PENGELOLAAN KEPERAWATAN RESIKO JATUH PADA LANSIA
DENGAN HIPERTENSI DI PANTI PELAYANAN KESEHATAN
BHISMA UPAKARA PEMALANG
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
Untuk Memenuhi Persyaratan Gelar Ahli Madya Keperawatan
Mela Asfiarni
NIM. 34403716126
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN TEGAL
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
PENGELOLAAN KEPERAWATAN RESIKO JATUH PADA LANSIA
DENGAN HIPERTENSI DI PANTI PELAYANAN KESEHATAN
BHISMA UPAKARA PEMALANG
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
Disusun untuk memenuhi sebagai syarat mata kuliah
Karya Tulis Ilmiah Pada Program Studi D III Keperawatan Tegal
Mela Asfiarni
NIM. 34403716126
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN TEGAL
POLITEKNIKKESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Mela Asfiarni
NIM : 34403716126
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa KTI yang saya tulis ini adalah benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri; bukan merupakan pengambilalihan tulisan
atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya
sendiri.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan laporan pengelolaan
kasus ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tegal , 17 Januari 2019
Yang membuat Pernyataan,
Mela Asfiarni
iii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Proposal Karya Tulis ilmiah Hasil oleh Mela Asfiarni, NIM.34403716126,
dengan Judul Pengelolan Keperawatan Resiko Jatuh pada lansia dengan
Hipertensi di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang ini telah
diperiksa dan disetujui untuk diuji.
Tegal, Maret 2019
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Maria Ulfah, [Link], Ns, [Link] Tinah Purwaaningsih, [Link], M. Kes (Epid)
NIP. 198407292009032006 NIP. 196905281992032008
Tanggal Tanggal
iv
LEMBAR PENGESAHAN
Proposal Karya Tulis Ilmiah oleh Mela Asfiarni, NIM 34403716126, dengan judul
Pengelolaan Keperawatan Resiko Jatuh pada lansia dengan Hipertensi di
Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang ini telah
dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 02 Maret 2019.
Dewan Penguji
Deddy Utomo, [Link], M.H Ketua Penguji (..................)
NIP. 196712281988011002
Maria Ulfah, [Link], Ns, [Link] Anggota (..................)
NIP. 198407292009032006
Tinah Purwaaningsih, [Link], M. Kes (Epid) Anggota (..................)
NIP. 196905281992032008
Mengetahui,
Ketua Program Studi D III Keperawatan Tegal
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Suharto, [Link]., MN.
196605101986031001
v
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat taufik dan hidayahNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul “
PENGELOLAAN KEPERAWATAN RESIKO JATUH PADA LANSIA
DENGAN HIPERTENSI DI PANTI PELAYANAN KESEHATAN BHISMA
UPAKARA PEMALANG”
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari masukan,
arahan, dorongan, dukungan, serta bimbingan yang diberikan oleh banyak pihak,
karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang selalu memberikan kemudahan, kelancaran, dan petunjuk
dalam mengerjakan karya tulis ilmiah ini.
2. Ibu Maria Ulfah, [Link], Ns, [Link] selaku dosen
pembimbing I yang telah membimbing dengan cermat, memberi masukan-
masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi
demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini.
3. Ibu Tinah Purwaningsih, [Link], [Link] (Epid) pembimbing II yang telah
membimbing dengan cermat, memberi masukan-masukan, inspirasi,
perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya
karya tulis ilmiah ini.
4. Bapak Deddy Utomo, [Link], M.H selaku dosen penguji yang memberikan
masukan serta mengarahkan penuls pada penyusunan karya tulis ilmiah ini.
5. Semua Dosen dan Staf Program Studi D III Keperawatan Tegal Politeknik
Kesehatan Kemenkes yang telah memberikan bimbingan dan wawasannya
serta ilmu yang bermanfaat..
6. Orangtua dan keluarga yang selalu ikhlas memberikan kasih sayang,
memberikan inspirasi, materi, do’a dengan penuh kesabaran, memberikan
semangat demi kelancaran, kesuksesan dan kemudahan untuk
menyelesaikan pendidikan.
vi
7. Rekan Para Wanita (Berkah Squad, Wanita Sholehah Squad) yang selalu
membantu dan memberikan semangat dalam penyusunan laporan ini.
8. Teman-teman Program Studi DIII Keperawatan Tegal Politeknik
Kesehatan Kemenkes Semarang dan berbagi pihak yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu yang telah memberikan dukungan.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan
maupun kesehatan.
Tegal, 20 Januari 2019
Mela Asfiarni
DAFTAR ISI
vii
HALAMAN SAMPUL.............................................................................................i
HALAMAN JUDUL...............................................................................................ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN..............................................................iii
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................iv
LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................................v
PRAKATA..............................................................................................................vi
DAFTAR ISI........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL...................................................................................................ix
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................x
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................xi
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Tujuan.......................................................................................................3
C. Manfaat Penulisan.....................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
A. Laporan Pendahuluan Hipertensi...............................................................5
B. Resiko Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi.........................................13
C. Pengelolaan Resiko Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi.....................15
D. Asuhan Keperawatan Resiko JatuhPada Lansia Dengan Hipertensi.......18
1. Pengkajian.........................................................................................18
2. Diagnosa Keperawatan Yang kemungkinan muncul........................21
3. Intervensi atau Rencana Keperawatan untuk mengatasi Resiko Jatuh
..........................................................................................................21
4. Implementasi Keperawatan untuk mengatasi resiko jatuh...............21
5. Evaluasi Keperawatan Resiko Jatuh.................................................22
BAB III METODA................................................................................................23
A. Rancangan Penilitian..............................................................................23
B. Subjek Penelitian....................................................................................23
C. Tempat Dan Waktu.................................................................................24
D. Definisi Operasional...............................................................................24
E. Tekhnik Pengumpulan Data....................................................................25
F. Teknik Analisis Data...............................................................................27
G. Etika Penelitian.......................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Hipertensi berdasarkan umur dan jenis kelamin...........................................7
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Phatway Hipertensi ...................................................................................10
x
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Lembar Penjelanan Pengaruh Latihan Fisik Balance
Exercise
LAMPIRAN 2 Informed Consent
LAMPIRAN 3 Lembar Observasi Pengkajian Keseimbangan Tubuh
LAMPIRAN 4 SOP Pemeriksaan Tekanan Darah
LAMPIRAN 5 SOP Latihan Balance Exercise
LAMPIRAN 6 Lembar Observasi Pengukuran Tekanan Darah
LAMPIRAN 7 Lembar Observasi Latihan Balance Exercise
LAMPIRAN 8 Skala Morse Fall Scale
LAMPIRAN 9 Skala Berg Balance Scale
LAMPIRAN 10 Jadwal Kegiatan Pelaksaan Di Panti Pelayanan Kesehatan
LAMPIRAN 11 Lembar Formulir Pengkajian Gerontik
LAMPIRAN 12 Jadwal Kegiatan
LAMPIRAN 13 Gambar-gambar Latihan Balance Exercise
LAMPIRAN 14 Daftar Riwayat Hidup
LAMPIRAN 15 Lembar Bimbingan
xi
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi secara
alami didalam kehidupan manusia (Komnas Lansia, 2010). Menurut World
Health Organization (2014) proporsi penduduk diatas 60 tahun didunia tahun
2000 sampai 2050 akan berlipat ganda dari 11% sampai menjadi 22% atau
secara absolut meningkat dari 605 juta sampai menjadi 2 milliyar Lansia.
Peningkatan jumlah lansia yang terjadi di Negara Indonesia, presentasi lansia
pada tahun 2011, 2012, dan 2013 telah mencapai diatas 7% dari keseluruhan
penduduk, dengan spesifikasi 13,04% berada di Yogyakarta, 10,04% Jawa
Timur, 10,34% di Jawa Tengah, dan 9,78% berada di Bali (Susenas, 2014).
Hasil Penelitian yang telah dilakukan di BPPLU Kota Bengkulu
Tahun 2017 sebagian besar dari Responden (56,7%) mengalami gangguan
resiko jatuh karena faktor internal, sedangkan (43,3%) yang tidak mengalami.
Penyakit pada lansia dengan gejala khas yaitu multi patologi (lebih
dari satu penyakit), salah satunya yaitu penyakit Hipertensi. Pada lansia
akibat dari penyakit Hipertensi itu sendiri adalah dapat menyebabkan Resiko
Jatuh, karena Lansia mengalami degeneratif : kelemahan pada otot kaki
bawah, gangguan keseimbangan dan gaya berjalan ( Maryam, 2013)
Pada lansia terjadi perubahan komposisi tubuh berupa penurunan
fatree mass atau peningkatan fat mass. Pada proses penuaan presentase masa
otot menurun, sehingga terjadi penurunan kekuatan otot 30-40 %. Kekuatan
muscle strength pada lansia juga berhubungan dengan masalah keseimbangan
sehingga lansia berisiko mudah terjadinya jatuh (Herman, dkk 2011).
