KONSTANTA PLANCK
Mata Kuliah : Praktikum Fisika Lanjutan
Dosen Pengampu : Drs Hasian Pohan [Link]
Disusun:
Kelompok 4
Nama Anggota:
M Yusuf Zaini (11160163000003)
Nuri Septia Utami (11160163000009)
Citra Fitria P (11160163000029)
Pendidikan Fisika 4A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyusun makalah Kurikulum dan Pembelajaran yang
berjudul “Konstanta Planck”.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
yang telah membimbing umat Islam dari zaman ketidaktahuan kepada zaman
yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Fisika
Lanjutan, serta menambah pengetahuan mengenai Sumber Dasar Ilmu Pendidikan
Islam.
Ciputat, 4 Februari 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cahaya mempunyai sifat yang dapat dipantulkan dan dibiaskan. Jika kita
melihat benda yang berasa didalam air maka benda akan kelihatan lebih dekat.
Hal ini karena peristiwa pembiasan atau refraksi. Sedangkan pada pemantulan
dapat dibedakan berdasarkan bidang pantulnya, dimana cahaya akan terpantul
sempurna jika dipantulkan oleh bidang datar dan akan memantul secara tidak
teratur jika pada bidang yang tidak rata.
Perambatan cahaya paling baik dijelaskan dengan model gelombang tetapi
pemahaman tentang pemancaran dan penyerapan memerlukan pendekatan
partikel. Dari semua analisis pengukuran sampai tahun 1983, nilai yang paling
mungkin untuk laju cahaya saat itu adalah
C = 2,99792458 x 108 m/s (1.1)
Dalam studi experimental terhadap efek fotoelektrik, kita menggunakan
tabung yang divakumkan dengan dua elektroda yang digubungkan dengan
rangkaian eksternal. Keping logam yang permukaannya mengalami radiasi,
digunakan sebagai anode. Sebagian dari foto elektron yang muncul dari
permukaan yang mengalami radiasi memiliki energi yang cukup untuk mencapai
katode, walaupun muatannya negatif, dan elektron tersebut menbentuk arus yang
dapat diukur dalam amperemeter. Ketika potensial v diperbesar, elektron yang
mencapai katode lebih sedikit dan arusnya menurun akhirnya ketika v sama
dengan atau melebihi suatu harga Vo yng besarnya dsn orde beberapa volt, maka
tidaka ada elektron yang mencapai katode dan arusnya terhenti.
Kita akan mempelajari bagaimana laju dan energi kinetik elektron yang
terpancar bergantung pada intensitas dan panjang gelombang sumber cahaya. Laju
pancaran elektron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar dengan
menggunakan sebuah ammeter, sedangkan energi kinetiknya ditentukan dengan
mengenakan suatu potensial perlambat (retarding potential) pada anoda sehingga
elektron tidak mempunyai energi yang cukup untuk “memanjati” bukit potensial
yang terpasang. Secara eksperimen, tegangan perlambat terus diperbesar hingga
pembacaan arus pada ammeter menurun ke nol. Tegangan yang bersangkutan ini
disebut potensial henti (stopping potential) Vs. Karena elektron yang berenergi
tertinggi tidak dapat melewati potensial henti ini, maka pengukuran Vs
merupakan suatu cara untuk menentukan energi kinetik maksimum elektron
Kmaks:
Kmaks = e Vs (1.2)
e adalah muatan elektron. Nilai khas Vs adalah dalam orde beberapa volt.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diambil
adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian konstanta planck ?
2. Bagaimana cara menentukan konstanta planck?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian konstanta planck,
2. Untuk mengetahui cara menentukan konstanta planck .
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konstanta Planck
Konstanta Planck, dilambangkan dengan huruf h, adalah konstanta fisika
untuk menjelaskan ukuran quanta. Konstanta ini sangat penting dalam teori
mekanika kuantum, dan dinamai untuk menghargai Max Planck, salah seorang
pendiri teori kuantum. Pertama kali diperkenalkan tahun 1900, konstanta ini pada
awalnya merupakan konstanta kesebandingan antara kenaikan minimum energi, E
dari sebuah osilator bermuatan listrik hipotesis pada rongga yang berisi radiasi
benda-hitam, dan frekuensi, f dari gelombang elektromagnetiknya. Pada tahun
1905, nilai E, kenaikan energi minimum dari osilator hipotesis, dihubungkan
secara teoretis oleh Albert Einstein dengan "kuantum" atau elemen energi terkecil
dari gelombang elektromagnetik itu sendiri. Kuantum cahaya berperilaku seperti
partikel listrik netral, sebagai lawan gelombang elektromagnetik. Nantinya disebut
sebagai foton.
