0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan66 halaman

Riset Akuntansi: Pendekatan dan Tren

Riset akuntansi merupakan upaya untuk mencari kebenaran di bidang akuntansi dengan menggunakan berbagai metode penelitian seperti kuantitatif, kualitatif, atau campuran keduanya. Ruang lingkup penelitian akuntansi meliputi akuntansi keuangan, manajemen, pasar modal, perpajakan, auditing, sistem informasi, dan topik-topik baru. Riset akuntansi dapat dilakukan dengan berbagai paradigma seperti fungsionalis, interpretat

Diunggah oleh

Ressa Lini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan66 halaman

Riset Akuntansi: Pendekatan dan Tren

Riset akuntansi merupakan upaya untuk mencari kebenaran di bidang akuntansi dengan menggunakan berbagai metode penelitian seperti kuantitatif, kualitatif, atau campuran keduanya. Ruang lingkup penelitian akuntansi meliputi akuntansi keuangan, manajemen, pasar modal, perpajakan, auditing, sistem informasi, dan topik-topik baru. Riset akuntansi dapat dilakukan dengan berbagai paradigma seperti fungsionalis, interpretat

Diunggah oleh

Ressa Lini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RISET AKUNTANSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi
Keuangan Kelas F

Dosen: Dr. Taufeni Taufik, [Link], Ak, CA

Disusun Oleh:
Julia Nurastrina
Rahayu
Ressa Lini 1702122936

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS RIAU
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Subhanahuwa ta’ala atas semua karunia, rahmat,
nikmat, dan kekuatan yang telah diberikan kepada penulis hingga akhirnya dapat
menyelesaikan tugas penulisan makalah yang berjudul “RISET AKUNTANSI”.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Teori Akuntansi Keuangan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta memiliki kekurangan dan kelemahan
dari segi penulisan, tata bahasa, dan penyusunan. Untuk itu, penulis menerima segala
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan semoga apa yang tertuang dalam makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan terimakasih atas kritik dan saran
serta masukan yang telah diberikan untuk kesempurnaan makalah ini.

Pekanbaru, 15 Februari 2020


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................2
BAB II: PEMBAHASAN..............................................................................................3
2.1 Penelitian di Bidang Akuntansi......................................................................3
2.1.1 Kerangka Kerja Burrell dan Morgan.......................................................3
2.1.2 Pandangan Fungsionalis dalam Akuntansi..............................................7
2.1.3 Pandangan Interpretatif dalam Akuntansi.............................................10
2.1.4 Pandangan Humanis Radikal dalam Akuntansi.....................................12
2.1.5 Pandangan Strukturalis Radikal dalam Akuntansi................................15
2.2 Ruang Lingkup Penelitian Akuntansi...........................................................18
2.2.1 Konsentrasi Akuntansi Keuangan.........................................................18
2.2.2 Akuntansi Manajemen...........................................................................20
2.2.3 Akuntansi Pasar Modal..........................................................................21
2.2.4 Akuntansi Perpajakan............................................................................21
2.2.5 Auditing.................................................................................................22
2.2.6 Sistem Informasi  Akuntansi.................................................................22
2.2.7 Tren Akuntansi......................................................................................22
2.2.8 Topik Lain.............................................................................................23
2.3 Riset Akuntansi Multiparadigma..................................................................25
2.4 Trend Riset Akuntansi..................................................................................27
2.4.1 Megatrends 2010...................................................................................30
2.4.2 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi.................................................31
2.4.3 Akuntansi Perilaku................................................................................40
2.4.4 Multidicipline Paradigm........................................................................44

ii
2.4.5 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan.........................................47
2.4.6 Akuntansi sebagai Alat Ukur.................................................................47
2.4.7 Perlunya Akuntansi Lingkungan...........................................................48
2.4.8 Kesulitan pengukuran............................................................................49
2.4.9 Penyajian...............................................................................................49
2.4.10 Kegagalan Efficient Market Hypothesis................................................50
BAB III: PENUTUP....................................................................................................52
3.1 Kesimpulan...................................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................53

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Riset akuntansi adalah upaya yang dilakukan untuk mencari kebenaran di


bidang akuntansi. Hasil riset ini merupakan penyambung antara fenomena sosial di
bidang akuntansi dengan struktur teori akuntansi. Fenomena sosial itu dituangkan
dalam berbagai bentuk “statement ilmiah”, sehingga menjadi teori. Teori ini bisa
menjelaskan tentang kebenaran yang sudah ada (deskriptif), mendukung teori yang
ada (justifikasi), mengingkari kebenaran yang sudah lama (refute), atau ingin
melahirkan teori baru.

Pada awalnya, proses mencari kebenaran dimulai dari cara dogmatis, di mana
kebenaran ini berasal dari orang atau pihak yang diberi dan diyakini memiliki otoritas
menetapkan kebenaran. Kemudian, cara ini berkembang dan menggunakan cara
normatif dengan menggunakan logika ilmiah. Lalu, berkembang dan kemudian
menggunakan metode empiris dengan titik berat melihat kenyataan yang ada di
lapangan (fenomena sosial). Perkembangan ilmu akuntansi yang demikian cepat
akhir-akhir ini didasarkan pada proses penelitian ini. Berbagai teori muncul,
mengingkari kebenaran teori lama, dan teori baru dibangun.

Ada beberapa metode penelitian yang dipakai dalam suatu penelitian. Dalam
ilmu sosial itu sendiri, metode penelitian yang digunakan memiliki perbedaan,
misalnya antara ilmu antorpologi dengan ekonomi, dengan sosiologi, dengan
manajemen, dan sebagainya. Dalam menentukan metode penelitian ini ukuran yang

1
terbaik yang akan dipakai adalah masalah apa yang akan dijawab. Secara garis besar,
ada tiga cara yang dipilih, yaitu:

1. Metode kuantitatif, yaitu menggunakan rumus statistik dalam


mengidentifikasi dan mengolah variabel yang muncul dari problem yang
akan dijawab. Metode ini tepat jika variabel atau permasalahan yang akan
diteliti dapat diukur, dikuantitatifkan, data yang akan diperlukan tersedia
dan dapat dibuktikan.
2. Metode kualitatif, yaitu menggunakan narasi dan penguraian tentang
variabel yang akan dibahas tanpa harus melakukan pengukuran. Hal ini
cocok untuk membahas topik-topik yang sulit menentukan indikator
kuantitatif atau mengukur variabelnya, data belum tersedia, dan teorinya
belum dapat dibuktikan.
3. Campuran kuantitatif dan[ CITATION Ahm07 \l 1057 ][ CITATION
Arf08 \l 1057 ] kualitatif, metode ini menggabungkan dua metode
sebelumnya, yaitu sebagian menggunakan metode kuantitatif dan sebagian
lagi menggunakan metode kualitatif.

Metode penelitian digolongkan dalam berbagai cara, misalnya deduktif,


induktif, positif, deskriptif, historis, empiris, laboratorium, interview, observasi, studi
kasus, dan lain sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana penelitian di bidang akuntansi?
2. Apa saja ruang lingkup penelitian akuntansi?
3. Bagaimana riset akuntansi multiparadigma?
4. Bagaimana trend riset dalam bidang akuntansi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui penelitian di bidang akuntansi.
2. Untuk mengetahui apa saja ruang lingkup agensi.
3. Untuk mengetahui tentang riset akuntansi multiparadigma.

2
4. Untuk mengetahui tentang trend riset dalam bidang akuntansi.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penelitian di Bidang Akuntansi

Penelitian akuntansi dapat memiliki banyak ragam dan pilihan. Bagi orang
awam, penelitian akuntansi tampak seperti mengalami kesulitan dalam mencari topik,
metodologi, dan jenis wacananya. Kenyataannya ternyata sangat berbeda. Seperti
ilmu sosial lainnya, akuntansi melakukan penelitiannya dengan didasarkan pada
asumsi-asumsi yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu sosial dan hakikat dari
masyarakat. Sebuah pendekatan yang telah diterapkan oleh Burrell dan Morgan
dalam analisis organisasional dapat digunakan untuk membedakan empat pandangan
penelitian dalam akuntansi, yaitu pandangan fungsional, pandangan interpretatif,
pandangan humanis radikal, dan pandangan strukturalis radikal. Dalam bagian ini,
keempat pandangan tersebut akan dibahas dan diterapkan pada penelitian akuntansi.

2.1.1 Kerangka Kerja Burrell dan Morgan

1. Hakikat dari ilmu sosial


Terdapat empat asumsi yang dibahas dalam kaitannya dengan hakikat
dari ilmu sosial, yaitu ontologi, epistemologi, sifat manusia, dan
metodologi. Asumsi-asumsi ini juga dapat dipikirkan dari segi dimensi
subjektif-objektif.
Pertama, asumsi ontologis, berhubungan dengan esensi paling
mendasar dari fenomena akuntansi, yang melibatkan perbedaan-perbedaan
nominalisme-realisme. Perdebatan yang terjadi adalah apakah alam sosial
yang berada di luar kesadaran individu adalah merupakan suatu
penggabungan nama-nama asli, konsep, dan judul yang merupakan

4
struktur pada kenyataan seperti dalam nominalisme, atau apakah ia
merupakan penggabungan dari struktur-struktur yang nyata, faktual, dan
berwujud seperti dalam realisme.
Kedua, perdebatan tentang epistemologis, yang berkaitan dengan dasar
pengetahuan dan hakikat pengetahuan, melibatkan debat antipositivisme-
positivisme. Perdebatan ini berfokus pada kegunaan dari pencarian hukum
atau keteraturan yang menjadi dasar dalam bidang sosial. Positivisme
mendukung kegunaan ini. Antipositivisme menyangkalnya dan
membantah dengan menyatakan partisipasi individual sebagai salah satu
persyaratan untuk memahami alam sosial.
Ketiga, perdebatan sifat manusia, berkaitan dengan hubungan antar
manusia dan lingkungannya, yang melibatkan perdebatan voluntarisme-
determinisme. Perdebatan ini berfokus pada apakah manusia dan
aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan seperti yang
dikemukakan oleh determinisme, atau merupakan hasil keinginan mereka
sendiri seperti dalam voluntarisme.
Keempat, perdebatan mengenai metodologi, yang berkaitan dengan
metode-metode yang digunakan untuk melakukan penyelidikan dan
mempelajari alam sosial, melibatkan perdebatan ideografis-nometis.
Perdebatan ini berfokus pada apakah metodologi yang terlibat dalam
analisis perkiraan-perkiraan subjektif diperoleh melalui partisipasi atau
ikut terlibat langsung dalam situasi seperti yang terdapat dalam metode
ideografis, atau apakah ia melibatkan suatu pengujian atas hipotesis secara
ilmiah dan teliti seperti yang terdapat dalam metode nometis.

2. Hakikat dari masyarakat


Telah dibuat satu asumsi mengenai hakikat masyarakat—yaitu,
perdebatan susunan-konflik, atau lebih tepat lagi, perdebatan regulasi-

5
perubahan radikal. Sosiologi regulasi (sociology of regulation) mencoba
untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada kesatuan dan
keterpaduannya serta perlunya diberikan suatu regulasi. Sosiologi
perubahan radikal (sociology of radical change) sebaliknya, mencoba
untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada perubahan radikal,
konflik struktural mendalam, cara-cara pendominasian, dan pertentangan
struktural yang terjadi pada masyarakat modern. Seperti yang telah
disoroti oleh Burrell dan Morgan, sosiologi regulasi berkaitan dengan
status quo, tatanan sosial, konsensus, integrasi dan kohesi sosial,
solidaritas, perlunya rasa kepuasan dan aktualisasi, sedangkan sosiologi
perubahan radikal berkaitan dengan perubahan radikal, konflik struktural,
cara-cara pendominasian, pertentangan, emansipasi, perampasan hak dan
potensialitas.

3. Kerangka kerja untuk analisis penelitian


Seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap disiplin ilmu sosial,
termasuk akuntansi, dapat dianalisis berdasarkan suatu asumsi
metateoretis mengenai hakikat dari ilmu pengetahuan, dimensi subjektif-
objektif, dan mengenai hakikat dari masyarakat, dimensi regulasi
perubahan radikal. Dengan menggunakan kedua dimensi ini, Burrell dan
Morgan mampu mengembangkan suatu skema yang koheren untuk
melakukan analisis atas teori sosial secara umum dan analisis
organisasional secara khusus. Skema ini terdiri atas empat paradigma yang
berbeda dan diberi nama sebagai (1) humanis radikal, yang ditandai oleh
perubahan radikal dan dimensi subjektif; (2) strukturalis radikal, yang
ditandai oleh perubahan radikal dan dimensi objektif; (3) interpretatif,
yang ditandai oleh dimensi subjektif dan regulasi; dan (4) fungsionalis,
yang ditandai oleh dimensi objektif dan regulasi. Kerangka kerja ini
digambarkan dalam Gambar 2.1. Kerangka ini membentuk empat

6
pandangan mengenai realitas yang digunkan untuk menganalisis beragam
teori-teori sosial termasuk di antaranya akuntansi.

