0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan43 halaman

Analisis Puskesmas Melong Tengah

Laporan ini memberikan analisis lingkungan fisik, sosial budaya, dan sumber daya tenaga Puskesmas Melong Tengah dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan. Analisis dilakukan untuk variabel lingkungan fisik, sosial budaya, jumlah dan kualitas tenaga kesehatan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan43 halaman

Analisis Puskesmas Melong Tengah

Laporan ini memberikan analisis lingkungan fisik, sosial budaya, dan sumber daya tenaga Puskesmas Melong Tengah dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan. Analisis dilakukan untuk variabel lingkungan fisik, sosial budaya, jumlah dan kualitas tenaga kesehatan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ANALISIS LINGKUNGAN DAN

SUMBER DAYA MANUSIA


PUSKESMAS MELONG TENGAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kepaniteraan
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

Pembimbing:
Anastasia Yani Triningtyas, dr., [Link]

Pembimbing Lapangan:
Apriani Muliawati T, dr.

Disusun Oleh :
Gitty Srinita (4151161445)
Leviani Mulia Primadani (4151161421)
Putri Prihadian Gustianti (4151161484)
Roufisma Abdi Pratama (4151161495)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
CIMAHI
2018
BAB I
ANALISIS LINGKUNGAN FISIK PUSKESMAS MELONG TENGAH

VARIABEL KEADAAN SKALA


1. Luas daerah
● Luas wilayah kerja Puskesmas 1,3212 KM2 5
● Jumlah Desa/Kelurahan 16 RW 5
2. Keadaan Penduduk
● Jumlah Penduduk 29.939 jiwa 3
● Jumlah KK 9.526 KK 2
3. Keadaan Geografis
100 % dataran rendah
● Keadaan Geografis 5
50% hujan 50%
● Curah hujan 3
kemarau
Kec-RW 100 % aspal
4. Sarana Penghubung 5
Kec-Kota 100 % aspal

5. Lokasi:
● Mudah dijangkau dari arus lalu lintas
● Dekat dengan pemukiman penduduk
Memenuhi 4 item
● Dekat fasilitas umum 5
● Transportasi mudah

Jumlah 33
Rata-rata 4,12 ≈ 4

Berdasarkan hasil perhitungan skala analisis lingkungan fisik daerah kerja,


Puskesmas Melong Tengah yang meliputi luas wilayah kerja, jumlah desa/kelurahan,
jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, keadaan geografis, sarana perhubungan,
dan lokasi didapatkan angka 4 sehingga dikategorikan ringan.
VARIABEL KEADAAN SKALA
Analisis Sosial Budaya
1. Mata pencaharian 25% Petani, 75% Pedagang toko,
4
warung, jasa, kerajinan, industri.

2. Pendidikan penduduk 50-90% tamat SD dan sederajat ke


4
atas
Jumlah 8
Rata-rata 4

Berdasarkan hasil perhitungan skala analisis lingkungan sosial budaya Puskesmas


Melong Tengah yang meliputi mata pencaharian dan pendidikan penduduk
didapatkan angka 4 sehingga dikategorikan ringan.
BAB II
ANALISIS SUMBER DAYA TENAGA PUSKESMAS MELONG TENGAH

Data Tenaga Puskesmas dan Nilai Keadaan


Faktor Standarisasi
Lama Rasio lama
Bekerja Faktor pendidikan Nilai keadaan
Rincian Jumlah Standarisasi tenaga
No (rata- tiap tenaga
Variabel (t) Pendidikan dengan
rata) t⦋d+(bxq)⦌
(b) tenaga pendidikan
(d) dokter
(q)
1 Dokter 2 9 20 20/20 58
2 Dokter gigi 1 8 20 20/20 28
3 Bidan 9 12 13 13/20 187,2
4 Perawat 3 12 12 12/20 57,6
5 Perawat gigi 1 12 12 12/20 19,2
6 Petugas 2 8 12 12/20 33,6
sanitasi
7 Petugas 1 13 12 12/20 19,8
laboratoriu
m
8 Asisten 2 11 12 12/20 37,2
apoteker
9 Petugas gizi 1 20 12 12/20 24
10 Tenaga 4 24 12 12/20 105,6
administrasi
11 Pengemudi 1 10 9 9/20 13,5

Jumlah 27 583,7

Penilaian berdasarkan jumlah penduduk wilayah kerja puskesmas didapatkan dari

standar tenaga puskesmas berdasarkan rata-rata melayani 30.000 penduduk dan

jumlah penduduk lebih atau kurang dari 30.000, maka diperoleh rumus akhir angka

keadaan tenaga, yaitu;



S 1=∑ ❑¿ ¿

t adalah jumlah tenaga masing – masing kategori, d adalah pendidikan dasar, b adalah

rata-rata lama bekerja, q adalah perbandingan lama pendidikan masing-masing tenaga

terhadap pendidikan dokter, penduduk adalah jumlah penduduk dalam puskesmas,

dan 455 adalah angka standard tenaga puskesmas.

Berdasarkan data tersebut didapatkan angka keadaan tenaga Puskesmas Melong

Tengah yaitu:


∑ ❑ [ t ( d +bq ) ]
s 1= ❑
x 1000
Pddk
455 x
30.000
583,7
s 1= ×1000
29.939
455 ×
30.000
s 1=1.282,8 ×100 %=128,6 %
Angka keadaan tenaga Puskesmas Melong Tengah dikatakan Baik, karena

didapatkan nilai SI>1000, yaitu sebesar 1.282. Hal ini berpengaruh terhadap kinerja

Puskesmas Melong Tengah.


BAB III
ANALISIS PROGRAM PUSKESMAS MELONG TENGAH

2.1 Program Promosi Kesehatan


2.1.1 Identifikasi Masalah Program Promosi Kesehatan
Tabel 2.1 Identifikasi Masalah Program Promosi Kesehatan
No Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan
.
1. Cakupan Komunikasi (0,11 %) Memenuhi target
Interpersonal dan Konseling
(KIP/K)
2. Cakupan penyuluhan (0,00%) Memenuhi target
kelompok oleh petugas di
dalam gedung puskesmas
3. Cakupan Institusi Kesehatan (-50%) Tidak memenuhi
ber-PHBS target
4. Cakupan Pengkajian dan (-12,3%) Tidak memenuhi
Pembinaan PHBS di Tatanan target
Rumah Tangga
5. Cakupan pemberdayaan (-57,89%) Tidak memenuhi
masyarakat melalui target
penyuluhan kelompok oleh
petugas di masyarakat
6. Cakupan pembinaan UKBM (13,95%) Memenuhi target
dilihat melalui persentase (%)
posyandu purnama & mandiri
7. Cakupan pembinaan (40%) Memenuhi target
pemberdayaan masyarakat
dilihat melalui persentase (%)
desa siaga aktif (untuk
kabupaten)/RW siaga aktif
(untuk kota)
8. Cakupan pemberdayaan (50%) Memenuhi target
individu/keluarga melalui
kunjungan rumah
2.1.2 Penentuan Prioritas Masalah
Tabel 2.2 Penentuan prioritas masalah metode kuantitatif skoring
Importancy Priori
Technica tas
Degre Skor
Social l Resources
Program Preval Severit e of (IxTx
benefi feasibilit availability
ence y unmee R)
t y
t need

