Analisis Puskesmas Melong Tengah
Analisis Puskesmas Melong Tengah
Pembimbing:
Anastasia Yani Triningtyas, dr., [Link]
Pembimbing Lapangan:
Apriani Muliawati T, dr.
Disusun Oleh :
Gitty Srinita (4151161445)
Leviani Mulia Primadani (4151161421)
Putri Prihadian Gustianti (4151161484)
Roufisma Abdi Pratama (4151161495)
5. Lokasi:
● Mudah dijangkau dari arus lalu lintas
● Dekat dengan pemukiman penduduk
Memenuhi 4 item
● Dekat fasilitas umum 5
● Transportasi mudah
Jumlah 33
Rata-rata 4,12 ≈ 4
Jumlah 27 583,7
jumlah penduduk lebih atau kurang dari 30.000, maka diperoleh rumus akhir angka
t adalah jumlah tenaga masing – masing kategori, d adalah pendidikan dasar, b adalah
Tengah yaitu:
❑
∑ ❑ [ t ( d +bq ) ]
s 1= ❑
x 1000
Pddk
455 x
30.000
583,7
s 1= ×1000
29.939
455 ×
30.000
s 1=1.282,8 ×100 %=128,6 %
Angka keadaan tenaga Puskesmas Melong Tengah dikatakan Baik, karena
didapatkan nilai SI>1000, yaitu sebesar 1.282. Hal ini berpengaruh terhadap kinerja
Cakupan Institusi
Kesehatan ber- 4 4 2 4 5 5 350 III
PHBS
Cakupan Pengkajian
dan Pembinaan 4 4 3 4 5 5 375 I
PHBS di Tatanan
Rumah Tangga
Cakupan
pemberdayaan
masyarakat melalui
penyuluhan 4 5 3 5 5 4 340 II
kelompok oleh
petugas di
masyarakat
Proses
A. Planning
Pembinaan kader posyandu.
Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama program
kesehatan lingkungan.
Memperbaharui alat bantu penyuluhan seperti leaflet menjadi lebih menarik.
Pendekatan ke ketua RW dan tokoh masyarakat.
B. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan bidan desa, kader, ketua RW, dan tokoh masyarakat. Pertemuan ini
termasuk menentukan tugas dan wewenang masing-masing dalam program ini.
C. Actuating
Pendataan dan jumlah sasaran rumah tangga di setiap RW sudah jelas.
Pelaksanaan pendataan dan penyuluhan tidak sulit, namun pada umumnya
waktu yang diperlukan kurang dan tidak semua warga datang sehingga
penyuluhan tidaklah maksimal.
Dilaksanakannya pembinaan kader untuk mengajak masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas dibantu oleh ketua RW serta tokoh masyarakat untuk
mengikuti pendataan dan penyuluhan dalam menciptakan PHBS.
Dilaksanakan kunjungan ke setiap rumah masyarakat agar dapat melihat
langsung dan penyuluhan disampaikan langsung dengan contoh yang nyata
sehingga lebih mudah dipahami, diingat, dan di implementasikan.
Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan.
D. Controlling
Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur memudahkan pengawasan
program.
Kader menjadi ujung tombak pelaksanaan kegiatan PHBS di tatanan rumah
tangga yang dipertanggungjawabkan kepada pemegang program kemudian
akan dilaporkan ke kepala puskesmas satu bulan sekali.
Kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan oleh pemegang
program, sehingga kinerja para kader tidaklah mencapai maksimal.
E. Evaluating
Hasil partisipasi masyarakat setiap bulannya tidak dijadikan standar untuk
kegiatan bulan berikutnya.
Output
A. Availability
Ketersediaan program promosi kesehatan di Puskesmas Melong Tengah sudah
berjalan tapi belum optimal setiap bulannya.
B. Acceptability
Penyuluhan mengenai PHBS ini kurang diminati oleh masyarakat, karena
kesibukan kerja menjadikan program PHBS dalam rumah tangga belum
sepenuhnya dapat dipahami karena tidak hadir dalam penyuluhan serta lingkungan
tempat tinggal yang tidak begitu mendukung.
