Riset Akuntansi: Pendekatan dan Tren
Riset Akuntansi: Pendekatan dan Tren
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi
Keuangan Kelas F
Disusun Oleh:
Julia Nurastrina
Rahayu
Ressa Lini 1702122936
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS RIAU
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Subhanahuwa ta’ala atas semua karunia, rahmat,
nikmat, dan kekuatan yang telah diberikan kepada penulis hingga akhirnya dapat
menyelesaikan tugas penulisan makalah yang berjudul “RISET AKUNTANSI”.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Teori Akuntansi Keuangan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta memiliki kekurangan dan kelemahan
dari segi penulisan, tata bahasa, dan penyusunan. Untuk itu, penulis menerima segala
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan semoga apa yang tertuang dalam makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan terimakasih atas kritik dan saran
serta masukan yang telah diberikan untuk kesempurnaan makalah ini.
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................2
BAB II: PEMBAHASAN..............................................................................................3
2.1 Penelitian di Bidang Akuntansi......................................................................3
2.1.1 Kerangka Kerja Burrell dan Morgan.......................................................3
2.1.2 Pandangan Fungsionalis dalam Akuntansi..............................................7
2.1.3 Pandangan Interpretatif dalam Akuntansi.............................................10
2.1.4 Pandangan Humanis Radikal dalam Akuntansi.....................................12
2.1.5 Pandangan Strukturalis Radikal dalam Akuntansi................................15
2.2 Ruang Lingkup Penelitian Akuntansi...........................................................18
2.2.1 Konsentrasi Akuntansi Keuangan.........................................................18
2.2.2 Akuntansi Manajemen...........................................................................20
2.2.3 Akuntansi Pasar Modal..........................................................................21
2.2.4 Akuntansi Perpajakan............................................................................21
2.2.5 Auditing.................................................................................................22
2.2.6 Sistem Informasi Akuntansi.................................................................22
2.2.7 Tren Akuntansi......................................................................................22
2.2.8 Topik Lain.............................................................................................23
2.3 Riset Akuntansi Multiparadigma..................................................................25
2.4 Trend Riset Akuntansi..................................................................................27
2.4.1 Megatrends 2010...................................................................................30
2.4.2 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi.................................................31
2.4.3 Akuntansi Perilaku................................................................................40
2.4.4 Multidicipline Paradigm........................................................................44
ii
2.4.5 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan.........................................47
2.4.6 Akuntansi sebagai Alat Ukur.................................................................47
2.4.7 Perlunya Akuntansi Lingkungan...........................................................48
2.4.8 Kesulitan pengukuran............................................................................49
2.4.9 Penyajian...............................................................................................49
2.4.10 Kegagalan Efficient Market Hypothesis................................................50
BAB III: PENUTUP....................................................................................................52
3.1 Kesimpulan...................................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................53
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Pada awalnya, proses mencari kebenaran dimulai dari cara dogmatis, di mana
kebenaran ini berasal dari orang atau pihak yang diberi dan diyakini memiliki otoritas
menetapkan kebenaran. Kemudian, cara ini berkembang dan menggunakan cara
normatif dengan menggunakan logika ilmiah. Lalu, berkembang dan kemudian
menggunakan metode empiris dengan titik berat melihat kenyataan yang ada di
lapangan (fenomena sosial). Perkembangan ilmu akuntansi yang demikian cepat
akhir-akhir ini didasarkan pada proses penelitian ini. Berbagai teori muncul,
mengingkari kebenaran teori lama, dan teori baru dibangun.
Ada beberapa metode penelitian yang dipakai dalam suatu penelitian. Dalam
ilmu sosial itu sendiri, metode penelitian yang digunakan memiliki perbedaan,
misalnya antara ilmu antorpologi dengan ekonomi, dengan sosiologi, dengan
manajemen, dan sebagainya. Dalam menentukan metode penelitian ini ukuran yang
1
terbaik yang akan dipakai adalah masalah apa yang akan dijawab. Secara garis besar,
ada tiga cara yang dipilih, yaitu:
2
4. Untuk mengetahui tentang trend riset dalam bidang akuntansi.
3
BAB II
PEMBAHASAN
Penelitian akuntansi dapat memiliki banyak ragam dan pilihan. Bagi orang
awam, penelitian akuntansi tampak seperti mengalami kesulitan dalam mencari topik,
metodologi, dan jenis wacananya. Kenyataannya ternyata sangat berbeda. Seperti
ilmu sosial lainnya, akuntansi melakukan penelitiannya dengan didasarkan pada
asumsi-asumsi yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu sosial dan hakikat dari
masyarakat. Sebuah pendekatan yang telah diterapkan oleh Burrell dan Morgan
dalam analisis organisasional dapat digunakan untuk membedakan empat pandangan
penelitian dalam akuntansi, yaitu pandangan fungsional, pandangan interpretatif,
pandangan humanis radikal, dan pandangan strukturalis radikal. Dalam bagian ini,
keempat pandangan tersebut akan dibahas dan diterapkan pada penelitian akuntansi.
4
struktur pada kenyataan seperti dalam nominalisme, atau apakah ia
merupakan penggabungan dari struktur-struktur yang nyata, faktual, dan
berwujud seperti dalam realisme.
Kedua, perdebatan tentang epistemologis, yang berkaitan dengan dasar
pengetahuan dan hakikat pengetahuan, melibatkan debat antipositivisme-
positivisme. Perdebatan ini berfokus pada kegunaan dari pencarian hukum
atau keteraturan yang menjadi dasar dalam bidang sosial. Positivisme
mendukung kegunaan ini. Antipositivisme menyangkalnya dan
membantah dengan menyatakan partisipasi individual sebagai salah satu
persyaratan untuk memahami alam sosial.
