Nama : Daniel P Sipayung
Jonathan D Damanik
Leli W Simamora
Tingkat/Jurusan : II A/Teologi
Mata Kuliah : Misiologi I
Dosen Pengampu : Dr. Mehamad Wijaya Tarigan
ISRAEL DAN PROSELITISME
I. PENDAHULUAN
Kali ini kita akan membahas tentang Proselitisme Israel, bangsa Isrel yang
berdiaspora ternyata membawa dampak kepadabangsa yang lain karena mereka setia
kepada Allah, yang dimana membuat bangsa lain tertarik dan ingin menjadi kaum
Yahudi. Kita akan membahas tentang Proselitisme lebih dalam lagi. Untuk itu kami
memerlukan kritik dan saran membangun dari mahasiswa dan dosen, agar makalah ini
lebih baik ke depannya. Semoga sajian kami bisa menambah pengetahuan kita Tuhan
Yesus memberkati.
II. PEMBAHASAN
II.1. Keadaan Bangsa Israel Pada Masa Transisi
II.1.1. Diaspora
Pembuangan Israel – Utara ke Asyur (abad ke 8 SM) dan kemudian Yehuda ke
Babel (abad 6 SM) drastis mengubah keadaan israel. Sejak zaman itu Israel tidak
merupakan “kesatuan politik” lagi. Artinya, tidak merupak satu negara, satu bahasa,
satu kebudayaan. Sebaliknya, Israel dikuasai oleh bangsa lain: Asyur, Babel, Persia,
Yunani, (bnd. Daniel 2; 7-12) Palestina menjadi bagian dari salah satu provinsi dari
kerajaan bangsa asing. Keadaan ini tidak akan berubah. Kemerdekaan Israel telah
dihapuskan. Bangsa Israel sendiri tidak begitu menghargai lagi kehidupan bersama di
tanah pusaka Kanaan. Walaupun mereka tetap merupakan satu bangsa yang diikat
oleh tanda sunat dan berpusat di Yerusalem, tempat bait Allah, namun persatuan dan
kesatuan telah berubah. Jumlah orang Yahudi yang pulang ke Yudea dibawah
pimpinan Ezra dan Nehemia 42.000 jiwa (Ezr 2:64; Neh 7:66). Mereka membangun
kembali bait Tuhan dan mengikat diri pada hukum taurat dengan menolak semua
unsur kekafiran. Pasti jumlah orang Yahudi yang tinggal diluar Palestina jauh lebh
besar. Dari kitab Ester, jelas orang Yahudi hidup tersebar di seluruh kerajaan Persia,
bukan sebagai buangan, tapi menurut kesukaan sendiri. Kehidupan berdiaspora ni
terus berlangsung, juga ketika kerajaan Persia ditaklukan dan diganti dengan kerajaan
Yunani, kemudian diganti lagi oleh kekaisaran Romawi. Mudah dimengerti betapa
sulitnya dalam diaspora itu mempertahankan posisi istimewa sebagai umat Tuhan.
Karena orang Yahudi hidup sebagai orang asing didaerah-daerah yang berbudaya
lain, berbahasa lain, dan beragama lain. Sejarah mencatat bahwa dalam banyak
bidang kehidupan, mereka menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Umpamanya
dalam bidang bahasa (Kis. 2:1-13 dan 6:1) dan kebudayaan, sementara filsafat
helenisme mempunyai dayya tarik yang besar (Kol. 2) tetapi kebanyakan orang
Yahudi tetap setia berbakti kepada Tuhan. Kendati tempat tinggal mereka jauh sekali
dari Yerusalem, biasanya mereka berkumpul pada hari sabbat di rumah ibadat
(sinagoge) yang mereka bangun dikota asing itu. Banyak pula orang Yahudi yang
berpergian ke Yerusalem, untuk merayakan hari-hari besar beragama.1
II.1.2. Helenisme
Baik bagi orang Yahudi yang berdiaspora maupun tinggal di Palestina, filsafat
helenisme merupakan bahaya besar. Oleh filsafat ini kehidupan diseluruh kerajaan
atau kekasaran disamaratakan. Bahasa umum yang dipakai yaitu bahasa Yunani, dan
semntara itu kebudayaan Yunani dianggap sebagai pola hidup yang paling utama.
