1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1. Masalah Penelitian
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara kepulauan
terbesar di dunia, wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke dan dari
Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Memiliki pulau sebanyak 17.504 buah yang
terbentang antara kawasan Indomalaya dan Australasia (Naryanto, 2009:1).
Masyarakat dan kebudayaan Indonesia merupakan mozaik dengan
keragaman sangat kaya. Keragaman ini meliputi suku, ras, agama, bahasa,
budaya, adat dan sebagainya. Keragaman ini merupakan sesuatu yang sudah given
bagi bangsa Indonesia.
Keragaman Indonesia dapat dipandang sebagai kekayaan budaya yang luar
biasa yang dapat dianggap sebagai karunia Sang Pencipta. Sebaliknya, keragaman
juga mengandung kerawanan konflik bila anggota masyarakatnya salah dalam
mengelola dan merawat keragaman itu (Satria dalam Oentoro, 2010:108-109).
Di Indonesia keragaman rentan terhadap perselisihan internal. Dalam
masyarakat multikultur, gesekan kepentingan individu dan egoisme golongan
dapat mengancam integrasi bangsa. Hal ini dapat dilihat dalam konflik-konflik
2
SARA yang mewarnai perjalanan negara bangsa Indonesia. Di tengah arus
globalisasi yang serba terbuka bangsa Indonesia harus lebih berhati-hati menjaga
kemajemukan.
Terlepas adanya konflik atau tidak, bangsa Indonesia butuh strategi pelapis
untuk mengantisipasi disintegrasi. Dalam konteks ini bangsa Indonesia
membutuhkan konsepsi filosofis tentang hakikat jati diri yang sesuai dengan
realitas kemajemukan. Tuntutan konsepsi filosofis tentang jati diri manusia yang
sesuai dengan realitas kemajemukan Indonesia semakin mendesak karena dua
alasan mendasar:
Alasan pertama bersifat konseptual, karena kesadaran tentang jati diri
bangsa plural dan multikultural tidak dapat diraih secara instan, akan tetapi harus
ditanamkan melalui kesadaran tiap-tiap individu terlebih dahulu. Alasan kedua
bersifat fenomenal, karena konsepsi filosofis tentang jati diri manusia yang sesuai
dengan realitas kemajemukan akan berguna dalam meredam gejolak konflik
internal di tengah-tengah masyarakat.
Menarik kiranya menelaah konsep jati diri manusia menurut Arthur
Schopenhauer, karena filsafat nihilistiknya ingin menekan potensi tindak
kejahatan dalam diri manusia yang selalu mengedepankan egoisme dan
kepentingan individunya. Pemilihan tokoh Schopenhauer sebagai landasan
filosofis tentang jati diri manusia didasarkan pada tiga pertimbangan:
Pertimbangan pertama, latar belakang filsafat Schopenhauer lahir dari
perenungan terhadap dampak negatif perang di zamannya dan juga dari
3
pengalaman pribadinya. Schopenhauer memiliki pandangan hidup negatif bahwa
seluruh isi dunia hanya penderitaan yang harus dilawan. Pertimbangan kedua,
filsafat Schopenhauer mampu meneorikan sumber penderitaan hidup berasal dari
dalam diri manusia, dari Kehendak yang selalu mendorong memenuhi
kepentingan egoisme sehingga menyebabkan kerugian terhadap orang lain.
Pertimbangan ketiga, filsafat Schopenhauer memiliki solusi dalam meredam
potensi buruk egoisme dengan jalur estetik dan asketik. Solusi ini mengajak
manusia tidak saling menyakiti sebaliknya saling menghormati sehingga tidak
menambah beban penderitaan hidupnya dan hidup orang lain.
Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia, konsep jati diri manusia
Schopenhauer diharapkan memberi andil positif dalam menjaga kehidupan
berbangsa yang syarat dengan kemajemukan. Keragaman bangsa sebagaimana
disinyalir rawan memantik perselisihan internal dapat sedini mungkin dihindarkan
atau diminimalisir. Dengan demikian kehidupan bangsa Indonesia diandaikan
akan terjalin harmoni dan di antara masyarakatnya tidak saling menganggu.
