelemahan/kelelahan S:
25-05-2011 dan perubahan TTV selama dan   ibu pasien mengatakan
aktivitas. anaknya belum bisa
  memberikan lingkungan tenang dan beraktivitas seperti biasa
batasi pengunjung selama fase akut O:
sesuai indikasi.  klien masih tampak lemah
   Bantu klien memilih posisi nyaman
untuk istirahat dan tidur. A: Masalah belum teratasi.

P: Intervensi ditingkatkan.

[Link]/Tgl JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Kecemas   Mengenali masalah keluarga dan 26 Mei 2011, jam 16.30
keluarga 15.30 kebutuhan akan informasi dan Wita
berhubungan dukungan
dengan   Mengkaji pemahaman keluarga S:
perubahan tentang diagnosa dan rencana  Keluarga pasien
kesehatan perawatan mengatakan sudah tenang
yang diderita   Tekankan dan jelaskan penjelasan melihat kondisi anaknya.
klien profesional kesehatan tentang kondisi O:
anak, prosedur dan terapi yang Keluarga pasien sudah
25-05-2011 dianjurkan serta prognosanya cukup rileks
  Gunakan setiap kesempatan untuk
meningkatkan pemahaman keluarga A: Masalah belum teratasi.
tentang penyakit dan terapinya dan
ulangi informasi sesering mungkin P: Intervensi
  Bantu orang tua mengintepretasikan dipertahankan.
perilaku dan respon bayi atau anak
  Rujuk pada kelompok pendukung dan
lembaga-lembaga khusus (mis
yayasan HIV/AIDS Indonesia)
BAB IV
PENUTUP
A. kesimpulan
Infeksi HIV/AIDS pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa
homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. Enam tahun kemudian (1989), AIDS sudah termasuk
penyakit yang mengancam anak di Amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih
dari 8000 orang setiap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi HIW dianggap
sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.

AIDS (Aquired immuno deficiency syndrom ) merupakan kumpulan gejala akibat melemahnya
daya tahan tubuh sebagai akibat dari infeksi virus HIV. Virus ini mempunyai sistem kerja menyerang
jenis sel darah putih yang menangkal infeksi. Sehingga pada ornag yang mengidap HIV/AIDS akan
mudah terserang infeksi atau virus dari luar.

Cara paling efektiv dan efisien untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal
adalah dengan mengurangi penularan dan ibu ke anaknya (mother-to-child-transmision ( MTCT )). Upaya
pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu :

1        Mencegah penularan HIV pada wanita usia subur


2        Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV
3        Mencegah penularan HIV dan ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan memberikan
dukungan.
4        Layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, dkk (1999) Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15. Jakatra : EGC

Betz, Cecily L (2002) Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC Blog Riyawan | Kumpulan Artikel Farmasi &
Keperawatan Doenges,

Marilynn E (2001) Rencana Keperawatan Maternal / Bayi. Edisi 2. Jakarta : EGC Rampengan & Laurentz
(1999) Ilmu Penyakit Tropik pada Anak. Jakarta : EGC

Wartono, JH (1999) AIDS Dikenal Untuk Dihindari. Jakarta : Lembaga Pengembangan Informasi Indonesia

Anda mungkin juga menyukai