Bab I Pendahuluan
Bab I Pendahuluan
PENDAHULUAN
Parsial AVSD kelainan terjadi pada bagian inferior septum atrial atau yang biasa
disebut defek pada ostium primum. Adapun komplit AVSD defek terjadi pada septum
atrial dan ventrikular. Insidensinya mencapai 4-5.3 setiap 10.000 kelahiran hidup,
prevalensi AVSD 7% dari semua CHD dan seringkali berhubungan dengan sindrom
[Link] lanjut lagi penamaan AVSD masih menjadi kontroversi dan data-
DMP, endocardial cushion, dan mesenchymal cap dengan septum atrial dan
ventrikel. Perbaikan AVSD dengan tindakan operatif pertama kali diperkenalkan oleh
Lillehei et al pada tahun 1955. Teknik single-patch diperkenalkan oleh Maloney dan
kolega pada tahun 1962, sedangkan teknik two-patch diperkenalkan oleh Trusler
Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai AVSD dari sudut pandang
risiko genetik dan maternal, diagnosis, teknik operasi dan perkembangan AVSD.
Secara spesifik, akan dipaparkan juga perkembangan AVSD, anatomi, dan faktor
prognostik antara penderita AVSD dengan sindrom down dan non-sindrom Down
(Calkoen E,2016).
1
1.2. Tujuan
sehingga dapat menjadi bekal dan wawasan keilmuan bagi seorang ahli
khususnya
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
dan subdivisi morfologi AVSD, serta gambaran AVSD inilah yang saat ini digunakan.
Pada makalah ini kita akan menggunakan klasifikasi dari IPCCC (gambar 1)
ostium primum dari septum atrial dan suatu kelainan non restriktif septum
interventrikular inlet dengan satu anulus AV serta katup AV utama. Katup AV utama
secara klasik terdiri dari 2 bagian daun katup superior dan inferior yang melintasi
septum ventrikular seperti suatu bagian dari lateral kiri daun katup, anterior-superior
kanan dan kanan inferior daun katup. Pirau Complete AVSD terjadi pada atrium
maupun ventrikel. Adapun partial AVSD , fusi terjadi pada sebagian atrium dan pirau
hanya terjadi pada ventrikel. Tipe AVSD ini secara klinis lebih dikenal dengan inlet
dalam pembentukan bagian bawah septum atrial, bagian atas septum ventrikel,
serta daun katup septal katup mitral dan trikuspid. Dengan demikian gangguan
3
perkembangan endocardial cushion akan mengakibatkan berbagai macam
Incomplete AVSD (kelainan ostium primum atau incomplete AV canal) terdiri dari
kelainan pada septum atrial yang berlokasi di bagian bawah septum yang berdekatan anulus
katup mitral, berhubungan dengan daun katup anterior katup mitral sehingga dapat
mengakibatkan gangguan baik pada katup mitral maupun katup trikuspid. Bentuk
lain dari complete AVSD adalah satu ventrikel dan bagian dari daun katup AV
4
canal. Ini merupakan bentuk ekstrim dan diperlakukan sebagaimana kelainan
ventrikel tunggal.
berbeda antara satu pasien dengan pasien yang lainnya bengantung pada kelainan
kromosom, Complete AVSD umumnya pada penderita sindrom down. Variasi AVSD
mencakup partial AVSD, Intermediate AVSD, hingga Complete AVSD. Kelainan juga
dapat ditemukan pada septum bagian membran pada pasien AVSD dan pada
primary heart tube berasal dari suatu progenitor miokardial mesoderm splanknik.
splanknik yang pada akhirnya akan membentuk arteri dan vena jantung (Deraz
A,2014) .
Heart tube awalnya berisi lapisan endokardial bagian dalam dan luar yang
dipisahkan oleh suatu cairan. Sel-sel yang berasal dari endotelium bermigrasi ke
cairan mesenkim, suatu proses yang disebut sebagai EMT (Gambar 2) (Calkoen
inferior, superior, dan 2 lateral cushion, yang pada akhirnya berperan pada
primum menuju kanal AV yang merupakan struktur bagian bawah struktur seperti
5
cushion disebut juga sebagai mesencymal cap. Pada awalnya, septum primum
belum terhubungan dengan kanal AV sehingga ostium primur tetap terbuka. Pada
tahap selanjutnya mesencymal cap menyatu dengan bagian superior dan inferior AV
struktur yang disebut sebagai DMP atau vestibular spine, pada bagian basal septum
miokardialisasi, dan sebagain DMP akan membentuk tendon Todaro, yang berisi
katub Eustachia vena kava inferior dan katub Therebesian sinus koronarius
(Razzouk AJ,2015) .