Cakupan Institusi
Kesehatan ber- 4 4 2 4 5 5 350 III
PHBS
Cakupan Pengkajian
dan Pembinaan 4 4 3 4 5 5 375 I
PHBS di Tatanan
Rumah Tangga
Cakupan
pemberdayaan
masyarakat melalui
penyuluhan 4 5 3 5 5 4 340 II
kelompok oleh
petugas di
masyarakat

Berdasarkan metode kuantitatif maka dapat disimpulkan prioritas masalah pada


program promosi kesehatan, yaitu cakupan pengkajian dan pembinaan PHBS di
tatanan rumah tangga.

2.1.3 Penentuan Penyebab Masalah


Input (7M)
A. Man
Program promosi kesehatan di Puskesmas Melong Tengah sudah dipegang oleh
satu orang bidan berpendidikan D3 yang sudah memiliki pengalaman kerja yang baik
dan lama kerja yang cukup lama. Dari sisi ketenagaan Puskesmas Melong Tengah
sudah mencukupi karena dibantu oleh bidan desa, lintas sektor dengan pemegang
program lain, serta beberapa kader dari setiap posyandu.
B. Money
Pembiayaan berasal dai Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan APBD dana
tersebut belum mencukupi karena terbatas.
C. Material
Kurangnya alat peraga untuk penyuluhan dan kebanyakan leaflet penunjang
penyuluhan sudah rusak.
D. Machine
Posyandu hanya memiliki satu timbangan dan pita ukur, beberapa timbangan di
posyandu tidak terkalibrasi, banyak masyarakat yang masih menggunakan mesin
pompa air untuk sumber air sehari-hari,
E. Method
Pelaksanaan pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan rumah tangga dilakukan
di posyandu RW setempat dengan bantuan kader dari setiap posyandu.
F. Market
Kebanyakan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah
berpendidikan menengah namun respon masyarakat masih kurang baik.
G. Minute
Petugas dapat memantau ke setiap posyandu karena jadwal pelaksanaan posyandu
tidak ada yang sama. Namun didapatkan banyak ibu yang bekerja sehingga tidak
datang pada pelaksanaan acara.

Proses
A. Planning
 Pembinaan kader posyandu.
 Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama program
kesehatan lingkungan.
 Memperbaharui alat bantu penyuluhan seperti leaflet menjadi lebih menarik.
 Pendekatan ke ketua RW dan tokoh masyarakat.
B. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan bidan desa, kader, ketua RW, dan tokoh masyarakat. Pertemuan ini
termasuk menentukan tugas dan wewenang masing-masing dalam program ini.
C. Actuating
 Pendataan dan jumlah sasaran rumah tangga di setiap RW sudah jelas.
 Pelaksanaan pendataan dan penyuluhan tidak sulit, namun pada umumnya
waktu yang diperlukan kurang dan tidak semua warga datang sehingga
penyuluhan tidaklah maksimal.
 Dilaksanakannya pembinaan kader untuk mengajak masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas dibantu oleh ketua RW serta tokoh masyarakat untuk
mengikuti pendataan dan penyuluhan dalam menciptakan PHBS.
 Dilaksanakan kunjungan ke setiap rumah masyarakat agar dapat melihat
langsung dan penyuluhan disampaikan langsung dengan contoh yang nyata
sehingga lebih mudah dipahami, diingat, dan di implementasikan.
 Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan.
D. Controlling
 Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur memudahkan pengawasan
program.
 Kader menjadi ujung tombak pelaksanaan kegiatan PHBS di tatanan rumah
tangga yang dipertanggungjawabkan kepada pemegang program kemudian
akan dilaporkan ke kepala puskesmas satu bulan sekali.
 Kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan oleh pemegang
program, sehingga kinerja para kader tidaklah mencapai maksimal.
E. Evaluating
 Hasil partisipasi masyarakat setiap bulannya tidak dijadikan standar untuk
kegiatan bulan berikutnya.
Output
A. Availability
Ketersediaan program promosi kesehatan di Puskesmas Melong Tengah sudah
berjalan tapi belum optimal setiap bulannya.
B. Acceptability
Penyuluhan mengenai PHBS ini kurang diminati oleh masyarakat, karena
kesibukan kerja menjadikan program PHBS dalam rumah tangga belum
sepenuhnya dapat dipahami karena tidak hadir dalam penyuluhan serta lingkungan
tempat tinggal yang tidak begitu mendukung.
C. Accessibility
Lokasi penyuluhan yang mudah dijangkau dan diakses bukanlah menjadi
kendala dari masyarakat sekitar, hanya saja waktu yang masih menjadi kendala
karena kesibukan masyaraat.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
F. Care
Kader dan pemegang program belum cukup aktif menjangkau setiap individu
masyarakat untuk memberikan pembinaan tentang PHBS di rumah tangga.
G. Compatibility
Pemegang program adalah orang yang memahami mengenai program promosi
kesehatan dan kesehatan lingkungan.
H. Comprehensibility
Pemahaman dan minat yang kurang pada masyarakat mengenai pentingnya
PHBS di kehidupan rumah tangga menyebabkan masih banyaknya rumah tangga
yang belum menerapkan PHBS.
2.1.4 Analisis SWOT
Faktor–faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Melong Tengah adalah sebagai berikut:
A. Strength
Tersedianya sumber daya manusia (pemegang program, bidan, kader, ketua
RW, dan tokoh agama). Jumlah posyandu satu untuk setiap RW, dan kegiatan
dilaksanakan disetiap RW satu bulan sekali.
B. Weakness
Kurangnya minat masyarakat karena sulitnya waktu untuk mengikuti penyuluhan
akibat bekerja sehingga pengetahuan masyarakat menjadi kurang.
C. Opportunity
Terdapatnya kader setiap RW sebagai bentuk peran serta masyarakat. Kerjasama
lintas program serta peran aktif dari ketua RW dan tokoh masyarakat dengan
kesehatan lingkungan memudahkan pelaksanaan kegiatan.
D. Threath
Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PHBS.

