0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan12 halaman

Memahami Komponen dan Interaksi Ekosistem

Makalah ini membahas tentang ekosistem dan interaksi antar komponennya. Ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Komponen biotik terdiri atas produsen, konsumen, dan dekomposer sedangkan komponen abiotik meliputi tanah, udara, dan air. Terjadi interaksi antar komponen ekosistem seperti tumbuhan yang mempengaruhi kualitas tanah dan udara. Keseimbangan ekosistem tercapai jika semu

Diunggah oleh

Kiki Fitaloka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan12 halaman

Memahami Komponen dan Interaksi Ekosistem

Makalah ini membahas tentang ekosistem dan interaksi antar komponennya. Ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Komponen biotik terdiri atas produsen, konsumen, dan dekomposer sedangkan komponen abiotik meliputi tanah, udara, dan air. Terjadi interaksi antar komponen ekosistem seperti tumbuhan yang mempengaruhi kualitas tanah dan udara. Keseimbangan ekosistem tercapai jika semu

Diunggah oleh

Kiki Fitaloka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

EKOSISTEM

Disusun oleh:
Kiki Fitaoka 4218031
Program Study: Biologi
Mata Kuliah : Biologi Dasar
Dosen Pengampu : Reny Dwi Riastuti, [Link]

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDY BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU)
A. EKOSISTEM
Suatu organisme tidak dapat hidup sendiri. Untuk kelangsungan hidupnya suatu
organisme akan sangat bergantung pada kehadiran organisme lain dan berbagai komponen
lingkungan yang ada di sekitarnya. Kehadiran organisma lain dan berbagai komponen
lingkungan sangat dibutuhkan untuk keperluan pangan, perlindungan, pertumbuhan,
perkembangan, dan lain-lain. Hubungan antar organisme atau dengan lingkungannya akan
sangat rumit dan kompleks, mereka saling berinteraksi satu sama lain membentuk suatu sistem
ekologi atau sering disebut ekosistem.