C. Accessibility
Lokasi penyuluhan yang mudah dijangkau dan diakses bukanlah menjadi
kendala dari masyarakat sekitar, hanya saja waktu yang masih menjadi kendala
karena kesibukan masyaraat.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
F. Care
Kader dan pemegang program belum cukup aktif menjangkau setiap individu
masyarakat untuk memberikan pembinaan tentang PHBS di rumah tangga.
G. Compatibility
Pemegang program adalah orang yang memahami mengenai program promosi
kesehatan dan kesehatan lingkungan.
H. Comprehensibility
Pemahaman dan minat yang kurang pada masyarakat mengenai pentingnya
PHBS di kehidupan rumah tangga menyebabkan masih banyaknya rumah tangga
yang belum menerapkan PHBS.
2.1.4 Analisis SWOT
Faktor–faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Melong Tengah adalah sebagai berikut:
A. Strength
Tersedianya sumber daya manusia (pemegang program, bidan, kader, ketua
RW, dan tokoh agama). Jumlah posyandu satu untuk setiap RW, dan kegiatan
dilaksanakan disetiap RW satu bulan sekali.
B. Weakness
Kurangnya minat masyarakat karena sulitnya waktu untuk mengikuti penyuluhan
akibat bekerja sehingga pengetahuan masyarakat menjadi kurang.
C. Opportunity
Terdapatnya kader setiap RW sebagai bentuk peran serta masyarakat. Kerjasama
lintas program serta peran aktif dari ketua RW dan tokoh masyarakat dengan
kesehatan lingkungan memudahkan pelaksanaan kegiatan.
D. Threath
Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PHBS.
A. Planning
− Pembinaan kader posyandu yang sudah dilaksanakan sesuai dengan jadwal
− Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama program
promosi kesehatan.
− Berkoordinasi dengan lintas sektor terkait jamban sehat
B. Organizing
− Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan Kader.
C. Actuating
− Pendataan dan jumlah rumah warga di wilayah kerja puskesmas Melong
Tengah sudah jelas.
− Pelaksanaan kegiatan tidak sulit, namun pada umumnya petugas dan waktu
yang diperlukan kurang sehingga tidak semua rumah dapat di kunjungi.
− Dilaksanakannya pembinaan kader untuk menghimbau warga dalam
menciptakan jamban sehat.
− Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan.
D. Controlling
− Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur memudahkan pengawasan
program.
− Kader menjadi ujung tombak dalam menciptakan jamban sehat untuk warga
E. Evaluating
− Program ini diawasi dan dinilai oleh koordinator UKM, kepala Puskesmas dan
Dinas Kesehatan
Output
A. Availability
Ketersediaan Program kesehatan lingkungan yaitu pengawasan jamban sehat di
Puskesmas Melong Tengah sudah berjalan namun belum optimal.
B. Acceptability
Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya jamban yang sehat bagi
keluarganya sertaketerbatas dengan faktor ekonomi.
C. Accessibility
Lokasi rumah warga yang tidak sulit diakses bukanlah menjadi kendala dalam
pelaksanaan program.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Keberlangsungan kegiatan kesehatan lingkungan kurang berjalan dengan baik,
oleh karena keterbatasan petugas dan waktu pelaksanaan.
F. Care
Petugas puskesmas dan kader sudah memberikan penyuluhan dan konseling, akan
tetapi pengetahuan dan aplikasi pelaksanaan di masyarakat masih kurang. Hal ini
dilihat dari pencapaian yang belum memenuhi target.
G. Competency
Pemegang program adalah orang yang memahami mengenai program kesehatan
lingkungan.
H. Comprehensibility
Pemahaman yang kurang dan status ekonomi menengah kebawah pada
masyarakat menyebabkan banyak rumah warga yang belum menerapkan jamban
sehat.
Proses
A. Planning
Pembuatan rencana kerja sudah dilakukan oleh pemegang program agar
program dapat berjalan maksimal, serta adanya pendelegasian terhadap bidan agar
lebih terampil dalam melaksanakan tugas.
B. Organizing
Program pelayanan anak balita bekerjasama dengan bidan komersial dan kader
di RW setempat serta kerjasama dan koordinasi lintas program dengan program
gizi dan promosi kesehatan.