Yang paling berbahaya adalah helenisme dibidang agama. Menurut helenisme semua
agama adalah sama. Bahaya yang paling mencolok ialah bahwa YAHWE, Allah
Israel, dianggap identik dan serupa dengan Zeus dan Yupiter. Inilah ancaman besar
bagi orang Yahudi dipaksa oleh raja Antiokhus IV, untuk berbakti kepada Zeus
dengan mempersembahkan kurban babi dalam bait Allah di Yerusalem. Banyak
orang Yahudi yang mematuhi paksaan ini, tetapi banyak juga yang mati martir
karena menolak paksaan itu. Sebaliknya, keberadaan dan kehadiran orang Yahudi
diantar abngsa-bangsa dalam situasi demikian cukup berpengaruh juga.2
II.1.3. Ejekan dan Harapan
Biasanya bangsa-bangsa asing diolok-olok dan dihina karena budaya,
berbahasa, dan beragama lain. Sering timbul salah pengertian antar bangsa-bangsa.
Semuanya ini adalah karena orang-orang yang bukan Yahudi tidak mengerti agama
1 H. Fenema, Injil Untuk Semua Orang, (Jakarta: Yayasan Komunkasi Bina Kasih, 2006), 134-135.
2 H. Fenema, Injil Untuk Semua Orang, 135-136.
Yahudi. Menurut mereka agama Yahudi adalah agama yang kosong, yang mereka
tolak dengan tertawa mengejek. Tetapi banyak juga orang yang kendati sangat heran
melihat agam Yahudi, namun mereka menghormati orang Yahudi. Hati mereka
tergerak oleh kesetiaan orang Yahudi kepada Allahnya. Sebagian mereka mulai
berbakti kepada Tuhan, Allah orang Yahudi itu. Meraka takut akan Allah. Artinya
mereka percaya kepada Tuhan dan ingin hidup menurut firmanNya. Orang-orang ini
disebut (dengan bahasa Yunani) Sebomenoi atau Phoboumenoi (Kis. 13:43)
diantara mereka ada pula yang ngin menjadi anak perjanjian dengan hak penuh
sehingga menerima tanda sunat dan dengan demikian menjadi sama dengan orang
Yahudi. Kelompok ini disebut Proselit. Mengenai peneriman orang kafir menjadi
penyembah Tuhan, pendapat orang Yahudi tidak sama. Secara garis besar dapat
dikatakan, bahwa orang Yahudi yang tinggal di Palestina berpendirian sangat keras.
Pemimpin-pemimpin mereka, yaitu mahkamah agama atau dewan Yahudi, fanatik
sekali menjaga kemurniaan umat Tuhan. Hukum dan adat musa jangan sekali-kali
dinajiskan. Sebaliknya, orang Yahudi yang berdiaspora agak lunak dan terbuak,
sehingga bersedia menerima orang Luar.3
II.1.4. Belum Ada Pengkabaran Injil
Masuknya orang-orangbukan Yahudi menjadi Proselit atau Sebomenos, bukan
hasil kegiatan pengkabaran injil oleh orang Yahudi. Kegiatan dibdang pengkabaran
firman Tuhan baru ada setelah lama kemudian (mat. 23:16) tapi pada permulaan
diaspora orang Yahudi tidak aktif secara misioner. Orang-orang buka Yahudi yang
ingin hdup menurut hukum Tuhan sebagai proselit biasanya datang secara spontan
karena tertarik akan keindahan agama Israel. Mereka belajar mengenal Tuhan dan
percaya kepadaNya. Rumah ibadat Yahudi bagi mereka adalah pusat pengkabaran
Firman Tuhan. Mereka diterima oleh kaum Yahudi sesuai dengan peraturan-
peraturan Allah dalam PL tentang orang asing.4
II.1.5. Septuaginta
Tidak dapat disangka bahwa orang Yahudi berusaha membuktikan keunggulan
budaya dan agama mereka mereka tidak radu menyambut agama Yahudi “agama
falsafi”. Menurut mereka ahli filsafat Yunani seperti Plato dan Arstoteles banyak
meminjam dari hukum Musa dalam menyusun filsafat mereka. Ajaran PL tidak
berbeda dari ajaran filsafat Yunani, karena dasar filsafat Yunani sebenarnya adalah
