0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
139 tayangan21 halaman

Analisis Overlay Data Spasial SIG

Laporan ini membahas analisis spasial dengan metode indeks overlay untuk menentukan daerah yang memiliki potensi mineral emas dan nikel. Beberapa data seperti geologi, tanah, kemiringan, dan koordinat tambang dimasukkan ke dalam analisis untuk menghasilkan peta potensi mineral. Teknik weighted overlay digunakan untuk menggabungkan data tersebut berdasarkan bobot masing-masing untuk menghasilkan peta akhir yang menunjukkan daerah berpot

Diunggah oleh

Berlian Anisya Vira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
139 tayangan21 halaman

Analisis Overlay Data Spasial SIG

Laporan ini membahas analisis spasial dengan metode indeks overlay untuk menentukan daerah yang memiliki potensi mineral emas dan nikel. Beberapa data seperti geologi, tanah, kemiringan, dan koordinat tambang dimasukkan ke dalam analisis untuk menghasilkan peta potensi mineral. Teknik weighted overlay digunakan untuk menggabungkan data tersebut berdasarkan bobot masing-masing untuk menghasilkan peta akhir yang menunjukkan daerah berpot

Diunggah oleh

Berlian Anisya Vira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS DATA SPASIAL (INDEKS OVERLAY)

(Laporan Praktikum Sistem Informasi Geografis)

Oleh

Berlian Anisya Vira


1815051041

LABORATORIUM TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
Judul Praktikum : Analisis Spasial (Indeks Overlay)

Tanggal Praktikum : 29 Oktober 2019

Tempat Praktikum : Gedung L Teknik Geofisika

Nama : Berlian Anisya Vira

NPM : 1815051041

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : 3 (Tiga)

Bandar Lampung, 05 Oktober 2019


Mengetahui,
Asisten

Jakasura Leandro Tarigan


NPM. 1615051031
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan
Data pengamatan ditiadakan dikarenakan pada modul kali ini tidak dilakukan
pengambilan data praktikum karena pada modul ini hanya menjelaskan
mengenai teori.

B. Pembahasan
Praktikum sistem informasi geografis yang telah dilaksanakan pada tanggal
29 Oktober 2019 bertempat diruangan kuliah TG-3 Gedung L Teknik
Geofisika membahas mengenai analisis spasial indeks overlay Analisa spasial
merupakan sekumpulan metoda untuk menemukan dan menggambarkan
tingkatan/ pola dari sebuah fenomena spasial, sehingga dapat dimengerti
dengan lebih baik. Dengan melakukan analisis spasial, diharapkan muncul
infomasi baru yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan di
bidang yang dikaji. Metoda yang digunakan sangat bervariasi, mulai
observasi visual sampai ke pemanfaatan matematika/statistik terapan. Sebagai
sebuah metode, analisis spasial berusaha untuk membantu perencana dalam
menganalisis kondisi permasalahan berdasarkan data dari wilayah yang
menjadi sasaran. Dan konsep-konsep yang paling mendasari sebuah analisis
spasial adalah jarak, arah, dan hubungan. Kombinasi dari ketiganya mengenai
suatu wilayah akan bervariasi sehingga membentuk perbedaan yang
signifikan yang membedakan satu lokasi dengan yang lainnya. Dengan
demikian jarak, arah, dan hubungan antara lokasi suatu objek dalam suatu
wilayah dengan objek di wilayah yang lain akan memiliki perbedaan yang
jelas. Dan ketiga hal tersebut merupakan hal yang selalu ada dalam sebuah
analisis sapasial dengan tahapan-tahapan tertentu tergantung dari sudut
pandang perencana dalam memandang sebuah permasalahan analisis sapasial.
Analisis spasial dapat digunakan untuk mengatasi beberapa kasus. Kasus-
kasus ini dapat berupa kasus Petroleum pipeline routing, Determining the
best location for an LNG plant, Designing and building structures of pipeline
routing, Optimizing placement of biorefineries, Petroleum exploration play
risk, Least-cost pipeline routing design, dan lain sebagainya.
Salah satu cara dasar untuk membuat atau mengenali hubungan spasial
melalui proses overlay spasial. Overlay Spasial dikerjakan dengan
melakukan operasi join dan menampilkan secara bersama sekumpulan data
yang dipakai secara bersama atau berada di bagian area yang sama.
Salah satu fungsi analisis spasial dalam bidang geofisika yaitu dapat
dimanfaatkan dalam hal melakukan pemetaan daerah atau wilayah yang
memiliki potensi cadangan mineral, tambang, air dan masih banyak lagi.
Akan tetapi kita tidak hanya dapat mengetahui wilayah mana saja yang
terdapat potensi tersebut, kita juga dapat memperkirakan dan mengetahui
daerah persebaran potensi-potensi tersebut pada sekitar wilayah yang kita
ketahui. Karakteristik utama Sistem Informasi Geografi adalah kemampuan
menganalisis sistem seperti analisa statistik dan overlay yang disebut analisa
spasial. Analisa dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi yang
sering digunakan dengan istilah analisa spasial, tidak seperti sistem informasi
yang lain yaitu dengan menambahkan dimensi ‘ruang (space)’ atau geografi.
Kombinasi ini menggambarkan attribut-attribut pada bermacam fenomena
seperti umur seseorang, tipe jalan, dan sebagainya, yang secara bersama
dengan informasi seperti dimana seseorang tinggal atau lokasi suatu jalan.
Analisa Spasial dilakukan dengan meng-overlay dua peta yang kemudian
menghasilkan peta baru hasil analisis.