2.1.5 Plan of Action (PoA)


 Kegiatan:
Penyuluhan mengenai pentingnya menerapkan PHBS dalam rumah tangga
sebagai pencegahan berbagai penyakit serta kunjungan langsung ke rumah warga
agar dapat melihat kondisi langsung sekaligus memberikan contoh.
 Tujuan:
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menerapkan
PHBS dalam rumah tangga dalam meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
 Sasaran:
Seluruh rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah.
 Target:
Seluruh rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah.
 Alat:
PPT, leaflet, poster
 Tenaga:
Pemegang program, kader, bekerja sama dengan ketua RW serta tokoh
masyarakat.
 Indikator keberhasilan:
Meningkatnya jumlah rumah tangga yang sudah menerapkan PHBS
 Waktu dan Tempat:
Acara ini dilaksanakan di posyandu , pada hari Sabtu pukul 09.00-selesai.

2.2 Program Kesehatan Lingkungan


2.2.1 Identifikasi Masalah Program Kesehatan Lingkungan
Tabel 2.3 Identifikasi Masalah Program Kesehatan Lingkungan
No. Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan
1. Cakupan Pengawasan (-72,59%) Tidak memenuhi
Rumah Sehat target
2. Cakupan Pengawasan (-74,56%) Tidak memenuhi
Sarana Air Bersih target
3. Cakupan Pengawasan (-71,18%) Tidak memenuhi
Jamban Sehat target
4. Cakupan Pengawasan (-76,15%) Tidak memenuhi
Sarana Pembuangan Air target
Limbah (SPAL)
5. Cakupan Pengawasan (-51,79%) Tidak memenuhi
Tempat Tempat Umum target
(TTU)
6. Cakupan Pengawasan (-59%) Tidak memenuhi
Tempat Pengelolaan target
Makanan (TPM)
7. Cakupan Pengawasan (-41,67%) Tidak memenuhi
Industri target
8. Cakupan Klinik Sanitasi (-17,66%) Tidak memenuhi
target

2.2.2 Penentuan Prioritas Masalah


Teknik yang dipergunakan adalah dengan teknik kriteria matriks yang secara
umum dibagi atas tiga macam yaitu:
A. Pentingnya Masalah
Makin penting masalah tersebut, makin diprioritaskan [Link]
ukuran pentingnya masalah sebagai berikut:
1. Prevalence (P)
2. Severity (S)
3. Rate of Increase (RI)
4. [Degree of Unmeet Need (DU)
5. Social Benefit (SB)
6. Public Concern (PB)
7. Political Climate (PC)
B. Kelayakan Teknologi
Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dikapai untuk mengatasi
masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masalah tersebut.
C. Sumber daya yang tersedia
Makin tersedia sumberdaya yang dapat dipakai sperti tenaga, dana dan sarana
untuk mengatasi masalah tersebut (resource ability) makinin diprioritaskan masalah
tersebut.

Tabel 2.4 Penentuan prioritas masalah metode kuantitatif skoring


Skor(Jumlah
I T R
Program IxTxR)
P S RI DU SB PB PC
Pengawasan
Rumah 3 4 3 4 5 4 1 4 4 384
Sehat
Cakupan
Pengawasan
3 3 3 3 4 4 3 4 4 368
Sarana Air
Bersih
Pengawasan
Jamban 3 4 3 4 4 4 3 4 4 400
Sehat
Cakupan
Pengawasan
Sarana 2 3 3 3 4 3 3 2 2 84
Pembuangan
Air Limbah
Cakupan
Pengawasan 3 3 2 3 4 3 2 3 3 180
TTU
Cakupan
Pengawasan 3 4 3 3 4 4 1 3 3 198
TPM
Cakupan
Pengawasan 3 4 2 3 3 3 1 2 2 76
Industri
Cakupan
Klinik 3 2 2 3 3 2 1 3 3 144
Sanitasi

Berdasarkan metode kuantitatif maka dapat disimpulkan prioritas masalah pada


program kesehatan lingkungan merupakan Pengawasan Jamban Sehatdengan skor
400.
2.2.3 Penentuan Penyebab Masalah
Input (7M)
A. Man
Program kesehatan lingkungan di Puskesmas Melong Tengah dipegang oleh
orang berpendidikan kesehatan lingkungan yaitu 1 orang petugas. Jumlah ini cukup
namun petugas yang membantu kegiaatan kurang memadai dalam pelaksanaan kerja
program.
B. Money
Pembiayaanprogram kesehatan lingkungan di Puskesmas Melong Tengah berasal
dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan APBD, dana tersebut mencukupi
pelaksanaan program kesehatan lingkungan,
C. Material
Persediaan bahan untuk pelaksanaan program kesehatan lingkungan di Puskesmas
Melong Tengahsudah memadai namun tidak pernah digunakan.
D. Machine
Peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan program pengawasan jamban
sehatcukup memadai namun tidak pernah digunakan.
E. Method
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara langsung kerumah-rumah warga.
F. Minute
Pelaksaan pengawasan jamban sehat yang dilakukan oleh petugas puskesmas
tidak menentu, tetapi minimal dilakukan 1 bulan sekali.
G. Market
Sasaran program kesehatan lingkungan adalah seluruh rumah di wilayah kerja
Puskesmas Melong Tengah dimana kebanyakan ekonomi menengah ke bawah dan
banyak rumah yang bestatus sewa/kontrak sehingga kurang memperhatikan kesehatan
lingkingan.
Proses

A. Planning
− Pembinaan kader posyandu yang sudah dilaksanakan sesuai dengan jadwal
− Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama program
promosi kesehatan.
− Berkoordinasi dengan lintas sektor terkait jamban sehat
B. Organizing
− Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan Kader.
C. Actuating
− Pendataan dan jumlah rumah warga di wilayah kerja puskesmas Melong
Tengah sudah jelas.
− Pelaksanaan kegiatan tidak sulit, namun pada umumnya petugas dan waktu
yang diperlukan kurang sehingga tidak semua rumah dapat di kunjungi.
− Dilaksanakannya pembinaan kader untuk menghimbau warga dalam
menciptakan jamban sehat.
− Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan.
D. Controlling
− Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur memudahkan pengawasan
program.
− Kader menjadi ujung tombak dalam menciptakan jamban sehat untuk warga
E. Evaluating
− Program ini diawasi dan dinilai oleh koordinator UKM, kepala Puskesmas dan
Dinas Kesehatan
Output
A. Availability
Ketersediaan Program kesehatan lingkungan yaitu pengawasan jamban sehat di
Puskesmas Melong Tengah sudah berjalan namun belum optimal.
B. Acceptability
Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya jamban yang sehat bagi
keluarganya sertaketerbatas dengan faktor ekonomi.
C. Accessibility
Lokasi rumah warga yang tidak sulit diakses bukanlah menjadi kendala dalam
pelaksanaan program.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Keberlangsungan kegiatan kesehatan lingkungan kurang berjalan dengan baik,
oleh karena keterbatasan petugas dan waktu pelaksanaan.
F. Care
Petugas puskesmas dan kader sudah memberikan penyuluhan dan konseling, akan
tetapi pengetahuan dan aplikasi pelaksanaan di masyarakat masih kurang. Hal ini
dilihat dari pencapaian yang belum memenuhi target.
G. Competency
Pemegang program adalah orang yang memahami mengenai program kesehatan
lingkungan.
H. Comprehensibility
Pemahaman yang kurang dan status ekonomi menengah kebawah pada
masyarakat menyebabkan banyak rumah warga yang belum menerapkan jamban
sehat.