membentuk septum tipe membran. Bagian superior dan inferior endocardial cushion
juga ikut membentuk daun katup trikuspid bagian septal dan daun katup mitral
bagian anterior. Adapun bagian lateral kanan endocardial cushion membentuk daun
6
katup trikuspid bagian lateral sedangkan bagian lateral kiri endocardial cushion
membentuk daun katup mitral bagian lateral. Selanjutnya sel-sel yang berasal dari
anulus fibrosis dan daun katup parietal mitral maupun tricuspid (Deraz A,2014).
endocardial cushion. Trisomi 16 (Ts16) pada model tikus dengan sindrom Down
Ts16 pada model tikus terjadi pada endocardial cushion juga pada perkembangan
mesencymal cap dan DMP. Mutasi heterozigot gen GATA4 dan NR2F2 pada model
tikus juga dapat mengakibatkan partial AVSD dan complete AVSD yang diduga
terjadi ganguan pada endocardial cushion. Selain itu, Wnt, Shh, dan Pdgfr-a dapat
cap, dan DMP dalam prognosis AVSD masih belum jelas (Heck P,2017).
Penelitian embrio pada manusia dengan AVSD tidak terdapat kelainan pada
observasi pada penderita sindrom Down dan AVSD. Kelainan pada AV septation
dapat juga mengganggu sistem konduksi AV. Selama pembentukan nodus anterior
7
2.3. Anatomi dan sistem konduksi pada AVSD
Penting untuk diketahui bahwa korda tendinea dan muskulus papilaris katup
AV pada semua tipe AVSD berbeda bila dibandingkan katup mitral dan trikuspid
normal. Daun katup posterior (lateral) pada katup mitral yang normal meliputi 2/3
katup, sedangkan pada AVSD hanya meliputi 1/5 katup. Disfungsi pada katup juga
Gambar 3. Sistem Konduksi Jantung Normal versus AVSD. (Dikutip dari : Calkoen
E,2016)
mengambarkan posisi dan morfologi sistem konduksi pada AVSD. Posisi nodus AV
8
lebih posterior dan inferior bila dibandingkan posisi normal di dalam segitiga Koch
(Ren R, 2014).
adalah sindrom Down. Selain sindrom Down, sindrom heteroaxia juga sering
prevalensi AVSD mencapai 90%. Adapun penderita isomerism kiri atau sindrom
pada kasus AVSD berkaitan dengan abnormalitas asimetri kiri dan kanan (Nguyen
H,2014) .
PITX2, NODAL, ZIC3, CFC1, dan NKX2.5. Beberapa sindrom seperti sindrom
Selain faktor risiko genetik, faktor risiko maternal seperti diabetes, diabetes
merokok dan AVSD. Hal ini menunjukkan faktor epigenetik dan genetik memiliki
Kelainan yang berhubungan dengan AVSD yang bukan suatu sindrom relatif
9
terutama dengan sindrom Down. Pada pasien AVSD, posisi aorta lebih anterior yang
akan menggangu perkembangan outflow tract. Posisi aorta yang lebih ke anterior ini
terlihat pada CXR dan disebut “goose-neck”. Hal ini akan mengakibatkan kelainan
jantung lainnya seperti stenosis subaortik dan koartasio aorta (Calkoen E,2016).
Kejadian DORV pada AVSD mencapai 5%. Pada AVSD juga dapat dijumpai
kelainan lainnya seperti anomali Ebstein’s, anomali pulmonary venous return dan
transposition of great artery (TGA). Kelainan organ selain jantung juga ditemukan
ekokardiografi fetal dengan pandangan four- chamber terdeteksi hingga 27% pasien.
Kejadian kelainan jantung dan kelainan di luar jantung 40-50% pada AVSD.
Diagnosis prenatal ini penting untuk memberikan informasi kepada orang tua apakah
Gambaran klinis AVSD tergantung pada tipe dan derajat pirau. Gejala akan
muncul lebih jelas pada pasien yang mengalami kelainan septum lebih luas dan
gangguan kelainan katup mitral. Bayi yang dengan complete AVSD akan
beberapa bulan. Adapun bayi dengan defek ostium primum serta mitral regurgitasi
10
meningkatkan volume ventrikel kiri disebabkan adanya volume regurgitasi; [Link]
Gejala gagal jantung kongestif yang dimaksud adalah berupa gagal tumbuh
dan infeksi saluran nafas berulang. Sianosis ringan dapat terjadi karena adanya
pirau dari kanan ke kiri yang dihubungkan dengan masih lebih tingginya tekanan
dengan sindrom Down (trisomi 21). Dengan demikian kelainan trisomi tersebut
Pada pemeriksaan fisik gambaran umum dapat normal, namun bayi yang
mengalami gagal jantung kongestif memberikan gejala klinis dipsnue dan takipnue.
