0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan17 halaman

Jati Diri Manusia Menurut Schopenhauer

Teks tersebut membahas latar belakang masalah penelitian tentang konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer dan relevansinya bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keragaman yang perlu dijaga untuk mencegah konflik. Konsep jati diri manusia Schopenhauer diharapkan dapat membantu menghindari konflik dengan menekan egoisme. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan

Diunggah oleh

Hakuro Dare
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan17 halaman

Jati Diri Manusia Menurut Schopenhauer

Teks tersebut membahas latar belakang masalah penelitian tentang konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer dan relevansinya bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keragaman yang perlu dijaga untuk mencegah konflik. Konsep jati diri manusia Schopenhauer diharapkan dapat membantu menghindari konflik dengan menekan egoisme. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan

Diunggah oleh

Hakuro Dare
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

1. Masalah Penelitian

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara kepulauan

terbesar di dunia, wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke dan dari

Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Memiliki pulau sebanyak 17.504 buah yang

terbentang antara kawasan Indomalaya dan Australasia (Naryanto, 2009:1).

Masyarakat dan kebudayaan Indonesia merupakan mozaik dengan

keragaman sangat kaya. Keragaman ini meliputi suku, ras, agama, bahasa,

budaya, adat dan sebagainya. Keragaman ini merupakan sesuatu yang sudah given

bagi bangsa Indonesia.

Keragaman Indonesia dapat dipandang sebagai kekayaan budaya yang luar

biasa yang dapat dianggap sebagai karunia Sang Pencipta. Sebaliknya, keragaman

juga mengandung kerawanan konflik bila anggota masyarakatnya salah dalam

mengelola dan merawat keragaman itu (Satria dalam Oentoro, 2010:108-109).

Di Indonesia keragaman rentan terhadap perselisihan internal. Dalam

masyarakat multikultur, gesekan kepentingan individu dan egoisme golongan

dapat mengancam integrasi bangsa. Hal ini dapat dilihat dalam konflik-konflik
2

SARA yang mewarnai perjalanan negara bangsa Indonesia. Di tengah arus

globalisasi yang serba terbuka bangsa Indonesia harus lebih berhati-hati menjaga

kemajemukan.

Terlepas adanya konflik atau tidak, bangsa Indonesia butuh strategi pelapis

untuk mengantisipasi disintegrasi. Dalam konteks ini bangsa Indonesia

membutuhkan konsepsi filosofis tentang hakikat jati diri yang sesuai dengan

realitas kemajemukan. Tuntutan konsepsi filosofis tentang jati diri manusia yang

sesuai dengan realitas kemajemukan Indonesia semakin mendesak karena dua

alasan mendasar:

Alasan pertama bersifat konseptual, karena kesadaran tentang jati diri

bangsa plural dan multikultural tidak dapat diraih secara instan, akan tetapi harus

ditanamkan melalui kesadaran tiap-tiap individu terlebih dahulu. Alasan kedua

bersifat fenomenal, karena konsepsi filosofis tentang jati diri manusia yang sesuai

dengan realitas kemajemukan akan berguna dalam meredam gejolak konflik

internal di tengah-tengah masyarakat.

Menarik kiranya menelaah konsep jati diri manusia menurut Arthur

Schopenhauer, karena filsafat nihilistiknya ingin menekan potensi tindak

kejahatan dalam diri manusia yang selalu mengedepankan egoisme dan

kepentingan individunya. Pemilihan tokoh Schopenhauer sebagai landasan

filosofis tentang jati diri manusia didasarkan pada tiga pertimbangan:

Pertimbangan pertama, latar belakang filsafat Schopenhauer lahir dari

perenungan terhadap dampak negatif perang di zamannya dan juga dari


3

pengalaman pribadinya. Schopenhauer memiliki pandangan hidup negatif bahwa

seluruh isi dunia hanya penderitaan yang harus dilawan. Pertimbangan kedua,

filsafat Schopenhauer mampu meneorikan sumber penderitaan hidup berasal dari

dalam diri manusia, dari Kehendak yang selalu mendorong memenuhi

kepentingan egoisme sehingga menyebabkan kerugian terhadap orang lain.

Pertimbangan ketiga, filsafat Schopenhauer memiliki solusi dalam meredam

potensi buruk egoisme dengan jalur estetik dan asketik. Solusi ini mengajak

manusia tidak saling menyakiti sebaliknya saling menghormati sehingga tidak

menambah beban penderitaan hidupnya dan hidup orang lain.

Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia, konsep jati diri manusia

Schopenhauer diharapkan memberi andil positif dalam menjaga kehidupan

berbangsa yang syarat dengan kemajemukan. Keragaman bangsa sebagaimana

disinyalir rawan memantik perselisihan internal dapat sedini mungkin dihindarkan

atau diminimalisir. Dengan demikian kehidupan bangsa Indonesia diandaikan

akan terjalin harmoni dan di antara masyarakatnya tidak saling menganggu.

Konsepsi jati diri manusia Schopenhauer sekurang-kurangnya mampu

mengajarkan bangsa Indonesia agar dapat menempatkan diri secara benar di

tengah perbedaan dan keragaman yang ada serta mampu menyikapinya secara arif

dan bijaksana.

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang hendak dijawab :


4

1. Apa hakikat konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer?

2. Bagaimana relevansi konsep jati diri manusia Schopenhauer bagi

kehidupan berbangsa di Indonesia, terutama dalam menjaga

kemajemukan?

3. Keaslian Penelitian

Terdapat beberapa penelitian yang mendekati tema penelitian penulis,

antara lain :

1. Agustji (UGM, 1986), judul skripsi Schopenhauer Dunia sebagai Ide

dan Kehendak, berisi deskripsi umum tentang filsafat Schopenhauer.

Meski sama dalam pemilihan objek material Schopenhauer, skripsi

Agustji berbeda dengan penelitian penulis, perbedaan ini terletak dari

penggunaan objek formal penelitian dan relevansi pemikiran yang

ingin dicapai.

2. Muhammad Fahmi Muqoddas (UGM, 1996), judul tesis Konsep Jati

Diri Manusia dalam Filsafat Iqbal. Objek formal tesis ini konsep jati

diri manusia sedang objek materialnya pemikiran Iqbal. Penelitian

Muqoddas membahas jati diri manusia Iqbal dikaitkan dengan ide

membangun masyarakat Indonesia. Sementara penekanan penulis

adalah konsep jati diri manusia Schopenhauer dikaitkan ide menjaga

kemajemukan kehidupan berbangsa di Indonesia.

3. Hardono Hadi (1996), judul Jati Diri Manusia Berdasar Filsafat

Organisme Whitehead, merupakan kelanjutan dari disertasi berjudul A


5

Whitehedian Reflection on The Human Person. Hadi dalam buku ini

menteorikan konsep jati diri manusia dalam bingkai pemikiran filsafat

organisme Whitehead. Sementara penulis dalam penelitian tesis ini

ingin merumuskan konsep jati diri manusia dalam bingkai pemikiran

Schopenhauer.

4. Yonathan Suprihartono (UGM, 2003), judul skripsi Voluntarisme

Arthur Schopenhauer, menjelaskan dasar ontologi, epistemologi dan

aksiologi filsafat Kehendak Schopenhauer. Penelitian Suprihartono

dengan demikian berbeda dengan penelitian penulis karena penulis

spesifik menekankan kajian filsafat manusia dalam pandangan

pemikiran Schopenhauer.

5. Victor Delvy Tutupary (UGM, 2007), judul skripsi Pesimisme Arthur

Schopenhauer dalam Novel “Keluarga Pascual Duarté” Karya

Camilo José Cela, skripsi Tutupary ingin menjelaskan dimensi

pemikiran pesimistik Schopenhauer dalam novel Keluarga Pascual

Duarté. Sementara penulis dalam penelitian ini tidak membahas filsafat

pesimisme Schopenhauer melainkan mengkaji konsep jati diri

manusianya.

Berdasar penelusuran penulis di lingkup Universitas Gadjah Mada belum

ada penelitian Konsep Jati Diri Manusia Arthur Schopenhauer: Relevansinya

Dengan Kehidupan Berbangsa di Indonesia karena itu penelitian ini dapat

dipertanggungjawabkan keasliannya.
6

4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini :

1. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini memberikan sumbangan

pemikiran bagi upaya pemahaman tentang jati diri manusia di

Indonesia.