Analisis sasial karakteristik utama SIG untuk menganalis sistem seperti


analisa statistik dan analisa overlay. Dalam praktikum mengenai analisis
spasial hal yang pertama dilakukan adalah membuka arcatalog dan menginput
data sesuai yang diberikan asisten. Ketika sudah masukkan semua data yang
terdiri dari [Link], Klasifikasi_lahan.tif, Koordinat_mineral.shp, dan
[Link] kedalam layer untuk memulai analisis spasial. Selanjutnya adalah
membuka Arctoolbox lalu pilih Analysis Tools – Proxmity – Multiple Ring
Buffer. Ketika sudah muncul tampilan pada arctoolbox yang sudah kita pilih,
pada bagian Input Features masukkan Koordinat_Mineral, kemudian pada
Output Features Class akan secara otomatis untuk menyimpan hasil dari
analisis ini, atau jika untuk menyimpan secara manual dapat mengklik ikon
sebelah kanan dan pilih lokasi untuk menyimpan, kemudian pada bagian
Buffer Unit (optional) ubah menjadi Meters selanjutnya pada bagian kolom
tampilan masukkan angka berupa 10,20,50,100 dan 200 setelah itu klik OK.
tahapan selanjutnya adalah untuk mengubah warna pada Layers Buffer
dengan mengklik kanan pilih Properties, pada symbology pilih color ramp.
Selanjutnya buka kembali Arctoolbox lalu pilih Conversion Tools – To
Raster – Feature to Raster, pada bagian input features masukkan Buffer, lalu
pada Output Raster simpan lokasi tempat yang sama dengan lokasi analisis
sbelumnya simpan dengan nama [Link] lalu klik OK, pada Layers sebelah
kiri pilih Koordinat_Mineral pilih properties pada Labels pilih Label Field
dan ganti satuan menjadi potensi, ini digunakan untuk mengubah koordinat
_Mineral yang sebelumnya Metamorf menjadi , selanjutnya buka Arctoolbox
lalu buka Spatial Analysis Tools – Reclass – Reclassify, pada Input Raster
pilih [Link], Reclass field menjadi Value, pada tabel Reclassification
bagian old values masukkan nilai dari 10, 20, 50, 100, dan 200, sedangkan
pada New values nya masukkan angka dari 1,2,3,4 dan 5. Pada output raster
simpan dilokasi yang sama dengan format re_buffer.tif lalu klik OK.
selanjutnya buka kembali Arctoolbox dan pilih lagi Reclassify, pilih
[Link] pada Input raster, simpan dilokasi yang sama, masukkan new
values dari angka 1,2,3,4 dan 5. Pada kolom Old values tidak perlu diubah
lagi karena sudah tersimpan otomatis, klik OK selanjutnya buka
re_geologi.tif pada layers sebelah kirik klik kanan pilih properties pada
symbology ubah value field menjadi value, selanjutnya adlaah pilih lagi
Reclassify pada bagian Arctoolbox, lalu maskkan Klasifikasi_Lahan.tif pada
Input rasternya, kemudian pada Reclassification pada kolom kanan new
values masukkan nilai 1,1,4 dan 5. Selanjutnya simpan dengan nama
re_lahan.tif dan klik OK. pada bagian re_lahan.tif ada layers sebelah kiri pilih
menu properties dengan cara klik kanan dan symbology ubah value filed
menjadi value lalu klik OK. Selanjutnya memilih Reclassify untuk slope
dengan cara klik Reclassify lalu masukkan [Link] pada Input raster, ubah
New values pada kolom menjadi angka 1,2,3,4,5 dan 6 dan simpan dengan
nama re_slope.tif. Selanjutnya membuka Arctoolbox memilih Spatial
Analysis Tools – Overlay – Weighted Overlay, klik tanda tambh di pojok
kanan masukkan Input raster dengan nama re_slope.tif dengan scale 5,4,3,2,1
dan %influence 15, re_lahan.tif dengan %influence 20, re_geologi.tif dengan
%influence 35 dan kolom 5,4,3,2,1, re_buffer.tif dengan %influence 30, ubah
scale value pada re_menjadi angka yang dimulai dari 5,4,3,2 dan 1 dan
simpan dengan nama [Link] lalu klik OK. pada layers [Link] ubah
keterangan pada setiap warna yaitu Andesit Rendah, Andesit Tinggi,
Emas/Nikel Rendah, dan Emas/Nikel Tinggi. Setelah itu simpan maps dengan
pilih menu file, lalu klik Export Maps dan Save.

