100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
141 tayangan23 halaman

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) adalah sistem penanganan darurat yang terintegrasi antara layanan pra-rumah sakit, rumah sakit, dan antar rumah sakit guna menyelamatkan korban dengan cepat dan tepat, baik untuk keadaan sehari-hari maupun bencana."

Diunggah oleh

Sinta Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
141 tayangan23 halaman

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) adalah sistem penanganan darurat yang terintegrasi antara layanan pra-rumah sakit, rumah sakit, dan antar rumah sakit guna menyelamatkan korban dengan cepat dan tepat, baik untuk keadaan sehari-hari maupun bencana."

Diunggah oleh

Sinta Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU

(SPGDT)

Dosen Pengampu : Reski Ika Sah Putri, [Link].,Ners

Disusun Oleh :

Sinta Safitri

1800001032

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN RS. EFARINA
PURWAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)”

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu
dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Namun
terlepas dari itu, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi. Dan semoga dengan selesainya
makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan teman-teman. Aamiin…

Purwakarta, Maret 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3


A. Definisi .................................................................................................. 3
B. Macam-Macam SPGDT ........................................................................ 3
C. Pengembangan SPGDT ......................................................................... 5
D. Organisasi Penanggulanagan Bencana .................................................. 6
E. Alur Penanggulangan Bencana .............................................................. 6
F. Pendahuluan dan Rencana Uraian Tugas .............................................. 7
G. Perlunya Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu ................... 8
H. Hal-Hal Yang Diatur Khusus dalam SPGDT ...................................... 15
I. Bagan Alur Penanganan Korban Bencana ........................................... 16
J. Bagan Alur Penanganan Korban Bencana di Lapangan ...................... 17
K. Bagan Alur Penanganan Korban Bencana di Rumah Sakit ................. 18

BAB III PENUTUP .......................................................................................... 19


A. Kesimpulan .......................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 20


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam manajemen bencana ada dua kegiatan besar yang dilakukan:
Pertama; pada saat sebelum bencana (pre event) berupa kesiapsiagaan
menghadapi bencana (disaster preparedness) dan pengurangan resiko bencana
(disaster mitigation), Kedua; kegiatan tanggap bencana (emergency response)
dan kegiatan pemulihan akibat bencana (disaster recovery).
Berdasar realitas, kita selama ini banyak melakukan kegiatan pasca
bencana berupa kegiatan tanggap darurat dan pemulihan (recovery) akibat
bencana, tapi sangat sedikit sekali perhatian terhadap kegiatan untuk
kesiapsiagaan pra bencana dan pengurangan resiko bencana. Kegiatan-kegiatan
yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari kesiapsiagaan dan pengurangan
resiko bencana adalah: Kegiatan pendidikan kesadaran bencana (disaster
awareness), Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat, Penyiapan
Teknologi Tahan/Siaga Bencana, Membangun Sistem Sosial yang tanggap
bencana dan Perumusan Kebijakan Penanggulangan Bencana secara
komprehensif dan terpadu.
Kegiatan-Kegiatan diatas tersebut tentunya harus melibatkan pihak-pihak
yang berkepentingan. Dan salah satu pihak tersebut adalah masyarakat di
lingkungan yang rawan bencana. Termasuk di dalam masyarakat adalah
komunitas tenaga medis dan paramedis yang menjadi bagian masyarakat.
Karena mereka paham bagaimana menyiapkan sistem kesiapsiagaan
menghadapi bencana dan mereka memiliki bekal pengetahuan-ketrampilan
teknis medis yang bisa didayagunakan dalam penanggulangan korban gawat
darurat pasca bencana
Bencana menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dan
pemerintah maupun swasta. Namun dalam pelaksanaannya menolong korban
haruslah secara tepat dan cepat, selain itu juga diperlukan koordinasi yang
bagus. Diperlukan skill dan pengetahuan yang cukup tentang penanganan
pertama disamping pengetahuan medan bencana serta komunikasi yang terpadu
dalam menolong korban bencana.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu?
2. Apa saja macam-macam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu?
3. Apa saja hal-hal yang diatur khusus dalam Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu (SPGDT)?
4. Apa saja pentingnya mengetahui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu?
5. Bagaimana pelaksanaan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu
dalam Gerakan Safe Community?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.
2. Untuk mengetahui macam-macam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu.
3. Mempercepat response time dalam memberikan tindakan kegawatdaruratan
dan meningkatkan kualitas pertolongan terhadap korban bencana
4. Mencegah kematian dan kecacatan, sehingga dapat hidup dan berfungsi
kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
5. Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang lebih
memadai.
6. Meningkatkan mutu layanan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit melalui
penerapan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)
Bencana.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) merupakan
sistem yang didesign berdasar sistem kesehatan nasional untuk memberi
pertolongan yang cepat, tepat, cermat pada penderita gawat darurat untuk
mencegah kematian dan kecacatan. SPGDT terdiri dari unsur, pelayanan pra
Rumah Sakit, pelayanan di Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit. Pelayanan
berpedoman pada respon cepat yang menekankantime saving is life and limb
saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus,
petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat dan sistem komunikasi.
Kesiapan IGD serta sistem pelayanan Gawat Darurat yang terpadu antara
Fasilitas kesehatan satu dengan lainnya, akan memberikan nilai tambah dalam
upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, tidak hanya terhadap kasus
Gawat Darurat sehari-hari, tetapi juga sekaligus kesiapan bila setiap saat terjadi
bencana di wilayah Indonesia.
Dalam hal ini SPGDT bencana adalah kerja sama antar unit pelayanan
Pra Rumah Sakit dan Rumah Sakit dalam bentuk pelayananan gawat darurat
terpadu sebagai khususnya pada terjadinya korban massal yg memerlukan
peningkatan (eskalasi) kegiatan pelayanan sehari-hari. Bertujuan umum untuk
menyelamatkan korban sebanyak banyaknya.