Ketiga, perdebatan sifat manusia, berkaitan dengan hubungan antar
manusia dan lingkungannya, yang melibatkan perdebatan voluntarisme-
determinisme. Perdebatan ini berfokus pada apakah manusia dan
aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan seperti yang
dikemukakan oleh determinisme, atau merupakan hasil keinginan mereka
sendiri seperti dalam voluntarisme.
Keempat, perdebatan mengenai metodologi, yang berkaitan dengan
metode-metode yang digunakan untuk melakukan penyelidikan dan
mempelajari alam sosial, melibatkan perdebatan ideografis-nometis.
Perdebatan ini berfokus pada apakah metodologi yang terlibat dalam
analisis perkiraan-perkiraan subjektif diperoleh melalui partisipasi atau
ikut terlibat langsung dalam situasi seperti yang terdapat dalam metode
ideografis, atau apakah ia melibatkan suatu pengujian atas hipotesis secara
ilmiah dan teliti seperti yang terdapat dalam metode nometis.
5
perubahan radikal. Sosiologi regulasi (sociology of regulation) mencoba
untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada kesatuan dan
keterpaduannya serta perlunya diberikan suatu regulasi. Sosiologi
perubahan radikal (sociology of radical change) sebaliknya, mencoba
untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada perubahan radikal,
konflik struktural mendalam, cara-cara pendominasian, dan pertentangan
struktural yang terjadi pada masyarakat modern. Seperti yang telah
disoroti oleh Burrell dan Morgan, sosiologi regulasi berkaitan dengan
status quo, tatanan sosial, konsensus, integrasi dan kohesi sosial,
solidaritas, perlunya rasa kepuasan dan aktualisasi, sedangkan sosiologi
perubahan radikal berkaitan dengan perubahan radikal, konflik struktural,
cara-cara pendominasian, pertentangan, emansipasi, perampasan hak dan
potensialitas.
6
pandangan mengenai realitas yang digunkan untuk menganalisis beragam
teori-teori sosial termasuk di antaranya akuntansi.
Perubahan radikal
Humanis Strukturalis
radikal radikal
Pandangan Pandangan
subjektif objektif
Interpretatif Fungsionalis
Keteraturan
7
Gambar 2.1 Empat Pandangan dari analisis teori sosial
8
jarak antara objek dan subyek. Dalam kaitannya dengan akuntansi manajemen dan
sistem pengendalian. Macintosh (1994) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008)
menyatakan bahwa fungsionalis mengasumsikan suatu sistem sosial dalam organisasi
yang meliputi fenomena empiris dan konkret, yang keberadaannya bebas dari manajer
dan karyawan yang bekerja didalamnya.
9
Objektivisme dengan komitmennya kepada model dan metode yang
digunakan dalam ilmu-ilmu alam adalah cara utama dalam penelitian dan pembuatan
teori akuntansi. Bahkan, empirisme abstrak sebagai suatu judul cocok sekali dengan
kebanyakan penelitian akuntansi empiris yang telah diterbitkan. Terdapat suatu
desakan yang pasti untuk mengembangkan sebuah model yang mendalam dari
fenomena akuntansi di tengah-tengah absennya variabel-variabel yang
membingungkan dan ketergantungan metodologis pada metode-metode hipotesis
deduktif.
10
Beberapa kelemahan metodologi pandangan fungsionalis dalam riset
akuntansi, terutama akuntansi keperilakuan mulai dirasakan oleh peneliti akuntansi
lainnya. Mereka mulai mempertanyakan apakah pandangan ontologi realitas fisik
tepat untuk memahami fenomena sosial? Capra (1998) dalam Ikhsan dan Suprasto
(2008) mengatakan bahwa:
11
2.1.3 Pandangan Interpretatif dalam Akuntansi
12
pemahaman mereka menjadi nyata karena mereka bertindak untuk suatu peristiwa
dan situasi atas dasar makna pribadinya.
Bagi para interpretatis, akuntansi tidak lebih dari hanya sekedar nama, konsep,
dan label yang digunakan untuk membuat suatu kenyataan sosial. Ia hanya dapat
dimengerti dari sudut pandang pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan,
komunikasi, dan penggunaannya. Secara metodologis, metode-metode ideografis dan
13
bukannya metode hipotesis-deduktiflah yang dibutuhkan untuk menghidupkan
kembali definisi pelaksana atas masalah.
14
Beberapa argumentasi teoritis pandangan interpretatif dalam akuntansi
keperilakuan yang dijelaskan oleh Dilard dan Becker dikemukankan oleh Morgan
(1998), Gambling (1987), Hayes (1983), Colville (1981), Tomskin dan Groves
(1983), Robert dan Scapens (1985), Covaleski dan Dirsmith (1990). Studi empiris
dalam bidang akuntansi yang telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
interpretatif ini diantaranya adalah: Ansari dan Euski (1987), Colignon dan Covaleski
(1988), Bougen et al (1990), Pinch et al (1989), Boland dan Pondy (1983), Berry et al
(1985), Macintosh dan Scapens (1990), dan Roberts (1990).
15
Riset-riset yang diklasifikasikan dalam pandangan humanis radikal jika
didasarkan pada teori kritis dari Frankfurt Schools dan Habermas. Pendekatan kritis
Habernas melihat bahwa obyek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut
dengan “dunia kehidupan” (life world) yang diartikan sebagai interaksi berdasarkan
pada kepentingan kebutuhan yang melekat dalam diri manusia dan membantu untuk
pencapaian kearah saling memahami. Interaksi sosial dalam dunia kehidupan dapat
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
Teori kritis dalam akuntansi akan mempunyai asumsi bahwa teori-teori, isi
dari ilmu, dan fakta-faktanya adalah hanya sekedar pencerminan dari suatu
pandangan dunia yang realistis. Ia akan melihat akuntan (accountant), penghitung
(accountor), dan yang dihitung (accountee) sebagai tahanan (prisoner) dari sebuah
bentuk kesadaran yang dibentuk dan dikendalikan melalui proses-proses ideologis.
