BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENDEKATAN SOSIAL EKONOMI
A. Pendekatan Sosiologi
Pendekatan sosiologis terdiri dari dua suku kata yakni “pendekatan” dan
“sosiologis”. Pendekatan berasal dari akar kata “dekat” yang berarti pendek, tidak
jauh (jarak atau antaranya). setelah mendapat awalan “pe”, dan akhiran “an”
menjadi pendekatan yang berarti;
1. Proses, perbuatan, cara mendekati dan;
2. Usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan
dengan orang yang diteliti, metode-metode untuk mencapai pengertian
tentang masalah penelitian.
Yang dalam bahasa inggris sepadan dengan kata “approach” yang berarti
pendekatan baru dalam mempelajari masyarakat.
Sedangkan kata “sosiologi” secara lughawi berarti pengetahuan atau ilmu
tentang sifat, prilaku dan perkembangan masyarakat. Dan secara istilahi ada
beberapa pendapat yang dapat dilihat berikut ini. sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan
antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat
dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya
perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaanya, keyakinan yang
memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan
hidup manusia.
Dari sekian banyak defenisi-defenisi yang dikemukakan oleh para ahli, tapi
pada intinya dapat dipahami bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang
menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan
serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Dengan ilmu ini suatu
penomena sosial dapat dianalisa dengan faktor-faktor yang mendorong terjadinya
hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya
proses [Link] pendekatan sosiologis dapat dipahami sebagai cara atau
metode yang dilakukan dengan mengaitkannya dengan sosiologi guna menganalisa
dan mengungkap data-data terhadap kegiatan ekonomi.
Pendekatan sosiologi dalam ekonomi sangat penting, karena kegiatan
ekonomi merupakan salah satu tindakan sosial. Perhatian sosiologi terhadap
kegiatan ekonomi dalah masyarakat mendorong lahirnya cabang ilmu baru yaitu
sosiologi ekonomi.
B. Pendekatan Sosiologi Dalam Ekonomi
Sosiologi ekonomi adalah studi tentang bagaimana cara orang atau masyarakat
memenuhi kebutuhan hidupnya atas barang dan jasa yang langka dengan
menggunakan pendekatan sosiologi. Sosiologi–ekonomi berkaitan dengan
fenomena ekonomi dan pendekatan sosiologis.
Fenomena ekonomi adalah gejala bagaimana cara orang atau masyarakat
memenuhi kebutuhan hidupnya atas barang dan jasa. Yang dimaksud dengan cara
adalah semua aaktivitas orang dan masyaarakat yang berkaitan dengan produksi,
distribusi, pertukaran, konsumsi jasa dan barang langka. Secara lebih rinci
fenomena-fenomena ekonomi tersebut terdiri dari: konsumsi dan produksi,
produktivitas dan inovasi teknologi, pasar, kontrak, uang, tabungan, organisasi
ekonomi, pembagian kerja dan segregasi pekerjaan, kelas ekonomi, ekonomi
internasional, ekonomi dan masyarakat luas (seperti pemerintah, gerakan sosial,
nilai budaya), dampak faktor gender dan etnik terhadap ekonomi. Kekuatan
ekonomi dan ideologi ekonomi.
Berbeda dengan ekonomi pendekatan sosiologis adalah kerangka acuan, variabel-
variabel, dan model-model yang digunakan oleh para sosiolog untuk memahami
dan menjelaskan kenyataan sosial tau fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
Dalam memahami dan menjelaskan kenyataan sosial dan fenomena yang terjadi
dalam masyarakat, pendekatan yang digunakan para sosiolog berbeda dengan para
ekonom.
Ada dua perspektif dalam sosiologi ketika melihat prilaku individu atau
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
1. Perspektif Utilitarian
Perspektif utilitarian menganggap bahwa manusia adalah aktor yang rasional.
prilaku manusia yang dianggap rasional adalah prilaku yang yang
memperhitungkan untung-rugi dan memilih keputusan yang paling efisien dari
banyaknya [Link] prinsip ekonomi yang masih berkembang sampai saat ini
adalah “keuntungan maksimal (profit maximum) dengan biaya yang rendah”. basis
tindakan sosial manusia adalah motivasi ekonomi.