B. Macam-Macam SPGDT
SPGDT dibagi menjadi :
1. SPGDT-S (Sehari-Hari)
SPGDT-S adalah rangkaian upaya pelayanan gawat darurat yang saling
terkait yang dilaksanakan ditingkat Pra Rumah Sakit, di Rumah Sakit, antar
Rumah Sakit dan terjalin dalam suatu sistem yang bertujuan agar
korban/pasien tetap hidup. Meliputi berbagai rangkaian kegiatan sebagai
berikut :
a. Pra Rumah Sakit
1) Diketahui adanya penderita gawat darurat oleh masyarakat
2) Penderita gawat darurat itu dilaporkan ke organisasi pelayanan
penderita gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan medik
3) Pertolongan di tempat kejadian oleh anggota masyarakat awam atau
awam khusus (satpam, pramuka, polisi, dan lain-lain)
4) Pengangkutan penderita gawat darurat untuk pertolongan lanjutan
dari tempat kejadian ke rumah sakit (sistim pelayanan ambulan)
b. Dalam Rumah Sakit
1) Pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit
2) Pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan)
3) Pertolongan di ICU/ICCU
c. Antar Rumah Sakit
1) Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan)
2) Organisasi dan komunikasi

2. SPGDT-B (Bencana)
SPGDT-B adalah kerja sama antar unit pelayanan Pra Rumah Sakit dan
Rumah Sakit dalam bentuk pelayananan gawat darurat terpadu sebagai
khususnya pada terjadinya korban massal yang memerlukan peningkatan
(eskalasi) kegiatan pelayanan sehari-harnyang bertujuan umum untuk
menyelamatkan korban sebanyak banyaknya.
Tujuan Khusus :
a. Mencegah kematian dan cacat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali
dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
b. Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang
lebih memadai.
c. Menanggulangi korban bencana.

Prinsip mencegah kematian dan kecacatan :


a. Kecepatan menemukan penderita.
b. Kecepatan meminta pertolongan.
Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :
a. Ditempat kejadian.
b. Dalam perjalanan kepuskesmas atau rumah-sakit.
c. Pertolongan dipuskesmas atau rumah-sakit.

Keberhasilan Penanggulangan Pasien Gawat Darurat Tergantung 4


Kecepatan :
a. Kecepatan ditemukan adanya penderita GD
b. Kecepatan Dan Respon Petugas
c. Kemampuan dan Kualitas
d. Kecepatan Minta Tolong

C. Pengembangan SPGDT
Pengembangan SPGDT-S dan SPGDT-B memerlukan beberapa hal yang
terlibat, diantaranya :
1. Semua jajaran kesehatan
a. Departemen kesehatan
b. Direktur RS
c. Puskesmas
d. Dinas kesehatan
e. Kepala IGD
f. Dokter, perawat, petugas kesehatan
g. Dan unit kesehatan lain (PMI)
2. Jajaran non kesehatan
a. Pemerintah daerah tingkat I dan II
b. POLRI
c. Satuan laksana penanggulangan bencana
d. Pemadam kebakaran
e. Penyandang dana (Askes, Jasa Raharja, Jamsostek)
f. Dan komponen-komponen masyarakat lain
3. Koordinasi
a. Kesehatan - non kesehatan
b. Antar ksehatan – ABRI, POLRI, swasta, pemerintah
c. Intra kesehatan – puskesmas – rumah sakit

