TUGAS RESUME FISIKA FARMASI
MAR’ATUL FITRIAH
DIPLOMA III FARMASI
RHEOLOGI
A. Sejarah Rheologi
Dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim,
suspensi, emulsi, losion, pasta, penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi
digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan
kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari
bahan, penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari
suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat,
bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti
dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Salah satu praktikum dalam Fisika Farmasi adalah Viskositas & Rheologi. Viskositas
adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir sedangkan Rheologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang sifat zat cair atau deformasi zat padat. Beberapa alat yang biasa
digunakan, yaitu Viscometer Ostwald, Viscometer Bola Jatuh, Viscometer “Cup” dan “Bob”
serta Viscometer kerucut dan lempeng . Sebenarnya nilai Viskositas sudah ada Dalam
literarul tapi terkadang terjadi perbedaan nilai tergantung dari kondisi zat tersebut. Terkadang
dalam literatul tidak dicantumkan nilai viskositas atau terkadang senyawa tersebut nilai
viskositasnya tidak sesuai dengan literatul. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa farmasi
harus mampu menghitung nilai viskositas suatu zat.
B. Pengertian Rheologi
Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan
deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing
stress) dengan kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan
stress pada benda padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas.
Rheologi sangat penting dalam farmasi karena penerapannya dalam formulasi dan
analisis dari produk-produk farmasi seperti: emulsi, pasta, krim, suspensi, losion,
suppositoria, dan penyalutan tablet yang menyangkut stabilitas, keseragaman dosis, dan
keajekan hasil produksi. Misalnya, pabrik pembuat krim kosmetik, pasta, dan lotion harus
mampu menghasilkan suatu produk yang mempunyai konsistensi dan kelembutan yang dapat
diterima oleh konsumen. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi
produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap
batch.
Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan,pemasukan ke dalam
wadah,pemindahan sebelum digunakan,penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan
dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi
pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability).
Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan
digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan.
Paling tidak dalam karakteristik alirannya. Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi
yang diterapkan dibidang farmasi. Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
a) Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua
bidang cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
b) Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang
diperlukan untuk menyebabkan aliran
F’/A = η dv/dr
η = (F’/A) / (dv/dr)= F / G
Penggolongan sistem cair menurut tipe aliran dan deformasinya ada dua yaitu:
a) Sistem Newton
b) Sistem Non Newton
Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya apakah sesuai dengan hukum aliran dari
newton atau tidak.
C. Penerapan Rheologi Dalam Dunia Farmasi
1. Sifat Rheologi Dalam Suspensi
Viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari
partikelpartikel zat terdispersi perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila
wadahnya dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol dan kualitas penyebaran
dari cairan (lotio) bila digunakan untuk suatu bagian permukaan yang akan diobati.
Pertimbangan rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi.
Satu-satunya shear yang terjadi dalam suatu suspensi pada penyimpanan adalah
lantaran pengendapan dari partikel-partikel yang tersuspensi. Gaya ini diabaikan dan
bisa dibuang. Tetapi jika wadah dikocok dan produk dituang dari botol terdapat laju
shearing yang tinggi. Zat pensuspensi yang ideal harus mempunyai viskositas yang
tinggi pada shear yang dapat diabaikan yakni selama penyimpanan dan zat pensuspensi
itu harus mempunyai viskositas yang rendah pada laju shearing yang tinggi yakni ia
harus bebas mengalir selama pengocokan, penuangan, dan penyebarannya ini.
2. Sifat Rheologi Dalam Emulsi
Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai shear-stress selama
pembuatan atau penggunaanya. Pada kebanyakan proses ini sifat aliran produk akan
menjadi sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada kondisi penggunana
dan pembuatannya. Jadi penyebaran produk dermatologik dan produk kosmetik harus
dikontrol agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Aliran emulsi parenteral melalu
jarum hipodermik, pemindahan suatu emulsi dari botol atau tube dan sifat dari satu
emulsi dalam berbagai proses penggilingan yang digunakan dalam pembuatan produk
ini secara besar-besaran, menunjukkan perlunya karakteristik aliran yang tepat.