Analisis spasial adalah suatu teknik atau proses yang melibatkan sejumlah
fungsi hitungan dan evaluasi logika matematis yang dilakukan terhadap data
spasial dalam rangka untuk mendapatkan ekstraksi, nilai tambah, atau
informasi baru yang juga beraspek spasial. Oleh karena luas lingkupya,
banyak bahasan yang dapat dicakup olehnya. Demikian pula halnya dengan
ArcGIS yang kaya akan fungsi-fungsi spasial. ArcGIS yang berbasis desktop
memuat tool spatial analyst yang mana merupakan sebuah extention yang
menyediakan tools yang powerful dan lengkap bagi pemodelan dan analisis
spasial yang kebanyakan berbasiskan raster. SIG terdapat dua kajian yaitu
pemodelan dan Analsisis. Analisis dalam SIG memiliki beberapa metode
pendekatan. Ada dua metode pendekatan yang secara umum digunakan, yaitu
pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendeakatan kuantitatif
memiliki tiga macam cara, aitu secara binary, berjenjang, dan berjenjang
tertimbang. Metode kualitatif dapat diterapkan sebagai salah satu metode
analisis dalam SIG. daya yang dipergunakan merupakan data spasial yang
memiliki kalsifikasi data yang sifatnya kualitatif. Metode kuantitatif Binary
menggunakan operasi logika AND di dalam algoritmanya, dengan demikkan
dalam pengharkatan terhadap parameter kelas yang digunakan hanya ada du
akelas, yaitu nilai 2 (diterima) atau nilai 0 (tidak diterima). Metode kuantitatif
Berjenjang memberikan nilai yang sama untuk setiap komponen yang
digunakan dalam analisisnya. Setiap komponen yang diberikan harkat yang
sama untuk analisisnya, dengan asumsi bahwa setiap komponen mempunyai
pengaruh yang sama pada objek yang dianalisis. Metode kuantitatif
Berjenjang Tertimbang tetap memberikan nilai pengharkatan tetapi digunakan
bobot yang berbeda pada setiap variable yang digunakan dalam analisisnya.

Resume dari jurnal dengan judul Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman
Jagung Menggunakan Metode Analisis SpasialPengembangan pertanian lahan
kering di Indonesia mempunyai harapan yang sangat besar dalam
mewujudkan pertanian tangguh di masa mendatang mengingat potensi dan
luas lahannya yang jauh lebih besar daripada lahan sawah atau lahan gambut.
Lahan kering beriklim basah dicirikan oleh pola hujan monsoon atau region
A yaitu dimana wilayahnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode
musim hujan dan periode musim kemarau dan tipe curah hujan yang bersifat
unimodial (Aldrian, 2007), serta mempunyai penyebaran cukup luas, meliputi
74,58 juta hektar dimana sekitar 49 juta hektar merupakan lahan potensial
untuk pengembangan pertanian tanaman pangan. Kendala utama adalah
tingkat produktivitas yang rendah, dicirikan oleh reaksi tanah masam, miskin
hara, bahan organik rendah, kandungan besi, mangan, dan aluminium tinggi
melebihi batas toleransi tanaman serta Umumnya di daerah tropika basah
seperti Indonesia selain faktor iklim dan topografi, faktor bahan induk tanah
paling dominan pengaruhnya terhadap ciri dan sifatnya tanah yang terbentuk
serta potensinya untuk pertanian. Kondisi iklim basah dengan curah hujan
dan suhu tinggi menyebabkan pelapukan bahan induk berjalan sangat intensif
membentuk tanah berpelapukan tinggi , serta cenderung menurunkan kualitas
lahan dan tingkat produktivitas pertanian. Produksi pertanian pada lahan
kering akan dipercepat lagi oleh adanya erosi yang terjadi secara alami atau
karena penggunaan lahan yang “tidak sesuai” telah menetapkan beberapa
kualitas lahan untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan pada tanaman
jagung. Kualitas lahan ini antara lain: rejim kelembaban/kondisi temperatur,
ketersediaan air, ketersediaan oksigen, media perakaran, retensi hara,
ketersediaan hara dan bahaya erosi. Faktor pembatas bahaya erosi tanaman
jagung dengan kelas “cukup sesuai” dapat ditingkatkan menjadi “sangat
sesuai” dan kelas “sesuai marginal” dapat ditingkatkan menjadi “cukup
sesuai” yaitu dengan pemotongan lereng aktual dengan sistem teras gulud
atau teras bangku untuk mengurangi erosi tanah. Pertimbangan faktor-faktor
yang mempengaruhi perlakuan teras bangku yaitu (a) faktor biofisik, dimana
teras bangku tidak cocok digunakan pada kedalaman tanah efektif yang
dangkal dan tanah yang mudah longsor serta untuk tanaman yang peka
drainase lambat perlu dibuat bedenganbedengan tinggi pada bidang olah, (b)
faktor sosial ekonomi, dimana keterbatasan modal dan tenaga kerja terkadang
menyulitkan petani untuk menerapkan teras bangku. Faktor pembatas media
perakaran. Sebagian besar daerah penelitian memiliki tekstur pasir.
Sedangkan tanah yang sesuai untuk tanaman jagung adalah tanah dengan
tekstur lempung berdebu, lempung berpasir atau lempung. Faktor pembatas
media perakaran pada tanaman jagung yaitu tekstur tanah dan kedalaman
efektif tanah. Kelas “sesuai marginal” ditemukan pada Kecamatan Udanawu,
Wonodadi, Srengat, Ponggok, Nglegok, Garum, Gandusari, Kanigoro, Talun,
Selopuro, Kesamben, Kademangan, Sutojayan, Binangun, Wates,
Panggungrejo, Wonotirto, dan Bakung. Tekstur tanah merupakan factor
pembatas yang sulit diatasi karena berhubungan juga dengan faktor alam
yang tidak bisa dipengaruhi oleh manusia secara langsung. Faktor kedalaman
efektif tanah, umumnya adalah kelas “sangat sesuai” dan kelas “cukup
sesuai” yang terdapat di sebagian kecil Kecamatan Bakung dan Kademangan.
Faktor pembatas retensi hara. Faktor pembatas retensi hara untuk KTK liat
untuk tanaman jagung ditemukan pada sebagian kecil wilayah Blitar yaitu
Kecamatan Wlingi, Doko dan Selorejo dengan kelas “cukup sesuai” dimana
KTK liat <16 cmol/kg. Kendala atau factor pembatas ini dapat diatasi dengan
pengapuran dan penambahan bahan organik. Tanaman jagung tumbuh
optimum pada lahan dengan retensi hara KTK liat lebih dari 16 cmol/kg.
Faktor pembatas ketersediaan oksigen.

