MAKALAH STRATEGI DAN DESAIN PEMBELAJARAN IPA
“Model Pembelajaran STEM”
Disusun Oleh :
Kelompok 7
Anggota Kelompok :
[Link] Destrina 18231002
[Link] 18231004
[Link] Rahma Putri 18231014
[Link] 18231017
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
DAFTAR ISI
Cover
Daftar Isi
Kata Pengantar
[Link]
I.I Latar Belakang
[Link] Rumusan Masalah
[Link] Tujuan Pembahasan
[Link]
II.I Pendidikan Abad 21 dan Filosofi STEM
[Link] Karakteristik STEM
[Link] Analisis STEM dalam Pembelajaran IPA
[Link] STEM dalam Pembelajaran IPA
II.V Penilaian
[Link]
Saran
Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
”Model Pembelajaran STEM” ini sesuai dengan petunjuk, kemampuan, serta ilmu
pengetahuaan yang penulis miliki.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan penyusunan makalah ini, semoga makalah ini bemanfaat khususnya bagi
penulis, umumnya bagi siapa saja yang membacanya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dari jaman ke jaman, pendidikan muncul dalam berbagai bentuk dan paham. Dilihat dari
sejarahnya, Pendidikan Indonesia dapat dibagi secara urutan waktu kurang lebih sebagai
berikut: (a) jaman pra-kolonial: masa prasejarah dan masa sejarah, (b) jaman kolonial ketika
sistem pendidikan ‘modern’ dari Eropa diperkenalkan, dan (c) jaman kemerdekaan RI yang
berlangsung hingga sekarang. Masing-masing jaman memiliki corak dan bentuk tersendiri.
Memasuki abad ke-21 sekarang ini, Pendidikan Indonesia dihadapkan dengan sejumlah
tantangan dan peluang, yang tentunya berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Guna
mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dan dinamika perubahan
yang sedang dan akan terus berlangsung di Abad ke-21 ini, Bangsa Indonesia harus semakin
mengasah kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi setiap revolusi pada Pendidikan
di Abad 21 ini.
Selaras dengan prinsip-prinsip dalam revolusi pembelajaran (learning revolution), proses
pembelajaran seharusnya berpijak pada pilar-pilar active learning, creative learning, effective
learning, dan joyful learning. Pembelajaran juga berpijak pada empat pilar pendidikan
menurut UNESCO, yakni Learning to know, learning to do, learning to be, dan learning how
to live together.
Rumusan Masalah
[Link] pendidikan abad 21 dan filososfi STEM ?
[Link] saja karakteristik STEM ?
[Link] analisis STEM dalam kurikulum 2013 ?
[Link] STEM dalam pembelajaran IPA ?
[Link] penilaian pembelajaran pada abad 21 ?
Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana pendidikan yang terjadi pada abad 21
Untuk mengetahui apa itu STEM dan bagaimana karakteristik STEM
PEMBAHASAN
Model Pembelajaran STEM
[Link] Abad 21 dan Filosofi STEM
[Link] Abad 21
Pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran yang bercirikan learning skill, skill,
dan literasi. Learning skill yaitu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya ditandai dengan
adanya kerja sama, komunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif.
Pembelajaran abad 21 juga bisa dikatakan sebagai sarana mempersiapkan generasi abad
21. Di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang berkembang begitu
pesat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk pada proses belajar-
mengajar. Contohnya, peserta didik diberi kesempatan dan dituntut untuk mampu
mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi,
khususnya komputer. Dengan begitu, peserta didik memiliki kemampuan dalam
menggunakan teknologi pada proses pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai kecakapan
berpikir dan belajar peserta didik.
Selain itu, sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran di mana
kurikulum yang dikembangkan menuntut sekolah mengubah pendekatan pembelajaran.
Yakni yang berpusat pada pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada peseta didik (student centered learning). Hal ini sesuai
dengan tuntutan masa depan, peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar.
Diterapkannya pembelajaran abad 21, diharapkan menghasilkan lulusan dari generasi
produktif yang memiliki kualitas dan skill hebat. Guna menghadapi tantangan revolusi
industri 4.0.