Seluruh aspek dari akuntansi akan disisir untuk sifat-sifat mereka yang bersifat
mengasingkan. Singkatnya, akuntansi akan dilihat telah membuat “penjara pikiran” di
mana kenyataan-kenyataan organisasional dapat dikonfirmasi dan mendominasi.
Argumentasi yang dikemukakan adalah bahwa sistem akuntansi mendorong dan
mempertahankan adanya pengasingan dan konflik. Pandangan ini akan diartikan
bahwa akuntansi seharusnya membantu seseorang menyadari potensi yang mereka
miliki dengan membantu mereka menyadari kebutuhan-kebutuhan mereka, atau
mengarahkan mereka kepada arah yang sejalan dengan perhatian yang diberikan oleh
Habermas pada kompetensi komunikatif dan perhatian dari Gramsci dan Lukacs pada
ideologi dan kesadaran palsu.
16
Gramsci, lebih khusus lagi, membahas masalah akan kesadaran palsu ini
dengan melihat posisi dari para intelektual di dalam suatu masyarakat kontemporer.
Meskipun ia berpendapat bahwa seluruh manusia adalah makhluk intelektual, tidak
semua orang yang berada di bawah kapitalisme akan menjalankan fungsi-fungsi
intelektualnya. Ia lebih lanjut membedakan antara intelektual tradisional, yang secara
historis tidak terpengaruh (autonomous) oleh kepentingan-kepentingan golongan,
dengan intelektual organik, yang secara ideologis sejalan dengan kepentingan-
kepentingan golongan. Dalam kapitalisme kontemporer, kebanyakan intelektual
secara organik terikat dengan kaum borjuis. Karena hegemoni ideologis dari
kapitalisme, hanya sedikit kaum intelektual yang mengutarakan kepentingan-
kepentingan dari golongan yang lebih rendah. Jenis interpretasi dari humanis radikal
di bidang akuntansi seperti ini memberikan kesan bahwa sampai munculnya suatu
kaum akuntan elite “organik” yang tidak memiliki ikatan secara ideologis dengan
golongan kapitalis, maka disiplin ilmu akuntansi akan terus menyebarkan
kepentingan kepentingan dan ideologi kapitalisme. Akan tetapi, para akuntan klasik
atau fungsional, dengan sangat cepat menuduh para humanis sebagai kaum partisan
dan nonakademik. Seperti yang telah dibahas oleh Burrell dan Morgan, para humanis
sering diistilahkan sebagai “orang-orang radikal yang bersikera untuk meniup nyala
api kesadaran revolusioner, atau sebagai eksistensialis tidak berakal yang tidak mau
atau tidak dapat menyesuaikan diri terhadap ‘kenyataan’ hidup dunia sehari-hari dan
menerima ‘kemajuan’ yang telah pasti terjadi.
17
asal mula sosialnya. Sedangkan riset akuntansi yang menggunakan pandangan ini
antara lain: Broadbeent et al (1991) dalam Ikhsan dan Suprasto (2008), yang
menunjukkan penggunaan kerangka Habermasian dalam menganalisa aplikasi
akuntansi pada industri pelayanan kesehatan di AS. Mereka menenukan bahwa,
walaupun akuntansi tidak diterima secara penuh sebagai teknologi manajemen dalam
sektor pelayanan kesehatan, namun akuntansi mempengaruhi tindakan dengan
memberikan arti atau makna dalam suatu dilema moral disekitar alokasi sumber daya
pelayanan kesehatan.
18
dalam riset akuntansi manajemen. Peran akuntansi dalam analisis birokrasi yang
klasik dari weber sebagai salah satu cara dominasi, analisis “iron law oligarchy”
(oligarki hukum besi) dari Robert Michels, dan analisis organisasi dari Marxis akan
muncul sebagai suatu alat dominasi yang berkuasa untuk dipahami sebagai bagian
yang penting dari sebuah proses dominasi yang lebih luas di dalam masyarakat secara
keseluruhan. Seperti yang dinyatakan oleh David Cooper:
Para akuntan strukturalis memiliki pandangan yang objektif atas alam sosial
namun juga berfokus pada kecenderungan-kecenderungan terjadinya kkontradiksi dan
krisis yang ditimbulkan oleh proses akuntansi. Tidak seperti humanis radikal yang
menekankan pada fenomena superstruktural seperti ideologi dan kesadaran yang
menyimpang, strukturalis radikal dalam akuntansi akan berfokus pada hubungan
antara akuntansi dan ekonomi dan hubungan politis dari dominasi.
