0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan9 halaman

Memahami Dispersepsi dan Solusinya

Makalah ini membahas tentang dispersepsi atau gangguan persepsi. Dispersepsi didefinisikan sebagai kesalahan dalam menafsirkan persepsi yang diterima, yang disebabkan oleh gangguan otak akibat kerusakan otak, keracunan, atau gangguan jiwa. Dispersepsi dapat berupa halusinasi, gangguan somatosensori, atau gangguan psikofisiologis. Cara mengatasi dispersepsi meliputi empati, sikap toleran, memeriksa per
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan9 halaman

Memahami Dispersepsi dan Solusinya

Makalah ini membahas tentang dispersepsi atau gangguan persepsi. Dispersepsi didefinisikan sebagai kesalahan dalam menafsirkan persepsi yang diterima, yang disebabkan oleh gangguan otak akibat kerusakan otak, keracunan, atau gangguan jiwa. Dispersepsi dapat berupa halusinasi, gangguan somatosensori, atau gangguan psikofisiologis. Cara mengatasi dispersepsi meliputi empati, sikap toleran, memeriksa per
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH DISPERSEPSI

(GANGGUAN PERSEPSI)

Disusun Oleh :

Lilik Uswatun Khasanah

1031711039 / A

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

YAYASAN PHARMASI SEMARANG

2020
BAB I
PENDAHULUAN

Pendapat merupakan sebuah pandangan atau buah pikiran seseorang

terhadap suatu kebenaran dan kebenarannya relatif karena dipengaruhi unsur

pribadi dan menurut pandangan masing-masing individu, baik berupa penilaian

maupun saran. Pendapat juga sering disebut sebagai opini, gagasan atau

argumentasi. Pendapat dapat disampaikan melalui suatu media atau dikemukakan

secara langsung.

Kebebasan berpendapat merupakan hal yang melekat di zaman

sekarang, dimana kebebasan berpendapat semakin dipermudah seiring dengan

teknologi yang semakin maju dan modern. Kebebasan berpendapat merupakan

hak dari semua orang, dimana seseorang bisa menyampaikan opini dengan bebas

tanpa adanya batasan, kecuali menyebarkan kebencian dan SARA (Suku Ras dan

Agama). Apabila ada seseorang yang menyampaikan pendapat melalui berbagai

media atau secara langsung, sangat memungkinkan seseorang yang menjadi lawan

bicara atau yang membaca gagasan yang diutarakan menjadi tidak paham atau

memahami dengan pemahaman masing-masing individu. Hal tersebut sangat

memungkinkan terjadinya dispersepsi atau biasa diartikan sebagai salah

pemahaman/salah persepsi. Dispersepsi merupakan gangguan persepsi. Jika

kondisi tersebut terjadi, tujuan dari pembicara mengungkapkan gagasan menjadi

tidak tercapai dan lawan bicara tidak mendapatkan manfaat dari gagasan yang

telah diungkapkan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persepsi

Persepsi berasal dari bahasa latin, persipere : menerima, perception :


pengumpulan, penerimaan, pandangan, dan pengertian. Secara sederhana
persepsi dapat diartikan sebagai kesadaran intuitif (berdasarkan firasat)
terhadap kebenaran atau kepercayaan langsung terhadap sesuatu.
Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau
informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus
mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan tersebut
dilakukan lewat openginderanya, yaitu indra penglihat, pendengan, peraba,
perasa, dan pencium. Istilah persepsi sering disebut juga dengan
pandangan, gambaran, atau anggapan, sebab dalam persepsi terdapat
tangagapan seseorang mengenai satu hal atau objek.

Proses penerimaan informasi dari rangsangan dari lingkungan luar


akan mengikuti rangkaian prinsip berdasarkan cara pikiran manusia
bekerja. Melalui persepsi manusia bereaksi kepada rangsangan dari luar
dan mengerti tentang lingkungan sekitar.

2.2 Macam – Macam Persepsi


Persepsi dapat dibedakan menjadi dua, yakni :
1. External Perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsan
yang datang dari luar diri individu
2. Self Perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan
yang berasal dari dalam diri individu.
2.3 Faktor - Faktor Yang Berperan Dalam Persepsi
Ketika mempersepsikan sebuah stimulus individu tidak selalu
mempersepsikan stimulus itu dengan baik. Hal ini terjadi karena dalam
mempersepsikan individu dihadapkan dengan pengetahuan yang dimiliki
oleh individu, pengalaman yang dirasakan, keinginan dan perilaku
individu dalam penerimaan stimulus yang diberikan. Persepsi individu
mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus yang diterimanya,
sehingga stimulus tersebut mempunyai arti bagi individu yang
bersangkutan.
Faktor – faktor yang berperan dalam persepsi yaitu :
1. Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau
reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi,
tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan
yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai
reseptor. Namun sebagian besar stimulus datang dari luar individu.
2. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima
stimulus disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat
untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusar susunan
syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk
mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.
3. Perhatian
Perhatian perlu dilakukan untuk menyadari aatu mengadakan
persepsi. Perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu
persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupajan
pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang
ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.
2.4 Faktor Pembentuk Persepsi
Faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain :
1. Fungisonal
Persepsi individu terhadap suatu objek tidak terjadi begitu saja,
melainkan melalui faktor fungsional yang berasal dari kebutuhan,
pengalaman masa lalu, dan hal lain yang termasuk dalam faktor
personal. Jadi, persepsi tidak hanya ditentukan oleh jenis dan bentuk
stimuli, tetapi juga karakteristik orang yang memberikan respon pada
stimuli tersebut dan bermula dari kondisi biologisnya.
2. Sikap
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan
merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.
3. Pendidikan
Pengetahuan dapat membentuk kepercayaan, pengetahuan
berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang.
4. Kepercayaan
Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam
mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan
keputusan dan menentukan sikap bagi objek sikap.