C. Resume Jurnal
Resume Jurnal dengan judul Analisis Daerah Terdapat Genangan Air
Menggunakan Pengolahan Data Berbasis Gis yang membahas Daerah
terdampak akibat genangan air yang dianalisis menggunakan aplikasi
pengolahan data berbasis GIS (Geographic Information System) terhadap
jalan dan bangunan di Kota Kupang dengan total jalan sepanjang 13.672 m
dengan rincian jalan primer sepanjang 7.790 m, jalan sekunder sepanjang
1.411 m, jalan lokal sepanjang 328 m, jalan kecil sepanjang 118 m dan jalan
lain-lain sepanjang 4.023 [Link] bangunan berjumlah 245 bangunan dengan
rincian 10 bangunan pendidikan, 4 bangunan pemerintah, 1 bangunan
kesehatan, 1 tempat ibadah dan 229 perumahan (Lampiran 7 - Lampiran
26).Diketahui daerah dengan jalan yang terdampak minimum adalah Jalan
Ahmad Yani dengan daerah terdampak sepanjang 202 m akibat genangan air
5 (G5) sedangkan untuk daerah dengan jalan terdampak maksimum adalah
Jalan Tim-tim dengan daerah terdampak sepanjang 2.398 m akibat genangan
air 18 (G18). Daerah yang memiliki jumlah bangunan terdampak minimum
adalah bangunan di daerah Jalan Nangka karena belum ada bangunan yang
terdigitasi oleh OpenStreetMap sedangkan untuk bangunan yang sudah
terdigitasi dengan jumlah bangunan terdampak minimum adalah bangunan di
daerah Jalan Monginsidi III dan di daerah Jalan W. J. Lalamentik dengan
masing-masing berjumlah 1 bangunan sebagai akibat dari genangan air 15
(G15) dan genangan air 16 (G16) dan jumlah bangunan terdampak
maksimum adalah bangunan di daerah Jalan Jenderal Soeharto dengan jumlah
63 bangunan sebagai akibat dari genangan air 8 (G8).aKondisi daerah
genangan air (G) tahun 2017 berdasarkan hasil observasi di lapangan
diketahui bahwa dari 19 daerah genangan air (G) dari tahun 2011, daerah
genangan air (G) yang tidak tergenang lagi berjumlah 5 daerah genangan air
(G) dengan rincian G3, G6, G8, G13 dan G15 karena sudah ditangani oleh
pemerintah. Daerah yang masih tergenangan air berjumlah 9 daerah genangan
air (G) dengan rincian G1, G4, G5, G9, G10, G11, G12, G14 dan G19 karena
belum ditangani oleh pemerintah. Daerah genangan air (G) yang sudah
ditangani oleh pemerintah tetapi masih tergenangan sebagai akibat dari
topografi yang landai berjumlah 5 daerah genangan air (G) dengan rincian
G2, G7, G16, G17 dan G18.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan pada praktikum kali adalah sebagai berikut:


1. Analisa spasial merupakan sekumpulan metoda untuk menemukan dan
menggambarkan tingkatan/ pola dari sebuah fenomena spasial, sehingga
dapat dimengerti dengan lebih baik. Dengan melakukan analisis spasial,
diharapkan muncul infomasi baru yang dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan di bidang yang dikaji.
2. Slope yaitu berguna untuk menentukan area yang cocok untuk lahan pertanian
atau perkebunan serta lahan untuk permukiman berdasarkan pada kemiringan
lereng tempatnya.
3. Hillshade yaitu berguna untuk memberikan efek bayangan akibat penyinaran
dari arah-arah tertentu sehingga memberikan kesan 3 dimensional pada
medan.
4. Aspect yaitu berguna untuk mencari lokasi paling baik untuk membangun
sebuah rumah berdasarkan arah hadap lereng.
5. Informasi koordinat sangat penting dalam pembuatan analisis 3D, titik yang
memiliki informasin X, Y, dan Z (ketinggian). sehingga dapat dengan mudah
diamati kenampakannya serta menampilkan data spasial dan non spasial
dalam 3 dimensi.
LAMPIRAN
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

ANALISIS DAERAH TERDAMPAK GENGANGAN AIR MENGGUNAAN


PENGELOLAAN DATA BERBASIS GIS
Wilhelmus Bunganaen1 (wilembunganaen@[Link])
Sudiyo Utomo2 (diyotomo@[Link])
Gallant B. Ratu Edo3 (gallantratuedo@[Link])

