0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
458 tayangan20 halaman

Hipnoterapi dalam Keperawatan Indonesia

Hipnoterapi adalah teknik terapi pikiran menggunakan hipnosis untuk menyelesaikan masalah klien. Hipnoterapi merupakan salah satu terapi komplementer yang membantu terapi medis dengan membimbing pasien ke kondisi relaksasi untuk menerima sugesti.

Diunggah oleh

Mahendra Mahendra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
458 tayangan20 halaman

Hipnoterapi dalam Keperawatan Indonesia

Hipnoterapi adalah teknik terapi pikiran menggunakan hipnosis untuk menyelesaikan masalah klien. Hipnoterapi merupakan salah satu terapi komplementer yang membantu terapi medis dengan membimbing pasien ke kondisi relaksasi untuk menerima sugesti.

Diunggah oleh

Mahendra Mahendra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

HYPNOSIS DALAM KEPERAWATAN

NAMA KELOMPOK :

1. KADEK MAHENDRA PRASETIA ADINATA (P07120217023)


2. KETUT HERMAWAN (P07120217024)
3. NI LUH GEDE DIPA LINDAYANI (P07120217025)

D-IV KEPERAWATAN / SEMESTER VI / TINGKAT 3

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami selaku penulis dapat
menyusun makalah ini yang berjudul "HYPNOSIS DALAM KEPERAWATAN" tepat
pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu
dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan
untuk penyempurnaan makalah.

Denpasar, 01 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
A. Definisi Hipnoterapi..............................................................................3
B. Sejarah Hipnoterapi...............................................................................4
C. Hipnoterapi Modern..............................................................................5
D. Hipnoterapi sebagai Terapi komplementer dan Alternatif....................6
E. Proses Hipnoterapi................................................................................6
F. Syarat-Syarat Melakukan Hipnoterapi..................................................9
G. Tahapan Hipnoterapi...........................................................................10
H. Manfaat Hipnoterapi...........................................................................11
I. Kontraindikasi Hipnoterapi.................................................................12
J. Efek Samping Hipnoterapi..................................................................13
K. Fakta Hipnoterapi................................................................................14
L. Aplikasi Dalam Keperawatan.............................................................14
BAB III PENUTUP............................................................................................................16
A. Simpulan.............................................................................................16
B. Saran....................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terapi Alternatif Komplementer tidak dapat dipungkiri telah memberi
manfaat bagi peningkatan kesehatan masyarakat, baik di Indonesia, maupun di
negara-negara lain.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan Komplementer
Alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya Promotif, Preventif,
Kuratif dan Rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan
kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional.
Jenis pelayanan pengobatan Komplementer Alternatif berdasarkan
Permenkes RI, Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah : 1) Intervensi tubuh dan
pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi, meditasi, penyembuhan
spiritual, doa dan yoga, 2) Sistem pelayanan pengobatan alternatif : Akupuntur,
akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, Ayurveda, 3) Cara penyembuhan
manual : Chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut, 4)
Pengobatan farmakologi dan biologi : Jamu, herbal, dan gurah, 5) Diet dan nutrisi
untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient, mikro nutrient, 6) Cara
lain dalam diagnosa dan pengobatan : Terapi ozon, Hiperbarik, EECP.
Hipnotherapi sebagai salah satu jenis Terapi Komplementer Alternatif telah
terbukti memiliki beragam kegunaan untuk mengatasi berbagai permasalahan
yang berkenaan dengan emosi dan perilaku. Bahkan beberapa kasus medis serius
seperti kanker dan serangan jantung, hipnotherapi mempercepat pemulihan
kondisi seorang penderita.
Hal ini sangat dimungkinkan karena hipnotherapi diarahkan untuk
meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan
individu terhadap penyakit yang dideritanya. Hipnoterapi sangat berguna dalam
mengatasi beragam kasus berkenaan dengan berbagai gangguan emosional,
seperti: kecemasan, ketegangan, depresi, phobia, dendam, sifat pemarah, malas,

