Identitas buku
Judul : Persona
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal : 244 Halaman
Tema: Kesepian, kehilangan.
Sinopsis:
Azura adalah gadis SMA yang suka menyanyat tangannya sendiri dengan mini
cutter ketika suara pertengkaran kedua orang tuanya terdengar. Sejak kecil, ia
tidak pernah benar-benar memiliki seorang teman. Karena ia rasa memiliki
keluarga saja sudah lebih dari cukup. Namun, semuanya berubah ketika
pertengkaran Mama dan Papa kala itu. Sejak pertengkaran itu, Mama memilih
bekerja sedangkan Papa sudah tidak lagi mengantar dan menjemputnya ke
sekolah. Dunia berubah. Mereka berdua sering pulang larut malam dan bertemu
hanya untuk bertengkar. Lalu pagi itu, Azura bertemu dengan lelaki blasteran
jepang yang mengaku anak baru di kelas XI MIPA 3. Dan itu kelas Azura. Nama
lelaki itu adalah Altair. Lelaki itu selalu mengganggunya, baik untuk menanyakan
pelajaran ataupun menjahilinya. Bahkan ketika Azura pergi ke perpustakaan di
istirahat pertama –rutinitas Azura-- untuk membaca buku sekaligus
memperhatikan Kak Nara –Kakak kelas yang pernah membantunya-- bermain
bola dari kaca perpustakaan, Altair mengikuti Azura. Azura sedikit kesal kepada
Altair, waktu yang biasanya dihabiskan sendiri kini dihancurkan oleh Altair. Azura
bahkan sempat mengatakan kata-kata yang sedikit kasar. Hanya kau
menganggapku temanmu, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku.
Begitu kata Azura. Namun, mereka kembali akur dan sering menghabiskan bekal
—tentu saja bekal Azura—bersama. Seiring berjalannya waktu, rahasia yang
dirahasiakan Mama Papanya perlahan terungkap, dan Altairlah tempat Azura
bercerita. Sejak kedatangan Altair, Azura tidak pernah lagi mengiris tangannya
dengan mini cutter. Bahkan sejak kedatangan Altair, rasanya –kagum atau suka
mungkin?—kepada Kak Nara menyurut. Namun tiba-tiba ketika Azura mulai
menyukai Altair, ia malah menghilang. Tidak ada pengumuman dari sekolah,
bahkan teman-temannya seperti biasa saja. Altair menghilang bak ditelan bumi.
Bertahun-tahun Altair menghilang, dan kini Azura sudah memiliki kawan baru –
dan mungkin satu-satunya—bernama Yura. Yura anak yang baik, ia berada di
fakultas arsitektur, sedangkan Azura di fakultas sastra inggris. Meskipun berbeda
fakultas, namun mereka berusaha menyempatkan waktu bersama di kantin.
Sampai akhirnya, Yura mengajak Azura main ke rumahnya. Betapa terkejutnya
Azura ketika tahu bahwa abang Yura adalah, Kak Nara. Azura sempat bercerita
tentang Kak Nara dan Altair juga masa SMAnya. Namun, Azura tidak pernah
menceritakan masalah keluarganya kepada Yura. Di rumah, Azura juga
dikenalkan Yura kepada Ibu, Ayah, juga Bara—Adik Yura dan Kak Nara--. Azura
setahun lebih cepat wisuda dibanding dengan Yura, namun Mama tidak bisa
datang, makanya Yura menjadi pengganti Mama, tak disangka-sangka Yura juga
mengajak kak Nara. Lalu suatu malam, Yura melihat Mamanya membawa lelaki
lain dan bercumbu mesra – meskipun Mama tidak tahu kalau Azura melihatnya
—Azura kacau, ia kembali mengiris pergelangan tangannya, seperti waktu itu.