3 H. Fenema, Injil Untuk Semua Orang, 136-137.
4 Ibid, 137.
PL. Dengan jalan itu kaum Yahud berusaha menampik upaya helenisme
menyamaberatkan semua agama, juga menyamaberatkan kebudayaan kerajaan
Yunani dan kekaisaran Romawi. Mereka berusaha menyakinkan bahwa agam umum
ciptaan heenisme sama dengan agama Yahudi. Diantara kaum Yahudi sendiri timbul
gerakan melawan kelompokyang megatakan, bahwa helenisme berasal dari agama
Yahudi. Inilah salah satu alasan untuk menterjmahkan PL dalam bahsa Yunani yaitu
Septuaginta (LXX). Terjemahan ini berguna sekali untuk membuka mata dunia
Yunani helenis terhadap keindahan PL.5
Kami kelompok menyimpulkan bahwa pada zaman perjanjian bangsa Israel
berdiaspora kemana-mana dalam wilayah kerajaan-keraan yang menguasainya,
sehingga tidak merupakan kesatuan politik lagi. Tetapi kekhususannya sebagai umat
perjanjian Allah tetap dipertahankan (Orang Yahudi tetap berdiri tegak). Walaupun
orang Yahudi tidak aktif dalam PI namun banyak juga orang yang tertarik dan
mempercayai Tuhan. Nama Tuhan disiarrkan keseluruh kerajaan Yunani/Romawi.
Dengan demikian diaspora dipakai Allah untuk menyiapkan dunia bagi penggenapan
nubuat para nabi.
II.2. Yahudi
Untuk memahami sejarah bangsa Yahudi dapat dilihat pada panggilan Allah
terhadap Abraham. Hal itu karena Abrahamlah bangsa “pilihan” ini berasal. Namun
agamaYudaisme sebenarnya baru dimulai pada masa “penyebaran” (diaspora) yang
terjadi sejak 734 SM, ketika puluhan ribu orang Yahudi dibuang keluar dari tanah
kelahiran mereka. Ditanah pemuangan itulah orang-orang Yahudi yang setia pada
taurat mula merasakan kesulitan besar untuk tetap beribadah dan nenaati hukum dan
taurat mereka. Sebagian dari mereka yang dibuang, mulai tergoda untuk mengadopsi
cara-cara hidup kafir, bahkan juga agama kafir. Melihat tantangan ini sadarlah orang
Yahudi betapa berharganya kepercayaan yang mereka warisi dari nenk moyang
mereka. Oleh karena itu, mereka mulai memikiri cara mempelajar agama nenek
moyang mereka yang berisi hukum dan taurat dengan sungguh-sungguh supaya
mereka tidak dicemari oleh budaya kafir. Dari sinilah secara resmi Yudaisme lahir.
Salah seorang pelopor utama gerakan ini adalah Ezra.6
Sebelum masa penyebaran atau pembuangan, bait suci di Yerusalem (yang
dibangun raja Salomo) adalah satu-satunya pusat ibadah bagi orang Yahudi. Isi
5 H. Fenema, Injil Untuk Semua Orang, 138.
6 Harianto GP, Teologi Misi, (Yogyakarta: ANDI, 2017),212-213.
ibadah mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem secara teratur dan mengadakan
upacara korban sembelihan disana. Setelah mereka dibuang ketanah asing, mereka
tidak mungkin lagi ke bait suci untuk beribadah, apalagi setelah Yerusalem
dihancurkan (586 SM). Upacara yang mereka lakukan untuk menggantikan ibadah
adalah dengan menggiatkan kembali pengajaran tentang Hukum dan Taurat sebagai
pusat ibadah mereka yang baru. Walaupun bait suci kemudian dibangun kembali, ada
banyak orang Yahudi masih tinggal di tanah asing dan tidak kembali ke Palestina.