ABSTRAK
Genangan air ada sebagai akibat dari keadaan topografi dan tata guna lahan yang tidak
mendukung air untuk terserap. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daerah terdampak
dari genangan air yang dianalisis menggunakan aplikasi pengolahan data berbasis GIS
(Geographic Information System) terhadap jalan dan bangunan di Kota Kupang dan kondisi
daerah genangan air tahun [Link] penelitian ini, analisis data dilakukan berdasarkan
data pekerjaan review desain master plan dan DEDtahun 2011 yang diketahui terdapat 19
daerah genangan air. Berdasarkan hasil analisis pengolahan data Quantum GIS-InaSAFE
diketahui hasil daerah terdampak genangan air di Kota Kupang terhadap bangunan dan jalan
dengan total jalan sepanjang 13.672 m dan bangunan berjumlah 245 bangunan. Kondisi
daerah genangan air (G) tahun 2017 berdasarkan hasil observasi di lapangan diketahuidaerah
genangan air (G) yang tidak tergenang lagi berjumlah 5 daerah genangan air (G) karena
sudah ditangani oleh pemerintah. Daerah yang masih tergenangan air berjumlah 9 daerah
genangan air (G) karena belum ditangani oleh pemerintah. Daerah genangan air (G) yang
sudah ditangani oleh pemerintah tetapi masih tergenangan sebagai akibat dari topografi yang
landai berjumlah 5 daerah genangan air (G).
Kata Kunci : Genangan air; GIS (Geographic Information System); daerah terdampak
genangan air

ABSTRACT
Puddle exists as a result of the topography and land use that does not support the water to be
absorbed. The purpose of this study to Know the affected areas of puddle were analyzed
using data processing applications based on GIS (Geographic Information System) to roads
and buildings in Kota Kupang and condition of puddle area of [Link] this study, performed
data analysis based on data from job data master plan and design review DED in 2011
known there are 19 flood areas. Based on the analysis of data processing Quantum GIS-
InaSAFE known the results affected areas puddle in Kota Kupang to buildings and roads
with a total road along 13672 m and total of buildings 245 [Link] condition of the
puddle area (G) of 2017 based on observations in field is known thatarea of puddle (G) that
is not inundated again amounts to 5 puddle areas (G) as already handled by the government.
There are 9 puddle areas (G) as they have not been handled by the government. The area of
puddle (G) already handled by the government but still inundated as a result of the gentle
topography amounted to 5 areas of puddle (G).
Keywords: Puddle; GIS (Geographic Information System); affected areas puddle

PENDAHULUAN
Kota Kupang merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana pertambahan
jumlah penduduk adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tentu saja hal ini berpengaruh dengan

1
Jurusan Teknik Sipil, FST Undana – Kupang;
2
Jurusan Teknik Sipil, FST Undana – Kupang;
3
Jurusan Teknik Sipil, FST Undana - Kupang

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
231
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

menurunnya kualitas lingkungan yang ada. Salah satu masalah yang paling sering dialami
adalah tergenangnya air. Kota Kupang memiliki 19 daerah lokasi genangan air berdasarkan
data pekerjaan review desain master plan dan DEDtahun [Link] dan informasi yang
semakin berkembang memampukan untuk menganalisis berbagai masalah geospasial dengan
adanya perangkat lunak yang mendukung seperti [Link] masalah tersebut, maka
Peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Analisis Daerah
Terdampak Genangan Air Menggunakan Pengolahan Data Berbasis GIS (Geographic
Information System) Di Kota Kupang”.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Genangan Air
Genangan air adalah sekumpulan air yang terkumpul pada elevasi yang lebih rendah yang
menempati kawasan tertentu. Genangan air memiliki karakteristik yang berbeda-beda
tergantung luas genangan, kedalaman genangan, lama genangan dan frekuensi terjadinya
genangan air. Genangan air jika tidak segera diatasi akan menyebabkan kerugian yang lebih
besar bagi masyarakat.
Geographic Information System (GIS)
Geographic Information System (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang menyimpan,
mengelola dan memanipulasi data yang bereferensi geospasial. Geographic Information
System (GIS) atau dalam istilah bahasa Indonesia disebut SIG (Sistem Informasi Geografis).
Peta
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi dengan ukuran yang lebih kecil dari biasanya
dengan skala tertentu yang digambarkan di atas bidang datar dalam bentuk simbol-simbol
yang sifatnya selektif serta melalui suatu proyek tertentu (Indradi, 2014 : 3).
Datum
Datum adalah kumpulan parameter dan titik kontrol yang hubungan geometriknya diketahui,
baik melalui pengukuran atau perhitungan (Astrini, 2012 : 64). Datum memiliki tujuan untuk
menentukan posisi pasti suatu lokasi terhadap garis lintang dan bujur terhadap pusat bumi.
Datum yang biasa dipakai yaitu WGS84 global(World Geodetic System of 1984).
OpenLayers Plugin
OpenLayers Pluginadalah jenis komponen tambahan atau plug in yang memiliki tujuan untuk
memudahkan pengguna aplikasi Quantum GIS agar bisa mendapatkan data berupa peta
secara online.
Georeferencer
Georeferencer merupakan plug in yang berfungsi untuk membuat data raster dengan
memberi informasi koordinat (lintang dan bujur) pada data raster yang berekstensi .jpg dan
.png yang lalu disimpan dengan berekstensi .tif.
InaSAFE
InaSAFE adalah komponen tambahan dalam Quantum GIS yang memiliki fungsi untuk
menganalisa daerah dampak genangan banjir yang akan terjadi berdasarkan data titik
genangan air yang ada pada suatu wilayah. Tidak hanya untuk bencana alam seperti banjir,
InaSAFEjuga bisa digunakan untuk menganalisis daerah terdampak akibat genangan air.
Data Hazard

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
232
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Data hazard adalah data raster berupa peta digital tempat atau lokasi air ataupun data vektor
berupa data poligon daerah genangan air yang akan dianalisa daerah dampak genangan
banjir.
Data Exposure
Data Exposure adalah data berupa data keterpaparan keadaan suatu daerah berupa data vektor
yang membentuk jalan ataupun gambaran struktur yang ada seperti bangunan dan lain-lain.