[Link] Pokok Pendidikan Abad 21
Prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols dapat dijelaskan
dan dikembangkan seperti berikut ini:
[Link] should be student-centere
Pengembangan pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan
minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan
menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi
pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan
berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang
terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar
kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang
telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan
siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong
siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga
berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan
dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
[Link] should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi
dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam
menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan
bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran
dan menyesuaikan diri secara tepat dengan [Link] juga, sekolah (termasuk di
dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya
di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan
metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan
perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
[Link] should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan
siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa
terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan
nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan
dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan
dengan dunia nyata.
[Link] should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab,
sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat
dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program
kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula
mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
[Link] Pendidikan Abad 21
Tujuan pendidikan abad 21 ini adalah cita-cita setiap bangsa untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyatnya, dan hidup sejajar dan terhormati
kalangan bangsa-bangsa lain. Demikian pula bangsa Indonesia bercita-cita untuk hidup dalam
kesejahteraan dan kebahagiaan, duduk sama rendah dan tegak sama tinggi serta terhormat di
kalangan bangsa-bangsa lain di dunia global dalam abad 21 ini. Semua ini dapat dan harus
dicapai dengan kemauan dan kemampuan sendiri, yang hanya dapat ditumbuh-kembangkan
melalui pendidikan yang harus diikuti oleh seluruh anak bangsa. Kata kunci dalam
pendidikan ini adalah kemandirian.
Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut ini.
Pendidikan Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu
masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat
dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang
terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan
dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya. Dengan kata kesejahteraan
tercakup kesejahteraan spiritual yang mungkin lebih tepat dikatakan sebagai kebahagiaaan
dalam kehidupan, dan kesejahteraan fisik yang dapat pula dikatakan sebagai hidup yang
berkecukupan.
[Link] STEM
STEM merupakan akronim dari science,technology, engineering, dan mathematics. Istilah
ini pertama kali diluncurkan oleh National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat (AS)
pada tahun 1990-an sebagai tema gerakan reformasi pendidikan untuk menumbuhkan
angkatan kerja bidang-bidang STEM, serta mengembangkan warga negara yang melek
STEM (STEM literate), serta meningkatkan daya saing global Amerika Serikat dalam inovasi
iptek (Hanover Research, 2011).
Gerakan reformasi pendidikan STEM ini didorong oleh laporan dari berbagai studi yang
menunjukkan terjadinya kekurangan kandidat untuk mengisi lapangan kerja di bidang STEM,
tingkat literasi sains, serta posisi capaian siswa sekolah menengah AS dalamTIMSS dan
PISA (Roberts, 2012). Selain itu, AS juga menyadari pertumbuhan ekonominya berjalan
secara datar dan akan tersaingi oleh China dan India karena perkembangan sains, teknologi,
enginering dan matematika dari kedua negara tersebut yang lebih maju. (Friedman, 2005).
Berdasarkan survey yang dilakukan bahwa pertumbuhan lapangan pekerjaan di bidang
STEM diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan dengan lapangan pekerjaan non-STEM.
Selain itu, dari segi penghargaan, pekerjaan di bidang STEM akan memberikan income yang
juga lebih tinggi dibandingkan dengan bidang pekerjaan non-STEM.
Pendidikan STEM adalah pendekatan dalam pendidikan di mana Sains, Teknologi,
Teknik, Matematika terintegrasi dengan proses pendidikan berfokus pada pemecahan
masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata serta dalam kehidupan profesional.
Pendidikan STEM menunjukkan kepada peserta didik bagaimana konsep, prinsip, teknik
sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) digunakan secara terintegrasi untuk
mengembangkan produk, proses, dan sistem yang bermanfaat bagi kehidupan manusia
Sebagai komponen dari STEM, sains adalah kajian tentang fenomena alam yang
melibatkan observasi dan pengukuran sebagai wahana untuk menjelaskan secara obyektif
alam yang selalu berubah. Terdapat beberapa domain utama dari sains pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah, yakni fisika, biologi, kimia, serta ilmu pengetahuan bumi
dan antariksa (IPBA).