Konsepsi jati diri manusia Schopenhauer sekurang-kurangnya mampu
mengajarkan bangsa Indonesia agar dapat menempatkan diri secara benar di
tengah perbedaan dan keragaman yang ada serta mampu menyikapinya secara arif
dan bijaksana.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang hendak dijawab :
4
1. Apa hakikat konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer?
2. Bagaimana relevansi konsep jati diri manusia Schopenhauer bagi
kehidupan berbangsa di Indonesia, terutama dalam menjaga
kemajemukan?
3. Keaslian Penelitian
Terdapat beberapa penelitian yang mendekati tema penelitian penulis,
antara lain :
1. Agustji (UGM, 1986), judul skripsi Schopenhauer Dunia sebagai Ide
dan Kehendak, berisi deskripsi umum tentang filsafat Schopenhauer.
Meski sama dalam pemilihan objek material Schopenhauer, skripsi
Agustji berbeda dengan penelitian penulis, perbedaan ini terletak dari
penggunaan objek formal penelitian dan relevansi pemikiran yang
ingin dicapai.
2. Muhammad Fahmi Muqoddas (UGM, 1996), judul tesis Konsep Jati
Diri Manusia dalam Filsafat Iqbal. Objek formal tesis ini konsep jati
diri manusia sedang objek materialnya pemikiran Iqbal. Penelitian
Muqoddas membahas jati diri manusia Iqbal dikaitkan dengan ide
membangun masyarakat Indonesia. Sementara penekanan penulis
adalah konsep jati diri manusia Schopenhauer dikaitkan ide menjaga
kemajemukan kehidupan berbangsa di Indonesia.
3. Hardono Hadi (1996), judul Jati Diri Manusia Berdasar Filsafat
Organisme Whitehead, merupakan kelanjutan dari disertasi berjudul A
5
Whitehedian Reflection on The Human Person. Hadi dalam buku ini
menteorikan konsep jati diri manusia dalam bingkai pemikiran filsafat
organisme Whitehead. Sementara penulis dalam penelitian tesis ini
ingin merumuskan konsep jati diri manusia dalam bingkai pemikiran
Schopenhauer.
4. Yonathan Suprihartono (UGM, 2003), judul skripsi Voluntarisme
Arthur Schopenhauer, menjelaskan dasar ontologi, epistemologi dan
aksiologi filsafat Kehendak Schopenhauer. Penelitian Suprihartono
dengan demikian berbeda dengan penelitian penulis karena penulis
spesifik menekankan kajian filsafat manusia dalam pandangan
pemikiran Schopenhauer.
5. Victor Delvy Tutupary (UGM, 2007), judul skripsi Pesimisme Arthur
Schopenhauer dalam Novel “Keluarga Pascual Duarté” Karya
Camilo José Cela, skripsi Tutupary ingin menjelaskan dimensi
pemikiran pesimistik Schopenhauer dalam novel Keluarga Pascual
Duarté. Sementara penulis dalam penelitian ini tidak membahas filsafat
pesimisme Schopenhauer melainkan mengkaji konsep jati diri
manusianya.
Berdasar penelusuran penulis di lingkup Universitas Gadjah Mada belum
ada penelitian Konsep Jati Diri Manusia Arthur Schopenhauer: Relevansinya
Dengan Kehidupan Berbangsa di Indonesia karena itu penelitian ini dapat
dipertanggungjawabkan keasliannya.
6
4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini :
1. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini memberikan sumbangan
pemikiran bagi upaya pemahaman tentang jati diri manusia di
Indonesia.
2. Bagi pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia, sumbangsih
penelitian ini bermanfaat bagi kehidupan berbangsa di Indonesia,
terutama dalam menjaga keragaman dan mencegah disintegrasi NKRI
3. Bagi penelitan filsafat manusia selanjutnya, penelitian ini
memperkaya pandangan filsafat manusia terutama perspektif
pemikiran filsuf irrasional-pesimistis Schopenhauer.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini :
1. Mendeskripsikan konsep jati diri manusia dalam filsafat
Schopenhauer.
2. Menganalisis relevansi konsep jati diri manusia menurut Schopenhauer
dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia.