Bahkan ternyata lebih banyak orang Yahudiyang tinggal diluar negara mereka. Untuk
memenuhi kebutuhan rohani dan ibadah mereka, dibangunlah sinagoge-sinagoge di
kota-kota tempat orang Yahudi tinggal.7
Sejak zaman penyebaran peranan sinagoge dalam melestarikan agama dan
budaya Yahudi sangat besar. Disinilah Yudaisme bertumbuh dan mengalami
kedewasaan. Sinagoge manjadi balai sosial tempat penduduk Yahudi di kota itu
berkumpul setiap hari minggu untuk belajar tradisi dan agama Yudaisme.
Kesuksesan pemakaian umah ibadat orang Yahudi sangat mengesankan sehingga
pada waktu orang-orang Yahudi pulang ke tanah airnya, sistem ibadah di sinagoge
dibawa dan tetap dipraktikkan samapi zaman Yesus.8
II.3. Pengaruh Semua Kerajaan Atas Bangsa Yahudi
Israel maupun Yehuda bukan negara merdeka lagi. Kedua-duanya selalu
dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Persia dan Yunani. Israel menjadi
bagian dari salah satu provinsi Persia atau Yunani, sehingga posisinya sebagai umat
Tuhan terancam. Bangsa-bangsa dan agama masing-masing akhirnya dianggap sama.
Sulit bagi israel untuk mempertahankan jati dirinya sebagai khas umat perjanjian
Tuhan. Akibatnya adalah penganiayaan kalau Israel mengasingkan diri dari
keseluruhan negara. Atau Sinkretisme – percampran nama Tuhan dengan dewa-dewa
dunia – kalau Israel membuka diri dan menyesuaikan diri dengan kehidupan
masyarakat sekitarnya.9
II.4. Pengaruh Bangsa Yahudi Atas Semua Kerajaan
Posisi Israel dan nama Tuhan lama-kelamaan dikenal di seluruh daerah Timur
Tengah. Di negara-negara sekitar Israel, nama Yahwe sudah lama terkenal dan tidak
terhapuskan. Misalnya masyarakat Mesir (Kel 1-14), Yerikho, Kanaan (Yos), Filistea
7 Harianto GP, Teologi Misi, 213,214.
8 Ibid, 214.
9 H. Fenema, Injil Untuk Semua Orang, 133.
(1 Sam 4-6). Bila mendengar nama Tuhan mereka gemetar. Kini nama Tuhan tersiar
ke daerah-daerah lebih jauh. Dengan demikian bangsa-bangsa dipersiapkan untuk
pelaksanaan rencana Allah yang telah dinubuatkan oleh nabi-nabi.10
II.5. Pengertian Proselitisme
Makna Proselit secara sederhana adalah suatu golongan orang-orang non-
Yahudi yang memeluk Agama Yahudi. Orang-orang/ Kaum Proselit adalah orang
yang berganti agama, yaitu menjadi penganut agama Yahudi (Yudaisme), dan
menyunatkan diri jika ia laki-laki (Matius 23:15).