1
kurang percaya diri, juga dapat membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk
seperti ketergantungan alkohol dan zat adiktif lainnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Definisi hipnoterapi?
2. Bagaimanakah Sejarah hipnoterapi?
3. Bagaimanakah Hipnoterapi modern?
4. Bagaimanakah Hipnoterapi sebagai terapi komplementer dan alternative?
5. Bagaimanakah Proses hipnoterapi?
6. Apasajakah Syarat-syarat melakukan hipnoterapi?
7. Bagaimanakah Tahapan hipnoterapi?
8. Apasajakah Manfaat hipnoterapi?
9. Apasajakah Kontraindikasi hipnoterapi?
10. Apakah Efek samping dari hipnoterapi?
11. Apakah Fakta dari hipnoterapi?
12. Bagaimanakah Aplikasi dalam keperawatan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi hipnoterapi
2. Untuk mengetahui Sejarah hipnoterapi
3. Untuk mengetahui Hipnoterapi modern
4. Untuk mengetahui Hipnoterapi sebagai terapi komplementer dan alternative
5. Untuk mengetahui Proses hipnoterapi
6. Untuk mengetahui Syarat-syarat melakukan hipnoterapi
7. Untuk mengetahui Tahapan hipnoterapi
8. Untuk mengetahui Manfaat hipnoterapi
9. Untuk mengetahui Kontraindikasi hipnoterapi
10. Untuk mengetahui Efek samping hipnoterapi
11. Untuk mengetahui Fakta hipnoterapi
12. Untuk mengetahui Aplikasi dalam keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hipnoterapi
Kata "hypnosis" pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang
dokter ternama di Inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa
James Braid, hypnosis dikenal dengan nama Mesmerism atau Magnetism. Di
Indonesia, hypnosis disebut dengan hipnotis, hipnotisme atau hipnosis.
Definisi hypnosis menurut U.S. Department of Education, Human Services
Division, dikatakan bahwa; “Hypnosis is the by- pass of the critical factor of the
conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking”
atau “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan
diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”.
Selain istilah hypnosis, terdapat istilah hipnoterapi atau hypnotherapy.
Hipnoterapi adalah suatu teknik terapi pikiran menggunakan hipnosis.
Hipnoterapi merupakan salah satu jenis terapi komplementer/ non konvensional
yang digunakan sebagai pelengkap terapi konvensional/ terapi medis. Hipnoterapi
adalah suatu rangkaian proses yang digunakan seorang hipnoterapis untuk
menyelesaikan masalah klien dengan ilmu hipnosis. Hipnoterapi dapat diartikan
sebagai suatu metode dimana pasien dibimbing untuk melakukan relaksasi,
dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka secara alamiah gerbang
pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan
cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang diberikan.
Hipnosis juga disebut sebagai seni eksplorasi alam bawah sadar, kesadaran
yang meningkat, suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti. (Gunawan,
2012).
Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan dan perilaku.
Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran
menggunakan hipnotis. Hipnotis bisa diartikan sebagai ilmu untuk memberi
sugesti atau perintah kepada pikiran bawah sadar. Orang yang ahli dalam
menggunakan hipnotis untuk terapi disebut “hypnotherapist” (Setiawan, 2009).

3
B. Sejarah Hipnoterapi
Pada jaman dahulu, hypnosis ini sering sekali dikaitkan dengan klenik-
klenik, supranatural, ritual keagamaan, kepercayaan, dll. Banyak "orang pintar"
di jaman Mesir Kuno dan Yunani menggunakan metode hypnosis untuk
mengobati orang-orang pada waktu itu, walaupun waktu itu belum ada istilah
hypnosis. Menurut yang ditulis pada catatan dokumen medis Ebers Papyrus,
catatan sejarah tentang sejarah hipnosis, berawal dari jaman Mesir Kuno tahun
1550 SM. Menurut Ebers papyrus, dituliskan bahwa pada jaman Mesir Kuno ada
kuil pengobatan yang bernama kuil tidur. Cara pengobatan pada waktu itu, para
pendeta menyembuhkan pasiennya dengan menyentuhkan tangannya pada dahi
pasien sambil mengucapkan mantra atau sugesti untuk menyembuhkan
pasiennya. Kemudian para warga sekitar pada waktu itu mempercayai bahwa
pendeta itu memiliki kekuatan magis.
Pada abad 18 adalah titik awal untuk sejarah hypnosis modern, yang dimulai
dari pendeta yang bernama Gassner. Gassner meyakini bahwa orang sakit itu
kerasukan setan, maka dengan membuat pasien masuk ke kondisi hypnosa
(hypnosa adalah kondisi dimana manusia menjadi rileks dan terfokus), kemudian
Gassner melakukan ritual tertentu untuk mengusir setan yang ada dalam tubuh
pasiennya. Setelah Gassner, barulah muncul beberapa tenaga kesehatan dari para
dokter dan psikolog yang meneliti tentang hypnosis ini, dimulai dari :
1. Franz Anton Mesmer (1735-1815),
2. Marquis de Puysegur (1751-1825),
3. John Elliotson (1791-1868),
4. James Braid, Penulis dan dokter terkenal di Inggris (1795-1860),
5. Para psikiater Jean Martin Charcot (1825-1893) dan Sigmund Freud (1856-
1939),
6. Milton Erickson (1901-1980),
7. Dave Elman (1900-1967),
8. Ommond Mcgill (1913-2005)
Dari para tokoh diatas, yang paling berperan adalah Milton Erickson, karena
jasanya hypnosis bisa di terima oleh Asosiasi Medis Amerika dan Asosiasi
Psikiatris Amerika yang bisa digunakan dalam pengobatan sejak tahun 1958. Dr.