Konsep ekosistem bukanlah istilah yang baru, namun istilah itu pertama kali diusulkan oleh
A.G. Tansley pada tahun 1935 (Odung, 1994). Istilah ini memiliki banyak padanan seperti
“biocoenosis”, “mikrokosmos”, “geobiocoenosis”, “halocoen”, dan “biosistem”. Menurut
Tansley, ekosistem adalah semua organisme dan lingkungannya yang terdapat dilokasi
tersebut. Berdasarkan undang-undang republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, ekosistem diartikan tatanan unsur lingkungan
hidup yang merupakan kesatuan utuh-menyeluruh dan saling memengaruhi dalam membentuk
keseimbangan stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Sebagai suatu sistem (baca : sistem ekologi), tentu saja ekosistem terdiri atas sejumlah
komponen. Berdasarkan fungsinya , suatu ekosistem terdiri atas dua komponen yaitu: 1).
Komponen autotrof (autos=sendiri,trophikos=menyediakan makanan), yaitu organisme yang
mampu menyediakan atau mensisntesis makanan sendiri yang berupa bahan-bahan anorganik
dan dari bahan-bahan organik dengan bantuan energi matahari dan klorofil, oleh karena itu
organisme yang mempunyai klorofil disebut organisme autotrof. 2). Komponen heterotrof
(heterros=berbeda,lain), yaitu organisme yag mampu memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut disintesis dan disediakan oleh organisme lain.
Manusia , hewan, jamur dan jasad renik termasuk dalam kelompok ini.
Jika melihat ekosistem berdasarkan komponen penyusunnya, maka dapat dibedakan
menjadi empat komponen yaitu 1) komponen abiotik, yaitu komponen fisik dan kimia yang
terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari, dan sebagainya dan merupakan medium atau
substrak tempat berlangsungnya kehidupan, 2). Produsen yaitu organisme autotrof misalnya
umumnya terdiri dari tumbuhan berklorofil, yang dapat mensintesis makanan dari bahan-
bahan anorganik yang sederhana 3). Konsumen yaitu organisme heterotrof, misalnya hewan
dan manusia untuk hidupnya memakan organisme lain. 4). Pengurai, perombak yaitu
organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan orgnik
kompleks) menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepas bahan-bahan yang
sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen, bakteri dan jamur termasuk dalam
kelompok ini.
Ekosistem dibagi menjadi dua berdasarkan macam habitatnya: ekosistem darat dan
akuatik. Ekosistem darat seperti padang rumput, hutan, gurun dan tundra. Ekosistem Akuatik
seperti ekosistem air air tawar, ekosistem estuarina dan ekosistem marine. Ekosistem darat
dibedakan atas dasar vegetasi yang dominan. Ekosistem akuatik dibedakan atas sifat kimia
yaitu kadar garamnya, ekosistem air tawar (kadar garam sangat rendah) di dalamnya yang
termasuk danau, kolam, rawa, ngarai dan sungai. Samudera dan laut merupakan ekosistem
marine (kadar garam sangat tinggi). Teluk, muara sungai dan rawa pasang surut dimana air
tawar bercampur dengan air laut membentuk ekosistem estuarina.
Keseimbangan suatu ekosistem akan terjadi, bila komponen-komponennya dalam jumlah
yang berimbang. Komponen-komponen ekosistem mencakup : Faktor Abiotik, Produsen,
Konsumen dan Dekomposer (Pengurai). Di antara komponen-komponen ekosistem terjadi
interaksi, saling membutuhkan dan saling memberikan apa yang menjadi sumber
penghidupannya. Tuhan menciptakan faktor abiotik untuk mendukung kehidupan tumbuh-
tumbuhan sebagai produsen; kemudian tumbuh-tumbuhan tersebut menjadi mendukung
kehidupan organisme lainnya (binatang dan manusia) sebagai konsumen maupun detritivora,
dan akhirnya dekomposer (bakteri dan jamur) mengembalikan unsur-unsur pembentuk
makhluk hidup kembali ke alam lagi menjadi faktor-faktor abiotik, demikian seterusnya
terjadilah daur ulang materi dan aliran energi di alam secara seimbang.
Adanya saling ketergantungan antara faktor abiotik dengan faktor biotik, dan hubungan
antarkomponen di dalam faktor biotik sendiri, menunjukkan bahwa kehidupan manusia
bergantung kepada kehidupan makhluk lainnya maupun kehidupan antar manusia sendiri.
Beranekaragam tumbuhan yang menyusun taman kota memberikan dampak positif bagi
lingkungan kehidupan kota itu maupun lingkungan lainnya. Belakangan ini diketahui bahwa
berbagai tanaman hias dapat menyerap racun yang ada di udara, air, maupun di tanah, seperti
tanaman tapak dara, senseivera, palem kuning dan lain-lain.

B. INTERAKSI ANTAR KOMPONEN EKOSISTEM


Dalam lingkungan yang normal atau alami, antar komponen menjalin interaksi. Interaksi
tersebut terjadi antara komponen abiotik dengan biotik maupun antar komponen yang ada
dalam kedua komponen tersebut.