Resiko jatuh adalah peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat
menyebabkan bahaya fisik (Heather Herdman, 2010). Jatuh adalah kejadian
yang tidak disadari dimana seseorang terjatuh dari tempat yang lebih tinggi ke
tempat yang rendah yang bisa disebabkan oleh hilangnya kesadaran, karena
1
2
penyakit Stroke dan Hipertensi, beberapa fakor yang mempengaruhi jatuh
menurut (Agustin, 2017) yaitu mobilitas (mobillity), perilaku pengambilan
resiko (risk taking behavior) serta kondisi lingkungan (physical environtment.
Sedangkan menurut (Sabatini dkk,2015), jatuh pada lansia dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu faktor internal dan eksternal.
Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan
psikologis yang paling di takuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang
panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah fraktur
pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak.
Sedangkan dampak dari psikologisnya adalah terjadinya syok setelah jatuh
dan muncul rasa takut jika mengalami jatuh lagi, dapat memiliki konsekuensi
ansietas atau cemas hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam aktivitas
sehari-hari (Stanley 2016). Keselamatan usia lanjut berdampak pada kualitas
hidup, aktivitas sosial, dan ekonomi berupa aktif bermasyarakat serta
menurunkan beban biaya ketergantungan bagi keluarga dan masyarakat
(Agustin dkk,2017).
Terdapat berbagai macam Rencana asuhan keperawatan yang
dilakukan untuk mengatasi masalah resiko jatuh atau untuk mencegah
masalah resiko jatuh pada lansia adalah (kekuatan otot, keseimbangan,
kelenturan), modifikasi lingkungan, medication managemen, koreksi virus,
pemberian vitamin D dan pendidikan kesehatan. Beberapa intervensi tersebut
telah secara luas di uji efektifitasnya dalam mengurangi insiden jatuh atau
menurunkan level resiko jatuh pada lansia (Asih, 2011).
Intervensi atau rencana keperawatan lainnya untuk mengurangi
diagnosis resiko jatuh yaitu indentifikasi defisit kognitif atau fisik klien yang
dapat meningkatkan potensi untuk jatuh dalam lingkungan tertentu,
identifikasi faktor yang mempengaruhi resiko jatuh, identifikasi karakteristik
potensi untuk jatuh misal ( lantai yang licin), sarankan alas kaki yang aman,
serta sediakan kursi dari ketinggian yang tepat dengan sandaran dan sandaran
tangan untuk memudahkan transfer ( Hardhi, 2015).
3
Berdasarkan data, teori dan hasil penelitian tersebut maka penulis
tertarik untuk melakukan pengelolaan keperawatan Resiko jatuh pada Lansia
dengan hipertensi di panti pelayanan kesehatan Bhisma Upakara Pemalang.
Karya tulis ilmiah ini dapat meningkatkan pengetahuan klien dan kesiapan
untuk mengatasi terjadinya jatuh di rumah ataupun di panti pelayanan
kesehatan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menggambarkan asuhan keperawatan resiko jatuh pada lansia
dengan Hipertensi di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara
Pemalang.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan pengkajian asuhan keperawatan resiko jatuh pada
lansia dengan Hipertensi
b. Menggambarkan diagnosis keperawatan asuhan keperawatan resiko
jatuh pada lansia dengan Hipertensi
c. Menggambarkan perencanan asuhan keperawatan resiko jatuh pada
lansia dengan Hipertensi, untuk mengatasi resiko jatuh pada lansia
dengan Hipertensi
d. Menggambarkan tindakan keperawatan asuhan keperawatan resiko
jatuh pada lansia dengan Hipertensi yang dilakukan untuk mengatasi
resiko jatuh pada lansia dengan Hipertensi
e. Menggambarkan evaluasi masalah asuhan keperawatan resiko jatuh
pada lansia dengan Hipertensi.
4
C. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan untuk
meningkatkan pengetahuan terutama dalam pengelolaan keperawatan
resiko jatuh pada lansia dengan Hipertensi
2. Manfaat Praktis
a. Peningkatan pelayanan kesehatan
Hasil penelitian diharapkan memberikan konstribusi dalam
peningkatan kualitas pelayanan asuhan keperawatan khususnya bagi
klien Resiko Jatuh pada lansia dengan Hipertensi.
b. Peningkatan kesehatan masyarakat
Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi dalam
peningkatan status kesehatan melalui upaya promotif khususnya bagi
klien resiko jatuh pada lansia dengan Hipertensi di Panti Pelayanan
Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Laporan Pendahuluan Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu
keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas
normal yang ditunjukkan oleh angka bagian atas (systolic) dan angka
bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat
pengukur tekanan darah baik berupa cuff air raksa (Spygmomanometer )
ataupun alat digital lainnya (Herlambang, 2013).
Tensi (tekanan darah) adalah banyaknya darah yang
dipompakan jantung dikalikan tahanan di pembuluh darah peri!er.
Adapun hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah keadaan ketika
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau
tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmHg dan diastoliknya diatas 90
mmHg (Wijoyo, 2011).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah di atas batas normal yang mengakibatkan
peningkatan angka morbiditas dan angka kematian (mortalitas). Tekanan
yang abnormal tinggi pada pembuluh darah menyebabkan meningkatnya
risiko terhadap Stroke, Gagal jantung, serangan jantung, dan kerusakan
ginjal (Rusdi,et al,2009).
2. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Herlambang (2013) penyakit darah tinggi atau
hipertensi dikenal dengan 2 jenis klasifikasi, diantaranya Hipertensi
primary dan Hipetensi secondary
5
6
a. Hipertensi primary
adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi
sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor
lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan
mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas,
merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah
tinggi. Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan atau
kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan
darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun
mengalami tekanan darah tinggi.
b. Hipertensi secondary
Adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan
darah tinggi sebagai akibat seseorang menderita penyakit lainnya
seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon
tubuh. Sedangkan pada ibu hamil tekanan darah secara umum
meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita
yang berat badannya diatas normal atau gemuk (obesitas). Hipertensi
sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmhg atau lebih,
tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmhg dan tekanan diastolik
masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada
usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang
mengalami kenaikan tekanan darah- tekanan sistolik terus meningkat
sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai
usia55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan
menurun drastis.
7
Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi berdasarkan umur dan jenis kelamin Menurut WHO
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
No Umur
Systol Dyastol Systol Dyastol
1. 11-15 tahun 114 72 109 70
2. 16-20 tahun 115 73 110 70
3. 21-25 tahun 115 73 110 71
4. 26-30 tahun 115 75 112 73
5. 31-35 tahun 117 76 114 74
6. 36-40 tahun 120 80 116 77
7. 41-45 tahun 124 81 122 78
8. 46-50 tahun 128 82 128 79
9. 51-55 tahun 134 84 134 80
10. 56-60 tahun 137 84 139 82
11. 60-65 tahun 148 86 145 83
3. Etiologi
Penyebab Hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah
terjadinya perubahan-perubahan pada (Ritu , 2011)
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena
kurangnya efektifitas pembuluh darah peri!er untuk oksigenasi.
e. Peningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
4. Patofisiologi
8
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ganglia simpatis
di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron peregang lion melepaskan
asetikolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya neropineprin
mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat
sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokintriksi. Medulla
adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks
adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang dapat
menyebabkan menurunkan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan
[Link] merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, Suatu faktor kontrikstor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon
ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan
struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada
lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
9
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi
dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya , aorta dan arteri
besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah
yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan
penurunan curah jantung, peningkatkan tahanan perifer, dan
menyebabkan resiko jatuh. (Rahmawati, 2012).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya ‘’
hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak
dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 2010).
5. Phatway
10
Gambar 2.1
Faktor Resiko
H HT Sekunder
2.
hilangnya Aterosklerosis Penurunan Mual Kurang
elastisitas
3. Relaksasi Muntah Informasi
jaringan Otot
4.
ikat Polos PD intakeinadekuat
Resti Penurunan G3 nutrisi Kurang
Vasokontriksi PD Pengetahuan
Curah Jantung Kurang dari
Kebutuhan
Tahanan tubuh
Curah Jantung menurun perifer
meningkat kelemahan
Penurunan volume
Ekstracell & perfusi Suplay O2 & nutrien
renal Tidak maksimal
Iskemik ginjal Intoleransi aktivitas Defisit Motorik
Renin
Angioten Angioten
sinogen Mekanisme Harapan Persepsi
sinogen 1
koping tidak tidak tidak
ACE efektif terpenuhi realistik
Angiotensin II
(VASOKONTRIKTOR)
Koping individu inefektif
Sekresi Aldosteron
TIO Gangguan
Ion exchange ditubulus ginjal
Meningkat penglihatan
Reabsorbsi Na& Tekanan
Defisit
air Sekresi K intravaskuler
Lapang pandang
meningkat
Peningkatan vol.
Cairan eksracell Tekanan PD G3 rasa RESIKO
6. Manifestasi otak
Peningkatanklinis
TD nyaman JATUH
meningkat
11
Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan
gejala meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan
dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal
sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang
bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang
dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau
menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut (Kristanti, 2013) :
a. Sakit kepala
b. Kelelahan atau kelemahan otot
c. Mual
d. Muntah
e. Sesak nafas
f. Gelisah
Pandangan Menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan
pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat
mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma, karena terjadi
pembengkakan otak. Keadaan ini disebut encefalopati hipertensif, yang
memerlukan penanganan segera. Tanda dan gejala hipertensi dibedakan
menjadi : ( Edward, 2013)
Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa . hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur
Gejala yang lazim
Serimg dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri dan kelelahan yang dapat menyebabkan resiko jatuh.