Teknologi merujuk pada inovasiinovasi manusia yang digunakan untuk memodifikasi
alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sehingga membuat kehidupan lebih
nyaman dan lebih aman. Teknologi menjadikan manusia dapat melakukan perjalanan secara
cepat, berkomunikasi langsung dengan orang di tempat yang berjauhan, memperoleh
makanan sehat, dan alat-alat keselamatan. Rekayasa (engineering) merupakan pengetahuan
dan keterampilan untuk memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan ilmiah, ekonomi,
sosial, serta praktis untuk mendesain dan mengkonstruksi mesin, peralatan, sistem, material,
dan proses yang bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, matematika berkenaan dengan pola-pola dan hubungan-hubungan, dan
menyediakan bahasa untuk teknologi, sains, dan rekayasa.
[Link] STEM
Kita dapat melihat pentingnya pembelajaran berbasis STEM sebagai berikut:
1. Transformasi proses pendidikan
Pendidikan STEM menghilangkan batas pemisah antara subjek sains, matematika,
teknologi, dan rekayasa serta menghubungkan antara pengetahuan yang didapatkan
oleh peserta didik dengan masalah di kehidupan nyata.
2. Peningkatan kemahiran pemahaman saintifik
Dengan mengkontektualisasikan antara berbagai pengetahuan saintifik yang dipelajari
oleh peserta didik dengan masalah di kehidupan nyata, maka pendidikan STEM dapat
meningkatkan kompetensi literasi sains.
3. Pengembangan sumber daya manusia
Kriteria sumberdaya manusia yang relevan dan dibutuhkan di abad ke-21 harus
memenuhi tuntutan keahlian yang diharapkan seperti kemampuan dalam
berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir secara kritis, dan memiliki kemampuan dalam
mengembangkan kreativitasnya. Proses pembelajaran berbasis STEM melatihkan
berbagai kemampuan tersebut.
4. Tantangan teknologi
Kemampuan dalam rekayasa merupakan kunci dari lahirnya sebuah teknologi. Dalam
pendidikan STEM, peserta didik ditantang untuk mengaplikasikan pengetahuan
mereka melalui proses desain rekayasa untuk menciptakan solusi teknologi dari
sebuah permasalahan.
5. Kunci dalam kemajuan dan inovasi
Pendidikan STEM melalui berbagai proses pembelajaran yang dilalui oleh peserta
didik turut mengembangkan kemampuan problem solving atau kemampuan dalam
memecahkan permasalahan. Berbekal kemampuan ini akan muncul berbagai inovasi
dalam pengembangan teknologi.
6. Penting untuk kesejahteraan
Berbagai inovasi dalam teknologi diciptakan untuk mempermudah kita dalam
menjalani kehidupan dan pada akhirnya mendorong peningkatan kesejahteraan
[Link] STEM
Penggunaan pendekatan STEM dalam bidang pendidikan memiliki tujuan untuk
mempersiapkan peserta didik agar dapat bersaing dan siap untuk bekerja sesuai bidang yang
ditekuninya. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Hannover (2011)
menunjukkan bahwa tujuan utama dari STEM Education adalah sebuah usaha untuk
menunjukkan pengetahuan yang bersifat holistik antara subjek STEM.
Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, pendidikan STEM bertujuan
mengembangkan peserta didik yang STEM literate (Bybee, 2013), dengan rincian sebagai
berikut.
1. Memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mengidentifikasi pertanyaan
dan masalah dalam situasi kehidupannya, menjelaskan fenomena alam, mendesain,
serta menarik kesimpulan berdasar bukti mengenai isu-isu terkait STEM;
2. Memahami karakteristik khusus disiplin STEM sebagai bentuk-bentuk pengetahuan,
penyelidikan, dan desain yang digagas manusia;
3. Memiliki kesadaran bagaimana disiplindisiplin STEM membentuk lingkungan
material, intelektual dan kultural,
4. Memiliki keinginan untuk terlibat dalam kajian isu-isu terkait STEM (misalnya
efisiensi energi, kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam) sebagai warga
negara yang konstruktif, peduli, serta reflektif dengan menggunakan gagasan-gagasan
sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.
