MAKALAH
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN TENTANG
RASIO SOLVABILITAS
Dosen Pembimbing : Triana Yuniati, SE., MM., Ak., CA., [Link]
Disusun Oleh:
Noviana Echa Saputri 201710315165 5 – A3
Syifa ’Urrahmah 201710315089 5 – A3
Wiwit Oktafiani 201710315001 5 – A3
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Adapun judul dari makalah ini adalah “Rasio Solvabilitas”. Makalah
ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Laporan Keuangan.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ibu Triana Yuniati, SE., MM., Ak., CA., [Link]. Selaku dosen
matakuliah Analisis Laporan Keuangan yang telah memberikan tugas terhadap
kami. Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam menyusun
makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kata kami berharap semoga makalah tentang Rasio Solvabilitas
ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.
Bekasi, Oktober 2019
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan.............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1 Pengertian Rasio Solvabilitas.........................................................................3
2.2 Tujuan dan Manfaat Rasio Solvabilitas..........................................................4
2.3 Jenis-jenis Rasio Solvabilitas.........................................................................5
BAB III PENUTUP...............................................................................................18
3.1 Kesimpulan...................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................iv
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ratio Financial (Rasio Keuangan) merupakan alat analisis perusahaan
untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan
yang terdapat pada laporan pos keuangan (neraca, laporan laba / rugi, laporan
arus kas). Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk
menganalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau
pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan
menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan
memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan
atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.
Dalam menjalankan kegiatannya, tentu saja setiap perusahaan
membutuhkan ketersediaan dana dalam jumlah yang memadai. Dana itu tidak
hanya dibutuhkan untuk membiayai jalannya kegiatan operasional perusahaan
saja, melainkan juga untuk membiayai aktivitas investasi perusahaan, maka dari
itu seorang manajer keuangan yang handal dituntut untuk memiliki kepiawaian
dalam mengelola keuangan perusahaan, termasuk kepiawaian dalam
mempertimbangkan alternative sumber pembiayaan perusahaan. Dalam
memperoleh dana untuk kepentingan pembiayaan perusahaan pada umumnya
memiliki beberapa sumber alternative. Keputusan dalam memilih alternative
sumber pembiayaan tersebut sangatlah dipengaruhi oleh banyak faktor di
antaranya adalah : kemudahan dalam mendapatkan dana, jumlah dana yang di
butuhkan, jangka waktu pengembalian, kemampuan perusahaan dalam membayar
beban pinjaman, pertimbangan pajak, masalah kendali perusahaan, dan
pengaruhnya terhadap laba per lembar saham. Secara garis besar, sumber
pembiayaan perusahaan dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu pembiayaan
utang (debt financing) dan pembiayaan ekuitas (equity financing).
Masing-masing jenis pembiayaan memiliki kelebihan maupun kekurangan,
dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang ada pada setiap
pembiayaan, oleh sebab itu penting bagi manajer keuangan untuk mensiasati
kebutuhan perusahaan dengan cara melakukan kombinasi sumber pembiayaan
1
antara pinjaman dan modal. Besarnya penggunaan dana untuk masing-masing
sumber pembiayaan harus dipertimbangkan secara cermat agar tidak membebani
perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang sesuai dengan
kemampuan, tujuan, dan strategi perusahaan. Kombinasi penggunaan dana ini
dapat ditunjukkan lewat rasio solvabilitas atau rasio leverage.
1.2 Rumusan Masalah
2. Apa yang dimaksud dengan rasio solvabilitas ?
3. Apa tujuan dan manfaat rasio solvabilitas ?
4. Apa saja jenis-jenis rasio solvabilitas ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian rasio solvabilitas.
2. Memahami tujuan dan manfaat rasio solvabilitas.
3. Memahami jenis-jenis rasio solvabilitas.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas atau rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana asset perusahaan dibiayai dengan utang. Dengan kata lain,
rasio solvabilitas atau rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa besar beban utang yang harus ditanggung perusahaan dalam
rangka pemenuhan asset. Dalam arti luas, rasio solvabilitas digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, baik
kewajibannya jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang.
Rasio solvabilitas memiliki beberapa implikasi sebagai berikut :
1. Kreditor memandang jumlah ekuitas debitur sebagai margin keamanan
(safety margin). Apabila jumlah modal perusahaan debitur kecil, maka
berarti bahwa kreditor akan menanggung risiko yang besar.
2. Penguasaan atau pengendalian terhadap perusahaan akan tetap berada
ditangan debitur (perusahaan itu sendiri) apabila sumber pendanaan berasal
dari pinjaman atau utang.
3. Sumber pendanaan yang berasal dari penerbitan dan penjualan saham akan
menimbulkan pengaruh atau bahkan kendali pemegang saham (investor)
terhadap perusahaan (investee). Ingat kembali bahwa saham menggabarkan
kepemilikan investor atau perusahaan investee.
4. Apabila perusahaan memperoleh penghasilan lebih dari dana yang
dipinjamnya dibandingkan dengan bunga yang harus dibayarkan kepada
kreditor, maka kelebihanya tersebut akan memperbesar pengembalian/imbal
hasil (return) bagi pemilik.