Dalam kenyataanya ini merupakan gejal terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan lazim.
7. Komplikasi
12
Hipertensi tidak penderitannya, melainkan hipertensi memicu
terjadinya penyakit lain yang tergolong kelas berat alias mematikan.
Laporan Komite Nasional Pencegahan, Deteksi, Evaluasi, dan
penanganan Hipertensi menyatakan bahwa tekanan darah yang tinggi
dapat meningkatkan resiko serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan
gagal ginjal (Wahdah, 2011) dapat secara langsung membunuh.
Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya komplikasi
kardiovaskuler dan masalah utama kesehatan masyaraakat yang tengah
mengalami transisi sosial ekonomi. Dibandingkan dengan individu yang
mengalami tekanan darah normal. Penerita hipertensi memiliki resiko
terserang jantung koroner 2 kali lebih besar dan risiko yang lebih tinggi
untuk terserag stroke. Apabila tidak diobati, kurang lebih setengah dari
penderita hipertensi akan meninggal akibat penyakit jantung dan sekitar
33% akan meninggal akibat stroke sementara 10 sampai 15% akan
meninggal akibat gagal ginjal. Oleh sebab itu pengontrolan tekanan darah
merupakan hal sangat penting (Junaidi, 2010).
8. Faktor Resiko
Menurut Fauzi (2014) tekanan darah tinggi memiliki beberapa
faktor resiko antara lain :
a) Resiko tekanan darah tinggi meningkat sesuai dengan faktor usia.
b) Ras dan suku bangsa juga berhubungan dengan resiko hipertensi
c) Latar belakang keluarga
d) Keletihan berat badan atau obesitas
e) Tidak aktif secara fisik, denyut jantung orang-orang yang tidak aktif
cenderung lebih tinggi. Sehingga semakin keras jantung harus bekerja
dengan setiap kontraksi dan semakin kuat gaya pada arteri.
Kekurangan aktifitas fisik juga meningkatkan resiko kelebihan berat
badan.
f) Merokok, terlalu mengkonsumsi garam
13
B. Resiko Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi
1. Pengertian Resiko Jatuh
Resiko jatuh adalah peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat
menyebabkan bahaya fisik (Heather Herdman, 2010).
2. Faktor Resiko Jatuh pada Lansia
Beberapa faktor resiko jatuh yang dapat meningkatkan jatuh pada
lansia berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :
a. Faktor intrinsik, yang meliputi :
1) Fisiologis
a) Gangguan keseimbangan
b) Kesulitan gaya berjalan
c) Gangguan mobilitas fisik
d) Kesulitan melihat
e) Vertigo saat menolehkan lehar
2) Kognitif
a) Penurunan status mental
b. Faktor ekstrinsik, yang meliputi :
1) Lingkungan fisik
a) Lantai licin
b) Pencahayaan yang redup
c) Medan atau lantai yang tidak rata
2) Alat bantu gerak
a) Protesis ekstremitas bawah
b) Penggunaan alat bantu (misalnya : walker atau tongkat)
c) Penggunaan kursi roda
3) Medikasi
a) Anti hipertensi
b) Diuretik
c) Anti ansietas (Heather,Herdman. 2010)
14
3. Masalah Kesehatan yang Lazim Terjadi pada Lansia
Menjadi tua bukanlah suatu penyakit atau sakit, tetapi suatu proses
perubahan dimana kepekaan bertambah atau batas kemampuan
beradaptasi berkurang/menurun sehingga lansia akan mengalami masalah
kesehatan yang sering diderita dan ditemukan dimana beberapa masalah
tersebut yaitu :
a. Imobilisasi
b. Instabilisasi (mudah jatuh)
c. Intelektualitas terganggu (demensia)
d. Isolasi (depresi)
e. Inkontinensia
f. Impotensi
g. Imunodefisiensi
h. Infeksi mudah terjadi
i. Impaksi (konstipasi)
j. Insomnia
k. Gangguan pada (impairment of) ;
1) Penglihatan
2) Pendengaran
3) Penciuman
4) Komunikasi
5) Integritas kulit
6) Inaniation (malnutrisi).
4. Dampak Jatuh pada Lansia
Jatuh pada lanjut usia merupakan masalah yang sering
[Link] multi-faktor. Banyak yang berperan didalamnya,
baik faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Misalnya : gangguan gaya
berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, dan sinkope
atau pusing. Kejadian jatuh pada yang di alami lansia biasanya akan
menimbulkan komplikasi-komplikasi (Azizah, 2011)
15
Jika lansia mengalami jatuh tentu akan menimbulkan masalah
baru dan berdampak pada kesehatan lansia itu sendiri akibt dari jatuh
adalah cidera kepala, cidera jaringan lunak, dan fraktur. Komplikasi dari
fraktur jika tidak ditangani dengan cepat akan menimbulkan dekubitus
akibat tirah baring yang berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena
dalam, embol, infeksi pneumonia atau infeksi saluran kencing akibat
tirah baring lama, gangguan nutrisi lainnya (Ariawan, 2010)
5. Pencegahan Jatuh pada Lansia
Lanjut usia harus dicegah agar tidak jatuh dengan cara
mengidentifikasi resikojatuh menilai, dan mengawasi keseimbangan dan
gaya berjalan, mengatur serta mengatasi faktor situasional. Metode yang
baik dan sederhana yang digunakan untuk mencegah kemungkinan jatuh
pada klien lanjut usia adalah dengan menggunakan metode
keseimbangan Berg atau Berg Balance Scale (BBS) mengukur
keseimbangan statis dan dinamik secara objektif yang terdiri dari 14 item
tugas keseimbangan (balance teks) yang umum dalam kehidupan sehari-
hari (Eka Ediawati, 2012).
C. Pengelolaan Resiko Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi
1. Cara Mengidentifikasi Resiko Jatuh pada Lansia
Dalam mengatasi masalah jatuh yang sering di derita lansia,
sebelum melakukan pencegahan terlebih dulu mengidentifikasi
kemungkinan yang dapat menyebabkan jatuh. Ada bebearapa metode
instrumen yang digunakan dalam mengidentifikasi resiko jatuh
diantaranya :
a. Metode penilaian keseimbangan Morse Fall Scale (MFS) dengan
menggunakan 6 item penilaian (Balance teks). Interpretasi score :
1) MFS 0-24 = memiliki resiko jatuh tidak ada sehingga yang
diperlukan hanya perawatan dasar baik.
16
2) MFS 25-50 = memiliki resiko jatuh rendah dan perlu melakukan
pencegahan sekunder.
3) MFS 51 keatas = memiliki resiko jatuh tinggi dan perlu melakukan
pencegahan jatuh tinggi.
b. Metode penilaian keseimbangan Berg Balance Scale (BBS) dengan
menggunakan14 item penilaian (Balance test). Interpetasi score :
1) BBS 0-20 = harus memakai kursi roda
2) BBS 21-40 = berjalan dengan memerlukan bantuan
3) BBS 41-56 = mandiri/independent (Eka Ediawati, 2012).
Dalam skala Berg terbagi atas dua item test skala Berg yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi keseimbangan yaitu
menggunakan item pertanyaan nomor: (1) duduk ke berdiri, (2) berdiri
tanpa penunjang, (3) duduk tanpa penunjang, (4) berdiri ke duduk, (6)
berdiri dengan mata tertutur (7) berdiri dengan kaki rapat, (9) mengambil
barang dari lantai dan (10) menoleh ke belekang. Dimana kemampuan
keseimbangan adalah kemampuan seseorang (lansia) untuk dapat berada
pada posisi yang seimbang saat berada pada posisi duduk, bangkit dari
posisi duduk, posisi berdiri ke duduk, dan posisi berputar yang diukur
dengan test keseimbangan pada skala Berg. Serta untuk mengidentifikasi
kemampuan berjalan yaitu menggunakan item pertanyaan nomor : (5)
transfer, (8) menjangkau ke depan dengan tangan, (11) berputar 360 (12)
menempatkan kaki bergantian dibangku, (13) berdiri dengan satu kaki
didepan dan (14) berdiri dengan satu kaki. Dimana kemampuan berjalan
adalah ke kemampuan seseorang (lansia) dalam melakukan fungsi
berjalan yang meliputi kemampuan untuk memulai melangkah,
mengangkat kaki, melangkah dengan keseimbangan yang diukur dengan
menggunakan skala keseimbangan Berg.
2. Intervensi atau rencana keperawatan
Untuk mengurangi diagnosis resiko jatuh yaitu indentifikasi defisit
kognitif atau fisik klien yang dapat meningkatkan potensi untuk jatuh
dalam lingkungan tertentu, identifikasi faktor yang mempengaruhi resiko
17
jatuh, identifikasi karakteristik potensi untuk jatuh misal ( lantai yang
licin), sarankan alas kaki yang aman, serta sediakan kursi dari ketinggian
yang tepat dengan sandaran dan sandaran tangan untuk memudahkan
transfer ( Hardhi, 2015), lakukan latihan fisik Balance Exercise.