METODE PENELITIAN
Sebelum melakukan penelitian, perlu dilakukan urutan sistematis tahapan pelaksanaan
penelitian sebagai berikut :
1. Menentukan daerah genangan air yang akan dianalisa dengan mengumpulkan data peta
survei genangan air di Kota Kupang yang diperoleh dari instansi terkait.
2. Mengubah data yang ada menjadi data raster atau mengubah ekstensi data peta survei
genangan air di Kota Kupang dari .dwg menjadi .jpg agar bisa dianalisa dengan QGIS.
3. Melakukan pemetaan terhadap data peta survei genangan air dengan menggunakan plug
in georeferencer pada QGIS.
4. Melakukan digitasi daerah genangan berdasarkan data peta hasil survei genangan air dan
disimpan sebagai data vektor baru.
5. Membagi data genangan menjadi beberapa kelompok.
6. Mengisi informasi semua data vektor genangan air untuk bisa dianalisa.
7. Mengunduh data exposureatau data peta keterpaparan Kota Kupang dari OpenStreetMap.
8. Analisa daerah terdampak genangan air dengan Quantum GIS-InaSAFE.
9. Melakukan observasi langsung pada setiap titik genangan air di lapangan.
10. Pembahasan penelitian.

Diagram Alir
Untuk memudahkan memahami tahapan pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada
diagram alir penelitian pada Gambar 1.

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian


Untuk analisis data menggunakan QGIS dapat dengan mudah dipahami dari diagram
alir QGIS pada Gambar 2.

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
233
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Gambar 2 Diagram Alir QGIS

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan berdasarkan data pekerjaan review desain master plan dan DED
(Detail Engineering Design) tahun 2011 oleh Kementrian Pekerjaan Umum Direktorak
Jenderal Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Satuan Kerja
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman NTT. Daerah-daerah tersebut di
kelompokkan dengan kode G atau genangan yang berjumlah sebanyak 19 daerah genangan
yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Tabel Rekapitulasi Daerah Genangan Air Di Kota Kupang (Dirjen CK, 2011)
Jumlah
No. Nama Kode Lokasi
Genangan
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Genangan Air 1 G1 1 Jalan Soekarno
2. Genangan Air 2 G2 1 Jalan Siliwangi
3. Genangan Air 3 G3 1 Jalan Sumatera
G4(a),
4. Genangan Air 4 G4(b), 3 Jalan Urip Sumoharjo
G4(c)
5. Genangan Air 5 G5 1 Jalan Ahmad Yani
G6(a),
6. Genangan Air 6 2 Jalan Cak Doko
G6(b)
7. Genangan Air 7 G7 1 Jalan Nangka
G8(a),
G8(b),
8. Genangan Air 8 4 Jalan Jend. Soeharto
G8(c),
G8(d)
9. Genangan Air 9 G9 1 Sekitar Pasar Naikoten
Perempatan Polda dan Hotel
10. Genangan Air 10 G10 1
Astiti

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
234
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Jumlah
No. Nama Kode Lokasi
Genangan
G11(a),
11. Genangan Air 11 2 Jalan Jend. Sudirman
G11(b)
G12(a),
12. Genangan Air 12 2 Jalan Pemuda
G12(b)
G13(a), Jalan El tari I dan Jalan Polisi
13. Genangan Air 13 2
G13(b) Militer
G14(a),
14. Genangan Air 14 2 Jalan Untung Suropati
G14(b)
15. Genangan Air 15 G15 1 Jalan Monginsidi III
16. Genangan Air 16 G16 1 Jalan W. J. Lalamentik
17. Genangan Air 17 G17 1 Jalan Amabi
G18(a),
G18(b),
18. Genangan Air 18 G18(c), 5 Jalan Tim-tim
G18(d),
G18(e)
19. Genangan Air 19 G19 1 Perumahan TMP Darmaloka
Digitasi Peta Genangan Air Menjadi Data Raster Menggunakan Plug In Georeferencer
Input Data Plug In Georeferencer
Data-data inputan plug in georeferencer yaitu :
a. Peta lokasi genangan air hasil survei Kementrian Pekerjaan Umum Direktorak Jenderal
Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Satuan Kerja
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman NTT tahun 2011.
b. Data koordinat yang diambil dari beberapa titik lokasi di Kota Kupang.
Hasil Output Data Plug In Georeferencer
Data output hasil analisis dengan plug in georeferencer adalah data raster yang memiliki
informasi data koordinat didalamnya.
Digitasi Daerah Genangan Air Menjadi Data Vektor
Data daerah genangan air yang diketahui merupakan data raster berekstensi .tif hasil dari
output plug in georeferencer yang artinya data tersebut sudah memiliki sistem koordinat.
Untuk menganalisa daerah terdampak genangan air perlu dibuat data baru yaitu data vektor
poligon yang berisi informasi mengenai kode genangan, luas genangan dan informasi lainnya
yang dibutuhkan untuk analisa daerah terdampak genangan air.
Analisis Daerah Terdampak Genangan Air Menggunakan Pengolahan Data Berbasis
GIS
Input Data QGIS-InaSAFE
Data-data yang diinput dalam QGIS-InaSAFE antara lain :
a. Data Exposure atau data keterpaparan berupa data vektor yang menggambarkan kondisi
jalan dan struktur bangunan di Kota Kupang.
b. Data Hazard atau data ancaman yang merupakan data hasildigitasi daerah genangan air
berdasarkan data raster peta survei genangan air di Kota Kupang.
Output Data QGIS-InaSAFE
Dari hasil analisa tersebut dapat dilihat bahwa total panjang jalan dan bangunan yang
terdampak genangan air. Contoh hasil analisa daerah genangan air 1 (G1) total jalan yang