19
Strukturalis Marxis seperti Althusser dan Nicos Poulantzas telah menekankan
otonomi relatif dari struktur-struktur politis dan ideologis dari basis ekonomi yang
mendasari sebagai suatu hubungan ke model-model Marxis klasik yang terlalu
deterministis. Sehubungan dengan akuntansi perusahaan, pendekatan ini akan
berfokus pada kebebasan relatif dari berbagai praktik, kebijakan, dan teori akuntansi
dari kekuatan ekonomi dan politis yang nyata. Perkembangan akuntansi dapat dilihat
sebagai sebuah proses sui generis, atau didefinisikan dari dalam. Suatu agenda yang
serupa bagi akuntansi di dalam pengajaran strukturalis radikal dapat dengan tepat
dinyatakan sebagai berikut:
20
Knights dan Collinson (1987), Neimark dan Tinjer (1986), dan Tinjer dan Neimark
(1987).
a. Teori Akuntansi
21
3) Konsep/prinsip akuntansi manakah yang kurang relevan dengan tuntutan
pemakai laporan di Indonesia
4) Pihak Manakah yang dominan dalam perumusan standar akuntansi di
Indonesia
5) Apa tren akuntansi yang dominan di Indonesia
6) Bagaimana perkembangan akuntansi Islam di Indonesia atau di dunia
b. Standar Akuntansi
22
Biasanya dalam literatur dikenal agency theory yang melihat hubungan
berdasarkan konsep agent dan principal. Contoh topik yang dapat dibahas:
23
konvensional)?
4) Hal apa yang menimbulkan perbedaan perhitungan laba pajak dengan
konsep laba akuntansi?
5) Perhitungan laba mana yang sesuai dengan manajemen atau para
pengambil keputusan?
6) Bagaimana akuntansi merespons konsep laba ekonomi?
a. Pengambilan Keputusan
24
1) Pengaruh struktur organisasi dalam efektivitas pengawasan.
2) Metode pengawasan di perusahaan tertentu dan dibandingkan dengan
perusahaan lainnya.
Dalam bidang ini yang dapat dibahas adalah bagaimana reaksi pasar terhadap
keluarnya informasi akuntansi, laporan keuangan periodic atau informasi lainnya.
Contoh topik yang dibahas disini adalah sebagai berikut :
2.2.5 Auditing
Disini dapat dibahas hal-hal yang berkaitan dengan auditing, teori, proses,
hasil perilaku, dan sebagainya. Contohnya :
25
1) Peranan operasional audit mengontrol kinerja perusahaan.
2) Menilai resiko audit.
3) Hubungan antara internal control dengan sikap auditor.
4) Efektifitas audit.
5) Perilaku auditee sewaktu ditemukan kesalahan akuntansi.
Disini dibahas berbagai hal yang sudah dibicarakan dalam literature, tetapi
masih dalam tahap proses belum menjadi prinsip yang harus diberlakukan, misalnya:
26
4) Akuntasi Islam, mengukur teori, konsep Islam dalam bidang Akuntansi.
5) Akuntansi Sumber Daya Manusia, mengukur SDM sebagai asset
perusahaan.
6) Akuntansi Nilai Tambah, menyajikan informasi tentang
pemberi/contributor bagi perusahaan.
7) Pelaporan Pegawai, menginformasikan beberapa data yang diperlukan
pegawai, dan lain sebagainya.
27
disiplin baru atau penemuan baru.
Penelitian pasar modal dan teori agensi berasal dari ilmu ekonomi dan
mengesampingkan motivasi aktual orang-orang dengan asumsi bahwa
setiap orang merupakan pemaksimal kekayaan. Behavioural accounting
diambil dari ilmu seperti psikologi, sosiologi, dan teori organisasi.
Penelitian di bidang behavioural accounting mencakup berbagai bidang
kegiatan akuntansi. Beberapa penelitian BAR, misalnya, telah diterapkan
di bidang audit untuk meningkatkan pengambilan keputusan auditor.
Contohnya ketika auditor akan melakukan audit, auditor harus menilai
risiko yang berhubungan dengan klien. Semakin banyak resiko, semakin
banyak pula audit yang harus dilakukan. BAR digunakan untuk
menganalisis risiko auditor. Ada beberapa alasan mengapa BAR penting
28
bagi praktisi akuntansi, diantaranya:
29
d. Akuntansi Koperasi
Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat
keterkaitan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya. Pendekatan
voluntarisme (voluntarism) memberikan penekanan pada esensi bahwa manusia
berada di dunia ini untuk memecahkan fenomena sosial sebagai makhluk yang
memiliki “kehendak dan pilihan bebas” (free will and choice). Manusia pada sisi ini
dilihat sebagai pencipta dan mempunyai perspektif untuk menciptakan fenomena
sosial dengan daya kreatifitasnya. Sebaliknya pendekatan determinisme memandang
30
bahwa manusia dan aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan tempat dia
berada. Asumsi-asumsi tersebut memiliki pengaruh terhadap metodologi yang akan
digunakan. Metodologi dipahami sebagai suatu cara untuk menentukan teknik yang
tepat untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan ideografik yang mempunyai unsur
utama subjektivisme menjadi landasan pandangan bahwa seseorang akan dapat
memahami “dunia sosial” (social world) dan fenomena yang diinvestigasi, apabila ia
dapat memperolehnya atas dasar “pengetahuan pihak pertama” (first hand
knowledge). Sebaliknya pendekatan nomotetik (nomothetic) mempunyai sistem baku
dalam melakukan penyelidikan yang biasanya disebut dengan sistem protokol dan
teknik. Secara ringkas, Burrel dan Morgan menggambarkan asumsi tersebut
sebagaimana disajikan dalam gambar 2.2.
Pendekatan Pendekatan
Subjektifisme Objektifisme
Sosial Sosial
Realisme
Nominalisme
Ontologi
Voluntarisme
Hakikat Manusia Determinisme
Ideografik Nomoteisem
31
Methodologi
32
J.H. Enthoven (1995) dalam Accounting Research Monoghraph 5 dengan
judul Mega Accountancy Trends, berdasarkan Megatrends-nya Naisbitt, ia
merefleksikan megatrend akuntansi akan menghadapi pesoalan sebagai berikut:
Kualitas relevan sudah menjadi ciri akuntansi, namun sampai saat ini kualitas
ini belum dapat dinilai tercapai. Kemudian, untuk mengantisipasi tren tersebut di atas,
Enthoven menganjurkan penyempurnaan infrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi
tuntutan tren itu.