2. Bagi pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia, sumbangsih

penelitian ini bermanfaat bagi kehidupan berbangsa di Indonesia,

terutama dalam menjaga keragaman dan mencegah disintegrasi NKRI

3. Bagi penelitan filsafat manusia selanjutnya, penelitian ini

memperkaya pandangan filsafat manusia terutama perspektif

pemikiran filsuf irrasional-pesimistis Schopenhauer.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini :

1. Mendeskripsikan konsep jati diri manusia dalam filsafat

Schopenhauer.

2. Menganalisis relevansi konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer

dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia.


7

C. Tinjauan Pustaka

Tesis utama pada sistem filsafat Schopenhauer adalah The World as Will

and Representation, atau Dunia sebagai Kehendak dan Representasi. Tesis

tersebut merupakan kelanjutan dan pengembangan buku yang ditulis sebelumnya,

On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason (Higgins, 2004:333).

Dunia sebagai representasi atau gambaran bagi Schopenhauer itu valid.

Bagi Schopenhauer, semua isi dunia termasuk manusia adalah representasi atau

gambaran sejauh itu menjadi objek “kesadaran” (Higgins, 2004:335). Lalu

Schopenhauer mengatakan dasar dunia representasi adalah Kehendak, the inner

reality is Will.

Saed Mohammad Tawfeq (1983:35) dalam Metafisika al-Fann Inda

Schopenhauer menyebut, Schopenhauer terpengaruh teori pengetahuan Immanuel

Kant, bahkan sebagai suksesor Kant. Tapi Schopenhauer berbeda dengan Kant

tentang thing-in-itself atau noumena yang kata Kant tidak dapat diketahui tapi

menurutnya noumena itu Kehendak.

Diane Collisin (2001:146) dalam Lima Puluh Filosof Dunia yang

Menggerakkan menyebut, Schopenhauer “filsuf dengan obsesi kehendak”. Dunia

phenomena keseluruhan bagi Schopenhauer merupakan sebuah manifestasi

Kehendak. Kehendak adalah dorongan buta yang merupakan hakikat paling tinggi

yang mendasari segala eksistensi di dunia.

Henry Thomas (1954:216) dalam Living Adventures in Philosophy

mengatakan, Kehendak yang didefinisikan Schopenhauer di sini bukan seperti


8

kehendak didahului motivasi, memiliki dasar pengetahuan kemudian dibuktikan

dengan perbuatan. Kehendak transendental Schopenhauer menyiratkan dorongan,

usaha keras, buta, tidak berakal, tidak berkesadaran, sesuatu pada intinya

mengarah untuk hidup, Will to live.

Kehendak ini menobjektivikasi diri dalam berbagai tingkatan. Tingkatan

terendah adalah benda mati. Tingkatan menengah adalah taraf vegetatif seperti

tumbuh-tumbuhan dan taraf sensitif seperti hewan. Dan yang terakhir tingkatan

paling adalah manusia. Setiap tingkatan Kehendak dihubungkan level penderitaan

berbeda-beda (Tawfeq, 1983:61-64).

Tubuh bagi Schopenhauer adalah Kehendak; tubuh merupakan

objektivikasi Kehendak. Tubuh dan Kehendak itu satu dilihat dari dua sudut

pandang: pertama, dilihat dari dalam (tubuh adalah Kehendak); kedua, dilihat dari

luar (Kehendak adalah tubuh). Segala aktivitas dan prilaku tubuh merupakan hasil

dari objektivikasi dari batin, Kehendak, yang tidak diikat dengan hukum

kausalitas (Tawfeq, 1983:85).

Kehidupan manusia merupakan deretan keinginan yang bersumber dari

Kehendaknya. Belum satu keinginan dicapai atau terpenuhi, manusia memiliki

keinginan lain. Kehendak untuk hidup tidak pernah dapat dibatasi. Ketika sudah

terpenuhi manusia merasakan bosan dan jenuh (Russell, 2007:984). Kebahagiaan

itu selalu negatif sedang penderitaan itu positif. Itu alasan di balik filsafat

Kehendak Schopenhauer yang pesimistis (Tawfeq, 1983:65).


9

Frederick Copleston (1994:274) dalam A History of Philosophy Volume

VII menjelaskan, orang masih diperbudak Kehendaknya tidak akan dapat

menemukan kedamaian. Di dunia ini manusia hanya dapat mencari kebahagian

tapi sejatinya tidak dapat memperolehnya secara hakiki, sebab kebahagiaan bak

pemberhentian atau terminal nafsu sementara.