Oleh karena itu, tujuan moral tindakan manusia adalah memaksimalkan perasaan
nikmat dan meminimalkan rasa sakit.
Prinsip dasar Ultilitarisme adalah tindakan atau peraturan yang secara moral betul
adalah yang paling menunjang kebahagiaan semua yang bersangkutan atau
bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat tindakannmu menguntungkan bagi
semua yang bersangkutan.
2. Perspektif Keterlekatan
Para sosiolog memiliki pendapat bahwa kegiatan ekonomi selalu terlekat dalam
konteks sosial. Keterlekatan ekonomi bukan hanya terbatas pada jaringan
hubungan antar personal,tetapi juga supra-individual dan kondisi-kondisi
hubungan masyarakat interpersonal, ekonomi ditandai dengan keterlekatan secara
makro maupun mikro. Granovetter menegaskan bahwa keterlekatan perilaku
ekonomi dalam hubungan sosial dapat dijelaskan melalui jaringan sosial yang
terjadi dalam kehidupan ekonomi.
Perspektif keterlekatan mengaggap bahwa tindakan ekonomi seorang individu
selalu terlekat dalam latar [Link] ekonomi berhubugan dengan kekuatan-
kekuatan struktural atau sistematis yang beroperasi secara nyata dalam
masyarakat,termasuk ekonomi.
Menurut Swedberg dan Granovetter,ada 3 proposisi utama dalam sosiologi
ekonomi baru yang berkaitan dengan keterlekatan ekonomi,yaitu:
- Tindakan ekonomi merupakan suatu bentuk tindakan sosial,
- Tindakan ekonomi disituasikan secara sosial,
- Institusi ekonomi dikonstruksi secara sosial.
2.2 Pengertian Ekonomi Substantif
Cook(1973;835) juga telah merumuskan beberapa ciri yang penting dari
pendekatan substantif dan formalis. Penganut pemikiran substantive menepatkan
perekonomian sebagai rangkaian dan aturan-aturan dan organisasi sosial , dimana
setiap individu dilahirkan dan diatur dalam suatu sistem organisasi , fenomena
ekonomi dalam masyarakat terkait pada sistem pranata dan norma-norma yang
sama. Konsepsi ini menempatkan inividu sebagai pihak yang pasif dalam aktifitas
ekonomi sebagai suatu sistem menentukan bagaimana individu bertingkah laku .
Pandangan substantive mengenai fenomena ekonomi yang memandang
individu bersifat statis juga kurang dapat diikuti. Memang pandangan substantive
tersebut mempunyai kesejajaran dengan konsep kebudayaan yang dapat melihat
bahwa manusia menerima kebudayaan sebagai sesuatu yang diterima begitu saja.
Namun demikian, dalam proses belajar kebudayaan manusia lambat atau cepat
dapat mengambil jarak terhadap apa yang dimiliki, diyakini, dan dianggap benar.
Proses selanjutnya dapat mengarah pada timbulnya pemikiran pemikiranin divide
tentang pembeharuan pada masyarakat tersebut sehingga akhirnya kalau pemikiran
tersebut diterima masyarakat akan menimbulkan perubahan sosial budaya.
Aliran ini pada dasarnya bersifat historis, relavitik dan substantive (real)
dalam orientasinya .ciri yang pertama mengandung arti bahwa dalam mengkaji
suatu perekonomian, pendekatan ini cenderung melihat gejala ekonomi sebagai
proses dari gejala sebelumnya dan gejala yang terjadi pada masa sekarang akan
mempengaruhi gejala – gejala yang terjadi pada masa sekarang akan
mempengaruhi gejala-gejala yang akan terjadi pada masa mendatang.
Teori substantive lebih menaruh perhatian terhadap upaya untuk
menghasilakan teori-teori baru yang lebih cocok dengan masalah dilapangan . para
penganutnya tidak lagi berurusan dengan konsep ekonomi formal tetapi ekonomi
substantif yang melihat gejala-gejala ekonomi dari proses pemberian makna yang
dilakukan manusia dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi.