Hubungan Planck–Einstein menghubungkan energi foton E dengan frekuensi
gelombang f:
E=hf
Pada tahun 1900, fisikawan Jerman, Max Planck, mengumumkan bahwa
dengan membuat suatu modifikasi khusus dalam perhitungan klasik dia dapat
menjabarkan fungsi P (λ,T) yang sesuai dengan data percobaan pada seluruh
panjang gelombang.
Hukum radiasi Planck menunjukkan distribusi (penyebaran) energi yang
dipancarkan oleh sebuah benda hitam. Hukum ini memperkenalkan gagasan baru
dalam ilmu fisika, yaitu bahwa energi merupakan suatu besaran yang dipancarkan
oleh sebuah benda dalam bentuk paketpaket kecil terputus-putus, bukan dalam
bentuk pancaran molar. Paket-paket kecil ini disebut kuanta dan hukum ini
kemudian menjadi dasar teori kuantum.
Einstein mengasumsikan bahwa “kuantitas energi yang digunakan Planck
dalam menyelesaikan permasalahan radiasi benda hitam, ternyata merupakan sifat
universal cahaya”. Energi cahaya yang terkuantisasi sebesar h f, ketika salah satu
kuanta yang disebut foton menumbuk permukaan katoda, seluruh energi ini dapat
diserap sempurna oleh elektron tunggal. Bila W adalah energi yang dibutuhkan
untuk melepaskan elektron dari permukaan (W disebut fungsi kerja dan
merupakan karakteristik logam), energi kinetik maksimum elektron untuk
meninggalkan permukaan adalah sebesar h f – W sebagai konsekuensi dari
konservasi energi. Jadi, potensial henti diberikan oleh:
eVs = (1/2 mv2)maks = h f – W (1.1)
Sebuah foton yang memasok energi sebesar W, yang adalah tepat sama
dengan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan sebuah elektron, berkaitan
dengan cahaya yang panjang gelombangnya sama dengan panjang gelombang
pancung ( λc ). Pada panjang gelombang ini, tidak ada kelebihan energi yang
tersisa bagi energi kinetik fotoelektron, sehingga
W=hf=h (1.2)
maka,
λc = (1.3)
Karena kita memperoleh satu foto elektron untuk setiap foton yang terserap maka
penaikan intensitas sumber cahaya akan berakibat semakin banyak foto elektron
yang dipancarkan, namun demikian semua foto elektron ini akan memiliki energi
kinetik yang sama, karena semua foton memiliki energi yang sama.
Radiasi elektromagnetik terdiri dari paket energi diskret mirip partikel yang
disebut foton atau kuantum. Setiap foton memiliki energi E yang bergantung
hanya pada frekuensi radiasi f dan dengan h=6,626 x 10-34 J.s adalah konstanta
planck.
Adanya teori kuantum klasik ini dimulai ketika Planck menunjukkan hasil
percobaan yang menunjukkan distribusi energi dan frekuensi radiasi dalam
keadaan setimbang dengan materi pada suhu tertentu, ini dapat di
pertanggungjawabkan dengan menganggap bahwa partikel dari materi tersebut
bergetar (dianggap bertindak sebagai osilator harmonis).
Pada hal ini, emitor tidak menyerap cahaya secara terus menerus tetapi secara
diskrit, besarnya hv sebanding dengan frekuensi cahaya v. Konstanta
proporsionalitas yang dilambangkan dengan h adalah konstanta baru di alam,
konstanta tersebut di namai dengan namanya yaitu konstanta Planck dan besarnya
konstanta tersebut adalah 6,547 ×10 -27 Js.
Einstein menyatakan bahwa jumlah radiasi energi hv dikirim keluar pada
proses emisi cahaya tidak menuju ke segala arah seperti pada sebuah partikel.
