0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan33 halaman

Dosis Defibrilasi Anak Usia 1-8 Tahun

Dokumen tersebut membahas tentang konsep bantuan hidup dasar (BLS) yang meliputi definisi, tujuan, dan indikasi pelaksanaannya. BLS merupakan tindakan darurat awal yang bertujuan untuk menjaga fungsi organ vital seperti otak dan jantung dengan ventilasi dan sirkulasi buatan sampai organ tersebut dapat berfungsi sendiri, serta dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung atau napas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan33 halaman

Dosis Defibrilasi Anak Usia 1-8 Tahun

Dokumen tersebut membahas tentang konsep bantuan hidup dasar (BLS) yang meliputi definisi, tujuan, dan indikasi pelaksanaannya. BLS merupakan tindakan darurat awal yang bertujuan untuk menjaga fungsi organ vital seperti otak dan jantung dengan ventilasi dan sirkulasi buatan sampai organ tersebut dapat berfungsi sendiri, serta dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung atau napas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Bantuan Hidup Dasar (BHD)


2.1.1 DefinisiBantuan Hidup Dasar

Bantuan hidup dasar(basic life support)adalah suatu tindakan saat


pasien ditemukan dalam keadaan tiba-tiba tidak bergerak, tidak sadar,
atau tidak bernapas, maka periksa respon pasien. Bila pasien tidak ada
respon, aktifkan sistem darurat dan lakukan tindakan bantuan hidup
dasar. (Hermayudi & Ariani 2017)

Cardiac arrest is one of the leading causes of death in the modern


world. Providers of basic life support (BLS) can intervene early and
prevent associated morbidity/mortality. BLS course has changed
significantly over the years to make it more valuable to the general
population. (Shahabe [Link] et all, 2019)

Henti jantung adalah salah satu penyebab utama kematian didunia


modern. Penyedia dukungan bantuan hidup dasar (BLS)
dapatmengintervensi dini dan mencegah morbiditas / mortalitas
[Link] BLS telah berubah secara signifikan selama bertahun-
tahun untuk membuatnyalebih berharga bagi populasi umum. (Shahabe
[Link] et all, 2019)

BLSisanimportantcomponent of the cardiopulmonary resuscitation


(RJP), which includes adequate maintenance of ventilation and
circulationincasesofrespiratoryor cardiacarrest. Adequate
knowledgeandawarenessaboutBLSandRJP is a vital issue to ensure
that individuals can deliver necessary life-saving measures in cases of
emergency. It is expected that health care professionals should have
asoundknowledgeaboutBLSastheyencounteranemergency situation
very often .(Shahabe [Link] et all, 2019)

8
9

BLS itu pentingkomponen dari resusitasi kardiopulmoner (RJP),yang


meliputi pemeliharaan ventilasi dansirkulasi dalam kasus henti
pernapasan atau [Link] dan kesadaran yang memadai
tentang BLS dan CPRadalah masalah penting untuk memastikan
bahwa individu dapat memberikanlangkah-langkah penting yang
menyelamatkan jiwa dalam kasus darurat. Diharapkan bahwa perawat
profesional harus memiliknya.(Shahabe [Link] et all, 2019)

Singkatan ABCD sudah terkenal luas dan mempermudah tatalaksana


pasien henti jantung. ABCD tersebutadalah Airway, Breathing,
Circulation dan [Link] adalah upaya untuk
mempertahankan jalan napas yang dapat dilakukan secara non-invasif.
Breathing adalahupaya memberikanpernapasan atau ventilasi.
Circulationadalah upaya untuk mempertahankan sirkulasi darah baik
dengan obat-obatan maupun dengan kompresi dada (Jantung).
(Hermayudi & Ariani 2017)

Thus, the measures establishedby international Ogranizations to


increase the survivalrates of should be observed. These measures
should be oriented toward the early activation of the EMT,
theperformance of RJP maneuvers by first responders,
earlydefibrillation, and further care by the advance life supportteam.
This is even more important if we take into consideration that most
happen at the victim’s own houseand in public places, where the first
responders canbe the family members or acquaintances. This is why it
iscrucial that everybody knows how to initiate BLS maneuvers
immediately after witnessing an since it isof vital importance for the
victim’s survival.(R. Navarro-Patónet all, 2018)

Dengan demikian, langkah-langkah yang ditetapkanoleh ogranisasi


internasional untuk meningkatkan kelangsungan hidup,harus
diperhatikan. Langkah-langkah ini harusberorientasi pada aktivasi
10

awal EMT, yangkinerja manuver RJP oleh responden pertama,


awaldefibrilasi, dan perawatan lebih lanjut dengan bantuan kehidupan
lanjuttim. Ini bahkan lebih penting jika kita mempertimbangkanasi
bahwa kebanyakan henti jantung terjadi di rumah korban sendiridan di
tempat umum, mana responden pertama bisamenjadi anggota keluarga
atau kenalan. Inilah sebabnya mengapa demikianpenting agar semua
orang tahu bagaimana memulai manuver BLS segera setelah
menyaksikan, karena itusangat penting untuk kelangsungan hidup
korban.(R. Navarro-Patón et all, 2018)

Pembukaan jalan napas dengan teknik non-invasif dilakukan dengan


cara mengektensikan kepala (head tilt) serta mengangkat dagu (chin
lift). Membuka jalan napas dengan mengangkat rahang (Jaw trust)
dicurigai bila adanya trauma kepala (fraktur veterbra servikasl).
(Hermayudi & Ariani 2017)

Penilaian pernapasan (Breathing) dengan memantau atau observasi


diding dada pasien dengan cara melihat (look) naik dan turun dinding
dada, mendengar (listen) udara yang keluar sat ekshalasi, dan
merasakan (feel) aliran udara yang berhembus di pipi penolong. Bila
pasien bernapas, posisikan pasien dalam posisi [Link] pasien
tidak bernapas atau napas tidak adekuat, beri napas buatan 2 kali.
(Hermayudi & Ariani 2017).