[Link] STEM
Adapun karakteristik dari STEM adalah :
a) Pendidikan STEM adalah pendekatan dalam pendidikan di mana Sains, Teknologi,
Teknik, Matematika terintegrasi dengan proses pendidikan berfokus pada pemecahan
masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata serta dalam kehidupan profesional.
b) Diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek (PjBL)
c) Menyiapkan siswa untuk menjadi SDM yang mampu [Link] integratif
disini adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-
bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau
mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-
pisah.
d) Pendekatan dalam pendidikan STEM dimana Sains, Teknologi, Enjenering, dan
Matematika terintegrasi dengan proses pendidikan berfokus pada pemecahan masalah
dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan professional.
e) Sesuai dengan tuntutan revolusi industry 4.0
f) Penerapan pembelajaran yang bertujuan untuk melatihkan Soft skill dan Hard skill
[Link] STEM dalam Kurikulum 2013
Dalam melaksanakan pembelajaran berbasis STEM yang mengintegrasikan 4 bidang dalam
sekali pengalaman belajar, maka perlu diterapkan melalui model pembelajaran yang berbasis
proyek, karena STEM mengisyaratkan adanya output berupa karya desain dalam setiap
pembelajarannya.
Beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pendekatan pembelajaran
berbasis STEM diantanya :
1). Project-Based Learning (PjBL) Menurut Lucas
Adapun susunan model PjBL menurut Lucas yg dapat diterapkan dlm pembelajaran STEM:
a) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
b) Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
c) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
d) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the
Progress of the Project)
e) Menguji Hasil (Assess the Outcome)
f) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
2). Project-Based Learning STEM Menurut Laboy – Rush
a) [Link]
b) [Link]
c) [Link]
d) [Link]
3). 5E Menurut Baybee
a) Engangement : Identifikasi masalah dan kendala
b) Exploration : Pelaksanaan penelitian, pemunculan ide
c) Eksplanation : Melakukan analisis terhadap ide
d) Elaboration/Ekstension : Membuat karya dan mengkomunikasikan
e) Evaluation : Pelaksanaan tes dan refleksi
Agar lebih memahami keterkaitan antar sains, teknologi, enjinering dan matematika dalam
proses pembelajaran, berikut kami akan paparkan contoh materi pembelajaran yang
menerapkan pendekatan berbasis STEM.
Analisis S T E M pada salah satu pokok pembahasan
Kelas/Semester : VII / I
Kompetensi Dasar :
3.3 Menjelaskan konsep campuran dan zat tunggal (unsur dan senyawa), sifat fisika dan
kimia, perubahan fisika dan kimia dalam kehidupan sehari-hari.
4.3 Menyajikan hasil penyelidikan atau karya tentang sifat larutan, perubahan fisika dan
perubahan kimia, atau pemisahan campuran.
Indikator : (silakan melihat di kurikulum)
Pokok bahasan : Pemisahan campuran.
Topik Proyek : Mendesain alat penjernihan air.
Berikut ini adalah bagaimana akan dipisahkan masing - masing bidang yang membangun
STEM dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah di buat di atas, agar lebih mudah
dipahami fungsi dan cakupan masing - masing yang saling terhubung :
SAINS
1. Faktual : campuran dapat dipisahkan dengan cara biasa dengan menggunakan Teknik-
teknik pemisahan campuran
2. Konseptual: unsur, senyawa dan campuran, suhu, pengaruh kalor terhadap suhu dan
wujud benda
3. Prosedural: Teknik pemisahan campuran.
4. Metakognitif: Strategi merancang prosedur dan alat penjernihan air yang efektif dan
efisien.
TEKNOLOGI
1. Menggunakan komputer (internet) untuk memperoleh informasi;
2. Membuat alat penjernihan air sederhana dengan berbagai model.
ENJINERING
1. Merekayasa alat destilasi menjadi alat penjernihan air sederhana;
2. Merancang alat penjernihan air dengan berbagai model;
3. Menguji coba, melakukan perbaikan, dan mengkomunikasikan hasil dari projek
pembuatan alat penjernihan air dengan berbagai model.
MATEMATIKA
1. Menerapkan pengetahuan geometri dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam
maupun diluar kelas;
2. Menghitung volume air yang akan dijernihkan dan volume air hasil penjernihan;
3. Menghitung keperluan bahan bahan yang akan digunakan untuk alat penjernihan air
dengan menggunakan biaya seminimal mungkin
4. STEM dalam Pembelajaran IPA
Cara penyajian yang dibutuhkan pada pembelajaran sains adalah yang dapat mendorong
peserta didik agar mampu memecahkan masalah dalam kehidupan baik secara individu
maupun kelompok dengan menerapkan pengetahuan dan memanfaatkan teknologi sebagai
bentuk kepedulian dan kontribusi untuk peningkatan mutu lingkungan secara bertanggung
jawab.