Bila terdapat pembesaran ruang jantung apek jantung akan bergeser ke kiri dan ke
arah inferior. Pada auskultasi bervariasi namun secara umum berupa murmur
regurgitasi mitral dan pirau kiri ke kanan. Pada pasien dengan kelainan ostium
primum dan gangguan katup mitral maka terdapat 5 tanda : 1. Apical pansystolic
murmur, bunyi murmur yang menyebar ke axila disertai adanya thrill ; 2. Apical
mid-diastolic murmur, bunyi murmur ini dapat terdengar bila terdapat volume
regurgitan yang besar dan menunjukkan aliran antegrad yang melintasi katup mitral ;
3. Pulmonary systolic ejection murmur, bunyi murmur ini sama dengan aliran
pulmonal pada kelainan ostium sekundum yang berkaitan peningkatan aliran darah
pada daerah outflow ventrikel kanan ; 4. Wide fixed splitting S2, ini menunjukkan
adanya hubungan atau pirau pada tingkat atrial ; 5. Tricuspid diastolic murmur,
disebabkan adanya pirau dari kiri ke kanan pada tingkat atrial (Johnson W, 2014).
11
Pada EKG terdapat 5 gambaran pada AVSD; 1. Left-axis deviation,
disebabkan oleh kelaianan sistem konduksi pada ventrikel. Posisi berkas His lebih
ke arah inferior dari defek septal sepanjang posterior septum ventrikel. Depolarisasi
ventrikel didahului arah ke inferior ke superior dan pada umumnya kea rah kiri.
berkaitan dengan kelainan berkas His dan perkembangan abnormal nodus AV; 3.
kardiomegali. Peningkatan ukuran jantung disebabkan pirau dari kiri ke kanan dan
mitral regurgitasi sehingga terjadi dilatasi jantung kiri. Dilatasi atrium kiri juga dapat
terjadi meskipun tidak terlalu menonjol. Sisi kanan jantung juga mengalami dilatasi
(Johnson W, 2014).
complete AVSD dengan pandangan four chamber terlihat defek pada kedua septum
AV. Tingkat regurgitasi katup AV dapat ditentukan dengan dopler. Partial AVSD
dapat memberikan gambaran klasik berupa defek primum besar hingga defek pada
tambahan untuk rencana tindakan operatif, karena morfologi katup AV dan LVOT
bisa dilihat lebih detail. Studi kecil melaporkan penggunaan MRI peri-operatif dapat
12
Katerisasi jantung bukan suatu tindakan yang rutin dilakukan bila anatomi
saturasi oksigen terdapat pada level atrium walaupun terkadang juga pada level
ventrikel juga naik. Pirau ringan dari kanan ke kiri dapat terlihat pada level atrium
atau intrapulmonal. Pirau kanan ke kiri yang berat menunjukkan resistensi pulmonal
cushion dan adanya penempatan abnormal chorda septum. Mitral regurgitasi juga
dapat terlihat. Proyeksi oblik anterior kiri atau four chamber ventrikulogram kiri
13
Gambar 4. Diagnosis AVSD. (Dikutip dari : Calkoen E,2016)
serta suplemen makanan untuk menaikkan berat badan. Koreksi AVSD secara
operatif pertama kali diperkenalkan oleh Lillehei et al pada tahun 1955. Terdapat 3
teknik operasi untuk koreksi AVSD (Gambar 5) (Calkoen E,2016) : 1. Teknik single-
patch yang mana 1 material prostetik digunakan untuk menutup pirau pada atrial
atau ventrikel; 2. Teknik two-patch, 1 material prostetik menutup VSD dan 1 material
14
disambungkan dengan septum ventrikel sedangkan ASD ditutup dengan material
Pasien dengan defek ostium primum dan kelainan katup mitral yang
dapat dilakukan lebih cepat antara umur 2-3 bulan, risiko hipertensi pulmonal
akan meningkat pada umur 6-9 bulan, terutama pada penderita sindrom Down.
Hasil operasi pada umumnya baik pada semua kasus walaupun ada beberapa
15
Untuk partial AVSD umumnya dikoreksi dengan teknik single-patch
aortic cross - lamp yang lebih pendek, rendahnya tingkat mortalitas, dan
bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya bergantung juga pada kelainan
atrium dan ventrikel. AVSD dapat dijumpai bersamaan dengan TOF dan DORV,
oleh karena itu kombinasi teknik koreksi dapat dilakukan untuk hasil terbaik (Ren
R, 2014) .