C. Actuating
Pihak puskesmas rutin melakukan pertemuan dengan kader hampir setiap bulan
dalam bentuk lokakarya bulanan untuk mengingatkan serta mendorong pihak-
pihak yang terkait. Pelaksanaan program disesuaikan dengan waktu yang telah
ditetapkan. Masih kurangnya kader untuk menghimbau warga untuk
memeriksakan ke posyandu serta kurangnya pencatatan dan pelaporan ke
penanggungjawab program di Puskesmas.
D. Controlling
Pengawasan yang dilaksanakan Puskesmas Melong Tengah untuk pelaksanaan
program Pelayanan anak balita adalah pengawasan langsung oleh petugas
puskesmas kepada setiap RW. Petugas puskesmas yang turun langsung ke
posyandu merupakan bidan yang merangkap sebagai petugas di Puskesmas
Melong Tengah lalu kegiatan akan dilaporkan pada koordinator pemegang
program.
E. Evaluating
Evaluasi dilakukan setiap bulan dengan melihat dari laporan bulanan serta
pertemuan dengan bidan dan kader yang terlibat. Evaluasi dilakukan secara
menyeluruh baik dari pemegang program, bidan, kader dan lintas program yang
terlibat.
Output
A. Availability
Program KIA-KB pada Puskesmas Melong Tengah telah berjalan secara rutin
melalui pelayanan Poli KIA, dan posyandu. Alat, fasilitas, dan tenaga pelaksanaan
sudah tersedia.
B. Acceptability
Jenis pelayanan diterima baik oleh masyarakat namun masih ada masyarakat
yang belum sadar akan pentingnya kesehatan terutama kesehatan anak balita.
C. Accessibility
Kegiatan pelaksanaan program pelayanan KIA-KB di Puskesmas mudah
dijangkau karena terletak di pinggir jalan besar yang mudah dilalui oleh angkutan
umum. Pelayanan juga dilakukan di posyandu RW setempat yang dekat dengan
perumahan warga dan mudah dijangkau.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Care
Keterbatasan kemampuan kader (mulai dari segi waktu dan kendaraan) untuk
mengajak keseluruhan warga untuk mengikuti program yang sudah direncanakan.
F. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
G. Competency
Pemegang program KIA-KB adalah seorang bidan yang dibantu oleh bidan-bidan
KHL dan para kader yang memahami mengenai program.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat mengenai pentingnya program KIA dan KB dirasakan
belum tercapai maksimal sehingga masih ada beberapa cakupan yang belum
memenuhi target.
2.3.4 Analisis SWOT
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Melong Tengah adalah sebagai berikut:
[Link]
1. Lokasi Puskesmas yang strategis dan mudah dijangkau bagi masyarakat di
wilayah Melong Tengah.
2. Tenaga kesehatan untuk melaksanakan program KIA di Puskesmas Melong
Tengah cukup untuk melaksanakan program.
3. Program telah rutin dilakukan baik di puskesmas maupun di posyandu.
4. Ketersediaan alat dan bahan yang mencukupi serta pendanaan program berjalan
lancar.
B. Weakness
1. Keterbatasan kader dalam mengajak keseluruhan warga untuk mengikuti
kegiatan/program karena kader tidak semuanya ibu rumah tangga, tapi ada juga
yang bekerja.
2. Waktu pelaksanaan penyuluhan dan kegiatan posyandu yang tidak sesuai
(biasanya dilakukan pagi-pagi) dengan warga yang bekerja pada jam tersebut
sehingga tidak dapat datang pada kegiatan yang diadakan.
C. Opportunity
Terdapatnya kader setiap RW sebagai bentuk peran serta masyarakat
Masyarakat setempat memiliki pendidikan menengah keatas sehingga jika
dilakukan edukasi dan penyuluhan akan lebih kooperatif dalam
menyukseskan program
D. Threat
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan anak balita
Proses
A. Planning
- Pembinaan kader posyandu.
- Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama KIA,
promosi kesehatan.
B. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan bidan dan desa [Link] ini sudah cukup baik.