Perubahan radikal

Humanis Strukturalis

radikal radikal

Pandangan Pandangan

subjektif objektif
Interpretatif Fungsionalis

Keteraturan

7
Gambar 2.1 Empat Pandangan dari analisis teori sosial

Seperti yang dinyatakan oleh Burrell dan Morgan:


Mengingat adanya kaitan persilangan antara tradisi-tradisi
intelektual yang saling bermusuhan, tampak jelas bagi kita
bahwa dua perangkat asumsi dapat ditantang baik untuk
menghasilkan suatu skema analitis yang dapat digunakan untuk
mempelajari teori-teori sosial secara umum, kita menemukan
bahwa kita memiliki suatu alat yang sangat kuat dalam
menegosiasikan jalan yang harus kita tempuh melalui berbagai
bidang subjek yang berbeda, dan alat yang dapat menjelaskan
banyak kebingungan yang menjadi ciri-ciri dari kebanyakan
perdebatan kontemporer yang terjadi dalam ilmu-ilmu sosial.

Sebagai contoh, kerangka kerja yang digunakan oleh Morgan untuk


memeriksa bagaimana teori organisasional dipengaruhi oleh asumsi-
asumsinya sendiri dengan melalui referensi kepada paradigma, metafora, dan
perilaku pemecahan teka-teki.
2.1.2 Pandangan Fungsionalis dalam Akuntansi

Pandangan fungsionalis sering disebut juga dengan fungsionalis struktural


(structural functionalist) atau kontijensi rasional (rational contigency). Pandangan ini
merupakan pandangan yang umum dan bahkan sangat dominan digunakan dalam
riset akuntansi dibandingkan dengan pandangan yang lain, sehingga sering juga
disebut dengan pandangan utama (mainstream paradigm). Secara ontologi,
paradigma utama ini sangat dipengaruhi oleh realitas fisik yang menganggap bahwa
realitas obyektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia. Realitas
diukur, dianalisis, dan digambarkan secara objektif. Konsekuensinya adalah adanya

8
jarak antara objek dan subyek. Dalam kaitannya dengan akuntansi manajemen dan
sistem pengendalian. Macintosh (1994) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008)
menyatakan bahwa fungsionalis mengasumsikan suatu sistem sosial dalam organisasi
yang meliputi fenomena empiris dan konkret, yang keberadaannya bebas dari manajer
dan karyawan yang bekerja didalamnya.

Pandangan fungsionalis dalam akuntansi melihat fenomena akuntansi sebagai


hubungan dunia nyata yang konkret yang memiliki keberaturan dan hubungan sebab
akibat yang dapat diterima dengan disertai penjelasan dan peramalan ilmiah. Peneliti
akuntansi utama sangat percaya bahwa satu-satunya metode yang dapat digunakan
untuk membangun ilmu pengetahuan akuntansi adalah metode ilmiah. Suatu
penjelasan dikatakan ilmiah apabila memenuhi tiga komponen, yaitu:

1. Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip umum atau hukum


2. Terdapat pra kondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataan-
pernyataan hasil observasi
3. Ada satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang dijelaskan

Seperti dalam fungsionalisme struktural, paradigma fungsional dalam


akuntansi berfokus pada penetapan fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh akuntansi
untuk menjalankan operasi organisasi secara efektif. Fungsi-fungsi ini adalah
“prasyarat fungsional” atau “keharusan fungsional” dari adaptasi, pencapaian sasaran,
integrasi dan latensi atau pemeliharaan pola. Untuk mencapai keharusan-keharusan
tersebut, maka didefinisikanlah struktur-struktur atau elemen-elemen dari akuntansi.

Seperti dalam teori sistem, paradigma fungsionalis dalam akuntansi berfokus


pada baik pencarian representasi analogis dari sistem akuntansi maupun suatu analisis
sistem. Sedangkan interaksionisme dengan fokusnya pada hubungan dan interaksi
dengan manusia diekspresikan dalam bentuk akuntansi keperilakuan.

9
Objektivisme dengan komitmennya kepada model dan metode yang
digunakan dalam ilmu-ilmu alam adalah cara utama dalam penelitian dan pembuatan
teori akuntansi. Bahkan, empirisme abstrak sebagai suatu judul cocok sekali dengan
kebanyakan penelitian akuntansi empiris yang telah diterbitkan. Terdapat suatu
desakan yang pasti untuk mengembangkan sebuah model yang mendalam dari
fenomena akuntansi di tengah-tengah absennya variabel-variabel yang
membingungkan dan ketergantungan metodologis pada metode-metode hipotesis
deduktif.

Metodologi riset yang digunakan oleh para fungsionalis mengikuti metodologi


yang digunakan dalam ilmu alam. Penganut aliran ini melakukan deskripsi atas
variabel, membangun dan menyatakan hipotesis, mengumpulkan data kuantitatif, dan
melakukan analisa secara statistika (Macintosh 1994, dalam Ikhsan dan Suprasto
2008:331). Beberapa riset empiris dalam akuntansi keperilakuan yang menggunakan
pendekatan paradigma fungsionalis ini (menggunakan pengumpulan data
survei/kuisioner dan analisa statistik) dijelaskan oleh Dillard dan Becker dengan isu
risetnya, antara lain: Govindarajan dan Gupta (1985), menemukan hubungan antara
sistem pengendalian dan strategi SBU dengan kinerja. Macintosh dan William
(1992) memfokuskan pada peranan manajerial dan perilaku penganggaran, dan
mereka menemukan bahwa beberapa manajer menggunakan sistem penganggaran
dengan cara-cara strategis dan beberapa menggunakan cara-cara yang umum.
Merchant (1995) menggunakan kuisioner dan interview yang tidak terstruktur untuk
menguji bagaimana keputusan program diskreasioner dikontrol secara bervariasi dan
menghasilkan beberapa tindakan yang diharapkan dan tidak diharapkan serta dia
menyarankan bahwa studi lapangan akan lebih bermanfaat dalam riset-riset
organisasi; dan Hirst dan Baxter (1993) yang menggunakan studi kasus dalam
menganalis proses pemilihan dan peranan informasi dalam penganggaran modal,
serta menyimpulkan bahwa infromasi mempunyai banyak peranan dan tidak ada
satupun model pilihan yang menyajikan suatu penjelasan perilaku yang cukup
memuaskan.

10
Beberapa kelemahan metodologi pandangan fungsionalis dalam riset
akuntansi, terutama akuntansi keperilakuan mulai dirasakan oleh peneliti akuntansi
lainnya. Mereka mulai mempertanyakan apakah pandangan ontologi realitas fisik
tepat untuk memahami fenomena sosial? Capra (1998) dalam Ikhsan dan Suprasto
(2008) mengatakan bahwa:

“...ilmuwan sosial telah mencoba dengan sangat keras untuk memperoleh


kehormatan dengan cara mengadopsi paradigma ala Descartes dan metode-
metode fisika ala Newton (yang sangat mekanistis). Meskipun demikian,
kerangka ala Descartes seringkali sangat tidak sesuai untuk fenomena-
fenomena yang mereka gambarkan dan akibatnya model-model mereka telah
menjadi semakin tidak realistis”.

”...ekonomi termasuk akuntansi saat ini ditandai dengan pendekatan


reduksionis dan terpecah-pecah.... Para ahli ekonomi termasuk akuntansi
biasanya gagal mengetahui bahwa ekonomi termasuk akuntansi hanyalah satu
aspek dari suatu keseluruhan susunan ekologis dan sosial, suatu sistem hidup
yang terdiri dari manusia dalam interaksinya yang terus menerus”.

Sedangkan Wahyudi (1999) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008) menyatakan


bahwa pemikiran akuntansi utama tidak memberikan perhatian pada perdebatan
filosofi antara pemikiran Popper, Lakatos, Kuhn, dan Feyerbend. Masalah lain yang
timbul dari pemikiran akuntansi utama adalah pertanyaan dari peneliti akuntansi
tentang relevansi filosofi ilmu alam (natural science) sebagai dasar metodologi riset
akuntansi yang seharusnya lebih banyak mendekati pada ilmu sosial. Kelemahan
metode utama tersebut, menyebabkan para pemikir akuntansi mulai mencari metode-
metode lain (metode alternatif) yang dapat secara tepat digunakan oleh akuntansi
dalam memecahkan masalah-masalah sosial.

11
2.1.3 Pandangan Interpretatif dalam Akuntansi

Pandangan interpretatif juga disebut dengan interaksionis subjektif (subjective


interactionist). Pandangan alternatif ini berasal dari filsof jerman yang
menitikberatkan pada peranan bahasa, interpretasi, dan pemahaman dalam ilmu
sosial. Sedangkan menurut Burrell dan Morgan pandangan ini menggunakan cara
pandang para nominalis yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya
merupakan label, nama, atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas, dan
tidak ada sesuatu yang nyata, melaimkan hanyalah penamaan atas sesuatu yang
diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu sendiri. Dengan
demikian, realitas sosial merupakan sesuatu yang berada dalam diri manusia itu
sendiri, sehingga bersifat subjektif bukan objektif sebagaimana yang dipahami oleh
pandangan fungsionalis. Pandangan ini memfokuskan pada sifat subjektif dunia sosial
dan berusaha untuk memahami kerangka berfikir objek yang sedang dipelajarinya.
Fokusnya ada pada diri individu dan persepsi manusia terhadap realitas, dan bukan
pada realitas independen dluar mereka. Bagi pandangan interpretatif ini, ilmu
pengetahuan tidak digunakan untuk menjelaskan (to explain) dan memprediksi (to
predict) namun untuk memahami (to understand) (Iwan 2000, dalam Ikhsan dan
Suprasto 2008).

Berkaitan dengan sistem pengendalian dan akuntansi manajemen, menurut


Macintosh (1994) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008), terdapat dua perbedaan antara
pendekatan fungsionalis dengan pendekatan interpretatif. Perbedaan pertama adalah
pada interpretatif yang memusatkan perhatian tidak hanya pada bagaimana membuat
perusahaan dengan baik, tetapi juga bagaimana menghasilkan pemahaman yang luas
dan mendalam mengenai bagaimana manajer dan karyawan dalam organisasi
memahami akuntansi, berpikir tentang akuntansi, serta berinteraksi dan menggunakan
akuntansi. Perbedaan kedua adalah bahwa para interaksionis tidak percaya dengan
keberadaan realitas organisasi yang tunggal, konkrit, atau situasi yang ditafsirkan
organisasi dengan caranya masing-masing. Yang lebih penting lagi adalah

12
pemahaman mereka menjadi nyata karena mereka bertindak untuk suatu peristiwa
dan situasi atas dasar makna pribadinya.

Pandangan interpretatif memasukkan aliran etnometodologi


(ethnomethodology) dan interaksionisme simbolis fenomenologis (phenomenological
symbolic interactionism) yang didasarkan pada aliran sosiologis, hermenetis, dan
fenomenologis. Fenomenologis, jika diterapkan pada akuntansi, akan mencoba untuk
menampakkan secara eksplisit, “esensi-esensi” yang tidak dapat ditunjukkan oleh
pengamatan positivis biasa. Paradigma interpretatif dalam akuntansi, meskipun masih
sangat muda, telah berfokus pada:

1. kemampuan dari informasi untuk “membentuk kenyataan”


2. Peran dari akuntansi, sebagai sebuah alat “linguistik”
3. Peran-peran dan gambaran lain yang dapat dilaksanakan oleh akuntansi

Tujuan pandangan interpretatif ini adalah untuk menganalisis realitas sosial


dan bagaimana realitas sosial tersebut terbentuk. Terdapat aliran riset dengan
pendekatan interpretatif ini, yaitu:

1. Tradisional, yang menekankan pada penggunaan studi kasus, wawancara


lapangan, dan analisis historis.
2. Metode foucauldian, yang menganut teori sosial sosial dari Michel
Foucault, sebagai pengganti konsep tradisional historis yang disebut
dengan “ahistorical” atau “antiquarian”.

