BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI OKLUSI
Oklusi adalah kontak antara gigi geligi yang saling berhadapan selama
terjadi satu rangkaian gerakan mandibula. Oklusi yang normal bergantung pada
kesesuaian antara lengkung gigi, hubungan gigi geligi rahang atas dan gigi rahang
bawah, serta berkaitan dengan otot, sendi dan skeletal yang berpengaruh terhadap
fungsional(Utami dkk,2015).
Menurut Andrews (1972), terdapat enam kunci oklusi normal yaitu
hubungan molar yang memperlihatkan puncak bonjol mesiobukal molar pertama
permanen rahang atas berkontak dengan lekuk bukal (buccal groove) yang berada
diantara mesial dan sentral dari molar pertama permanen rahang bawah pada
bidang sagital, angulasi dan inklinasi mahkota gigi geligi yang tepat, tidak
terdapat rotasi gigi, kontak antara gigi geligi rapat, tidak ada celah ataupun
berjejal, serta memiliki curve of spee yang datar(Foster,2012)
2.2 DEFINISI MALOKLUSI
Penyimpangan dari oklusi normal disebut maloklusi. Maloklusi merupakan
oklusi abnormal yang ditandai dengan tidak harmonisnya hubungan antar
lengkung di setiap bidang spasial atau anomali abnormal dalam posisi gigi.
Maloklusi menunjukkan kondisi oklusi intercuspal dalam pertumbuhan gigi
yang tidak reguler. Penentuan maloklusi dapat didasarkan pada kunci oklusi
3
4
normal. Angle membuat pernyataan key of occlusion artinya molar pertama
merupakan kunci oklusi(Dewanto,1993).
Maloklusi menyebabkan tampilan wajah buruk, gangguan pada sendi
temporomandibular, gangguan bicara, risiko karies, penyakit periodontal dan
trauma(Proffit,2012)
Maloklusi yang terlihat pada tahap geligi campuran akan mengalami
perubahan seiring dengan adanya proses tumbuh kembang dan dapat
menimbulkan derajat keparahan yang tinggi pada tahap gigi permanen bila tidak
dilakukan analisis sejak dini, pencegahan dan perawatan yang tepat pada
anak(Utami dkk,2015).
2.3 KLASIFIKASI MALOKLUSI
A. KLASIFIKASI ANGLE
Cara paling sederhana untuk menentukan maloklusi ialah dengan Klasifikasi
Angle. Menurut Angle yang dikutip oleh Rahardjo, mendasarkan klasifikasinya
atas asumsi bahwa gigi molar pertama hampir tidak pernah berubah posisinya.
Angle mengelompokkan maloklusi menjadi tiga kelompok, yaitu maloklusi Klas
I, Klas II, dan Klas III.
1. Maloklusi Klas I : pada maloklusi kelas 1, lengkung mandibula berada
pada mesiodistal yang normal terhadap lengkung maksila, dengan cups
mesiobukal gigi M1 RA beroklusi dengan bukal groove gigi M1 RB dan
cups mesiolingual gigi M1 RA beroklusi dengan fossa gigi M1 RB
ketika rahang berada dalam keadaan istirahat dan gigi rata-rata berada
pada oklusi sentris.
5
2. Maloklusi Klas II : relasi posterior dari mandibula terhadap maksila.
Tonjol mesiobukal cusp molar pertama permanen atas berada lebih
mesial dari bukal groove gigi molar pertama permanen mandibula.
Maloklusi Klas II
Divisi 1 : insisivus sentral atas proklinasi sehingga didapatkan jarak
gigit besar (overjet), insisivus lateral atas juga proklinasi,
tumpang gigit besar (overbite), dan curve of spee positif.
6
Divisi 2 : insisivus sentral atas retroklinasi, insisivus lateral atas
proklinasi, tumpang gigit besar (gigitan dalam). Jarak gigit
bisa normal atau sedikit bertambah.
Subdivisi : ketika hubungan molar berada pada kelas II maloklusi tapi
hanya pada satu sisi.
3. Maloklusi klas III : relasi anterior dari mandibula terhadap maksila.
Tonjol mesiobukal cusp molar pertama permanen atas berada lebih distal
dari bukal groove gigi molar pertama permanen mandibula dan terdapat
anterior crossbite (gigitan silang anterior).