1. Interaksi Komponen Abiotik dengan Komponen Biotik


Komponen biotik banyak dipengaruhi oleh komponen abiotik. Tumbuhan sangat
bergantung keberadaan dan pertumbuhannya dari tanah, air, udara tempat hidupnya. Jenis
tanaman tertentu dapat tumbuh dengan baik pada kondisi tanah tertentu. Sebaran tumbuhan
juga sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim. Misalnya di pantai, tanaman kelapa dapat
tumbuh subur, tetapi tidak demikian di daerah pegunungan. Sebaliknya komponen abiotik juga
dipengaruhi oleh komponen biotik. Keberadaan tumbuhan mempengaruhi
kondisi tanah, air, dan udara disekitarnya. Banyaknya tumbuhan membuat tanah menjadi
gembur dan dapat menyimpan air lebih banyak serta membuat udara menjadi sejuk.
Organisme lainnya seperti cacing juga mampu menggemburkan tanah, menghancurkan
sampah atau serasa daun, dan menjadikan pengudaraan tanah menjadi lebih baik, sehinga
semua dapat menyuburkan tanah.
2. Interaksi antarkomponen Abiotik
Di alam antar komponen abiotik juga saling berinterkasi. Komponen abiotik dapat
memengaruhi komponen abiotik lain secara timbal balik. Proses pelapukan batuan dipengaruhi
oleh cuaca dan iklim. Cuaca dan iklim juga mempengaruhi keberadaan air di suatu wilayah.
Suhu udara di suatu tempat dalam kadar tertentu dipengaruhi oleh warna batuan, kandungan
mineral dalam air juga dipengaruhi oleh batuan dan tanah yang dilaluinya. Contoh lain. jika
intensitas cahaya matahari yang mengenai suatu perairan meningkat mengakibatkan laju
penguapan meningkat. Dari peristiwa tersebut terbentuklah awan yang apabila dalam jumlah
banyak dapat menghalangi sinar matahari ke bumi, sehingga intensitas cahaya matahari ke
bumi berkurang, di samping juga dapatmenyebabkanairhujankembalikeperairan.
3. Interaksi antarkomponen Biotik
Antar komponen biotik juga terjadi interaksi. interaksi tersebut dapat terjadi antar
organisme, populasi maupun komunitas.
a. Interaksi antarorganisme
Di alam, pada umumnya suatu komunitas terdiri atas beberapa populasi baik tumbuhan
maupun hewan. Di antara individu tersebut akan terjadi berbagai kemungkinan tipe interaksi
biologis antara individu yang satu dengan individu lainnya. Barkholder (1952, dalam Barboker
dkk; 1986) menyusun beberapa kemungkinan interaksi yang dapat terjadi antara anggota
komunitas pada Tabel 6.1.
Netralisme adalah interaksi antara dua jenis organisme yang tidak saling
memengaruhi. Artinya, jika “On” kedua belah pihak (A dan B) tidak terpengaruh (netral),
demikian pula jika “Off”. Interaksi netralisme sesungguhnya jarang terjadi di alam. Contoh :
kambing vs kupu-kupu.
Tabel 6.1. Daftar kemungkinan tipe interaksi biologis “On” jika organisme A dan B cukup dekat dan berinteraksi,
“Off” jika tidak terjadi interaksi.

No Nama Interaksi On Off

A B A B

1 Netralisme o O O O

2 Mutualisme + + - -

3 Protokoperasi + + o o

4 Komensalisme + O - o

5 Parasitisme + - - +

6 Predasi + - - o

7 Herbivori + - - o

Keterangan:

