SISTEM STARTER
Sistem starter listrik saat ini dapat ditemukan hampir disemua jenis sepeda motor. Sistem
starter pada sepeda motor berfungsi sebagai pengganti kick starter, agar pengendara tidak perlu
lagi mengengkol kakinya untuk menghidupkan mesin. Namun demikian, pada umumnya sepeda
motor dilengkapi juga dengan kick starter. Penggunaan kick starter biasanya dilakukan jika
kondisi sistem starter listrik sedang mengalami kerusakan atau masalah. Sebagai contoh jika
kondisi baterai lemah atau terdapat kerusakan pada motor starter sehingga sistem starter listrik
tidak dapat digunakan untuk menghidupkan mesin, maka pengendara bisa langsung
memanfaatkan kick starter.
Pembagian Sistem Starter Sepeda Motor Secara Umum :
1) Sistem Starter Elektrik
Pada umumnya menggunakan motor listrik, yang dipasangkan/ dihubungkan dengan poros
engkol menggunakan perantara roda gigi maupun rantai. Sumber tegangan diperoleh dari
tegangan baterai, dan motor starter harus dapat menghasilkan momen yang besar dari tenaga
yang kecil yang tersedia pada baterai. Hal lain yang harus diperhatikan adalah konstruksi motor
starter harus sekecil mungkin. Kebanyakan sistem starter menggunakan motor seri arus searah
(DC).
2) Sistem Starter Manual / Kick Starter
Merupakan sistem starter dengan menggunakan tuas/engkol, dan dihubungkan ke poros engkol
melalui serangkaian mekanisme poros, pegas dan roda gigi penghubung. Sistem starter tipe ini
dioperasikan secara manual, untuk dapat menghidupkan mesin maka kita perlu mengoperasikan
sistem starter dengan cara menekan/menginjak tuas/engkol starter sampai mesin hidup.
Prinsip Kerja
Bekerjanya suatu motor starter mempunyai banyak persamaan dengan generator DC, tetapi
dalam arah yang sebaliknya. Motor starter mengubah energi listrik menjadi energi mekanik
(tenaga putar), sedangkan generator DC mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Dalam
kenyataannya, motor DC akan menghasilkan tenaga listrik jika diputar secara mekanik, dan
generator DC dapat berputar (berfungsi) seperti motor. Motor bisa berputar jika diberi aliran
arus berdasarkan prinsip berikut ini: Pada saat arus mengalir melewati konduktor (penghantar) A
dan B yang berada diantara kutub magnet, maka penghantar A dan B akan menerima gaya
dorong berdasarkan garis gaya magnet yang timbul dengan arah.
1) Saat Kunci Kontak Off
Hubungan sumber tegangan dengan rangkaian sistem starter terputus, tidak ada arus yang
mengalir sehingga sistem starter tidak dapat digunakan.
2) Saat Kunci Kontak On
a) Kunci kontak posisi ON, tetapi tombol starter tidak ditekan. Tombol starter tidak ditekan
(posisi OFF) menyebabkan arus dari sumber tegangan (baterai) belum mengalir ke sistem starter
sehingga sistem starter belum bekerja
b) Kunci kontak posisi ON dan tombol starter ditekan. Apabila tombol starter ditekan (posisi
START) pada saat kunci kontak ON, maka kemudian sistem starter akan mulai bekerja dan arus
akan mengalir :
Baterai ⇒ Sekering ⇒ Kunci Kontak (ON) ⇒ Kumparan Relay
Starter ⇒ Tombol Starter (START) ⇒ massa
Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya kemagnetan pada kumparan relay starter sehingga
menghubungkan arus utama starter dari baterai menuju ke motor starter. Motor starter mengubah
arus listrik dari baterai menjadi tenaga gerak putar, kemudian memutarkan poros engkol mesin
untuk menghidupkan mesin.
Pada fase ini, dorongan pull in coil bukan hanya menggerakan pinion. Tetapi juga menggerakan
pull in coil itu sendiri ke arah hold in coil. Akibat dorongan tersebut, hold in coil juga terdorong
ke arah solenoid switch contact.
Sehingga arus listrik di terminal 30 motor starter, akan langsung mengalir kedalam motor starter.