Azura meminta tolong kepada Yura, supaya malam ini Azura diizinkan menginap
di rumahnya. Tentu saja, sahabat baiknya itu mengizinkan. Namun, ketika
mengetuk-ngetuk pintu rumah Yura, Azura merasa kepalanya sangat pusing, tak
lama setelah itu Ia tidak sadarkan diri di bawah pangkuan Kak Nara. Sejak saat
itu, Azura menceritakan masalah keluarganya kepada Yura. Dan tentunya, Yura
meminta Ibu untuk mengizinkan Azura menginap di rumah ini untuk beberapa
hari. Dan Ibu setuju, apalagi setelah mendengar cerita Yura, namun Ibu juga
harus menceritakan hal ini kepada orang rumah lainnya. Tentu saja semua orang
rumah jadi tahu. Dan itu tidak menjadi masalah untuk Azura, karena memang
mereka berhak tahu. Lalu di malam itu, Ibu menyuruh Yura dan Azura membeli
baju – tentu saja untuk Azura dan tentu saja memakai uang ibu.—Di tempat
perbelanjaan itu, Azura melihat Altair, ia tenang seperti tidak ada beban.
Sedangkan Azura menuntut penjelasan. Meski hasilnya nihil. Sejak saat itu,
mereka kembali dekat, dan di saat awan berkabut di kota Palangka raya, Azura
mengajak Altair untuk berpiknik, tentu saja dengan menikmati omelet yang
Azura buat seperti masa SMA. Altair mengiyakan. Azura pergi diantar Yura dan
Kak Nara, ketika sampai di Tugu Soekarno – tempat janjian Azura dan Altair—
Altair belum sampai. Ia masih dalam perjalanan. Yura dan Kak Nara bersikeras
akan menunggu Azura di mobil sampai Altair datang, namun sampai Altair
datangpun mobil hitam milik Kak Nara masih belum pergi. Setelah kejadian itu,
Yura, Kak Nara, Ibu, Bara, bahkan Ayah bertingkah aneh. Dari mulai menanyakan
di mana rumah Altair, apakah Azura pernah bertemu orangtuanya Altair, bahkan
berbagai pertanyaan lainnya. Bahkan, ibu juga menyuruh Azura untuk mengajak
Altair makan siang. Namun,tak disangka-sangka kejadian tak terduga terjadi.
Tentang Kak Nara dan Yura yang tidak melihat Altair ketika piknik waktu itu –
mereka hanya melihat Azura tertawa sendiri--, juga nomor telepon Altair yang
ternyata nomor telepon Azura sendiri. Dan setelah itu, Dokter Bima –dokter
psikolog sekaligus teman Ayah—mendiagnosa kalau Azura mengidap Skizofrenia
atau berhalusinasi. Dan mereka bilang, Altair tidak nyata.
Tokoh dan penokohan
1.) Azura (protagonis) : Pendiam, senang memasak, suka membaca komik
manga.
2.) Altair (protagonis) : Perhatian, jail, suka membaca komik manga.
3.) Kak Nara (protagonis) : Perhatian, pintar, jago bermain sepak bola.
4.) Yura (protagonis) : Cerewet, perhatian, ssering membantu ibu, jago
menggambar.
5.) Mama (protagonis>antagonis) : Perhatian, penyayang, pekerja keras, mudah
terpengaruhi.
6.) Papa (antagonis>protagonis) : Kasar,playboy, egois, perhatian.
7.) Ibu (protagonis) : Perhatian, penyayang.
8.) Ayah (protagonis) : Peduli, berwibawa, pendiam.
9.) Bara (protagonist) : Tidak banyak bicara, perhatian.
Latar
1.) Tempat: Rumah Azura, perpustakaan, mall, taman, Tugu Soekarno, kampus,
Rumah Yura, rumah sakit.
2.) Waktu : Pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari.
3.) Suasana : Menegangkan, bahagia, menyedihkan, mengerikan.