2.5 Proses Terjadinya Persepsi


Proses terjadinya persepsi adalah karena adanya objek/stimulus yang
merangsang untuk ditangkap oleh panca indra (objek tersebut menjadi
perhatian pancaindra), kemudian stimulus/objek perhatian tadi dibawa ke
otak. Dari otak terjadi adanya kesan atau respon dikendalikan ke indra
kembali berupa tanggapan atau persepsi atau hasil kerja indra berupa
pengalaman hasil pengolahan otak.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi melewati
tiga proses, yaitu :
a. Proses fisik – objek  stimulus  reseptor atau alat indra.
b. Proses fisiologis – stimulus  saraf sensoris  otak.
c. Proses psikologis – proses dalam otak sehingga individu menyadari
stimulus yang diterima.

Objek Stimulus Reseptor

Otak Saraf Sensorik

Saraf Motorik

Persepsi

Proses terjadinya persepsi ini merupakan fenomena, dan yang


terpenting dari fenomena persepsi ini adalah “perhatian”. Perhatian itu
sendiri merupakan suatu konsep yang diberikan pada proses persepsi yang
menseleksi input-input tertentu untuk diikut sertakan dalam suatu
pengalaman yang kita sadari / kenal dalam suatu waktu tertentu.

2.6 Gangguan Persepsi (Dispersepsi)


Dispersepsi adalah kesalahan atau gangguan persepsi atau kesalahan
dalam menafsirkan suatu persepsi yang diterima.

2.7 Penyebab Dispersepsi


Gangguan otak karena kerusakan otak, keracunan, obat halusigenik,
gangguan jiwa, seperti emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi,
psikosi yang dapat menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal
dari sosio-budaya yang berbeda.
2.8 Macam – Macam Dispersepsi
Gangguan persepsi dapat dipengaruhi oleh berbagai macam hal, yakni :
1. Halusinasi : persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada
pancaindra seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar.
2. Gangguan somatosensorik: secara harfiah soma artinya tubuh dan
sensorik artinya mekanisme neorologis yang terlibat dalam
pengindraan dan perasaan.
3. Gangguan psikofisiologik : gangguan pada tubuh yang dipengaruhi
oleh susunan saraf yang berhubungan dengan kehidupan dan
disebabkan oleh gangguan emosi.

2.9 Cara Mengatasi Dispersepsi


1. Empati
Empati adalah kemampuan untuk menciptakan kembali
perspektif orang lain, mengalami dunia dari sudut pandang orang lain.
Dengan menempatkan diri dalam perspektif orang lain akan membuat
seseorang menjadi tidak terburu-buru dalam memberikan persepsi
sehingga kesalahpahaman dapat dihindari.
2. Mengembangkan sikap toleran
Sikap toleran merupakan sikap menenggang (menghargai,
membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan,
kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan
dengan pendirian sendiri.
3. Memeriksa persepsi
Memeriksa persepsi yakni suatu keterampilan yang
menyuguhkan cara terbaik untuk menangani interpretasi.
4. Menemukan akar masalah
Jika terjadi kesalahan persepsi makan coba untuk menentukan
apa yang menjadi akar masalah atau dasar orang lain memberikan
persepsi.
5. Berkomunikasi
Kesalahan persepsi dapat diatasa dengan berkomunikasi.
Merubah persepsi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan untuk
melakukannya. Salah satu cara pendekatan tersebut dengan melakukan
komunikasi dengan si pemberi persepsi.
BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan :

1. Dispersepsi adalah kesalahan atau gangguan persepsi atau kesalahan

dalam menafsirkan suatu persepsi yang diterima.

2. Dispersepsi diakibatkan oleh gangguan otak karena kerusakan otak,

keracunan, obat halusigenik, gangguan jiwa, seperti emosi tertentu yang

dapat mengakibatkan ilusi, psikosi yang dapat menimbulkan persepsi

berbeda atau orang yang berasal dari sosio-budaya yang berbeda.

3. Cara mengatasi dispersepsi dapat dilakukan dengan cara empati,

mengembangkan sikap toleran, memeriksa persepsi, menemukan akar

masalah, dan berkomunikasi.

4. Dispersepsi sebisa mungkin harus dihindari karena jika dispersepsi terjadi

secara terus menerus mengakibatkan maksut atau tujuan dari seseorang

yang telah mengemukakan persepsinya tidak akan tersampaikan dengan

baik kepada orang lain.

Anda mungkin juga menyukai