+ : Stimulasi saling
menguntungkan - : Stimulasi
merugikan (menekan) o : Tidak ada
efek
Mutualisme adalah bentuk interaksi obligat (kekerasan) .Jika “On” maka kedua belah
pihak akan untung, sedangkan jika “off” maka kedua belah pihak akan rugi (tertekan). Contoh:
fiksasi nitrogen simbiotik antara bakteri rhizobium dengan bintil akar tumbuhan polong-
polongan. (gambar) contoh lain adalah mychorrizae, yaitu hypa jamur tertentu menyelimuti
ujung akar pohon dan membentuk jaring-jaring penyerap yang melakukan penyerapan nutrisi
oleh pohon. Jamur mendapat suplai makanan (hasil fotosintesis) dari pohon tersebut.
Mychorrizae ada dua macam yaitu ectomychorrizae dan endomychorrizae.
Protokoperasi adalah bentuk interaksi fakultatif (tidak merugikan keduanya) antara dua
organisme sehingga jika “On” maka kedua belah pihak akan untung (terpacu), sedangkan bila
“Off” maka keduanya tidak terpengaruh (netral). Salah satu contoh interaksi ini adalah saling
menempelnya akar (graft) antara dua pohon. Diketahui ada beberapa jenis pohon yang
membentuk graft alami. Sebagian dari mereka menggunakan graft interspesifik, bahkan ada
yang sampai intergenerik (sudah berkembang jauh). Kedua pohon yang mengalami graft akan
saling bertukar hasil fotosintesis dari pohon, sehingga menghasilkan fotosintesis yang lebih
seragam.
Komensalisme adalah interaksi yang menstimulir secara menguntungkan satu organisme tapi
tidak berpengaruh terhadap organisme lainnya. Contoh : tumbuhan epifit seperti lumut, paku-pakuan,
dan anggrek. Tumbuhan epifit ini tidak menyerap makanan (fotositrat) dari tumbuhan inangnya.
Terkadang ada tumbuhan epifit yang berubah menjadi parasit jika tumbuhan inang mengembangkan
organ penyerap (haustoria) yang menembus floem tubuh inan
Parasitisme, predasi dan herbivore pada umumnya mempunyai pola interaksi yang
sama. Jika “On” maka salah satu organisme diantaranya akan untung (terpacu) sedangkan
organisme lainnya akan rugi (tertekan). Sebaliknya, jika “Off” maka organisme yang semula
untung akan rugi (tertekan) sedang organisme yang semula rugi akan untung. Interaksi
parasitisme melibatkan organisme inang dan parasit. Parasit biasanya lebih kecil dari pada
inang. Parasit ada yang bersifat ecto-parasit dan adapula yang bersifat endo-parasit. Parasit
tidak memakan organisme melainkan menghisap nutrient dari inang. Contoh : kerbau vs kutu,
dimana kutu menghisap darah dari kerbau.
Predasi (predatorisme) atau disebut juga pemangsa adalah interaksi antara pemangsa
(predator) dan mangsa (preis). Pada umumnya pemangsa lebih besar dari pada mangsa.
Berbeda dengan parasit, pemangsa akan memakan organisme mangsanya. Jadi, pemangsa
akan membunuh mangsanya. Sebagai contoh: Burung jalak vs kutu kerbau. Burung jalak
akan memangsa kutu-kutu pada kulit kerbau. Nah, interaksi apakah yang terjadi antara burung
jalak dengan kerbau di mana interaksi tersebut bukan bersifat keharusan (obligat)?
Herbivori adalah bentuk interaksi dimana hewan mengonsumsi seluruh atau sebagian
tumbuhan dari konsumen. Konsumen pemakan jaringan hidup disebut biofag dan konsumen
pemakan jaringan mati disebut saprofag. Hewan yang bersifat saprofag disebut detritifor.
Detritifor sesungguhnya adalah konsumen yang biasanya memakan detritus, yaitu serpihan
bahan-bahan organik dari tumbuhan. Contoh: semut, cacing, serangga tanah dan sebagainya
b. Interaksi antarpopulasi
Interaksi antar populasi dapat melibatkan dua atau lebih populasi makhluk hidup.
Seperti halnya interaksi antar individu, interaksi antar populasi terdiri atas beberapa tipe
yaitu kompetisi dan amensalisme.
Kompetisi melibatkan dua atau lebih populasi yang membutuhkan (menggunakan)
sumber daya yang sama tetapi jumlahnya terbatas. Jika sumber dayanya melimpah maka tidak
terjadi kompetisi. Dalam ekologi dikenal konsep “The Gause’s competitive exclusion
principle”, yang maksudnya bahwa pada setiap kompetisi akan ada orgaisme yang tergusur.
Pada interaksi kompetisi jika “On” maka kedua populasi yang terlibat akan rugi (tertekan),
sedangkan jika “Off” maka populasi yang terlibat akan netral (tidak terpengaruh).
Kompetisi dibedakan atas kompetisi intraspesifik dan kompetisi interspesifik. Kompetisi
intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi atas organisme dengan spesies yang sama. Contoh:
anjing vs anjing dalam berebut makanan atau pasangan; contoh lain, tumbuhan mangga vs
tumbuhan mangga, dalam satu bidang pohon untuk berebut nutrisi, air, cahaya, dan
sebagainya. Kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi antara organisme dengan
yang terjadi antara organisme dengan spesies yang berbeda. Contoh: singa vs harimau dalam
berebut mangsa di hutan; contoh lain, tumbuhan mangga dengan durian dalam satu bidang
lahan untuk berebut nutrisi, air, cahaya, dan sebagainya. Kompetisi intraspesifik lebih “keras”
dari kompetisi interspesifik; mengapa demikian?
Amensalisme adalah suatu bentuk interaksi biologis yang jika “On” maka organisme
yang satu akan untung (terpacu) atau dapat juga netral (+/o) dan apabila “Off” maka kedua
belah pihak akan netral. Contoh amensalisme adalah alslokemis (alelopati khusus tumbuhan).
Pada interaksi alelopati, tumbuhan tertentu melepaskan bahan kimia tertentu (produk
metabolik) ke lingkungan sehingga memengaruhi (menghambat pertumbuhan) tumbuhan
tertentu yang ada disekitarnya. Fenomena ini terjadi tidak menguntungkan (o) pada tumbuhan
yang mengeluarkan zat kimia (baca : zat alelopati). Dalam jangka panjang, tumbuhan tersebut
untung (+) karena dengan tertekannya tumbuhan tertentu di sekitarnya akhirnya akan
menguasai sumber daya di sekitarnya. Karena itu, interaksi amensalisme dapat dipandang
sebagai mekanisme kompetisi agresif. Contoh tumbuhan yang mengeluarkan zat alelopati
adalah: alang-alang, pinus, kamboja. Nah, kenapa keragaman jenis vegetatif bawah