Maloklusi Klas III
Klasifikasi maloklusi kelas III menjadi 3, yaitu true class III, pseudo
class III, dan klas III Subdivisi.
7
True class III- Maloklusi ; merupakan klas III skeletal. True class III
memiliki gigi insisivus mandibula memiliki inklinasi kelingual. Pada
maloklusi ini dapat memiliki hubungan gigi anterior dengan overjet yang
normal, edge to edge ataupun crosbite anterior.
Pseudo kelas III- Maloklusi : sebenernya maloklusi ini tidak benar-
benar maloklusi kelas III, namun hanya menyerupai maloklusi kelas
III. Disini terdapat prubahan mandibula lebih keanterior pada
glenoid fossa dikarenakan adanya prematur kontak pada gigi.
Kelas III Subdivisi : maloklusi kelas III yang terjadi hanya pada satu sisi
(unilateral) dan klas I pada sisi lainnya(Singh,2007).
B. KLASIFIKASI ANGLE yang di modifikasi oleh DEWEY
Pada tahun 1915 Dewey telah memodifikasi kelas I dan kelas III Angel
dengan memisahkan malposisi dari segmen anterior dan posterior(Singh,2007).
1. Modifikasi Dewey dari Angel Kelas I
Tipe 1 : Klas I dengan gigi anterior letaknya berdesakan atau crowded
Tipe 2 : Klas I dengan gigi anterior letaknya labioversi
8
Tipe 3 : Klas I dengan gigi anterior palatoversi sehingga terjadi gigitan
terbalik (anterior crossbite).
Tipe 4 : Klas I dengan gigi posterior yang crossbite.
Tipe 5 : Klas I dimana terjadi pegeseran gigi molar permanen ke arah
mesial akibat prematur ekstraksi.
2. Modivikasi Dewey dari Angle kelas III
9
Tipe 1 : ketika dilihat rahangnya masing- masing maka akan terlihat
seolah-olah normal, namun ketika kedua rahang beroklusi maka gigi
anterior berada pada posisi edge to edge bite.
Tipe 2 : Gigi-gigi I RB berjejal dan lebih kelingual terhadap gigi I RA
Tipe 3 : Lengkung gigi maksila underdeveloped, berada pada posisi
crossbite dengan gigi-gigi RA berjejal dan lengkung mandibula
berkembang dengan baik.
10
C. KLASIFIKASI LICHER
Licher pada tahun 1933 telah memodifikasi klasifikasi Angel dengan
memberikan substitusi nama klasifikasib Angel kelas I, II, dan III. Dia juga
mengusulkan tema atau kata untuk menunjukkan maloklusi gigi secara
individual(Singh,2007).
a. Neutro-Occlusion
Neutro-occlusion merupakan nama untuk maloklusi kelas 1 Angel
b. Disto-occlusion
Disto-occlusion merupakan nama untuk maloklusi klas II Angel
c. Mesio-occlusion
Mesio-occlusion merupakan nama untuk maloklusi untuk klas III Angel.
11
Licher juga memberikan nama untuk malposisi gigi individu dengan
menambahkan kata “version” untuk mengindikasikan deviasi (penyimpangan)
dari posisi normalnya :
1. Mesio-version : untuk gigi yang lebih ke mesial dari posisi normalnya.
2. Disto-version : untuk gigi yang lebih kedistal dari posisi normalnya.
3. Linguo-version : untuk gigi yang lebihke lingual dari posisi normalnya
4. Labio-version ;untuk gigi yang lebih ke labial dari posisi normalnya.
5. Infra-version : untuk gigi yang lebih ke inferior dari garis oklusi
6. Supra-version : untuk gigi yang lebih superior dari garis oklusi
7. Axio-version : untuk gigi dengan inklinasi aksial yang salah (tipping)
8. Torsi-version : untuk gigi yang berotasi pada sumbu panjangnya.
9. Trans-version : untuk gigi yang berubah posisinya.
D. KLASIFIKASI MENURUT BENNET
Norman bennet mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan etiologinya.
