Jenis dan Sistem Rujukan Kesehatan
Jenis dan Sistem Rujukan Kesehatan
RUJUKAN
Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional penanganan suatu kasus penyakit yang
sedang ditangani olehn seorang dokter kepada dokter lainnya yang lebih ahli. Rujukan adalah
pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas masalah kesehatan masyarakat dan kasus –
kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik secara vertikal maupun horizontal meliputi
sarana, rujukan tekhnologi, rujukan tenaga ahli, rujukan operasional, rujukan kasus, rujukan ilmu
pengetahuan, dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium ( permenkes 922/2007 ).
1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya kepada
dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter
tersebut tidak ikut menanganinya.
2. Kolateral Referral, menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggung jawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.
SYARAT RUJUKAN
1. Rujukan harus dibuat oleh orang yang mempunyai kompetensi dan wewengang untuk
merujuk, mengetahui kompetensi sasaran/tujuan rujukan dan mengetahui kondisi sera
kebutuhan objek yang dirujuk.
2. Rujukan dan rujukan balik mengacu pada standar rujukan pelayanan medis daerah.
3. Agar rujukan dapat diselenggarakan tepat dan memadai, maka suatu rujukan hendaknya
memenuhi syarat – syarat sebagai berikut
a. Adanya unit yang mempunyai tanggung jawab dalam rujukan, baik yang merujuk
atau yang menerima rujukan.
b. Adanya tenaga kesehatan yang kompeten dan mempunyai kewenangan melaksanakan
pelayanan medis dan rujukan medis yang dibutuhkan.
c. Adanya pencatatan / kartu / dokumen tertentu berupa:
- Formulir rujukan dan rujukan balik sesuai contoh
- Kartu BPJS dan kartu asuransi lain
- Pencatatan dan dokumen hasil pemeriksaan penunjang.
d. Adanya pengertian timbal balik antara pengirim dan penerima rujukan. Adanya
pengertian petugas tentang sistem rujukan
4. Rujukan dapat bersifat horizontal dan vertikal, dengan prinsip mengirin ke arah fasilitas
pelayanan kesehatanyang lebih mampu dan lengkap.
5. Untuk menjamin keadaan umum pasien agar tetap dalam kondisi stabil selama perjalanan
menuju ke tempat rujukan, maka:
a. Sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi alat resusitasi, cairan infus,
oksigen, dan dapat menjamin pasien sampai ke tempat rujukan tepat waktu.
b. Pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang mahir tindakan kegawatdaruratan.
c. Sarana transportasi atau petugas kesehatan pendamping memiliki sistem komunikasi
6. Rujukan pasien atau spesimen ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan atau
lengkap hanya dapat dilakukan apabila:
- Dari hasil pemeriksaan medis, sudah terindikasi bahwa keadaan pasien tidak
dapat diatasi.
- Pasien memerlukan pelayanan medis spesialis dan atau sub spesialis yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula.
- Pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih lengkap yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula.
- Pasien atau keluarganya menyadari bahwa rujukan dilaksanakan karena alasan
medis.
- Rujukan dilaksanakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang diketahui
mempunyai tenaga dan sarana yang dibutuhkan menurut kebutuhan medis atau
penunjang medis sesuai dengan rujukan kewilayahan.
- Rujukan tanpa alasan medis dapat dilakukan apabila suatu rumah sakit kelebihan
pasien ( jumlah tempat tidur tidak mencukupi ).
- Khusus untuk pasien BPJS dan asuransi kesehatan lainnya harus ada kejelasan
tentang pembiayaan rujukan dan pembiayaan di fasilitas pelayanan kesehatan
tujuan rujukan.
- Khusu untuk pasien ke BPJS hanya dapat dirujuk ker Rumah sakit yang setara
yaitu ke PPK I atau PPK II lainnya yang mengadakan kerjasama dengan dinas
kesehatan.
7. Fasilitas pelayanan kesehatan/tenaga kesehatan dilarang merujuk dan menentukan tujuan
rujukan atas dasar kompensasi/imbalan dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan dicatat dalam
surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan pasien, yang berisikan antara lain:
Nomer surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien ( umum, BPJS, asuransi lainnya ), tujuan
rujukan penerima, nama dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik,
diagnosa, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang, kemajuan
pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu.
Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah menerima pasien rujukan dan setelah
selesai pasien tersebut mencatat informasi balasan rujukan disurat balasan rujukan yang
dikirimkan kepada pengirim pasien rujukan, yang berisikan antara lain: nomer surat, tanggal,
status pasien ( umum, BPJS, asuransi lainnya ), tujuan rujukan penerima, naman dan identitas
pasien, hasil diagnosa setelah dirawat, kondisi pasien saat keluar dari perawatan dan follow up
yang dianjurkan kepada pihak pengirim pasien.
Informasi pengiriman spesimen dibuat oleh pihak pengirim dengan mengisi surat rujukan
spesimen, yang berisikan antara lain: Nama, nomer surat, tanggal dan jam pengiriman, status
pasien ( umum, BPJS, asuransi lainnya ), tujuan rujukan penerima, jenis/nbahan spesimen dan
nomer spesimen yang dikirim, tanggal pengambilan spesimen, jenis pemeriksaan yang diminta,
diagnosa klinis.
Informasi balasan hasil pemeriksaan bahan/spesimen yang dirujuk dibuat oleh pihak
laboratorium penerima dan segera disampaikan pada pihak pengirim dengan menggunakan
format yang berlaku di laboratorium yang bersangkutan. Informasi permintaan tenaga
ahli/dokter spesialis dapat dibuat oleh kepala puskesmas atau rumah sakit yang ditujukan kepada
kepala dinas kesehatan atau oleh dinas kesehatan yang ditujukan ke dinas kesehatan propinsi
dengan mengisi surat permintaan tenaga ahli, yang berisikan antara lain: nomer surat, tanggal,
perihal permintaan teanag ahli, dan menyebutkan jenis spesialisasinya, waktu dan tempat
kehadiran, jenis spesialisasi yang diminta, maksud keperluan tenaga ahli diinginkan dan sumber
biaya atau besaran biaya yang disanggupi.
Informasi petugas yang mengirim, merawat atau meminta tenaga ahli selalu ditulis nama jelas,
asal institusi dan nomer telepon yang bisa dihubungi pihak lain. Keterbukaan antara pihak
pengirim dan penerima untuk bersedia memberikan informasi tambahan yang diperlukan masing
– masing pihak melalui media komunikasi bersifat wajib untuk keselamatan pasien, spesimen,
dan ahli pengetahuan medis.
BAB II
RUANG LINGKUP
1. Pengiriman Pasien
Pengiriman pasien rujukan harus dilaksanakan sedini mungkin untuk perawatan dan
pengobatan lebih lanjut kesarana pelayanan yang lebih lengkap. Unit pelayanan kesehatan
yang menerima rujukan harus merujuk kembali pasien ke sarana kesehatan yang mengirim,
untuk mendapatkan pengawasan pengobatan dan perawatan termasuk rehabilitasi
selanjutnya.
Tingkat Rujukan
Karena terbatasnya sumberdaya tenaga dan dana kesehatan yang disediakan, maka perlu
diupayakan penggunaan fasisilatas pelayanan medis yang tersedia secara efektif dan efisien.
Pemerintah telah menetapkan konsep pembagian wilayah dalam sistem pelayanan kesehatan
masyarakat. Dalam sistem rujukan ini setiap unit kesehatan mulai dari polindes, puskesmas
pembantu/ klinik kesehatan, puskesma induk dan rumah sakit akan memberikan jasa
pelayananya kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan wilayah dan tingakat kemampuan
petugasatau sarana. Ketentuan ini dikesualikan bagi rujukan kasus gawat darurat, sehingga
pembagian wilayah pelayanan dalam sistem rujukan tidak hanya didasarkan pada batas-batas
wilayah administrasi pemerintahan saja tetapi juga dengan kriteria antaralain:
1. Tingkat kemampuan atau kelengkapan fasilitas sarana kesehatan, misalnya fasilitas rumah
sakit sesuai dengan tingkat klasifikasinya
2. Kerjasama rumah sakit dengan fakultas kedokteran
3. Keberadaan jaringan transportasi atau fasilitas pengangkutan yang digunakan ke saran
kesehatan atau rumah sakit rujukan.
