Memahami Komponen dan Interaksi Ekosistem
Memahami Komponen dan Interaksi Ekosistem
EKOSISTEM
Disusun oleh:
Kiki Fitaoka 4218031
Program Study: Biologi
Mata Kuliah : Biologi Dasar
Dosen Pengampu : Reny Dwi Riastuti, [Link]
Konsep ekosistem bukanlah istilah yang baru, namun istilah itu pertama kali diusulkan oleh
A.G. Tansley pada tahun 1935 (Odung, 1994). Istilah ini memiliki banyak padanan seperti
“biocoenosis”, “mikrokosmos”, “geobiocoenosis”, “halocoen”, dan “biosistem”. Menurut
Tansley, ekosistem adalah semua organisme dan lingkungannya yang terdapat dilokasi
tersebut. Berdasarkan undang-undang republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, ekosistem diartikan tatanan unsur lingkungan
hidup yang merupakan kesatuan utuh-menyeluruh dan saling memengaruhi dalam membentuk
keseimbangan stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Sebagai suatu sistem (baca : sistem ekologi), tentu saja ekosistem terdiri atas sejumlah
komponen. Berdasarkan fungsinya , suatu ekosistem terdiri atas dua komponen yaitu: 1).
Komponen autotrof (autos=sendiri,trophikos=menyediakan makanan), yaitu organisme yang
mampu menyediakan atau mensisntesis makanan sendiri yang berupa bahan-bahan anorganik
dan dari bahan-bahan organik dengan bantuan energi matahari dan klorofil, oleh karena itu
organisme yang mempunyai klorofil disebut organisme autotrof. 2). Komponen heterotrof
(heterros=berbeda,lain), yaitu organisme yag mampu memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut disintesis dan disediakan oleh organisme lain.
Manusia , hewan, jamur dan jasad renik termasuk dalam kelompok ini.
Jika melihat ekosistem berdasarkan komponen penyusunnya, maka dapat dibedakan
menjadi empat komponen yaitu 1) komponen abiotik, yaitu komponen fisik dan kimia yang
terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari, dan sebagainya dan merupakan medium atau
substrak tempat berlangsungnya kehidupan, 2). Produsen yaitu organisme autotrof misalnya
umumnya terdiri dari tumbuhan berklorofil, yang dapat mensintesis makanan dari bahan-
bahan anorganik yang sederhana 3). Konsumen yaitu organisme heterotrof, misalnya hewan
dan manusia untuk hidupnya memakan organisme lain. 4). Pengurai, perombak yaitu
organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan orgnik
kompleks) menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepas bahan-bahan yang
sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen, bakteri dan jamur termasuk dalam
kelompok ini.
Ekosistem dibagi menjadi dua berdasarkan macam habitatnya: ekosistem darat dan
akuatik. Ekosistem darat seperti padang rumput, hutan, gurun dan tundra. Ekosistem Akuatik
seperti ekosistem air air tawar, ekosistem estuarina dan ekosistem marine. Ekosistem darat
dibedakan atas dasar vegetasi yang dominan. Ekosistem akuatik dibedakan atas sifat kimia
yaitu kadar garamnya, ekosistem air tawar (kadar garam sangat rendah) di dalamnya yang
termasuk danau, kolam, rawa, ngarai dan sungai. Samudera dan laut merupakan ekosistem
marine (kadar garam sangat tinggi). Teluk, muara sungai dan rawa pasang surut dimana air
tawar bercampur dengan air laut membentuk ekosistem estuarina.
Keseimbangan suatu ekosistem akan terjadi, bila komponen-komponennya dalam jumlah
yang berimbang. Komponen-komponen ekosistem mencakup : Faktor Abiotik, Produsen,
Konsumen dan Dekomposer (Pengurai). Di antara komponen-komponen ekosistem terjadi
interaksi, saling membutuhkan dan saling memberikan apa yang menjadi sumber
penghidupannya. Tuhan menciptakan faktor abiotik untuk mendukung kehidupan tumbuh-
tumbuhan sebagai produsen; kemudian tumbuh-tumbuhan tersebut menjadi mendukung
kehidupan organisme lainnya (binatang dan manusia) sebagai konsumen maupun detritivora,
dan akhirnya dekomposer (bakteri dan jamur) mengembalikan unsur-unsur pembentuk
makhluk hidup kembali ke alam lagi menjadi faktor-faktor abiotik, demikian seterusnya
terjadilah daur ulang materi dan aliran energi di alam secara seimbang.