Teori subtantif menepatkan perekonomian sebagai rangkaian dari aturan-
aturan dan organisasi sosia dimana fenomena ekonomi dalam masyarakat terikat
pada sistem peranata dan norma-norma yang sama. Konsepsi ini menempatkan
individu sebagai pihak yang pasif dalam aktifitas ekonomi karena ekonomi sebagai
satu sistem menentukan bagaimana individu bertingkah laku cara pandang
penganut subtantif tersebut tampak bahwa mereka mengabaikan gejala perubahan
ekonomi dalam masyarakat. Norma-norma ekonomi tidak dipandang sebagai
tujuan yang harus dicapai dengan mematuhi tetapi sebagai alat dan kalau alat
tersebut tidak mendatangkan keuntungan maka akan diganti dengan alat lain.
Pandangan subtantif mengenai fenomena ekonomi yang memandang
individu bersifat statis juga kurang dapat diikuti. Pandangan ini mempunyai
kesejajaran dengan konsep kebudayaan yang melihat baha manusia menerima
kebudayaan sebagai sesuatu yang diterima begitu saja. Kalau gejala kebudayaan
dipandang dari tingkat individu maka akan terlihat bahwa tidak semua individu
mempunyai respon yang sama terhadap sistem sosial budaya yang membelegu
kehidupan ekonomi mereka.
2.3 Distribusi
A. PENGERTIAN DISTRIBUSI
Distribusi dalam bahasa inggris “distribution” yang berarti penyaluran. Sedangkan
kata dasarnya “to distribute”, berdasarkan kamus inggris Indonesia John M Echols
dan Hassan Shadilly, bermakna membagikan, menyalurkan, menyebarkan,
mendistribusikan, mengageni. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia,
distribusi dimaksudkan sebagai penyaluran (pembagian, pengiriman) kepada
beberapa orang atau jasa kepada pihak lain.
Para ahli klasik menjelaskan distribusi sebagai alokasi nilai-nilai langka yang
dikaitkan dengan pertukaran sosial. Nilai-nilai langka biasanya dihubungkan
dengan tenaga kerja, kapital, tanah, teknologi, dan organisasi sehingga barang dan
jasa juga menjadi bernilai langka.
Bagi sosiolog, proses yang dikatakan oleh ekonom tersebut terjadi dalam suatu
jaringan hubungan sosial interpersonal. Jadi distribusi dapat dimengerti sebagai
suatu perangkat hubungan sosial yang melaluinya orang mengalokasikan barang
dan jasa yang dihasilkan. Distribusi juga menunjukkan suatu proses alokasi dari
produksi barang dan jasa sampai ketangan konsumen atau proses konsumsi.
Dengan demikian, distribusi merupakan proses yang mengantar produksi barang
dan jasa dengan proses konsumsinya.
B. Pandangan Para Peneruka Sosiologi Tentang Distribusi
1. Karl Marx (1818-1883)
Dalam capital : A Critique of Political Ekonomy (1867/1967), Karl Marx
menjelaskan 3 tipe sirkulasi komoditi yang dialami umat manusia sepanjang
sejarah, yaitu:
a. Komoditi Sederhana “Tipe K-K” yaitu suatu komoditi ditukar langsung dengan
komoditi lainnya atau disebut dengan istilah barter. Misalnya, seorang petani
menukarkan sekarung beras dengan sekarung ikan kepada seorang nelayan. Dalam
tipe ini, para aktor melakukan interaksi sosial dan mereka dapat saling mengontrol
perilaku mereka.
b. Bentuk lanjut dari tipe yang pertama adalah “Tipe K-U-K” yaitu komoditi
dikonvesikan kedalam uang, kemudian uang dikonversikan lagi kadalam komoditi.
Misalnya, nelayan menjual hasil tangkapannya untuk mendapatkan uang,
kemudian uang hasil penjualannya tersebut digunakan untuk membeli beras.
c. Tipe U-K-U yaitu uang digunakan untuk membeli komoditi kemudian komoditi
dijual untuk memperolah uang. Biasanya tipe ini dilakukan dalam kegiatan bisnis.
