0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Pemeriksaan Bola Mata Terperinci

Dokumen tersebut memberikan panduan langkah-langkah pemeriksaan fisik mata yang mencakup pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata. Pemeriksaan segmen anterior meliputi kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea, kamera okuli anterior, iris, pupil dan lensa untuk mendeteksi kelainan. Sedangkan pemeriksaan segmen posterior menggunakan oftalmoskop untuk melihat struktur mata bagian dalam seperti papila saraf optikus dan

Diunggah oleh

Selamat pagi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Pemeriksaan Bola Mata Terperinci

Dokumen tersebut memberikan panduan langkah-langkah pemeriksaan fisik mata yang mencakup pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata. Pemeriksaan segmen anterior meliputi kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea, kamera okuli anterior, iris, pupil dan lensa untuk mendeteksi kelainan. Sedangkan pemeriksaan segmen posterior menggunakan oftalmoskop untuk melihat struktur mata bagian dalam seperti papila saraf optikus dan

Diunggah oleh

Selamat pagi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS HARIAN

PEMERIKSAAN BOLA MATA

KAMIS, 9 APRIL 2020

TRISTAN KANTOHE
19014101006
Ilmu Kesehatan Mata
Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado
2020
Pemeriksaan Bola Mata

A. Langkah-langkah pemeriksaan mata


1. Perkenalan diri —> Dengan salam, menyebutkan nama, menjelaskan tindakan
yang akan dilakukan.
2. Pemeriksaan segment anterior :
A. Kelopak mata dan bola mata
• Inspeksi : Bola mata. Amati ukuran bola mata dan posisi bola mata. Di samping itu
amati simetrisitasnya.
• Gerak bola mata : pemeriksaan ini dilakukan dengan mengevaluasi six cardinal
direction of gaze. Caranya dengan kepala pasien immobile dan meminta pasien hanya
melihat untuk mengikuti gerakan jari pemeriksa. Pemeriksa menggerakan jari dari
kanan - kiri - kanan atas - kanan bawah - kiri atas - kiri bawah.

• Kelopak mata : Lihat adakah perubahan warna ( kemerahan, putih, hitam, biru,
kuning), bentuk ( adakah bengkak, retraksi oleh jar parut dan paralysis).
Perhatikan juga tepi kelopak mata dan distribusi bulu-bulu mata.

• Palpasi : Mata yang diperiksa diminta melirik kebawah. Dengan kedua jari telunjuk
pemeriksa diletakkan bergantian diatas kelopak mata ( normal besar tekanan seperti
menekan di pipi). Periksa adakah nyeri tekan.

B. Konjungtiva
• Konjungtiva palpebra inferior : Pasien melirik keatas kemudian pemeriksa menarik
palpebra inferior kebawah. Bagaimana warnanya (merah muda), adakah benjolan
(papil,fistula, cobble stone), perdarahan, sekret dan sikatrik, permukaannya licin,
halus, basah, mengkilat.

• Konjungtiva tarsal : Pasien melirik ke bawah, kemudia pemeriksa membalikkan


permukaan dalam palpebra superior ke arah luar dengan menggunakan cotton bud.
Periksa keadaan bagaimana warnanya (merah muda), adakah benjolan (papil,fistula,
cobble stone), perdarahan, sekret dan sikatrik, permukaannya licin, halus, basah,
mengkilat. Setelah inspeksi konjungtiva tarsalis, mintalah pasien untuk melihat ke
atas untuk mengembalikan kelopak mata pada posisi normal.

• Konjugtiva bulbi : Pemeriksaa melihat langsung bagaimana warna (putih atau


kemerahan ), mengkilat atau tidak, basah atau kering, dan ada tidaknya
pembengkakan. Kemudian adakah pterygium, pingueculum, simblefaron,
pseudopterygium. kemudian adakah injeksi konjngtiva

C. Sklera
• Pemeriksaan dilakukan dengan cara menarik palpebra inferior. inpeksi sklera dan
amati apakah ada nodul, hyperemia dan perubahan warna. Sklera normal seharusnya
berwarna putih.

D. Kornea
• Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan senter (sinar senter disorot dari
samping), diperhatikan bagaimana ukurannya (normalnya diameter 11-12mm),
bentuknya, kecembungan (normalnya 7 - 8mm ) limbus, permukaan kornea,
parenkim kornea, dan permukaan belakang kornea.