Bagi para interpretatis, akuntansi tidak lebih dari hanya sekedar nama, konsep,
dan label yang digunakan untuk membuat suatu kenyataan sosial. Ia hanya dapat
dimengerti dari sudut pandang pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan,
komunikasi, dan penggunaannya. Secara metodologis, metode-metode ideografis dan

13
bukannya metode hipotesis-deduktiflah yang dibutuhkan untuk menghidupkan
kembali definisi pelaksana atas masalah.

Oleh karenanya, asumsi-asumsi yang dominan dari pandangan interpretatif


dalam akuntansi hendaknya adalah:

a. Percaya pada Pengetahuan


Penjelasan ilmiah yang dicari oleh maksud manusia. Kecukupan mereka
dinilai melalui kriteria konsistensi logis, interpretasi subjektif dan
persetujuan dengan interpretasi akal sehat si pelaksana.
b. Percaya pada Kenyataan Fisik dan Sosial
Kenyataan sosial adalah suatu hal yang akan segera terjadi, diciptakan
secara subjektif, dan diobjektifikasi melalui interaksi manusia. Seluruh
perbuatan mempunyai arti dan maksud yang secara retrospektif diberkahi
dan didasarkan atas praktik-praktik sosial dan historis. Tatanan sosial
sudah dipastikan. Konflik diatasi melalui skema-skema umum yang
memiliki arti sosial.
c. Hubungan antara Teori dan Praktik
Teori mencoba untuk menjelaskan tindakan dan untuk memahami
bagaimana tatanan sosial diciptakan dan diciptakan kembali.

Meskipun pendekatan interpretatif bukanlah suatu hal yang utama dalam


akuntansi, ia memiliki tiga keterbatasan besar: (1) pendekatan ini berasumsi bahwa
seorang pengamat “quasidivine” dapat memahami tindakan sosial hanya melalui
subjektivitas saja dan tanpa interferensi; (2) menciptakan sebuah ilusi mengenai ilmu
yang murni dengan menggunakan garis pemikiran secara monologis; dan (3) gagal
menjadi penuntut perubahan.

14
Beberapa argumentasi teoritis pandangan interpretatif dalam akuntansi
keperilakuan yang dijelaskan oleh Dilard dan Becker dikemukankan oleh Morgan
(1998), Gambling (1987), Hayes (1983), Colville (1981), Tomskin dan Groves
(1983), Robert dan Scapens (1985), Covaleski dan Dirsmith (1990). Studi empiris
dalam bidang akuntansi yang telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
interpretatif ini diantaranya adalah: Ansari dan Euski (1987), Colignon dan Covaleski
(1988), Bougen et al (1990), Pinch et al (1989), Boland dan Pondy (1983), Berry et al
(1985), Macintosh dan Scapens (1990), dan Roberts (1990).

2.1.4 Pandangan Humanis Radikal dalam Akuntansi

Pandangan humanis radikal dalam akuntansi akan berfokus pada penjelasan


tatanan sosial dari perspektif seorang nominalis, voluntaris, serta ideografis dan
memberikan penekanannya pada bentuk-bentuk dari perubahan radikal. Pandangan
ini menghargai semua penelitian yang memperkecil kritik filosofi yang diberikan
pada beberapa metodologi normatif. Dalam bentuk teori kritis ia mensyaratkan dua
bentuk analisis:

a) suatu analisis taksonomis atas kepentingan-kepentingan ontologis,


epistemologis, dan metodologis yang mendasari ilmu organisasional;
b) suatu kritik (yang didasarkan pada analisis) mengenai dinamika yang
saling memengaruhi dari penelitian, teori, dan praktik.

Teori kritis akan memperluas kritik epistemiknya hingga mencakup:

a) sebuah pembahasan mengenai keterbatasan yang dimiliki oleh bentuk-


bentuk penyelidikan alternatif;
b) analisis mengenai hubungan antara komunitas peneliti organisasional dan
para praktisi serta anggota organisasional;
c) pengakuan atas sasaran praktis dari setiap bentuk penelitian tertentu.

15
Riset-riset yang diklasifikasikan dalam pandangan humanis radikal jika
didasarkan pada teori kritis dari Frankfurt Schools dan Habermas. Pendekatan kritis
Habernas melihat bahwa obyek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut
dengan “dunia kehidupan” (life world) yang diartikan sebagai interaksi berdasarkan
pada kepentingan kebutuhan yang melekat dalam diri manusia dan membantu untuk
pencapaian kearah saling memahami. Interaksi sosial dalam dunia kehidupan dapat
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami, misalnya kebutuhan


akan sistem informasi manajemen
2. Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanisme sistem, misalnya pemilihan
sistem yang akan dipakai atau konsultan mana yang diminta untuk
merancang sistem bukan merupakan interaksi sosial yang alami karena
sudah mempertimbangkan berbagai kepentingan.

Teori kritis dalam akuntansi akan mempunyai asumsi bahwa teori-teori, isi
dari ilmu, dan fakta-faktanya adalah hanya sekedar pencerminan dari suatu
pandangan dunia yang realistis. Ia akan melihat akuntan (accountant), penghitung
(accountor), dan yang dihitung (accountee) sebagai tahanan (prisoner) dari sebuah
bentuk kesadaran yang dibentuk dan dikendalikan melalui proses-proses ideologis.
Seluruh aspek dari akuntansi akan disisir untuk sifat-sifat mereka yang bersifat
mengasingkan. Singkatnya, akuntansi akan dilihat telah membuat “penjara pikiran” di
mana kenyataan-kenyataan organisasional dapat dikonfirmasi dan mendominasi.
Argumentasi yang dikemukakan adalah bahwa sistem akuntansi mendorong dan
mempertahankan adanya pengasingan dan konflik. Pandangan ini akan diartikan
bahwa akuntansi seharusnya membantu seseorang menyadari potensi yang mereka
miliki dengan membantu mereka menyadari kebutuhan-kebutuhan mereka, atau
mengarahkan mereka kepada arah yang sejalan dengan perhatian yang diberikan oleh
Habermas pada kompetensi komunikatif dan perhatian dari Gramsci dan Lukacs pada
ideologi dan kesadaran palsu.

16
Gramsci, lebih khusus lagi, membahas masalah akan kesadaran palsu ini
dengan melihat posisi dari para intelektual di dalam suatu masyarakat kontemporer.
Meskipun ia berpendapat bahwa seluruh manusia adalah makhluk intelektual, tidak
semua orang yang berada di bawah kapitalisme akan menjalankan fungsi-fungsi
intelektualnya. Ia lebih lanjut membedakan antara intelektual tradisional, yang secara
historis tidak terpengaruh (autonomous) oleh kepentingan-kepentingan golongan,
dengan intelektual organik, yang secara ideologis sejalan dengan kepentingan-
kepentingan golongan. Dalam kapitalisme kontemporer, kebanyakan intelektual
secara organik terikat dengan kaum borjuis. Karena hegemoni ideologis dari
kapitalisme, hanya sedikit kaum intelektual yang mengutarakan kepentingan-
kepentingan dari golongan yang lebih rendah. Jenis interpretasi dari humanis radikal
di bidang akuntansi seperti ini memberikan kesan bahwa sampai munculnya suatu
kaum akuntan elite “organik” yang tidak memiliki ikatan secara ideologis dengan
golongan kapitalis, maka disiplin ilmu akuntansi akan terus menyebarkan
kepentingan kepentingan dan ideologi kapitalisme. Akan tetapi, para akuntan klasik
atau fungsional, dengan sangat cepat menuduh para humanis sebagai kaum partisan
dan nonakademik. Seperti yang telah dibahas oleh Burrell dan Morgan, para humanis
sering diistilahkan sebagai “orang-orang radikal yang bersikera untuk meniup nyala
api kesadaran revolusioner, atau sebagai eksistensialis tidak berakal yang tidak mau
atau tidak dapat menyesuaikan diri terhadap ‘kenyataan’ hidup dunia sehari-hari dan
menerima ‘kemajuan’ yang telah pasti terjadi.

Macintosh menyatakan bahwa humanis radikal memiliki visi praktik


akuntansi manajemen dan sistem pengendalian yang berorientasi pada orang (people
oriented) yang mengutamakan idealisme humanistik dan nilai-nilai dibandingkan
dengan tujuan organisasi. Argumentasi teoritis dalam pandangan humanis radikal
dikemukakan oleh Laughlin (1987) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008) yang
menyajikan suatu diskusi dari aplikasi teori kritis Habernas dalam riset akuntansi.
Laughlin menunjukkan bagaimana teori kritis Habernas akan sangat berguna dalam
meneliti “saling keterkaitan” (interrelationship) antara teknologi akuntansi dengan

17
asal mula sosialnya. Sedangkan riset akuntansi yang menggunakan pandangan ini
antara lain: Broadbeent et al (1991) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008), yang
menunjukkan penggunaan kerangka Habermasian dalam menganalisa aplikasi
akuntansi pada industri pelayanan kesehatan di AS. Mereka menenukan bahwa,
walaupun akuntansi tidak diterima secara penuh sebagai teknologi manajemen dalam
sektor pelayanan kesehatan, namun akuntansi mempengaruhi tindakan dengan
memberikan arti atau makna dalam suatu dilema moral disekitar alokasi sumber daya
pelayanan kesehatan.

2.1.5 Pandangan Strukturalis Radikal dalam Akuntansi

Aliran alternatif lainnya adalah strukturalis radikal yang mempunyai


kesamaan dengan fungsionalis, yang mengasumsikan bahwa sistem sosial
mempunyai keberadaan ontologikal yang konkrit dan nyata. Pandangan ini
memfokuskan pada konflik mendasar sebagai dasar dari produk hubungan kelas,
struktur pengendalian, serta memperlakukan dunia sosial sebagai obyek eksternal dan
memiliki hubungan yang terpisah dari manusia tertentu.

Pandangan strukturalis radikal dalam akuntansi akan menentang tantanan


sosial dari sudut pandang seorang realis, positivis, deterministis, dan nomotetis.
Pandangan ini akan mencari perubahan yang radikal, emansipasi, dan potensionalitas
dengan menggunakan sebuah analisis yang ditekankan pada konflik struktural, cara-
cara dominasi, kontradiksi, dan penghapusan hak. Paradigma ini akan menciptakan
teori-teori akuntansi yang didasarkan atas metafora-metafora seperti alat dominasi,
sistem skismatis (schismatic), dan bencana (catastrophe).

Riset-riset yang diklasifikasikan dalam pandangan strukturalis radikal adalah


riset yang didasarkan pada teori Marxisme Tradisional. Argumentasi teori yang
dikemukakan oleh Cooper (1983) menelaah dan mengkritik karya-karya yang
didasarkan pada teori agensi. Dia mengusulkan adanya penggunaan perspektif radikal

18
dalam riset akuntansi manajemen. Peran akuntansi dalam analisis birokrasi yang
klasik dari weber sebagai salah satu cara dominasi, analisis “iron law oligarchy”
(oligarki hukum besi) dari Robert Michels, dan analisis organisasi dari Marxis akan
muncul sebagai suatu alat dominasi yang berkuasa untuk dipahami sebagai bagian
yang penting dari sebuah proses dominasi yang lebih luas di dalam masyarakat secara
keseluruhan. Seperti yang dinyatakan oleh David Cooper:

“Dari sudut pandang strukturalis ini, organisasi merupakan sebuah instrumen


dari kekuatan-kekuatan sosial yang berkepentingan untuk mempertahankan
pembagian tenaga kerja dan pembagian kekayaan dan kekuatan di
masyarakat. Bagi para peneliti ini, yang perspektifnya seperti hampir
sepenuhnya hilang di penelitian akuntansi saat ini, terdapat suatu aktualitas
organisasi yang mencakup diskriminasi jenis kelamin dan rasial, pola-pola
stratifikasi sosial dan pembagiann kekayaan, kekuatan, dan imbalan yang
tidak merata ... Ketidakmampuan untuk mengakui karakteristik-karakteristik
ini dan mempertimbangkan hubungannya dengan praktik akuntansi
tampaknya merupakan penghilangan yang mencurigakan bagi studi-studi yang
secara eksplisit mencoba untuk memperhitungkan akuntansi.”

