0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan6 halaman

Rekomendasi Pengukuran Kinerja Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang sistem pengukuran kinerja perusahaan yang efektif. Sistem pengukuran kinerja ideal mempertimbangkan ukuran keuangan dan nonkeuangan, serta internal dan eksternal. Salah satu sistem pengukuran yang disebutkan adalah Balanced Scorecard yang mempertimbangkan empat perspektif yakni keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran & pertumbuhan. Implementasi sistem pengukuran kinerja melibatkan

Diunggah oleh

denaaraa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan6 halaman

Rekomendasi Pengukuran Kinerja Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang sistem pengukuran kinerja perusahaan yang efektif. Sistem pengukuran kinerja ideal mempertimbangkan ukuran keuangan dan nonkeuangan, serta internal dan eksternal. Salah satu sistem pengukuran yang disebutkan adalah Balanced Scorecard yang mempertimbangkan empat perspektif yakni keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran & pertumbuhan. Implementasi sistem pengukuran kinerja melibatkan

Diunggah oleh

denaaraa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

CHAPTER 11 PERFORMANCE MEASUREMENT


Dosen Pengampu: Hardo Basuki, Dr., [Link]., CSA., CA.

DENARA AKMAL (447387)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2020
CHAPTER 11 PERFORMANCE MEASUREMENT

Sistem Pengukuran Kinerja


Tujuan pengukuran kinerja adalah untuk membantu manajemen dalam
mengimplementasikan strategi. Manajemen senior akan memilih ukuran-ukuran yang sesuai
dengan strategi perusahaan. Ukuran tersebut dapat disebut sebagai faktor keberhasilan
(critical success factors) di masa sekarang dan masa depan. Ketika ukuran baik, berarti
perusahaan telah tepat dalam mengimplementasikan strateginya. Keberhasilan suatu strategi
akan bergantung pada kekuatan perusahaan. Namun, sistem pengukuran kinerja hanya
sebagai mekanisme yang dapat memperbaiki perusahaan dalam mengimplementasi
strateginya.
Keterbatasan Sistem Pengendalian Keuangan
Tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan return bagi stockholder. Meskipun
banyak perusahaan yang hanya mementingkan profitabilitas jangka pendeknya tanpa
mempedulikan tingkat pengembalian yang optimum. Ukuran atau rasio keuangan semestinya
tidak dapat dijadikan acuan, karena:
a. Ukuran keuangan dapat memicu manajer untuk berfokus pada profitabilitas jangka
pendek saja, sehingga tidak sejalan dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Tekanan yang diberikan manajemen senior akan memungkinkan manajer hanya
berpedoman pada profitabilitas saat ini saja. Hal ini dapat mempengaruhi target di
masa depan.
b. Manajer unit bisnis bisa saja hanya mengambil keputusan yang berdampak pada
jangka pendek saja. Manajer akan berfikir bahwa kinerja mereka diukur dalam jangka
pendek saja sehingga dapat dinilai kinerja mereka baik.
c. Akan menimbulkan distorsi bagi manajer unit bisnis dan manajemen senior. Ketika
manajer unit bisnis dievaluasi, mereka hanya akan mengarah pada data perencanaan
laba jangka pendek saja.
d. Ketika tujuan utama perusahaan adalah rasio keuangan dan ukuran keuangan yang
baik, manajer dapat melakukan berbagai cara agar terlihat baik kinerjanya. Manajer
dapat memanipulasi data, hingga mengubah metode yang dapat menguntungkan
dirinya sendiri.
Pengukuran kinerja hanya berdasarkan ukuran keuangan akan memberikan pengaruh
yang buruk bagi manajemen dan perusahaan secara keseluruhan. Hal yang dapat dilakukan
adalah dengan mengukur dan mengevaluasi kinerja keuangan dan non keuangan manajer unit
bisnis.
Balanced Scorecard
Balanced scorecard merupakan alat pengukuran kinerja yang diinisiasi oleh Kaplan
dan Norton pada tahun 1992. Terdapat empat perspektif dalam pengukuran kinerja dalam
Balanced Scorecard, diantaranya:
o Perspektif keuangan: perspetif ini digunakan untuk mengukur kinerja
keuangan perusahaan. Contohnya, ROA, profit margin, cash flow.
o Perspektif customers: perspektif ini berfokus pada bagaimana perusahaan
memperlakukan customersnya. Contoh: retensi pelanggan, pangsa pasar,
tingkat kepuasan customers.
o Perspektif Proses bisnis internal: perspektif ini mengacu pada bagaimana
bisnis operasional perusahaan berjalan. Contoh: retensi karyawan.
o Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Contoh: persentase penjualan atas
produk baru.
Balanced Scorecard bertujuan agar keseimbangan antara ukuran-ukuran kinerja tetap
sesuai dengan tujuan perusahaan, sehingga dapat mendorong karyawan agar bertindak sesuai
tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Tiap perspektif dalam balanced scorecard akan berisi
aspek strategi perusahaan serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Dalam menetapkan
balanced scorecard, manajemen senior akan memilih ukuran yang:
- Akurat dapat mencerminkan faktor keberhasilan strategi perusahaan