7
C. Tinjauan Pustaka
Tesis utama pada sistem filsafat Schopenhauer adalah The World as Will
and Representation, atau Dunia sebagai Kehendak dan Representasi. Tesis
tersebut merupakan kelanjutan dan pengembangan buku yang ditulis sebelumnya,
On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason (Higgins, 2004:333).
Dunia sebagai representasi atau gambaran bagi Schopenhauer itu valid.
Bagi Schopenhauer, semua isi dunia termasuk manusia adalah representasi atau
gambaran sejauh itu menjadi objek “kesadaran” (Higgins, 2004:335). Lalu
Schopenhauer mengatakan dasar dunia representasi adalah Kehendak, the inner
reality is Will.
Saed Mohammad Tawfeq (1983:35) dalam Metafisika al-Fann Inda
Schopenhauer menyebut, Schopenhauer terpengaruh teori pengetahuan Immanuel
Kant, bahkan sebagai suksesor Kant. Tapi Schopenhauer berbeda dengan Kant
tentang thing-in-itself atau noumena yang kata Kant tidak dapat diketahui tapi
menurutnya noumena itu Kehendak.
Diane Collisin (2001:146) dalam Lima Puluh Filosof Dunia yang
Menggerakkan menyebut, Schopenhauer “filsuf dengan obsesi kehendak”. Dunia
phenomena keseluruhan bagi Schopenhauer merupakan sebuah manifestasi
Kehendak. Kehendak adalah dorongan buta yang merupakan hakikat paling tinggi
yang mendasari segala eksistensi di dunia.
Henry Thomas (1954:216) dalam Living Adventures in Philosophy
mengatakan, Kehendak yang didefinisikan Schopenhauer di sini bukan seperti
8
kehendak didahului motivasi, memiliki dasar pengetahuan kemudian dibuktikan
dengan perbuatan. Kehendak transendental Schopenhauer menyiratkan dorongan,
usaha keras, buta, tidak berakal, tidak berkesadaran, sesuatu pada intinya
mengarah untuk hidup, Will to live.
Kehendak ini menobjektivikasi diri dalam berbagai tingkatan. Tingkatan
terendah adalah benda mati. Tingkatan menengah adalah taraf vegetatif seperti
tumbuh-tumbuhan dan taraf sensitif seperti hewan. Dan yang terakhir tingkatan
paling adalah manusia. Setiap tingkatan Kehendak dihubungkan level penderitaan
berbeda-beda (Tawfeq, 1983:61-64).
Tubuh bagi Schopenhauer adalah Kehendak; tubuh merupakan
objektivikasi Kehendak. Tubuh dan Kehendak itu satu dilihat dari dua sudut
pandang: pertama, dilihat dari dalam (tubuh adalah Kehendak); kedua, dilihat dari
luar (Kehendak adalah tubuh). Segala aktivitas dan prilaku tubuh merupakan hasil
dari objektivikasi dari batin, Kehendak, yang tidak diikat dengan hukum
kausalitas (Tawfeq, 1983:85).
Kehidupan manusia merupakan deretan keinginan yang bersumber dari
Kehendaknya. Belum satu keinginan dicapai atau terpenuhi, manusia memiliki
keinginan lain. Kehendak untuk hidup tidak pernah dapat dibatasi. Ketika sudah
terpenuhi manusia merasakan bosan dan jenuh (Russell, 2007:984). Kebahagiaan
itu selalu negatif sedang penderitaan itu positif. Itu alasan di balik filsafat
Kehendak Schopenhauer yang pesimistis (Tawfeq, 1983:65).
9
Frederick Copleston (1994:274) dalam A History of Philosophy Volume
VII menjelaskan, orang masih diperbudak Kehendaknya tidak akan dapat
menemukan kedamaian. Di dunia ini manusia hanya dapat mencari kebahagian
tapi sejatinya tidak dapat memperolehnya secara hakiki, sebab kebahagiaan bak
pemberhentian atau terminal nafsu sementara.
Akar penderitaan manusia bagi Schopenhauer adalah ketika diperbudak
Kehendaknya. Cara untuk membebaskan diri dari penderitaan Kehendak dapat
ditempuh dua jalan: jalan keluar temporal yaitu estetika kontemplatif dan; jalan
keluar abadi yaitu asketik (Copleston, vol. VII, 1994:277).