Latihan Balance Exercise adalah merupakan aktivitas fisik yang
dilakukan untuk meningkatkan kestabilan tubuh dengan meningkatkan
kestabilan kekuatan otot ekstremitas bawah. (Maryam, et,al2010)
mengatakan bahwa latihan keseimbangan efektif dalam meningkatkan
keseimbangan fungsional dan statis, mobility dan menurunkan frekuensi
terjatuh pada lansia.
3. Penatalaksanaan
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis
penatalaksanaan (Ni Kadek, et al, 2014) :
a) Penatalaksanaa Non Farmakologis
(1) Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB
dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan
aktivitas renin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
(2) Aktivitas
Disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti,
berjalan, jogging, dan bersepeda.
b) Penatalaksanaan Farmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pemberian atau pemilihan obat antihipertensi yaitu :
(1) Mempunyai efektivitas yang tinggi
(2) Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal
(3) Memungkinkan penggunaan obat secara oral
(4) Tidak menimbulkan intoleransi
(5) Harga obat relative murah sehingga memungkinkan untuk klien
18
Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Golongan obat-obatan yang
diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretik,
golongan betabloker, golongan antagonis kalsium, golongan penghambat
konversi rennin angitensin.
D. Asuhan Keperawatan Resiko JatuhPada Lansia Dengan Hipertensi
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipneu
b. Sirkulasi
Tanda : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup, dan penyakit cebrocaskuler, episode
Gejala : palpasi
kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,
radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi
vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin
(Vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin
lambat/tertunda.
c. Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stres
d. Eliminasi
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue
perhatian, tangisan meledak, otot muka tegang,
pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau
gejala : riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu.
e. Makanan atau cairan
gejala : makanan yang disukai yang mencakup makanan yang
tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual muntah, dan
perubahan BB akhir ini (meningkat/turun), riwayat
19
pengguanaan diuretik.
tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya edema,
glikosuria.
f. Neurosensori
gejala : (saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah
beberapa jam) Gangguan penglihatan.
Tanda : status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi
bicara, efek, proses fikir, penurunank ekuatan
genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyamanan
gejala : Angina (Penyakit arteri jantung koroner), sakit kepala.
h. Pernafasan
gejala : Dispnea, riwayat rokok
Tanda : Distres pernafasan penggunaan otot aksesori pernafasan
bunyi nafas tambahan ( mengi/ wheezing).
i. Keamanan
gejala : gangguan cara berjalan yang dapat menyebabkan resiko
jatuh
j. Pembelajaran/ penyuluhan
gejala : faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis,
penyakit jantung, DM, Penggunaan alkohol.
Rencana : Bantuan dengan pemantau diri TD
pemulangan perubahan dalam terapi obat.
k. Sistem Neurologis
Perubahan pada sistem neurologis diantaranya adalah
penurunan berat otak, aliran darah ke otak dan berkurangnya neuron.
Perubahan anatomis tersebut menyebabkan lansia kehilangan memori,
menjadi lambat dalam bereaksi, masalah keseimbangan dan gangguan
tidur(Mauk, 2010; Wallace, 2008). Perubahan sistem saraf pada lansia
mempengaruhi sistem organ lainnya. Perubahan sistem saraf di otak
berpengaruh pada stabilitas tubuh (Mauk, 2010). Perubahan pada saraf
motorik mengakibatkan perubahan dalam reflek, kerusakan kognitif
dan emosi, serta penurunan jumlah sel otot yang dapat mengakibatkan
kelemahan otot. Perubahan pada sistem saraf pusat mempengaruhi
proses komunikasi dan sistem organ lain seperti sistem penglihatan,
20
vestibuler dan propiosepsi (Digiovanna, 2000 dalam Mauk, 2010).
l. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
(1) HB/HT : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap
volume cairan (viskositas) dan dapat mengidikasikan faktor
resiko seperti : anemia, hipokoagulabilitas.
(2) BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi atau
fungsi ginjal.
(3) Glucosa : hiperglikemia (DM pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
(4) Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi
ginjal dan ada DM.
(5) CT SCAN : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
(6) EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
(7) IUP : Mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti :
Batu ginjal, perbaikan ginjal.
(8) Photo Dada: Menunjukan destruksi klasifikasi pada area katup
pembesaran jantung.
2. Diagnosa Keperawatan Yang kemungkinan muncul
a. Curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
b. Vasokontriksi, hipertropi/ rigiditas ventrikular, iskemia miokard.
c. Resiko jatuh berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimabnagn
suplai dan kebutuhan oksigen
d. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan vaskuler
cerebral
e. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan
afinitas HB oksigen, penurunan konsentrasi HB, hipervolemia,
21
hipoventilasi, gangguan transport O2, Gangguan aliran arteri dan
Vena.
3. Intervensi atau Rencana Keperawatan untuk mengatasi Resiko
Jatuh
a. Identifikasi perilaku dan faktor resiko jatuh
b. identifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan
potensi untuk jatuh (misalnya, lantai licin dan tangga terbuka)
c. bantu ke toilet sesering kali
d. Sediakan pegangan tangan Pelatihan keseimbangan
e. dorong pasien untuk menggunakan tongkat atau alat bantu berjalan
f. mantau kemampuan untuk mentransfer
g. mantau kemampuan berjalan
h. berikan pencahayaan yang memadai
i. Sediakan permukaan nonslip/anti tergelincir dan sebagainya
j. identifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang dapat
Meningkatkan potensi jatuh dalam lingkungan tertentu.
k. Ajarkan Latihan Fisik balance exercise
4. Implementasi Keperawatan untuk mengatasi resiko jatuh
a. Mengidentifikasi perilaku dan faktor resiko jatuh
b. Mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan
c. potensi untuk jatuh (misalnya, lantai licin dan tangga terbuka)
d. Membantu ke toilet sesering kali
e. Menyediakan pegangan tangan Pelatihan keseimbangan
f. Mendorong pasien untuk menggunakan tongkat atau alat bantu
berjalan
g. Memantau kemampuan untuk mentransfer
h. Memantau kemampuan berjalan
i. Memberikan pencahayaan yang memadai
j. Menyediakan permukaan nonslip/anti tergelincir dan sebagainya
k. Mengidentifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang dapat
Meningkatkan potensi jatuh dalam lingkungan tertentu
22
l. Mengajarkan Latihan Fisik balance exercise
(Heather Herdman, 2010).
5. Evaluasi Keperawatan Resiko Jatuh
a. Meminimalkan terjadinya resiko jatuh pada lansia di Panti Pelayanan
kesehatan Bhisma Upakara Pemalang
b. Mampu melakukan aktifitas sehari-hari tanpa menyebabkan
terjadinya jatuh
c. Komplikasi dapat dihindari
d. Memahami cara perawatan dirumah maupun di panti pelayanan
kesehatan
BAB III
METODA
A. Rancangan Penilitian
Penulisan Karya Tuls Ilmiah ini menggunakan pendekatan studi
[Link] kasus ini bertujuan untuk melakukan pengelolaan asuhan
keperawatan resiko jatuh pada lansia dengan hipertensi di Panti Pelayanan
Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang dengan menggunakan Penerapan
metode Barthel Indeks Berg dan Morse Fall Scale guna mengurangi resiko
jatuh pada lansia di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang.
B. Subjek Penelitian
Penelitian ini mengambil 2 klien dengan diagnosa yang sama yaitu
pengelolaan keperawatan resiko jatuh pada lansia dengan Hipertensi.
Dengan kriteria :
1. Kriteria inklusi yang ditetapkan penelitian dalam memilih sampel
penelitian ini adalah :
a. Lansia ≥ 60 tahun yang tinggal di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma
Upakara Pemalang
b. Bersedia menjadi responden untuk diwawancarai dan dilakukan
penilaian keseimbangan dengan menandatangani informed consent
yang diberikan.
c. Dapat berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia.
d. Tidak memiliki masalah neuropsikologis yang berat sehingga
mengganggu proses wawancara Lansia yang tidak berada di Ruang
perawatan khusus.
23
24
2. Kriteria Eksklusi
a. Semua lansia yang tidak terjadi resiko jatuh di Panti Pelayanan
Kesehatan Bhisma Upakara Semarang
b. Tidak bersedia dan mengisi informed consent yang ditandatangani
responden.
C. Tempat Dan Waktu
1. Tempat atau lokasi intervensi dilakukan di Panti Pelayanan Kesehatan
Bhisma Upakara Pemalang sesuai dengan data penempatan Seminat
Program Studi D III Keperawatan Tegal Politeknik Kesehatan Kemenkes
Semarang Tahun 2019.
2. Waktu intervensi dimulai dari tanggal 1 April 2019 sampai 21 April
2019.
D. Definisi Operasional
1. Lansia adalah tahapan dimana seorang individu berada pada usia 60
tahun atau lebih, yang berada di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma
Upakara Pemalang
2. Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (hypertension) adalah suatu
keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas
normal yang ditunjukkan oleh angka bagian atas (systolic) dan angka
bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat
pengukur tekanan darah baik berupa cuff air raksa (Spygmomanometer)
ataupun alat digital lainnya (Herlambang, 2013).