• Dengan menggunakan keratoskop placido untuk melihat kerataan lengkungan


kornea. Jarak pemeriksa pasien 0,5 meter.

• Pemeriksaan sensitivitas dilakukan dengan menyentuhkan kapas pada kornea dengan


lembut.

E. Pemeriksaan perkiraan kasar kedalaman Kamera Okuli Anterior


• Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan sinar secara oblik menembus mata
sehingga perkiraan kasar kedalaman kamera okuli anterior dapat dibuat. Kemudian
juga periksa kejernihan, dan isi KOA.

F. Pemeriksaan Iris: Iris diperiksa warnanya, apakah ada nodul dan vaskularitas.
Normalnya pembuluh darah iris tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.

G. Pemeriksaan pupil :

• Pertama inspeksi diameter pupil pada mata kanan dan kiri. Normal diameter pupil
berkisar 2 - 3 mm, isokor atau anisokor dan simetris apakah tidak

• Kemudian test refleks pupil, terdapat 2 refleks yaitu refleks pupil langsung dan tidak
langsung.

• Refleks pupil langsung dilakukan dengan menyinari mata kanan dan perhatikan
refleks pupil apakah miosis ataukah tidak. Begitu juga pada mata kiri.

• Kemudian untuk refleks pupil tidak langsung dilakukan dengan meminta pasien
untuk meletakkan tangannya di hidung dan antara dua mata. Pemeriksa mata
menyinari mata kanan dan menilai refleks pupil yang tidak disinari, apakah miosis
atau tidak. Begitu juga dilakukan untuk mata kiri.

H. Pemeriksaan lensa

• Pemeriksaan dilakukan dengan menyinari mata pada sudut 45 0. Kemudian dilihat


bayangan iris pada lensa, kemudian juga lihat letaknya .

3. Pemeriksaan segment posterior

A. Pemeriksaan oftalmoskop
Ada dua cakram pada oftalmoskop: satu untuk mengatur lubang cahaya (dan
filter),dan satu lagi untuk merubah lensa untuk mengoreksi kesalahan refraktif baik dari
pemeriksa maupun pasien. Lubang-lubang dan Filter-filter yang paling penting adalah
lubang kecil untuk pupil yang tidak berdilatasi, lubang besar untuk pupil yang
berdilatasi,dan filter bebas – merah menyingkirkan sinar merah dan dirancang untuk
melihat pembuluh darah serta perdarahan. Dengan filter ini, retina tampak abu-abu,
diskus berwarna putih, makula kuning, dan darah tampak berwarna hitam.

Langkah-langkah Pemeriksaan:
1. Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan.
2. Persiapkan alat untuk pemeriksaan segmen posterior bola mata (direct
ophthalmoscope). Ruangan dibuat setengah gelap, pasien diminta melepas
kacamata dan pupil dibuat midriasis dengan tetes mata midriatil.
3. Sesuaikanlah lensa oftalmoskop dengan ukuran kaca mata penderita.
4. Mata kanan pemeriksa memeriksa mata kanan penderita, mata kiri pemeriksa
memeriksa mata kiri penderita.
5. Jika pemeriksaan menggunakan kaca mata, maka kaca mata harus dilepas supaya
dapat melihat retina dengan lebih baik. Lampu oftalmoskop dinyalakan, lubang
dipindahkan ke lubang kecil. Pemeriksa harus memulai dengan diopter lensa diaa
`tur pada angka “0” jika ia tidak menggunakan kaca mata.
6. Mintalah penderita untuk melihat satu titik di belakang pemeriksa.
7. Arahkan ke pupil dari jarak 25-30 cm oftalmoskop untuk melihat refleks
fundus dengan posisi/cara pegang yang benar. Cahaya harus menyinari pupil.
Pantulan sinar berwarna merah, reflex merah, dapat dilihat pada pupil.
Pemeriksaan harus memperhatikan setiap kekeruhan pada kornea atau lensa.
8. Periksa secara seksama dengan perlahan maju mendekati penderita kurang lebih 5
cm.
9. Sesuaikan fokus dengan mengatur ukuran lensa pada oftalmoskop.
10. Jika sudah terjadi kontak dengan retina pasien, maka akan terlihat papil saraf
optikus atau pembuluh darah, dengan memutar roda diopter dengan jari telunjuk,
pemeriksa akan bisa melihat struktur ini dengan focus yang tajam. Amati secara
sistematis struktur retina dimulai dari papil [Link], arteri dan vena retina
sentral, area makula, dan retina perifer. Pemeriksaan dilakukan pada kedua
mata dan catatlah hasil yang didapat dalam status penderita