Kebanyakan emulsi, kecuali emulsi encer menunjukkan aliran non Newton yang
mempersulit interpretasi data dan perbandingan kuantitatif antara sistem-sistem dan
formulasi-formulasi yang berbeda.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan fase terdispersi meliputi perbandingan
dengan fase terdispers meliputi perbandingan volume fase, distribusi ukuran partikel
dan viskositas dari fase dalam itu sendiri. Jadi, jika konsentrasi volume dari fase
terdispers rendah (kurang dari 0,05), sistem tersebut adalah Newton. Dengan naiknya
konsentrasi volume, sistem tersebut menjadi lebih tahan terhadap aliran dan
menujukkan karekteristik aliran pseudoplastis. Pada konsentrasi yang cukup tinggi,
terjadi aliran plastis. Jika konsentrasi volume mendekati 0,74 mungkin terjadi inversi
dengna berubahnya viskositas secara nyata. Pengurangan ukuran partikel rata-rata akan
menaikkan viskositas. Makin luas distribusi ukuran partikel, makin rendah
viskositasnya jika dibandingkan dengan sistem yang memiliki ukuran partikel rata-rata
serupa tetapi dengan distribusi ukuran partikel yang lebih sempit.
3. Sifat Rheologi Dalam Semisolid
Pembuat salep farmasetik dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan untuk
mengontrol konsistensi bahan non-Newton. Instrumen yang paling baik untuk
menentukan sifat-sifat rheologi dari semisolid di bidang Farmasi adalah viskometer
putar (rotational viscometer). Untuk analisis semisolid yang berbentuk emusi dan
suspensi digunakan cone-plate viscometer. Viscometer Stormer terdiri dari cup yang
stationer dan bob yang berputar, dan alat ini juga baik untuk semisolid.
4. Sifat Aliran Pada Serbuk
Serbuk bulk agak analog dengan cairan non Newton menunjukkan aliran plastik
dan kadang-kadang dilatansi partikel-partikel dipengaruhi oleh gaya tarik menarik
sampai derajat yang bervariasi. Oleh karena itu, serbuk bisa jadi mengalir bebas (free-
flowing) atau melekat. Dalam pengertian khusus yaitu ukuran partikel porositas dan
kerapatan, dan kehalusan permukaan. Sifat-sifat dari zat padat yang menentukan
besarnya interaksi partikel-partikel.
Akan halnya partikel-partikel yang relati kecil (kurang dari 10µm), aliran partikel
melalui lubang dibatasi karena gaya lekat antara partikel besarnya sama dengan gaya
gravitasi. Karena gaya yang terakhir ini merupakan fungsi dari garis tengah yang di
naikkan pangkat tiga, gaya-gaya tersebut menjadi lebih bermakna apabila ukuran
partikel meningkan dan aliran dipermudah. Laju aliran maksimum dicapai setelah aliran
berkurang apabila ukuran partikel mendekati besarnya lubang tersebut. Jika suatu
serbuk mengandung sejumlah partikel-partikel kecil, sifat-sifat aliran serbuk bisa
diperbaiki dengan menghilangkan “fines” atau mengadsorbsinya pada partikel-partikel
yang lebih besar. Kadang kadang, aliran yang jelek bisa diakibatkan karena adanya
kelembapan dalam hal mana pengeringan partikel-partikel akan mengurangi lekatnya
partikel-partikel tersebut.
Partikel-partikel panjang atau plat cenderung untuk mengepak walaupun dengan
sangat longgar sehingga memberikan serbuk yang mempunyai porositas tinggi.
Partikel-partikel dengan kerapatan tinggi dan porositas dalam rendah cenderung untuk
mempunyai sifat-sifat bebas mengalir. Ini dapat dikurangi dengan kasarnya
permukaan, yang cenderung mengakibatkan karakteristik aliran yang jelek disebabkan
oleh gesekan dan kelekatannya.