Adanya saling ketergantungan antara faktor abiotik dengan faktor biotik, dan hubungan
antarkomponen di dalam faktor biotik sendiri, menunjukkan bahwa kehidupan manusia
bergantung kepada kehidupan makhluk lainnya maupun kehidupan antar manusia sendiri.
Beranekaragam tumbuhan yang menyusun taman kota memberikan dampak positif bagi
lingkungan kehidupan kota itu maupun lingkungan lainnya. Belakangan ini diketahui bahwa
berbagai tanaman hias dapat menyerap racun yang ada di udara, air, maupun di tanah, seperti
tanaman tapak dara, senseivera, palem kuning dan lain-lain.
A B A B
1 Netralisme o O O O
2 Mutualisme + + - -
3 Protokoperasi + + o o
4 Komensalisme + O - o
5 Parasitisme + - - +
6 Predasi + - - o
7 Herbivori + - - o
Keterangan:
+ : Stimulasi saling
menguntungkan - : Stimulasi
merugikan (menekan) o : Tidak ada
efek
Mutualisme adalah bentuk interaksi obligat (kekerasan) .Jika “On” maka kedua belah
pihak akan untung, sedangkan jika “off” maka kedua belah pihak akan rugi (tertekan). Contoh:
fiksasi nitrogen simbiotik antara bakteri rhizobium dengan bintil akar tumbuhan polong-
polongan. (gambar) contoh lain adalah mychorrizae, yaitu hypa jamur tertentu menyelimuti
ujung akar pohon dan membentuk jaring-jaring penyerap yang melakukan penyerapan nutrisi
oleh pohon. Jamur mendapat suplai makanan (hasil fotosintesis) dari pohon tersebut.
Mychorrizae ada dua macam yaitu ectomychorrizae dan endomychorrizae.
Protokoperasi adalah bentuk interaksi fakultatif (tidak merugikan keduanya) antara dua
organisme sehingga jika “On” maka kedua belah pihak akan untung (terpacu), sedangkan bila
“Off” maka keduanya tidak terpengaruh (netral). Salah satu contoh interaksi ini adalah saling
menempelnya akar (graft) antara dua pohon. Diketahui ada beberapa jenis pohon yang
membentuk graft alami. Sebagian dari mereka menggunakan graft interspesifik, bahkan ada
yang sampai intergenerik (sudah berkembang jauh). Kedua pohon yang mengalami graft akan
saling bertukar hasil fotosintesis dari pohon, sehingga menghasilkan fotosintesis yang lebih
seragam.
Komensalisme adalah interaksi yang menstimulir secara menguntungkan satu organisme tapi
tidak berpengaruh terhadap organisme lainnya. Contoh : tumbuhan epifit seperti lumut, paku-pakuan,
dan anggrek. Tumbuhan epifit ini tidak menyerap makanan (fotositrat) dari tumbuhan inangnya.
Terkadang ada tumbuhan epifit yang berubah menjadi parasit jika tumbuhan inang mengembangkan
organ penyerap (haustoria) yang menembus floem tubuh inan
Parasitisme, predasi dan herbivore pada umumnya mempunyai pola interaksi yang
sama. Jika “On” maka salah satu organisme diantaranya akan untung (terpacu) sedangkan
organisme lainnya akan rugi (tertekan). Sebaliknya, jika “Off” maka organisme yang semula
untung akan rugi (tertekan) sedang organisme yang semula rugi akan untung. Interaksi
parasitisme melibatkan organisme inang dan parasit. Parasit biasanya lebih kecil dari pada
inang. Parasit ada yang bersifat ecto-parasit dan adapula yang bersifat endo-parasit. Parasit
tidak memakan organisme melainkan menghisap nutrient dari inang. Contoh : kerbau vs kutu,
dimana kutu menghisap darah dari kerbau.
Predasi (predatorisme) atau disebut juga pemangsa adalah interaksi antara pemangsa
(predator) dan mangsa (preis). Pada umumnya pemangsa lebih besar dari pada mangsa.
Berbeda dengan parasit, pemangsa akan memakan organisme mangsanya. Jadi, pemangsa
akan membunuh mangsanya. Sebagai contoh: Burung jalak vs kutu kerbau. Burung jalak
akan memangsa kutu-kutu pada kulit kerbau. Nah, interaksi apakah yang terjadi antara burung
jalak dengan kerbau di mana interaksi tersebut bukan bersifat keharusan (obligat)?