4. Pemeriksaan lapang pandang test konfrotasi


Langkah-langkah Pemeriksaan:
1. Mintalah penderita untuk menutup satu mata tanpa menekannya, duduklah
tepat di depan penderita, sama tinggi dengan penderita.
2. Tutuplah mata anda yang tepat berada di depan mata penderita yang ditutup
(bila penderita menutup mata kanannya, anda menutup mata kiri anda).
3. Dengan perlahan gerakkanlah pensil atau obyek kecil lainnya dari perifer
kearah tengah dari kedelapan arah dan mintalah penderita memberi tanda tepat
ketika dia mulai melihat obyek tersebut.
Selama pemeriksaan ini, jagalah agar obyek selalu berjarak sama dari mata anda dan
mata penderita, agar anda dapat membandingkan lapang pandang anda dengan
lapang pandang pasien anda.
B. Fungsi pemeriksaan fisik mata

1. Perkenalan diri dilakukan untuk mengetahui siapa yang akan memeriksa dan untuk
menciptakan suasana nyaman. Kemudian penjelasan mengenai pemeriksaan yang
akan dilakukan oleh pemeriksa berguna agar pasien memahami dan koperatif pada
saat pemeriksaan.

2. Pemeriksaan segmen anterior:

A. Bola mata
Dilakukan untuk memeriksa apakah adanya eksoftalmus, endoftalmus, dan
untuk melihat apakah ada kelainan dari pergerakan otot bola mata
diantaranya strabismus, paralysis otot-otot ekstraokuler.

B. Kelopak mata (Palpebra)


Melihat warna dari palpebra menunjukan adanya radang bila kemerahan,
adanya sikatriks bila warnanya putih, adanya penyakit sistemik bila
warnanya hitam, dan adanya hematoma bila berwarna biru. pemeriksaan
palpasi yang dilakukan dapat juga dipakai untuk pemeriksaan tekanan
intraokuler secara manual dimana kelopak mata akan terasa keras bila
tekanan intraokular meningkat
C. Konjungtiva
Pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk melihat apakah ada peradangan,
perdarahan maupun hemangioma pada konjungtiva

D. Sklera
Pemeriksaan sklera dilakukan untuk melihat apakah ada nodul,
pembengkakan ataupun warna - warna yang abnormal pada sklera

E. Kornea
Pemeriksaan inspeksi kornea dengan senter berfungsi untuk melihat adanya
kelainan ukuran, limbus, kecembungan, ataupun permukaan pada kornea.
pada limbus kita memeriksa apakah adanya arkus senilis dan pada
permukaan kornea kita amati apakah permukaanya licin atau kasar. parut
dan infiltrat juga dapat terlihat pada pasien yang mengalami radang pada
kornea

F. Kamera okuli anterior


Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kedalaman dari kamera okuli
anterior dan kelainan yang membuat kamera okuli anterior menjadi tidak
jernih seperti hifema dan hipopion

G. Iris
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kelainan iris seperti warna,
penonjolan, dan pembuluh darah pada iris.

H. Pupil
Pemeriksaan pupil dilakukan untuk melihat diameter pupil, simetrisnya
pupil kanan dan kiri dan refleks cahaya pada pupil secara langsung maupun
tidak langsung

I. Lensa
Pemeriksaan lensa (shadow test) dilakukan untuk melihat kejernihan lensa
dan melihat secara dini suspek katarak.