- Menunjukkan hubungan yang kuat antara ukuran individual, lalu dihubungkan dengan
cause-effect relationship.
- Memberikan pandangan yang jauh mengenai kondisi perusahaan.
Sistem Penilaian Kinerja
Sistem penilaian kinerja akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan stakeholders.
Dengan menggabungkan ukuran strategis, seperti yang ada di bawah ini:
a. Ukuran hasil dan pemicu
Ukuran hasil akan menunjukkan hasil dari suatu strategi seperti halnya pendapatan.
Ukuran ini merupakan lagging indicators bagi manajemen mengenai apa yang telah
terjadi. Sementara ukuran pemicu merupakan leading indicators yang menunjukkan
bagaimana kemajuan dari bidang-bidang dalam mengimplementasikan strategi. Dua
ukuran ini saling terkait. Ketika ukuran hasil menunjukkan ada masalah, tetapi ukuran
pemicu tidak, maka akan perlu dilakukan evaluasi strategi.
b. Ukuran keuangan dan nonkeuangan
Sistem yang ada di perusahaan biasanya digunakan untuk mengukur kinerja keuangan
saja, namun kinerja non keuangan juga sangat penting karena akan mempengaruhi
kinerja keuangan.
c. Ukuran internal dan eksternal
Perusahaan harus selalu menyeimbangkan antara ukuran eksternal dan internal.
Ukuran eksternal seperti kepuasan pelanggan. Ukuran internal seperti hasil produksi.
Faktor Pemicu Perubahan
Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya perubahan, yaitu:
- Faktor kunci keberhasilan
Variabel kunci pada pelanggan:
1) Pangsa pasar
2) Pemesanan
3) Kepuasan pelanggan
4) Penundaan pesanan
5) Retensi pelanggan
6) Pesanan dari pelanggan loyal
Variabel kunci proses bisnis internal:
1) Pengiriman ontime
2) Perputaran persediaan
3) Kualitas produk
4) Waktu siklus produk, dimana rumusnya = waktu pemrosesan + waktu
penyimpanan + waktu pemindahan + waktu pemeriksaan
5) Kapasitas yang baik
Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja
Empat langkah dalam mengimplementasi sistem pengukuran kinerja:
a. Mendefinisikan srategi
Dengan adanya BSC, kaitan antara strategi dan tindakan akan terlihat. Dalam
implementasi BSC dimulai dengan mendefinisikan strategi perusahaan. BSC dapat
diciptakan oleh korporat ataupun pada tingkat unit bisnis.
b. Mendefinisikan ukuran strategi
Ukuran-ukuran akan dikembangkan untuk mendukung strategi. Perusahaan harus
berfokus pada ukuran yang penting.
c. Integrasi ukuran ke dalam sistem manajemen
BSC harus diintegrasikan dengan struktur formal dan informal perusahaan.
d. Peninjauan ukuran dan hasil secara berkala
Ketika bsc diimplementasikan, balanced scorecard harus selalu ditinjau dengan selalu
memerhatikan kondisi organisasi menurut ukuran hasil, ukuran pemicu, bagaimana
strategi perusahaan sejak peninjauan, dan ditinjau juga apakah ukuran scorecard akan
diubah.
Kesulitan Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja
o Terdapat hubungan yang buruk dengan nonkeuangan
Profitabilitas masa depan tidak dapat menjamin target yang akan dicapai.
o Hanya berfokus pada kinerja keuangan
Fokus utama hanya pada kinerja keuangan akan memberikan efek jangka panjang
bagi perusahaan bahkan meningkatkan perilaku disfungsional.
o Terlalu banyak pengukuran
Pengukuran yang terlalu banyak akan membuat manajer kehilangan fokus.
o Mekanisme perusahaan yang belum dibentuk
Mekanisme perusahaan yang belum jelas akan mempengaruhi ukuran-ukuran yang
ada
o Perusahaan kesulitan dalam menentukan hasilnya
Banyak organisasi yang menggabungkan ukuran keuangan dan nonkeuangan tetapi
tidak memberikan bobot atau angka yang jelas terhadap masing-masing pengukuran.
Pengendalian Interaktif
Pengendalian manajemen bertujuan untuk membantu pelaksanaan strategi. Strategi
akan ditetapkan untuk mendefinisikan faktor keberhasilan perancangan dan operasi sistem
pengendalian. Karakteristik pengendalian interaktif:
1. Pengendalian manajemen menjadi titik utama bagi perusahaan
2. Manajemen senior menerima informasi pengendalian manajemen
3. Manajer di tingkatan perusahaan berfokus pada informasi yang dihasilkan
4. Semua pihak di perusahaan akan bernegosiasi dan berdiskusi mengenai dampak atas
informasi yang ada
5. Diskusi akan dilaksanakan dengan tetap menerima masukan dari pihak-pihak terlibat
Pemberhentian teknologi dapat dilakukan, karena:
- Pertumbuhan internet yang semakin diminati. Pertumbuhan ini akan meningkatkan
jumlah pengguna internet, komunikasi broadband, hingga pengenalan teknologi yang
dapat membantu operasional perusahaan
- Teknologi pemusatan akan memberikan pengaruh pada suara, data, gambar,
hardware, hingga rekayasa dan bioteknologi
- Peluang baru bagi produsen alat elektronik
- Pergeseran barang dalam bentuk fisik menjadi berkurang
Kondisi-kondisi yang harus terpenuhi dalam sistem pengendalian interaktif:
a. Data tidak ambigu sehingga mudah dipahami
b. Memuat data mengenai keputusan strategis
c. Data tersebut seharusnya dapat mengembangkan strategi baru

Anda mungkin juga menyukai