Sedangkan Hopper et al (1987) melakukan pembahasan atas perbandingan


antara perspektif interpretatif dengan strukturalis radikal. Suatu perspektif atas
“proses tenaga kerja” (labour process) menyajikan suatu saling perang (interplay)
yang kompleks antara kekuatan politik, ideologi, dan ekonomi.

Para akuntan strukturalis memiliki pandangan yang objektif atas alam sosial
namun juga berfokus pada kecenderungan-kecenderungan terjadinya kkontradiksi dan
krisis yang ditimbulkan oleh proses akuntansi. Tidak seperti humanis radikal yang
menekankan pada fenomena superstruktural seperti ideologi dan kesadaran yang
menyimpang, strukturalis radikal dalam akuntansi akan berfokus pada hubungan
antara akuntansi dan ekonomi dan hubungan politis dari dominasi.

19
Strukturalis Marxis seperti Althusser dan Nicos Poulantzas telah menekankan
otonomi relatif dari struktur-struktur politis dan ideologis dari basis ekonomi yang
mendasari sebagai suatu hubungan ke model-model Marxis klasik yang terlalu
deterministis. Sehubungan dengan akuntansi perusahaan, pendekatan ini akan
berfokus pada kebebasan relatif dari berbagai praktik, kebijakan, dan teori akuntansi
dari kekuatan ekonomi dan politis yang nyata. Perkembangan akuntansi dapat dilihat
sebagai sebuah proses sui generis, atau didefinisikan dari dalam. Suatu agenda yang
serupa bagi akuntansi di dalam pengajaran strukturalis radikal dapat dengan tepat
dinyatakan sebagai berikut:

Teori-teori radikal dapat juga diterapkan pada pernyataan akuntansi yang


lebih spesifik lagi: Hal apakah yang mendasari pergeseran besar yang terjadi dalam
praktik-praktik regulatoris oleh negara dan seberapa pentingnya para akuntan terkait
dengan perubahan tersebut? Apa yang menentukan tingkat otonomi dari negara vis-a-
vis kelompok yang diuntungkan dan dirugikan, dan, sehubungan dengan hal ini pula,
berapa banyakkah kepercayaan yang dapat diberikan kepada pandangan dari para
penulis, seperti Benson misalnya, yang mengungkapkan regulasi sebagai tahanan dari
kepentingan pribadi? Apakah tingkat otonomi negara akan memiliki perbedaan di
masing-masing lingkungan kepentingan regulatoris? Posisi apakah yang sebaiknya
diambil oleh profesi akuntansi sehubungan dengan adanya “area yang diperebutkan”
dalam regulasi oleh negara? Siapa sajakah pihak yang berjuang untuk mendapatkan
kendali atas aparat hukum negara, dan bagaimana sebaiknya akuntan memilih pihak
yang akan ia dukung? Dominasi yang terus berlangsung dari pemikiran neoklasik
berperan dalam meniadakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam agenda
penelitian akuntansi. Situasi seperti ini akan terus terjadi selama akuntansi akademik
tidak berhasil mencapai keadaan ilmiah yang ideal bahwa segala hal hendaknya
terbuka untuk didiskusikan dalam suatu komunitas intelektual.

Beberapa riset akuntansi keperilakuan yang menggunakan pendekatan ini


antara lain adalah: Armstrong (1991, 1987, 1985), Hooper dan Amstrong (1991),

20
Knights dan Collinson (1987), Neimark dan Tinjer (1986), dan Tinjer dan Neimark
(1987).

2.2 Ruang Lingkup Penelitian Akuntansi

2.2.1 Konsentrasi Akuntansi Keuangan

Bidang ini membahas bagaimana laporan keuangan disusun untuk tujuan


publik. Disini bisa dibahas metode pencatatan, prinsip dan standar akutansi keuangan,
penyajian laporan yang wajar, pemilihan teknik atau standar akutansi, metode
penyusutan, penyisihan, perbandingan metode teori akuntansi, dan lain sebagainya
yang berkaitan dengan topik ini. Konsentrasi ini dapat lagi dikelompokkan dalam
bidang-bidang berikut ini :

a. Teori Akuntansi

Disinilah mahasiswa melakukan penelitian terhadap elemen-elemen teori


akuntansi yang merupakan upaya untuk mendiskusikan, menganalisis dan
mengkritik konsep, definisi, dalil yang ada dalam struktur teori akuntansi.
Misalnya mengkaji dan menganalisis konsep, postulat atau paradigma
akuntansi, prinsip, sifat-sifat dan kelemahan akuntansi, bagaimana metode
untuk melahirkan teori akuntansi, konsep akuntansi. Dalam bidang ini, dapat
dibahas dengan menggunakan objek penelitian satu objek atau beberapa objek
perbandingan. Contohnya adalah bidang, topik, judul, atau masalah yang
dapat diteliti :

1) Metodologi penelitian apakah yang tepat untuk merumuskan Teori


Akuntansi
2) Apakah sumber informasi yang digunakan para pemakai Laporan
keuangan untuk pengambilan keputusan

21
3) Konsep/prinsip akuntansi manakah yang kurang relevan dengan tuntutan
pemakai laporan di Indonesia
4) Pihak Manakah yang dominan dalam perumusan standar akuntansi di
Indonesia
5) Apa tren akuntansi yang dominan di Indonesia
6) Bagaimana perkembangan akuntansi Islam di Indonesia atau di dunia
b. Standar Akuntansi

Disini kita dapat mengkaji, mengalisis, mengkritik, melaporkan fakta


empiris tentang perumusan standar, penerapan dan hasilnya di lapangan.
Termasuk mengkaji dan menganalisis dampaknya kepada perilaku orang
yang berhubungan dengan standar itu (bebavioral accounting).

Perbandingan standar akuntansi antarnegara, perumusannya,


sejarahnya, dan intervensi politik dalam penyusunan struktur akuntansi.
Contoh judulnya :

1) Sejauh mana industri tertentu menerapkan PSAK.


2) Standardisasi akuntansi mana yang memberikan informasi yang lebih
relevan.
3) Perbedaan standar akuntansi di beberapa negara.
4) Dampak standar akuntansi pada perilaku.
c. Akuntansi sebagai Pertanggungjawaban atau Agency Theory

Disini yang menjadi pokok bahasan adalah membahas hubungan


accountability di antara berbagai pihak yang berkepentingan dalam
perusahaan dan kaitannya dengan laporan keuangan. Misalnya antara
manajemen dengan pemilik, manajemen denegan karyawan, manajemen
dengan karyawan, manajemen dengan publik, dan lain sebagainya.

22
Biasanya dalam literatur dikenal agency theory yang melihat hubungan
berdasarkan konsep agent dan principal. Contoh topik yang dapat dibahas:

1) Bagaimana praktik akuntansi yang dapat memenuhi


pertanggungjawaban manajemen.
2) Bagaimana sikap manajemen terhadap penerapan prinsip akuntansi
yang berlaku.
3) Apakah independen audit diyakini sebagai pemberi data informasi
untuk pertanggungjawaban.
4) Cukupkan Laporan Keuangan sebagai media pertanggungjawaban
agent.
d. Perhitungan Laba Akuntansi

Disini dibahas sebagaimana prinsip akuntansi menghitung laba


akuntansi yang sebenarnya. Angka laba ini sangat penting bagi pemakai
laporan untuk pengambilan keputusan sehingga harus di hitung secara
tepat. Aspek laba akuntansi menurut historical accounting dapat memberi
angka laba yang diyakini para pemakai laporan keuangan. Apakah harus
menggunakan current value, replacement cost, atau net realizable value.
Contohnya yaitu, dalam penelitian ini permasalahan dapat dijadikan bahan
penelitian sebagai berikut :

1) Bagaimana struktur teori akuntansi, konsep akuntansi, dan prinsip


akuntansi yang dapat menghitung laba yang tepat di luar historical
cost accounting?
2) Apakah perusahaan atau lembaga tertentu sudah menerapkan
perhitungan laba sesuai dengan konsep accounting income?
3) Bagaimana pendekatan sesuatu perusahaan (kelompok, individu,
beberapa perusahaan) dalam menghitung labanya (di luar model

23
konvensional)?
4) Hal apa yang menimbulkan perbedaan perhitungan laba pajak dengan
konsep laba akuntansi?
5) Perhitungan laba mana yang sesuai dengan manajemen atau para
pengambil keputusan?
6) Bagaimana akuntansi merespons konsep laba ekonomi?

2.2.2 Akuntansi Manajemen

Disini dibahas bagaimana caranya agar akuntansi dapat dipergunakan untuk


membuat informasi tentang model-model yang berguna dalam pengambilan
keputusan yang dilakukan manajemen.

a. Pengambilan Keputusan

Bagaimana memanfaatkan akuntansi untuk pengambilan keputusan.


Contoh permasalahan yang dapat dibahas adalah sebagai berikut:

1) Akuntansi dihubungkan dengan penggunaan quantitative models.


Bagaimana perusahaan menggunakan data akuntansi dalam model
pengambilan keputusan misalnya Target Costing, Relevant Costing.
2) Bagaimana rasio keuangan dapat memprediksi bankcruptcy, arus kas
masa depan, take over, take off, dan lain-lain.
3) Bagaimana penerapan Direct Cost, ABC Costing, dan lain sebagainya
dalam menilai kinerja departemen/ bagian/ manajemen.
b. Bidang Manajemen Pengawasan/Controllship/Budgeting

Di bidang ini dibahas konsep, teknis, jenis, struktur pengawasan,


budgeting, model-model pengawasan, misalnya :

24
1) Pengaruh struktur organisasi dalam efektivitas pengawasan.
2) Metode pengawasan di perusahaan tertentu dan dibandingkan dengan
perusahaan lainnya.

2.2.3 Akuntansi Pasar Modal

Dalam bidang ini yang dapat dibahas adalah bagaimana reaksi pasar terhadap
keluarnya informasi akuntansi, laporan keuangan periodic atau informasi lainnya.
Contoh topik yang dibahas disini adalah sebagai berikut :

1) Pengaruh informasi laporan keuangan pada harga saham.


2) Perbedaan kinerja perusahaan yang mengeluarkan obligasi atau saham.
3) Fluktuasi saham sebelum atau sesudah merger.
4) Penerapan PSAK pada perusahaan yang terdaftar di BEJ.

2.2.4 Akuntansi Perpajakan

Disini dibahas bagaimana akuntansi mengakomodasi masalah peraturan


perpajakan, perbedaan konsep  antara akuntansi dan perpajakan, konsep pengakuan
biaya, pengakuan hasil perbedaan metode penyusunan, deferred tax dan sebagainya.
Contohnya :

1) Dampak depresiasi dipercepat pada pajak penghasilan perusahaan;


2) Pengaruh metode penilaian terhadap pajak penghasilan;
3) Menyesuaikan Accounting Income dan Tax Income.

2.2.5 Auditing

Disini dapat dibahas hal-hal yang berkaitan dengan auditing, teori, proses,
hasil perilaku, dan sebagainya. Contohnya :

25
1) Peranan operasional audit mengontrol kinerja perusahaan.
2) Menilai resiko audit.
3) Hubungan antara internal control dengan sikap auditor.
4) Efektifitas audit.
5) Perilaku auditee sewaktu ditemukan kesalahan akuntansi.

2.2.6 Sistem Informasi  Akuntansi

Disini dibahas bagaimana mendesain sistem informasi akuntansi dan


mengahasilkan informasi yang sudah menjadi komoditas. Dalam pertimbangannya
tentu harus memerhatikan cost bonefit ratio. Dalam bidang ini misalnya dibahas :

1) Pengaruh sistem akuntansi pada efisiensi biaya.


2) Perbedaan tingkat efisiensi pada berbagai model sistem akuntansi.
3) Penyajian laporan keuangan pada perusahaan/lembaga syariah.
4) Laporan keuangan lembaga nirlaba, dan lain sebagainya.
5) Bagaimana pengungkapan dalam laporan keuangan.
6) Dampak penggunaan EDP system, IT, Internet dan sebagainya pada
disclosure dalam laporan keuangan.

2.2.7 Tren Akuntansi

Disini dibahas berbagai hal yang sudah dibicarakan dalam literature, tetapi
masih dalam tahap proses belum menjadi prinsip yang harus diberlakukan, misalnya:

1) Akuntansi Sosial Ekonomi, yang membahas pengaruh kegiatan


perusahaan terhadap masyarakat baik yang positif atau yang negatif.
2) Akuntansi Lingkungan, mengukur kerusakan lingkungan yang
ditimbulkan perusahaan.
3) Akuntansi Sosial, mengukur asset masyarakat/Negara.