Kata Yunani: προσήλυτος - PROSÊLUTOS, kata darimana kita mengenal istilah
"proselyte" dalam bahasa Inggris, digunakan dalam Septuaginta dan juga dalam
Kitab-Kitab Yunani Kristen. Kata προσήλυτος - PROSÊLUTOS; dari dua kata: πρός
– PROS (menuju) dan ἔρχομαι- EKSOMAI (masuk ke dalam).11
Proselitisme yang berasal dari kata proselytism sering disamakan dengan
evangelisasi. Pada masa sekarang proselitisme hampir selalu mempunyai arti negatif
yaitu memaksa atau memanipulasi orang sampai mau menerima iman tertentu.12
II.6. Latar Belakang Proselitisme
Proselitisme Yahudi berkembang di abad terakhir sebelum zaman kristen dan
di abad-abad pertama tarikh masehi. Tetapi lambat laun pendapat seperti itu mulai
ditinjau berdasarkan penyelidikan yang lebih mendalam mengenai proselitisme
Yahudi. Sekaligus perlu juga diajukan perkataan Yesus Kristus yang sangat tajam
seperti yang tercantum dalam Matius 23:15 “celakalah kamu, hai ahli-ahli taurat dan
orang-orang farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan
dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut
agamamu (proselutos) dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang nerakah
(huios geennes = Ibr. Bengehinom), yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.
Itulah sebabnya terdapat golongan Yahudi yang tidak memperlihatkan kegiatan
misioner atau propagandis sama sekali. Sudah tentu saja kedatangan bangsa-bangsa
dinantikan, tetapi pengharapan itu berpokok pada kemuliaan Sion, Israel, Torah.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa disini Israellah yang menjadi pusat dunia. Alat
keselamatan dalam tangan Tuhan berubah menjadi tujuan keselamatan. Akibat
perkembangan yang demikian itu, maka kalangan Yahudi menjadi bersifat sangat
10 Ibid, 133.
11 http:://[Link]/[Link] diakses pada hari selasa 1 okt 2019 pukul
11.27 Wib.
12 Gerald O’Collins, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 266.
partikularis/nasionalis. Itu memang sifatnya satu pihak. Tetap dipihak lain, sebagian
umat Yahudi dizaman sebelum Kristus memperlihatkan kegiatan yang bukan main
besarnya untuk mencari proselit. Umat Israel pada zaman PL mengenal dua macam
orang asing.
1. Orang asing yang berasal dari luar negeri yang hanya untuk sementara
waktu berada ditanah Palestina sebagai tamu (Ibr. Nokri).
2. Orang asing yang menetap ditengah-tengah orang-orang Israel, yang
tinggal tetap bersama mereka; dialah yang dimaksudkan orang asingmu
yang ada di dalam kotamu (Kel.20:10) (Ibr. ger). Golongan yang kedua ini
yang terutama terdiri dari penduduk Kanaan asli yang tidak dimusnahkan
(Hak.1) dapat diterima dalam persekutuan kebangsaan Israel. Penerimaan
itu menjamin perlindungan hak mereka dan juga membawa bagi mereka
beberapa kewajiban dibidang sosial dan keagamaan. Mereka boleh
mempersembahkan kurban (Im.17:8) bahkan mereka berhak merayakan
hari paskah bersama-sama dengan orang Israel, asal saja disunat lebih
dahulu (kel.12:48).13
Garis inilah yang merupakan latar belakang untuk proselitisme Yahudi.
II.7. Misi Kepada Bangsa-bangsa Non Yahudi14
Paulus dikenal sebagai “rasul untuk bangsa kafir” yang artinya misionaris bagi
bangsa-bangsa non-Yahudi, dimulai dari pernyataan Paulus sendiri bahwa ia
mengarah pada bangsa-bangsa non-Yahudi (Kis. 13:46-47). Johny The menyatakan
ada dua alasan yang dikemukakan Paulus dalam ayat-ayat dia atas sehingga ia
memalingkan pelayanannya kepada orang Yahudi. Pertama, bangsa Israel menolak
dan mengeraskan hati. Mereka penuh iri hati dan sambil menghujat mereka
membantah apa yang dikatakan Paulus (Kis. 13:45). Kedua, perintah Tuhan agar ia
menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah supaya ia membawa
keselamatan sampai ke ujung bumi. Penolakan orang Yahudi terhadap pelayanan
paulus justru mempertajam panggilannya dan tujuannya untuk menjangkau bangsa-
bansga lain.