Setiap napas diberikan 1 detik dan terlihat menaikan dinding dada.


Penilaian sirkulasi darah (Circulation) dilakukan dengan menilai
adanya pulsasi arteri karotis. Penilaian inimaksimal dilakukan selama
5 [Link] tidak ditemukan nadi maka dilakukan kompresi jantung
yang efektif, yaitu kompresi dengan kecepatan 100 x/menit,
kedalaman 4-5 cm, memberikan kesempatan jantung mengembang
(pengisian ventrikel), waktu kompresi dan relaksasi sama, minimalkan
11

terputusnya kompresidada, dan rasio kompresi dan ventilasi 30:2.


(Hermayudi & Ariani 2017)

Salah satu keberhasilan penanganan henti jantung adalah defibrilasi


dini (early defibrilaation). Resusitasi jantungdisertai dengan defibrilasi
dini (dalam 3-5 menit henti jantung) akan memberikan angka
kesintasan akan menurunkan 10-15. Berdasarkan hal tersebut
dikembangkan alat yang dapat mengenali irama jantung, menganalisis
dan memberikan instruksi tindakan yang perlu dilakukan. Alat yang
disebut AED (Automated External Defibrillator) ini diletakkan di
tempat umum dan dapat digunakan orang awam pada pasien henti
jantung diluar rumah sakit.(Hermayudi& Ariani 2017).

2.1.2 Tujuan Melakukan Bantuan Hidup Dasar


[Link]. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi oksigenasi
organ – organ vital (otak, jantung dan paru).
[Link]. Mempertahankan hidupdan mencegah kematian.
[Link]. Mencegah komplikasiyang bisa timbul akibat kecelakaan.
[Link]. Mencegah tindakanyang dapat membahayakan korban.
[Link]. Melindungi orangyang tidak sadar.
[Link]. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
[Link]. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan
ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau
henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara


efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan
dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan
oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal (Latief & Kartini 2009).
12

2.1.3 Indikasi Melakukan Bantuan Hidup Dasar


Basic life support (BLS) dilakukan pada pasien-pasien dengan keadaan
sebagai berikut :Tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang
terkandung didalam bantuan hidup dasar sangat penting terutama
pada pasien dengan cardiac arrest karena fibrilasi ventrikel yang
terjadi di luar rumah sakit, pasien di rumah sakit dengan fibrilasi
ventrikel primer dan penyakit jantung iskemi, pasien dengan
hipotermi, overdosis, obstruksi jalan napas atau primary respiratory
arrest (Alkatri, 2007).

[Link]. Henti Jantung (Cardiac Arrest)


Henti jantung adalah berhentinya sirkulasi peredaran
darah karena kegagalan jantung untuk melakukan
kontraksi secara efektif, keadaan tersebut bias disebabkan
oleh penyakit primer dari jantung atau penyakit sekunder
non jantung. (Mansjoer&Sudoyo 2010).

Henti jantung adalah bila terjadi henti jantung primer,


oksigen tidak beredar dan oksigen tersisa dalam organ
vital akan habis dalam beberapa detik (Mansjoer&Sudoyo
2010).

Henti jantungdapat disebabkan oleh faktor intrinsik atau


[Link] intrinsik berupa penyakit kardiovaskular
seperti asistol, fibrilasi ventrikel dan disosiasi
elektromekanik.(Mansjoer&Sudoyo 2010).

Faktor ekstrinsik adalah kekurangan oksigen akut (henti


nafas sentral/perifer, sumbatan jalan nafas dan inhalasi
asap); kelebihan dosis obat (digitas, kuinidin,
13

antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan


isoprenalin); gangguan asam basa/elektrolit
(hipo/hiperkalemia, hipo/hipermagnesia, hiperkalsemia
dan asidosis); kecelakaan (syok listrik, tenggelam dan
cedera kilat petir); refleks vagal; anestesi dan
pembedahan (Mansjoer & Sudoyo 2010).

Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tidak teraba


(a. karotis, a. femoralis, a. radialas), disertai kebiruan
(sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau
satu-satu (gasping, apnu), dilatasi pupil tidak bereaksi
dengan rangsang cahaya dan pasien dalam keadaan tidak
sadar (Latief & Kartini 2009).

[Link]. Henti Napas (Respiratory Arrest)


Henti napas adalah berhentinya pernafasaan spontan
disebabkan karena gangguan jalan nafas persial maupun
total atau karena gangguan dipusat pernafasaan. Tanda
dan gejala henti napas berupa hiperkarbia yaitu
penurunan kesadaran, hipoksemia yaitu takikardia,
gelisah, berkeringat atau sianosis (Mansjoer & Sudoyo
2010).

Henti nafas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan


oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, keracunan
obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan
napas oleh benda asing, tersengat listrik, tersambar petir,
serangan infark jantung, radang epiglottis, tercekik
(suffocation), trauma dan lain-lain (Latief & Kartini
2009).
14

Pada awal henti nafas, jantung masih berdenyut, masih


teraba nadi pemberian O2 ke otak dan organ vita lainnya
masih cukup sampai beberapa menit. Jika henti napas

mendapat pertolongan dengan segera maka pasien akan


terselamatkan hidupnya dan sebaliknya jika terlambat
akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal
(Latief & Kartini 2009)