Nama cahaya kuantum atau foton diterapkan pada kasus seperti pada energi
radiasi. Einstein juga membahas efek fotolistrik, proses fundamental Fotokimia,
dan kapasitas panas dari zat padat dengan teori kuantum.
Ketika cahaya mengenai plat logam, elektron akan dipancarkan dari plat
tersebut. Kecepatan maksimum elektron ini tidak tergantung pada intensitas
cahaya seperti pada teori elektromagnetik klasik, tapi hanya berpengaruh pada
frekuensinya. Einstein menunjukkan bahwa inilah yang diharapkan dari teori
kuantum, proses emisi fotolistrik melibatkan konversi energi hv dari satu foton
menjadi energi kinetik dari fotoelektron (plus energi yang dibutuhkan untuk
menghilangkan elektron dari logam). Demikian pula, hukum kesetaraan fotokimia
Einstein menyatakan bahwa satu molekul dapat diaktifkan pada reaksi kimia
dengan penyerapan satu foton.
Untuk kapasitas panas dari zat padat, menandai Awal teori kuantum pada
sistem material. Postulat Planck mengenai emisi dan penyerapan radiasi dalam
kuanta hv menyarankan bahwa sistem dinamis seperti atom yang berosilator di
sekitar posisi keseimbangan dengan frekuensi v0 mungkin tidak dapat berosilator
dengan segala energi, tetapi hanya dengan nilai-nilai energi yang berbeda satu
sama lain oleh kelipatan integral dari hv0.
B. Cara Menentukan Konstanta Planck
Untuk membangun formulasi yang mencerminkan fenomena fotolistrik,
Einstein menggunakan azas konservasi energy, sedemikian sehingga diperoleh
Energi yang diserahkan foton = energy yang diterima elektron
Dalam hal ini foton berfrekuensi ν menyerahkan energy sebesar hν
(h=6,626 10-34 J/s, konstanta alam Planck). Energy foton datang setidaknya
sebesar fungsi kerja logam. Elektro foto menerima energy foton untuk
melepaskan diri dari ikatan logam φ dan bergerak dengan energy kinetik
sebesar Kmax. Sehingga konservasi energy dapat diformulasikan sebagai
hν=φ+K max ………….……………(1)
dengan maksud memperoleh kuantitas energy kinetetik elektro foto, maka
persamaan (1) akan lebih tepat menjadi
K max =hν−φ ……………………….(2)
yang memberika hubungan linier antara berubahnya energy kinetic tehadap variasi
frekuensi cahaya yang mengenai logam. Sesuai dengan
Kmax =eV s , energy
kinetic maksimum secara eksperimen dapat diperoleh dari potensial penghenti Vs .
eV s=hν−φ
atau
V s= ( he ) ν− φe ………………………..(3)
Persamaan linier bagi hubungan antara potensial penghenti elektro yang
terlepas dari logam vs frekuensi dapat dimanfaatkan untuk penentuan ulang
konstanta Planck h.
Alat dan Bahan percobaan :
Gambar 1.(a). Bagan Dasar Set-up Percobaan. (b). Bagian Utama.
(c). Komponen-komponen Alat bantu
Set up peralatan tersusun atas :
Tiga bagian utama:
1. kotakh/e.
2. kotak sumber cahaya Hg.
3. filter cahaya tampak.
Peralatan bantu:
1. batang penghubung dari kotak h/e ke kotak sumber cahaya.
2. Landasan penyangga kotak h/e.
3. Perangkat lensa dan kisi yang dilekatkan pada sisi depan kotak
sumber cahaya.
4. Tameng cahaya yang dilekatkan pada sisi belakang kotak sumber
cahaya Hg.
5. Papan pengatur cahaya yang dilekatkan pada kotak h/e.
6. Voltmeter digital yang harus terhubung ke kotak h/e.
Prosedur Percobaan :
Persiapan
1. Sebelum melakukan eksperimen memeriksa semua kelengkapan perlatan
seperti yang disebutkan diatas
a. Memerikasa bahwa semua unit dalam keadaan off dan skala sumber
terkecil dan alat ukur terbesar.
b. Menyusun set rangkaian eksperimen sesuai desain percobaan.