26
4) Akuntasi Islam, mengukur teori, konsep Islam dalam bidang Akuntansi.
5) Akuntansi Sumber Daya Manusia, mengukur SDM sebagai asset
perusahaan.
6) Akuntansi Nilai Tambah, menyajikan informasi tentang
pemberi/contributor bagi perusahaan.
7) Pelaporan Pegawai, menginformasikan beberapa data yang diperlukan
pegawai, dan lain sebagainya.

2.2.8 Topik Lain

a. Bidang Akuntansi Nirlaba/Pemerintahan

Disini dibahas kerangka tujuan laporan keuangan pemerintahan,


nonprofit organization atau nirlaba, jenis laporan, prinsip akuntansinya,
aspek politik, sosial, pengaruh parlemen, praktik akuntansi di masjid,
gereja dan sebagainya

b. Pendidikan dalam bidang akuntansi

Disini diteliti berbagai aspek pendidikan akuntansi di tanah air atau


perbandingannya dengan luar negeri. Pendekatan ini memang lebih
sederhana dan mudah bagi mahasiswa, namun luas dan beraneka serta
saling tumpang tindih, apalagi yang dibahas lebih dalam. Misalnya, teori
akuntansi bisa mengenai akuntansi keuangan, nirlaba, perpajakan, dan
sebagainya.

Dari penjelasan di atas, terasa sekali betapa luasnya bidang ilmu


akuntansi yang bisa menjadi objek penelitian atau penulisan skripsi.
Bahkan sebagaimana yang telah dijelaskan, masih banyak lagi bidang-
bidang lain yang belum tercakup dalam penjelasan itu karena merupakan

27
disiplin baru atau penemuan baru.

c. Behavioral Accounting: Akuntansi dan Perilaku Individu

Behavioural accounting research diartikan sebagai studi perilaku


akuntan atau perilaku non akuntan dimana mereka dipengaruhi oleh fungsi
akuntansi dan laporan. Behavioural accounting research (BAR), penelitian
pasar modal dan penelitian teori agensi dapat disebut penelitian ‘positif’
dalam artian dapat dihubungkan dengan menemukan ‘fakta’: penelitian
pasar modal menanyakan ‘bagaimana reaksi pasar sekuritas bereaksi
terhadap informasi akuntansi?; teori agensi menanyakan ‘apakah insentif
ekonomi mempengaruhi pemilihan dalam metode akuntansi?’; dan
behavioural research menanyakan ‘bagaimana sebenarnya orang-orang
menggunakan dan memproses informasi akuntansi?. Penelitian pasar
modal berfokus pada level makro sedangkan teori agensi dan behavioural
accounting berfokus pada level mikro.

Penelitian pasar modal dan teori agensi berasal dari ilmu ekonomi dan
mengesampingkan motivasi aktual orang-orang dengan asumsi bahwa
setiap orang merupakan pemaksimal kekayaan. Behavioural accounting
diambil dari ilmu seperti psikologi, sosiologi, dan teori organisasi.
Penelitian di bidang behavioural accounting mencakup berbagai bidang
kegiatan akuntansi. Beberapa penelitian BAR, misalnya, telah diterapkan
di bidang audit untuk meningkatkan pengambilan keputusan auditor.
Contohnya ketika auditor akan melakukan audit, auditor harus menilai
risiko yang berhubungan dengan klien. Semakin banyak resiko, semakin
banyak pula audit yang harus dilakukan. BAR digunakan untuk
menganalisis risiko auditor. Ada beberapa alasan mengapa BAR penting

28
bagi praktisi akuntansi, diantaranya:

1. Penelitian yang secara spesifik menguji aktivitas pengambilan


keputusan yang menyiapkan (penyaji), pengguna, dan auditor
informasi akuntansi
2. BAR mempunyai cara yang berbeda dalam proses dan pengambilan
keputusan pada fakta informasi akuntansi dan metode komunikasi. Hal
ini dapat digunakan untuk memperbaiki pengambilan keputusan dalam
berbagai macam cara.
3. BAR mempunyai potensi dalam penyediaan informasi yang
bermanfaat untuk regulator akuntansi seperti Australian Accounting
Standart Board . Tujuan utama akuntansi yaitu menyediakan informasi
yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan, anggota AASB selalu
berhadapan dengan masalah mengenai metode akuntansi dan
pengungkapan yang bermanfaat bagi laporan keuangan.
4. BAR mengarahkan pada efisiensi dalam praktek kerja akuntan.
Contohnya pengalaman anggota perusahaan akuntansi dicatat dan
dimanfaatkan oleh metode BAR, untuk mengembangkan keahlian
yang terkomputerisasi untuk pengambilan keputusan.

Disini pula dibahas pengaruh  antara pemakai informasi akuntansi


dengan informasi akuntansi itu. Bagaimana dampak informasi akuntansi
pada pengambilan keputusan, sikap, dan pengaruh pada perilaku lainnya.
Permasalahan yang dibahas di sini adalah:

1. Bagaimana pengaruh budgetting pada manajer atau kepala bagian?


2. Bagaimana sikap auditor dalam melakukan pemeriksaan?
3. Bagaimana sikap klien sewaktu dilakukan pemeriksaan?
4. Bagaimana sikap fiskus membaca laporan keuangan yang diaudit
akuntan publik, dan lain sebagainya?

29
d. Akuntansi Koperasi

Disini bisa dibahas berbagai penerapan standar akuntansi untuk


lembaga usaha koperasi.

2.3 Riset Akuntansi Multiparadigma

Perkembangan riset akuntansi multiparadigma pertama sekali berangkat dari


kerangka filosofis yang dibangun oleh Burrel dan Morgan. Mereka mengatakan
bahwa suatu pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu.
Asumsi-asumsi tersebut adalah ontologi (ontology), epistemologi (epistemology),
hakikat manusia (human nature) dan metodologi (methodology). Ontologi
berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan
diinvestigasi. Epistemologi berhubungan dengan sifat dari ilmu pengetahuan, bentuk
dari ilmu pengetahuan tersebut, dan bagaimana mendapatkan serta menyebarkannya.
Epistemologi ini memberikan perhatian tentang bagaimana cara untuk menyerap ilmu
pengetahuan dan mengkomunikasikannya. Pendekatan subjektivisme (anti-
positivism) memberikan penekanan bahwa pengetahuan bersifat sangat subjektif dan
spritual atau transedental, yang didasarkan pada pengalaman dan pandangan manusia.
Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan objektifisme (positivism) yang
berpandangan bahwa pengetahuan itu berada dalam bentuk yang tidak berwujud
(intangible).

Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat
keterkaitan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya. Pendekatan
voluntarisme (voluntarism) memberikan penekanan pada esensi bahwa manusia
berada di dunia ini untuk memecahkan fenomena sosial sebagai makhluk yang
memiliki “kehendak dan pilihan bebas” (free will and choice). Manusia pada sisi ini
dilihat sebagai pencipta dan mempunyai perspektif untuk menciptakan fenomena
sosial dengan daya kreatifitasnya. Sebaliknya pendekatan determinisme memandang

30
bahwa manusia dan aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan tempat dia
berada. Asumsi-asumsi tersebut memiliki pengaruh terhadap metodologi yang akan
digunakan. Metodologi dipahami sebagai suatu cara untuk menentukan teknik yang
tepat untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan ideografik yang mempunyai unsur
utama subjektivisme menjadi landasan pandangan bahwa seseorang akan dapat
memahami “dunia sosial” (social world) dan fenomena yang diinvestigasi, apabila ia
dapat memperolehnya atas dasar “pengetahuan pihak pertama” (first hand
knowledge). Sebaliknya pendekatan nomotetik (nomothetic) mempunyai sistem baku
dalam melakukan penyelidikan yang biasanya disebut dengan sistem protokol dan
teknik. Secara ringkas, Burrel dan Morgan menggambarkan asumsi tersebut
sebagaimana disajikan dalam gambar 2.2.

Pendekatan Pendekatan

Subjektifisme Objektifisme

Terhadap Ilmu terhadap Ilmu

Sosial Sosial
Realisme

Nominalisme
Ontologi

Anti Positivsme Epistemologi Positivisme

Voluntarisme
Hakikat Manusia Determinisme

Ideografik Nomoteisem

31
Methodologi

Gambar 2.2 Dimensi Subjektif – Objektif

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan mengelompokkan


pengetahuan dalam tiga paradigma yaitu: fungsionalis-interpretivif (functionalist-
interpretive), radikal humanis (radical humanist), dan radikal strukturalis (radical
structuralist). Akuntansi sebagai pengetahuan manusia dapat juga dipandang menurut
paradigma-paradigma tersebut.

2.4 Trend Riset Akuntansi

Akuntansi sebagai ilmu terus beradaptasi dengan lingkungan sosial ekonomi


di mana ia berada sehingga perkembangan sosial ekonomi juga memengaruhi
perkembangan ilmu ekonomi itu sendiri. Teori akuntansi merupakan Avoidance yang
mengarahkan perkembangan itu sendiri sehingga tetap berada dalam kerangka teoritis
yang sudah disepakati, Kendatipun dengan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan
seperti yang digambarkan oleh Kuhn Popper bisa saja muncul perkembangan yang
sama sekali keluar dari kerangka teori yang sudah menjadi konvensi. Makanya
diperlukan informasi teori akuntansi sehingga tidak seperti saat ini mandek.

Namanya tren hanya menunjukkan kecendrungan yang dilihat saat ini.


Kenyatannya akan terbukti kemudian. Tugas akademisi dan professional adalah untuk
bermimpi, melihat, menganalisis, dan ikut mengembangkan tren itu sehingga menjadi
konvensi dan menambah manfaat ilmu itu membantu masyarakat secara luas.

32
J.H. Enthoven (1995) dalam Accounting Research Monoghraph 5 dengan
judul Mega Accountancy Trends, berdasarkan Megatrends-nya Naisbitt, ia
merefleksikan megatrend akuntansi akan menghadapi pesoalan sebagai berikut:

1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.


2. Perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
3. Perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang
lebih relevan.

Kualitas relevan sudah menjadi ciri akuntansi, namun sampai saat ini kualitas
ini belum dapat dinilai tercapai. Kemudian, untuk mengantisipasi tren tersebut di atas,
Enthoven menganjurkan penyempurnaan infrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi
tuntutan tren itu.

1. Penyempurnaan sistem pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang


akuntansi.
2. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
3. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya dalam profesi akuntan.
4. Praktik profesi dan kelembagaan akuntansi.

Tren yang dibuat Enthoven ini beranjak dari Megatrend-nya Naisbitt yaitu:
1. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
2. Dasar pemikiran orang akan beralih dari skup jangka pendek ke skup
jangka panjang.
3. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industry ke masyarakat
informasi.
4. Struktur organisasi akan berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti
kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau networking,
kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
5. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan ke
ilihan banyak.

33
6. Pertumbuhan ekonomi akan beralih dari dunia bagian utara ke bagian
selatan.
7. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke
demokrasi partisipasi.
8. Dari bantuan institusi ke mandiri.
9. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
10. Kekuasaan akan beralih dari sentralisasi ke desantralisasi.

Gambar 2.3 Megatrend akuntansi


Sumber: Enthoven (1985) Mega Accountancy Trend, ARM Accounting Research
Manoghraph

Kesepuluh shift inilah yang dijadikan dasar oleh Enthoven untuk


mempredIksi pengaruh tren itu ke dalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.
Hubungan antara tren itu dengan megatrend akuntansi dapat dilihat pada gambar di
atas.

34
Dari keadaan ini dapat kita tarik garis atau benang merah bahwa tren
kecenderungan ke arah mana akuntansi menuju sesuai dengan perkembangan tuntutan
masyarakat adalah menuju suatu sifat yang lebih bernuansa sosial, etis, lebih relevan,
dan bertanggung jawab.

Lee Parker maupun profesi akuntan Australia dari konferensi internasional


yang dilakukannya pada tahun 1994 menunjukkan arah ke akuntansi yang semakin
bertanggung jawab. Masyarakat pada dasarnya menginginkan akuntansi yang
memberikan informasi yang adil dan benar yang hakikatnya adalah
pertanggungjawaban. Dari fenomena ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan
ilmu akuntansi harus searah dengan tuntutan masyarakat itu.
Berbagai skandal korporasi yang melibatkan akuntansi belakangan ini semua
kian menuntut akuntan yang bertanggung jawab. bagaimana profesi akuntan
menyikapi tren itu? Dan bagaimana kita di tanah air? Siapa yang harus bertanggung
jawab untuk menjadi pionir? Semua pertanyaan itu terpulang kepada mereka yang
terlibat menjalankan roda organisasi profesi dan organisasi lainnya yang terkait.