3. Pemeriksaan segment posterior

Inspeksi Diskus Optikus


• Daerah yang sangat menyolok dari retina adalah diskus saraf optikus. Diskus
tersebut harusnya bulat,dengan batas yang tajam, batas sisi nasal biasanya agak
buram. Cup adalah bagian diskus yang terletak ditengah,warnanya lebih muda,
dan dimasuki oleh retina. Rasio normal cup-to-disc bervariasi dari 0,1
sampai 0,5. Pemeriksa harus mengecek kesimetrisan rasio cup-to-disc pada
kedua mata.
Inspeksi Pembuluh Darah Retina
Pembuluh. Ukuran arteri adalah 2/3 sampai 4/5 dari ukuran diameter vena dan
mempunyai refleks cahaya yang mencolok. Refleks cahaya adalah refleksi dari
cahaya oftalmoskop pada dinding arteri dan normalnya sekitar 1/4 diameter kolumna
darah. Pulsasi paling baik terlihat pada vena retina yang memasuki nervus optikus,
dimana pulsasi dapat dilihat pada ujungnya. Karena pembuluh darah berjalan menjauhi
papil, mereka tampak menyempit. Persilangan arteri dan vena terjadi pada 2 diameter
papil. Dinding pembuluh darah normal tidak terlihat, dengan refleks cahayanya
yang tipis. Pada hipertensi, pembuluh darah dapat mempunyai daerah penyempitan
atau spasme setempat atau umum, menyebabkan refleks cahaya menjadi menyempit.
Berjalan sesuai dengan waktu, dinding pembuluh darah menebal dan sklerotik, dan
terjadi pelebaran refleks cahaya menjadi lebih dari separuh diameter kolumma darah.
Refleks cahaya berkembang sebagai gambaran Jingga metalik, yang disebut kawat
tembaga. Bila arteri seperti itu menyilang sebuah vena,akan tampak sepertinya
kolumna vena terputus akibat pelebaran,tetapi dinding dapat [Link] ini
disebut sebagai takik arteriovenosa (AV).

Inspeksi Makula
Jika Oftalmoskop tetap setinggi papil dan digerakkan ke temporal sekitar 2
diameter papil, makula akan terlihat. Makula tampak sebagai daerah avaskular
dengan titik pusat refleksi, yaitu fovea. Jika pemeriksa mengalami kesulitan dalam
melihat makula, pasien dapat diperintahkan untuk melihat langsung kearah cahaya,
sehingga fovea dapat terlihat. Filter bebas–merah juga membantu untuk mengetahui
lokasi makula.
Menggambarkan setiap lesi retina dalam skrining fundus,pemeriksa mungkin
menemukan kelainan. Jika terlihat suatu lesi, warna dan bentuknya penting untuk
menentukan penyebabnya. Apakah berwarna merah, hitam, abu-abu atau
keputihan/lesi merah biasanya adalah pendarahan. Hal ini paling baik ditentukan
lokasinya dengan menggunakan filter hijau dari oftalmoskop. Perdarahan berbentuk
linear, atau seperti api, terjadi pada lapisan saraf dari retina, sedangkan perdarahan
berbentuk bundar terletak pada lapisan retina yang lebih dalam. Lesi hitam yang
berbentuk seperti spikula tulang, berhubungan dengan retinitis [Link]
keadaan ini, melanin cenderung untuk melapisi pembuluh darah retina. Lesi berbentuk
”donat”sering ditemukan pada korioretinitis yang [Link] berpigmen, meninggi,
berbentuk cakram menandakan melanoma. Bercak yang menyebar pada retina
seringkali merupakan keadaan degeneratif. Lesi abu-abu, rata, biasanya nevi jinak. Lesi
putih dapat tampak sebagai daerah lunak, cotton-wool,atau dapat juga padat. Lesi putih
sangat lazim dan sering berkaitan dengan hipertensi atau diabetes.

5. Pemeriksaan lapang pandangan sentral dan perifer dipergunakan untuk tiga alasan:
• Mendeteksi kelainan lapang pandangan
•Mencari lokasi kelainan disepanjang jaras saraf penglihatan
•Melihat luasnya kelainan lapang pandangan dan perubahannya dari waktu ke
waktu/follow up.
Referensi
1. American Academy of Ophthalmology. 2018-2019 BCSC (Basic and Clinical
Science Course). 2018.
2. Salmon JF. Kanski’s Clinical Ophthalmology E-Book: A Systematic Approach
[Internet]. Elsevier Health Sciences; 2019. Available from:
[Link]
3. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2017.

Anda mungkin juga menyukai