Herbivori adalah bentuk interaksi dimana hewan mengonsumsi seluruh atau sebagian
tumbuhan dari konsumen. Konsumen pemakan jaringan hidup disebut biofag dan konsumen
pemakan jaringan mati disebut saprofag. Hewan yang bersifat saprofag disebut detritifor.
Detritifor sesungguhnya adalah konsumen yang biasanya memakan detritus, yaitu serpihan
bahan-bahan organik dari tumbuhan. Contoh: semut, cacing, serangga tanah dan sebagainya
b. Interaksi antarpopulasi
Interaksi antar populasi dapat melibatkan dua atau lebih populasi makhluk hidup.
Seperti halnya interaksi antar individu, interaksi antar populasi terdiri atas beberapa tipe
yaitu kompetisi dan amensalisme.
Kompetisi melibatkan dua atau lebih populasi yang membutuhkan (menggunakan)
sumber daya yang sama tetapi jumlahnya terbatas. Jika sumber dayanya melimpah maka tidak
terjadi kompetisi. Dalam ekologi dikenal konsep “The Gause’s competitive exclusion
principle”, yang maksudnya bahwa pada setiap kompetisi akan ada orgaisme yang tergusur.
Pada interaksi kompetisi jika “On” maka kedua populasi yang terlibat akan rugi (tertekan),
sedangkan jika “Off” maka populasi yang terlibat akan netral (tidak terpengaruh).
Kompetisi dibedakan atas kompetisi intraspesifik dan kompetisi interspesifik. Kompetisi
intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi atas organisme dengan spesies yang sama. Contoh:
anjing vs anjing dalam berebut makanan atau pasangan; contoh lain, tumbuhan mangga vs
tumbuhan mangga, dalam satu bidang pohon untuk berebut nutrisi, air, cahaya, dan
sebagainya. Kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi antara organisme dengan
yang terjadi antara organisme dengan spesies yang berbeda. Contoh: singa vs harimau dalam
berebut mangsa di hutan; contoh lain, tumbuhan mangga dengan durian dalam satu bidang
lahan untuk berebut nutrisi, air, cahaya, dan sebagainya. Kompetisi intraspesifik lebih “keras”
dari kompetisi interspesifik; mengapa demikian?
Amensalisme adalah suatu bentuk interaksi biologis yang jika “On” maka organisme
yang satu akan untung (terpacu) atau dapat juga netral (+/o) dan apabila “Off” maka kedua
belah pihak akan netral. Contoh amensalisme adalah alslokemis (alelopati khusus tumbuhan).
Pada interaksi alelopati, tumbuhan tertentu melepaskan bahan kimia tertentu (produk
metabolik) ke lingkungan sehingga memengaruhi (menghambat pertumbuhan) tumbuhan
tertentu yang ada disekitarnya. Fenomena ini terjadi tidak menguntungkan (o) pada tumbuhan
yang mengeluarkan zat kimia (baca : zat alelopati). Dalam jangka panjang, tumbuhan tersebut
untung (+) karena dengan tertekannya tumbuhan tertentu di sekitarnya akhirnya akan
menguasai sumber daya di sekitarnya. Karena itu, interaksi amensalisme dapat dipandang
sebagai mekanisme kompetisi agresif. Contoh tumbuhan yang mengeluarkan zat alelopati
adalah: alang-alang, pinus, kamboja. Nah, kenapa keragaman jenis vegetatif bawah
c. Interaksi antarkomunitas
Komunitas adalah kumpulan beberapa populasi berbeda yang saling berinteraksi di
suatu wilayah yang sama sebagai contoh adalah komunitas padang rumput yang dihuni oleh
beberapa populasi diantaranya kuda, banteng, ular, belalang, singa, macan, serigala dan lain-
lain. Contoh komunitas lainnya adalah komunitas sungai yang terdiri atas beberapa populasi
seperti buaya, kuda nil, ular, ikan , plankton, dan lain-lain. Antara komunitas padang rumput
dan sungai terjadi interaksi berupa peredaran organisme dari kedua komunitas tersebut. Kuda,
banteng dapat menjadi sumber makanan bagi buaya, sebaliknya di sungai, ikan dapat menjadi
makanan bagi macan.