2.4.1 Megatrends 2010

Baru-baru ini keluar buku Megatrends 2010 yang ditulis oleh Patrice
Aburdene (2005). Beliau mengemukakan paling tidak ada tujuh kecenderungan bisnis
yang tentu nantinya akan memengaruhi profesi akuntansi dan teori akuntansi. Ketujuh
Megatrends adalah:
1. Kekuatan Spiritualitas (The Power of Spritulity);
2. Munculnya Kapitalisme yang Sadar (The Down of Conscious Capitalism);
3. Pemimpin Lahir dari Level Tengah (Leading From The Middle);
4. Bisnis Spritualisme (Spirituality In Business);
5. Konsumen Berbasis Nilai (The Value-Driven Consumer);
6. Gelombang Solusi Kesadaran (The Wave of Conscious Solution);

35
7. Boomnya Investasi Pada Perusahaan Yang Memiliki Tanggung Jawab
Sosial (The Socially Responsible Investment Boom).

Dari ketujuh megatrends ini baru trends no. 7 yang mulai ditanggapi oleh
profesi akuntansi. Dalam teori dan standard akuntansi belum memberikan pedoman
yang tetap. Megatrend lainnya sama sekali belum terlihat arah dan petunjuk untuk
memenuhinya. Misalnya bagaimana peran akuntansi mengukur, mencatat atau
melaporkan aspek nilai-nilai spritualisme, dan sebagainya. Entah nanti akuntansi
syariah bisa memberikan alternative. Penelitian bidang ini tentu sangat dibutuhkan
untuk pengembangan teori akuntansi sehingga profesi ini tidak ditinggal jauh dan
bahkan bisa menjadi dinosaurus.

2.4.2 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi

Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan


pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren diantaranya adalah:
1. Akuntansi Internasional Atau Akuntansi Global;
2. Akuntansi Islam;
3. Akuntansi Sumber Daya Manusia;
4. Triple Entry Accounting System;
5. Employee Reporting;
6. Value Added Reporting;
7. Akuntansi Prilaku;
8. Multdiciplines Paradigm;
9. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan;
10. Kegagalan Efficient Market Hypothesis (EMH);
11. Krisis Akuntansi.

36
[Link] Triple Entry System

Kalau dahulu kita mengenal single entry, double entry maka sekarang kita
mengenal triple entry. Dalam sistem ini transaksi dicatat dalam tiga dimensi. Model
ini adalah pengembangan dari Double Entry Bookleeping System. Dalam model ini
bukan saja transaksi yang mempengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan pasiva yang
dilaporkan, tetapi juga force atau power yang menyebabkannya sehingga laporan
neraca misalnya menyajikan Wealth = Capital = Force. Triple entry memiliki Force
Account yang mencatat beberapa factor antara lain perubahan harga, perubahan
jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya. Misalnya jika harga
suatu barang naik maka akan dibuat perkiraan force. Demikian juga kalau terjadi
perubahan volume dan jumlah. Informasi yang dilaporkan melalui model ini disebut
force statement. Nanti aka nada tiga jenos laporan Wealth Statement, Capital
Statement, Dan Force Statement. Wealt statement melaporkan kekayaan perusahaan
(A-L) sedangkan Capital Statement melaporkan komposisi dan perubahan modal di
man informasi laba rugi dimasukkan di dalamnya. Sementara itu, Force Statement
memuat informasi peruabahan kekayaan juga, tetapi yang dipengaruhi oleh kenaikan
atau penurunan laba saja. Force statement ini akan didampingi oleh laporan variance
analysis yang merinci komponen fixed dan variabel.

Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada


pembaca khususnya pihak manjemen dan para pengambil keputusan yang
berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan. Triple entry sistem ini juga
menjelaskan Margin Variance, Volume Variance, dan Efficiency Variance. Ketiga
metode ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga mencatat aspek nilai daya
beli yang dicatat sehingga pembaca mendaptkan informasi tentang daya beli atau
dampak inflasi terhadap perusahaan.
Dalam Studies In Accounting Research yang ditulis Yuji Ijiri yang disponsori
AAA menyatakan bahwa double entry ini berdimensi tiga, jadi sebenarnya merupkan

37
penyempurnaan daei sistem double entry. Bagi yang berminat mendalami ini dapat
dibaca Studiesin Accounting Research No. 18 yang ditulis Yuji Ijiri (1982).

[Link] Employee Reporting

Semakin besarnya kekutan menawar serikat pekerja di barat, khususnya di


eropa menimbulkan fenomena baru dalam tuntutan akan laporan keuangan yang
dapat menggambarkan informasi yang dibutuhkan oleh kaum pekerja. Pegawai selaku
salah satu dari stakeholders juga berhak akan informasi keuangan. Informasi
keuangan seperti inilah yang disebut employee reporting. Employee reporting
merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat informasi yangrelevan bagi
karyawan atau serikat pekerja. Employee reporting sangat berkembang di USA dan
eropa pada Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) seperti
USA, Canada, Jerman, Prancis, Denmark, Norwegia, Swedia, Dan Untited Kingdom
(Bealkaoui, 1995).

Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini
adalah (Purdy dalam Bealkaoui, 1985):
a. Tekanan semakin besar akan perlunya Full Disclosure;
b. Praktik dan masalah yang berkatan dengan hubungan perburuhan;
c. Munculnha perdebatan tentang demokritisasi perusahaan;
d. Perkembangan di Negara lain akn perlunya informasi dimaksud.

Disamping tentunya semakin kuatnya organisasi pekerja di planet ini.


Keharusan perusahaan memasukkan informasi yang dibutuhkan karyawan dan serikat
pekerja telah diatur oleh berbagai Negara, seperti di jerman, 1972, prancis, 1979,
swedia, USA, dan kanada.

Beberapa informasi penting yang diminta dilaporkan dalam Employee


Reporting ini adalah:

38
- Jumlah pegawai;
- Lokasi tempat bekerja;
- Umur karyawan;
- Jam kerja;
- Biaya tenaga kerja
- Program pension;
- Program jaminan sosial, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua;
- Pelatihan dan pendidikkan atau adanya career path;
- Pengakuan terhadap serikat pekerja;
- Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin dan
sebagainya.

Bagi karyawan hal ini sangat penting untuk mengetahui hak-haknya, iklim
atau atmosfer yang terjadi dalam perusahaan, jaminan sosial yang dapat
dinikmatinya, pengembangan karier, dan sebagainya. Sedangkan bagi pemerintah hal
ini dapat digunakan untuk mengetahui sampai di mana perusahaan menyesuaikan diri
dengan peraturan dan hokum yang berlaku. Bagi investor, informasi ini penting untuk
mengetahui risiko yang mungkin timbul dalam perusahaan yang disebabkan
kemungkinan tindakan karyawan.

Informasi kepada karyawan ini bisa disampaikan melalui laporan keuangan,


majalaj, media lain, Newsletter maupun dalam bentuk surat, pidato, konferensi pers,
upacara, atau memorandum internal lainnya.
a. Dari suatu survei laporan keuangan kepada karyawan sejak tahun 1919
sampai 1979 diketahui beberapa alas an pelaporan sebagai berikut (lewis,
et. Al 1984). Menyampaikan perubahan.
b. Menyajikan propaganda manajemen.
c. Mempromosikan kepentingan memahami masalah dan prestasi
perusahaan.

39
d. Menyampaikan keputusan manajemen.
e. Menyampaikan hubungan antara karyawan, manajemen, dan pemegang
saham.
f. Menjelaskan tujuan perusahaan.
g. Mendorong partisipasi karyawan yang lebih besar.
h. Merespons tekanan legislatif atau serikat pekerja.
i. Membangun image perusahaan.
j. Memenuhi ketentuan UU tentang pengungkapan informasi yang
dibutuhkan karyawan.
k. Merespons kekhawatiran manajemen terhadap berbagai tuntutan pegawai,
maupun persaingan.
l. Menunjukkan perhatian besar terhadap karyawan.

[Link] Value added reporting

Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai berkaitan


dengan Human Resources Accounting dan Employee Reporting terutama dalam hal
informasi yang disajikannya. Value Added Reporting ini masih dalam tahap wacana
akademik. Value Added Reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan utama, Neraca, Laba Rugi, dan Arus Kas.
Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:
a. Total produktivitas dari perusahaan;
b. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikut dalam proses
manajemen yaitu: pemegang saham. Kreditor, pegawai, dan pemerintah
(Belkaoui, 1995).

VAR berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan


informasi tentang kompensasi yang diberikan kepada pegawai yang dapat digunakan
baik oleh pegawai maupun mereka yang berkepentingan lainnya terhadap informasi
kegiatan SDM dan prestasi perusahaan.

40
Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba
maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah.
Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham
saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value added
adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau dihasilkan dengan penggunaan
asset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayaan perusahaan oleh seluruh tim
yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan pemerintah. Sebenarnya
konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu ekonomi terutama dalam
perhitungan pendapatan nasional. Namun, perlu diingat bahwa value added tidak
sama dengan laba. Laba menunjukkan pendapatan bagi pemilik saham sedangkan
pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi seluruh stakeholders. laporan
pertambahan nilai jangan pula disamakan dengan pajak pertambahan nilai.

Kesadaran akan pentingnya VAR ini sejalan dengan peralihan penerapan


tujuan manajemen dari pertama-tama memaksimalkan profit kepada pemilik modal,
ke memaksimalkan nilai tambah kepada stakeholders. Masyarakat yang semakin
menyadari pentingnya keadilan sosial juga merupakan salah satu penyebab
munculnya VAR ini. Karena dianggap lebih adil dan lebih demokratis jika diberikan
laporan nilai tambah. Sehingga hubungan antara masing-masing pihak yang bekerja
sama dalam satu tim lebih harmonis karena masing-masing nilai tambah yang
diberikannya diukur. Indicator atau informasi ini tentu akan bisa digunakan untuk
melakukan pembagian hasil yang lebih adil. Dalam konsep ekonomi islam tampaknya
konsep VAR ini lebih sesuai karena konsep bisnis dalam islam berdasarkan pada
kerja sama (musyarakah atau mudharabah) yang adil, transparan, dan saling
menguntungkan bukan salah satu mengekpoilitasi yang lain.
Sebenarnya di US dan Eropa konsep Value Added (VA) ini pun sudah dikenal
khususnya dalam perpajakan. Konsep VA ini semakin populer pada tahun 1970 sejak
keluarnya Corpate Report yang merupakan hasil kajian Accounting Standards
Steering Committee (sekarang namanya Accounting Standard Committee) pada bulan
Agustus 1975. Dalam pelaporan ini dianjurkan untuk menggunakan Laporan

41
Pertambahan Nilai. Anjuran ini diadopsi di UK pada tahun 1977. Pada survei yang
dilakukan untuk mengetahui banyaknya perusahaan yang memakai Laporan
Pertambahan Nilai ini, pada tahun 1980 lebih 20% perusahaan terbesar di UK sudah
membuat Laporan Pertambahan Nilai. Perkembangan ini didorong oleh desakan dari
serikat buruh yang dikenal sangat kuat di eropa. Bahkan sekarang dikenal VAIPS
atau Value Added Incentive Payment Scheme di mana dasar pemberian intensif
didasarkan pada pertambahan nilai.

[Link] Isi Laporan Pertambahan Nilai


Sebenarnya laporan pertambahan nilai ini adalah modifikasi dari laporan laba
rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan laporan laba rugi
ini. Langkah yang diikuti dalam menyusun laporan pertambahan nilai dari laporan
laba rugi adalah (Belkaoui, 1995):

Langkah 1:

Di sini dihitung laba ditahan yang didapat dari hasil penjualan dikurangi
biaya, pajak, dividen atau:

Penerimaan penjualan
Rp……………..

Dikurangi:

Pembelian barang dan jasa Rp…………

Penyusutan Rp………..

Biaya karyawan Rp………..

42
Biaya bunga Rp………..

Dividen Rp………..

Pajak Rp………..

Total pengurangan Rp………………

Laba Ditahan Rp……………...

Langkah 2:

Laporan pertambahan nilai dapat disusun dari data di atas dengan format
sebagai berikut:

Penerimaan penjualan Rp………..