4
Milton H. Erickson pertama kali memperkenalkan bahwa jiwa manusia sangat
unik. Tidaklah mudah meminta orang untuk secara langsung menghilangkan
kebiasaan buruk yang ingin dia tinggalkan. Seperti kita menyampaikan nasihat
kepada seseorang yang mengeluh karena dia mempunyai masalah, “Sekarang
kamu dapat menyelesaikannya”, atau seseorang yang mempunyai masalah
perilaku lalu kita berikan nasihat, “Sekarang perilaku anda sudah berubah
menjadi baik”. Belum tentu dia akan merubah perilakunya dengan segera.
Mungkin hanya, untuk sementara, tetapi biasanya kebiasaan itu akan kembali
lagi. Apalagi jika kita tidak mengetahui akar permasalahannya mengapa dia
berperilaku demikian, tidak mengetahui nilai dasar dan keinginan sebenarnya
yang dimiliki orang tersebut. Ingat, jiwa manusia sangat kompleks, setiap orang
mempunyai jiwa dan nilai yang unik. Perilaku atau respons seseorang tidak sama
dalam menghadapi peristiwa yang berbeda. Bahkan sangat mungkin sekali untuk
peristiwa yang sama, perilaku atau respons seseorang yang sama dapat berbeda.
Hal inilah yang dikembangkan Erickson menuju metode hipnoterapi yang
lebih efektif. Berkat jasanya dalam mengembangkan metode-metode dalam
melakukan terapi klinis dengan metode hipnoterapi, maka pada tahun 1950-an
hipnoterapi diakui oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai metode terapi. Paska
Milton H. Erickson, metode ini berkembang terus sampai dengan metode yang
berorientasi kepada pasien. Saat ini, metode ini lebih efektif digunakan apalagi
digabungkan dengan pola komunikasi yang telah dikembangkan Erickson.
Metode ini telah banyak dipergunakan oleh para terapist terkenal seperti Gill
Boyne, Mary Lee LaBay, maupun Calvin Banyan dan lain-lain.

C. Hipnoterapi Modern
Hipnoterapi di masa lalu indentik dengan kondisi tidur, terbaring, atau tidak
bergerak. Pada masa kini, hipnotis lebih ditekankan pada kondisi relaksasi yang
dalam, baik secara fisik maupun mental. Saat ini dikenal beberapa keadaan
hipnotis seperti moving meditation, hypnoidal state, serta automatic writing,
dimana pasien melakukan aktivitas bawah sadar dalam bentuk gerakan atau
tindakan yang dikendalikan oleh niat.

5
Psikolog pada Pusat hipnoterpi Kedokteran RSPAD Gatot Subroto (pusat
hipnotis kedokteran pertama di Indonesia), Dra. Psi Adjeng Lasmini mengatakan,
pada hipnoterapi, pasien diajak untuk relaks secara fisik dan mental dengan
memusatkan perhatian melalui sarana fiksasi berupa suara, tatapan, dan sentuhan
secara berulang dan monoton. Ini membuat pasien merasa semakin santai. Dalam
kondisi hipnoterapi lanjutnya, sugesti positif yang ditanamkan disusun dalam
kalimat yang sederhana. Karena pada kondisi ini kemampuan seseorang untuk
merangkum kalimat demi kalimat mengalami penurunan.