2.2.4 Analisis SWOT


Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
puskesmas Melong Tengah adalah sebagai berikut:
A. Strength
Tersedianya sumber daya manusia (pemegang program dan kader) yang dirasakan
cukup untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
B. Weakness
Sumber daya manusia dalam pelaksanaan program masih sangat terbatas yaitu
hanya satu orang dan sekaligus merangkap pemegang program yang lain, serta masih
terdapatnya beberapa kader yang kurang terlatih.
C. Opportunity
Terdapat dukungan dari kepala puskesmas serta kader yang ada di setiap RW
yang dapat membantu dalam pelaksanaan program.
D. Threat
Masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya jamban sehat dan
faktor ekonomi masyarakat .

2.2.5 Plan of Action (PoA)


● Kegiatan:
Penyuluhan mengenai pentingnya Jamban sehat kepada masyarakat sebagai
pencegahan berbagai penyakit.
● Tujuan:
Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya
jamban sehat.
 Sasaran:
Seluruh masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah.
● Target:
Seluruh rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah.
● Alat:
PPT, leaflet, poster.
● Tenaga:
Pemegang program, kader desa.
● Indikator keberhasilan:
Meningkatnya jumlah rumah yang sudah memenuhi syarat jamban sehat.
● Waktu dan Tempat:
Pelaksanaan dilakukan minimal 1 bulan sekali.

2.3.1 Identifikasi Masalah Program KIA-KB


Tabel 2.5 Identifikasi Masalah Program KIA-KB
No Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan
Kesehatan Ibu
Cakupan
1 Kunjungan Ibu (9,76%) Memenuhi target
Hamil K4
Cakupan
Persalinan yang di
2 (13,93%) Memenuhi target
tolong oleh tenaga
kesehatan
Cakupan
Komplikasi
3 (18,69%) Memenuhi target
Kebidanan yang
ditangani
Cakupan
4 (6,27%) Memenuhi target
Pelayanan Nifas
Kesehatan Anak
Cakupan
1 Kunjungan (7,18%) Memenuhi target
Neonatus 1
Cakupan
2 Kunjungan (10,83%) Memenuhi target
Neonatus Lengkap
Cakupan Neonatus
dengan Tidak memenuhi
3 (-15,29%)
Komplikasi yang target
di tangani
Cakupan
4 (11,23%) Memenuhi target
Kunjungan Bayi
5 Cakupan (-21,39%) Tidak memenuhi
Pelayanan Anak
target
Balita
Keluarga
Berencana
Cakupan Peserta
1 (25,31%) Memenuhi target
KB Aktif

2.3.2 Penentuan Prioritas Masalah


Tabel 2.6 Penentuan Prioritas Masalah Metode Kuantitatif Skoring
Program Importancy Techni Resources Jumlah Prioritas
cal availability (IxTxR)
feasibi
lity

Prev Seve Degre Social


alen rity e of benefit
cy unmee
t need
1. Cakupan 3 3 2 2 1 4 40 I
Pelayanan
Anak
Balita
2. Cakupan 2 2 2 2 1 3 24 II
Neonatus
dengan
Komplikasi
yang di
tangani

Berdasarkan metode kuantitatif maka dapat disimpulkan prioritas masalah pada


program KIA-KB merupakan Cakupan Pelayanan Anak Balita.

2.3.3 Penentuan Penyebab Masalah


Input (7M)
A. Man
Puskesmas Melong Tengah memiliki jumlah tenaga kerja kesehatan untuk
program KIA-KB mengenai cakupan Pelayanan Anak Balita dikerjakan oleh tiga
orang bidan dengan pendidikan terakhir D3 akademi kebidanan dan dibantu bidan
komersial, dan kader dari setiap RW, namun masih ada kader yang belum terlatih.
B. Money
Dana untuk program KIA-KB disalurkan dari Dinas Kesehatan selama ini
dirasakan tidak ada masalah.
C. Material
Persediaan atau kebutuhan obat-obatan dan peralatan yang disediakan dari
Dinas Kesehatan, serta jumlah obat yang tersedia cukup.
D. Machine
Alat dan tempat pemeriksaan serta penanganan untuk anak balita sudah
memadai baik di puskesmas maupun posyandu.
E. Method
Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan cara edukasi dan penyuluhan kepada
ibu kader serta ibu-ibu yang memiliki anak balita.
F. Market
Kebanyakan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah
berpendidikan menengah, sehingga pemahaman masyarakat sudah cukup namun
belum semua masyarakat menyadari pentingnya kesehatan anak balita.
G. Minute
Kegiatan Pelayanan anak balita dapat dilakukan terutama pada jam kerja.
Kegiatan penyuluhan dan edukasi dapat dilakukan dua kali dalam seminggu pada saat
kegiatan posyandu berlangsung.

Proses
A. Planning
Pembuatan rencana kerja sudah dilakukan oleh pemegang program agar
program dapat berjalan maksimal, serta adanya pendelegasian terhadap bidan agar
lebih terampil dalam melaksanakan tugas.
B. Organizing
Program pelayanan anak balita bekerjasama dengan bidan komersial dan kader
di RW setempat serta kerjasama dan koordinasi lintas program dengan program
gizi dan promosi kesehatan.
C. Actuating
Pihak puskesmas rutin melakukan pertemuan dengan kader hampir setiap bulan
dalam bentuk lokakarya bulanan untuk mengingatkan serta mendorong pihak-
pihak yang terkait. Pelaksanaan program disesuaikan dengan waktu yang telah
ditetapkan. Masih kurangnya kader untuk menghimbau warga untuk
memeriksakan ke posyandu serta kurangnya pencatatan dan pelaporan ke
penanggungjawab program di Puskesmas.
D. Controlling
Pengawasan yang dilaksanakan Puskesmas Melong Tengah untuk pelaksanaan
program Pelayanan anak balita adalah pengawasan langsung oleh petugas
puskesmas kepada setiap RW. Petugas puskesmas yang turun langsung ke
posyandu merupakan bidan yang merangkap sebagai petugas di Puskesmas
Melong Tengah lalu kegiatan akan dilaporkan pada koordinator pemegang
program.
E. Evaluating
Evaluasi dilakukan setiap bulan dengan melihat dari laporan bulanan serta
pertemuan dengan bidan dan kader yang terlibat. Evaluasi dilakukan secara
menyeluruh baik dari pemegang program, bidan, kader dan lintas program yang
terlibat.