1. Klas I : Posisi abnormal satu gigi atau lebih dikarenakan faktor lokal
12
2. Klas II : Formasi abnormal baik satu maupun kedua rahang dikarenakan
defek perkembangan pada tulang.
3. Klas III : Hubungan abnormal antara lengkung rahang atas dan bawah, dan
antar kedua rahang dengan kontur facial dan berhubungan dengan formasi
abnormal dari kedua rahang(Bhalajhi,2006).
E. KLASIFIKASI SIMONS
Simons (1930) yang pertama kali menghubungkan lengkung gigi terhadap
wajah dan kranial dalam tiga bidang ruang :
1. Frankfort horizontal plane (vertikal).
13
Frankfort horizontal plane atau bidang mata- telingan ditentukan dengan
menggambarkan garis lurus hingga margin tulang secara langsung
dibawah pupil mata hingga kemargin atas meatus eksternal auditory
(derajat diata tragus telinga). Digunakan untuk mengklasifikasi maloklusi
dalam bidang vetikal.
a. Attraksi
Saat lengkung gigi atau bagian penutup dari bidang frankfort horizontal
menunjukkan suatu attraksi (mendekat).
b. Abraksi
Saat lengkung gigi atau oenutup dari bidang frankfort horizontal
menunjukkan suatu abraksi (menjauhi).
14
2. Bidang ortbita (antero-posterior)
Maloklusi menggambarkan penyimpangan antero-posterior berdasarkan
jaraknya, adalah
a. Protraksi : satu atau lebih gigi, lengkung gigi atau rahang lebih
keanterior dari pada normal.
b. Retraksi : satu atau lebih gigi, lengkung gigi atau rahang lebih
keposterior dari pada normal.
15
3. Bidang Mid-sagital
Maloklusi mengklasifikasikan berdasarkan penyimpangan garis melintang
dari bidang mid-sagital.
a. Kontraksi : sebagian atau seluruh lengkung dental digerakkan menuju
bidang mid-sagital.
16
b. Distraksi (menjauhi) : sebagian atau seluruh lengkung gigi berada pada
jarak yang lebih dari normal(Singh,2007)
F. KLASIFIKASI MALOKLUSI SKELETAL
Hubungan rahang satu sama lain juga bervariasi terhadap ketiga bidang
ruang, dan variasi pada setiap bidang bisa mempengaruhi.
Hubungan posisional antero-posterior dari bagian basal rahang atas dan
bawah, satu sama lain dengan gigi-gigi berada dalam keadaan oklusi, disebut
sebagai hubungan skeletal. keadaan ini kadang disebut juga sebagai hubungan
basis gigi atau pola skeletal. Klasifikasi dari hubungan skeletal sering digunakan,
yaitu:
1. Kelas I Skeletal
Dimana rahang berada pada hubungan antero-posterior yang ideal pada
keadaan oklusi.
17
2. Kelas II Skeletal
Dimana rahang bawah dalam keadaan oklusi terletak lebih kebelakang
dalam hubungannya dengan rahang atas.
18
3. Kelas III Skeletal
Dimana rahang bawah pada keadaan oklusi terletak lebih kedepan dari
pada kelas I skeletal(Singh,2007).
G. KLASIFIKASI MALOKLUSI DENTAL
1. Klasifikasi Maloklusi Insisifus
a. Kelas I : Incisal edge dari insisifus cental RB terletak dibawah
cingulum insisifus centrak RA.
b. Kelas II : Incisal edge dari insisifus central RB terletak dipalatal/
belakang cingulum insisifus central RA. Terdiri dari 2 devisi :
1. Divisi I : Posisi gigi insisifus sentral RA proklinasi
2. Divisi II : posisi gigi insiisfus sentral RA retroklinasi
19
c. Kelas III : Incisal edge dari insisifus central RB terletak dianterior
insisivus sentral RA.
2. Klasifikasi Maloklusi Caninus
a. Kelas I : Kaninus atas beroklusi dibukal embrassure antara kaninus
bawah dan premolar I bawah.
b. Kelas II : Kaninus atas beroklusi anterior kebukal embrassure
antara kaninus bawah dan premolar I bawah
c. Kelas III : Kaninus atas beroklusi posterior kebukal embrassure
antara kaninus bawah dan premolar I bawah.