D. Hipnoterapi sebagai Terapi komplementer dan Alternatif


Hipnoterapi adalah salah satu bentuk terapi komplementer, yaitu terapi yang
digunakan untuk melengkapi terapi atau tindakan medis, dan bukan untuk
menggantikan terapi atau tindakan medis yang sudah ada. Terapi komplementer
bersifat holistik dan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hipnoterapi
merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body Intervention dimana
terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk mengoptimalkan
fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara pikiran,
emosi, dan pernapasan. Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata -
kata yang disampaikan dengan teknik - teknik tertentu. Satu-satunya kekuatan
dalam hipnoterapi adalah komunikasi. Setiap perawat sudah cukup akrab dengan
namanya komunikasi karena pekerjaannya adalah langsung berinteraksi dengan
orang banyak, termasuk klien dan keluarga. Oleh karena itu tak akan banyak
makan waktu jika dibutuhkan latihan, sebab hampir setiap hari kita berkomunikasi
dengan orang asing. Perawat mampu menghipnotis pasien jika dia memahami
bahasa yang perawat gunakan.

E. Proses Hipnoterapi
1. Tiga Bagian Pikiran Manusia.
Pikiran manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Pikiran Tidak Sadar adalah pikiran yang mengoperasikan tubuh secara
otomatis. Misalnya detak jantung, reproduksi sel, penyembuhan luka,

6
sirkulasi darah dan sistem otomatis lainnya dikerjakan oleh Pikiran Tidak
Sadar. Pikiran Tidak Sadar selalu aktif, meskipun Anda tertidur pulas.
b. Pikiran Bawah Sadar yang merupakan bagian pikiran yang sangat
dominan dan sering kali mengendalikan diri. Pikiran Bawah Sadar
memuat kebiasaan, dorongan perasaan, keyakinan, persepsi, dan memori
permanen. Menurut seorang tokoh psikologi, Sigmund Freud, tindakan
manusia sebagian besar berdasarkan program-program yang tertanam di
Pikiran Bawah Sadarnya, bukan berdasarkan logikanya. Pikiran Bawah
Sadar adalah tempat penyimpanan semua memori dan program-program
pikiran. Program apapun yang ada di Pikiran Bawah Sadar, akan selalu
menjadi dasar bagi tindakan.
c. Pikiran Sadar adalah bagian pikiran yang selalu bersifat logis dan
rasional. Dengan berpikir logis dan rasional, manusia bisa menciptakan
kehendak atau keinginan untuk berubah. Namun ternyata kehendak saja
tidak cukup untuk mewujudkan perubahan yang permanen, karena
kehendak Pikiran Sadar selalu kalah apabila bertentangan dengan
program yang tertanam di Pikiran Bawah Sadar. Contoh: seorang
perokok. Secara rasional dan logis, hampir semua perokok tahu bahwa
rokok adalah kegiatan yang merugikan diri sendiri. Para perokok
sebenarnya juga punya kehendak untuk berhenti merokok. Namun
kehendak itu tidak pernah menang melawan kebiasaan merokok yang
sudah menahun. Kebiasaan merokok merupakan sebuah program yang
tertanam di Pikiran Bawah Sadar. Inilah bukti nyata bahwa program
yang tertanam di Pikiran Bawah Sadar selalu lebih kuat efeknya daripada
kehendak Pikiran Sadar. Tujuan dari hipnoterapi adalah menghapus atau
menanamkan program di Pikiran Bawah Sadar supaya perubahan yang
Anda alami berlangsung dari dalam diri Anda sendiri.

2. Empat Wilayah Brainwave (Aktivitas Pikiran Manusia)


Untuk memahami Hypnosis atau Hypnotherapy secara mudah dan
benar, sebelumnya kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia

7
secara sederhana dikelompokkan dalam 4 wilayah yang dikenal dengan
istilah Brainwave, yaitu: Beta, Alpha, Theta, dan Delta.
a. Beta adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada.
Kondisi ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktivitas
normal. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 14 – 24 Cps (diukur
dengan perangkat EEG).
b. Alpha adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal
(belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau
pada saat seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada
kondisi ini sekitar 7 – 14 Cps.
c. Theta adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-
akan yang bersangkutan merasa “tertidur”, kondisi ini seperti halnya
pada saat seseorang melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga
gelombang pikiran ketika seseorang tertidur dengan bermimpi, atau
kondisi REM (Rapid Eye Movement). Frekwensi pikiran pada kondisi
ini sekitar 3.5 – 7 Cps.
d. Delta adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi pikiran pada
kondisi ini sekitar 0.5 – 3.5 Cps.