Output
A. Availability
Program KIA-KB pada Puskesmas Melong Tengah telah berjalan secara rutin
melalui pelayanan Poli KIA, dan posyandu. Alat, fasilitas, dan tenaga pelaksanaan
sudah tersedia.

B. Acceptability
Jenis pelayanan diterima baik oleh masyarakat namun masih ada masyarakat
yang belum sadar akan pentingnya kesehatan terutama kesehatan anak balita.
C. Accessibility
Kegiatan pelaksanaan program pelayanan KIA-KB di Puskesmas mudah
dijangkau karena terletak di pinggir jalan besar yang mudah dilalui oleh angkutan
umum. Pelayanan juga dilakukan di posyandu RW setempat yang dekat dengan
perumahan warga dan mudah dijangkau.
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Care
Keterbatasan kemampuan kader (mulai dari segi waktu dan kendaraan) untuk
mengajak keseluruhan warga untuk mengikuti program yang sudah direncanakan.
F. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
G. Competency
Pemegang program KIA-KB adalah seorang bidan yang dibantu oleh bidan-bidan
KHL dan para kader yang memahami mengenai program.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat mengenai pentingnya program KIA dan KB dirasakan
belum tercapai maksimal sehingga masih ada beberapa cakupan yang belum
memenuhi target.
2.3.4 Analisis SWOT
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Melong Tengah adalah sebagai berikut:
[Link]
1. Lokasi Puskesmas yang strategis dan mudah dijangkau bagi masyarakat di
wilayah Melong Tengah.
2. Tenaga kesehatan untuk melaksanakan program KIA di Puskesmas Melong
Tengah cukup untuk melaksanakan program.
3. Program telah rutin dilakukan baik di puskesmas maupun di posyandu.
4. Ketersediaan alat dan bahan yang mencukupi serta pendanaan program berjalan
lancar.
B. Weakness
1. Keterbatasan kader dalam mengajak keseluruhan warga untuk mengikuti
kegiatan/program karena kader tidak semuanya ibu rumah tangga, tapi ada juga
yang bekerja.
2. Waktu pelaksanaan penyuluhan dan kegiatan posyandu yang tidak sesuai
(biasanya dilakukan pagi-pagi) dengan warga yang bekerja pada jam tersebut
sehingga tidak dapat datang pada kegiatan yang diadakan.
C. Opportunity
 Terdapatnya kader setiap RW sebagai bentuk peran serta masyarakat
 Masyarakat setempat memiliki pendidikan menengah keatas sehingga jika
dilakukan edukasi dan penyuluhan akan lebih kooperatif dalam
menyukseskan program
D. Threat
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan anak balita

2.3.5 Plan of Action (PoA)


Tabel 2.7 Plan of Action
Sumber Daya Indikator
Waktu
Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasila
Alat Tenaga Pelaksanaan
n
Penyuluhan Untuk Masyarakat, 16 RW Leaflet, Dokter, Laporan Setiap
mengenai meningkatka terutama brosur, Bidan Penyuluhan bulan
pentingnya pengetahuan ibu yang presentasi
pengetahuan masyarakat memiliki powerpoint
ibu tentang mengenai anak balita
kesehatan kesehatan
anak balita anak balita

Pembinaan Untuk Kader Seluruh Dokter, Kader Setiap


Kader meningkatka kader Bidan paham bulan
n pemahaman kesehatan
kader anak balita
mengenai
kesehatan
anak balita

2.4 Program Gizi


2.4.1 Identifikasi Maslah
Tabel 2.8 Identifikasi Masalah Program Gizi
No Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan

1. Cakupan balita di timbang (D/S) -9,35% Tidak mencapai target


2. Cakupan Vit A untuk ibu NIFAS -24,74% Tidak mencapai target
3. Cakupan MP-ASI baduta Gakin -71,15% Tidak mencapai target
4. Cakupan asi eksklusif -20% Tidak mencapai target

2.4.2 Penentuan Prioritas Masalah


Tabel 2.9 Penentuan Prioritas Masalah Metode Kuantitatif Skoring
Variable
Degree Technica
Social Resources
Program Preval Severit Of l
benefi availabili SCORE
ence y unmeet feasibilit
t y
need y
1. Cakupan MP-ASI 3 3 2 2 2 3 60
baduta Gakin
2. Cakupan Vit A 3 2 2 2 2 2 36
untuk ibu nifas
3. Cakupan asi eksklusif 2 2 1 2 2 2 28
4. Cakupan balita di 4 2 2 4 1 1 12
timbang (D/S)

Berdasarkan hasil analisis program dapat disimpulkan bahwa prioritas pada


program gizi adalah cakupan MP-ASI baduta gakin.

2.4.3 Penentuan Penyebab Masalah


Input (7M)
A. Man
Penanggung jawab program gizi di Puskesmas Melong tengah berjumlah satu
orang dengan latar belakang pendidikan terakhir D3 Akademi Gizi tanpa
anggota. Dari sisi ketenagaan Puskesmas melong tengah sudah mencukupi
karena dibantu oleh bidan desa dan kader dari setiap posyandu.
B. Money
Anggaran atau dana yang didapat berasal dari Bantuan Operasional
Kementrian Kesehatan (BOK) dan Dinas kesehatan cimahi. Sejauh ini
anggaran yang dibutuhkan sudah mencukupi, sehingga dana untuk
pelaksanaan program sudah tidak ada masalah.
C. Material
Ketersediaan bahan, seperti leaflet, poster dan baliho sudah mencukupi.
D. Machine
Peralatan yang digunakan dalam melakukan program penyuluhan berupa
proyektor, dan media untuk menampilkan video.
E. Method
Pendataan ibu dengan target baduta gakin MP-ASI yang sesuai dengan
karakteristik, kader menjalin kemitraan dengan aparat /RW dalam penyediaan
tempat dan berlangsungnya kegiatan posyandu. Penyuluhan teantang
kesadaran gizi keluarga.
F. Minute
Puskesmas melakukan penyuluhan mengenai makanan pendamping asi setiap
1 bulan sekali di Puskesmas tengah melongdan penyuluhan mengenai
keluarga sadar gizi di posyandu 1 bulan sekali di bantu oleh kader dan bidan.
G. Market
Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan MP ASI
pada baduta.