Baca Juga Pengertian Manajemen dan Manager
2. George Simmel ( 1858 – 1918 )
Simmel hanya menyentuh salah satu aspek dari distribusi mengenai sosiologi
tentang distribusi yaitu uang. The Philuosophy of money ( 1907/1978 ) yang
merupakan karya monumental dan sebagai buku rujukan utama. Dalam bukunya
tersebut, simmel mulai dengan diskusi tentang bentuk – bentuk umum dari uang
dan nilai. Kemudian dia menjelaskan tentang dampak uang terhadap “inner world “
dari aktor dan terhadap budaya secara umum. Menurut Simmel, nilai dari sesuatu
berasal dari kemampuan orang menempatkan diri mereka sendiri pada jarak yang
tepat terhadap objek.
Dalam konteks nilai secara umum, Simmel membicarakan uang. Dalam realitas
ekonomi, uang melayani baik untuk menciptakan jarak terhadap objek juga
memberikan sarana untuk mendapatkan jalan keluarnya. Beberapa dampak
perkembangan ekonomi uang terhadap individu dan masyarakat adalah munculnya
sinsime dan kebosanan. Dari sisi lain, menurut simmel, itu berarti pula uang
mereduksi semua nilai kemanusiaan kedalam istilah moneter (1907/1978:356).
Bagi Simmel. Uang selain mengandung instrumen impersonal juga mempunyai
aspek pembebasan. Dengan putusnya hubungan – hubungan personal dalam
lingkungan tradisional. Uang memberikan kepada setiap individu kebebasan
memilih kerangka dan kerabat kerja dalam pertukaran ekonomi.
3. Max Weber ( 1864 – 1920 )
Dalam economy and society ([1922]1978:635), Weber melihat bahwa suatu pasar
ada apabila di mana terdapat kompetisi, meskipun hanya unilateral, bagi
kesempatan dari pertukaran di antara suatu keberagaman partai – partai yang
potensial. Kumpulan orang secara fisik pada suatu tempat, seperti pada tempat
brdagang local, pecan raya, atau pertukaran (pasar perdagangan ) hanya merupakan
salah satu pembentuk pasar utama.
Menurut Weber, tindakan social di pasar bermula dari persaingan dan berakhir
dengan pertukaran. Tahap pertama, rekanan yang potensial diarahkan pada tawaran
mereka terutama oleh tindakan potensial dari kelompok besar yang tidak terbatas
atau pesaing rekaan, dibandingkan oleh tindakan mereka sendiri. Tahap kedua
merupakan tahap yang terstruktur secara berbeda. Pada tahap ini barter yang
lengkap hanya terjadi dengan rekanan yang dekat. Pertukaran menunjukkan “pola
dasar dari semua tindakan social rasional”.
Baca Juga Proses Penyusunan Personalia Organisasi
C. Jenis Jenis Distribusi
1. Resiprositas
Resiprositas menunjuk pada gerakan di antara kelompok-kelompok simetris yang
saling berhubungan. Ini terjadi apabila hubungan timbal-balik antara individu-
individu dan antara kelompok-kelompok sering dilakukan. Hubungan bersifat
simetris terjadi apabila hubungan antara berbagai pihak (antara individu dan
individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok) memiliki posisi
dan peranan yang relatif sama dalam suatu proses pertukaran.
Dari berbagai kepustakaan yang ada tentang resiprositas yang disimpulkan terdapat
dua jenis resiprositas, yaitu resiprositas sebanding (balanced reciprocity) dan
resiprositas umum (generalized reciprocity). Resiprositas sebanding merupakan
kewajiban membayar atau membalas kembali kepada orang atau kelompok lain
atas apa yang mereka berikan atau lakukan untuk kita secara setara, seringkali,
langsung, dan terjadwal. Resiprositas sebanding menekankan pada apa yang diterima dari
seseorang atau kelompok setara dengan apa yang akan diberikan kepada orang atau kelompok pemberi.
Sifat langsung ditunjukkan oleh siapa memberikan apa kepada siapa dan akan menerima apa dari siapa.