Didalam motor starter arus tersebut dialirkan ke field coil untuk membangkitkan medan magnet,
dan mengalir ke armature coil melalui brush. Karena ada aliran listrik didalam medan magnet,
hasilnya armature akan berputar untuk menggerakan flywheel.
Saat mesin menyala, starter akan berhenti dengan menghentikan arus dari terminal 50. Sehingga
pull in coil terlepas dan kembali ke posisi semula. Dengan kembalinya pull in coil, pinion gear
juga akan lepas kaitannya dengan flywheel dan putaran motor juga terhenti karena arus listrik
pada solenoid switch contact terputus.
Namun pinion gear sebenarnya didesain agar mundur secara otomatis saat putaran flywheel lebih
besar dari putaran starter. Fungsi ini ditunjukan untuk memudahkan proses keterkaitan dan
pelepasan pinion gear dengan roda gigi flywheel.
Komponen:
1. Yoke dan Pole Core
Yoke pada motor starter memiliki fungsi yaitu sebagai tempat mengikat pole core. Yoke terbuat
dari besi atau logam yang berbentuk silinder yang sekaligus sebagai rumah dari armature.
Sedangkan pole core memiliki fungsi untuk menopang field coil dan untuk memperkuat medan
magnet yang ditimbulkan field coil. Pada umumnya, motor starter memiliki empat buah pole
core yang terikat pada yoke menggunakan sekrup.
2. Field Coil
Perlu diketahui, pada motor starter tidak menggunakan magnet permanen melainkan untuk
menghasilkan medan magnet yang kuat maka motor starter menggunakan field coil. Field coil
berbentuk kumparan dan apabila field coil dialiri arus listrik maka akan timbul medan magnet.
Field coil terbuat dari bahan tembaga dan field coil ini dihubungkan dengan armature secara seri
agar arus yang mengalir melewati field coil ini nantinya juga akan mengalir ke armature coil.
3. Armature
Armature tersusun dari beberapa komponen yaitu armature core, armature coil, comutator,
armature shaft dan bagian-bagian lainnya. Kedua ujung shaft armature ini, masing-masing
ditopang oleh bearing yang bertujuan agar armature dapat berputar dengan stabil diantara pole
core.
Armature coil disusun pada celah-celah core dan masing-masing ujung armature coil
disambungkan ke segmen-segmen comutator. Dengan demikian arus yang melepasi armature
coil dapat membuat komponen armatur dapat berputar dan menghasilkan momen putar untuk
memutar fly wheel.
4. Sikat (Brush)
Motor starter pada umumnya dilengkapi dengan empat buah sikat atau brush, dua buah sikat
positif dan dua buah sikat negatif. Sikat positif diberi isolator dan dipasangkand dengan armature
coil melalui comutator. Sedangkan sikat negatif dipasangkan ke pemegang yang berhubungan
dengan masa body kendaraan. Sikat-sikat ini agar dapat selalu berhubungan dengan comutator
maka pada sikat terdapat pegas. Pegas ini berfungsi untuk menekan sikat agar selalu dapat
berhubungan dengan comutator. Jika sikat habis (tidak menekan comutator) maka momen putar
yang dihasilkan motor starter menjadi lemah atau bisa juga motor starter tidak dapat berputar.
Armature brake berfungsi sebagai pengerem ketika pinion gear lepas dari kaitan fly wheel.
Pertanyaannya “kenapa perlu adanya pengereman pada motor starter?”. Pengereman pada motor
starter sangat penting guna menjaga umur komponen pinion gear. Pada saat anda melakukan
starter pertama kali dan mesin belum hidup, tentu saja anda akan melakukan starter kembali,
sehingga apabila tidak ada pengereman maka akan membuat pinion masih berputar dan ketika
dilakukan starter kembali maka dapat merusak pinion gear karena pinion gear dapat menabrak
gigi pada fly wheel.
4. Magnetic Switch
Magnetic switch atau saklar magnet terdiri dari kontak plate yang terhubung dengan plunger.
Plunger pada magnetic switch digulung dengan dua kumparan, kumparan bagian dalam dibuat
menjadi lebih tipis atau disebut dengan kumparan pull in coil sedangkan kumparan bagian luar
dibuat lebih tebal dan disebut dengan hold in coil. Kumparan pull in coil dihubungkan ke massa
melalui field coil dan armature sedangkan kumparan hold in coil dihubungkan langsung dengan
massa.