3. Resiko jatuh adalah peningkatan kerentanan untuk jatuh pada lansia yang
dapat menyebabkan bahaya fisik. disebabkan oleh faktor intrinsik dan
ekstrinsik yang dengan kategori keseimbangan duduk, keseimbangan
berdiri, keseimbangan kemampuan bergerak atau berpindah dan
keseimbangan berotasi atau berputar. Dan diukur dengan menggunakan
skala keseimbangan Berg.
25
Kategori :
a. 0 - 20 = Harus memakai kursi roda (wheelchair bound).
b. 21-40 = Berjalan dengan bantuan.
c. 41-56 = Mandiri/Independent.
Kriteria objektif :
a. Tidak beresiko jatuh jika responden mendapat skor 41-56\
b. Beresiko jatuh jika responden mendapat skor <40
E. Tekhnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan dengan
cara observasi, wawancara, pengukuran Morse fall scale dan Barthel berg
scale, dokumentasi dengan cara mengguanakan format pengkajian gerontik
dan pemeriksaan fisik..
1. Jenis data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh penulis
langsung dari sumber data atau klien (Supardi & Rustika, 2013 ). Data
primer didapatkan yaitu hasil pengkajian kepada klien, meliputi :
identitas klien, riwayat kesehatan klien, pola aktifitas sehari-hari, dan
pemeriksaan fisik pada klien.
b. Data Sekunder
Data sekunder yang diambil dari rekam medis yang tersimpan
di Panti Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang.
2. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penulisan ini dilakukan dengan cara
observasi wawancara, pengukuran Morse fall scale dan Barthel berg,
dokumentasi dengan cara menggunakan format pengkajian gerontik dan
pemeriksaan fisik.
26
Langkah-Langkah pengumpulan data yang digunankan
a. Data Sekunder
1) Penulis melakukan kegiatan PBK seminat gerontik di Panti
Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang
2) Penulis mendapatkan izin oleh kepala di Panti Pelayanan
Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang untuk membaca Rekam
medik
3) Penulis mendapatkan data Penderita Hipertensi pada lansia
4) Penulis memilih klien sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi
b. Data Primer
1) Penulis melakukan kegiatan PBK seminat gerontik di Panti
Pelayanan Kesehatan Bhisma Upakara Pemalang.
2) Klien diberi penjelasan mengenai karya tulis ilmiah
3) Penulis meminta persetujuan Klien
4) Informed Consent diberikan kepada klien
5) Klien diberikan kesempatan untuk bertanya
6) Penulis Meminta waktu klien untuk melakukan pengkajian
menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan gerontik
7) Penulis melakukan pemeriksaan fisik dengan metode Head to toe
(pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan tekanan darah, nadi,
pemeriksaan fisik pada kepala, mata, hidung, telinga, leher,
jantung, dan ekstremitas)
8) Penulis melakukan intervensi, implementasi dan evaluasi pada
klien, kemudian penulis melakukan terminasi.
Proses Keperawatan Yang dilakukan penulis adalah
1) Penulis melakukan pengkajian kepada Klien menggunakan format
pengkajian gerontik dan melakukan pemeriksaan fisik
2) Penulis merumuskan diagnosa keperawatan yang muncul pada
klien
3) Penulis Membuat perencanaan asuhan keperawatan yang akan
diberikan kepada klien
27
4) Penulis melakukan implementasi keperawatan pada klien
5) Penulis mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan
pada klien
6) Penulis mendokumentasikan proses asuhan keperawatan yang
diberikan pada klien mulai dari melakukan pengkajian sampai
pada evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
Data yang ditemukan saat pengkajian dikelompokkan dan dianalisis
berdasarkan data subjektif dan data objektif, sehingga dapat dirumuskan
diagnosa keperawatan, selanjutnya penulis menentukan prioritas masalah,
kemudian menyusun rencana keperawatan dan melakukan implementasi serta
evaluasi keperawatan. Analisis selanjutnya membandingkan asuhan
keperawatan yang akan dilakukan pada klien dengan teori-teori yang ada
serta peneliti-peneliti yang telah dilakukan sebelumnya.
G. Etika Penelitian
Menurut (Nursalam, 2009) prinsip etika menjelaskan bahwa data
dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu sebagai berikut :
1. Prinsip Manfaat
Penelitian dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada subjek,
selain itu peneliti berhati-hati dalam mempertimbangkan resiko dan
keuntungan yang akan berakibat kepada subjek dalam setiap tindakan.
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini diantaranya, meningkatkan
kekuatan otot terutama ekstremitas gerak bawah dan menstabilkan
keseimbangan tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya resiko jatuh.
2. Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human Dignity)
28
Subjek diperlakukan secara manusiawi yang mempunyai hak untuk
memutuskanbersedia menjadi subjek atau tidak, tanpa adanya sanksi
sedikitpun yang dapat mengganggu subjek tersebut.
Calon subjek akan diberikan lembar penjelasan terkait prosedur penelitian
atau intervensi yang akan dilakukan yaitu Balance Exercise yang isinya
terdapat keuntungan dilakukan tindakan atau dilakukannya intervensi
tersebut, dan informasi lengkap tentang intervensi tersebut. Kemudian
calon subjek akan diberikan lembar Informed Consent, calon subjek
berhak menyetujui dengan menandatangani Lembar Informed Consent
tersebut ataupun menolaknya.
Sebagai privasi untuk klien, penulis tidak mencantumkan nama asli klien
tetapi hanya menggunakan inisial. Dan sebagai kerahasiaanuntuk klien,
penulis merahasiakannya dengan adanya rekam medik klien, yang hanya
boleh dibuka oleh TIM Medis.
3. Keadilan (Righ To Juctice)
Subjek dilakukan secara adil, baik sebelum, selama dan sesudah
keikutsertaan dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi. Intervensi yang
akan diberikan antara subjek penelitian yang pertama dan kedua
diberlakukan sama.
29
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,S. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: EGC
Asih, W 2011, ‘ Falls prevention framework for older people living in the
community in Indonesia’, Proceeding 1 international Nursing Conference
2011: Nursing research innovation and international collaboration. ISSN :
2088-9763 hal 37-46.
Azizah. (2011). Keperawatan Lanjut Usia: Yogyakarta: Graha Ilmu.
Badan Pusat Statistik. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009, Jakarta : KOMNAS
LANSIA . 2010.
Badan Pusat Statistik. (2009). Survei sosial ekonomi Nasional (Susenas) Tahun
(2014). BPS: Jakarta
Darmojo, [Link]. (2010). Geriatri (ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Jakarta:
FKUI.
Departemen Kesehatan RI. 2012. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit
Hipertensi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Fadila. 2013. Buku Ajar Keperawatan [Link] :Nuha Medika (http//
[Link] lansia 2014-2015. Com). Fatimah. 2010. Merawat Manusia
Lanjut Usia Suatu Pendekatan Proses KeperawatanGerontik. Jakarta : TIM
Fauzi. I. 2014. Buku Pintar Deteksi Dini Gejala Dan Pengobatan Hipertensi.
Yogyakarta: Arazka
Herdman,T., Heather. 2010. Nanda International Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : EGC
Herlambang. 2013. Menaklukkan Hipertensi. Tugu Publisher: Yogyakarta
Jaimel. 2007. Asuhan Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta : EGC
Junaedi, E. 2013. Hipertensi Kandas Berkat Herbal. Jakarta Selatan
30
Kemenkes. RI. 2010. Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas
Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Komunitas
Komisi Nasional Lanjut Usia, Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Jakarta :
Komnas Nasional Lanjut Usia : 2010
Kristanti, H. 2013. Mencegah dan Mengobati 11 penyakit Kronis: Citra Pustaka
Yogyakarta
Kushariyadi. 2011. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta :
Salemba Medika
Maryam, R.S. 2011. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta :Salemba
Medika Maryam. [Link] Kuesioner : from : URL:
Http://[Link]/2012/09/16/instrumenobservasiskala-
keseimbangan-berg/instrumen-observasi. keseimbangan-berg/ diakses pada
tanggal 02 februari 2017. Notoatmodjo,S. 2010. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Renika Cipta
Maryam, S. M. (2009). Pengaruh Keseimbangan Fisik Terhadap Keseimbangan
Tubuh Lansia, di akses pada tanggal 19 Januari
[Link]:[Link]/ejournal/[Link]/ilmukeperawata
n/ article/view/167.
Rineka Cipta Data Panti Sosial Tresna Werdha Minaula Kota Kendari.
2016. Data Jumlah lansia dan penyakit Lansia PSTW Minaula Kecamatan
Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan 2016.
Mauk, K. L. Gerontological Nursing Competencies For Care (2nd ed). Sudburry:
Janes and Barierr Publisher. 2010
Ni Kadek, et al.2014. Pengaruh Kombinasi Jus Seledri, wortel dan madu
Terhadap Hipertensi Di wilayah Kerja Puskesmas II Denpasar Barat.
Artikel Penelitian, Stikes Bina Husada
Nugroho, W. (2010). Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC
Rahmawati, R. 2012. Pengaruh Kombinasi Jus Seledri, wortel dan madu
Terhadap Penurunan Tingkat Hipertensi Pada klien Hipertensi. Gresik
(skripsi) From:[Link] diakses pada Tanggal 17 februari
2019.