Dikurangi: pembelian barang dan jasa Rp………..

Pertambahan nilai kotor Rp………..

Pertambahan nilai ini dirinci sbb:

Penyusutan Rp………..

Biaya karyawan Rp………..

Biaya bunga Rp………..

43
Dividen Rp………..

Pajak Rp………..

Total pertambahan nilai


Rp……………….

Berikut ini contoh laporan pertambahan nilai yang diambil dari data laporan
laba rugi:

PT Sipangko Jaya

Laporan laba rugi

Untuk tahun yang berakhir pada 2005

__

Penjualan Rp 10.000.000

Dikurangi:

Bahan yang digunakan Rp 1.000.000

Upah tenaga kerja Rp 2.000.000

Biaya jasa-jasa Rp 3.000.000

Biaya bunga Rp 600.000

Penyusutan Rp 400.000

44
Total biaya Rp 7.000.000

Laba sebelum pajak Rp 3.000.000

Biaya pajak 40% Rp 1.200.000

Laba setelah pajak Rp 1.800.000

Dividen Rp 500.000

Laba ditahan Rp 1.300.000

PT Sipangko Jaya

Laporan Pertambahan nilai

Untuk tahun yang berakhir pada 2005

Penjualan Rp 10.000.000

Dikurangi:

Bahan yang digunakan Rp 1.000.000

Biaya jasa-jasa Rp 3.000.000

Penyusutan Rp 400.000

Total biaya barang dan jasa Rp 4.400.000

Pertambahan nilai yang bisa ditahan

45
Laba didistribusikan Rp 5.600.000

Jumlah ini dibagikan kepada:

Upah tenaga kerja Rp 2.000.000

Biaya bunga Rp 600.000

Biaya pajak 40% Rp 1.200.000

Dividen Rp 500.000

Laba ditahan Rp 1.300.000

Total Rp 5.600.000

Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai
berikut:
a. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang
abash sebagai dasar perhitungan reward.
b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk
mengetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi dan
ekonomi dengan mengungkapkan jumlah kekayaan dalam pengukuran
pendapatan nasional.
d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan
pertambahan nilai kotor:

46
1) Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan
bonus produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada
perubahan modal.
2) Dengan mengurangkan biaya penyusutan akan menghindari double
counting yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua
perusahaan.
3) Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba
untuk semua. Ini akan mendorong spirit team atau sense of belonging
dalam perusahaan. Masing-masing pihak mengetahui kontribusinya
dalam proses peningkatan kekayaan perusahaan.
4) Mestinya remunerasi karyawan tidak hanya berasal dari gaji, tetapi
juga kenaikan kekayaan, ini onsep baru dalam dunia bisnis modern.
Informasi untuk kepentingan ini di supply oleh Laporan Pertambahan
Nilai.
5) Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi
yang dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.
6) Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendaptan nasional.
7) Dapat menilai proporsi masing-masing terhadap nilai tambah sehingga
dapat mendorong keadilan.

Namun, di samping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan Laporan


Pertambahan Nilai ini, yaitu sebagai berikut:

a. Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai


itu merasa senang bekerja sama dengan yang lain. Tidak jarang justru ada
konflik sehingga laporan ini justru bisa menimbulkan atau mempertajam
konflik.
b. Ada kemungkinan dengan adanya laporan pertambahan nilai ini
manajemen salah tanggap seolah ingin memaksimasi pertambahan nilai.
Pada hal sikap ini bisa menimbulkan inefisiensi.

47
c. Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan
kepalsuan pendapat seperti:
1) Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;
2) Kenaikan pertambahan nilai perunit dianggap otomatis bermanfaat
bagi pemegang saham;
3) Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas
perubahan pertambahan nilai;
4) Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja perunit dianggap
merupakan prestasi ekonomi yang baik;
5) Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak
mendapatkan gaji yang tinggi.

2.4.3 Akuntansi Perilaku

Aspek budaya dalam akuntansi disebut juga behavioural accounting. Di sini


diperhatikan berbagai budaya yang dapat mempengaruhi peran atau didapat dari
interaksi antara informasi akuntansi dengan perilaku konsumen dan atau penyajinya.
Dengan perkataan lain, berkaitan dengan hubungan antara perilaku manusia dan
sistem akuntansi baik dalam bidang akuntansi keuangan, auditing, maupun akuntansi
manjemen. Bahkan ini dianggap sebagai bidang (cabang) akuntansi yang khusus
(Siegel, Ramanauskas Sacconi, 1989). Bidang akuntansi ini mulai dikembangkan
pada awal tahun 1950-an. Pada tahun 1951 the Controllership Foundation of America
mensponsori penelitian untuk mengetahui pengaruh budget terhadap manusia. Riset
ini dilakukan oleh Cornell University dengan dipimpin oleh Chris Argyris. Penelitian
ini telah memberikan beberapa rekomendasi tentang beberapa perilaku yang muncul
dalam penerapan budget. Hasil riset yang muncul di Harvard Business Review yang
ditulis oleh Argyris dengan muncul Human Problems with Budgets. Sejak itu maka
banyak ahli menjadi pemerhati dan menjadi peneliti akuntansi perilaku ini seperti
Mayo, Maslow, Gregor, Likert.

48
Output informasi itu menyangkut manusia baik yang menyajikannya maupun
yang menggunakannya, maka diakui bahwa data akuntansi ini dapat mempengaruhi
perilaku manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. oleh karena itu,
tidak mungkin dapat dipisahkan dari para informasi akuntansi itu sendiri dengan para
pemakai atau penyajinya. Era globalisasi menimbulkan borderless country sehingga
tidak ada lagi hal-hal yang membatasi suatu Negara dengan Negara lain dalam
melakukan kegiatan bisnis maupun dalam hal pertukaran kebudayaan. Output
akuntansi pun tidak hanya beredar disuatu Negara dengan budaya yang sama, tapi
meluas sampai ke beberapa Negara dengan budaya yang berbeda.

Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari
informasi akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya.
Juga melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi akuntansi yang diberikan.
Dampak perilaku dari sistem pengewasan, dampak sistem budget terhadap perilaku,
dampak sistem responsibility accounting terhadap perilaku, dampak sistem
desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi
perilaku dalam sistem pengawasan internal, beberapa pola perilaku auditor, aspek
perilaku dalam proses pengambilan keputusan, faktor perilaku dalam capital
budgeting aspek perilaku dalam kebutuhan pengungkapan, aspek perilaku dalam
akuntansi sumber daya manusia, dan sebagainya. Lebih simpel Siegel, Ramanauskas,
dan Marconi (1989) membaginya atas tiga bagian besar berikut ini:
a. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain konstruksi dan penggunaan
sistem akuntansi. Di sini akuntansi perilaku membahas sikap dan filosofi
manajemen yang dapat mempengaruhi sifat pengawasan akuntansi dan
fungsi organisasi. Misalnya apakah manajemen yang bersifat risk averse
akan meminta sistem pengawasan yang berbeda dibanding dengan
manajer yang bukan risk averse. Pengawasan yang ketat dan yang longgar
dapat meng memengaruhi desain sistem pengawasan hal ini diperlukan hal
ini perlu diketahui untuk mencapai sistem pengawasan yang efektif. Ada
manajer yang justru memerlukan iklim trust dengan pengawasan yang

49
lebih longgar dan ada karyawan yang memerlukan iklim ketat atau dengan
pengawasan ketat.
b. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia di sini dibahas
bagaimana sistem akuntansi memengaruhi motivasi, produktivitas,
pengambilan keputusan, kepuasan kerja, dan kerjasama. Misalnya
bagaimana bujet yang didapat menciptakan produktivitas atau motivasi
bujet yang ketat atau longgar?
c. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Di sini dibahas bagaimana sistem akuntansi dapat digunakan untuk
mempengaruhi perilaku manusia misalnya memperketat atau
memperlonggar sistem pengawasan, memberikan pola kompensasi yang
dapat memengaruhi perilaku misalnya dengan ESOP(Employee Stock
Ownership Program), sistem pelaporan prestasi, sistem pemberian reward
and penalties terhadap prestasi.

Pada awal perkembangan ilmu pengetahuan ada anggapan seolah-olah bahwa


apa yang cocok bagi barat atau amerika misalnya dianggap cocok oleh dunia tanpa
memikirkan unsur aturan budaya yang sebenarnya berbeda. Sikap ini dikritik habis
oleh Hofstede yang menyatakan bahwa semua sistem metode atau gaya amerika itu
cocok dengan dunia lain. hofstede download melakukan penelitian spektakuler
sehingga beliau dapat mengidentifikasi empat determinan budaya yang bisa
membedakan satu dengan budaya lainnya determinan itu adalah sebagai berikut:
- Individualism/Collectivism, ada budaya yang tinggi perasaan
individualismenya ada yang justru kebersamaanya yang tinggi.
- Power Distance, ada bang sayang egaliter yang tidak memiliki kelas sama
sekali, namun ada bangsa yang memiliki jarak antara satu individu dengan
individu lainnya. Ada perasaan kelas di masyarakat ada atasan ada
bawahan seperti dalam budaya feodal misalnya.

50
- Uncertainty Avoidance, ada bangsa yang sangat menghindari
ketidakpastian dan masyarakat dan masyarakat yang senandung bersikap
tidak menghindari ketidakpastian justru menantangnya.
- Masculinity/Feminity, ada masyarakat yang menganggap gender memiliki
peran dalam kehidupan sehari-hari. Ada masyarakat yang didominasi
sifat-sifat maskulin ada yang didominasi sifat feminin.

Dalam akuntansi perbedaan ini juga diperhatikan sebagai determinan mungkin


memengaruhi output maupun input akuntansi itu. Memahami determinan yang
merupakan perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain saat ini merupakan
bagian dari reset akuntansi. Dalam bisnis global tentu cross culture ini tidak dapat
dihindarkan. Perusahaan yang ingin memasuki pasar bangsa atau negara lain mau
tidak mau harus mengikuti kultur bangsa itu kalau dia ingin memperhatikan
perusahaannya di negara itu. Seorang businessman harus mempelajari bisnis di
negara Arab jika dia ingin mang investasi kan modalnya di negara arab. Demikian
juga kalau kita ingin menanamkan modal di daerah batak maka mau tidak mau kita
harus mempelajari kebudayaan, adat istiadat, dan etika di daerah batak. Jika tidak,
dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan seandainya ada tindakan dan perilaku
perusahaan dan yang bertentangan dengan adat istiadat setempat.

Perusahaan Ford pernah gagal hanya karena memproduksi kan jenis sedan
dengan nama "NOVA" disuatu negara di Afrika. Ternyata ini tidak laku sama sekali.
Setelah diselidiki perbedaannya, ternyata istilah NOVA menurut bahasa setempat
artinya tidak jalan. Oleh karena itu, mobil Ford nova identik dengan mobil mogok
yang tidak bisa jalan. Akhirnya karena mereka mengabaikan aspek cross culture,
perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar.

Sebaliknya, tidak jarang perusahaan yang berhasil di suatu daerah hanya


karena kemampuannya mengikuti budaya dan keyakinan masyarakat setempat.

51
keberhasilan pedagang arab memasuki wilayah indonesia adalah karena kemampuan
mereka berakulturasi dengan budaya setempat. Keberhasilan Walisongo mengambil
hati masyarakat di Jawa merupakan bukti pendekatan cross culture yang baik.

Dalam kaitan nya dengan bisnis dan juga akuntansi maka pengetahuan dan
upaya mempelajari culture suatu negara dan daerah adalah penting untuk
keberhasilan ilmu akuntansi secara umum baik dalam menyajikan informasi
keuangan kepada masyarakat maupun dalam bidang-bidang lain. Kita harus
mempelajari cross culture ini apalagi dalam dunia yang sudah menjadi borderless ini
jika kita ingin sukses. Beberapa topik yang menjadi penelitian bidang adalah sebagai
berikut:

a. Bagaimana sikap manajemen di suatu negara tertentu jika diterapkan


sistem budget (accounting) constaraint secara ketat dalam penilaian
prestasi?
b. Bagaimana sikap auditee sewaktu dilakukan pemeriksaan?
c. Bagaimana bentuk dan kecukupan disclosure di suatu negara dengan
budaya tertentu?
d. Apa sikap pembaca laporan keuangan di suatu budaya jika diberikan atau
disajikan laporan keuangan tertentu?

2.4.4 Multidicipline Paradigm

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin


munculnya paradigma baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan
keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya.
Fenomena ini juga melanda akuntansi.

Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-Farabi,
ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan

52
menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H. Endang Saifuddin Anshari
(1991) mengungkapkan ilmu itu kemudian berkembang menjadi tiga bagian:
a. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural Science)
1. Biologi
2. Antropologi Fisik
3. Kedokteran
4. Farmasi
5. Pertanian
6. Ilmu Pasti
7. Ilmu Alam
8. Teknik
9. Geologi dan Lain-Lain

b. Ilmu Sosial (Social Science)


1. Ilmu Hukum
2. Ekonomi
3. Jiwa Social
4. Bumi Social
5. Sosiologi
6. Antropologi Sosial Budaya
7. Sejarah
8. Politik
9. Pendidikan
10. Publisistik dan Jurnalistik
11. Dan Lain-Lain

c. Humaniora ( Humanities Study)


1. Ilmu Agama
2. Ilmu Filsafat
3. Ilmu Bahasa

53
4. Ilmu Seni
5. Temu Jiwa (Psikologi)

Ilmu ekonomi yang merupakan bagian dari ilmu sosial berkembang menjadi
berbagai disiplin ilmu seperti:
1. Ekonomi Mikro Dan Makro
2. Ilmu Manajemen
3. Pembangunan
4. Pemasaran (Marketing)
5. Produksi (Production)
6. Keuangann (Finance)

Ilmu manajemen berkembang lagi menjadi berbagai disiplin ilmu seperti:


Akuntansi, Business Policy, Budgeting, planing, Planning, Operating Research,
information system, dan lain-lain.

Akuntansi kemudian berkembang lagi seperti : Akuntansi keuangan, akuntansi


manajemen, teori akuntansi, sejarah akuntansi, akuntansi Internasional, Sistem
akuntansi, Controllership, sistem pengawasan manajemen, auditing, dan sebagainya.

Perkembangan ilmu di masing-masing bidang ini selalu berkaitan erat dan


saling mengisi dengan disiplin ilmu. Contoh yang paling menarik adalah munculnya
ilmu decision science. Ilmu ini tampaknya mengkristal sebagai gabungan dari
berbagai disiplin ilmu seperti akuntansi komputer, information system, expert system,
decision science, mathematic, dan management science.

Akuntansi sebagai sebagai suatu sistem informasi membutuhkan komputer,


information science, dan decision science. Akhirnya muncullah ilmu baru seperti
decision science yang bersumber formula dan elemen-elemennya berasal dari ilmu

54
tadi. Decision science ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan sudah
menjadi salah satu jurusan yang populer di College of Business. Fenomena inilah
yang di sebut Multidicipline Paradigm.

Fenomena ini menarik karena tampak sekali bahwa lengah sedikit saja dalam
pengembangan ilmu itu kita akan ketinggalan di telan kemajuan disiplin lain. Oleh
karena itu, pengembangan disiplin dan profesi akuntansi di tanah air jangan sampai
lengah dan terlambat mengantisipasi perubahan ilmu dan teknologi yang demikian
cepat.

Dalam megantren akuntansi Enthoven di harapkan akuntansi lebih


memikirkan pendekatan terpadu dengan disiplin ilmu lainnya.

2.4.5 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan


Dilaksanakannya “Earth Summit” mengingatkan kita pada isu yang sama
yang diajukan oleh Club Of Rome tahun 1975 yang lalu yaitu konsep Limit to Growt
atau sering juga di sebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini menganggap
bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai faktor yang harus direm
perkembangannya seperti perkembangan penduduk, investasi, konsumsi sumber
alam, industri, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kuhutanan. Club ini
ingin menyelamatkan masa depan umat manusia dengan mengingatkan kita perlunya
keharmonisan pengelolaan ekosistem yang bersifta global dan idependen. Subbab ini
ingin mencoba menjelaskan perlunya alat ukur untuk memudahkan para pengambil
keputusan memanaje masalah pembangunan, lingkungan dan aspek sosial
ekonominya.

2.4.6 Akuntansi sebagai Alat Ukur

Sebenarnya akuntansi diam-diam mempunyai perangkat penting dalam


menggunakan pembangunan bumi yang aman. Namun, para teknokrat barangkali

55
belum tahu dan mungkin tidak terpikir untuk memanfaatkannya bekas Presiden Bank
Dunia A. W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena ketiadaan alat yang dapat
mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi kejadian, dampak industri
(pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan kesukaran kita mengawasi dampak
itu.

Keluhan beliau ini sebenarnya dapat di atasi oleh disiplin akuntansi sebagai
satu instrumen measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal tahun 1930-an
sebenarnya sudah melakukan pengkajian yang intensif tantang bagaimana mencatat,
mengukur national income, social acounting,dan dampak sosial yang di akibatkan
oleh industri, perusahaan, atau kegiatan pembangunan. Ini tidak berbeda dengan apa
yang di bicarakan dalam KTT Bumi tersebut. Dalam pengertian lingkungan termasuk
didalamnya manusia, flora, fauna, air, lahan, dan segala isinya.

Komitmen negara maju terhadap keselamatan lingkungan cukup besar. Hal ini
dibuktikan dengan ketatnya peraturan kongres, lembaga pemerintah seperti Security
Exchange Commision (SEC), Organisasi Profesi (seperti AICPA), lembaga swadaya
masyarakat ( LSM) terhadap penyajian laporan keuangan, badan ini biasanya
mewajibkan agar setiap lembaga termasuk perusahaan untuk membuat laporan
tentang dampak positif (social benefit) dan dampak negatif (social cost) dari setiap
kegiatan yang dilakukannya. SEC misalnya meminta laporan tentang polusi,
deskriminasi, penngaruh sosial ekonomi perusahaan pada pendapatan nasional, dan
lain-lain.

Kerusakan lingkungan yang terjadi di suatu negara memengaruhi manusia lain


sehingga kerusakan lingkungan yang berlangsung di suatu negara tanpa dapat dibatasi
negara lain. Negara berkembang berpacu mengejar ketertinggalan ekonominya
sehingga kadangkala kerusakan lingkungan pun terpaksa ditelan untuk mengejar
ketertinggalan dan kemiskinan yang juga harus di pecahkan.

56
Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan. Keputusan
yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid, faktual, dan
relevan. Keadaan yang faktual, valid, relevan dapat di supply oleh akuntansi. Dalam
akuntansi disiplin yang mensupply ini di sebut : environmental acounting. Disiplin ini
secara praktis, teori-teorinya belum sepenuhnya di sepakati oleh sebagian besar oleh
para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat ini masih terus
menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang sudah di wajibkan
dan ada yang masih dalam taraf dianjurkannya penyajiannya dalam laporan
keuangan.

2.4.7 Perlunya Akuntansi Lingkungan


Keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas . konsep
yang menganggap bahwa perusaahan sebagai wadah hukum yang melakukan
eksploitasi salam suatu wilayah dan negara dan mendapatkan keuntungan dari
kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik, yang
melindungi alamnya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan rasional.
Sebuah industri sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya faktor produksi alam, tenaga
kerja, makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah etis seandainya perusahaan itu
juga yang tergantung dengan makhluk lain sebagai penduduk bumi dari setiap
kerusakan lingkungan yang kalau tidak dijaga akhirnya akan merusak dia sendiri
sehingga tidak dapat dilakukan pembangunan berkelajutan atau pembangunan
berwawasan lingkungan.

2.4.8 Kesulitan pengukuran

Kelemahan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para ahli
dalam menentukan kreteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan lingkungan, nilai
social cost social maupun benefit-nya tidak semudah yang di byangkan. Contohnya
kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain sebagainya menunjukkan betapa
sukarnya melakukanpenetapan nilai kerusakan dan perbaikan lingkungan yang sama-
sama di terima dan sesuai pula dengan prinsip akuntansi yang sudah baku.

57
Namun sebenarnya banyak lembaga yang sudah memberikan konsep
pengukuran dan penyajian masalah ini antara lain dari Institute Of Management
Accountan, The American Accounting Association, dan beberapa ahli seperti
Flamholtz, Eipstein, McDonouch, Nikolai, Harley, Brummer. Mereka ini telah
berhasil mengidentifikasi beberapa kinerja perusahaan yang di sorot untuk menilai
keterlibatan perusahaan dalam masalah lingkungan ini seperti : keterelibatan sosial,
pengembangan sumber daya manusia, penyehatan lingkungan, kualitas produk dan
jasa, kesehatan, kontribusi sosial, ilmu pengetahuan, kualitas air, populasi, suara yang
mengganggu masyarakat, bau tidak sedap, dan [Link] bab Akuntansi Sosial
Ekonomi.

2.4.9 Penyajian

Dari berbagai konsep yang yang diajukan lembaga dan para ahli ini ada yang
menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan (footnote
disclosure, narrative disclosure) membuat pos tersendiri. Laporan khusus tentang
kerusakan lingkungan, Social Responbility Report, Environmental Exchange Report,
Social Income Statement Report, Comprehensif Social Benefit Cost Model, and
Multimensional Income Statement. SEC biasanya mengharuskan perusahaan yang
listed di bursa New York Stock Exchange untuk melaporkan hal-hal yang bertalian
dengan masalah lingkungan dan social cost dan benefit lainnya.
Semua negara tampaknya memiliki kemauan politik untuk ikut bertanggung
jawab pada keamanan bumi yang kita diami ini. Model ini sudah cukup menjadi
pegangan dalam mengelola lingkungan. Untuk mengelola lingkungan diperklukan
informasi yang sebenarnya dapat disupply oleh environmental accounting yang masih
terus dikembangkan oleh profesi akuntan. Indonesia yang juga bertanggung jawab
terhadap buminya sudah selayaknya memulai memelopori penyusunan prinsip
akuntansi lingkungannya. Dalam hal-hal tertentu akuntansi lingkungan sepadan
dengan socio economic accounting. Dari kesepakatan global initiative pada tahun
2013 perusahaan harus membuat laporan tentang Triple P (Profit, People, Planet).

58
2.4.10 Kegagalan Efficient Market Hypothesis

Sebenarnya topik ini bukan baru apalagi tren, karena isu ini sudah lama
dikenal dalam akuntansi, dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (efficient
Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “pasar akan menyesuaikan
diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham.” Dalam bahasa
penelitian bidang penelitian yang memnyangkut soal ini adalah positive accounting
[Link] teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi
menyangkut:

a. Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada publik


dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indikator harga
saham di bursa;
b. Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.

Fama (1969) menyatakan bahwa beberspsa syarat untuk menciptakan pasar


yang efisien adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham


b. Semua informasi tersedia secara cuma-cuma bagi semua peserta pasar.
c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga
sekarang dan distribusi harga masa yang akan datang dari tiap saham.

Menurut Fama informasi ada tiga set informasi:


1. Gerakan harga saham masa lalu;
2. Informasi yang tersedia bagi publik;
3. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi publik maupun milik
perusahaan.

Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut:

59
a. Bentuk lemah (weak form) dari pasar efesiensi. Di sini harga pasar saham
pada periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang
berasal dari harga saham masa lalu. D sini tidak ada strategi dagang
berdasrkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya.
b. Bentuk semi kuat (semi strong) di mana harga saham secara penuh
merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada publik
termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang
yang dipakai dalam perdagangan saham.
c. Bentuk kuat (strong form) di mana harga saham merupakan gambaran dari
seluruh informasi yang ada baik informasi harga saham yang lalu,
imformasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya seperti
informasi dari dalam dan informasi pribadi lainnya.

Dari tiga bentuk ini maka bentuk semi strong-lah yang paling relevan dengan
akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia bagi publik.

Dalam EMH sering digunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Yang
dimaksud dengan model CAPM ini adalah suatu model yang mentaksir laba yang
abnormal atau laba yang tidak diperkirakan dari saham biasa suatu perusahaan pada
saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semi strong juga dipakai dalam model
ini.

60
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

61
DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, A. R. (2007). Teori Akuntansi, Buku 2, Edisi ke-5. Jakarta: Salemba Empat.

Godfrey, J., Hodgson, A., Tarca, A., Hamilton, J., & Holmes, S. (2010). Accounting
Theory, 7th Edition. Australia: John Wiley & Sons, Inc.

Harahap, S. S. (2011). Teori Akuntansi, Edisi Revisi 2011. Bandung: Rajagrafindo


Persada.

Ikhsan, A., & Suprasto, H. B. (2008). Teori Akuntansi dan Riset Multiparadigma.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

62

Anda mungkin juga menyukai