4. Kondisi geografis wilayah sarana kesehatan.
Pembiayaan
Pembiayaaan rujukan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada asuransi
kesehatan atau jaminan kesahatan. Pembiayaan rujukan bagi pasien yang bukan peserta asuransi
kesehatan atau jaminan kesehatan menjadi tanggung jawab pasien dan/atau keluargannya. Biaya
transportasi rujukan merupakan bagian dari jasa pelayanan yang menjadi tanggung jawab pihak
penjamin (BPJS dan asuransi lain). Bagi pasien korban kecelakaan lalulintas, biaya rujukan
ditanggung oleh PT asuransi Jasa Raharja sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusaahan
asuransi tersebut.
Rujukan dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal. Rujukan vertikal merupakan rujukan
antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan. Rujukan horizontal merupakan rujukan antar
pelayanan kesehatan dalan satu tingkatan. Rujukan vertikal dapat dilakukan dari tingkatan
pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.
Rujukan horizontal dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan
sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan, dan/atau ketenagaan
yang sifatnya sementara atau menetap. Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih
rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila:
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang lebih
rendah dilakukan apabila:
a. Permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang
lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya;
b. Kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua leih baik dalam
menangani pasien tersebut
c. Pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan
kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka
panjang;
d. Perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien
karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan atau ketenagaan.
1. Melakukan pertolongan pertama dan atau tindakakn stabilisasi kondisi vasien sesuai indikasi
medis serta sesuai dengan kemampuan untuk tujuan keselamatan pasien selama pelaksanaan
rujukan.
2. Melakukan komunikasi dengan penerima rujukan dan memastikan bahwa penerima rujukan
dapat menerima pasien dalam hal keadaan pasien gawat darurat dan membuat surat
prngantar rujukan untuk disampaikan kepada penerima rujukan.
a. Identitas pasien;
b. Hasil pemeriksaan ( anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan );
c. Diagnosis kerja;
d. Terapi dan /atau tindakan yang telah diberikan;
e. Tujuan rujukan; dan
f. Nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.
a. Memberi penjelasan kepada pasien atau keluarganya bahwa karena alasan medis pasien
harus dirujuk, atau karena ketiadaan tempat tidur pasien harus dirujuk;
b. Melaksanakan konfirmasi dan memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatanyang
dituju sebelum merujuk;
c. Membuat surat rujukan dengan melampirkan hasil diagnosis pasien dan resuma catatan
medis;
d. Mencatat pada register dan membuat laporan rujukan;
e. Sebelum dikirim, keadaan umum pasien sudah distabilkan dahulu, dan stabilitas pasien
dipertahankan selama diperjalanan;
f. Pasien harus didampingi oleh tenaga kesehatan yang mengetahui keadaan umum pasien
dan mampu menjaga stabilitas pasien sampai tiba di tempat rujukan;
g. Tenag kesehatan yang mendapingi pasien menyerahkan surat rujukan kepada pihak yang
berwenang di fasilitas pelayanan kesehatan ( PPK II dan PPK III ) tempat rujukan;
h. Surat rujukan pertama harus dari fasilitas pelayanan kesehatan dasar ( PPK I ) kecuali
dlaam keadaan darurat;
i. Ketentuan – ketentuan yang ada pada BPJS dan badan penjamin kesehatan lainnya tetap
belaku.
BAB III
TATALAKSANA
Tata cara Pelaksanaan Sistem Rujukan
Dalam prosedur merujuk dan menerima rujukan pasien ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak
yang merujuk dan pihak yang menerima rujukan. Dengan rincian beberapa prosedur sebagai
berikut :
a. Prosedur klinis
1) Menerima dan memeriksa spesimen / penujang diagnostik lainya sesuai dengan
kondisi pasien / bahan yang diterima dengan memperhatikan aspek, sterilisasi,
kontaminasi penularan penyakit, keselamatan pasien, orang lain dan kelayakan
untuk pemeriksaan.
2) Memastikan bahwa spesimen yang diterima tersbut layak untuk diperisa sesuai
dengan permintaan yang diinginkan
3) Mengerjakan pemeriksan laboratoris ataunpatologis dan penunjang diagnostok
lainnya dengan mutu standar dan sesuai dengan jenis dan cara pemeriksaan yang
diminta oleh pengirim
b. Prosedur administratif
1) Meneliti isi surat rujukan spesimen dan penunjang diagnostik lainnya yang diterima
secara cermat dan jelas termasuk no surat dan status BPJS, informasi pemeriksaan
yang diinginkan, identitas pasien dan diagnosa sementara serta identitas pengirim
2) Mencatat informasi yang diperlukan dibuku register/ arsif yang telah ditentukan
masin – masin instansi
3) Memastikan kerahasiaan pasien terjamin
4) Mengirimkan hasil pemeriksan tersebut secar tertulis dengan format standar masing
– masing sarana kepada pimpinan institusi pengirm.