31
Ritu Jain. 2011. Pengobatan Alternatif untuk mengatasi penurunan tekanan
darah. Jakarta: EGC
Rusdi, Nurlaela Isnawati. 2009. Awas Anda Bisa Mati Cepat Karena Hipertesi.
Yogyakarta: Powerbooks publishing.
Sabatini S, Kusuma H, Tambunan L. Faktor eksternal resiko jatuh Lansia; studi
empiris. Temu ilmiah IPLBI, Manado 30-31 oct 2015.p 1-5.
Suryono, 2010. Metodelogi PenelitianKesehatan Pemanfaat Bagi Peneliti
Pemula. Yogyakarta : Mitra Cendi Kapre
Supardi, Sudibyo & Rustika. 2013. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : TIM
Wijoyo, P. M. 2011. Rahasia Penyembuhan Hipertensi Secara Alami. Bee Media
Agro: Jakarta
World Health Organization. WHO Global Report On Falls Prevention in Older
Age: WHO press. 2014
LAMPIRAN
Lampiran 1
PENJELASAN PENERAPAN TERAPI
LATIHAN FISIK BALANCE EXERCISE
Judul Kegiatan : Pengelolaan Keperawatan Resiko Jatuh Pada Lansia
Dengan Hipertensin Di Panti Pelayanan Kesehatan
Upakara Bhisma Upakara Pemalang.
Nama : Mela Asfiarni
NIM : 34403716126
Saya, mahasiswa Program Diploma III Keperawatan Tegal
Poltekkes Kemenkes Semarang, bermaksud menerapkan hasil pengelolaan tentang
penerapan terapi latihan fisik Balance Exercise untuk mengatasi terjadinya Resiko
Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi selama di Panti Pelayanan Kesehatan
Bhisma Upakara Pemalang, maka bersama ini kami jelaskan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Tujuan kegiatan ini adalah mengatasi terjadinya Resiko Jatuh Pada Lansia,
meningkatkan keseimbangan statis, dinamis, dan aktivitas keseimbangan
fungsional melalui peregangan dan kekuatan. Selain itu, balance exercise
juga menimbulkan kontraksi otot pada lansia yang dapat mengakibatkan
peningkatan serat otot sehingga komponen sistem metabolisme fosfogen,
termasuk ATP dan fosfokreatin yang dapat meningkatkan kekuatan otot
pada lansia sehingga terjadi peningkatan keseimbangan dan mencegah
terjadinya resiko jatuh.
- 2. Kegiatan yang dilakukan adalah partisipan akan di ukur terlebih dahulu
tekanan darah, Berg Balance Scale, Morse Fall Scale, dan Pengkajian
observasi Keseimbangan tubuh sebelum dilakukan intervensi, kemudian
partisipan akan diberikan terapi latihan fisik balance exercise selama
Latihan dilakukan 2 hari sekali Lama latihan dilakukan selama 25 menit,
dengan pemanasan 5 menit, dan latihan 20 menit.
3. Kegiatan ini tidak boleh dilakukan untuk lansia yang sudah terjadi Fraktur,
dan kegiatan ini tidak akan berpengaruh negatif kepada partisipan. Bila
mengalami ketidaknyamanan, partisipan mempunyai hak untuk
menghentikan tindakan dan mendapatkan pelayanan keperawatan dari
tenaga kesehatan lainnya. Saya menghargai keinginan partisipan untuk tidak
melanjutkan kegiatan.
4. Saya akan menjamin kerahasiaan dan yang diperoleh dari Bapak/Ibu
Sebagai partisipan selama kegiatan berlangsung.
Lampiran 2
Lembar Informed
SURAT PERMOHONAN
Saya bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Mela Asfiarni
NIM : 34403716126
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Desa Harjawinangun 04, Kecamatan Balapulang, Kabupaten
Tegal
Bermaksud akan melakukan pengelolaan keperawatan dengan judul
“Pengelolan Keperawatan Resiko Jatuh Pada Lansia Dengan Hipertensi di Panti
Pelayanan Kesehatan Bisma Upakara Pemalang”. Adapun tujuan pengelolaan
keperawatan ini yaitu untuk mengurangi terjadinya jatuh yang menyebabkan
cidera. Pengelolaan ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi Anda
sebagai responden.
Untuk itu saya mohon kesediaan menjadi responden dalam pegelolaan
keperawatan ini kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan dipergunakan untuk
kepentingan pengelolaan. Jika bersedia menjadi responden, mohon untuk
menandatangani lembar persetujuan yang telah disediakan.
Demikian informasi pengelolaan ini saya buat, atas perhatian dan
kesediannya menjadi responden saya ucapkan terima kasih.
Hormat Saya
Mela Asfiarni
Lembar Informed
SURAT PERSETUJUAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Alamat :
Menyatakan bersedia menjadi subjek (responden) dalam pengelolaan dari :
Nama : Mela Asfiarni
NIM : 34403716126
Program Studi : Program Studi D III Keperawatan Tegal Politeknik
Kesehatan Kemenkes Semarang.
Setelah mendapat keterangan seukupnya serta mengetahui tentang manfaat
pengelolaan yang berjudul “Pengelolan Keperawatan Resiko Jatuh Pada Lansia
Dengan Hipertensi di Panti Pelayanan Kesehatan Bisma Upakara Pemalang”.
Dengan ini saya menyatakan bersedia/tidak bersedia untuk ikut serta sebagai
responden dalam pengelolaan ini.
Tegal, April 2019
Peneliti Responden
Mela Asfiarni ( )
NIM.34403716126
Keterangan :
*)Coret yang tidak perlu
Lampiran 3
PENGKAJIAN KESEIMBANGAN UNTUK LANSIA
Lembar Observasi Keseimbangan Tubuh
Nama Klien : Tanggal :
Jenis Kelamin : Umur : Tahun
Agama : BB/TB :
Alamat :
Komponen Utama Langkah-langkah Kriteria Nilai
Dalam Bergerak
A. Perubahan 1. Bangun dari kursi 1. Tidak Bangun dari
posisi atau tempat duduk dengan
gerakkan satu gerakkan, tetapi
keseimbangan mendorong tubuhnya
keatas dengan tangan
atau bergerak kedepan
kursi terlebih dahulu,
tidak stabil pada saat
berdiri pertama kali
2. Duduk Ke kursi 2. Menjatuhkan diri ke
kursi, duduk ditengah
kursi
3. Menahan dorongan 3. Pemeriksa mendorong
dari sternum sternum (perlahan-lahan
sebanyak 3 kali), klien
menggerakkan kaki
memeganggang objek
untuk dukungan, kaki
tidak menyentuh sisi-
sisinya.
4. Bangun dari kursi 4. kriteria sama dengan
kriteria untuk mata
terbuka.
5. Duduk Ke kursi 5. kriteria sama dengan
kriteria untuk mata
terbuka
6. Menahan dorongan 6. kriteria sama dengan
dari sternum kriteria untuk mata
terbuka
7. Perputaran Leher 7. menggerakkan kaki
memeganggang objek
untuk dukungan, kaki
tidak menyentuh sisi-
sisinya, keluhan vertigo,
pusing atau keadaan
tidak stabil.
8. Gerakan 8. Tidak mampu untuk
Menggapai sesuatu menggapai sesuatu
dengan bahu fleksi max,
sementara berdiri pada
ujung-ujung jari kaki
tidak stabil, memegang
sesuatu untuk dukungan.
9. Membungkuk 9. Tidak mampu
membungkuk untuk
mengambil objek-objek
kecil dari lantai,
memegang objek untuk
bisa berdiri, memerlukan
usaha-usaha multiple
untuk bangun.
B. Gaya berjalan/ 10. Minta klien 10. Ragu-ragu, tersandung,
bergerak Berjalan ke memegang objek untuk
tempat yang dukungan
ditentukan
11. Ketinggian 11. Kaki tidak naik dari
langkah kaki lantai secarakonsisten
(saat berjalan) (menggeser atau
menyeret kaki),
mengangkat kaki terlalu
tinggi (>50 cm)
12. Kontinuitas 12. Setelah langkah-langkah
Langkah kaki awal, langkah menjadi
(diobservasi dari tidak konsisten,
samping klien) memulai mengangkat
satu kaki sementara
yang lain menyentuh
tanah.
13. Kesimetrisan 13. Tidak berjalan pada
langkah garis Lurus,
(diobservasi dari bergelombang dari sisi
samping klien) ke sisi.
14. Penyimpangan 14. Tidak berjalan pada
jalur pada saat garis Lurus,
berjalan bergelombang dari sisi
(diobservasi dari ke sisi.
belakang klien)
15. Berbalik 15. Berhenti sebelum
terbalik, jalan
sempoyongan,
bergoyang, memegang
objek untuk dukungan.
Keterangan :
Intervensi Hasil :
0-5 : Resiko Jatuh Rendah
6-10 : Resiko Jatuh Sedang
11- 15 : Resiko Jatuh Tinggi
Lampiran 4
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)
PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH TINGGI
Pemeriksaan Tekanan Darah
Pengertian Tata cara mengukur tekanan darah dengan menggunakan
tensimeter untuk mengetahui ukuran tekanan darahklien.