13 Arie De Kuiper, Misiologia, (Jakarta: BPK GM, 2018), 27-30.
14 Johny The, Belajar dari Paulus Menjadi Pemimpin Kristen Yang Unggul, (Yogyakarta: Yayasan Andi,
2006).
Allah, dalam hikmat dan kemahatahuan-Nya, telah menentukan Paulus untuk
menjadi alat-Nya untuk menjangkau bangsa lain. Injil harus diberitakan melintasi
batas-bats suku, bangsa, budaya dan negara samapai ke ujung bumi (Kis.1:8). Namun
tampaknya rasul-rasul lain dan para Pemimpin Kristen pada saat itu masih kesulitan
untuk melepaskan diri dari kelompok-kelompo Yudaisme. Ada tiga golongan
Yakobus, yang sangat keras mempertahankan adatnya (Kis. 15:1, 13-21; Gal.2:12).
Kelompok Petrus sudah lebih terbuka terhadap bangsa lain tetapi kadang-kadang
masih terpengaruh oleh sikap oarang Yahudi garis keras (Gal. 2:11-14). Disamping
itu masih berkembang kelompok-kelompok lain seperti:
1. Golongan Paulus
Golongan ini berlatar belakang suka menganiaya orang Kristen tetapi
sudah ditobatkan oleh Rasul Paulus. Mereka tidak menekankan karunia
bahsa lidah tetapi tidak melarangnya. Mereka hanya mengakui Paulus
sebagai nabi dan pemimpin mereka.
2. Golongan Kayafas
Golongan ini berlatar belakang pengiut ajaran Musa yang sangat bangga
sebagai bangsa Ibrani. Mereka merasa sebagai bangsa yang terpilih tinggi
dari bangsa-bangsa lain.
3. Golongan Apolos
Golongan ini sangat memuja Rasul Apolos. Mereka berlatar belakang
sebagai penduduk di sekitar laut Tengah. Mereka sangat menentang
karunia bahasa lidah dan melarang menggunakannya apalagi dalam ibadah
atau kebaktian.
4. Golongan Kristus
Kelompok ini mempunyai latar belakang kehidupan orang Yunani yang
bertobat. Mereka makan persembahan berhala. Mereka menentang
golongan-golongan lain yang termasuk “garis keras”.
II.8. Misi Orang-orang Yahudi Diaspora
1. Orang-orang Yahudi membangun sinagoge-sinagoge yang merupakan tempat
untuk beribadah, berdoa, belajar, dan mengajarkan Firman Tuhan. Sinagoge juga
terbuka untuk orang-orang Non-Yahudi yang ingn mendengar Firman Allah serta
taurat Musa
2. Terjemahan septuagginta tahun 70 SM
2.9. Israel dan Proselitisme
Didalam septuaginta ger disalin dengan proselutos (orang baru yang masuk
agama yang datang untuk turut serta, yang bertobat). Yang dimaksud ialah orang
yang memeluk agama Yahudi terutama dalam diaspora tampaklah aktivitas yang
sangat kuat untuk memperoleh anggota-anggota baru dengan segala upa daya.
Dalam rangka ini orang-orang Yahudi didalam diaspora berusaha sekuat tenaga
mengajak orang-orang asing menjadi proselit. Dari mereka tidak dituntut sewaktu
perpindahan nasional atau sosiologi, melainkan perpindahan agama saja. Bahkan
banyak sekali orang Yahudi merasa bahwa halangan yang paling besar yakni
penyunatan, boleh dilampaui saja. Jalan yang berat, yakni penerimaan segenap kuk
hukum taurat, diringankan bagi orang kafir, sehingga mereka berminat boleh masuk
golongan sebomenoi. Jumlah mereka jauh melebihi jumlah orang proselit sungguh-
sungguh. Mereka tidak dianggap sama sebagai orang Yahudi. Yang terutama bagi
mereka ialah pengakuan akan Allah yang benar dan Esa dan ketaatan kepada
tuntutan etis dari PL, dan ikut sertanya mereka dalam kebaktian di Sinagoge.