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
235
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

terdampak yaitu 681 m dengan rincian jalan primer sepanjang 523 m, jalan lokal sepanjang
48 m dan jalan lain-lain sepanjang 108 m. Bangunan yang terdampak genangan air 1 (G1)
yaitu 22 bangunan dengan rincian 1 tempat ibadah dan 21 rumah.
Kondisi Daerah Genangan Air Tahun 2017
Daerah genangan air yang dianalisis adalah daerah genangan data sekunder dari tahun 2011
sehingga perlu dilakukan evaluasi ditahun 2017 untuk mengetahui daerah yang masih
tergenang dan tidak tergenang. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung
dilapangan serta wawancara dengan masyarakat yang tinggal atau yang beraktivitas dekat
daerah genangan air tersebut.
Pembahasan
Untuk Menganalisis dengan QGIS-InaSAFE perlu dibuat data raster baru yang merupakan
output data dari plug in georeferencer dimana peta yang ada yang semula berekstensi .dwg
yang disimpan dengan ekstensi .jpg diberi titik koordinat sehingga menjadi data raster baru
yang berekstensi .tif. Data yang baru dicek kecocokan untuk bisa dilakukan digitasi daerah
genangan. Digitasi daerah genangan berdasarkan data raster yang telah dibuat, disimpan
sebagai data vektor tipe poligon yang baru dan diberi informasi dalam attribute table yang
diperlukan untuk analisis daerah terdampak dengan QGIS-InaSAFE.
Analisis daerah terdampak genangan air dilakukan dengan menginput data exposure atau data
keterpaparan yaitu data vektor yang menggambarkan model bangunan dan jalan yang ada di
Kota Kupang berdasarkan hasil digitasi OpenStreetMap dan data hazard atau data ancaman
yang merupakan hasil digitasi daerah genangan air berdasarkan data raster peta hasil survei
genangan air di Kota Kupang.
Setelah dilakukan analisis didapat hasil keseluruhan daerah terdampak genangan air di Kota
Kupang terhadap bangunan dan jalan dengan total jalan sepanjang 13.672 m dan bangunan
berjumlah 245 bangunan. Untuk hasil analisis daerah terdampak genangan air terhadap jalan
dan bangunan di Kota Kupang dapat dilihat pada Gambar 3 dan rekapitulasi daerah
terdampak genangan air terhadap jalan dan bangunan di Kota Kupang dapat dilihat pada
Tabel 2.

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
236
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Gambar 3. Peta Daerah Terdampak Genangan Air (G) Terhadap


Bangunan dan Jalan Di Kota Kupang

Tabel 2 Tabel Rekapitulasi Daerah Terdampak Genangan Air


Terhadap Jalan Dan Bangunan Di Kota Kupang
Jumlah Daerah
Jumlah Terdampak
No. Nama Kode Lokasi
Genangan Jalan
Bangunan
(m)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Jalan
1. Genangan Air 1 G1 1 681 22
Soekarno
Jalan
2. Genangan Air 2 G2 1 252 11
Siliwangi
Jalan
3. Genangan Air 3 G3 1 434 7
Sumatera
G4(a),
Jalan Urip
4. Genangan Air 4 G4(b), 3 839 12
Sumoharjo
G4(c)

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
237
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Jumlah Daerah
Jumlah Terdampak
No. Nama Kode Lokasi
Genangan Jalan
Bangunan
(m)
Jalan
5. Genangan Air 5 G5 1 Ahmad 202 2
Yani
G6(a), Jalan Cak
6. Genangan Air 6 2 506 15
G6(b) Doko
Jalan
7. Genangan Air 7 G7 1 288 -
Nangka
G8(a),
G8(b), Jalan Jend.
8. Genangan Air 8 4 1.759 63
G8(c), Soeharto
G8(d)
Sekitar
9. Genangan Air 9 G9 1 Pasar 936 4
Naikoten
Perempatan
10. Genangan Air 10 G10 1 Polda dan 307 7
Hotel Astiti
G11(a), Jalan Jend.
11. Genangan Air 11 2 591 10
G11(b) Sudirman
G12(a), Jalan
12. Genangan Air 12 2 303 9
G12(b) Pemuda
Jalan El
G13(a), tari I dan
13. Genangan Air 13 2 1.335 11
G13(b) Jalan Polisi
Militer
Jalan
G14(a),
14. Genangan Air 14 2 Untung 762 7
G14(b)
Suropati

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Jalan
15. Genangan Air 15 G15 1 Monginsidi 404 1
III
Jalan W. J.
16. Genangan Air 16 G16 1 398 1
Lalamentik
Jalan
17. Genangan Air 17 G17 1 679 3
Amabi
G18(a),
G18(b),
Jalan Tim-
18. Genangan Air 18 G18(c), 5 2.398 58
tim
G18(d),
G18(e)
Perumahan
19. Genangan Air 19 G19 1 TMP 234 2
Darmaloka

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
238
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