Tujuan Sebagai acuan untuk mengetahui hasil tekanan darah.
Kebijakan/dasar 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Hukum kesehatan
2. PERMENKES Nomor 128 Tahun2004 Tentang
kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
3. PERMENKES Nomor 741 Tahun 2008 Tentang
Sistem dan Pelayanan Minimal
4. PERMENPAN DAN RB Nomor 35 Tahun 2012
Tentang Standar Operasional Administrasi
Pemerintahan
Referensi 1. Drijen Bina Upaya Kesehatan. (2014). Pedoman
penyusun Dokumen Akreditasi FKTP. Jakarta
Perlengkapan 1. Stetoskop
(alat dan bahan) 2. Tensimeter
3. Buku catatan/ Register klien
4. Alat Tulis
Prosedur 1. Memberi Tahu klien
2. Lengan Baju Dibuka atau digulung
3. Manset tensimeter dipasang pada lengan atas
dengan pipa karetnya berada disisi luar tangan
kira-kira 3 jari dari fosfa cubiti
4. Pompa tensimeter dipasang
5. Denyut Arteri Brachialis diraba lalu stetoskope
ditempatkan pada daerah tersebut
6. Sekrup balon karet ditutup, pengunci air raksa
dibuka, selanjutnya balon dipompa sampai denyut
arteri tidak terdengar lagi dan air raksa didalam
pipa gelas naik
7. Sekrup balon dibuka perlahan-lahan sambil
memperhatikan turunnya air raksa, dengarkan
bunyi denyutan pertama dan terakhir
8. Hasil dicatat dibuku bantu catatan klien
Lampiran 5
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)
LATIHAN FISIK BALANCE EXERCISE UNTUK MENINGKATKAN
STATUS KESEIMBANGAN FUNGSIONAL PADA LANSIA
1. Pengertian Balance exercise adalah latihan khusus untuk
membantu meningkatkan kekuatan otot pada
anggota gerak bawah dan sistem vestibular
atau keseimbangan tubuh (Jowir, 2012).
2. Tujuan Balance exercise bertujuan untuk
meningkatkan keseimbangan statis, dinamis,
dan aktivitas keseimbangan fungsional
melalui peregangan dan kekuatan. Selain itu,
balance exercise juga menimbulkan
kontraksi otot pada lansia yang dapat
mengakibatkan peningkatan serat otot
sehingga komponen sistem metabolisme
fosfogen, termasuk ATP dan fosfokreatin
yang dapat meningkatkan kekuatan otot pada
lansia sehingga terjadi peningkatan
keseimbangan dan mencegah terjadinya
resiko jatuh.
3. Indikasi Lansia berusia >60 tahun yang mengalami
gangguan keseimbangan atau beresiko tinggi
cedera/jatuh.
4. Alat/bahan dan - Kursi dengan/tanpa pegangan lengan atau
ketentuan latihan tempat tidur
- Latihan dilakukan 2 hari sekali
- Lama latihan dilakukan selama 25 menit,
dengan pemanasan 5 menit, dan latihan
20 menit
5. Persiapan tempat Dapat dilakukan di panti pelayanan
kesehatan
6. Persiapan klien - Beri salam dan perkenalkan diri
- Identifikasi identitas klien
- Jelaskan tujuan tindakan intervensi
- Jelaskan langkah-langkah intervensi yang
akan dilakukan
- Jelaskan lama intervensi
- Atur tempat dan kenyamanan posisi klien
7. Cara kerja 1. Lakukan pemanasan terlebih dahulu
selama 5 menit dengan memutar telapak
kaki searah jarum jam dan sebaliknya.
Lakukan hal yang sama pada kaki
lainnya.
2. Berdiri tegak dengan salah satu tangan
berpegangan pada kursi Lakukan
gerakan angkat tumit kaki/plantar ke atas
(berdiri dengan ujung kaki)
dilakukan sebanyak 10 kali, lalu
istirahatkan sebentar
3. Lakukan gerakan angkat lutut ke atas
tanpa menggerakkan atau menekuk
pinggang dilakukan sebanyak 10 xkali,
lalu istirahatkan sebentar
4. lakukan gerakan kaki kanan ke belakang
dan kaki kiri juga sebanyak 10 kali, lalu
istirahatkan sebentar
5. lakukan gerakan lutut kanan kearah
belakang sehingga kaki kanan terangkat
dibelakang tubuh lalu sebaliknya, lalu
istirahatkan sebentar
6. lakukan gerakan kaki kanan kearah
samping (sampai pinggang dalam
keadaan lurus). Dilakukan sebanyak 10
x. Lalu kembali keposisi semua.
8. Tahap terminasi dan 1. Evaluasi kenyamanan klien dan sesudah
evaluasi tindakan
2. Buat kontrak untuk pertemuan
selanjutnya
3. Mengakhiri pertemuan dengan baik.
9. Sumber 1. Meylisa, A. (2012). Pengaruh balance
exercise terhadap peningkatan status
keseimbangan fungsional
2. Astriyana, Sevy. (2012). Pengaruh latihan
keseimbangan terhadap penurunan resiko
jatuh pada lansia
3. Jaquish, Denlevy, Carter. Cawthorne’s
Head Exercise Patient Instruction.
Pasadena ENT & Allergy, 1-2.
4. Geriatrics. Strenght and Balance
Exeecisec. The U.S National Institute of
Health National Intitute on Aging,
Centers For Disease Control.
Lampiran 6
LEMBAR OBSERVASI PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH
1. Minggu Pertama
Tanggal
No Nama Klen
1. Klien 1
2. Klien 2
2. Minggu Kedua
Tanggal
No Nama Klen
1. Klien 1
2. Klien 2
Lampiran 7
LEMBAR OBSERVASI PENGUKURAN
BBS DAN MFS
1. Minggu Pertama
NO Hari/ Nama klien Sebelum intervensi Sesudah intervensi
Tanggal (Balance Exercise) (Balance Exercise)
BBS MFS BBS MFS
1. Klien 1
2. Klien 2
2. Minggu kedua
NO Hari/ Nama klien Sebelum intervensi Sesudah intervensi
Tanggal (Balance Exercise) (Balance Exercise)
BBS MFS BBS MFS
1. Klien 1
2. Klien 2
Lampiran 8
PENILAIAN KLIEN RESIKO JATUH ( MORSE FALL SCALE)
No Risiko Skor Tanggal
1. Mempunyai riwayat jatuh, baru atau dalam
3 bulan terakhir
( ) Tidak 0
( ) Ya 25
2. Diagnosis Sekunder >1
( ) Tidak 0
( ) Ya 25
3. Ambulasi Berjalan
( ) Bedrest/dibantu perawat 0
( ) Penyangga/tongkat/walker/ 15
threepot/kursi roda
( ) Mencengkeram Furniture 30
4. Terpasang iv line/pemberian heparin/obat
lain yang digunakan mempunyai efek
samping jatuh
( ) Tidak 0
( ) Ya 20
5. Cara Berjalan/berpindah
( ) Normal/bedrest/imobilisasi 0
( ) kelelahan dan lemah 10
( ) keterbatasan/terganggu 20
6. Status Mental
( ) Normal/sesuai kemampuan diri 0
( ) Lupa keterbatasan diri/penurunan 15
kesadaran
Total Skor
Keterangan :
Skor 0-24 : Tidak berisiko
Skor 25-50 : Risiko Rendah
Skor >50 : Risiko Tinggi
Lampiran 9
BERG BALANCE SCALE
Nama Klien : Tanggal :
Jenis Kelamin : Umur : Tahun
Agama : BB/TB :
Alamat :
BBS adalah merupakan skala untuk mengukur keseimbangan statis dan
dinamic secara objektif, yang terdiri dari 14 item tugas keseimbangan (balance
task) yang umum dalam kehidupan sehari-hari.
No Item Keseimbangan Skor (1-4)
1. Duduk Ke berdiri 1. Perlu asisten sedang atau maksimal
untuk berdiri
2. Perlu bantuan minimal untuk berdiri
atau menstabilkan
3. Mampu beriri menggunakan tangan
setelah mencoba
4. Mampu berdiri secara independen
menggunakan tangan
5. Dapat berdiri tanpa mengguankan
tangan dan menstabilkan independen
2 Berdiri tanpa 1. Tidak dapat berdiri secara mandiri
penunjang selama 30 detik
2. Membutuhkan beberapa waktu untuk
mencoba berdiri 30 detik yang tidak
dibantu
3. Dapat berdiri 30 detik yang tidak
dibantu
4. Mampu berdiri 2 menit dengan
pengawasan
5. Dapat berdiri dengan aman selama 2
menit
3 Duduk tanpa 1. Tidak dapat duduk tanpa penunjang
penunjang 2. Bisa duduk 10 detik
3. Mampu duduk selama 30 detik
4. Bisa duduk 2 menit dengan pengawasan
5. Bisa duduk dengan aman dan aman
selama 2 menit
4 Berdiri ke duduk 1. Kebutuhan membantu untuk duduk
2. Duduk secara independen tetapi
memiliki keturunan yang tidak
terkendali
3. Menggunakan punggung kaki terhadap
kursi untuk mengontrol posisi turun
4. Mengontrol posisi turun dengan
menggunakan tangan
5. Duduk dengan aman dengan
menggunakan minimal tangan
5 Transfer 1. Membutuhkan dua orang untuk
membantu atau mengawasi
2. Membutuhkan satu orang untuk
membantu
3. Dapat mentransfer dengan pengawaan
4. Dapat mentransfer kebutuhan yang
pasti aman dari tangan
5. Dapat mentransfer aman dengan
penggunaan ringan tangan
6 Berdiri dengan mata 1. Membutuhkan bantuan agar tidak jatuh
tertutup 2. Tidak dapat menjaga mata tertutup 3
detik tapi tetap aman
3. Mampu berdiri 3 detik
4. Dapat berdiri 10 detik dengan
pengawasan
5. Dapat berdiri 10 detik dengan aman
7 Berdiri dengan kaki 1. Memerlukan bantuan untuk mencapai
rapat posisi dan tidak dapat tahan selama 15
detik.