D. Organisasi Penanggualangan Bencana


Berikut ini merupakan organisasi penanggulangan bencana:
1. Tingkat Nasional : Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana
2. Tingkat Propinsi : Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana
3. Tingkat Kabupaten : Satuan Laksana Penanggulangan Bencana
a. Satgas Kesehatan
b. Satgas Pekerjaan Umum
c. Satgas Keamanan dan ketertiban Masyarakat
d. Satgas Sosial
Penanggulangan bencana memerlukan manajemen pada tahapannya, yaitu:
1. Tahap Persiapan (Preparedness)
a. Pengembangan SPGDT
b. Pengembangan SDM
c. Pengembangan Sub sistem Komunikasi
d. Pengembangan Sub sistem Transportasi
e. Latihan Gabungan
f. Kerjasama lintas sektor
2. Tahap Akut (Acute response)
a. Rescue – triage
b. Acute medical response
c. Emergency relief
d. Emergency rehabilitation

E. Alur Penanggulangan Bencana


Berikut ini merupakan alur pelayanan ,\medis dilapangan pada penanggulangan
bencana :
Dalam hal ini rumah sakit harus sanggup memberi pelayanan secara cepat, tepat,
cermat, nyaman, dan terjangkau untuk mencegah kematian dan kecacatan.
Berikut ini label triage dan keterangan tindakan yang harus dilakukan:
1. Merah : Segera Ditanggulangi terlebih dahulu
a. Mengancam Jiwa
b. Cacat
2. Kuning : Boleh Ditangguhkan
a. Keadaan tidak mengancam Jiwa
b. Segera ditangani bila yangmengancam Jiwa sudah teratasi
3. Hijau : Boleh ditunda & Rawat Jalan
a. Tidak Membahayakan Jiwa
4. Hitam : Boleh Diabaikan & Ditinggalkan
a. Diurus paling akhir
b. Sudah tidak ada tanda-tanda vital
c. Usaha-usaha pertolongan amat sangat kecil keberhasilannya

F. Pendahuluan dan Rencana Uraian Tugas


Pelayanan kesehatan gawat-darurat : Hak dan kewajiban semua.
Pelayanan kualitas pelayanan kesehatan :Tanggungjawab pemerintah dan
masyarakat.
Koordinator :Badan Nasional Penanggualangan
Bencana, Badan penanggualangan
Bencana Daerah Tingkant I dan II.
SPGDT Sehari-hari dan Bencana : Pra RS, RS dan Antar RS
Rencana Uraian Tugas
1. Penanggung Jawab Tim Ketua : Kepala Bidang Pelayanan Medik Wakil
Ketua : Kepala Instansi Gawat Darurat
Bertugas:
a. Memberi komando dan mengkoordinir segenap anggota tim.
b. Bekerjasama dengan perusahaan terkait membuat sistem komunikasi dan
simulasi bencana industri.
c. Sebagai evaluator tim.
2. Penanggung Jawab Medis
Dokter jaga IGD Bertugas :
a. Mengidentifikasi awal /triage pasien
b. Memimpin penanggulangan pasien saat terjadi kegawatdaruratan
c. Menghubungi dokter dari rawat inap maupun dokter jaga IGD (on call)
bila diperlukan bantuan.
3. Koordinator Shift Bertugas :
a. Menerima komando dari penanggung jawab tim
b. Bersama dokter penanggungjawab medis melakukan Triage pada pasien
4. Tim Paramedis Perawat IGD
Bertugas :
a. Membantu dokter menangani pasien sesuai triage.
b. Menghubungi perawat on call (ICU dan Rawat Inap) sesuai instruksi
dokter atau koordinator shift.