c. Interaksi antarkomunitas
Komunitas adalah kumpulan beberapa populasi berbeda yang saling berinteraksi di
suatu wilayah yang sama sebagai contoh adalah komunitas padang rumput yang dihuni oleh
beberapa populasi diantaranya kuda, banteng, ular, belalang, singa, macan, serigala dan lain-
lain. Contoh komunitas lainnya adalah komunitas sungai yang terdiri atas beberapa populasi
seperti buaya, kuda nil, ular, ikan , plankton, dan lain-lain. Antara komunitas padang rumput
dan sungai terjadi interaksi berupa peredaran organisme dari kedua komunitas tersebut. Kuda,
banteng dapat menjadi sumber makanan bagi buaya, sebaliknya di sungai, ikan dapat menjadi
makanan bagi macan.

C. ADAPTASI MAHLUK HIDUP


Makhluk hidup untuk bisa bertahan hidup akibat perubahan lingkungan dapat melakukan
adaptasi dan lingkungan. Faktor abiotik sangat menentukan dalam sebaran dan kepadatan
organisme dalam suatu daerah. Hal ini berkaitan erat dengan masalah adaptasi dan suksesi
organisme terhadap faktor-faktor lingkungannya. Adaptasi adalah suatu kemampuan makhluk
hidup menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya; bisa melalui adaptasi morfologi,
fisiologi dan adaptasi perilaku dari organisme yang berada dalam lingkungan yang
ditempatinya.
1. Adaptasi Morfologis
Suatu jenis adaptasi menyangkut perubahan bentuk struktur tubuhnya disesuaikan dengan
lingkungan hidupnya. Misalnya: pada bentuk tubuh manusia, orang eskimo yang hidup di
daerah arktik yang dingin mempunyai bentuk tubuh yang pendek dan kekar. Bentuk demikian
mempunyai nisbah luas permukaan tubuh terhadap volume tubuh yang kecil. Dengan nilai
nisbah yang kecil itu, panas badan yang hilang dari tubuh dapat dikurangi. Sebaliknya orang
suku Masai yang hidupnya di daerah yang panas di afrika mempuyai tubuh yang tinggi
langsing. Nisbah luas permukaan tubuh terhadap volume tubuh besar. Panas badan dapat
dengan mudah dilepaskan dari tubuh. Rubah kutub yang merubah ketebalan rambutnya tiga
kali dalam musim dingin dan dua kali dalam musism panas. Pada golongan tumbuhan yang
hidupnya di rawa pantai, ia memiliki buah/biji yang sudah berakar sebelum jatuh ke lumpur
pantai agar dapat terus tumbuh di lingkungan tersebut, seperti golongan Rhizophora
(tumbuhan bakau). Contoh lain adalah: 1) adaptasi pada morfologi paruh burung yang
disesuaikan dengan jenis makanannnya (Gambar 6.6), 2) Bentuk kaki burung sesuai dengan
cara hidupnya., 3) tipe mulut serangga sesuai dengan cara hidupnya, 4) bentuk gigi pada
omnivore, herbivora, dan karnivora sesuai dengan jenis makannya.