Tren yang dibuat Enthoven ini beranjak dari Megatrend-nya Naisbitt yaitu:
1. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
2. Dasar pemikiran orang akan beralih dari skup jangka pendek ke skup
jangka panjang.
3. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industry ke masyarakat
informasi.
4. Struktur organisasi akan berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti
kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau networking,
kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
5. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan ke
ilihan banyak.
33
6. Pertumbuhan ekonomi akan beralih dari dunia bagian utara ke bagian
selatan.
7. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke
demokrasi partisipasi.
8. Dari bantuan institusi ke mandiri.
9. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
10. Kekuasaan akan beralih dari sentralisasi ke desantralisasi.
34
Dari keadaan ini dapat kita tarik garis atau benang merah bahwa tren
kecenderungan ke arah mana akuntansi menuju sesuai dengan perkembangan tuntutan
masyarakat adalah menuju suatu sifat yang lebih bernuansa sosial, etis, lebih relevan,
dan bertanggung jawab.
Baru-baru ini keluar buku Megatrends 2010 yang ditulis oleh Patrice
Aburdene (2005). Beliau mengemukakan paling tidak ada tujuh kecenderungan bisnis
yang tentu nantinya akan memengaruhi profesi akuntansi dan teori akuntansi. Ketujuh
Megatrends adalah:
1. Kekuatan Spiritualitas (The Power of Spritulity);
2. Munculnya Kapitalisme yang Sadar (The Down of Conscious Capitalism);
3. Pemimpin Lahir dari Level Tengah (Leading From The Middle);
4. Bisnis Spritualisme (Spirituality In Business);
5. Konsumen Berbasis Nilai (The Value-Driven Consumer);
6. Gelombang Solusi Kesadaran (The Wave of Conscious Solution);
35
7. Boomnya Investasi Pada Perusahaan Yang Memiliki Tanggung Jawab
Sosial (The Socially Responsible Investment Boom).
Dari ketujuh megatrends ini baru trends no. 7 yang mulai ditanggapi oleh
profesi akuntansi. Dalam teori dan standard akuntansi belum memberikan pedoman
yang tetap. Megatrend lainnya sama sekali belum terlihat arah dan petunjuk untuk
memenuhinya. Misalnya bagaimana peran akuntansi mengukur, mencatat atau
melaporkan aspek nilai-nilai spritualisme, dan sebagainya. Entah nanti akuntansi
syariah bisa memberikan alternative. Penelitian bidang ini tentu sangat dibutuhkan
untuk pengembangan teori akuntansi sehingga profesi ini tidak ditinggal jauh dan
bahkan bisa menjadi dinosaurus.
36
[Link] Triple Entry System
Kalau dahulu kita mengenal single entry, double entry maka sekarang kita
mengenal triple entry. Dalam sistem ini transaksi dicatat dalam tiga dimensi. Model
ini adalah pengembangan dari Double Entry Bookleeping System. Dalam model ini
bukan saja transaksi yang mempengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan pasiva yang
dilaporkan, tetapi juga force atau power yang menyebabkannya sehingga laporan
neraca misalnya menyajikan Wealth = Capital = Force. Triple entry memiliki Force
Account yang mencatat beberapa factor antara lain perubahan harga, perubahan
jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya. Misalnya jika harga
suatu barang naik maka akan dibuat perkiraan force. Demikian juga kalau terjadi
perubahan volume dan jumlah. Informasi yang dilaporkan melalui model ini disebut
force statement. Nanti aka nada tiga jenos laporan Wealth Statement, Capital
Statement, Dan Force Statement. Wealt statement melaporkan kekayaan perusahaan
(A-L) sedangkan Capital Statement melaporkan komposisi dan perubahan modal di
man informasi laba rugi dimasukkan di dalamnya. Sementara itu, Force Statement
memuat informasi peruabahan kekayaan juga, tetapi yang dipengaruhi oleh kenaikan
atau penurunan laba saja. Force statement ini akan didampingi oleh laporan variance
analysis yang merinci komponen fixed dan variabel.
37
penyempurnaan daei sistem double entry. Bagi yang berminat mendalami ini dapat
dibaca Studiesin Accounting Research No. 18 yang ditulis Yuji Ijiri (1982).
Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini
adalah (Purdy dalam Bealkaoui, 1985):
a. Tekanan semakin besar akan perlunya Full Disclosure;
b. Praktik dan masalah yang berkatan dengan hubungan perburuhan;
c. Munculnha perdebatan tentang demokritisasi perusahaan;
d. Perkembangan di Negara lain akn perlunya informasi dimaksud.
38
- Jumlah pegawai;
- Lokasi tempat bekerja;
- Umur karyawan;
- Jam kerja;
- Biaya tenaga kerja
- Program pension;
- Program jaminan sosial, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua;
- Pelatihan dan pendidikkan atau adanya career path;
- Pengakuan terhadap serikat pekerja;
- Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin dan
sebagainya.
Bagi karyawan hal ini sangat penting untuk mengetahui hak-haknya, iklim
atau atmosfer yang terjadi dalam perusahaan, jaminan sosial yang dapat
dinikmatinya, pengembangan karier, dan sebagainya. Sedangkan bagi pemerintah hal
ini dapat digunakan untuk mengetahui sampai di mana perusahaan menyesuaikan diri
dengan peraturan dan hokum yang berlaku. Bagi investor, informasi ini penting untuk
mengetahui risiko yang mungkin timbul dalam perusahaan yang disebabkan
kemungkinan tindakan karyawan.