G. Perlunya Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu


Untuk mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan cara
penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala
sesuatu yang berkaitan dengan kesiap-siagaan dan penanggulangan bencana.
Tujuan :
1. Didapatkan kesamaan pola pikir / persepsi tentang SPGDT.
2. Diperoleh kesamaan pola tindak dalam penanganan kasus gawat darurat
dalam keadaan sehari-hari maupun bencana.
a. Safe Community, (SC) :
Keadaan sehat dan aman yang tercipta dari, oleh dan untuk masyarakat.
Pemerintah dan teknokrat merupakan fasilitator dan pembina.
b. SPGDT :
Sistem penanggulangan pasien gawat darurat yang terdiri dari unsur pra
RS, RS dan antar RS. Berpedoman pada respon cepat yang menekankan
time saving is life and limb saving, yang melibatkan masyarakat awam
umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat
dan komunikasi.
c. PSC (Public Safety Center) :
Pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal
kegawat-daruratan, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi
dalam waktu singkat dan dimanapun berada (gabungan dari AGD 118,
SAR/PK 113, Polisi 110).
Merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, yang bertujuan untuk
mendapatkan respons cepat (quick response) terutama pelayanan pra RS.

Gerakan Safe Community


Gerakan safe community adalah gerakan agar tercipta masyarakat yang
merasa hidup sehat, aman dan sejahtera dimanapun mereka berada yang
melibatkan peran aktif himpunan profesi maupun masyarakat (misal : PSC,
Poskesdes dll).
1. Aspek SC :
a. Care : Kerja-sama lintas sektoral non kesehatan dalam menata perilaku
dan lingkungan untuk mempersiapkan, mencegah dan melakukan
mitigasi dalam menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan,
keamanan, dan kesejahteraan.
b. Cure : Peran utama sektor kesehatan dibantu sektor terkait dalam
penanganan keadaan dan kasus-kasus gawat-darurat.
2. Visi gerakan SC:
a. Menjadi gerakan yang mampu melindungi masyarakat dalam keadaan
darurat sehari-hari dan bencana, maupun atas dampak akibat terjadinya
bencana.
b. Terciptanya perilaku masyarakat dan lingkungan untuk menciptakan
situasi sehat dan aman.
3. Misi gerakan SC:
a. Menciptakan gerakan di masyarakat
b. Mendorong kerja-sama lintas sektor-program
c. Mengembangkan standar nasional
d. Mengusahakan dukungan dana dalam rangka pemerataan dan perluasan
jangkauan pelayanan terutama dalam keadaan darurat.
e. Menata sistem pendukung pelayanan diseluruh unit pelayanan kesehatan
4. Nilai dasar SC:
a. Care : pencegahan, penyiagaan dan mitigasi
b. Equity : adanya kebersamaan dari institusi pemerintah,
kelompok/organisasi profesi dan masyarakat.
c. Partnership : menggalang kerja-sama lintas sektor dan masyarakat
untuk mencapai tujuan.
d. Net working : membangun jaring kerja-sama dalam suatu sistem
dengan melibatkan seluruh potensi yang terlibat dalam gerakan SC
e. Sharing : memiliki rasa saling membutuhkan dan kebersamaan
dalam memecahkan segala permasalahan dalam gerakan SC.
5. Maksud Usaha SC:
Memberikan pedoman baku bagi daerah dalam melaksanakan gerakan SC
agar tercipta masyarakat sehat, aman dan sejahtera.
6. Tujuan Usaha SC:
a. Partisipasi masyarakat menata perilaku.
b. SPGDT yang dapat diterapkan.
c. Membangun respons masyarakat melalui pusat pelayanan terpadu dan
potensi penyiagaan fasilitas.
d. Mempercepat response time untuk menghindari kematian dan kecacatan.
7. Sasaran Usaha SC:
a. Tingkatkan kesadaran, kemampuan dan kepedulian dalam kewaspadaan
dini kegawat-daruratan.
b. Terlaksananya koordinasi lintas sektor terkait, tergabung dalam satu
kesatuan.
c. Terwujudnya subsistem komunikasi dan transportasi sebagai pendukung.
8. Falsafah dan Tujuan SC:
a. Memberikan rasa sehat dan aman dengan melibatkan seluruh potensi,
memanfaatkan kemampuan - fasilitas secara optimal.
b. Merubah perilaku agar mampu menanggulangi kegawat-daruratan sehari-
hari.
c. Ada visi, misi, tujuan dan sasaran.
d. Motto ‘time saving is life and limb saving’ dan kemampuan rehabilitasi.
9. Ketentuan organisasi :
a. Didasarkan pada organisasi yang melibatkan multi disiplin dan multi
profesi.
b. Memiliki unsur Pimpinan/wakil, sekretaris, bendahara dan anggota.
c. Minimal melibatkan unsur kamtib & SAR. Kemudian unsur keselamatan
& kesehatan kerja karyawan dan humas.
10. Administrasi-Pengelolaan :
a. Ada struktur, uraian tugas, kewenangan dan mekanisme kerja dengan
unit lain.
b. Ada unit kerja terkait.
c. Ada produk hukum : dasar
d. Ada petunjuk dan informasi untuk jamin kemudahan dan kelancaran
dalam memberikan pelayanan di masyarakat.
e. Ada PSC sebagai unit respons cepat.
11. Staf dan pimpinan :
a. Gerakan SC diselenggarakan oleh seluruh komponen, kepala daerah
menetapkan organisasi ini dengan SK.
b. Organisasi dimaksud adalah PSC yang dibangun disetiap daerah.
c. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang ditetapkan sesuai kebutuhan.
12. Fasilitas - Peralatan :
a. Fasilitas harus dapat menjamin efektifitas pelayanan termasuk pelayanan
UGD di RS 24 jam.
b. Sarana dan prasarana, peralatan dan obat sesuai dengan standard
c. Adanya subsistem pendukung baik komunikasi, transportasi termasuk
ambulans dan keselamatan kerja.
13. Kebijakan & prosedur :
a. Tertulis agar dapat dievaluasi dan disempurnakan.
b. Ditetapkan kebijakan pelayanan kasus gadar pra RS, RS dan rujukan,
termasuk Hospital disaster plan
c. Ditetapkan ada PSC ditiap daerah dan perhatikan keselamatan kerja dan
kegawat-daruratan sehari-hari.
14. SPGDT :
Secara Umum : Sistem koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor),
didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk
selenggarakan pelayanan terpadu penderita gawat-darurat, dalam keadaan
bencana maupun sehari-hari.
15. 3 Subsistem yaitu pra RS, RS dan antar RS.
a. SPGDT Pra RS
1) Sistem Pra RS Sehari-hari :
a) PSC, Poskesdes. Didirikan masyarakat. Pengorganisasian
dibawah Pemda.
b) BSB. Unit khusus pra RS. Pengorganisasian dijajaran kesehatan.
c) Pelayanan Ambulans. Koordinasi dengan memanfaatkan
ambulans setempat.
d) Komunikasi. Koordinasi jejaring informasi.
e) Pembinaan. Pelatihan peningkatan kemampuan
2) Sistem Pra RS pada bencana :
a) Koordinasi jadi komando. Efektif dan efisien bila dalam
koordinasi dan komando
b) Eskalasi dan mobilisasi sumber daya. SDM, fasilitas dan sumber
daya lain.
c) Simulasi. Diperlukan protap, juklak, juknis yang perlu diuji
melalui simulasi.
d) Pelaporan, monitoring, evaluasi. Laporan dengan sistematika
yang disepakati.
3) Fase Acute Response :
a) Acute emergency response.
Melaksanakan Rescue, triase, resusitasi, stabilisasi, diagnosis,
terapi definitif.
b) Emergency relief.
Menyediakan makanan minuman, tenda, jamban dll. untuk
korban ‘sehat’.
c) Emergency rehabilitation.
Perbaikan jalan, jembatan, sarana dasar lain untuk kelancaran
pertolongan.