2. Memerlukan bantuan untuk mencapai
posisi tapi mampu berdiri 15 detik kaki
bersama-sama
3. Mampu menempatkan kaki bersama-
sama secara mandiri tetapi tidak dapat
tahan selama 30 detik
4. Mampu menempatkan kaki bersama-
sama secara independen dan berdiri 1
menit dengan pengawasan
5. Mampu menempatkan kaki bersama-
sama secara independen dan berdiri 1
menit aman.
8 Menjangkau kedepan 1. Kehilangan keseimbangan ketika
dengan tangan mencoba/ memerlukan dukungan
eksternal
2. Mencapai kedepan tetapi membutuhkan
pengawasan
3. Dapat mencapai kedepan 5 cm (2 inci)
4. Dapat mencapai kedepan 12 cm (5 inci)
5. Dapat mencapai kedepan dengan
percaya diri 25 cm(10 inci)
9 Mengambil barang 1. Tidak dapat mencoba/memerlukan
dari lantai kebutuhan untuk menjaga dari
kehilangan keseimbangan/jatuh
2. Tidak dapat mengambi dan
memerlukan pengawasan ketika
mencoba
3. Tidak dapat mengambil tetapi mencapai
2-5 cm (1-2 inci) dari sandal dan
keseimbangan secara bebas
4. Dapat mengambil sandal tetapi
membutuhkan pengawasan
5. Dapat mengambil sandal aman dan
mudah
10 Menoleh kebelakang 1. Butuh bantuan untuk menjaga dari
kehilangan keseimbangan atau jatuh
2. Perlu pengawasan saat memutar
3. Hanya menyamping tetapi tetap
mempertahankan keseimbangan
4. Tampak belakang satu sisi saja sisi lain
menunjukan pergeseran berat badan
kurang
5. Tampak belakang dari kedua sisi dan
berat bergeser baik
11 Berputar 360 derajat 1. Membutuhkan bantuan saat memutar
2. Membutuhkan pengawasan dengan
ketat atau dengan lisan
3. Mampu berputar 360 derajat dengan
aman tetapi perlahan-lahan
4. Mampu berputar 360 derajat dengan
aman satu sisi hanya 4 detik atau
kurang
5. Mampu berputar 360 derajat dengan
aman dalam 4 detik
12 Menempatkan kaki 1. Membutuhkan bantuan agar tidak
bergantian di bangku jatuh/tidak mampu untuk mencoba
2. Dapat menyelesaikan >2 langkah perlu
asisten minimal
3. Dapat menyelesaikan 4 langkah tanpa
bantuan dengan pengawasan
4. Mampu berdiri secara independen
dengan aman dan menyelesaikan 8
langkah dalam >20 detik
5. Mampu berdiri secara independen
dengan aman dan menyelesaikan 8
langkah dalam 20 detik
13 Berdiri dengan satu 1. Kehilangan keseimbangan saat
kaki didepan melangkah atau berdiri
2. Kebutuhan membantu untuk melangkah
tapi dapat menyimpan 15 detik
3. Dapat mengambil lagkah kecil secara
mandiri dan tahan 30 detik
4. Mampu menempatkan kaki depan
independen dan tahan 30 detik
5. Mampu menempatkan tandem kaki
secara independen dan tahan 30 detik
14 Berdiri dengan satu 1. Tidak dapat mencoba kebutuhan
kaki membantu untuk mencegah jatuhnya
2. Mencoba untuk angkat kaki tidak bisa
tahan 3 detik tetapi tetap berdiri secara
independen
3. Mampu mengangkat kaki secara
independen dan tahan > 3 detik
4. Mampu mengangkat kaki secara
independen dan tahan 5- 10 detik
5. Mampu mengangkat kaki secara
independen dan tahan > 10 detik
TOTAL SCORE
0-20 : Harus memakai kursi roda (Wheelchair Bound)
21-40 : Berjalan dengan bantuan
41-56 : Mandiri/ Independen
Lampiran 10
JADWAL KEGIATAN PELAKSANAAN
DI PANTI PELAYANAN KESEHATAN
1. Minggu Pertama (Bulan Maret)
No Kegiatan Tanggal
1 2 3 4 5 6 7
1. Pengukuran
Tekanan Darah
2. Latihan Balance
Exercise
2. Minggu Kedua (Bulan Maret)
No Kegiatan Tanggal
8 9 10 11 12 13 14
1. Pengukuran
Tekanan Darah
2. Latihan Balance
Exercise
Keterangan :
1. Pengukuran Tekanan Darah Dilakukan Setiap Hari
2. Latihan Balance Exercise Dilakukan 2 Hari Sekali
Lampiran 11
FORMULIR PENGKAJIAN GERONTIK (INDIVIDU)
TANGGAL PENGKAJIAN:
ALAMAT :
I. IDENTITAS KLIEN
Nama : (L/P)
Umur :
Alamat Rumah :
Agama :
Status Perkawinan :
PendidikanTerakhir :
Pekerjaan :
II. ALASAN KUNJUNGAN KE PANTI
III. RIWAYAT KESEHATAN
Masalah Kesehatan:
- Yang pernah dialami : _________________________________
- Yang dirasakan saat ini :
IV. KEBIASAAN SEHARI-HARI
A. Biologis:
1. Pola makan : __________________________________________
2. Pola minum :__________________________________________
3. Pola tidur : ___________________________________________
4. Pola eliminasi (BAB/BAK) :_____________________________
5. Aktivitas sehari – hari :__________________________________
6. Rekreasi : ____________________________________________
B. Psikologis
1. Keadaan Emosi :
C. Sosial
1. Dukungan Keluarga:
2. Hubungan antar keluarga :
3. Hubungan dengan orang lain :
D. Spiritual
1. Pelaksanaan Ibadah :
2. Keyakinan tentang kesehatan :
V. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda Vital :
a. Keadaan Umum :
b. Kesadaran :
c. Nadi : TD: P:
d. Suhu : TB: BB:
2. Kebersihan perorangan :
a. Kepala
- Rambut :
- Mata :
- Hidung :
- Mulut :
- Telinga :
b. Leher :
3. Dada / Thorax :
- Dada :
- Paru – paru :
- Jantung :
4. Abdomen :
5. Muskuloskletal :
VI. INFORMASI PENUNJANG
1.
Analisa Data
Data Penunjang Masalah Etiologi
Subjektif : ................................
...........................
Objektif :
Subjektif: .................................
.........................
Objektif:
Dst
VII. DAFTAR MASALAH
VIII. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan
NO [Link] Tujuan dan kriteria intervensi
hasil
IX. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO Hari/Tanggal/Jam Implementasi Respon Paraf
X. EVALUASI KEPERAWTAN
NO Evaluasi Paraf
S:
O:
A:
P:
Tegal, 2018
Mahasiswa
Lampiran 12
JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan minggu ke- Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Tahap persiapan
2 Persetujuan judul dan
Mencari referensi
3 Pembuatan BAB I dan BAB II
4 Studi Kasus di Panti Werdha
5 Konsul BAB I dan BAB II
6 Pembuatan BAB III
7 Konsul BAB I, II dan III
8 Persetujuan Proposal Penelitian
9 Sidang Proposal
10 Revisi BAB I,II dan III
11 Mulai Penerapan penelitian
12 Ujian latihan seminat
Lampiran 13
CONTOH GAMBAR LATIHAN BALANCE EXERCISE
1. 2.
3.
4 5.
Lampiran 14
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. BIODATA
1. Nama Lengkap : Mela Asfiarni
2. NIM : 34403716126
3. Tempat Lahir : Tegal
4. Tanggal Lahir : 19 Mei 1998
5. Jenis Kelamin : Perempuan
6. Alamat Rumah :
a. Jalan : Desa Dukuh Petir
b. Kelurahan : Harjawinangun
c. Kecamatan : Balapulang
d. Kab/Kota : Kabupaten Tegal
e. Provinsi : Jawa Tengah
7. Telepon
a. Rumah : -
b. HP : 085326783807
c. E-mail : mellaasfiarni@[Link]
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Pendidikan SDN SESEPAN 02 Kab. Tegal
2. Pendidikan MTS N AL-MUAWANAH Kab. Tegal
3. Pendidikan SMK WICAKSANA A-HIKMAH 02 Sirampog Brebes
Tegal, 23 Februari 2019
Mela Asfiarni
34403716127