Sedangkan sifat terjadwal menunjukkan pada kepastian seseorang kapan akan memperoleh pembayaran
atau pembalasan atas pemberian atau kegiatan yang dilakukan sebelumnya.
Sedangkan resiprositas umum merupakan kewajiban memberi atau membantu
orang atau kelompok lain tanpa mengharapkan pengembalian, pembayaran atau
balasan yang setara dan langsung. Sedangkan resiprositas umum merupakan kewajiban
memberi atau membantu orang atau kelompok lain tanpa mengharapkan pengembalian, pembayaran
,atau pembalasan yang setara dan langsung. Berbeda dengan resiprositas berbanding, resiprositas umum
tidak menggunakan kesepakatan terbuka atau langsung antara pihak pihak terlibat. Ada harapan bersifat
umum (general bahwa pengembalian setara atau hutang ini akan tiba pada saaat nya tetapi tidak ada
batasan waktu tertentu pengembalian, juga tidak ada speksipikasi mengenai bagaimana pengembalian itu
dilakukan. Istilah pengembalian dalam resiprositas umum sangat samar (sanderson, 2003:118).
2. Redistribusi
Sahlin (1976) mendefinisikan redistribusi sebagai “pooling”, perpindahan barang
dan jasa yang tersentralisasi, yang melibatkan proses pengumpulan kembali dari
anggota-anggota suatu kelompok melalui pusat dan pembagian kembali kepada
anggota-anggota kelompok tersebut. Jadi mendistribusi merupakan gerakan appropriasi kearah
pusat kemudian dari pusat didistribusikan kembali. Hal ini terjadi karena adanya komunitas politik
terpusat.
Dengan kata lain, individu melakukan kegiatan redistribusi karena ia menjadi anggota dalam suatu
kelompok dan hidup didalam nya. Oleh karena itu kelompok hadir sebagai organisasi yang mengatur
hidup individu , termasuk distribusi barang dan jasa. Kelompok sebagai suatu organisasi memiliki
wewenang atau kekuasaan yang diberikan kepada pemimpin atau orang yang ditunjuk. Pemimpin atau
orang yang diberi amanah memegang kekuasaan inilah yang berperan pentung dalam melakukan
kegiatan ini. Pemimpin itu sendiri bisa mengambil dua bentuk , yaitu perorangan atau lembaga.
Perseorangan terdiri dari tokoh, pengetua, aktifis, penggiat, dan sebagainya. Lembaga ,meliputi berbagai
institusi seperti organisasi ko munitas (desa, nagari, dukuh, kampung,dll).
Pada institusi modren, pemungutan dalam bentuk pajak, fiskal, retribusi, dan sejenisnya yang dilakukan
oleh negara modren merupakan bentuk redistribusi. Pemungutan tersebut selanjutny a dikembalikan lagi
kepada raktyat dalam bentuk subsidi, bantuan, pelayanan publik (terutama kesehatan dan penddikan),
membangun infrastruktur pemberian santunan dan lainnya.
Dalam era modern, mendistribusi tidak hanya dilakukan oleh negara, institusi ekonomi dan politik
lainnya juga melakukan redistribusi.
3. Pertukaran (Exchange)
Pertukaran (exchange) merupakan distribusi yang dilakukan atau terjadi melalui
pasar. Sedangkan konsep pasar berakar dari kata latim “mercatus”, yang bermakna
sebagai berdagang atau tempat berdagang. Dengan demikian, terkandung tiga arti
yang berbeda didalam makna tersebut :
a). pasar dalam artian secara fisik;
b). sebagai tempat pengumpulan;
c). sebagai hak atau ketentuan yang legal tentang suatu pertemuan pada suatu
tempat pasar.
Teori pertukaran ekonomi didasarkan pada ide bahwa orang memandang
hubungan mereka dalam konteks ekonomi dan mereka menghitung pengorbanan
dan membandingkannya dengan penghargaan yang didapatkan dengan
meneruskan hubungan itu. Pengorbanan (cost) merupakan elemen dari sebuah
hubungan yang memiliki nilai negatif bagi seseorang, sedangkan penghargaan
(rewards) merupakan elemen-elemen dalam sebuah hubungan yang memiliki nilai
positif.