Serbuk yang mengsalir tidak baik atau granulat memberikan banyak kesulitan
pada industri farmasi. Produksi unit sediaan tablet yang seragam terbukti bergantung
pada beberapa sifat granulat. Jika ukuran granular berkurang, variasi berat tablet pun
berkurang. Variasi berat minimum dicapai pada granul yang mempunyai garis tengah
400 sampai 800 µm. Jika ukuran granul dikurangi lagi, granul mengalir kurang bebas
dan variasi berat granul meningkat. Distribusi ukuran partikel mempengaruhi aliran
dalam dan pemisahan dari suatu granulat.
Klasifikasi serta Karakteristik Rheologi
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi ada 2 yaitu Sistem Newtonian
dan Sistem Non-Newtonian.
1. Sistem Newtonian
Jika bidang cairan paling atas bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap
lapisan di bawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding lurus
dengan jarak dari lapisan dasar yang diam.
2. Sistem Non-Newtonian
Ada 3 jenis tipe aliran dalam sistem Non-Newtonian, yaitu : PLASTIS,
PSEUDOPLASTIS, dan DILATAN.
1. Aliran Plastis
Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress
(atau auakan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke
sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield. Cairan
plastis tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut.
Pada harga stress di bawah harga yield value, zat bertindak sebagi bahan elastis
(meregang lalu kembali ke keadaan semula, tidak mengalir).
U=(F–f)
G
U adalah viskositas plastis, dan f adalah yield value.
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam
suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-
partikel yang berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus
dipecah sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari
kekuatan flokulasi. Makin banyak suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield
value-nya. Kekuatan friksi antar partikel juga berkontribusi dalam yield value. Ketika
yield value terlampaui (shear stress di atas yield value), sistem plastis akan
menyerupai sistem newton.
2. Aliran Pseudoplastis
Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan
sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metil selulosa, dan
natrium karboksimetil selulosa. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-
polimer dalam larutan, hal ini berkebalikan dengan sistem plastis, yang tersusun dari
partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi. Kurva untuk aliran pseudoplastis dimulai
dari (0,0) , tidak ada yield value, dan bukan suatu harga tunggal.
Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear.
Rheogram lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi
shearing terhadap molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang).
Dengan meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang secara normal tidak
beraturan, mulai menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini
mengurangi tahanan dari dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang
lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya.
FN = η’ G
Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga seperti aliran newton. Jika
N=1 aliran tersebut sama dengan aliran newton.
3. Aliran Dilatan
Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat terdispersi
dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir
(viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem
dilatan akan kembali ke keadaan fluiditas aslinya.
Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat tersususn rapat dengan volume
antar partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam suspensi ini
cukup untuk mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan partikel-
partikel bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang rendah.
Pada saat shear stress meningkat, bulk dari system itu mengembang atau memuai
(dilate). Hal itu menyebabkan volume antar partikel menjadi meningkat dan jumlah
pembawa yang ada tidak cukup memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh karena itu
hambatan aliran meningkat karena partikel-partikel tersebut tidak dibasahi atau
dilumasi dengan sempurna lagi oleh pembawa. Akhirnya suspense menjadi pasta yang
kaku.
D. Penerapan Rheologi Dalam Farmasi
1. Cairan dapat diterapkan pada :
a. Pencampuran
b. Pengurangan ukuran partikel dari sistem sistem dispersi dengan shear
c. Pelewatan melalui mulut, penuangan, pengemasan dalam botol, pelewatan
melalui jarum suntik
d. Perpindahan cairan
e. Stabilitas fisik sistem dispersi
2. Semi solid diterapkan pada :
a. Penyebaran dan pelekatan pada kulit
b. Pemindahan dari wadah/tube
c. Kemampuan zat padat untuk bercampur dengan cairan-cairan
d. Pelepasan obat dari basisnya
3. Padatan diterapkan pada :
a. Aliran serbuk dari corong ke lubang cetakan tablet/kapsul
b. Pengemasan serbuk/granul
4. Pemprosesan diterapkan pada
a. Kapasitas produksi alat
b. Efisiensi pemrosesan