39
d. Menyampaikan keputusan manajemen.
e. Menyampaikan hubungan antara karyawan, manajemen, dan pemegang
saham.
f. Menjelaskan tujuan perusahaan.
g. Mendorong partisipasi karyawan yang lebih besar.
h. Merespons tekanan legislatif atau serikat pekerja.
i. Membangun image perusahaan.
j. Memenuhi ketentuan UU tentang pengungkapan informasi yang
dibutuhkan karyawan.
k. Merespons kekhawatiran manajemen terhadap berbagai tuntutan pegawai,
maupun persaingan.
l. Menunjukkan perhatian besar terhadap karyawan.
40
Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba
maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah.
Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham
saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value added
adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau dihasilkan dengan penggunaan
asset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayaan perusahaan oleh seluruh tim
yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan pemerintah. Sebenarnya
konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu ekonomi terutama dalam
perhitungan pendapatan nasional. Namun, perlu diingat bahwa value added tidak
sama dengan laba. Laba menunjukkan pendapatan bagi pemilik saham sedangkan
pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi seluruh stakeholders. laporan
pertambahan nilai jangan pula disamakan dengan pajak pertambahan nilai.
41
Pertambahan Nilai. Anjuran ini diadopsi di UK pada tahun 1977. Pada survei yang
dilakukan untuk mengetahui banyaknya perusahaan yang memakai Laporan
Pertambahan Nilai ini, pada tahun 1980 lebih 20% perusahaan terbesar di UK sudah
membuat Laporan Pertambahan Nilai. Perkembangan ini didorong oleh desakan dari
serikat buruh yang dikenal sangat kuat di eropa. Bahkan sekarang dikenal VAIPS
atau Value Added Incentive Payment Scheme di mana dasar pemberian intensif
didasarkan pada pertambahan nilai.
Langkah 1:
Di sini dihitung laba ditahan yang didapat dari hasil penjualan dikurangi
biaya, pajak, dividen atau:
Penerimaan penjualan
Rp……………..
Dikurangi:
Penyusutan Rp………..
42
Biaya bunga Rp………..
Dividen Rp………..
Pajak Rp………..
Langkah 2:
Laporan pertambahan nilai dapat disusun dari data di atas dengan format
sebagai berikut:
Penyusutan Rp………..
43
Dividen Rp………..
Pajak Rp………..
Berikut ini contoh laporan pertambahan nilai yang diambil dari data laporan
laba rugi:
PT Sipangko Jaya
__
Penjualan Rp 10.000.000
Dikurangi:
Penyusutan Rp 400.000
44
Total biaya Rp 7.000.000
Dividen Rp 500.000
PT Sipangko Jaya
Penjualan Rp 10.000.000
Dikurangi:
Penyusutan Rp 400.000
45
Laba didistribusikan Rp 5.600.000
Dividen Rp 500.000
Total Rp 5.600.000
Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai
berikut:
a. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang
abash sebagai dasar perhitungan reward.
b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk
mengetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi dan
ekonomi dengan mengungkapkan jumlah kekayaan dalam pengukuran
pendapatan nasional.
d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan
pertambahan nilai kotor:
46
1) Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan
bonus produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada
perubahan modal.
2) Dengan mengurangkan biaya penyusutan akan menghindari double
counting yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua
perusahaan.
3) Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba
untuk semua. Ini akan mendorong spirit team atau sense of belonging
dalam perusahaan. Masing-masing pihak mengetahui kontribusinya
dalam proses peningkatan kekayaan perusahaan.
4) Mestinya remunerasi karyawan tidak hanya berasal dari gaji, tetapi
juga kenaikan kekayaan, ini onsep baru dalam dunia bisnis modern.
Informasi untuk kepentingan ini di supply oleh Laporan Pertambahan
Nilai.
5) Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi
yang dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.
6) Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendaptan nasional.
7) Dapat menilai proporsi masing-masing terhadap nilai tambah sehingga
dapat mendorong keadilan.
47
c. Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan
kepalsuan pendapat seperti:
1) Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;
2) Kenaikan pertambahan nilai perunit dianggap otomatis bermanfaat
bagi pemegang saham;
3) Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas
perubahan pertambahan nilai;
4) Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja perunit dianggap
merupakan prestasi ekonomi yang baik;
5) Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak
mendapatkan gaji yang tinggi.
48
Output informasi itu menyangkut manusia baik yang menyajikannya maupun
yang menggunakannya, maka diakui bahwa data akuntansi ini dapat mempengaruhi
perilaku manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. oleh karena itu,
tidak mungkin dapat dipisahkan dari para informasi akuntansi itu sendiri dengan para
pemakai atau penyajinya. Era globalisasi menimbulkan borderless country sehingga
tidak ada lagi hal-hal yang membatasi suatu Negara dengan Negara lain dalam
melakukan kegiatan bisnis maupun dalam hal pertukaran kebudayaan. Output
akuntansi pun tidak hanya beredar disuatu Negara dengan budaya yang sama, tapi
meluas sampai ke beberapa Negara dengan budaya yang berbeda.
Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari
informasi akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya.
Juga melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi akuntansi yang diberikan.