Jumlah Daerah
Jumlah Terdampak
No. Nama Kode Lokasi
Genangan Jalan
Bangunan
(m)
Total 13.672 245
Kondisi daerah genangan air pada tahun 2017 diketahui berdasarkan hasil observasi di
lapangan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Tabel kondisi genangan air pada tahun 2017
Kondisi Genangan
Kode Genangan Keterangan Jumlah Genangan
Air 2017
Kondisi genangan air
G1, G4, G5, masih sama dengan kondisi
Masih tergenang G9, G10, G11, tahun 2011 karena belum 9 daerah genangan air
G12, G14, G19 ada penanganan dari
pemerintah
Sudah ditangani oleh
Pemerintah, tetapi daerah
G2, G7, G16,
Masih tergenang tersebut masih tergenang 5 daerah genangan air
G17, G18
karena kondisi topografi
yang landai
Sudah tidak ada genangan
G3, G6, G8,
Tidak Tergenang air karena sudah ditangani 5 daerah genangan air
G13, G15
oleh pemerintah
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Daerah terdampak akibat genangan air yang dianalisis menggunakan aplikasi pengolahan
data berbasis GIS (Geographic Information System) terhadap jalan dan bangunan di Kota
Kupang dengan total jalan sepanjang 13.672 m dengan rincian jalan primer sepanjang
7.790 m, jalan sekunder sepanjang 1.411 m, jalan lokal sepanjang 328 m, jalan kecil
sepanjang 118 m dan jalan lain-lain sepanjang 4.023 [Link] bangunan berjumlah 245
bangunan dengan rincian 10 bangunan pendidikan, 4 bangunan pemerintah, 1 bangunan
kesehatan, 1 tempat ibadah dan 229 perumahan (Lampiran 7 - Lampiran 26).Diketahui
daerah dengan jalan yang terdampak minimum adalah Jalan Ahmad Yani dengan daerah
terdampak sepanjang 202 m akibat genangan air 5 (G5) sedangkan untuk daerah dengan
jalan terdampak maksimum adalah Jalan Tim-tim dengan daerah terdampak sepanjang
2.398 m akibat genangan air 18 (G18). Daerah yang memiliki jumlah bangunan
terdampak minimum adalah bangunan di daerah Jalan Nangka karena belum ada
bangunan yang terdigitasi oleh OpenStreetMap sedangkan untuk bangunan yang sudah
terdigitasi dengan jumlah bangunan terdampak minimum adalah bangunan di daerah
Jalan Monginsidi III dan di daerah Jalan W. J. Lalamentik dengan masing-masing
berjumlah 1 bangunan sebagai akibat dari genangan air 15 (G15) dan genangan air 16
(G16) dan jumlah bangunan terdampak maksimum adalah bangunan di daerah Jalan
Jenderal Soeharto dengan jumlah 63 bangunan sebagai akibat dari genangan air 8 (G8).
2. Kondisi daerah genangan air (G) tahun 2017 berdasarkan hasil observasi di lapangan
diketahui bahwa dari 19 daerah genangan air (G) dari tahun 2011, daerah genangan air
(G) yang tidak tergenang lagi berjumlah 5 daerah genangan air (G) dengan rincian G3,
G6, G8, G13 dan G15 karena sudah ditangani oleh pemerintah. Daerah yang masih
tergenangan air berjumlah 9 daerah genangan air (G) dengan rincian G1, G4, G5, G9,
G10, G11, G12, G14 dan G19 karena belum ditangani oleh pemerintah. Daerah genangan

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
239
Kupang”
Jurnal Teknik Sipil, Vol. VI, No. 2, September 2017

air (G) yang sudah ditangani oleh pemerintah tetapi masih tergenangan sebagai akibat
dari topografi yang landai berjumlah 5 daerah genangan air (G) dengan rincian G2, G7,
G16, G17 dan G18.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi Pemerintah Kota Kupang untuk lebih memperhatikan daerah-daerah yang
berpotensi terdampak genangan air untuk bisa mencegah lebih luas daerah yang
terdampak.
2. Bagi Pemerintah Kota Kupang untuk selalu melakukan survei daerah tergenang air setiap
tahun untuk memperbaharui data daerah genangan air yang ada.
3. Bagi Pemerintah Kota Kupang untuk bisa mengendalikan daerah yang tergenang air
dengan menggunakan sumur resapan dan lubang resapan biopori untuk mencegah
terjadinya genangan air yang lebih besar.
4. Bagi peneliti selanjutnya agar bisa menganalisis jumlah penduduk yang terdampak
daerah genangan air di Kota Kupang.
DAFTAR PUSTAKA
Astrini, Retno dan Patrick Oswald. 2012. Modul Pelatihan Quantum GIS Tingkat Dasar.
Mataram. 13 Januari 2017.
[Link]
kit/en/E4/tool/Modul%20Pelatihan%20Quantum%20GIS%20Tingkat%[Link]
Dirjen CK, 2011. Rekapitulasi data peta lokasi genangan air hasil survei Kementrian
Pekerjaan Umum Direktorak Jenderal Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi
Nusa Tenggara Timur Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman NTT tahun 2011. Kota Kupang.
Indradi, dan Tullus Subroto. 2014. Kartografi. Yoyakarta. 25 Juni 2017.
[Link]

Bunganane, W., et.a., “Analisis Daerah Terdampak Genangan Air menggunakan Pengelolaan Data Berbasis GIS di Kota
240
Kupang”

Anda mungkin juga menyukai