C. Actuating
- Pendataan Baduta gakin sudah cukup jelas dan sasaran baduta MPASI sudah
jelas.
- Dilaksanakannya pembinaan kader untuk mengajak ibu atau kepala keluarga
untuk diberikan edukasi mengenai pentingnya MPASI dan sosialisasi kepada
tokoh masyarakat.
- Mengingatkahn kembali bidan dan kader untuk melakukan penyuluhan di
posyandu masing-masing.
D. Controlling
- Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur untuk memudahkan
pengawasan program.
- Pemegang program mendapat info dari setiap kader tentang pelaksanaan
penyuluhan melalui pesan singkat.
- Kader menjadi ujung tombak pelaksanaan posyandu yang dipertanggung
jawabkan kepada pemegang program.
E. Evaluating
Program ini sudah berjalan dan diawasi oleh kepala puskesmas serta dinas
kesehatan.
Output
A. Availability
Pelaksanaan program MPASI BADUTA GAKIN melalui posyandu sudah
dilakukan dalam waktu satu bulan sekali, dengan jadwal yang telah ditetapkan
di setiap posyandu.
B. Acceptability
Masyarakat dengan BADUTA GAKIN masih sulit menerapkan MPASI
karena keterbatasan pemahaman biaya untuk melaksanakannya.
C. Accessibility
Puskesmas Melong tengah sendiri terletak di jalan besar dan mudah
dijangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya, posyandu berada di
tiap RW, memudahkan masyarakat mendapat informasi mengenai MPASI .
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Program berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan.
F. Care
Pemegang program MPASI BADUTA GAKIN turut datang ke posyandu
tempat dilaksanakannya kegiatan untuk memantau atau turut serta
berpartisipasi dalam kegiatan yang diselanggarakan.
G. Compatibility
Pemegang program adalah orang yang ahli dalam masalah gizi dan KIA.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat dengan BADUTA GAKIN yang kurang mengenai
program MPASI, sehingga masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan
keluarganya.
1 Cakupan
Penderita V
5 4 2 2 5 4 260
Pneumonia
Balita
2 Cakupan
Penemuan I
Pasien baru 5 5 4 5 5 5 475
TB BTA
Positif
3 Cakupan
Kesembuha IV
4 5 2 5 5 4 320
n Pasien TB
BTA Positif
4 Cakupan
Penderita II
4 5 5 2 5 5 400
DBD yang
ditangani
5 Cakupan
Penemuan III
4 4 4 2 5 5 350
Pasien
Diare
INPUT (7M)
A. Man
Program upaya kesehatan dan P2PM di puskesmas Melong Tengah, dipegang oleh
5 orang, terdiri dari 3 orang dengan tingkat Pendidikan D3 Kebidanan dan 2 orang
dengan Tingkat Pendidikan D3 Keperawatan. Masing-masing memegang program
imunisasi, HIV & IMS, pneumonia, tb, ISPA & diare. Secara umum dalam analisis
lingkungan fisik tenaga kerja Puskesmas Melong Tengah dikatakan sudah memadai
dan untuk program P2PM juga dirasakan sudah cukup memadai.
B. Money
Sumber pembiayaan untuk program pemberantasan penyakit menular berasal dari
Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
C. Material
Bahan (kelengkapan laboratorium untuk penemuan kasus TB dan obat-obatan TB)
yang digunakan untuk program penemuan kasus baru TB BTA Positif sudah tersedia
di Puskesmas Melong Tengah.
D. Machine
Terdapat ruangan pemeriksaan khusus, yaitu poliklinik TB untuk pemeriksaan
pasien yang diduga menderita TB, dan terdapat laboratorium untuk pemeriksaan
dahak di Puskesmas Melong Tengah.
E. Method
Petugas puskesmas sudah bekerja sama dengan kader tiap RW namun terdapat
keterbatasan kader untuk menjangkau masyarakat di tiap RW dan terbatasnya
pengetahuan kader mengenai TB.
F. Market
Masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah banyak yang
belum menyadari bahaya penyakit TB, tanda gejala, dan cara penularan penyakit TB.