Proses
A. Planning
- Pembinaan kader posyandu.
- Kerjasama lintas program dengan semua pemegang program, terutama KIA,
promosi kesehatan.
B. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan bidan dan desa [Link] ini sudah cukup baik.
C. Actuating
- Pendataan Baduta gakin sudah cukup jelas dan sasaran baduta MPASI sudah
jelas.
- Dilaksanakannya pembinaan kader untuk mengajak ibu atau kepala keluarga
untuk diberikan edukasi mengenai pentingnya MPASI dan sosialisasi kepada
tokoh masyarakat.
- Mengingatkahn kembali bidan dan kader untuk melakukan penyuluhan di
posyandu masing-masing.
D. Controlling
- Pencatatan dan pendataan yang rapi dan teratur untuk memudahkan
pengawasan program.
- Pemegang program mendapat info dari setiap kader tentang pelaksanaan
penyuluhan melalui pesan singkat.
- Kader menjadi ujung tombak pelaksanaan posyandu yang dipertanggung
jawabkan kepada pemegang program.
E. Evaluating
Program ini sudah berjalan dan diawasi oleh kepala puskesmas serta dinas
kesehatan.

Output
A. Availability
Pelaksanaan program MPASI BADUTA GAKIN melalui posyandu sudah
dilakukan dalam waktu satu bulan sekali, dengan jadwal yang telah ditetapkan
di setiap posyandu.
B. Acceptability
Masyarakat dengan BADUTA GAKIN masih sulit menerapkan MPASI
karena keterbatasan pemahaman biaya untuk melaksanakannya.
C. Accessibility
Puskesmas Melong tengah sendiri terletak di jalan besar dan mudah
dijangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya, posyandu berada di
tiap RW, memudahkan masyarakat mendapat informasi mengenai MPASI .
D. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
E. Continuity
Program berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan.
F. Care
Pemegang program MPASI BADUTA GAKIN turut datang ke posyandu
tempat dilaksanakannya kegiatan untuk memantau atau turut serta
berpartisipasi dalam kegiatan yang diselanggarakan.
G. Compatibility
Pemegang program adalah orang yang ahli dalam masalah gizi dan KIA.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat dengan BADUTA GAKIN yang kurang mengenai
program MPASI, sehingga masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan
keluarganya.

2.4.4 Analisis SWOT


Faktor-faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan suatu program di Puskesmas
melong tengah adalah sebagai berikut:
A. Strength
Sumber daya manusia (pemegang program, kader, dan bidan desa) telah tersedia
dan memadai.
B. Weakness
Keterbatasan waktu penyuluhan di posyandu, karena ketika dilakukan penyuluhan
banyak masyarakat yang sedang bekerja atau beraktifitas.
C. Opportunity
Terdapat kader di setiap RW sebagai bentuk peran serta langsung kepada
masyarakat.
D. Threat
Keterbatasan waktu dan biaya dari masyarakat untuk melaksanakan MPASI pada
baduta gakin .
2.4.5 Plan of Action

Tabel 2.10 Plan of Action

Sumber Daya Indikator Waktu


Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasil Pelaksan
Alat Tenaga
an aan
Penyuluhan Menambah Pengunjun 25-30 Leaflet Pemegang Pengunjun Selasa,
dan konseling pengetahua g pengunjun PPT program, g kamis
n puskesmas g dokter puskesmas
masyarakat mampu
mengenai memahami
penting nya tentang
asi ekslusif penting nya
dan asi ekslusif
makanan dan
pendampin MPASI
g asi

Pengumpulan Memotivasi Seluruh Seluruh Forma Pemegang Kader 2x dala


dan kader untuk kader aktif kader aktif t dan program, mengerti setahun
penjelasan melakukan tiap buku petugas tatacara
kepada pencatatan posyandu pelapo administras pencatatan
seluruh kader dan ran i dan
mengenai pelaporan pelaporan
pencatatan sebaik
dan pelaporan mungkin
2.5. Program Kesehatan P2PM

2.5.1 Identifikasi Masalah


Tabel 2.11 Identifikasi masalah P2PM
No Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan
.
1. Cakupan Penderita -49,64% Tidak Memenuhi
Pneumonia Balita Target
2 Cakupan Penemuan Tidak Memenuhi
Pasien baru TB -55% Target
BTA Positif
3. Cakupan Tidak Memenuhi
Kesembuhan Pasien -3,75% Target
TB BTA Positif
4. Cakupan Penderita -28,57% Tidak Memenuhi
DBD yang ditangani Target
5. Cakupan Penemuan -5,84% Tidak Memenuhi
Pasien Diare Target

2.5.2 Prioritas masalah


Tabel 2.12 Penentuan Prioritas Masalah
Degree
Technical
Severi of Social Resources Scor
No Program Prevalence Feasibilit Prioritas
ty Unmeet Benefit Availability e
y
Need

1 Cakupan
Penderita V
5 4 2 2 5 4 260
Pneumonia
Balita
2 Cakupan
Penemuan I
Pasien baru 5 5 4 5 5 5 475
TB BTA
Positif
3 Cakupan
Kesembuha IV
4 5 2 5 5 4 320
n Pasien TB
BTA Positif
4 Cakupan
Penderita II
4 5 5 2 5 5 400
DBD yang
ditangani
5 Cakupan
Penemuan III
4 4 4 2 5 5 350
Pasien
Diare

Berdasarkan metode kuantitatif maka dapat disimpulkan prioritas masalah


pada program P2PM, yaitu cakupan penemuan pasien baru TB BTA Positif.

2.5.3 Penentuan Penyebab Masalah

INPUT (7M)
A. Man
Program upaya kesehatan dan P2PM di puskesmas Melong Tengah, dipegang oleh
5 orang, terdiri dari 3 orang dengan tingkat Pendidikan D3 Kebidanan dan 2 orang
dengan Tingkat Pendidikan D3 Keperawatan. Masing-masing memegang program
imunisasi, HIV & IMS, pneumonia, tb, ISPA & diare. Secara umum dalam analisis
lingkungan fisik tenaga kerja Puskesmas Melong Tengah dikatakan sudah memadai
dan untuk program P2PM juga dirasakan sudah cukup memadai.
B. Money
Sumber pembiayaan untuk program pemberantasan penyakit menular berasal dari
Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
C. Material
Bahan (kelengkapan laboratorium untuk penemuan kasus TB dan obat-obatan TB)
yang digunakan untuk program penemuan kasus baru TB BTA Positif sudah tersedia
di Puskesmas Melong Tengah.
D. Machine
Terdapat ruangan pemeriksaan khusus, yaitu poliklinik TB untuk pemeriksaan
pasien yang diduga menderita TB, dan terdapat laboratorium untuk pemeriksaan
dahak di Puskesmas Melong Tengah.