Akar penderitaan manusia bagi Schopenhauer adalah ketika diperbudak

Kehendaknya. Cara untuk membebaskan diri dari penderitaan Kehendak dapat

ditempuh dua jalan: jalan keluar temporal yaitu estetika kontemplatif dan; jalan

keluar abadi yaitu asketik (Copleston, vol. VII, 1994:277).

Terkait filsafat Kehendak Schopenhauer menurut Abdurrahman Badawi

(1942:273) dalam Khalâshah al-Fikr al-Urûby Arthur Schopenhauer

menjelaskan, bahwa Kehendak metafisis Schopenhauer memberikan sebuah titik

terang bagi persoalan yang menjadi inti keresahan para filsuf asketis dan

pesimistis seperti, sebut saja di antaranya, Oemar Khayyam, Abu A’la Al-

Ma’arry, melalui bait-bait syairnya yang mencibir aspek duniawi atau

keduniawian.

Mitchell (1886:187) dalam tulisannya berjudul The Philosophy of

Pessimism dalam jurnal The Journal of Speculative Philosophy memberi

penegasan, Schopenhauer adalah pengusung filsafat pesimisme. Menurut

Mitchell, pemikir pesimistis sudah ada sejak dahulu kala, bahkan setiap masa

pemikir pesimistis selalu ada. Namun baru Schopenhauer lah yang merumuskan

pesimisme dikaitkan landasan metafisis. Di tangan Schopenhauer pesimisme

menjadi doktrin sebuah pemikiran filsafat.


10

Fuad Kamil (1991:6) dalam al-Fard fî Falsafati Schopenhauer menilai,

secara garis besar filsafat Schopenhauer menjadikan manusia sebagai awal mula

pemikirannya (Kehendak buta manusia); dan ujung filsafat Schopenhauer juga

diakhiri dengan melawan atau menekan manusia itu sendiri (menekan Kehendak

buta manusia).

Kendati filsafat Schopenhauer terpengaruh gerakan romantisme, namun

dalam beberapa hal layak Schopenhauer dibedakan dengan kaum romantis di

zamannya. Secara umum kecenderungan kaum romantis terfokus pemikiran

khayal membingungkan seperti Fichte, Schelling dan Hegel, namun posisi

Schopenhauer justru terbalik. Titik tekan filsafat Schopenhauer memiliki landasan

jelas, teliti dan tidak mengawang-ngawang (Tawfeq, 1983:40).

Schopenhauer adalah filsuf pertama yang mengenalkan kebijaksanaan

filsafat Timur India di Eropa. Schopenhauer membuka mata terhadap bagian

dalam gelap dari manusia, yang ada di bawah permukaan kesadaran. Harun

Hadiwijono (1980:109) memberikan penegasan, di dunia filsafat Barat

Schopenhauer telah untuk pertama kali membuka jalan bagi suatu filsafat dan

suatu psikologi dari hal tidak sadar.

D. Landasan Teori

Penelitian ini adalah penelitian tentang konsep jati diri manusia dalam

filsafat Arthur Schopenhauer. Objek formalnya adalah filsafat manusia,

sedangkan objek materialnya adalah karya-karya Schopenhauer.


11

Landasan teori dalam penelitian ini adalah konsep jati diri manusia.

Konsepsi jati diri dapat membantu manusia mengerti tentang makna

keberadaannya. Hardono Hadi (1996:17) dalam pendahuluan buku Jati Diri

Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead mengatakan, manusia perlu

rumusan jati diri yang jelas agar dapat mengerti harkat dan martabatnya, kodrat

dan dayanya di dalam struktur kenyataan di mana manusia itu berada.

P.A. van der Weij (1988:6-7) dalam Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia,

menegaskan, bahwa manusia adalah suatu makhluk bertanya. Sejak dilahirkan di

dunia manusia berbakat filosofis sebagaimana tampak dengan jelas pada anak-

anak. Bahkan manusia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya dan dunia

seluruhnya.

Filsafat berperan penting memberi nilai bagi hidup manusia. P. T. Raju

(1960:15-16) dalam The Concept of Man: A Study in Comparative Philosophy

mengatakan, kerja filsafat tidak boleh menjadi kebenaran untuk dirinya sendiri,

akan tetapi harus menjadi kebenaran untuk segala aktivitas kehidupan manusia.

Tugas filsafat adalah menginspirasi jalan hidup manusia, to suggest and inspire

the way of life.