Terkait filsafat Kehendak Schopenhauer menurut Abdurrahman Badawi
(1942:273) dalam Khalâshah al-Fikr al-Urûby Arthur Schopenhauer
menjelaskan, bahwa Kehendak metafisis Schopenhauer memberikan sebuah titik
terang bagi persoalan yang menjadi inti keresahan para filsuf asketis dan
pesimistis seperti, sebut saja di antaranya, Oemar Khayyam, Abu A’la Al-
Ma’arry, melalui bait-bait syairnya yang mencibir aspek duniawi atau
keduniawian.
Mitchell (1886:187) dalam tulisannya berjudul The Philosophy of
Pessimism dalam jurnal The Journal of Speculative Philosophy memberi
penegasan, Schopenhauer adalah pengusung filsafat pesimisme. Menurut
Mitchell, pemikir pesimistis sudah ada sejak dahulu kala, bahkan setiap masa
pemikir pesimistis selalu ada. Namun baru Schopenhauer lah yang merumuskan
pesimisme dikaitkan landasan metafisis. Di tangan Schopenhauer pesimisme
menjadi doktrin sebuah pemikiran filsafat.
10
Fuad Kamil (1991:6) dalam al-Fard fî Falsafati Schopenhauer menilai,
secara garis besar filsafat Schopenhauer menjadikan manusia sebagai awal mula
pemikirannya (Kehendak buta manusia); dan ujung filsafat Schopenhauer juga
diakhiri dengan melawan atau menekan manusia itu sendiri (menekan Kehendak
buta manusia).
Kendati filsafat Schopenhauer terpengaruh gerakan romantisme, namun
dalam beberapa hal layak Schopenhauer dibedakan dengan kaum romantis di
zamannya. Secara umum kecenderungan kaum romantis terfokus pemikiran
khayal membingungkan seperti Fichte, Schelling dan Hegel, namun posisi
Schopenhauer justru terbalik. Titik tekan filsafat Schopenhauer memiliki landasan
jelas, teliti dan tidak mengawang-ngawang (Tawfeq, 1983:40).
Schopenhauer adalah filsuf pertama yang mengenalkan kebijaksanaan
filsafat Timur India di Eropa. Schopenhauer membuka mata terhadap bagian
dalam gelap dari manusia, yang ada di bawah permukaan kesadaran. Harun
Hadiwijono (1980:109) memberikan penegasan, di dunia filsafat Barat
Schopenhauer telah untuk pertama kali membuka jalan bagi suatu filsafat dan
suatu psikologi dari hal tidak sadar.
D. Landasan Teori
Penelitian ini adalah penelitian tentang konsep jati diri manusia dalam
filsafat Arthur Schopenhauer. Objek formalnya adalah filsafat manusia,
sedangkan objek materialnya adalah karya-karya Schopenhauer.
11
Landasan teori dalam penelitian ini adalah konsep jati diri manusia.
Konsepsi jati diri dapat membantu manusia mengerti tentang makna
keberadaannya. Hardono Hadi (1996:17) dalam pendahuluan buku Jati Diri
Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead mengatakan, manusia perlu
rumusan jati diri yang jelas agar dapat mengerti harkat dan martabatnya, kodrat
dan dayanya di dalam struktur kenyataan di mana manusia itu berada.
P.A. van der Weij (1988:6-7) dalam Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia,
menegaskan, bahwa manusia adalah suatu makhluk bertanya. Sejak dilahirkan di
dunia manusia berbakat filosofis sebagaimana tampak dengan jelas pada anak-
anak. Bahkan manusia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya dan dunia
seluruhnya.
Filsafat berperan penting memberi nilai bagi hidup manusia. P. T. Raju
(1960:15-16) dalam The Concept of Man: A Study in Comparative Philosophy
mengatakan, kerja filsafat tidak boleh menjadi kebenaran untuk dirinya sendiri,
akan tetapi harus menjadi kebenaran untuk segala aktivitas kehidupan manusia.
Tugas filsafat adalah menginspirasi jalan hidup manusia, to suggest and inspire
the way of life.