2.1.4 Sistematika BHD


Sistematika BHD disusun berdasrkan pedoman menurut American
Heart Association(AHA) 2015 :
[Link]. C-A-B sebagai pengganti A-B-C untuk RJP dewasa, anak
dan bayi. Pengecualian hanya untuk RJP neonates.
[Link]. Tidak ditekankan lagi looking, listening, feeling. Kunci
untuk menolong korban henti jantung adalah aksi (action)
tidak lagi penilaian (assesment).
[Link]. Tekan lebih dalam. Dulu antara 3-5 cm. Saat ini AHA
menganjurkan penekanan dada sampai 5-6 cm.
[Link]. Tekan lebih cepat. Untuk frekuensi penekanan, dulu AHA
menggunakan kata-kata sekitar 100x/m. Saat ini AHA
menganjurkan frekuensi 100-120x/m.
[Link]. Untuk awam, AHA tetap menganjurkan: Hands only CPR
untuk yang tak terlatih.
[Link]. Kenali tanda-tanda henti jantung akut .
[Link]. Jangan berhenti memompa/ menekan dada semampunya,
sampai AED dipasang dan menganalisis ritme jantung. Bila
perlu memberikan ventilasi mulut ke mulut, dilakukan
dengan cepat dan segera kembali menekan jantung.
15

2.2 Konsep Resusitasi Jantung Paru (RJP)


2.2.1 Pengertian Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Resusitasi jantung paru merupakan upaya pertolongan pertama pada
orang yang tidak sdar yang menglami henti jantung atau henti nafas.
Perkembangan upaya pertolongan ini memiliki sejarah yang panjang.
Tercatat pada tahun 1740 Paris Academy Of Science secara resmi
merekomendasi resusitasi mulut ke mulut pada korban. Selanjutnya
metode resusitasi terus berkembang hingga Peter Saraf tahun 1950-an
mengembangkan pengendalian jalan napas (airway control) serta
metode napas buatan dari mulut ke mulut.(Hermayudi & Ariani 2017)

Kemudian W.B Kouwenhoven 1960, mengembangkan metode pijat


jantung dada tertutup (closed-chest cardiac massage) selanjutnya,
kedua metode ini dipadukan menjadi Resultasi Jantung paru (RJP).
(Hermayudi & Ariani 2017)

Pada tahun 1974 American Heart Assaciation merekomendasi dan


mensosialisasikan metode resusitasi jantung paru. Sistem ini kemudian
digunakan dan dikembangkan diseluruh dunia. Pada tahun 2005
pehimpunan berbagai bidang organisasi resusitasi di dunia bersepakat
membentuk suatu komite pemersatu (ILCOR) bertemu dan membuat
konsensus da rekomendasi.(Hermayudi & Ariani 2017)

Internasional Liaison Committee On Resuscitation (ILCOR) yang


dibetuk 1993 merupakan organisasi yang terdiri dari berbagai
organisasi resusitatsi didunia dan dibentuk untuk melakukan
pengkajian berbagai ilmu pengetahuan resusitasi secara sistem matik
dan membuat rekomendasinya. ILCOR telah 2 kali mengadakan
konfensi yaitu pada tahun 1999 dan tahun 2005. Pada konferensi
pertama dihasilkan Guidelines 2000 for cardio-pulmonasri
16

resusctation (CPR) dan Emergency cardiovaskulercare (ECC).


(Hermayudi & Ariani 2017)

Konferensi kedua di texsas pada 23-30 januari 2005, yang diikuti 249
peserta dari 18 negara dikeluarkan konsensus internasional yang
memuat kesimpulan dan rekomendasi pengobatan berdasarkan bukti
ilmiah ( evidence-based medicine ). Pada rekomendasi ILCOR 2005
terdapat beberapa perubahan tata laksanan resusitasi.
Beberapa hal penting dalam rekomendasi resusitasi jantung paru 2005
menurut (Hermayudi & Ariani 2017):
[Link]. Tekanan dan rekomendasi perbaikan efektivitas tindakan
komperasi dada.
[Link]. Rasio kompresi dan ventilasi yang sama oleh penolong
pada semua korban ( kecuali bayi baru lahir )
[Link]. Rekomendasi bahwa setiap napas buatan diberikan selama
1 detik dan harus dapat menyebabkan kenaikan dada.
[Link]. Rekomendasi satu shock segera diikuti resusitasi jantung
paru yang digunakan saat defibrilasi korban henti jantung
akibat ventrikular fibrilation (VF) irama jantung diperiksa
selama 2 menit.

Perubahan yang ada menitik beratkan pada informasi tentang cara


melakukan resusitasi jantung paru lebih sederhana sehingga mudah
dipelajari, mudah dingat, dan mudah dilakukan. Hal penting lainya
adalah hal semakin diminimalkan waktu terputusnya komperasi dada
sehingga aliran darah ke organ vital dapat dipertahankan.(Hermayudi
& Ariani 2017).

2.2.2 Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru (RJP)


Henti jantung mendadak telah menjadi penyebab kematian utama di
dunia. Di Eropa 700.000 kematian pertahun disebabkanoleh henti
17

jantung mendadak. Di Amerika insidesnya 0,55 kematian per 1.000


populasi/ tahun dengan kematian arteri koroner di luar rumah sakit
atau unit gawat darurat sebesar 330.000 kematian pertahun sedangkan
di dalam rumah sakit 250.000 kematian pertahun.(Hermayudi & Ariani
2017).

Sebanyak 60% orang korban henti jantung mendadak mengalami


Ventikular Fibrilation (VF) saat pertama kali diperiksa. Namun
sedemikian banyak fibrilasi ventrikular atau takikardia ventrikular
yang terjadi pada henti jantung mendadak, saat dilakukan rekaman
elektrokardiogramirama jantung telah berubah menjadi asistol.
(Hermayudi & Ariani 2017)

Fibrilasi ventikular merupakan repolarisasi yang cepat dan tidak teratur


dimana jantung kehilangan fungsi koordinasi dan tidak
dapatmemompa darah secara efektif. Banyak korban henti jantung
dapat ditolong jika penolong dapat jika penolong segera bertindak saat
masih terdapat fibrilasi ventrikuler, namun sebaliknya resusitasi
kurang berhasil bila irama jantung telah asistol.(Hermayudi & Ariani
2017)

Tindakan terbaik yang dapat diberikan pada henti jantung akibat fibrasi
ventrikel adalah resusitasi segera ( kompresi dada, dan pemberian
nafas buatan ) ditambah defibrilasi. Sedangkan pada trauma, overdosis
obat, tenggelam, dan kebanyakan anak mekanisme henti jantung
adalah asfiksia di mana resusitasi terbaiknya adalah nafas buatan.
(Hermayudi & Ariani 2017)
18

Agar resusitasi korban, baik fibrilasi ventrikular maupun asfiksia,


dapat barhasil ada 4 langkah penting yang dikenal dengan konsep
Chain of survival, menurut (Hermayudi & Ariani 2017)yaitu :

[Link]. Pengenalan dini keadaaan gawat (emergency) dan meminta


bantuan pelayanan gawat darurat medis atau pelayanan
medis setempat. Pertolongan dini dan efektif dapat
mencegah henti jantung.