Percobaan 1 (mengamati hubungan antara pengukuran potensial penghenti
dengan variasi intensitas cahaya)
2. Mengatur posisi tabung h/e sedemikian sehingga hanya satu warna yang
jatuh pada celah cahaya (pada papan pengatur cahaya) yang selanjutnya
lewat jendela masuk menuju photodioda. Jika warna cahaya tadi adalah
kuning maka tempelkanlah filter warna kuning pada papan pengatur
cahaya.
3. menempelkan filter transmisi di depan filter warna, memilih tingkat
transmisi 100% (intensitas penuh). Mengukur beda tegangan penghenti
(dengan volt meter) melalui terminal output pada panel kotak h/e;
mencatat hasilnya pada tabel.
4. Menekan tombol pelepas muatan "push to zero" lalu melepaskan tekanan
tadi dan mengamati display pembacaan volt meter, melepaskan filter
transmisi cahaya (sehingga tinggal filter warna saja). Mengukur beda
tegangan penghenti (seperti langkah 3 dan 4).
5. Mengulangi langkah-langkah 2, 3, 4 dan 5 dengan memvariasi tingkat
transmisi lainnya (80%, 60%, 40% dan 20%).
6. Mengulangi langkah-laangkah 2 s.d. 6 untuk warna hijau.
Percobaan 2 (Mengamati hubungan antara pengukuran potensial
penghenti dengan variasi cahaya tampak)
7. Memfokuskan perhatian pada spektrum hasil difraksi orde pertama.
Tampak terdapat 5 warna berurutan, yakni kuning, hijau, biru, violet dan
ultra violet.
8. Menjatuhkan spectrum cahaya warna kuning (pola inteferensi) pada
celah cahaya kotak h/e (pada papan pengatur cahaya) agar cahaya
tersebut mengenai photodioda.
9. Mengamati penunjukkan beda potensial penghenti dan mencatat pada
table yang sesuai.
10. Mengulangi langkah-langkah 8 dan 9, untuk warna-warna berikutnya.
11. Mengulangi langkah-langkah 8, 9 dan 10 di atas untuk spektrum tingkat
kedua.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konstanta Planck, dilambangkan dengan huruf h, adalah konstanta fisika
untuk menjelaskan ukuran quanta. Konstanta ini sangat penting dalam teori
mekanika kuantum, dan dinamai untuk menghargai Max Planck, salah seorang
pendiri teori kuantum. Pertama kali diperkenalkan tahun 1900, konstanta ini pada
awalnya merupakan konstanta kesebandingan antara kenaikan minimum energi, E
dari sebuah osilator bermuatan listrik hipotesis pada rongga yang berisi radiasi
benda-hitam, dan frekuensi, f dari gelombang elektromagnetiknya. Pada tahun
1905, nilai E, kenaikan energi minimum dari osilator hipotesis, dihubungkan
secara teoretis oleh Albert Einstein dengan "kuantum" atau elemen energi terkecil
dari gelombang elektromagnetik itu sendiri. Kuantum cahaya berperilaku seperti
partikel listrik netral, sebagai lawan gelombang elektromagnetik. Nantinya disebut
sebagai foton.
Radiasi elektromagnetik terdiri dari paket energi diskret mirip partikel yang
disebut foton atau kuantum. Setiap foton memiliki energi E yang bergantung
hanya pada frekuensi radiasi f dan dengan h=6,626 x 10-34 J.s adalah konstanta
planck.
B. Saran
Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini,
baik dari kesalahan tanda baca, bahasa, ataupun sebagainya. Maka atas dasar
kekurangan itu diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun agar ada
perubahan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. Konsep Fisika Modern Edisi tiga . Jakarta: Erlangga, 1986
Halliday, Resnick. Fisika Modern. Jakarta: Erlangga, 1986
Ishafit, Rizki Agung. Penentuan Konstanta Planck Menggunakan LED Berbasis
Microcomputer Based Laboratory. Yogyakarta: Universitas Ahmad
Dahlan, 2011
Purwanto, Agus. FISIKA KUANTUM. Yogyakarta: Gava Media, 2005
Tim pengajar Eksperimen Fisika Modern. Petunjuk Eksperimen Fisika Modern.
Malang: FMIPA UM, 2015
Young, Freedman. FISIKA UNIVERSITAS. Jakarta : Erlangga, 2008
Sejarah pancasia
Proses terbentunya pancasila
Asa kata ancasia
Manfaat mengetahui pengertian pancasila
kesimpuan