Morbiditas koreksi AVSD pada bayi bayi kecil rendah pada era saat
ini dan obstruksi pembuluh darah paru harus dicegah, oleh sebab itu koreksi
AVSD komplit disarankan pada umur 3 bulan. Namun demikian waktu operasi
bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah kelaianan
penyerta jantung lainnya. Koreksi pada anak dengan berat badan kurang dari 5
Namun demikian, koreksi yang dilakukan di atas umur 6 bulan memiliki risiko
terjadinya operasi berulang. Penelitian tahun 2000, rata-rata usia operasi antara
3.6 bulan sampai dengan 7.2 bulan. Penelitian terbaru menyatakan rata-rata usia
koreksi pada umur 1.8 tahun sampai dengan 7.9 tahun. Untuk pasien AVSD
intermediet rata-rata dilakukan operasi pada umur 1 tahun. Panduan dari ESC
16
dilakukan bila terdapat tanda-tanda overload pada ventrikel kanan (Calkoen
E,2016).
2.8. Follow up
Mortalitas jangka pendek (3 hari paska operasi) setelah koreksi operatif telah
menurun dalam beberapa dekade terakhir dari 0% sampai dengan 10.7%. Beberapa
penelitian menyatakan hal ini dihubungkan dengan semakin muda dilakukan operasi
perbedaan antara penderita sindrom Down dan bukan penderita sindrom Down pada
beberapa dekade terakhir, 70% sampai dengan 100%. Hal tesebut bergantung pada
luasnya operasi dan kompleksitas anatomi jantung. Setelah koreksi AVSD, kejadian
operasi ulang antara 1.8% sampai dengan 28.9%. Kasus terbanyak disebabkan oleh
regurgitasi LAVV. Indikasi lain koreksi ulang adalah stenosis sub aortik, residu
AVSD, obstruksi LVOT, dan regurgitasi AVV kanan. Panduan ESC pada topik
GUCH koreksi operatif dilakukan pada regurgitasi LAVV sedang sampai dengan
berat dengan gejala atau tanpa gejala namun terdapat tanda-tanda pembesaran
ventrikel kiri atau berkurangnya EF. Koreksi regurgitasi LAVV dapat berupa
perbaikan atau bahkan pergantian katup. Perbaikan katup memiliki angka survival
yang lebih tinggi daripada pergantian katup. Kerugian pergantian katup lainnya
17
adalah penggunaan antikoagulan yang meningkatkan risiko infeksi dan selama
kehamilan berisiko untuk ibu dan [Link] panduan ESC pada topik GUCH
18
BAB III
KESIMPULAN
junction dengan suatu varietas kelainan septum dan katup yang dapat
Nomenklatur yang konsisten akan memudahkan komunikasi antara ahli anatomi, ahli
jantung, dan ahli bedah. Deteksi dini AVSD terus meningkat dengan adanya
yang lebih baik, operasi ulang dapat terjadi lagi karena adanya regurgitasi LAVV.
Indikasi untuk dilakukannya operasi ulang masih diperdebatkan, oleh karena itu
maupun dengan MRI. Follow up diperlukan untuk menilai hasil tindakan operatif
pada fungsi jantung dan perbedaan outcome pasien AVSD dengan sindrom down
maupun tidak.
19
DAFTAR PUSTAKA
Calkoen, E.E., Hazekamp, M.G., Blom, N.A., Elders, B.B., Gittenberger-de Groot,
A.C., Haak, M.C., Bartelings, M.M., Roest, A.A. and Jongbloed, M.R., 2016.
Atrioventricular septal defect: From embryonic development to long-term
follow-up. International journal of cardiology, 202, pp.784-795.
Deraz, S. and Ismail, M., 2014. Single patch technique versus double patch
technique in repair of complete atrioventricular septal defect. The Egyptian
Heart Journal, 66(2), pp.177-182.
Heck, P.B., Eicken, A., Kasnar-Samprec, J., Ewert, P. and Hager, A., 2017. Early
pulmonary arterial hypertension immediately after closure of a ventricular or
complete atrioventricular septal defect beyond 6months of age. International
journal of cardiology, 228, pp.313-318.
Johnson W. Pediatric Cardiology : The Essential Pocket Guide Third Edition: Wiley
Blackwel; 2014
Morlando, M., Bhide, A., Familiari, A., Khalil, A., Morales-Roselló, J., Papageorghiou,
A.T. and Carvalho, J.S., 2017. The association between prenatal
atrioventricular septal defects and chromosomal abnormalities. European
Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 208, pp.31-35.
Nguyen, H.H. and Jay, P.Y., 2014. A single misstep in cardiac development explains
the co-occurrence of tetralogy of Fallot and complete atrioventricular septal
defect in Down syndrome. The Journal of pediatrics, 165(1), pp.194-196.
20
Razzouk, A.J., Hasaniya, N.W. and Bailey, L.L., 2015. Classic single-patch repair of
atrioventricular septal defects. Operative Techniques in Thoracic and
Cardiovascular Surgery, 20(1), pp.75-86.
Ren, R., He, F. and Xiao, X., 2014. Bosentan treatment for pulmonary arterial
hypertension due to complete atrioventricular septal defect in an infant with
Down's syndrome. International journal of cardiology, 177(3), pp.1054-1055.
21