[Link]. Resusitasi jantung paru dini oleh penolong. Resusitasi


segera dapat menyelamatkan hidup dari henti jantung
akibat fibrilasi ventrikular 2 hingga 3 kali lipat.

[Link]. Defibrilasi dini. Resusitasi jantung paru ditambah


defibrilasi dalam 3-5 menit pertama terjadinya kolaps dapat
menyelamatkan hidup hingga 45-75%. Tiap menit
penundaan defibrilasi mengurangi kemungkinan selamat
sebanyak 10-15%.

[Link]. Bantuan hidup lanjut dini dan perawatan pasca-resusitasi.


Kualitas pengobatan selama fase pasca-resusitasi akan
mengurangi hasil (outcome).

Weisfeldt dan becker mengemukakakn 3 fase dari henti jantung akibat


fibrrilasi ventrikuler. Fase pertama adalah fase elektrik yang
berlangsung dalam 4 menit pertama henti jantung. Tindakan yang
penting pada fase ini adalah di defibrilasi. Fase kedua dalah fase
sirkulasi (hemodinamik) fase ini berlangsung 4-5 menit pertama.
(Hermayudi & Ariani 2017)
19

Pada fase ini yang penting adalah konpresi dan ventilasi untuk
memberi perfusi pada otak dan jantung. Sedangkan fase ke tiga adalah
fase metabolik yang berlangsung setelah 10 menit henti [Link]
pada fase ini adalah memberi kesempatan pada otak untuk recovery
atau menurunkan kebutuhan otak dengan cara terapi hipotermi.
(Hermayudi & Ariani 2017)

2.2.3 Kualitas Resusitasi Jantung Paru (RJP)


Di bawah ini adalah cara-cara yang mempengaruhi kualitas RJP
(Mark, 2015):
[Link]. Kompresi kuat (kedalaman 5-6 cm) DAN cepat 100-120
x/menit. Dengan kembalinya (recoil) dinding dada yang
sempurna setelah kompresi
[Link]. Kurangi gangguan pada kompresiHindari ventilasi yang
berlebihan
[Link]. Rotasi penolong yang melakukan kompresi setiap 2 menit
[Link]. Jika tidak ada bantuan jalan nafas advance (misal:
intubasi), lakukan RJP dengan rasio kompresi : ventilasi
30:2
[Link]. Kapnografi gelombang kuantitatif. Bila PetCO2 < 10
mmhg, perbaiki RJP
[Link]. Tekanan intra arterial, bila diastolik < 20 mmHg, perbaiki
RJP

2.2.4 Indikasi Melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP)


[Link]. Henti Napas (Apneu)
Dapat disebabkan oleh sumbatan jalan napas atau akibat
depresi pernapasan baik di sentral maupun perifer.
Berkurangnya oksigen di dalam tubuh akan memberikan
suatu keadaan yang disebut hipoksia. Frekuensi napas
akan lebih cepat dari pada keadaan normal. Bila
20

perlangsungannya lama akan memberikan kelelahan pada


otot-otot pernapasan.

Kelelahan otot-otot napas akan mengakibatkan terjadinya


penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2,
kemudian mempengaruhi SSP dengan menekan pusat
napas. Keadaan inilah yang dikenal sebagai henti nafas.
[Link]. Henti Jantung ( Cardiac Arrest )
Otot jantung juga membutuhkan oksigen untuk
berkontraksi agar darah dapat dipompa keluar dari
jantung ke seluruh tubuh. Dengan berhentinya napas,
maka oksigen akan tidak ada sama sekali di dalam tubuh
sehingga jantung tidak dapat berkontraksi dan akibatnya
henti jantung ( cardiac arrest ).

2.2.5 Langkah – langkah yang harus diambil sebelum memulai


Resusitasi Jantung Paru (RJP)

[Link]. Penentuan Tingkat Kesadaran ( Respon Korban )


Dilakukan dengan menggoyangkan korban. Bila korban
menjawab, maka ABC dalam keadaan baik. Dan bila
tidak ada respon, maka perlu ditindaki segera.

[Link]. Memanggil bantuan (call for help)


Bila petugas hanya seorang diri, jangan memulai RJP
sebelum memanggil bantuan.

[Link]. Posisikan Korban


Korban harus dalam keadaan terlentang pada dasar yang
keras (lantai, long board). Bila dalam keadaan telungkup,
21

korban dibalikkan. Bila dalam keadaan trauma,


pembalikan dilakukan dengan ”Log Roll”

[Link]. Posisi Penolong


Korban di lantai, penolong berlutut di sisi kanan korban.

[Link]. Pemeriksaan Pernafasan


Yang pertama harus selalu dipastikan adalah airway
dalam keadaan baik :
a. Tidak terlihat gerakan otot napas.
b. Tidak ada aliran udara via hidung :
1) Dapat dilakukan dengan menggunakan teknik
lihat, dengan dan rasa.
2) Bila korban bernapas, korban tidak memerlukan
RJP.