Kondisi Hypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha


dan Theta. Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta,
merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita.
Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha,
sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya.
Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah
gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta,
Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur.
Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya
walaupun seakan-akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih
berada di wilayah Theta.
Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak
dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru suara-suara ini didengar dengan

8
sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang
permanen, karena tidak disadari oleh “pikiran sadar” yang bersangkutan.

F. Syarat-Syarat Melakukan Hipnoterapi


1. Pasien sebagai subjek.
Orang yang dihipnotis sebenarnya tidak dalam keadaan tidur
sesungguhnya. Walaupun menggunakan perintah berupa kata 'tidur', kata itu
tidak membuat pasien tidur sesungguhnya. Pasien tetap dalam keadaan
sadar, serta mampu mengobservasi perilakunya selama dalam keadaan
hipnotis. Ia menyadari segala sesuatu yang diperintahkan serta dapat
menolak sesuatu yang bertentangan dengan keinginan atau norma-norma
umum. Selain itu, sebelum proses ini dilakukan, telah ada kesepakatan antara
pasien dengan penghipnotis untuk melakukan hipnoterapi.
Melakukan hipnoterapi terhadap pasien sama halnya dengan
melakukan terapi lainnya. Pasien harus tahu persis mengapa diperlukan
bantuan hipnotis dalam terapinya, serta keunggulan apa yang didapatkan
dibandingkan model terapi lainnya. Proses hipnoterapi juga harus dilakukan
dengan jelas, terbuka, dan tanpa paksaan. Sebelum melakukan hipnotis,
pasien harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik, dan bila perlu
disusul dengan menjalani pemeriksaan laboratorium (darah, urine, dll).
2. Terapis sebagai fasilitator
Terapis sebagai fasilitator dan pasien sebagai subjek perlu menjalani
kerjasama yang baik sebelum proses hipnotis dimulai. Pemahaman pasien
akan maksud dan tujuan hipnoterapi merupakan kunci efektifitas terapi.
Karena itu diperlukan informasi yang jelas dan pemahaman yang sama. Hal
ini bertujuan agar persepsi yang terbentuk dalam tingkat sadar sejalan
dengan persepsi bawah sadar.
Secara konvensional, hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka yang
memenuhi persyaratan dasar, yaitu:
1. Bersedia dengan sukarela.
2. Memiliki kemampuan untuk focus.
3. Memahami komunikasi verbal.

9
G. Tahapan Hipnoterapi
Pada saat proses hipnoterapi berlangsung, klien hanya diam. Duduk atau
berbaring, yang sibuk justru terapisnya, yang bertindak sebagai fasilitator. Akan
tetapi, pada proses selanjutnya, klienlah yang menghipnosis dirinya sendiri
(Otohipnotis), berikut proses sebuah tahapan hipnoterapi:
1. Pre - Induction (Interview)
Pada tahap awal ini hipnoterapis dan klien untuk pertama kalinya
bertemu. Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya, hipnoterapis
membuka percakapan untuk membangun kepercayaan klien, menghilangkan
rasa takut terhadap hipnotis/ hipnoterapi dan menjelaskan mengenai
hipnoterapi dan menjawab semua pertanyaan klien. Sebelumnya hipnoterapis
harus dapat mengenali aspek - aspek psikologis dari klien, antara lain hal
yang diminati dan tidak diminati, apa yang diketahui klien terhadap hipnotis,
dan seterusnya. Pre - Induction merupakan tahapan yang sangat penting.
Seringkali kegagalan proses hipnoterapi diawali dari proses Pre - Induction
yang tidak tepat.
2. Suggestibility Test
Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah klien
masuk ke dalam orang yang mudah menerima sugesti atau tidak. Selain itu,
uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai pemanasan dan juga untuk
menghilangkan rasa takut terhadap proses hipnoterapi. Uji sugestibilitas juga
membantu hipnoterapis untuk menentukan teknik induksi yang terbaik bagi
sang klien.
3. Induction
Induksi adalah cara yang digunakan oleh seorang hipnoterapis untuk
membawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar (conscious) ke pikiran
bawah sadar (sub conscious), dengan menembus apa yang dikenal dengan
Critical Area. Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. Maka frekuensi
gelombang otak dari klien akan turun dari Beta, Alfa, kemudian Theta.
Semakin turun gelombang otak, klien akan semakin rileks, sehingga berada
dalam kondisi trance. Inilah yang dinamakan dengan kondisi ter-hipnotis.