4. Adaptasi Fisiologis
Suatu jenis adaptasi menyangkut perubahan kerja faal organ tubuh disesuaikan dengan
lingkungan hidupnya. Misalnya, Tubuh manusia jika terdedah oleh udara dingin maka
pembuluh darah di wajah akan mengerut dan akan terasa dingin, usaha ini dilakukan untuk
mengurangi hilangnya panas. Beberapa serangga menghindari pembekuan di musim dingin
dengan menambah gliseron (anti beku) dalam darah mereka. Adaptasi fisiologi juga tergambar
pada ikan air tawar dan ikan air laut yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan konsentrasi
ion dalam tubuhnya (Gambar. 6.7). Pada tumbuhan adaptasi fisiologi ditunjukkan oleh luas
permukaan daun-daunnya sehubungan dengan lingkungan hidupnya, seperti: tumbuhan serofit
(hidup di gurun/ daerah kering, seperti kaktus) memiliki daun-daunnya
serupa duri atau sempit saja, sedangkan tumbuhan hidrofit (hidup di air, seperti eceng gondok)
memiliki daun-daunnya berukuran lebar-lebar dan batangnya berongga untuk mengimbangi
kadar air tubuhnya dengan masalah penguapan yang terjadi.

5. Adaptasi Perilaku
Pernahkah anda memperhatikan respon kaki seribu ketika disentuh?, ya, kaki seribu yang
disentuh dengan seketika menggulung tubuhnya (Gambar 6.8). Contoh ini adalah bentuk
adaptasi prilaku yang merupakan penyesuaian diri makhluk hidup terhadap faktor lingkungan
yang ditunjukkan oleh perilakunya. Contoh lainnya adalah Kerbau yang berkubang jika
kepanasan, Lumba-lumba memiliki kebiasaan meloncat-loncat di atas permukaan air untuk
menghirup udara, karena bernapas menggunakan paru-paru. Pada tumbuhan yang melakukan
adaptasi perilaku adalah pohon jati dan pohon kedondong. Keduanya akan menggugurkan
daunnya saat musim kemarau untuk meminimalkan laju transpirasi (penguapan). Keladi
meneteskan air untuk mengurangi kelebihan air.

D. TANAH SEBAGAI EKOSISTEM


Tanah bukan semata-mata benda mati. Tanah mengandung suatu bentuk kehidupan
khas berupa flora dan fauna, sehingga tanah memiliki ciri-ciri tertentu sebagai benda hidup.
Oleh karena tanah tersusun atas komponen abiotik dan biotik maka tanah pada asasnya
merupakan suatu ekosistem.
1. Bahan Organik Tanah
Bahan organik dalam tanah berasal dari proses dekomposisi tumbuhan dan hewan yang telah
mati. Bahan organik sangat penting untuk mempertahankan struktur tanah dan kemampuan
mempertahankan air. Makin kecil suatu partikel maka akan makin luas permukaan struktur
tanah tersebut karena adanya ikatan partikel tanah dengan humus. Tanah yang mengandung
humus akan menjadi gembur, ikatan satu sama lain menjadi longgar dan memiliki daya
pengikat air yang cukup besar. Oleh karena itu, humus sangat penting untuk tumbuhan.
Tanah yang mengandung humus berwarna coklat tua sampai hitam. Humus terdiri dari
berbagai senyawa organik, bersifat koloid, dan mampu mengikat air dengan cukup kuat.
Kandungan bahan organik dalam tanah yang terlalu tinggi ataupun rendah tidak baik untuk
pertanian. Humus pada umumnya terdiri dari asam phenolat, karboksilat, atau beberapa ester
dari asam lemak sehingga kandungan humus dalam tanah akan mempengaruhi pH tanah.
Tanah yang baik untuk pertanian hanya mengandung 5-15 % bahan organik. Supaya tanah
tetap baik maka komposisi bahan organik harus tetap dipertahankan.