Prosedur standar mengirim balasan rujukan hasil pemeriksaan sopesimen dan penunjang
diagnosti lainnya.
a. Prosedur klinis
1) Memastikan bahwa permintaan pemeriksaan yang tertera disurat rujukan spesimen /
penunjang diagnostik lainnya yang diterima, telah dilakukan sesuai dengan mutu
standar dan lengkap
2) Memastikan bahwa hasil pemeriksaan bisa dipertanggung jawabkan
3) Melakukan pengecekan kembali bahwa tidak ada tertukar dan keraguan diantara
beberapa specimen
b. Prosedur administratif
1) Mencatat dibuku register hasil pemeriksaan untuk arsif
2) Mengisi pormat laporan hasil pemeriksaan sesuai ketentuan masing – masing
instansi
3) Memastikan bahwa hasil pemeriksaan tersebut terjaga kerahasiaannya dan sampai
kepada yang berhak untuk membacanya
4) Mengirimkan segera laporan hasil pemeriksaan kepada alamat pengirim, dan
memastikan laporan tersebut diterima pihak pengirim dengan konfirmasi melalui
sarana komunikasi yang memungkinkan
1. Puskesmas / rumah sakit kabupaten atau kota yang memerlukan tenaga ahli membuat
surat permuntaan tenaga ahli
2. Surat permintaan ditujukan kepada dinas kesehatan kabupaten atau kota atau dinkes
propinsi.
3. Dinkes kabupaten atau kota atau dinas propinsi melanjutkan permintaan tenaga ahli
tersebut ke direktur rumah sakit tujuan dan tembusan kepada kepala staf medik
fungsional yang dituju paling lambat 14 hari sejak surat permintaan diterima.
4. Mempersiapkan penerimaan, termasuk agenda, akomodasi, konsumsi dan honor atau
insentif lainnya sesuai peraturan daerah yang bersangkutan
5. Melakukan monitoring dan evaluasi proses dan pelaksanaannya
6. Membuat laporan pelaksaan ke dinkes diwilayahnya dengan tembusan ke rumah sakit
atau instansi yang mengirim
1. Rumah sakit/instansi kesehatan yang akan mengirimkan tenaga ahli berkonsultasi dengan
pihak dinas kesehatan propinsi untuk disesuaikan dengan program rujukan din propinsi
tersebut
2. Setelah ada persetujuan dari dinas kesehatan propinsi, maka rumah saki/instansi tersebut
memb uat jadwal kunjungan dan surat tugas bagi tenaga ahli yang bersangkutan sesuai
permintaan.
3. Melakukan evaluasi dan membuat laporan pelaksanaan dan dikirim ke dinas kesehatan
propinsi dan arsip.
D. Pencatatan
Pencatatan ini ini merupakan bagian penting dalam sistem rujukan pelayanan kesehatan
meliputi :
1. Pencatatan
Pencatatan kasus rujukan menggunakan satu buku register rujukan, dimana setiap pasien
rujukan yang diterima dan yang akan dirujuk dicatat dalam buku register rujukan di 1 unit
pelayanan. Alur registrasi pasien rujukan disarana pelayanan kesehatan sebagai berikut:
- Pasien umum yang masuk melalui rawat jalan dan IGD dicatat pada buku register
pasien di masing – masing unit pelayanan. Apabila pasien dirawat dicatat juga
pada buku register rawat inap
- Pasien datang dengan surat rujukan puskesmas/polindes/puskesdes dan sarana
kesehatan lainnya tetap dicatat pada buku register pasien di masing – masing unit
pelayanan dan selanjutnya juga dicatat pada buku registrasi rujukan
- Apabila pasien telah mendapatkan perawatan baik di IGD, rawat inap dan unit
pelayanan lainnya yang diputuskan untuk dirujuk maka langsung dicatat pada
buku register rujukan pasien
- Setelah menerima surat rujukan balasan maka dicatat tanggal rujukan balik
diterima pada buku register rujukan pasien ( kolom balasan rujukan )
- Pada setiap akhir bulan, semua pasien rujukan dijumlahkan dan dicatat