10
Hipnoterapis akan mengetahui kedalaman trance klien dengan melakukan
Depth Level Test (tingkat kedalaman trance klien).
4. Deepening (Pendalaman Trance)
Jika dianggap perlu, hipnoterapis akan membawa klien ke trance yang
lebih dalam. Proses ini dinamakan deepening. Deepening ini meliputi tiga
level, yaitu:
a. Hypnoidal: hipnosis ringan dengan gerakan mengedip-ngedipkan mata.
b. Cataleptic: hipnosis yang sedikit lebih dalam dengan gerakan mata
bergerak dari samping ke samping (side to side eyes movements).
c. Somnambulistic: hipnotis dengan status yang dalam, selama status
hipnotis ini, gerakan mata berputar ke depan dan ke belakang; hasil
hipnotis yang terbaik biasanya dicapai selama status ini.
5. Suggestions / Sugesti
Pada saat klien masih berada dalam trance, hipnoterapis juga akan
memberi Post Hypnotic Suggestion, sugesti yang diberikan kepada klien
pada saat proses hipnotis masih berlangsung dan diharapkan terekam terus
oleh pikiran bawah sadar klien meskipun klien telah keluar dari proses
hipnotis. Post Hypnotic Suggestion adalah salah satu unsur terpenting dalam
proses hipnoterapi.
6. Termination
Akhirnya dengan teknik yang tepat, hipnoterapis secara perlahan –
lahan akan membangunkan klien dari “tidur” hipnotisnya dan membawanya
ke keadaan yang sepenuhnya sadar.

H. Manfaat Hipnoterapi
Saat ini hipnoterapi dapat digunakan untuk mengatasi masalah – masalah
sebagai berikut:
1. Masalah Fisik
Ketegangan otot dan rasa nyeri (nyeri kronik) yang berlebihan dapat
dibantu dengan Hipnoterapi. Dengan Hipnoterapi, dapat membuat tubuh
menjadi relaks dan mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan secara

11
drastic. Selain itu hipnoterapi juga bermanfaat kegemukan/ obesitas dan
irritable bowel syndrome.
2. Masalah Emosi
Serangan panik, ketegangan dalam menghadapi ujian, kemarahan,
rasa bersalah, kurang percaya diri, ansietas/ cemas, duka (grief), depresi,
trauma dan phobia adalah masalah-masalah emosi yang berhubungan
dengan rasa takut dan kegelisahan. Semua masalah di atas bisa diatasi
dengan hipnoterapi. Selain itu hipnoterapi juga bisa dilakukan untuk
penyembuhan diri sendiri atau self healing. Sebenarnya beberapa penyakit
sumbernya dari pikiran kita. Ramalan diri sendiri atau sugesti hipnosis
seringkali menjadi nyata karena pikiran kita yang memasukan sugesti dalam
proses pemikiran. Seperti saat kita kehujanan, di dalam pikiran kita akan
tersugesti, saya akan sakit kepala atau pusing karena kehujanan. Akibatnya
tubuh benar-benar mengalami sakit kepala. Padahal jika ditanamkan sugesti
saya akan sehat dan tidak akan terjadi apa-apa maka sakitpun tidak akan
datang. Fenomena seperti ini yang disebut oleh pengobatan medis barat
sebagai efek plasebo.
Penelitian dari NIH (National Institute of Health) menunjukkan
bahwa pada akhir dekade ini, hipnoterapi mulai dikembangkan sebagai
terapi paliatif pada pasien kanker. Hipnoterapi terbukti memiliki manfaat
dalam mengurangi nyeri kronik, stress dan depresi pada pasien kanker
stadium lanjut.
3. Masalah Perilaku
Masalah perilaku seperti merokok, makan berlebihan dan minum minuman
keras yang berlebihan dan berbagai macam perilaku ketagihan (addiction)
dapat diatasi dengan hipnoterapi. Hipnoterapi juga bisa membantu
insomnia/ gangguan tidur dan menghilangkan latah.