E. Method
Petugas puskesmas sudah bekerja sama dengan kader tiap RW namun terdapat
keterbatasan kader untuk menjangkau masyarakat di tiap RW dan terbatasnya
pengetahuan kader mengenai TB.
F. Market
Masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Melong Tengah banyak yang
belum menyadari bahaya penyakit TB, tanda gejala, dan cara penularan penyakit TB.
G. Minute
Pelaksanaan program P2PM di Pukesmas berlangsung bersamaan dengan jam
kerja Puskesmas, yaitu pukul 07.00-14.00 WIB serta di hari-hari posyandu.

Proses
A. Planning
1. Kunjungan petugas kepada kelompok dengan faktor risiko tinggi terkena TB yang
bekerja sama dengan kader dan pemegang program kesehatan lingkungan.
2. Meningkatkan pengetahuan kader mengenai penyakit TB agar dapat dengan cepat
mencatat dan melaporkan masyarakat yang diduga terkena penyakit TB.
3. Bekerja sama dengan pemegang promosi kesehatan dan tokoh masyarakat untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat yang memiliki faktor risiko tinggi terkena
penyakit TB agar segera memeriksakan diri ke puskesmas.
B. Organizing
Dilakukan penyampaian rencana kerja antara pemegang program TB, promkes,
tokoh masyarakat dan kader. Pemegang program penemuan kasus TB BTA positif
bekerja sama dengan promkes menyusun materi penyuluhan mengenai penyakit TB,
cara penularan, dan pencegahannya. Kader akan bersama-sama dengan masyarakat
dan tokoh masyarakat.
C. Actuating
Kader melaksanakan pendataan masyarakat yang diduga memiliki faktor risiko
tinggi terkena penyakit TB dan mengajak masyarakat tersebut untuk mengikuti
penyuluhan dan langsug memeriksakan diri ke poliklinik TB. Namun kader masih
sulit menjangkau para masyarakat yang bekerja dan tidak datang ke tempat
penyuluhan.
D. Controling
Pengawasan langsung dilakukan oleh pemegang program TB yang akan turun
langsung ke masyarakat di bantu kader atau melihat pelaporan langsung di poli TB.
Namun pencatatan TB sering kali sulit bila dilakukan pengecekan ulang di lapangan
karena nama yang didaftarkan ke poli TB adalah nama resmi yang tidak pernah
digunakan di lingkungan sehari-hari sehingga menyulitkan kunjungan petugas ke
rumah penderita.
E. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setiap bulan dengan melihat laporan bulanan yang telah
dikumpulkan pemegang program.

Output
A. Availability
Program penemuan kasus TB sudah berjalan melalui pelayanan Poliklinik TB di
Puskesmas Melong Tengah dan dibantu oleh kader di lapangan.
B. Acceptability
Jenis pelayanan diterima baik oleh masyarakat namun kesadaran individu untuk
memeriksakan diri masih kurang.
C. Accessibility
Pelayanan Poliklinik TB di Puskesmas Melong Tengah mudah dijangkau, dan
diperluas jaungkauannya dengan adanya kader, serta biaya pengobatan yang gratis.
D. Accountability
Perencanaan, pelaksanaan, dan pendataan sudah jelas sehingga memudahkan
pertanggungjawaban baik dari pemegang program ke kepala puskesmas, maupun dari
kepala puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
E. Care
Perhatian penyelenggara terhadap pelaksanaan program dirasakan cukup karena
program penemuan kasus TB selalu dilaksanakan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada
hari kamis dan jumat di poliklinik TB Puskesmas Melong Tengah.
F. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
G. Competency
Pemegang program P2PM cakupan penemuan pasien baru TB adalah seorang
perawat yang sebelumnya telah diberikan pelatihan, namun untuk diagnosis TB tetap
dilakukan oleh dokter
2.5.4 Analisis SWOT
A. Strength
Sumber daya manusia tersedia dan memadai.
B. Weakness
Tidak semua kader mampu mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran
mengenai penyakit TB, karena pengetahuan kader terbatas dan kesadaran masyarakat
yang masih kurang.
C. Opportunity
Terdapatnya kader di setiap RW yang bersedia mendukung program tersebut dan
pengobatan TB yang gratis karena dibiayai oleh pemerintah.
D. Threat
Ketersediaan alat bantu diagnostik yang kurang memadai di laboratorium
puskesmas, kesadaran masyarakat yang kurang mengenai penyakit TB sehingga
mempengaruhi perilaku kesehatannya.
2.5.5 Tabel PoA Program Pencegahan Penyakit Menular
Tabel 2.13 Tabel PoA
Sumber Daya Indikator Waktu
Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasila Pelaksan
Alat Tenaga
n aan
1. Pelatihan Menambah Seluruh Seluruh leaflet, Petugas Kader dapat Setiap
kader mengenai pengetahua kader kader PPT, pemega menjelaskan akhir
penyakit TB n kader video ng mengenai bulan
untuk program penyakit TB
mendeteksi TB kepada
awal masyarakat
masyarakat
dengan
risiko tnggi
penyakit
TB.

2. Penyuluha Meningkatk Seluruh Masyara leaflet, Petugas Masyarakat Kantor


n mengenai an Masyara kat yang PPT, pemega mengetahui RW
penyakit pengetahua kat di memiliki Video ng penyakit TB setiap
TB (tanda n dan wilayah risiko program ( tanda akhir
gejala, cara mawas diri kerja tinggi TB, gejala, cara bulan
penularan terhadap Puskesm terkena Kader penularan
dan penyakit as TB beserta dan
pencegaha TB Melong ketua pencegahan)
n) Tengah RW, serta jika
dan menemui
tokoh tetangga,
masyara keluarga,
kat maupun diri
sendiri
dengan
tanda dan
gejala TB
segera
memeriksak
an diri ke
Puskesmas.
2.6 Program Pengobatan
2.6.1 Identifikasi masalah
Tabel 2.14 Identifikasi Masalah Program Pengobatan
No
Kegiatan Kesenjangan Kesimpulan
.
1. Cakupan pemeriksaan Tidak memenuhi
(-13,75%)
laboratorium puskesmas target

2.6.2 Penentuan Prioritas Masalah


Berdasarkan hasil analisis program dapat disimpulkan bahwa prioritas masalah
pada program upaya pengobatan, yaitu cakupan pemeriksaan laboratorium puskesmas
karena hanya cakupan pemeriksaan laboratorium puskesmas yang belum memenuhi
target.