[Link]. Pemeriksaan Sirkulasi


a. Pada orang dewasa tidak ada denyut nadi carotis.
b. Pada bayi dan anak kecil tidak ada denyut nadi
brachialis.
c. Tidak ada tanda – tanda sirkulasi.
d. Bila ada pulsasi dan korban pernapas, napas buatan
dapat dihentikan. Tetapi bila ada pulsasi dan
korban tidak bernapas, napas buatan diteruskan.
Dan bila tidak ada pulsasi, dilakukan RJP.

2.2.6 Henti Napas


Pernepasan buatan diberikan dengan cara :
[Link]. Mouth to Mouth Ventilation
22

Cara langsung sudah tidak dianjurkan karena bahaya


infeksi (terutama hepatitis, HIV) karena itu harus
memakai ”barrier device” (alat perantara). Dengan cara
ini akan dicapai konsentrasi oksigen hanya 18 %..

Tangan kiri penolong menutup hidung korban dengan


cara memijitnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, tangan
kanan penolong menarik dagu korban ke atas.

Penolong menarik napas dalam – dalam, kemudian


letakkan mulut penolong ke atas mulut korban sampai
menutupi seluruh mulut korban secara pelan – pelan
sambil memperhatikan adanya gerakan dada korban
sebagai akibat dari tiupan napas penolong.

Gerakan ini menunjukkan bahwa udara yang ditiupkan


oleh penolong itu masuk ke dalam paru – paru
[Link] itu angkat mulut penolong dan lepaskan
jari penolong dari hidung korban. Hal ini memberikan
kesempatan pada dada korban kembali ke posisi semula.

[Link]. Mouth to Stoma


Dapat dilakukan dengan membuat Krikotiroidektomi
yang kemudian dihembuskan udara melalui jalan yang
telah dibuat melalui prosedur Krikotiroidektomi tadi.

[Link]. Mouth to Mask ventilation


23

Pada cara ini, udara ditiupkan ke dalam mulut penderita


dengan bantuan face mask.

[Link]. Bag Valve Mask Ventilation ( Ambu Bag)


Dipakai alat yang ada bag dan mask dengan di antaranya
ada katup. Untuk mendapatkan penutupan masker yang
baik, maka sebaiknya masker dipegang satu petugas
sedangkan petugas yang lain memompa.

Gambar 2.1Bag Valve Mask


Sumber : Fom Racine SX,et al (2010)

[Link]. Flow restricted Oxygen Powered Ventilation (FROP)


Alat ini secara otomatis akan memberikan oksigen sesuai
ukuran aliran (flow) yang [Link] jalan napas
dilakukan dengan sebelumnya mengevaluasi jalan napas
korban apakah terdapat sumbatan atau tidak. Jika terdapat
sumbatan maka hendaknya dibebaskan terlebih dahulu.
2.2.7 Henti Jantung dan Resusitasi Jantung Paru
Henti jantung adalah keadaan terhentinya aliran darah dalam sistem
sirkulasi tubuh secara tiba-tiba akibat terganggunya efektivitas
kontraksi jantung saat sistolik. (Hermayudi & Ariani 2017)

Berdasarkan etiologinya henti jantung dapat disebabkan oleh penyakit


jantung (82,4%) penyebab internal non- jantung (8,6%) seperti akibat
24

paru, penyakit serebrovaskuler, penyakit kanker, perdarahan saluran


cerna,obstetrik atau pediatrik, emboli paru, epilepsi, Diabetes Militus,
penyakit ginjal, dan penyebab eksternak non- jantung (9,0%) seperti
akibat trauma, asfiksia, overdosis obat, upaya bunuh diri ( selain yang
telah disebutkan), tersengat listrik atau petir. Henti jantung dibedakan
berdasarkan aktivitas henti jantung (elektrokardogram), yaitu asistol,
aktivitas elektrik tanpa nadi (Pulseless Electical Activity atau PEA),
Ventrikel Fibrilation (VF), dan takikardia ventrikel tanpa
nadi(pulseless VT). (Hermayudi & Ariani 2017)

Tindakan resusitasi jantung paru dilakukan oleh tenaga medis bila


sudah ditegakkan masalah henti jantung. Resusitasi jantung oura tidak
dimulai bila pasien memiliki keterangan DNAR (Do Not Attempt-
Resuscitation), pasien memiliki tanda kematian yang irreversible
(seperti rigormortis, dekapitasi, dekomposisi atau pucat) atau tidak ada
manfaat fisiologis yang dapat diharapkan karena fungsi vital telah
menurun walau telah diberi terapi maksimal ( seperti syok, septik, atau
syok kardiogenik yang progresif).(Hermayudi & Ariani 2017)

RJP dihentikanbila sirkulasi dan ventilasi spontan secara efektif


membaik, perawatan dilanjutkan oleh tenaga medis di tempat rujukan
atau di tingkat perawatan yang lebih tinggi, ada kriteria yang jelas
menujukkan sudah lebih tinggi, ada kriteria yang jelas menunjukan
sudah terjadi kematian yang ireversible, penolong sudah tidak dapat
menerukan tindakan karena lelah atau keadaan lingkungan yang
membahayakan atau meneruskan tindakan resusitasi akan
menyebabkan orang lain cidera atau keterangan DNAR diperlihatkan
kepada penolong.(Hermayudi & Ariani 2017)

RJP dapat dilakukan oleh satu orang penolong atau dua orang
penolong :
25

Gambar 2.2 Teknik Pijat Jantung


Sumber :Hermayudi & Ariani 2017

[Link]. Lokasi titik tumpu kompresi menurut (Hermayudi &


Ariani 2017)

a. 1/3 distal sternum atau 2 jari proksimal Proc.


Xiphoideus.
b. Jari tengah tangan kanan diletakkan di Proc.
Xiphoideus, sedangkan jari telunjuk mengikuti.
c. Tempatkan tumit tangan di atas jari telunjuk
tersebut.

d. Tumit tangan satunya diletakkan di atas tangan yang


sudah berada tepat di titik pijat jantung.
e. Jari – jari tangan dapat dirangkum, namun tidak
boleh menyinggung dada korban.