I. Kontraindikasi Hipnoterapi
Secara garis besar, kontraindikasi hipnoterapi adalah pada keadaan:
1. Seseorang yang dalam kondisi tidak tenang, gaduh gelisah, misalnya pada
psikosis akut sehingga tidak dapat dilakukan kontak psikis dengan subjek.

12
2. Seseorang yang dalam keadaan tidak mengerti apa yang akan dilakukan,
misalnya pada orang imbesil atau dimensia. Pada mereka tidakdapat
dilakukan hipnotis dengan cara apapun.
3. Pada orang yang tidak tahu atau belum mengerti tentang apa yang kita
katakan, sugesti verbal tidak akan berpengaruh pada subjek.
4. Subjek yang memiliki kesulitan dengan kepercayaan dasar seperti pasien
paranoid atau yang memiliki masalah pengendalian seperti obsesi-kompulsif.
5. Penggunaan hipnosis oleh operator yang tidak terlatih dengan baik.
6. Penggunaan hipnosis untuk tujuan yang tidak baik.

J. Efek Samping Hipnoterapi


Seperti terapi lainnya, hipnoterapi juga dapat menimbulkan efek samping.
Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan diantaranya:
1. Abreaksi.
Seperti dikatakan dr. Erwin Kusuma [Link], program yang ditanamkan
dalam hipnoterapi harus positif. Ini mengingat pasien tidak memiliki
kemampuan merangkum (sintesis) karena kecerdasan jasmaninya menurun.
Bila hal ini tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin akan muncul hasil yang
tidak diinginkan, seperti timbul abreaksi. Abreaksi merupakan suatu
keadaan dimana pasien keluar dari rekaman bawah sadarnya secara
serentak. Akibatnya bisa menimbulkan rasa kekesalan atau kesedihan secara
berlebihan, reaksinya pasien bisa tidak terkendali, namun kondisi biasanya tidak
berlangsung lama dan bisa dikendalikan oleh terapis.
2. Pegal-pegal.
Jika beban emosi yang dirasakan sudah sangat dalam dan baru dilepaskan
setelah sesi terapi, maka ada kemungkinan setelah terapi selama 1 atau 2
hari kedepan badan akan terasa pegal-pegal. Dan ini adalah hal yang wajar
dan akan hilang dengan sendirinya dan diganti dengan tubuh yang segar.
Biasanya cukup minum air putih yang banyak akan mengurangi rasa pegal-
pegal. Rasa pegal-pegal ini terjadi karena semacam tubuh membuang racun
emosi yang selama ini tersimpan di dalam tubuh kita. Namun tidak semua
orang akan mengalami hal ini setelah hipnoterapi.

13
3. Beberapa klien kadang-kadang mengalami sedikit “hang”.
Misalnya, klien ingin mengambil sendok tetapi yang diambil garpu atau
klien ingin pergi ke dapur tetapi yang dituju naik ke lantai 2. Namun, hal ini
juga merupakan pertanda baik, karena terjadi perubahan di bawah sadarnya.
Oleh karena itu tidak perlu takut dan hal ini juga berlangsung hanya
sebentar. Sekali lagi perlu diingat bahwa tidak semua orang akan mengalami
hal ini setelah diterapi hipnoterapi.

K. Fakta Hipnoterapi
1. Hipnoterapi adalah suatu hal yang aman dilakukan. Hal ini hanyalah
keadaan santai di mana pikiran bawah sadar seseorang  dapat diakses dan
terbuka untuk membuat perubahan positif.
2. Hipnoterapi bukan pengendalian pikiran. Karena dengan bantuan
pembimbing, orang tersebut  yang memilih cara yang tepat untuk
mengkhilaskan dan mengatasi masalah seseorang.
3. Seseorang tetap sadar selama hipnoterapi. Kondisi ini hanyalah sebuah
bagian dari relaksasi, yaitu pikiran tenang dan rileks.
4. Siapapun dapat dihipnoterapi (selama yang bersangkutan tidak mengalami
paksaan, dan gangguan dalam berkomunikasi).

L. Aplikasi Dalam Keperawatan


Terapi komplementer telah berkembang pesat menjadi bagian dari
pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Salah satu terapi
komplementer yang juga cukup populer adalah hipnoterapi. Hadirnya terapi
komplementer ini masih menimbulkan kontroversial tentang etis tidaknya apabila
diterapkan dalam layanan kesehatan. Dalam praktiknya, terapi komplementer
telah banyak kita jumpai di lingkungan sekitar kita. Selain dari tenaga kesehatan,
banyak juga diantara penyelenggara praktik komplementer tersebut tidak
mempunyai background pendidikan kesehatan, tetapi didapat dari pelatihan-
pelatihan maupun mewarisi bakat turun temurun dari keluarganya. Dengan adanya
kontroversial isu etik terapi komplementer ini, bagi perawat dapat diambil sebagai
peluang untuk dapat berperan didalamnya.