2. Organisme Tanah
Organisme tanah berperan penting dalam mempertahankan struktur tanah dan
meningkatkan kesuburan tanah dengan melarutkan/membebaskan mineral-mineral ke
dalam tanah. Terdapat beberapa jenis organisme dalam tanah, antara lain: 1. Pemecah
bahan organik seperti slaters (spesies Isopoda), tungau, kumbang, dan collembola yang
memecah-mecah bahan organik besar menjadi bagian-bagian kecil. 2. Pembusuk bahan
organik seperti jamur dan bakteri yang memecahkan bahan-bahan seluler. 3. Organisme
yang bersimbiosis hidup pada/di dalam akar tanaman dan membantu tanaman untuk
mendapatkan hara dari dalam tanah. Mycorrhiza sp. bersimbiosis dengan tanaman dan
membantu tanaman untuk mendapatkan hara posfor, sedangkan Rhizobium sp.
membantu tanaman untuk mendapatkan nitrogen. 4. Pengikat hara yang hidup bebas
seperti alga dan azetobakter yang mengikat hara di dalam tanah. 5. Pembangun struktur
tanah seperti akar tanaman, cacing tanah, ulat-ulat, dan jamur yang membantu mengikat
partikel-partikel tanah sehingga struktur tanah menjadi stabil dan tahan terhadap erosi. 6.
Patogen seperti jenis jamur tertentu, bakteri, dan nematoda yang dapat menyerang
jaringan tanaman. 7. Predator atau pemangsa, termasuk protozoa, nematoda parasit, dan
jenis jamur tertentu yang memangsa organisme tanah lain. 8. Organisme tanah yang
menggunakan tanah sebagai tempat tinggal sementara pada tahap siklus hidup tertentu,
seperti ulat (larvae) dan telur cacing.
Organisme-organisme yang hidup dalam tanah dapat menguntungkan bagi manusia
karena mereka mampu
a) Mendaur ulang bahan organik Organisme tanah mendaur ulang bahan organik
dengan cara memakan bahan tanaman dan hewan yang mati, kotoran hewan,
dan organisme tanah yang lain. Mereka memecah bahan organik menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dapat dibusukkan oleh jasad renik
seperti jamur dan bakteri. Ketika mereka memakan bahan organik, sisa
makanan dan kotoran mereka dapat membantu perbaikan struktur dan
kesuburan tanah.

b) Meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman Ketika organisme tanah


memakan bahan organik atau makanan yang lain, sebagian hara yang tersedia
disimpan didalam tubuh mereka dan hara yang tidak diperlukan, dikeluarkan
didalam kotoran mereka (sebagai contoh, phosphor dan nitrogen). Hara di
dalam kotoran orgnisma tanah ini dapat diserap oleh akar tanaman. Sebagian
organisme tanah membina hubungan simbiosis dengan akar tanaman dan
dapat membantu akar tanaman menyerap lebih banyak unsur hara
dibandingkan kalau tidak ada kerjasama dengan organisme tanah. Sebagai
contoh adalah mycorrhiza, yang membantu tanaman untuk menyerap lebih
banyak posfor, sedangkan rhizobia membantu tanaman untuk menyerap lebih
banyak nitrogen.

c) Memperbaiki struktur tanah Bahan sekresi dari organisme tanah dapat


mengikat partikel-partikel tanah menjadi agregate yang lebih besar.
Contohnya, bakteri mengeluarkan kotoran yang berbentuk dan bersifat seperti
perekat. Jamur-jamuran memproduksi bahan berupa benang-benang halus
yang disebut hifa. Zat perekat dari bakteri dan hifa jamur dapat mengikat
partikel-partikel tanah secara kuat sehingga agregat tanah yang besar pun tidak
mudah pecah walaupun basah. Agregate tanah yang besar tersebut dapat
menyimpan air tanah dalam pori-pori halus di antara partikel-partikel tanah
untuk digunakan oleh tanaman. Dalam keadaan air berlebihan, air dapat
dengan mudah mengalir keluar melalui pori-pori besar diantara agregat–
agregat tanah yang besar. Organisme tanah yang lebih besar dapat
memperbaiki struktur tanah dengan cara membuat saluran-saluran di dalam
tanah (contohnya lubang cacing) dan membantu mengaduk-aduk dan
mencampur baurkan partikel-partikel tanah sehingga aerasi (aliran udara)
tanah menjadi lebih baik. Pembuatan saluran-saluran dan lubang-lubang ini
memperbaiki infiltrasi dan pergerakan air di dalam tanah serta drainase.

d) Mengendalikan serangan hama dan penyakit Organisme tanah yang


memakanorganisme lain yang lebih kecil dapat menekan serangan hama penyakit
dengan cara mengontrol jenis dan jumlah organisme di dalam tanah.

Anda mungkin juga menyukai