Alur cerita
1.) Awal cerita : Dimulai dengan pertengkaran Mama dan Papa yang membuat
Azura mengiris tangannya yang keesokkan harinya ia tutup dengan handband.
Lalu pertemuan pertama mereka – Azura dan Altair—hingga akhirnya mereka
berteman baik. Segala masalah yang Azura hadapi, akan ia ceritakan kepada
Altair.
2.) Masalah mulai muncul: Azura harus menerima kenyataan bahwa Azura
adalah anak dari hasil hubungan di luar nikah antara Mama dan Papa. Di kala
itu, mini cutter bukan lagi menjadi pelarian atas kekecewaan Azura. Ia punya
Altair untuk bercerita, Altair membuat perasaan Azura kepada Kak Nara
menyurut. Dan Azura malah berbalik menyukai Altair.
3.) Masalah semakin memuncak : Lalu, ketika Azura mulai menyukai Altair, Altair
malah menghilang. Tidak ada jejak sama sekali.
4.) Klimaks : Lalu tiba-tiba Altair kembali, dan mendadak Yura menjadi sosok
yang sedikit menyebalkan –karena ia peduli--. Hari ke hari sikap Yura, Kak Nara,
Ayah, Ibu, Bara, semakin aneh. Mereka terus menerus menanyakan Altair. Dan
terjadilah insiden gebrak meja di ruang makan –yang melakukan ini Kak Nara--,
Kak Nara menjelaskan bahwa Yura dan Kak Nara sama sekali tidak melihat siapa-
siapa di Tugu Soekaro kemarin, mereka hanya melihat Azura tertawa sendiri.
Dan, Azura harus dihadapkan dengan kenyataan pahit, jika Altair memang tidak
nyata. Dan Azura didiagnosis mengidap Skizofrenia atau halusinasi.
s5.) Penyelesaian/akhir cerita : Lama kelamaan Azura bisa mulai menerima
keadaan, kehidupan keluarganya juga semakin membaik. Walaupun Papanya
sudah memiliki keluarga baru, setidaknya Azura masih memiliki Mamanya.
Penyebab konflik : Pertengkaran Mama dan Papanya yang tidak mengenal
tempat dan keadaan.
Akibat dari terjadinya konflik : Azura menyakiti dirinya sendiri dan berharap ia
memiliki saudara atau pacar yang bisa mengertinya – seperti di komik-komik
manga—dan datanglah Altair yang kata mereka tidak nyata. Lalu kata Dokter
Bima Azura didiagnosis mengidap Skizofrenia.
Amanat
-Pertengkaran orang tua seharusnya tidak diketahui oleh anak, karena dapat
mengganggu psikis anak.
- Kita harus merangkul teman kita yang kesepian maupun yang mengalami
masalah.
- Jangan merasa kalau kita cuman menghadapi masalah sendiri, ada orang-orang
yang ada buat kita. Tentunya, untuk membantu.
Majas
1.) Majas Simile/Asosiasi : Kalimat Altair seperti selimut hangat yang
membungkusku dalam udara dingin.
2.) Majas Personifikasi : Angin berembus, membawa aroma aspal dari jalan yang
terpanggang.
3.) Majas Sinestesia : Aku tersenyum kecut.
Ulasan : Gaya bahasa yang dipakai mudah dipahami dan juga mampu
menghidupkan tokoh terasa lebih nyata. Namun di beberapa paragraf ada
narasi yang terlalu bertele-tele. Alurnya benar-benar tidak bisa ditebak. Dan
cerita ini cocok untuk para remaja kecuali remaja yang tidak suka cerita berbau
self harm.
Kesan : Alurnya tidak bisa ditebak dan membuat para pembaca merasakan
perasaan yang campur aduk. Entah penasaran, menegangkan, bingung, ataupun
rasa-rasa lainnya yang bersatu dan berkecamuk.
Mengaitkan hal-hal yang ada pada buku dengan kehidupan sehari-sehari:
- Nilai moral