14
Perawat merupakan profesi kesehatan yang merawat pasien dengan
melakukan pendekatan secara holistik (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual). Dan
terapi komplementer ini juga dianggap sebagai terapi dengan pendekatan holistik
karena berusaha menyembuhkan pasien dengan memandang dari berbagai sudut
dan beraneka aspek kehidupan pasien. Terapi komplementer sekarang ini telah
banyak dikembangkan dan dapat hidup berdampingan dengan pengobatan
modern/ konvensional, sebagai contoh adalah Rumah Sakit Umum Dr Soetomo
Surabaya, Jawa Timur, yang membuka Poliklinik Obat Tradisional Indonesia.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109
Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di
fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-
alternatif dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas
pelayanan kesehatan. Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji
institusi berwenang sesuai dengan ketentuan berlaku. Selain itu, pemerintah juga
akan mengeluarkan standarisasi, pengaturan, dan pengawasan yang lebih
gamblang dan baku yang memuat perlindungan hukum bagi masyarakat, termasuk
tentang standarisasi tenaga pelaksana dan pendidikan yang harus ditempuh
sebagai syarat dalam menyelenggarakan terapi komplementer. Oleh karena itu,
perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan di Indonesia harus segera melakukan
jemput bola agar dapat berperan dalam penyelenggaraan terapi komplementer ini.
Terutama pada institusi pendidikan keperawatan harus jeli dalam
menangkap peluang yang terdapat dalam isu etik terapi komplementer ini dengan
mengakomodir dalam pembelajaran (setelah melalui standarisasi kurikulum
pendidikan keperawatan terpadu) serta sebagai bahan kajian diskusi ilmiah dan
penelitian berkelanjutan dengan didukung pula upaya- upaya strategis oleh
organisasi profesi. Diharapkan, dalam praktik terapi komplementer ini nantinya
perawat tidak masuk lagi dalam zona abu-abu namun dapat memberikan warna
yang tegas dalam dunia profesi keperawatan.

15
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Hipnoterapi adalah salah satu bentuk terapi komplementer, yaitu terapi yang
digunakan untuk melengkapi terapi atau tindakan medis, dan bukan untuk
menggantikan terapi atau tindakan medis yang sudah ada. Terapi komplementer
bersifat holistik dan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hipnoterapi
merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body Intervention dimana
terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk mengoptimalkan
fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara pikiran,
emosi, dan pernapasan.
Hipnoterapi dapat diartikan sebagai suatu metode dimana pasien dibimbing
untuk melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai
maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar,
sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti
penyembuhan yang diberikan.
B. Saran
Diharapkan bagi setiap mahasiswa khususnya di jurusan keperawatan
memahami makalah ini untuk menambah ilmu pengetahuan dan menambah
wawasan mengenai hipnoterapi dalam keperawatan komplementer guna untuk
meningkatkan mutu kualitas perawatan kedepannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adiyanto. 2007. Hipnosis Penurunan Rasa Nyeri Pengamatan Efek Hypnosis Pada
Otak Melalui Brain Imaging. Diunduh dari [Link].
Ariyanto, SKM. 2011. Kontroversi Terapi Komplementer. Forkom Alumni Muda
Poltekkes Prodi Keperawatan Semarang.
Chamber, Bradford. 2005. How to Hypnotize. Stravon Publisher: New York.
Gunawan. 2012. Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama
McDonald F. 2006. Hypnotherapy Applications in Pain Management. Diunduh dari
[Link].
McDonald F. 2006. Hypnotherapy in Substance Use Treatment. Diunduh dari
[Link].
Murphy, Joseph. 1997. The Power of Your Subconscious Mind (Terjemahan).
Spektrum: Jakarta.
Santos, Yus. 2012. Tentang Hipnoterapi. Alfa Omega NLP Hypno Center.
Setiawan, T. 2009. Hipnotis dan Hipnoterapi. Yogyakarta: Garasi.

17

Anda mungkin juga menyukai