G. Minute
Pelaksanaan program P2PM di Pukesmas berlangsung bersamaan dengan jam
kerja Puskesmas, yaitu pukul 07.00-14.00 WIB serta di hari-hari posyandu.
Proses
A. Planning
1. Kunjungan petugas kepada kelompok dengan faktor risiko tinggi terkena TB yang
bekerja sama dengan kader dan pemegang program kesehatan lingkungan.
2. Meningkatkan pengetahuan kader mengenai penyakit TB agar dapat dengan cepat
mencatat dan melaporkan masyarakat yang diduga terkena penyakit TB.
3. Bekerja sama dengan pemegang promosi kesehatan dan tokoh masyarakat untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat yang memiliki faktor risiko tinggi terkena
penyakit TB agar segera memeriksakan diri ke puskesmas.
B. Organizing
Dilakukan penyampaian rencana kerja antara pemegang program TB, promkes,
tokoh masyarakat dan kader. Pemegang program penemuan kasus TB BTA positif
bekerja sama dengan promkes menyusun materi penyuluhan mengenai penyakit TB,
cara penularan, dan pencegahannya. Kader akan bersama-sama dengan masyarakat
dan tokoh masyarakat.
C. Actuating
Kader melaksanakan pendataan masyarakat yang diduga memiliki faktor risiko
tinggi terkena penyakit TB dan mengajak masyarakat tersebut untuk mengikuti
penyuluhan dan langsug memeriksakan diri ke poliklinik TB. Namun kader masih
sulit menjangkau para masyarakat yang bekerja dan tidak datang ke tempat
penyuluhan.
D. Controling
Pengawasan langsung dilakukan oleh pemegang program TB yang akan turun
langsung ke masyarakat di bantu kader atau melihat pelaporan langsung di poli TB.
Namun pencatatan TB sering kali sulit bila dilakukan pengecekan ulang di lapangan
karena nama yang didaftarkan ke poli TB adalah nama resmi yang tidak pernah
digunakan di lingkungan sehari-hari sehingga menyulitkan kunjungan petugas ke
rumah penderita.
E. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setiap bulan dengan melihat laporan bulanan yang telah
dikumpulkan pemegang program.
Output
A. Availability
Program penemuan kasus TB sudah berjalan melalui pelayanan Poliklinik TB di
Puskesmas Melong Tengah dan dibantu oleh kader di lapangan.
B. Acceptability
Jenis pelayanan diterima baik oleh masyarakat namun kesadaran individu untuk
memeriksakan diri masih kurang.
C. Accessibility
Pelayanan Poliklinik TB di Puskesmas Melong Tengah mudah dijangkau, dan
diperluas jaungkauannya dengan adanya kader, serta biaya pengobatan yang gratis.
D. Accountability
Perencanaan, pelaksanaan, dan pendataan sudah jelas sehingga memudahkan
pertanggungjawaban baik dari pemegang program ke kepala puskesmas, maupun dari
kepala puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
E. Care
Perhatian penyelenggara terhadap pelaksanaan program dirasakan cukup karena
program penemuan kasus TB selalu dilaksanakan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada
hari kamis dan jumat di poliklinik TB Puskesmas Melong Tengah.
F. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
G. Competency
Pemegang program P2PM cakupan penemuan pasien baru TB adalah seorang
perawat yang sebelumnya telah diberikan pelatihan, namun untuk diagnosis TB tetap
dilakukan oleh dokter
2.5.4 Analisis SWOT
A. Strength
Sumber daya manusia tersedia dan memadai.
B. Weakness
Tidak semua kader mampu mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran
mengenai penyakit TB, karena pengetahuan kader terbatas dan kesadaran masyarakat
yang masih kurang.
C. Opportunity
Terdapatnya kader di setiap RW yang bersedia mendukung program tersebut dan
pengobatan TB yang gratis karena dibiayai oleh pemerintah.
D. Threat
Ketersediaan alat bantu diagnostik yang kurang memadai di laboratorium
puskesmas, kesadaran masyarakat yang kurang mengenai penyakit TB sehingga
mempengaruhi perilaku kesehatannya.