Dampak perilaku dari sistem pengewasan, dampak sistem budget terhadap perilaku,
dampak sistem responsibility accounting terhadap perilaku, dampak sistem
desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi
perilaku dalam sistem pengawasan internal, beberapa pola perilaku auditor, aspek
perilaku dalam proses pengambilan keputusan, faktor perilaku dalam capital
budgeting aspek perilaku dalam kebutuhan pengungkapan, aspek perilaku dalam
akuntansi sumber daya manusia, dan sebagainya. Lebih simpel Siegel, Ramanauskas,
dan Marconi (1989) membaginya atas tiga bagian besar berikut ini:
a. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain konstruksi dan penggunaan
sistem akuntansi. Di sini akuntansi perilaku membahas sikap dan filosofi
manajemen yang dapat mempengaruhi sifat pengawasan akuntansi dan
fungsi organisasi. Misalnya apakah manajemen yang bersifat risk averse
akan meminta sistem pengawasan yang berbeda dibanding dengan
manajer yang bukan risk averse. Pengawasan yang ketat dan yang longgar
dapat meng memengaruhi desain sistem pengawasan hal ini diperlukan hal
ini perlu diketahui untuk mencapai sistem pengawasan yang efektif. Ada
manajer yang justru memerlukan iklim trust dengan pengawasan yang
49
lebih longgar dan ada karyawan yang memerlukan iklim ketat atau dengan
pengawasan ketat.
b. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia di sini dibahas
bagaimana sistem akuntansi memengaruhi motivasi, produktivitas,
pengambilan keputusan, kepuasan kerja, dan kerjasama. Misalnya
bagaimana bujet yang didapat menciptakan produktivitas atau motivasi
bujet yang ketat atau longgar?
c. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Di sini dibahas bagaimana sistem akuntansi dapat digunakan untuk
mempengaruhi perilaku manusia misalnya memperketat atau
memperlonggar sistem pengawasan, memberikan pola kompensasi yang
dapat memengaruhi perilaku misalnya dengan ESOP(Employee Stock
Ownership Program), sistem pelaporan prestasi, sistem pemberian reward
and penalties terhadap prestasi.
50
- Uncertainty Avoidance, ada bangsa yang sangat menghindari
ketidakpastian dan masyarakat dan masyarakat yang senandung bersikap
tidak menghindari ketidakpastian justru menantangnya.
- Masculinity/Feminity, ada masyarakat yang menganggap gender memiliki
peran dalam kehidupan sehari-hari. Ada masyarakat yang didominasi
sifat-sifat maskulin ada yang didominasi sifat feminin.
Perusahaan Ford pernah gagal hanya karena memproduksi kan jenis sedan
dengan nama "NOVA" disuatu negara di Afrika. Ternyata ini tidak laku sama sekali.
Setelah diselidiki perbedaannya, ternyata istilah NOVA menurut bahasa setempat
artinya tidak jalan. Oleh karena itu, mobil Ford nova identik dengan mobil mogok
yang tidak bisa jalan. Akhirnya karena mereka mengabaikan aspek cross culture,
perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar.
51
keberhasilan pedagang arab memasuki wilayah indonesia adalah karena kemampuan
mereka berakulturasi dengan budaya setempat. Keberhasilan Walisongo mengambil
hati masyarakat di Jawa merupakan bukti pendekatan cross culture yang baik.
Dalam kaitan nya dengan bisnis dan juga akuntansi maka pengetahuan dan
upaya mempelajari culture suatu negara dan daerah adalah penting untuk
keberhasilan ilmu akuntansi secara umum baik dalam menyajikan informasi
keuangan kepada masyarakat maupun dalam bidang-bidang lain. Kita harus
mempelajari cross culture ini apalagi dalam dunia yang sudah menjadi borderless ini
jika kita ingin sukses. Beberapa topik yang menjadi penelitian bidang adalah sebagai
berikut:
Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-Farabi,
ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan
52
menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H. Endang Saifuddin Anshari
(1991) mengungkapkan ilmu itu kemudian berkembang menjadi tiga bagian:
a. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural Science)
1. Biologi
2. Antropologi Fisik
3. Kedokteran
4. Farmasi
5. Pertanian
6. Ilmu Pasti
7. Ilmu Alam
8. Teknik
9. Geologi dan Lain-Lain
53
4. Ilmu Seni
5. Temu Jiwa (Psikologi)
Ilmu ekonomi yang merupakan bagian dari ilmu sosial berkembang menjadi
berbagai disiplin ilmu seperti:
1. Ekonomi Mikro Dan Makro
2. Ilmu Manajemen
3. Pembangunan
4. Pemasaran (Marketing)
5. Produksi (Production)
6. Keuangann (Finance)
54
tadi. Decision science ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan sudah
menjadi salah satu jurusan yang populer di College of Business. Fenomena inilah
yang di sebut Multidicipline Paradigm.
Fenomena ini menarik karena tampak sekali bahwa lengah sedikit saja dalam
pengembangan ilmu itu kita akan ketinggalan di telan kemajuan disiplin lain. Oleh
karena itu, pengembangan disiplin dan profesi akuntansi di tanah air jangan sampai
lengah dan terlambat mengantisipasi perubahan ilmu dan teknologi yang demikian
cepat.
55
belum tahu dan mungkin tidak terpikir untuk memanfaatkannya bekas Presiden Bank
Dunia A. W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena ketiadaan alat yang dapat
mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi kejadian, dampak industri
(pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan kesukaran kita mengawasi dampak
itu.
Keluhan beliau ini sebenarnya dapat di atasi oleh disiplin akuntansi sebagai
satu instrumen measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal tahun 1930-an
sebenarnya sudah melakukan pengkajian yang intensif tantang bagaimana mencatat,
mengukur national income, social acounting,dan dampak sosial yang di akibatkan
oleh industri, perusahaan, atau kegiatan pembangunan. Ini tidak berbeda dengan apa
yang di bicarakan dalam KTT Bumi tersebut. Dalam pengertian lingkungan termasuk
didalamnya manusia, flora, fauna, air, lahan, dan segala isinya.
