0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan3 halaman

Tantangan E-Commerce di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang hambatan implementasi e-commerce di Indonesia. Beberapa hambatan yang disebutkan antara lain kepercayaan konsumen yang rendah akibat penipuan, keamanan transaksi online, kualitas jaringan internet yang belum merata, kendala logistik distribusi barang, serta dibutuhkannya kebijakan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan e-commerce.

Diunggah oleh

Apri Setiyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan3 halaman

Tantangan E-Commerce di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang hambatan implementasi e-commerce di Indonesia. Beberapa hambatan yang disebutkan antara lain kepercayaan konsumen yang rendah akibat penipuan, keamanan transaksi online, kualitas jaringan internet yang belum merata, kendala logistik distribusi barang, serta dibutuhkannya kebijakan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan e-commerce.

Diunggah oleh

Apri Setiyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Apri Setiyani

NIM : 174348051031
Prodi : Akuntansi Semester 6
Matkul : E-commerce

“Hambatan Implementasi E-Commerce di Indonesia”

Pada dasarnya perusahaan e-commerce merupakan tempat untuk


mempertemukan pembeli dan penjual secara virtual yang di dalamnya terdapat suatu
aktifitas ekonomi digital yang dapat dilakukan oleh siapa saja dengan menggunakan
jaringan internet. Ekosistem e-commerce memungkinkan untuk memotong rantai
distribusi barang sehingga harga lebih bersaing secara ekonomi. Barang bisa langsung
terdistribusi dari konsumen ke produsen tanpa melewati banyak agen-agen
perdagangan. E-commerce pun banyak membantu Usaha Mikro Kecil Menegah
(UMKM) untuk menemukan pembelinya. Perusahaan seperti Tokopedia, Bukalapak,
Shopee, dan perusahaan lainnya adalah bukti bahwa e-commerce di Indonesia sangat
menjanjikan. UMKM yang cenderung minim modal dapat berjualan secara gratis,
bahkan beberapa dari mereka tidak memiliki toko fisik.

Namun dibalik besarnya potensi pasar digital terdapat juga besarnya hambatan
yang harus dihadapi. Bisnis e-commerce di Indonesia dapat dikatakan relatif baru.
Sehingga masih banyak hambatan yang ditemui dalam implementasinya. Hambatan-
hambatan tersebut mulai dari segi kepercayaan pelanggan, keamanan, teknologi
informasi dan jaringan internet, jalur distribusi, dan kebijakan pemerintah.

Hambatan dalam e-commerce yang pertama adalah kepercayaan. Kepercayaan


disini merupakan hambatan yang sangat menonjol dalam perdagangan elektronik,
karna di negara kita sendiri masih banyak orang yang lebih percaya menggunakan
transaksi face to face atau pembelian secara langsung, dimana kita dapat melihat,
meraba atau pun mencobanya dan memastikan dengan warna ukuran yang benar-
benar nyata dalam melakukan transaksi penjualan. Hal tersebut disebabkan karena
banyaknya penipuan dalam transaksi e-commerce sehingga menyebabkan konsumen
atau pembeli merasa kecewa dan dirugikan. Banyak pembeli yang tertipu oleh online
shop seperti barang yang tidak sesuai dengan deskripsi produk, maupun barang yang
dikirim berbeda dengan barang yang dipesan, oleh karena itu membuat kepercayaan
konsumen menghilang dan mereka lebih memilih berbelanja secara langsung dengan
alasan lebih aman.

Hambatan e-commerce yang kedua yaitu keamanan. Sangat banyak berita-


berita tentang kriminalitas di internet, seperti pencurian nomor kartu kredit atau
lainnya, sehingga tidak sedikit orang yang enggan dalam menggunakan transaksi
online tersebut. Padahal transaksi menggunakan kartu kredit di internet tidak lebih
berisiko dibandingkan transaksi yang biasa kita lakukan. Contoh, seperti saat kita
membeli baju secara online, nomor kartu kita akan diacak dahulu sebulum dikirim ke
bank atau ke perusahaan online tersebut. Dibandingkan dengan pembayaran yang
dilakukan di minimarket, bisa saja cukup lama saat pembayarannya, jadi si kasir
market itu mencatat nomor rekening kita ataupun mengkopi kartu kredit kita. Bagi
pengusaha lebih aman membuka usaha online dari pada membuka usaha di pinggir
jalan yang bisa saja barang-barangnya dicuri ataupun dibakar.

Hambatan e-commerce yang ketiga yaitu kurangnya jaringan internet. Dengan


kualitas koneksi internet yang kurang memadai, dan belum meratanya koneksi internet
di semua daerah di Indonesia, menyebabkan pengalaman melakukan e-commerce
akan menjadi kurang menyenangkan. Dari sisi logistik, kita juga melihat Indonesia
sebagai negara yang luas dan infrastruktur logistiknya belum kuat. Banyak daerah-
daerah terpencil di pelosok yang belum terjangkau. Sementara dari sisi payment,
masih dibutuhkan metode pembayaran yang bisa dipakai oleh semua, karena belum
semua masyarakat memiliki kartu kredit. Dan karena hal tersebut juga menyebabkan
penduduk didaerah pelosok menjadi tertinggal dibandingkan dengan penduduk yang
tinggal dikota karena mereka kekurangan informasi yang disebabkan oleh internet
yang kurang memadai.

Selain itu jalur distribusi barang juga merupakan tantangan yang dapat
menghambat e-commerce. Memang e-commerce dapat menghilangkan agen-agen
tengah pedagangan, namun tetap saja memerlukan agen kurir untuk mengantarkan
barang pesanan. Luasnya wilayah Indonesia membuat distribusi barang menjadi
kendala. Salah satu kendalanya adalah disparitas jumlah perusahaan kurir antar pulau
di Indonesia. Sudah barang tentu kenaikan akan berdampak pada semakin banyaknya
biaya yang dikeluarkan konsumen untuk ongkos kirim barang di e-commerce. Hal ini
akan membuat konsumen berpikir ulang untuk transaksi di e-commerce. Meskipun
sering kita temui promo potongan biaya ongkos kirim tetapi nilainya tidak cukup
menutupi biaya ongkos kirim terutama ke luar Jawa.

Hambatan e-commerce yang kelima yaitu kebijakan pemerintah. Diperlukan


kebijakan-kebijakan pemerintah demi keberlangsungan e-commerce di kemudian hari
seperti misalnya subsidi ongkos kirim barang terutama pesawat dan kapal,
memperbaiki daya beli masyarakat, mendorong akses UMK untuk memanfaatkan
internet sebagai salah satu sarana menjualkan barang, dsb. Sinergi antara pemerintah
dan e-commerce sangat diperlukan karena sejatinya visi e-commerce searah dengan
tujuan pemerintah yaitu untuk memajukan perekonomian penduduk Indonesia.
Dengan usia perdagangan online yang tergolong masih baru ini, tentu saja tak
bisa dipungkiri akan banyaknya kekurangan, mulai UKM yang belum semua digital,
jaringan telekomunikasi dan sebagainya, itu wajar. Namun seharusnya hambatan bisa
menjadi sebuah peluang. Soal online akan menjadi pesaing, sejatinya, tanpa offline
pun online tidak bisa berkembang.

Anda mungkin juga menyukai