b. SPGDT INTRA RS
1) Sarana, prasarana, BSB, UGD, HCU, ICU, penunjang
2) Hospital Disaster Plan, bencana dari dalam dan luar RS.
3) Transport intra RS.
4) Pelatihan, simulasi dan koordinasi untuk peningkatan kemampuan
SDM.
5) Pembiayaan dengan jumlah cukup.

SOP Minimal RS :
Sehari-hari dan Bencana (Hosdip, Hospital Diasater Plan) :
1) Kegawatan dengan ancaman kematia
2) True emergency
3) Korban missal
4) Keracunan missal
5) Khusus :
Perkosaan, KDRT, child abused
Persalinan Tidak Normal
Kegawatan diruang rawat
6) Ketentuan :
Asuransi
Batasan tindakan medik
Etika & Hukum
Pendataan
Tanggung jawab dokter pada keadaan gawat darurat

c. SPGDT ANTAR RS
1) Jejaring berdasar kemampuan RS dalam kualitas dan kuantitas.
2) Evakuasi. Antar RS dan dari pra RS.
3) SIM (Manajemen Sistem Informasi). Untuk menghadapi
kompleksitas permasalahan dalam pelayanan.
4) Koordinasi dalam pelayanan rujukan, diperlukan pemberian
informasi keadaan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan.