Teori-teori pertukaran itu dilandaskan pada prinsip transaksi ekonomis yang
elementer yaitu orang menyediakan barang atau jasa dan sebagai imbalannya
berharap memperoleh barang atau jasa yang diinginkan. Teori pertukaran merupakan
suatu usaha untuk menggerakkan pendulum teori dari paham sosiologi ekstrim ke arah
suatu evaluasi ulang tentang peranan individu dalam sistem sosial.
Dalam kajian sosiologi, pasar dibedakan antara pasar sebagai tempat pasar dan
pasar. Pasar sebagai tempat pasar merupakan bentuk fisik dimana barang dan jasa
dibawa untuk dijual dan dimana pembeli bersedia untuk membeli barang dan jasa
tersebut. Sedangkan pasar (market) dilihat oleh sosiologi sebagai suatu institusi
sosial, yaitu suatu struktur sosial yang memberikan tatanan siap pakai bagi
pemecahan persoalan kebutuhan dasar kemanusiaan, khususnya kebutuhan dasar
ekonomi dalam distribusi barang dan jasa. Oleh sebab itu pasar biasa dipandang
sebagai serangkaian hubugan social yang terorganisasi di seputar proses jual beli
sesuatu yang berharga.
D. Jenis-Jenis Proses Ekonomi Distribusi
1. Proses Ekonomi Distribusi Pada Umumnya :
Produksi => Distribusi => Konsumsi
2. Proses Ekonomi Distribusi dalam Bentuk Redistribusi
Produksi => Redistribusi => Konsumsi
3. Proses Ekonomi Distribusi dalam Bentuk Resiprositas
Produksi => Resiprositas => Konsumsi
4. Proses Ekonomi Distribusi dalam Bentuk Pertukaran
Produksi => Distribusi => Konsumsi
=> Keuntungan
2.4 PERDAGANGAN DAN ELEMEN PASAR
1. Produk
Langkah pertama untuk mengembangkan Strategi Pemasaran Produk adalah memastikan Anda memiliki
produk yang kuat. Bahkan sebelum menyusun strategi, Anda perlu memastikan produk tersebut dibuat
dengan mempertimbangkan target pelanggan dan apakah produk tersebut selaras dengan kebutuhan
mereka.
Nilai yang ditanamkan pada produk Anda lebih penting daripada kemampuan produk itu sendiri. Dengan
kata lain, Anda harus fokus terhadap benefit dari produk Anda alih-alih mengenai fitur-fiturnya.
Nantinya, setiap fitur harus dikembangkan untuk suatu tujuan yang akan memberikan manfaat/benefit
bagi pelanggan. Anda harus memiliki produk yang inovatif atau setidaknya satu produk yang bisa
memecahkan tantangan bisnis secara umum.
2. Pelanggan
Sama seperti produk, Anda juga perlu fokus kepada pelanggan atau calon pelanggan Anda. Untuk
melakukan itu, Anda harus benar-benar memahami mereka. Karakteristik, sifat, perilaku, dan lainnya
adalah kunci untuk memahami pelanggan.
Mulailah dengan melakukan riset dan mengumpulkan informasi apa pun tentang target pelanggan yang
dituju, seperti:
Usia
Jenis kelamin
Status pernikahan
Pendidikan
Profesi
Hobi
Lebih baik lagi, wawancarai pelanggan Anda. Atur panggilan telepon atau pertemuan dengan pelanggan
dan tanyakan tentang preferensi mereka terhadap produk Anda. Dengarkan cara mereka berbicara dan
bahasa yang mereka gunakan, ini dapat membantu untuk membentuk narasi Strategi Pemasaran Produk
Anda nantinya. Informasi apa pun yang berasal dari pelanggan dapat membantu dalam mengungkap
preferensi pelanggan Anda dan cara terbaik untuk memasarkan produk Anda kepada mereka. Setelah
semua informasi dikumpulkan, mulailah membangun persona pembeli di produk yang akan Anda
pasarkan.