[Link] Teknik Resusitasi Jantung Paru (Kompresi) menurut


(Hermayudi & Ariani 2017) :
26

a. Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan 1 orang


penolong.
1) Jalan nafas : penilaian, meminta pertolongan,
posisi pasien, buka jalan nafas.
2) Pernafasan : pantau pernafasan, pertahankan
pembukaan jalan nafas, aktifkan sistem
pelayanan medis darurat, bila pasien tidak
bernafas lakukan ventilasi 2 kali dan lakukan
ventilasi selanjutnya.
3) Sirkulasi : penilaian, jika denyut nadi ada
lakukan pertolongan pernafasan 12x/menit,
jika denyut nadi tidak ada, aktifkan pelayanan
medis darurat, mulai kompresi dada luar :
posisi tangan yang tepat, kompresi 15 x/menit,
buka jalan nafas dan berikan 2 x ventilasi,
posisi tangan yang tepat, dan kompresi 15x/
menit, lakukan 4 siklus, kompresi : ventilasi =
15:2.
4) Penilaian ulang.

b. Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan 2 orang


penolong.
1) Ration kompresi : ventilasi = 5:1.
2) Penolong pertama : menentukan kesdaran,
memperbaiki posisi pasien, membuka jalan
nafas, memeriksakan pernafasan, jika tidak
bernafas, berikan ventilasi 2 kali, periksa
denyut nadi, jika tidak ada denyut nadi maka
penolong kedua : mencari lokasi untuk
27

kompresi dada luar, menentukan posisi tangan


yang tepat, memulai kompresi dada luar
sesudah penolong pertama mengatakan denyut
nadi tidak ada.

[Link] Resusitasi jantung paru pada bayi ( < 1 tahun)

Gambar 2.3 Teknik Pijat Jantung Pada Bayi


Sumber : Buku Asuhan Keperawatan Gawat Darurat

a. Posisi yang tepat untuk kompresi, gambar garis


imajinasi yang menghubungkan kedua garis puting
bayi.
b. Pegang kepala bayi pada posisi yang tepat.
c. Tempatkan dua jari dengan jarak satu jari dibawah
garis imajinasi pada tulang dada.
d. Tekan telunjuk dan jari tengah, tekan lurus ke bawah
pada tulang dada 1,25 cm sampai 2,5 cm.
e. Ulangi hal ini sebanyak 30 kali.
f. Berhenti dan beriakan bayi dua kali nafas, ratio
kompresi : ventilasi = 30 : 2.

[Link] Resusitasi Jantung paru pada anak – anak ( 1 – 8 tahun)


28

Gambar 2.4 Teknik Pijat Jantung Pada Anak


Sumber :Buku Asuhan Keperawatan Gawat Darurat

a. Lokalisasi posisi yang tepat untuk kompresi dada.


b. Beri tekanan kebawah diatas tulang dada sedalam 2,5
sampai 3,75 cm.
c. Ulangi hal ini sebanyak 30 kali.
d. Berhenti dan beriakn anak dua kali nafas, ratio
kompresi : ventilisasi 30 : 2.
e. Tetap tempatkan tangan anda yang lain di kepala anak
untuk menjaga kepala agar berada diposisi yang
benar.

2.2.8 Indikasi penghentian Resusitasi Jantung Paru


[Link]. Korban bernapas spontan dan normal kembali.
[Link]. Penolong merasa lelah.
[Link]. Henti napas dan henti jantung berlangsung selama 30
menit.
[Link]. Telah ada tenaga lain yang lebih ahli.

2.2.9 Komplikasi Resusitasi Jantung Paru


[Link]. Fraktur sternum
29

Sering terjadi pada orang tua


[Link]. Robekan paru
Perdarahan intra abdominal
[Link]. Posisi yang terlalu rendah akan menekan Proc. Xiphoideus
ke arah hepar atau limpa
[Link]. Distensi lambung karena pernapasan buatan

2.2.10 Fibrilation treatment


Defibrilasi adalah tindakan yang berpotensi penyelamatan hidup. Harus
sedini mungkin dengan alasan :
[Link]. Irama yang umum didapati pada henti jantung adalah VF.
[Link]. Terapi yang paling efektif pada VF adalah defibrilasi.
[Link]. Makin lambat dilakukan makin jelek.
[Link]. VF cenderung asistole.

Energi
O VF / VT , nadi tidak teraba :
Pertama : 200 Joule
Kedua : 200 – 300 Joule
Ketiga : 360 Joule
Keempat : 360 Joule

O VT, SVT AF
Gel. QRS lebar (VT) : 100 Joule
Gel QRS sempit (SVT) : 50 Joule

Yang harus diperhatikan :


[Link]. Defibrilasi tidak boleh dilakukan pada anak umur kurang
dari delapan tahun dan berat badan kurang dari 25 Kg.
30

[Link]. Segala perhiasan dan bahan metal yang melekat dari tubuh
korban dilepaskan.

[Link]. Korban dari permukaan air, dikeringkan terlebih dahulu.

2.3 Konsep Remaja


2.3.1 Definisi Remaja
Beberapa penulis indonesia berpendapat bahwa remaja adalah seseorang
yang dalam masa transisi anak ke dewasa, yang ditandai dengan
perkembangan biologis, psikologis, moral, agama, kognitif dan
[Link] latifah ( Sarwono, Sarlito W, 2016 :17)

Masa remaja (adolescence) adalah merupakan masa yang sangat penting


dalam rentang kehidupan manusia, merupakan masa transisi atau
peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemasa dewasa.( Sarwono,
Sarlito W, 2016 :17)

Ada beberapa pengertian menurut para tokoh-tokoh mengenai pengertian


remaja seperti:

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin (adolescene), kata
bendanya adolescentia yang berarti remaja yang berarti “tumbuh” atau
“tumbuh menjadi dewasa‟ bangsa orang-orang zaman purbakala
memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-
periode lain dalam rentang kehidupan anak dianggap sudah dewasa
apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.(Yani, 2009).