Evakuasi :
1) Tata cara tertulis. Harus memiliki Peta geomedik
2) Kondisi pasien Stabil dan optimal pra dan selama evakuasi hingga
tujuan.
3) Kriteria : Fisiologis / Anatomis
4) Mekanisme :
1) Tahu Tujuan dan Prinsip rujukan.
2) ABC stabil,
3) Immobilisasi,
4) Mekanika mengangkat pasien.

Sarana-prasarana Evakuasi Minimal


1) Alat / Bahan / Obat Bantuan Hidup Dasar
2) Cervical collar / splint
3) Short serta Long Spine Board
4) Wheeled serta Scoop Stretcher

Evakuasi :
Darurat :
1) Lingkungan berbahaya (misal kebakaran).
2) Ancaman jiwa (misal perlu tempat rata dan keras untuk RJP).
3) Prioritas bagi pasien ancaman jiwa

Segera :
1) Ancaman jiwa, perlu penanganan segera.
2) Pertolongan hanya bisa di RS (misal pernafasan tidak adekuat, syok).
3) Lingkungan memperburuk kondisi pasien (hujan, dingin dll).

Biasa :
Tanpa ancaman jiwa, namun tetap memerlukan RS

H. Hal-Hal yang Diatur Khusus dalam SPGDT


1. Petunjuk Pelaksanaan Permintaan dan Pengiriman bantuan medik dari RS
rujukan.
2. Protap pelayanan gawat-darurat di tempat umum.
3. Pedoman pelaporan Penilaian Awal/Cepat (RAH).
I. Bagan Alur Penanganan Korban Bencana

Kejadian Bencana

Pra Rumah Sakit

1. PSC
2. Ambulans
3. Komunikasi

Intra Rumah Sakit


Response Time

TRIAGE

Ruang Dekontaminasi

Ruang non Bedah Ruang Resusitasi Ruang Bedah

Kamar Jenazah

Antar Rumah Sakit

1. Evakuasi
2. Transportasi
3. RS rujukan
J. Bagan Alur Penanganan Korban Bencana Di Lapangan

Daerah
bencana

Pos komando

pencarian penyelamatan Pertolongan


pertama

Triase

stabilitasy

evakuasi

Kontrol lalu
lintas pengaturan
evaluasi

Penanganan
bencana di RS
K. Bagan Penanganan Korban Bencana Di Rumah Sakit

Pasien datang

Pendaftran

Triage
Emergensy ?
Ya Tidak

Pelayanan Penunjang
Pemeriksaan & Pelayanan False
 Radiologi
Tindakan  Laboratorium Emergency
 Bedah sentral

Rawat Inap

Ya Tidak

Tempat Pendaftaran Resep


Paisien Rawat Inap

Ya Tidak
Pelayanan Rawat
Inap ICU-PICU-NICU

Farmasi Administrasi

Kasir

Pasien Pulang
BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) merupakan
penanganan awal dan pertolongan pertama sebelum korban dibawa ke Rumah
Sakit dan mendapatkan penanganan medis lanjutan, misalnya pada saat terjadi
bencana alam. Salah satu hal penting yang perlu ada pada saat terjadi bencana
alam yaitu posko kesehatan, dimana penderita gawat darurat atau korban dapat
ditangani pada posko kesehatan ini. SPGDT terdiri dari unsur, pelayanan pra
rumah sakit, pelayanan di rumah sakit dan antar rumah sakit.
SPGDT dibagi atas SPGDT-S dan SPGDT-B yang. bertujuan untuk
mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, sehingga diperlukan cara
penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur).
DAFTAR PUSTAKA

[Link] Kemenkes dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat


Terpadu (Spgdt) dan Bencana. [Link] diakses tanggal 19 Maret
2020
Umar, Nazaruddin. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.
Departemen Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran USU RSUP. H.
Adam Malik Medan.
[Link]
[Link]
SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)
[Link] diakses tanggal 19 Maret 2020
Seri Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) / General Emergency
Life Support (GELS) : Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu
(SPGDT). Cetakan ketiga. Dirjen Bina Yanmed Depkes RI, 2006.
Tanggap Darurat Bencana (Safe Community modul 4). Depkes RI, 2006.
[Link] diakses tanggal 19 Maret 2020

Anda mungkin juga menyukai