3. Pesan
menurut beberapa hasil riset terkait pemasaran produk, 57% konsumen merasa percaya ketika mereka
terhubung secara emosional dengan suatu brand. Dan tentunya koneksi emosional tersebut dibangun
melalui pesan yang Anda sampaikan terkait produk yang Anda pasarkan.
Pesan produk Anda harus dibuat secara naratif. Karena narasi adalah cara termudah untuk membuat
pelanggan Anda terhubung dengan produk Anda. Anda bisa menulis artikel di blog dan memanfaatkan
fitur Search Engine Optimization (SEO) agar artikel-artikel inspiratif terkait produk bisnis Anda bisa
ditemukan secara mudah di internet.
4. Tim Pemasaran
Mengembangkan dan mempromosikan suatu produk membutuhkan upaya dan kerja sama dalam
suatu tim. Namun, menjaga beberapa tim di jalur yang sama secara konsisten bukanlah tugas
yang mudah. Tim pemasaran produk harus menjadi jembatan antara penjualan, pemasaran,
metode, dan pengembangannya.
Dengan banyaknya pihak dalam satu tim yang mengerjakan satu proyek, mudah terjadi
miskomunikasi dan disorganisasi yang akan menggagalkan kemajuan Strategi Pemasaran Produk
Anda. Buatlah perencanaan dan roadmap produk agar semua pihak yang terlibat dalam tim bisa
bekerja secara seirama dan bersinergi.
Roadmap produk menyediakan ringkasan dari seluruh rencana pemasaran produk dan memandu
tim tentang apa yang harus dilakukan beserta hasilnya pada setiap langkah proses. Dengan
roadmap, Anda dapat mempertahankan visibilitas di seluruh proyek dan memastikan semua
pihak yang terlibat tahu apa yang sedang mereka kerjakan.
5. Promosi
Memiliki produk yang solid dan strategi yang matang bukanlah suatu akhir dari pekerjaan Anda. Anda
tidak bisa mengharapkan pelanggan berbondong-bondong membeli produk Anda jika mereka tidak tahu
apa-apa tentang produk Anda. Maka dari itu, Anda perlu menyampaikan berita melalui promosi
strategis.
Rencana promosi Anda harus mengelaborasi dan menyampaikan pesan produk Anda kepada pelanggan
pada waktu yang tepat. Jika Anda sudah melakukan riset dan membangun persona pembeli Anda, Anda
seharusnya tidak memiliki masalah mengidentifikasi target pelanggan.
Pemilihan timing untuk mengeksekusi promosi produk juga sangatlah penting. Anda harus melakukan
riset di pasar secara keseluruhan. Seperti di musim apa yang cocok untuk mulai mempromosikan produk
bisnis Anda. Intinya, Anda perlu memastikan bahwa Anda memiliki kecocokan antara pasar dengan
produk yang kuat.
6. Analisis
6. Analisis
Anda tidak dapat secara langsung mengharapkan Strategi Pemasaran Produk Anda membuahkan hasil
yang sempurna. Kemungkinan terburuk atau risiko kegagalan haruslah Anda pertimbangkan dan lacak.
Dari situ, Anda hanya tinggal mengevaluasi kinerja pemasaran produk Anda. Proses analisis ini penting
agar Strategi Pemasaran Produk bie benar-benar berjalan secara efektif.
Setelah Anda menerapkan rencana promosi dan produk Anda telah dipasarkan, Anda perlu me-review
untuk mengetahui seberapa sukses strategi Anda. Lihatlah baik-baik titik kesalahan yang mungkin
terjadi. Dan sesuaikan strategi Anda ke depannya dari hasil analisis yang telah dipelajari.
Dengan memahami keenam elemen tersebut, diharapkan Strategi Pemasaran Produk bisnis Anda bisa
benar-benar berjalan secara efektif dan efisien. Dan tidak lupa untuk selalu mengevaluasi kinerja
Strategi Pemasaran Produk Anda ketika sudah dieksekusi agar bisa selalu konsisten dengan tujuan
pemasaran dan bisnis Anda.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Damsyar, Indrayani. 2009. Pengantarsosiologiekonomi. Jakarta: Prenadamedia.