[Link] STEM dalam pembelajaran
Penerapan STEM dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk mendesain,
mengembangkan dan memanfaatkan teknologi, mengasah kognitif, afektif, serta
mengaplikasikan pengetahuan. Oleh karena itu, penerapan STEM cocok digunakan pada
pembelajaran sains. Pembelajaran berbasis STEM dapat melatih siswa dalam menerapkan
pengetahuannya untuk membuat desain sebagai bentuk pemecahan masalah terkait
lingkungan dengan memanfaatkan teknologi.
STEM (Science, technology, engineering and mathematics) education saat ini menjadi
alternative pembelajaran sains yang dapat membangun generasi. Pembelajaran berbasis
STEM dapat dikemas dalam model pembelajaran kooperatif, PBL, PJBL, dan pembelajaran
lainnya. Membangun penguasaan konten harus dilakukan melalui proses memberikan
keterampilan (Skills), yang dilandasi dengan sikap, karakter, dan kebiasaan yang baik. Akhir
suatu proses pendidikan pada dasarnya adalah menanamkan kepribadian. Indonesia memiliki
grand design dalam pendidikan karakter ini sejak nenek moyang kita, yaitu olah hati (spiritual
and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga (physical and
kinesthetic development), dan olah rasa/karsa (affective and creative development).
[Link] STEM dalam pembelajaran
Implementasi STEM dalam Pembelajaran IPA SMP di Indonesia, pedoman
penyelenggaraan khusus mengenai pendidikan dan pendekatan STEM belum tersedia. Namun
sudah ada beberapa instansi pendidikan yang mengaplikasikannya dalam sistem pendidikan,
salah satunya adalah Sampoerna School System. Hal ini yang membuat sistem pendidikan
mereka berbeda dengan kurikulum yang dipakai oleh sekolah-sekolah umum lainnya.
Sekarang ini, Indonesia disibukkan dengan kurikulum terbaru yaitu kuriklum 2013 yang
direvisi tahun 2017. Terdapat beberapa perbedaan dengan kurikulum sebelumnya dimana
kurikulum ini lebih menonjolkan berpikir kritis, berpikir tingkat tinggi, berpikir kreatif,
kemampuan menyelesaikan masalah, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan literasi.
Dalam kurikulum terbaru yang diimplementasikan di Indonesia saat ini banyak aspek yang
memungkinkan implementasi STEM masuk ke dalamnya. Dalam pendekatan STEM, peserta
didik dituntut untuk senantiasa aktif di dalam kelas.
Penggunaan teknologi dan informasi senantiasa diperlukan dalam pengaplikasiannya.
Kemandirian belajar dan pembelajaran berbasis isu-isu terkini yang terjadi di masyarakat
menjadi hal yang wajib dalam pengimplementasian STEM. Pendekatan STEM sejalan
dengan prinsip-prinsip penyusunan RPP pada revisi kurikulum 2013 edisi tahun 2017. Pada
prinsip perencanaan, pembelajaran berpusat pada peserta didik. Pembelajaran dirancang
sedemikian rupa agar peserta didik dapat mengeksplorasi dirinya dan mengeluarkan ide dan
opininya mengenai materi pembelajaran. Prinsip lainnya yaitu berorientasi kekinian, dimana
guru sebagai fasilitator wajib “melek teknologi”, senantiasa meng update dan mengupgrade
pengetahuan di bidang keahliannya sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk terus
berinovasi.
[Link] konseptual pendekatan STEM pada masing-masing jenjang pendidikan
1) Pada jenjang pendidikan dini, pengimplementasian pendekatan STEM hanya
sebatas memunculkan dan merangsang rasa keingintahuan peserta didik melalui
kegiatankegiatan yang menunjang proses tersebut.
2) Pada jenjang sekolah dasar, peserta didik terpapar pada hal-hal mendasar tentang
pengetahuan STEM dan mengaitkan pengetahuan mereka dengan situasi
kehidupan sehari-hari melalui kegiatan investigasi dan eksplorasi.