2.5.5 Tabel PoA Program Pencegahan Penyakit Menular
Tabel 2.13 Tabel PoA
Sumber Daya Indikator Waktu
Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasila Pelaksan
Alat Tenaga
n aan
1. Pelatihan Menambah Seluruh Seluruh leaflet, Petugas Kader dapat Setiap
kader mengenai pengetahua kader kader PPT, pemega menjelaskan akhir
penyakit TB n kader video ng mengenai bulan
untuk program penyakit TB
mendeteksi TB kepada
awal masyarakat
masyarakat
dengan
risiko tnggi
penyakit
TB.
Proses
A. Planning
Kerjasama lintas program dengan promosi kesehatan mengenai pentingnya
melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis penyakit tertentu.
B. Organizing
Dalam pelaksanaannya, program upaya pengobatan telah bekerja sama lintas
program dengan promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan ibu dan
anak, serta P2PM. Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara
pemegang program dengan kader.
C. Actuating
- Pelayanan berjalan baik dan teratur.
- Pelayanan laboratorium rutin setiap hari kerja sesuai jadwal.
D. Controlling
Pengawasan dilakukan oleh koordinator pemegang program dan dilaporkan setiap
akhir bulan langsung ke Kepala Puskesmas.
E. Evaluating
Evaluasi dilakukan oleh koordinator pemegang program dan dilaporkan setiap
akhir bulan ke Kepala Puskesmas untuk perbaikan program pemeriksaan
laboratorium selanjutnya. Hasil jumlah cakupan pemeriksaan laboratorium di
puskesmas dan jumlah cakupan pemeriksaan yang dirujuk per tahun menjadi
landasan evaluasi untuk meningkatkan cakupan di tahun berikutnya.
Output
A. Availability
Pelaksanaan program kegiatan pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap hari
kerja, kecuali hari Minggu.
B. Acceptability
Kegiatan pemeriksaan laboratorium dapat diterima oleh masyarakat namun masih
terdapat sejumlah pasien yang menolak melakukan pemeriksaan laboratorium.
C. Accessibility
Puskesmas Melong Tengah sendiri terletak di pinggir jalan besar dan mudah
dijangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.
D. Accountability
Pemegang program/Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas program
pemeriksaan laboratorium ke kepala Dinas Kesehatan..
E. Continuity
Program laboratorium berlangsung dengan baik serta sudah dilaksanakan sesuai
dengan jadwal dan berkesinambungan.
F. Care
Tingkat kepedulian pemegang program sudah cukup untuk melakukan
pelaksanaan laboratorium dan merujuk pasien untuk pemeriksaan laboratorium yang
tidak dapat dilakukan di puskesmas.
G. Competency
Petugas laboratorium adalah orang yang ahli untuk melakukan pemeriksaan
laboratorium dan sudah memenuhi standar tenaga puskesmas.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat mengenai kesehatan yang dilakukan pada edukasi jarang
tersampaikan karena jumlah pasien tidak sebanding dengan SDM.
C. Opportunity
Kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan keinginan untuk berobat ke
puskesmas sudah baik.
D. Threat
Tingkat ekonomi masyarakat yang menengah ke bawah serta kesadaran
masyarakat yang kurang terhadap pentingnya pemeriksaan rutin di laboratorium
masih rendah.
2.6.5 Plan of Action
Tabel 2.15 Tabel PoA
Sumber Daya Indikator Waktu
Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasi Pelaksan
Alat Tenaga
lan aan
1. konseling Meningkatka Seluruh Seluruh Leafl dokter, Pasien Setiap
dan pasien pasien yang et / pemegang bersedia hari saat
n yang datang ke brosu untuk pelayana
penyuluhan program
mengenai pengetahuan datang puskesmas. r, promosi melakuka n di
ke PPT n puskesm
pentingnya kesehatan,
pasien puskes pemeriksa as untuk
pemeriksaan mas dan
petugas an konselin
laboratorium mengenai pengunj laboratoriu laboratori g, dan
ung m, dan um rutin setiap
pentingnya
posbind kader ataupun bulan
pemeriksaan u saat khusus untuk
penyulu penyulu
laboratorium han han
untuk
menunjang
diagnosis
penyakit
tertentu