Ernst’ Cassirer (1978:3-4) dalam An Essay on Man: An Introduction to a

Philosophy of Human Culture mengatakan, jalan untuk mengetahui realitas dan

alam sekitar adalah dengan refleksi diri. Maksud refleksi diri Cassirer adalah,

manusia melakukan perenungan filsafati tentang hakikat dirinya secara mendalam,

sebagaimana dikatakan Heraclitus: I have sought for myself.


12

Manusia dapat diselidiki dalam kajian kefilsafatan. Menurut Theo Huijbers

(1986:10) dalam Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, berpikir secara filsafat

tentang manusia ialah mencari makna hidup yang benar, dengan sekaligus menilai

secara kritis pandangan-pandangan yang telah dipegang lebih dulu tentang hidup

manusia itu.

Pemahaman jati diri dapat menentukan hidup manusia. Menurut Huijbers,

kesadaran manusia tentang jati dirinya merupakan titik tolak pengertian manusia

tentang wujudnya. Berbeda dengan binatang hidupnya berjalan menurut proses-

proses vital psikis belaka; pada manusia proses-proses itu dicampuri dengan

kesadaran pribadi (1986:11).

Kata jati diri dalam penelitian ini mengikuti konsepsi Hardono Hadi yaitu

jati diri mencakup tiga aspek: kepribadian, individu/keunikan, dan identitas diri

(Hadi, 1996:18). Ketiganya merupakan satu kesatuan tidak boleh dipisahkan.

Sedangkan unsur-unsur di dalam pembahasan tentang jati diri manusia, antara

lain:

Pertama, aspek unitas-kompleksitas manusia sebagai makhluk hidup

terdiri dari berbagai taraf. Kedua, aspek historisitas mencakup persamaan dan

perubahan di dalam proses. Ketiga, aspek sosialitas manusia mempunyai martabat

pribadi dengan kebebasannya sehingga tidak boleh dikorbankan demi kepentingan

yang lain (Hadi, 1996:38-39).


13

E. Metode Penelitian

Penelitian ini masuk kategori penelitian kepustakaan (library research),

bercorak kualitatif deskriptif analisis kritis. Seluruh data disajikan bersumber dari

data-data kepustakaan berupa buku, artikel, jurnal, ensiklopedi, dan lain-lain.

Data-data tersebut sepenuhnya berkaitan dengan tema yang diangkat dalam

penelitian ini.

1. Sumber Pustaka

a. Materi primer, karya-karya utama Schopenhauer yang sudah

dikumpulkan dalam dua jilid :

1) Schopenhauer, Arthur, 1969, The World as Will and

Representation Volume I, transleted from the German by E.

F. J. Payne., Dover Publication, Inc., New York.

2) Schopenhauer, Arthur, 1969, The World as Will and

Representation Volume II, transleted from the German by

E. F. J. Payne., Dover Publication, Inc., New York.

b. Materi sekunder, pelbagai tulisan penunjang dalam pembahasan

peneliti, antara lain :

1) Badawi, Abdurrahman, 1942, Khalasah al-Fikr al-Uruby

Arthur Schopenhauer, Daarul Qalam, Beirut.

2) Copleston, Frederick, 1994, A History of Philosophy

Volume VII, Image Book Doubleday, New York.

3) Hadiwijono, Harun, 1980, Seri Sejarah Filsafat Barat 2,


14

Kanisius, Yogyakarta.

4) Higgins and Kathleen, 2004, “Arthur Schopenhauer” in: C.

Solomon, Kathleen M. Higgins (editor.), Routledge Hostory

of Philosophy Volume VI: The Age of German Idealism,

Routledge, London, hal. 330-335.

5) Kamil, Fuad, 1991, al-Fard fi Falsafati Schopenhauer,

Hay’ah Misriyyah Ammah lil Kitab, Kairo.

6) Russell, Bertrand, 2007, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka

Pelajar, Yogyakarta.

7) Tawfeq, Saed Mohammad, 1983, Metafisika al-Fann Inda

Schopenhauer, Daarul Tanwir Lithibaah wa Nashr, Beirut.

8) Thomas, Henry, 1954, Living Adventures in Philosophy,

Hanover House, New York.

9) Weij, P.A.V.D, 1988, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia,

diindonesiakan oleh K. Bertens, PT. Gramedia, Jakarta.