3) Pada jenjang sekolah menengah pertama, potensi peserta didik digali dengan
memberikan pembinaan dan pengembangan kemampuan di bidang STEM melalui
kegiatan analisa isu lokal dan global dalam menyelesaikan masalah.
4) Pada jenjang pendidikan menengah atas, pendidikan STEM memfokuskan pada
penguatan dan pengayaan kemampuan di bidang STEM melalui kegiatan
memaparkan konsep STEM pada tingkat yang lebih tinggi.
[Link] pendekatan STEM
Pada kedua subjek tersebut berpatokan pada kompetensi dasar masing-masing subjek
sehingga dalam satu pembelajaran akan tercapai dua kompetensi dasar sekaligus. Hal ini
dapat mengefisiensi waktu. Selain itu peserta didik dapat belajar berdasarkan permasalahan
yang terjadi sehari-hari dengan menggunakan lebih dari satu subjek STEM sehingga terjadi
pembelajaran bermakna. Selain itu, pengintegrasian subjek STEM dapat dilakukan dengan
memadukan sains dan engineering meskipun subjek engineering tidak terbingkai dalam
kompetensi dasar tertentu dalam kurikulum. Untuk menerapkan pendekatan STEM dalam
pembelajaran IPA di sekolah menengah pertama, pendidik dapat membuat rancangan
pembelajaran dengan mengintegrasikan kompetensi dasar pada mata pelajaran yang berbeda.
Seperti pada salah satu contoh yang dirancang oleh penulis pada pembelajaran IPA kelas
delapan materi cahaya dan sifatnya.
Kompetensi dasar pada materi cahaya ialah 4.12 Menyajikan hasil percobaan tentang
pembentukan bayangan pada cermin dan lensa. Penulis mengintegrasikan kompetensi dasar
tersebut dengan kompetensi dasar matematika 4.10 menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan hubungan antarsudut sebagai akibat dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis
transversal. Selain itu, implementasi pendekatan STEM dapat dilakukan tanpa memadukan
kompetensi dasar dari dua mata pelajaran melainkan hanya mengambil kompetensi dasar dari
satu mata pelajaran, selanjutnya dipadukan dengan subjek stem lainnya, kemudian aktifitas
pembelajaran dirancang untuk menyasar subjek STEM lainnya.
Berikut ini merupakan contoh pedoman kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan
peserta didik untuk mencapai tujuan kegiatan.
Judul : Es Krim
Tujuan Pembelajaran : Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep titikbeku, perubahan
wujud benda dan pengaruh suhu lingkungan
Alat dan Bahan :
1) 1 bungkus bubuk ice cream (160 gram)
2) I kotak susu sapi murni (250 ml)
3) Garam
4) beberapa bongkah es
5) sealed plastic bag
6) box container
7) termometer.
Deskripsi Kegiatan : Guru memberikan penjelasan singkat mengenai materi pembelajaran
suhu dan kalor. Kemudian guru meminta peserta didik untuk mendesain prototype alat untuk
membuat ice cream tanpa menggunakan pendingin yaitu dengan menggunakan sealed plastic
bag dan container. Setelah itu peserta didik memulai membuat adonan ice cream dengan
mencampur bubuk ice cream dan susu sampai homogen. Kemudian memasukkan adonan ice
cream kedalam sealed plastic bag dan menutupnya rapat-rapat. Lalu masukkan sealed plastic
bag yang sudah berisi adonan ice cream kedalam container yang sebelumnya sudah ada
campuran garam dan bongkahan es di dalamnya. Kocok-kocok container sampai adonan ice
cream membeku.
Pertanyaan untuk diskusi :
1) Menggunakan termometer, pada suhu berapa adonan ice cream membeku ?
2) Mengapa kita harus menambahkan garam pada bongkahan es di dalam container ?
3) Dari kegiatan ini, percobaan apalagi yang bisa dilakukan untuk mendapatkan data
yang bervariasi ?
4) Apa kesimpulan kegiatan ini terkait dengan tujuan kegiatan ?
5) Rancanglah percobaan lain dengan memanipulasi variabel yang memungkinkan
terbentuknya ice cream dengan cepat !
Melalui tulisan ini, penulis memberikan contoh penugasan berdasarkan pendekatan
STEM. Dalam hal ini, pendekatan STEM dilakukan dengan memberikan penugasan pada
peserta didik saat pembelajaran tatap muka dan dapat dikembangkan dengan memberikan
projek tambahan di luar kelas seperti pada pertanyaan nomor 5.