2.6.3 Penentuan Penyebab Masalah


Input (7M)
A. Man
Program pengobatan di Puskesmas Melong Tengah dipegang oleh 2 orang dokter
umum, 1 orang dokter gigi, 3 orang perawat, 1 orang perawat gigi, 1 petugas
laboratorium, serta 4 tenaga administrasi. Jumlah ini sudah memenuhi standar tenaga
puskesmas.
B. Money
Anggaran atau dana yang didapat berasal dari Dinas Kesehatan dan BPJS
Kesehatan, sejauh ini anggaran atau dana yang dibutuhkan cukup.
C. Material
Persediaan atau kebutuhan peralatan habis pakai untuk pemeriksaan laboratorium
tersedia dan mencukupi. Namun, untuk pemenuhan kebutuhan reagen masih terbatas.
D. Machine
Ruang pemeriksaan pasien di dalam ruang tertutup sehingga menjaga privasi.
Peralatan dan inventaris lain digunakan untuk pemeriksaan laboratorium sudah cukup
tersedia dan berfungsi cukup baik.
E. Method
Sistem pencatatan dan pencarian buku status pasien sudah menggunakan sistem
komputerisasi sehingga dalam pendataan lebih mudah dan efisien. Hasil pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan sudah dilampirkan pada buku status.
F. Minute
Puskesmas melakukan pelayanan dari hari Senin hingga hari Sabtu. Pelayanan
dilakukan mulai jam 07.00-14.00 WIB pada hari Senin sampai Jumat dan pada hari
Sabtu mulai jam 07.00-13.00 WIB.
G. Market
Untuk penyakit-penyakit yang umum dilakukan pemeriksaan seperti DM, Asam
Urat, Anemia, masyarakat sudah mengerti bahwa perlu dilakukannya pemeriksaan
penunjang. Tetapi untuk penyakit-penyakit yang tidak umum, masyarakat banyak
yang tidak tahu harus dilakukan pemeriksaan penunjang.

Proses
A. Planning
Kerjasama lintas program dengan promosi kesehatan mengenai pentingnya
melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis penyakit tertentu.
B. Organizing
Dalam pelaksanaannya, program upaya pengobatan telah bekerja sama lintas
program dengan promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan ibu dan
anak, serta P2PM. Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara
pemegang program dengan kader.
C. Actuating
- Pelayanan berjalan baik dan teratur.
- Pelayanan laboratorium rutin setiap hari kerja sesuai jadwal.
D. Controlling
Pengawasan dilakukan oleh koordinator pemegang program dan dilaporkan setiap
akhir bulan langsung ke Kepala Puskesmas.

E. Evaluating
Evaluasi dilakukan oleh koordinator pemegang program dan dilaporkan setiap
akhir bulan ke Kepala Puskesmas untuk perbaikan program pemeriksaan
laboratorium selanjutnya. Hasil jumlah cakupan pemeriksaan laboratorium di
puskesmas dan jumlah cakupan pemeriksaan yang dirujuk per tahun menjadi
landasan evaluasi untuk meningkatkan cakupan di tahun berikutnya.

Output
A. Availability
Pelaksanaan program kegiatan pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap hari
kerja, kecuali hari Minggu.
B. Acceptability
Kegiatan pemeriksaan laboratorium dapat diterima oleh masyarakat namun masih
terdapat sejumlah pasien yang menolak melakukan pemeriksaan laboratorium.
C. Accessibility
Puskesmas Melong Tengah sendiri terletak di pinggir jalan besar dan mudah
dijangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.
D. Accountability
Pemegang program/Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas program
pemeriksaan laboratorium ke kepala Dinas Kesehatan..
E. Continuity
Program laboratorium berlangsung dengan baik serta sudah dilaksanakan sesuai
dengan jadwal dan berkesinambungan.
F. Care
Tingkat kepedulian pemegang program sudah cukup untuk melakukan
pelaksanaan laboratorium dan merujuk pasien untuk pemeriksaan laboratorium yang
tidak dapat dilakukan di puskesmas.
G. Competency
Petugas laboratorium adalah orang yang ahli untuk melakukan pemeriksaan
laboratorium dan sudah memenuhi standar tenaga puskesmas.
H. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat mengenai kesehatan yang dilakukan pada edukasi jarang
tersampaikan karena jumlah pasien tidak sebanding dengan SDM.

2.6.4 Analisis SWOT


Faktor-faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan suatu program di Puskesmas
Melong Tengah adalah sebagai berikut:
A. Strength
Tersedianya laboratorium penunjang yang berjalan baik serta pelaksanaan
pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan setiap hari kerja. Letak puskesmas
strategis mudah dicapai menggunakan kendaraan umum, baik kendaraan roda empat
atau roda dua.
B. Weakness
Keterbatasan reagen terkait besaran kapitasi JKN yang diterima sehingga
pemeriksaan laboratorium di lapangan belum dapat dilaksanakan dan adanya
laboratorium di Puskesmas belum secara luas diketahui oleh masyarakat diwilayah
kerja.

C. Opportunity
Kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan keinginan untuk berobat ke
puskesmas sudah baik.
D. Threat
Tingkat ekonomi masyarakat yang menengah ke bawah serta kesadaran
masyarakat yang kurang terhadap pentingnya pemeriksaan rutin di laboratorium
masih rendah.
2.6.5 Plan of Action
Tabel 2.15 Tabel PoA
Sumber Daya Indikator Waktu
Kegiatan Tujuan Sasaran Target Keberhasi Pelaksan
Alat Tenaga
lan aan
1. konseling Meningkatka Seluruh Seluruh Leafl dokter, Pasien Setiap
dan pasien pasien yang et / pemegang bersedia hari saat
n yang datang ke brosu untuk pelayana
penyuluhan program
mengenai pengetahuan datang puskesmas. r, promosi melakuka n di
ke PPT n puskesm
pentingnya kesehatan,
pasien puskes pemeriksa as untuk
pemeriksaan mas dan
petugas an konselin
laboratorium mengenai pengunj laboratoriu laboratori g, dan
ung m, dan um rutin setiap
pentingnya
posbind kader ataupun bulan
pemeriksaan u saat khusus untuk
penyulu penyulu
laboratorium han han
untuk
menunjang
diagnosis
penyakit
tertentu

Anda mungkin juga menyukai