Malahan mereka dianggap sebagai makna yang tersembunyi dari perserakan
kemana-mana (diaspora).15
Beralinan sekali sikap umat Yahudi di Palestina sendiri yang jauh lebih keras.
Umumnya dituntut penerimaan kuk hukum taurat, artinya masuk proselit sungguh-
sungguh. Jadi tak mungkin orang masuk ke dalam persekutuan orang Yahudi,
kecuali melalui sunat. Dalam cerita itu, tampak perbedaan sikap orang Yahudi
didalam diaspora dan di Palestina. Proselitisme dianggap sebagai suatu usaha yang
berjasa “barangsiapa membuat orang kafir kenal kepada Allah, ia seakan-akan
mebuatnya menjadi pencipta baru” syarat-syarat harus dipenuhi ada tiga: sunat,
babtisan proselit, dan persembahan kurban. Barangsiapa memenuhi tiga syarat itu, ia
diterima sebagai orang Yahudi. Ia diberi gelar ben-berith (anak perjanjian). Ia dipuji
sebagai ger tsedeq (proselit sungguh) yang dengan sukarela hanya karena Allah
datang menerima kuk hukum. Hidup kekafirannya, seperti sedia kala, telah
diampuni. Ada yang berkata bahwa para proselit itu lebih berjasa daripada orang
Yahudi sendiri sebab mereka tidak melihat tanda-tanda ajaib pada waktu bangsa
Israel keluar dari Mesir. Namun demikian, seorang proselit tidak boleh menyebut
Abraham “bapa kita” melainkan “bapa Israel”. Abraham dipuji sebagai bapa segala
proselit, bahkan dia sendiri yang pertama menjadi proselit dan mencari orang-orang
lain untuk membuatnya menjadi proselit juga. Sudah tentu ada bahaya dalam
15 Arie De Kuiper, Misiologia, 30-32.
timbulnya proselit palsu. Juga golongan yang takut kepada Allah sebagai orang yang
bukan Yahudi. Tapi mereka menganggap lebih baik daripada orang kafir (bangsa-
bangsa lain). Oleh karena mereka mengikuti apa yang disebut ketuju perintah anak-
anak Nuh.16
III. KESIMPULAN
Pembuangan Israel drastis mengubah keadaan israel. Sejak zaman itu Israel tidak
merupakan “kesatuan politik” lagi. Artinya, tidak merupak satu negara, satu bahasa, satu
kebudayaan. Sebaliknya, Israel dikuasai oleh bangsa lain: Asyur, Babel, Persia, Yunani,
Keadaan ini tidak akan berubah. Kemerdekaan Israel telah [Link] timbul
salah pengertian antar bangsa-bangsa. Semuanya ini adalah karena orang-orang yang
bukan Yahudi tidak mengerti agama Yahudi. Menurut mereka agama Yahudi adalah
agama yang kosong, yang mereka tolak dengan tertawa mengejek. Tetapi banyak juga
orang yang kendati sangat heran melihat agam Yahudi, namun mereka menghormati
orang Yahudi. Hati mereka tergerak oleh kesetiaan orang Yahudi kepada
[Link] orang-orangbukan Yahudi menjadi Proselit atau Sebomenos, bukan
hasil kegiatan pengkabaran injil oleh orang Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi yang
ingin hidup menurut hukum Tuhan sebagai proselit biasanya datang secara spontan
karena tertarik akan keindahan agama Israel.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Fenema, [Link] Untuk Semua Orang,. Jakarta: Yayasan Komunkasi Bina Kasih, 2006.
GP, Harianto. Teologi Misi. Yogyakarta: ANDI, 2017.
O’Collins, Gerald. Kamus Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Kuiper, Arie De. Misiologia. Jakarta: BPK GM, 2018.
The, Johny. Belajar dari Paulus Menjadi Pemimpin Kristen Yang Unggul. Yogyakarta:
Yayasan Andi, 2006.
Sumber Lain:
http:://[Link]/[Link] diakses pada hari selasa 1 okt
2019 pukul 11.27 Wib.
16 Ibid, 33-34.