2. Langkah-langkah Penelitian

Penelitian ini diadakan dalam tiga tahap jalan penelitian literer:

a. Tahap pertama meliputi :

1) Pengumpulan data baik data primer maupun data sekunder

sesuai lingkup penelitian.


15

2) Pembuatan kategori dengan menyatukan dan

mengumpulkan dalam satu kesatuan tersistimisasi.

b. Tahap kedua meliputi :

1) Klasifikasi data selanjutnya dilakukan pendeskripsian dan

penginterpretasian.

2) Analisis data sesuai dengan pemahaman peneliti tentang

gejala hal yang berhubungan dengan objek penelitian.

c. Tahap ketiga meliputi :

1) Penyusunan draft hasil penelitian.

2) Penyusunan laporan hasil penelitian secara sistematis dan

mengikuti format atau urutan baku dalam penelitian.

3) Analisa hasil penelitian.

3. Analisis Hasil Penelitian

Untuk mendukung analisis filosofis, penelitian ini menggunakan

penelitian filsafat :

a. Metode hermeneutika. Metode ini digunakan untuk memahami dan

menganalisis data yang telah terkumpul, khususnya berkaitan

dengan jati diri manusia dalam pemikiran Schopenhauer.

Hermeneutika diterapkan untuk menangkap makna yang


16

substansial disertai interpretasi, sehingga makna tersebut dapat

diterapkan pada masa sekarang (Kaelan, 2005:173).

b. Metode heuristika. Metode ini digunakan untuk mengembangkan

gagasan konsep jati diri manusia dengan persoalan kehidupan

berbangsa di Indonesia. Heuristika diterapkan pada tahap setelah

pengumpulan data, sebab hal ini berkaitan dengan makna

pemikiran secara keseluruhan. Untuk menemukan jalan baru dalam

penelitian, data yang terkumpul kemudian dianalisis secara

komprehensif, dijelaskan bagaimana unsur ontologisnya,

epistemologisnya, aksiologisnya serta unsur-unsur metodenya

(Kaelan, 2005:176).

F. Sistematika Penulisan

Rencana penulis akan menjabarkan penelitian ini dalam tujuh bab

sebagaimana berikut :

Bab I merupakan bab pendahuluan. Terdiri atas latar belakang masalah

yang meliputi masalah penelitian, rumusan masalah, keaslian penelitian, dan

manfaat penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode

penelitian dan sistematika penulisan

Bab II, berisi diskursus filsafat manusia, pembahasannya diawali dengan

pengantar umum kajian filsafat terhadap manusia, pengertian filsafat manusia,


17

metode filsafat manusia, ciri-ciri filsafat manusia, dan aliran-aliran filsafat

manusia.

Bab III, berisi biografi dan latar belakang pemikiran Arthur Schopenhauer,

diawali dengan pengantar, riwayat hidup dan karya-karya Schopenhauer, tokoh

dan aliran yang mempengaruhi Schopenhauer seperti Immanuel Kant, Plato,

Upanishad dan Buddhisme dan gerakan Romantisme, kemudian membahas

pengaruh pemikiran Schopenhauer.

Bab IV, berisi konsep “Kehendak” manusia menurut Schopenhauer,

diawali dengan pengantar, dua dimensi manusia, karakteristik Kehendak,

objektivikasi Kehendak, organ reproduksi sebagai inti Kehendak, Kehendak dan

pesimisme, tidak ada free will dalam diri manusia, dan dua jalan keluar dari

penderitaan Kehendak.

Bab V, berisi inti tesis jati diri manusia Schopenhauer, diawali pengantar,

kepribadian manusia: kesatuan Kehendak dan tubuh, historitas manusia: terbebas

dari perbudakan Kehendak, sosialitas manusia: Kehendak membentuk Sejarah,

dan ditutup dengan kesimpulan jati diri manusia Schopenhauer.

Bab VI, berisi relevansi konsep jati diri manusia Schopenhauer dengan

kehidupan berbangsa di Indonesia, diawali pengantar gambaran Indonesia, realitas

bangsa Indonesia, multikulturalitas dan pluralitas di Indonesia, Bhinneka Tunggal

Ika sebagai semboyan bangsa, dan berbangsa tanpa egoisme dan ambisi

individualisme.

Bab VII, berisi penutup, mencangkup kesimpulan dan saran.

Anda mungkin juga menyukai