5. Penilaian Pendidikan Berbasis STEM
a. Pendekatan Penilaian
Penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup : penilaian kinerja, penilaian diri,
penilaian berbasis portofolio, penilaian harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir
semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, ujian
sekolah berstandar nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Sedangkan penilaian hasil belajar
yang dilakukan oleh pendidik adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur capaian hasil belajar peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memantau proses,
kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar.
[Link]-prinsip Penilaian
Dalam panduan penilaian hasil belajar dan pengembangan karakter pada Sekolah
Menengah Pertama, prinsip-prinsip penilaiannya sebagai berikut :
1) Sahih, berarti interpretasi hasil penilaian didasarkan pada data yang
mencerminkan kemampuan peserta didik dalam kaitannya dengan kompetensi
yang dinilai sebagaimana diamanatkan oleh Standar Kompetensi Lulusan dan
turunannya.
2) Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas dalam
pemberian interpretasi, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai dimuai
sebagaimana diamanatkan oleh Standar Kompetensi Lulusan dan turunannya.
3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4) Terpadu, berarti penilaian mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan
secara terintegrasi dan merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan
pembelajaran.
5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian
yang sesuai untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta
didik.
7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah baku sesuai tahapan pelaksanaan kurikulum.
8) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran Kreteria Pencapaian
Kompetensi yang ditetapkan sesuai Standar Kompetensi Lulusan.
9) Akuntabel, berarti hasil penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi
mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya.
10) Reliabel, berarti penilaian memberikan hasil yang dapat dipercaya, dan konsisten
apabila proses penilaian dilakukan secara berulang dengan menggunakan setara
yang terkalibrasi.
11) Autentik, berarti penilaian didasarkan pada keahlian, materi, atau kompetensi
yang dipelajari sesuai dengan norma dan konteks di tempat kerja.
c. Instrumen dan Teknik Penilaian
Suatu instrumen dapat memiliki beberapa tujuan, seperti untuk melakukan diagnosis,
mengukur pencapaian, mengukur potensi atau bakat, atau mengidentifikasi persiapan untuk
program atau tahapan sekolah tertentu (pengujian penempatan), yang juga dapat digunakan
untuk menempatkan peserta didik dalam program tertentu atau jalur pembelajaran. Dalam hal
ini terdapat dua bentuk instrumen penilaian belajar yang digunakan, yaitu :
1) Instrumen penilaian belajar tes : berbentuk isian, uraian, pilihan, dan pengamatan
menggunakan daftar centang (checklist).
2) Instrumen penilaian nontes : sikap dan kinerja melalui pengamatan dengan
menggunakan jurnal, pedoman, dan rubrik.
KESIMPULAN
[Link] STEM merupakan gerakan global dalam praktik pendidikan
yangmengintegrasikan dengan berbagai pola integrasi untuk mengembangkan kualitas SDM
yangsesuai dengan tututan keterampilan Abad ke-21.
2. Pendidikan STEM kompatibel dengan sistem kurikulum yang berlaku di Indonesia masa
[Link] pembelajaran sains berbasis STEM adalah pembelajaran materi pokok
sainsmengintegrasikan perancangan desain-desain sistem dan penggunaan teknologi untuk
pemecahan masalah nyata. Dengan demikian diharapkan pendidikan STEM berkontribusi
pada peningkatan daya saing Indonesia.
SARAN
Sebaiknya guru selalu mengembangkan dan mengasah 4 kemampuan dasar seorang guru
yaitu kemampuan pedagogi, professional, kepribadian, dan social karena hal tersebut harus
benar-benar matang didalam menghadapi paradigm pendidikan di abad 21.
DAFTAR PUSTAKA
Barak, M. (2012). Teaching engineering and technology: cognitive, knowledge and
problemsolving taxonomies. Journal of Engineering, Design, and Technology, 11(3), 316–
333.
Daryanto & Karim.S. (2017) Pembelajaran abad [Link]: Gava Media.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan .(2017). Panduan Penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama. Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah dan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi dan Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rianti Nugroho, 2008, Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi,dan Strategi, Jogjakarta: Pustaka
Pelajar.