PORFIRIA
PENGERTIAN
Istilah porfiria digunakan untuk menggambarkan kelompok kelainan yang disebabkan penumpukan
porfirin atau bahan kimia alami yang menghasilkan porfirin dalam tubuh. Setidaknya terdapat
delapan kelainan di dalam kelompok ini.
Porfirin digunakan tubuh untuk pembentukan hemoglobin, yaitu sejenis protein dalam sel darah
merah yang mengikat zat besi, porfirin, dan membantu pengiriman oksigen dalam tubuh. Level
porfirin yang tinggi dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai masalah. Penyakit porfiria tergolong
jarang ditemukan.
PENYEBAB
Kebanyakan kasus porfiria disebabkan oleh kelainan bawaan. Setiap enzim yang dibutuhkan dalam
proses pembentukan heme diatur oleh suatu gen. Jika seseorang memiliki gen abnormal atau
mutasi gen pengatur enzim ini, yang didapat dari salah satu orang tua, maka dapat memiliki porfiria.
Proses pembentukan heme dari hemoglobin disebut jalur biosintetik heme. Proses ini bertahap, dan
masing-masing tahapnya membutuhkan satu dari delapan enzim untuk mengatur proses tersebut.
Jika terjadi kekurangan salah satu dari delapan enzim tersebut, tubuh akan memiliki kesulitan
membentuk heme.
DIAGNOSIS
Untuk memastikan diagnosis terhadap porfiria, pertama-tama dokter akan melakukan wawancara
medis mendetail dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Kemudian dokter dapat melakukan
pemeriksaan penunjang untuk memastikan kadar porfirin yang tinggi dalam tubuh.
Sampel yang dapat digunakan dalam pemeriksaan penunjang ini adalah darah, urine, ataupun
feses. Kadar porfirin atau zat pembentuk porfirin yang tinggi dalam pemeriksaan memastikan
porfiria. Selanjutnya, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan DNA untuk memastikan mutasi
gen mana yang menyebabkan penyakit ini.
Saat ini diketahui terdapat delapan jenis porfiria, yang masing-masing disebabkan kekurangan
enzim tertentu, yaitu:
delta-aminolevulinate-dehydratase deficiency pophyria: disebabkan kekurangan enzim delta-
aminolevulinic acid dehydratase
acute intermittent porphyria: disebabkan kekurangan enzim porphobilinogen deaminase
hereditary corproporhyria: disebabkan kekurangan enzim coproporphyrinogen oxidase
variegate porphyria: disebabkan kekurangan enzim protoporphyrinogen oxidase
congenital erythropoetic porphyria: disebabkan kekurangan enzim uroporphyrinogen III
cosynthase
porphyria cutanea: disebabkan kekurangan enzim uroporphyrinogen decarboxylase
hepatoerythropoetic porphyria: disebabkan kekurangan enzim uroporphyrinogen
decarboxylase
erythropoetic protoporphyria: disebabkan kekurangan enzim ferrochelatase
GEJALA
Pada beberapa orang, dapat terjadi porfiria tanpa munculnya gejala terlebih dahulu. Sementara itu
pada beberapa orang lainnya dapat saja muncul berbagai gejala, seperti:
· Gejala cutaneous porphyria (pada kulit)
sensitivitas berlebih terhadap sinar matahari
kulit yang melepuh pada area kulit yang tidak terlindungi
rasa gatal dan pembengkakan pada area kulit yang tidak terlindungi
pertumbuhan rambut berlebih pada area kulit yang tidak terlindungi
· Gejala porfiria akut:
nyeri pada perut
nyeri pada dada, punggung, atau anggota gerak
mual dan muntah
konstipasi (buang air besar (BAB) kurang dari 3kali dalam satu minggu pada orang dewasa
dan kurang dari 2 kali dalam satu minggu pada anak-anak)
retensi urine (ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit)
kebingungan
halusinasi
kejang dan kelemahan otot
Beberapa hal dapat menjadi pemicu munculnya keluhan, seperti:
paparan sinar matahari
beberapa jenis obat-obatan
diet atau berpuasa
merokok
stres fisik, seperti penyakit atau infeksi
stres emosional
konsumsi alkohol
hormon reproduksi (pada wanita, serangan porfiria jarang terjadi sebelum pubertas dan
setelah menopause)
PENGOBATAN
Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam menangani porfiria adalah dengan menghindari pemicu
serangan. Misalnya dengan tidak mengonsumsi obat yang memicu serangan, menjauhkan diri dari
alkohol dan rokok, menghindari diet ketat dan berpuasa, serta meminimalkan paparan sinar
matahari. Selain itu juga perlu menangani infeksi dan penyakit, serta mengambil langkah untuk
mengurangi stres emosional.
Pada kasus porfiria akut, obat yang berbentuk heme bisa dikonsumsi untuk mengurangi produksi
porfirin dalam tubuh. Begitu juga dengan pemberian glukosa untuk memastikan asupan karbohidrat
yang cukup. Bila terdapat gejala tertentu –seperti nyeri hebat, muntah, dehidrasi– penderita mungkin
memerlukan rawat inap.
Sedangkan pada kasus cutaneous porphyria, penanganan bisa dilakukan dengan menghindari
faktor pencetus, seperti paparan sinar matahari dan mengurangi jumlah porfirin dalam tubuh.
Hal ini bisa dilakukan dengan flebotomi rutin (pengambilan darah rutin) yang bertujuan untuk
mengurangi zat besi dalam tubuh yang akan mengurangi porfirin. Selain itu juga diperlukan
konsumsi obat anti malaria, seperti hydroxychloroquinine untuk menyerap kelebihan porfirin. Pada
orang yang menghindari paparan sinar matahari, maka perlu dipertimbangkan suplementasi vitamin
D.