Komitmen negara maju terhadap keselamatan lingkungan cukup besar. Hal ini
dibuktikan dengan ketatnya peraturan kongres, lembaga pemerintah seperti Security
Exchange Commision (SEC), Organisasi Profesi (seperti AICPA), lembaga swadaya
masyarakat ( LSM) terhadap penyajian laporan keuangan, badan ini biasanya
mewajibkan agar setiap lembaga termasuk perusahaan untuk membuat laporan
tentang dampak positif (social benefit) dan dampak negatif (social cost) dari setiap
kegiatan yang dilakukannya. SEC misalnya meminta laporan tentang polusi,
deskriminasi, penngaruh sosial ekonomi perusahaan pada pendapatan nasional, dan
lain-lain.
56
Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan. Keputusan
yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid, faktual, dan
relevan. Keadaan yang faktual, valid, relevan dapat di supply oleh akuntansi. Dalam
akuntansi disiplin yang mensupply ini di sebut : environmental acounting. Disiplin ini
secara praktis, teori-teorinya belum sepenuhnya di sepakati oleh sebagian besar oleh
para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat ini masih terus
menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang sudah di wajibkan
dan ada yang masih dalam taraf dianjurkannya penyajiannya dalam laporan
keuangan.
Kelemahan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para ahli
dalam menentukan kreteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan lingkungan, nilai
social cost social maupun benefit-nya tidak semudah yang di byangkan. Contohnya
kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain sebagainya menunjukkan betapa
sukarnya melakukanpenetapan nilai kerusakan dan perbaikan lingkungan yang sama-
sama di terima dan sesuai pula dengan prinsip akuntansi yang sudah baku.
57
Namun sebenarnya banyak lembaga yang sudah memberikan konsep
pengukuran dan penyajian masalah ini antara lain dari Institute Of Management
Accountan, The American Accounting Association, dan beberapa ahli seperti
Flamholtz, Eipstein, McDonouch, Nikolai, Harley, Brummer. Mereka ini telah
berhasil mengidentifikasi beberapa kinerja perusahaan yang di sorot untuk menilai
keterlibatan perusahaan dalam masalah lingkungan ini seperti : keterelibatan sosial,
pengembangan sumber daya manusia, penyehatan lingkungan, kualitas produk dan
jasa, kesehatan, kontribusi sosial, ilmu pengetahuan, kualitas air, populasi, suara yang
mengganggu masyarakat, bau tidak sedap, dan [Link] bab Akuntansi Sosial
Ekonomi.
2.4.9 Penyajian
Dari berbagai konsep yang yang diajukan lembaga dan para ahli ini ada yang
menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan (footnote
disclosure, narrative disclosure) membuat pos tersendiri. Laporan khusus tentang
kerusakan lingkungan, Social Responbility Report, Environmental Exchange Report,
Social Income Statement Report, Comprehensif Social Benefit Cost Model, and
Multimensional Income Statement. SEC biasanya mengharuskan perusahaan yang
listed di bursa New York Stock Exchange untuk melaporkan hal-hal yang bertalian
dengan masalah lingkungan dan social cost dan benefit lainnya.
Semua negara tampaknya memiliki kemauan politik untuk ikut bertanggung
jawab pada keamanan bumi yang kita diami ini. Model ini sudah cukup menjadi
pegangan dalam mengelola lingkungan. Untuk mengelola lingkungan diperklukan
informasi yang sebenarnya dapat disupply oleh environmental accounting yang masih
terus dikembangkan oleh profesi akuntan. Indonesia yang juga bertanggung jawab
terhadap buminya sudah selayaknya memulai memelopori penyusunan prinsip
akuntansi lingkungannya. Dalam hal-hal tertentu akuntansi lingkungan sepadan
dengan socio economic accounting. Dari kesepakatan global initiative pada tahun
2013 perusahaan harus membuat laporan tentang Triple P (Profit, People, Planet).
58
2.4.10 Kegagalan Efficient Market Hypothesis
Sebenarnya topik ini bukan baru apalagi tren, karena isu ini sudah lama
dikenal dalam akuntansi, dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (efficient
Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “pasar akan menyesuaikan
diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham.” Dalam bahasa
penelitian bidang penelitian yang memnyangkut soal ini adalah positive accounting
[Link] teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi
menyangkut:
Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut:
59
a. Bentuk lemah (weak form) dari pasar efesiensi. Di sini harga pasar saham
pada periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang
berasal dari harga saham masa lalu. D sini tidak ada strategi dagang
berdasrkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya.
b. Bentuk semi kuat (semi strong) di mana harga saham secara penuh
merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada publik
termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang
yang dipakai dalam perdagangan saham.
c. Bentuk kuat (strong form) di mana harga saham merupakan gambaran dari
seluruh informasi yang ada baik informasi harga saham yang lalu,
imformasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya seperti
informasi dari dalam dan informasi pribadi lainnya.
Dari tiga bentuk ini maka bentuk semi strong-lah yang paling relevan dengan
akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia bagi publik.
Dalam EMH sering digunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Yang
dimaksud dengan model CAPM ini adalah suatu model yang mentaksir laba yang
abnormal atau laba yang tidak diperkirakan dari saham biasa suatu perusahaan pada
saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semi strong juga dipakai dalam model
ini.
60
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
61
DAFTAR PUSTAKA
Belkaoui, A. R. (2007). Teori Akuntansi, Buku 2, Edisi ke-5. Jakarta: Salemba Empat.
Godfrey, J., Hodgson, A., Tarca, A., Hamilton, J., & Holmes, S. (2010). Accounting
Theory, 7th Edition. Australia: John Wiley & Sons, Inc.
Ikhsan, A., & Suprasto, H. B. (2008). Teori Akuntansi dan Riset Multiparadigma.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
62