Istilah adolescence yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang


sangat luas, yakni mencangkup kematangan mental, sosial, emosional,
pandangan ini di ungkapkan oleh Piaget dengan mengatakan, Secara
31

psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintregasi dengan


masarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat

orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkat yang sama,
sekurang - kurangnya dalam masalah integrasi dalam masyarakat
(dewasa) mempunyai aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan
masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok.(Yani,
2009).

Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini


memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial
orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari
periode perkembangan ini. (Yani, 2009).

Remaja adalah anak usia 10-24 tahun yang merupakan usia antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa dan sebagai titik awal proses reproduksi,
sehingga perlu dipersiapkan sejak dini (Romauli, 2010).

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan


masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual
yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu
menjelang dewasa muda. Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja adalah
masa peralihan antar masa kanak-kanak dan masa dewasa dimulai dari
umur 10-20 tahun yang mengalami pertumbuhan atau berkembang
menjadi dewasa (Yani, 2009).

2.3.2 Tahapan Remaja


Tahapan usia remaja menjadi empat tahapan dimana tiap tahapan
tidak dibatasi usia biologisnya (Romauli, 2010):
1) Masa juvenil
Suatu tahap usia psikologis yang terletak diantara masa anak-anak
32

dan masa pra remaja. Dalam masa ini perkembangan intelektual anak
berlangsung sangat [Link] berangsur kemampuan memantau
pikirannya sendiri berkembang dan mulai mempunyai perhatian
terhadap lawan jenisnya.

2) Masa pra-remaja
Masa ini relatif sangat [Link] pra remaja ditandai dengan
hubungan sosial yang bersifat (berarah makin) [Link] ini
adalah masa ketika anak secara pasti beranjak keluar dari
kungkungan keluarga dan belajar mengenal dengan berbagai
manusia didunia luar tetapi belum sepenuhnya terlepas dari orang
tua.

3) Masa remaja awal


Dalam masa ini kebutuhan sosial seorang remaja adalah
mengembangkan hubungan semakin [Link] tahap ini
remaja merasa mengetahui segalanya tetapi belum cukup matang
untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Pada masa ini remaja sudah dapat mengalami orgasme, merasakan


perkembangan kebutuhan [Link] perbenturan antara
berbagai kebutuhan dan menjadikan tahap ini sebagai tahap penuh
tekanan (stressful stage).

4) Masa remaja akhir


Pada tahap ini remaja telah mencapai kemampuan untuk
mengembangkan cita-citanya sesuai dengan pengalaman dan
[Link] juga sudah mampu mengarahkan dorongan
nafsu genitalnya menjadi hubungan interpersonal yang disesuaikan
33

dengan budaya, kesempatan, dan persahabatan dengan seseorang


yang dianggap sesuai.

2.3.3 Batasan Umur Remaja


Usia remaja adalah antara 10-18 tahun. Tetapi berdasarkan
penggolongan umur, masa remaja terbagi atas: (Romauli, 2010).
[Link]. Masa remaja awal (10-13 tahun)
[Link]. Masa remaja tengah (14-16 tahun)
[Link]. Masa remaja akhir (17-19 tahun)

Maka dengan demikian dapat diketahui dari bagian-bagian usia pada


remaja yang dapat dijelaskan sebagai berikut, usia 12-15 tahun termasuk
bagian remaja awal, usia 15-18 tahun bagian remaja tengah, dan remaja
akhir pada usia 18-21 tahun. (Yani, 2009).

Dengan mengetahui bagian-bagian usia remaja kita akan lebih mudah


mengetahui remaja tersebut kedalam bagiannya, apakah termasuk remaja
awal atau remaja tengah dan remaja akhir.(Yani, 2009).
Batasan usia remaja Menurut DepkesRI adalah antara 10 sampai 19
tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun
(Yani, 2009).

Secara psikologi masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi


dengan orang dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah
tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan
yang sama (Romauli, 2010).
34

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan
fisik, emosi dan psikis. Masa remaja yakni antara usia 10-19 tahun,
adalah suatu periode pematangan organ reproduksi manusia dan seriing
disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa
anak ke masa dewasa (Yani, 2009).

Pada masa tersebut terjadilah suatu perubahan organ-organ fisik(organ


biologik) secara cepat, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan
perubahan jiwa (mental emosional).Terjadinya perubahan besar ini pada
umumnya membingungkan remaja yang mengalaminya. (Yani, 2009).

Dalam hal ini bagi para ahli dalam bidang ini, memandang perlu akan
adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan
disekitarnya, agar dalam sistem perubahan tersebut terjadi pertumbuhan
dan perkembangan yang sehat sedemikian rupa sehingga kelak remaja
tersebut menjadi manusia dewasa yang jasmani, rohani dan sosial sehat.
(Yani, 2009).

Terjadi kematangan seksual atau alat-alat reproduksi yang berkaitan


dengan sistem reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam
kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila
timbul dorongan-dorongan seksual yang tidak sehat akan menimbulkan
perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Inilah sebabnya maka
para ahli dalam bidang ini berpendapat kesetaraan perlakuan antara
remaja pria dan remaja wanita diperlukan dalam mengatasi masalah
kesehatan reproduksi remaja, agar dapat tertangani secara tuntas (Yani,
2009).

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.


Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan Dari masakanak-
kanak kemasa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan
35

psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan


budaya masa remaja pada umumnya dimulaipada usia 10-13 tahun dan
berakhir pada usia 18-22 tahun. (Yani, 2009).

Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) remaja


merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang
sedang berangsur-angsur mencapai kematangan seksual, mengalami
perubahan dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa, dan mengalami
perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri
(Romauli, 2010).

Remaja adalah anak berusia 13-25 tahun, dimana usia 13 tahun


merupakan batas usia pada umumnya, yaitu ketika secara biologis sudah
mengalami kematangan seksual dan usia 25 tahun adalah usia ketika
mereka pada umumnya secara sosial dan psikologis mampu mandiri.
Berdasarkan uraian diatas ada dua hal penting menyangkut batasan
remaja, yaitu mereka sedang mengalami perubahan dari masa kanak-
kanak kemasa dewasa dan perubahan tersebut menyangkut perubahan
fisik dan psikologis(Romauli, 2010).

2.4 Konsep Metode Simulasi


2.4.1. Definisi Metode Simulasi
Simulasi   adalah satu metode pelatihan yang memperagakan sesuatu
dalam bentuk tiruan (imakan) yang mirip dengan keadaan yang
sesungguhnya; simulasi: penggambaran suatu sistem atau proses 
dengan peragaan memakai model statistic atau [Link]
Pusat Bahasa Depdiknas (2016)

Simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah


sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada
kurun waktu yang tertentu. Jadi  dapat dikatakan bahwa simulasi itu
36

adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang


menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya.  
Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan
bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata. Udin
Syaefudin Sa’ud 

Metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang


dapat digunakan dalam pembelajaran [Link] pembelajaran
yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan
benda atau kegiatan  yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar
yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh
siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar.

Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa


dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi
dan berkomunikasi dalam [Link] samping itu, dalam metode
simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku
yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2.4.2 Tujuan Metode Simulasi


[Link]. Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional
maupun bagi kehidupan sehari-hari.
[Link]. Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau
prinsip.
[Link]. Melatih memecahkan masalah.
[Link]. Meningkatkan keaktifan belajar.
[Link]. Memberikan motivasi belajar kepada siswa.
[Link]. Melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi
kelompok.
[Link]. Menumbuhkan daya kreatif siswa.
[Link]. Melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
37

2.4.3 Jenis- jenis Metode Simulasi


[Link]. Bermain peran (role playing)
Dalam proses pembelajarannya metode ini mengutamakan
pola permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi
dilakukan oleh kelompok siswa dengan mekanisme
pelaksanaan  yang diarahkan oleh guru untuk melaksanakan
kegiatan yang telah ditentukan / direncanakan sebelumnya.

Simulasi ini lebih menitik beratkan pada tujuan untuk


mengingat atau menciptakan kembali gambaran masa silam
yang memungkinkan terjadi pada masa yang akan  datang
atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi kehidupan
sekarang.

[Link]. Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran
untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan
dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut
hubungan antara [Link] pembelajarannya yang
dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas
belajar memecahkan masalah yang berhubungan dengan
masalah individu sebagai makhluk [Link],
hubungan anak dan orangtua, antara siswa dengan teman
kelompoknya.

[Link]. Permainan simulasi (Simulasi games)


Dalam pembelajarannya siswa bermain peran sesuai
dengan peran yangditugaskan sebagai balajar membuat
suatu keputusan.
38

[Link]. Peer Teaching.


Peer teaching merupakan latihan mengajar yang
dilakukan oleh siswa kepada teman-teman calon guru.

2.4.4 Kelemahan Dan Kelebihan Metode Simulasi


Mengemukakan tentang keunggulan dan kelemahan metode simulasi
sebagai berikut:
[Link]. Kelebihan Metode Simulasi
a. Siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi
dalam   kelompoknya.
b. Aktivitas siswa cukup tinggi dalam  pembelajaran
sehingga terlibat langsung dalam   pembelajaran.
c. Dapat membiasakan siswa untuk memahami
permasalahan sosial (merupakan implementasi
pembelajaran yang berbasis kontekstual).
d. Dapat membina hubungan personal yang positif.
e. Dapat membangkitkan imajinasi.
f. Membina hubungan komunikatif dan bekerja sama
dalam kelompok.
[Link]. Kelemahan Metode Simulasi
a. Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak.
b. Sangat bergantung pada aktivitas siswa.
c. Cenderung memerlukan pemanfaatan sumber belajar.
d. Banyak siswa yang kurang menyenangi sosiodrama
sehingga   sosiodrama tidak efektif

2.4 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara
konsep satu terhadap konsep yang lain dari masalah yang diteliti. Kerangka
konsep didapatkan dari konsep ilmu/teori yang dipakai sebagai landasan
penelitian yang didapatkan ditinjauan pustaka, sebagai ringkasan dari
39

tinjauan pustaka yang dihubungkan dengan garis sesuai dengan variabel


yang diteliti (Kartika, Ira Iin, 2017).

Kerangka konsep ini membuat fokus peneliti lebih terarah sehingga


memudahkan peneliti dalam menyusun hipotesis penelitian serta
mempermudah dalam mengidentifikasi fungsi variabel penelitian tersebut
(Pamungkas & Andi, 2017).

Untuk lebih jelasnya kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada gambar
2.2 dibawah ini:

Pretest Simulasi RJP Postest Kemampuan


Siswa

Gambar 2.6 Kerangka Konsep


Keterangan :
: Diteliti
: Pengaruh

2.5 Hipotesis
Menurut (Notoatmodjo, 2014: 105). Hipotesis merupakan jawaban
sementara penelitian, patokan dugaan, atau dalil sementara, yang
keenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui
pembuktian dari hasil penelitian maka hipotesis ini dapat benar atau salah,
dapat diterima atau di tolak. Ada Efektivitas Keterampilan BHD dengan
Metode Simulasi Sebelum dan Sesudah Menggunakan Phantom Resusitasi
Jantung Paru terhadap Peningkatan Keterampilan pada Siswa SMAN 1
Tabunganen
40

Anda mungkin juga menyukai