Ernst’ Cassirer (1978:3-4) dalam An Essay on Man: An Introduction to a
Philosophy of Human Culture mengatakan, jalan untuk mengetahui realitas dan
alam sekitar adalah dengan refleksi diri. Maksud refleksi diri Cassirer adalah,
manusia melakukan perenungan filsafati tentang hakikat dirinya secara mendalam,
sebagaimana dikatakan Heraclitus: I have sought for myself.
12
Manusia dapat diselidiki dalam kajian kefilsafatan. Menurut Theo Huijbers
(1986:10) dalam Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, berpikir secara filsafat
tentang manusia ialah mencari makna hidup yang benar, dengan sekaligus menilai
secara kritis pandangan-pandangan yang telah dipegang lebih dulu tentang hidup
manusia itu.
Pemahaman jati diri dapat menentukan hidup manusia. Menurut Huijbers,
kesadaran manusia tentang jati dirinya merupakan titik tolak pengertian manusia
tentang wujudnya. Berbeda dengan binatang hidupnya berjalan menurut proses-
proses vital psikis belaka; pada manusia proses-proses itu dicampuri dengan
kesadaran pribadi (1986:11).
Kata jati diri dalam penelitian ini mengikuti konsepsi Hardono Hadi yaitu
jati diri mencakup tiga aspek: kepribadian, individu/keunikan, dan identitas diri
(Hadi, 1996:18). Ketiganya merupakan satu kesatuan tidak boleh dipisahkan.
Sedangkan unsur-unsur di dalam pembahasan tentang jati diri manusia, antara
lain:
Pertama, aspek unitas-kompleksitas manusia sebagai makhluk hidup
terdiri dari berbagai taraf. Kedua, aspek historisitas mencakup persamaan dan
perubahan di dalam proses. Ketiga, aspek sosialitas manusia mempunyai martabat
pribadi dengan kebebasannya sehingga tidak boleh dikorbankan demi kepentingan
yang lain (Hadi, 1996:38-39).
13
E. Metode Penelitian
Penelitian ini masuk kategori penelitian kepustakaan (library research),
bercorak kualitatif deskriptif analisis kritis. Seluruh data disajikan bersumber dari
data-data kepustakaan berupa buku, artikel, jurnal, ensiklopedi, dan lain-lain.
Data-data tersebut sepenuhnya berkaitan dengan tema yang diangkat dalam
penelitian ini.
1. Sumber Pustaka
a. Materi primer, karya-karya utama Schopenhauer yang sudah
dikumpulkan dalam dua jilid :
1) Schopenhauer, Arthur, 1969, The World as Will and
Representation Volume I, transleted from the German by E.
F. J. Payne., Dover Publication, Inc., New York.
2) Schopenhauer, Arthur, 1969, The World as Will and
Representation Volume II, transleted from the German by
E. F. J. Payne., Dover Publication, Inc., New York.
b. Materi sekunder, pelbagai tulisan penunjang dalam pembahasan
peneliti, antara lain :
1) Badawi, Abdurrahman, 1942, Khalasah al-Fikr al-Uruby
Arthur Schopenhauer, Daarul Qalam, Beirut.
2) Copleston, Frederick, 1994, A History of Philosophy
Volume VII, Image Book Doubleday, New York.
3) Hadiwijono, Harun, 1980, Seri Sejarah Filsafat Barat 2,
14
Kanisius, Yogyakarta.
4) Higgins and Kathleen, 2004, “Arthur Schopenhauer” in: C.
Solomon, Kathleen M. Higgins (editor.), Routledge Hostory
of Philosophy Volume VI: The Age of German Idealism,
Routledge, London, hal. 330-335.
5) Kamil, Fuad, 1991, al-Fard fi Falsafati Schopenhauer,
Hay’ah Misriyyah Ammah lil Kitab, Kairo.
6) Russell, Bertrand, 2007, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
7) Tawfeq, Saed Mohammad, 1983, Metafisika al-Fann Inda
Schopenhauer, Daarul Tanwir Lithibaah wa Nashr, Beirut.
8) Thomas, Henry, 1954, Living Adventures in Philosophy,
Hanover House, New York.
9) Weij, P.A.V.D, 1988, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia,
diindonesiakan oleh K. Bertens, PT. Gramedia, Jakarta.
2. Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini diadakan dalam tiga tahap jalan penelitian literer:
a. Tahap pertama meliputi :
1) Pengumpulan data baik data primer maupun data sekunder
sesuai lingkup penelitian.
15
2) Pembuatan kategori dengan menyatukan dan
mengumpulkan dalam satu kesatuan tersistimisasi.
b. Tahap kedua meliputi :
1) Klasifikasi data selanjutnya dilakukan pendeskripsian dan
penginterpretasian.
2) Analisis data sesuai dengan pemahaman peneliti tentang
gejala hal yang berhubungan dengan objek penelitian.
c. Tahap ketiga meliputi :
1) Penyusunan draft hasil penelitian.
2) Penyusunan laporan hasil penelitian secara sistematis dan
mengikuti format atau urutan baku dalam penelitian.
3) Analisa hasil penelitian.
3. Analisis Hasil Penelitian
Untuk mendukung analisis filosofis, penelitian ini menggunakan
penelitian filsafat :
a. Metode hermeneutika. Metode ini digunakan untuk memahami dan
menganalisis data yang telah terkumpul, khususnya berkaitan
dengan jati diri manusia dalam pemikiran Schopenhauer.
Hermeneutika diterapkan untuk menangkap makna yang
16
substansial disertai interpretasi, sehingga makna tersebut dapat
diterapkan pada masa sekarang (Kaelan, 2005:173).
b. Metode heuristika. Metode ini digunakan untuk mengembangkan
gagasan konsep jati diri manusia dengan persoalan kehidupan
berbangsa di Indonesia. Heuristika diterapkan pada tahap setelah
pengumpulan data, sebab hal ini berkaitan dengan makna
pemikiran secara keseluruhan. Untuk menemukan jalan baru dalam
penelitian, data yang terkumpul kemudian dianalisis secara
komprehensif, dijelaskan bagaimana unsur ontologisnya,
epistemologisnya, aksiologisnya serta unsur-unsur metodenya
(Kaelan, 2005:176).
F. Sistematika Penulisan
Rencana penulis akan menjabarkan penelitian ini dalam tujuh bab
sebagaimana berikut :
Bab I merupakan bab pendahuluan. Terdiri atas latar belakang masalah
yang meliputi masalah penelitian, rumusan masalah, keaslian penelitian, dan
manfaat penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode
penelitian dan sistematika penulisan
Bab II, berisi diskursus filsafat manusia, pembahasannya diawali dengan
pengantar umum kajian filsafat terhadap manusia, pengertian filsafat manusia,
17
metode filsafat manusia, ciri-ciri filsafat manusia, dan aliran-aliran filsafat
manusia.
Bab III, berisi biografi dan latar belakang pemikiran Arthur Schopenhauer,
diawali dengan pengantar, riwayat hidup dan karya-karya Schopenhauer, tokoh
dan aliran yang mempengaruhi Schopenhauer seperti Immanuel Kant, Plato,
Upanishad dan Buddhisme dan gerakan Romantisme, kemudian membahas
pengaruh pemikiran Schopenhauer.
Bab IV, berisi konsep “Kehendak” manusia menurut Schopenhauer,
diawali dengan pengantar, dua dimensi manusia, karakteristik Kehendak,
objektivikasi Kehendak, organ reproduksi sebagai inti Kehendak, Kehendak dan
pesimisme, tidak ada free will dalam diri manusia, dan dua jalan keluar dari
penderitaan Kehendak.
Bab V, berisi inti tesis jati diri manusia Schopenhauer, diawali pengantar,
kepribadian manusia: kesatuan Kehendak dan tubuh, historitas manusia: terbebas
dari perbudakan Kehendak, sosialitas manusia: Kehendak membentuk Sejarah,
dan ditutup dengan kesimpulan jati diri manusia Schopenhauer.
Bab VI, berisi relevansi konsep jati diri manusia Schopenhauer dengan
kehidupan berbangsa di Indonesia, diawali pengantar gambaran Indonesia, realitas
bangsa Indonesia, multikulturalitas dan pluralitas di Indonesia, Bhinneka Tunggal
Ika sebagai semboyan bangsa, dan berbangsa tanpa egoisme dan ambisi
individualisme.
Bab VII, berisi penutup, mencangkup kesimpulan dan saran.