4. Adaptasi Fisiologis
Suatu jenis adaptasi menyangkut perubahan kerja faal organ tubuh disesuaikan dengan
lingkungan hidupnya. Misalnya, Tubuh manusia jika terdedah oleh udara dingin maka
pembuluh darah di wajah akan mengerut dan akan terasa dingin, usaha ini dilakukan untuk
mengurangi hilangnya panas. Beberapa serangga menghindari pembekuan di musim dingin
dengan menambah gliseron (anti beku) dalam darah mereka. Adaptasi fisiologi juga tergambar
pada ikan air tawar dan ikan air laut yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan konsentrasi
ion dalam tubuhnya (Gambar. 6.7). Pada tumbuhan adaptasi fisiologi ditunjukkan oleh luas
permukaan daun-daunnya sehubungan dengan lingkungan hidupnya, seperti: tumbuhan serofit
(hidup di gurun/ daerah kering, seperti kaktus) memiliki daun-daunnya
serupa duri atau sempit saja, sedangkan tumbuhan hidrofit (hidup di air, seperti eceng gondok)
memiliki daun-daunnya berukuran lebar-lebar dan batangnya berongga untuk mengimbangi
kadar air tubuhnya dengan masalah penguapan yang terjadi.
5. Adaptasi Perilaku
Pernahkah anda memperhatikan respon kaki seribu ketika disentuh?, ya, kaki seribu yang
disentuh dengan seketika menggulung tubuhnya (Gambar 6.8). Contoh ini adalah bentuk
adaptasi prilaku yang merupakan penyesuaian diri makhluk hidup terhadap faktor lingkungan
yang ditunjukkan oleh perilakunya. Contoh lainnya adalah Kerbau yang berkubang jika
kepanasan, Lumba-lumba memiliki kebiasaan meloncat-loncat di atas permukaan air untuk
menghirup udara, karena bernapas menggunakan paru-paru. Pada tumbuhan yang melakukan
adaptasi perilaku adalah pohon jati dan pohon kedondong. Keduanya akan menggugurkan
daunnya saat musim kemarau untuk meminimalkan laju transpirasi (penguapan). Keladi
meneteskan air untuk mengurangi kelebihan air.
2. Organisme Tanah
Organisme tanah berperan penting dalam mempertahankan struktur tanah dan
meningkatkan kesuburan tanah dengan melarutkan/membebaskan mineral-mineral ke
dalam tanah. Terdapat beberapa jenis organisme dalam tanah, antara lain: 1. Pemecah
bahan organik seperti slaters (spesies Isopoda), tungau, kumbang, dan collembola yang
memecah-mecah bahan organik besar menjadi bagian-bagian kecil. 2. Pembusuk bahan
organik seperti jamur dan bakteri yang memecahkan bahan-bahan seluler. 3. Organisme
yang bersimbiosis hidup pada/di dalam akar tanaman dan membantu tanaman untuk
mendapatkan hara dari dalam tanah. Mycorrhiza sp. bersimbiosis dengan tanaman dan
membantu tanaman untuk mendapatkan hara posfor, sedangkan Rhizobium sp.
membantu tanaman untuk mendapatkan nitrogen. 4. Pengikat hara yang hidup bebas
seperti alga dan azetobakter yang mengikat hara di dalam tanah. 5. Pembangun struktur
tanah seperti akar tanaman, cacing tanah, ulat-ulat, dan jamur yang membantu mengikat
partikel-partikel tanah sehingga struktur tanah menjadi stabil dan tahan terhadap erosi. 6.
Patogen seperti jenis jamur tertentu, bakteri, dan nematoda yang dapat menyerang
jaringan tanaman. 7. Predator atau pemangsa, termasuk protozoa, nematoda parasit, dan
jenis jamur tertentu yang memangsa organisme tanah lain. 8. Organisme tanah yang
menggunakan tanah sebagai tempat tinggal sementara pada tahap siklus hidup tertentu,
seperti ulat (larvae) dan telur cacing.
Organisme-organisme yang hidup dalam tanah dapat menguntungkan bagi manusia
karena mereka mampu
a) Mendaur ulang bahan organik Organisme tanah mendaur ulang bahan organik
dengan cara memakan bahan tanaman dan hewan yang mati, kotoran hewan,
dan organisme tanah yang lain. Mereka memecah bahan organik menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dapat dibusukkan oleh jasad renik
seperti jamur dan bakteri. Ketika mereka memakan bahan organik, sisa
makanan dan kotoran mereka dapat membantu perbaikan struktur dan
kesuburan tanah.