Perusahaan dengan rasio solvabilitas yang tinggi (memiliki utang yang
besar) dapat berdampak pada timbulnya risiko keuangan yang besar, tetapi juga
memiliki peluang yang besar pula untuk menghasilkan laba yang tinggi. Risiko
keuangan yang besar ini timbul karena perusahaan harus menanggung atau
terbebani dengan pembayaran bunga dalam jumlah yang besar. Namun,
3
sebaliknya perusahaan dengan rasio solvabilitas yang rendah memiliki risiko
keuangan yang kecil, tetapi juga mungkin memiliki peluang yang kecil pula untuk
menghasilkan laba yang besar.
Perhitungan rasio solvabilitas dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan neraca, yaitu pengkuran rasio solvabilitas dengan
menggunakan pos-pos yang ada di neraca. Pendekatan ini menghasilkan
rasio solvabilitas yang terdiri atas: rasio utang terhadap asset (debt to asset
ratio), rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio), dan rasio utang
jangka panjang terhadap ekuitas (long term debt to equity ratio)
2. Pendekatan laporan laba rugi, yaitu mengukur rasio solvabilitas dengan
mengunakan pos-pos yang ada didalam laporan laba rugi. Contoh rasio
solvabilitas berdasarkan pendekatan ini adalah rasio laba sebelum bunga dan
pajak terhadap beban bunga ( times interest earned ratio)
3. Pendekatan laporan laba rugi dan neraca, yaitu megukur rasio
solvabiltas dengan menggunakan pos-pos yang ada didalam laporan laba
rugi maupun neraca. Contoh rasio solvabilitas berdasarkan pendekatan
campuran ini adalah rasio laba operasional terhadap kewajiban (operating
income to liabilities ratio).
2.2 Tujuan dan Manfaat Rasio Solvabilitas
Hasil perhitungan rasio solvabilitas diperlukan sebagai dasar pertimbangan
dalam memutuskan antara penggunaan dana dari pinjaman atau penggunaan dana
dari modal sebagai alternatif sumber pembiayaan asset perusahaan. Rasio
solvabilitas diperlukan untuk kepentingan analisis kredit atau analisis risiko
keuangan.
Berikut adalah tujuan dan manfaat rasio solvabilitas secara keseluruhan :
1. Untuk mengetahui posisi total kewajiba peruahaan kepada kreditor, jika
dibandingkan dengan jumlah asset atau modal yang dimiliki perusahaan.
2. Untuk mengetahui posisi kewajiban jangka panjang perusahaan terhadap
jumlah modal yang dimiliki perusahaan.
4
3. Untuk menilai kemampuan asset perusahaan dalam memenuhi seluruh
kewajiban, termasuk kewajiban yang bersifat tetap, seperti pembayaran
angsuran poko pinjaman beserta bunganya secara berkala.
4. Untuk menilai seberapa besar asset perusahaan yang dibiayai oleh utang.
5. Untuk menilai seberapa besar asset perusahaan yang dibiayai oleh modal.
6. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang terhadap pembiayaan asset
perusahaan.
7. Untuk menilai seberapa besar pengaruh modal terhadap pembiayaan asset
perusahaan.
8. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah asset yang dijadikan
sebagai jaminan utang bagi kreditor.
9. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah asset yang dijadikan
sebagai jaminan modal bagi pemilik atau pemegang saham.
10. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan
sebagai jaminan utang.
11. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan
sebagai jaminan hutang jangka panjang.
12. Untuk menilai sejauh mana atau berapa kali kemampuan perusahaan (yang
diuur dari jumlah laba sebelum bunga dan pajak) dalam membayar bunga
pinjaman.
13. Untuk menilai sejauh mana atau berapa kali kemampuan perusahaan (yang
diukur dari jumlah laba operasional) dalam melunasi seluruh kewajiban.
2.3 Jenis-jenis Rasio Solvabilitas
Biasanya penggunaan rasio solvabilitas disesuaikan dengan tujuan dan
kebutuhan perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan rasio solvabilitas secara
keseluruhan atau hanya sebagian saja dari jenis rasio solvabilitas yang ada.
Penggunaan rasio secara bergantian berarti bahwa perusahaan hanya
menggunakan beberapa jenis rasio saja yang memang dianggap perlu untuk
diketahui.
5
Berikut adalah jenis-jenis rasio solvabilitas yang digunakan dalam praktik
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh
kewajibannya :
1. Rasio Utang Terhadap Asset (Debt to Asset Ratio)
Rasio utang terhadap asset merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur perbandingan antara total utang dengan total asset. Dengan kata lain,
rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar asset perusahaan dibiayai oleh
utang, atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pembiayaan
asset.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, apabila besaran rasio utang
terhadap aseet adalah tinggi, maka hal ini tentu saja akan mengurangi kemampuan
perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman dari kreditor karena
dikhawatirkan bahwa perusahaan tidak mampu melunasi utang-utangnya dengan
total asset yang dimilikinya.
Rasio yang kecil menunjukkan bahwa sedikitnya asset perusahaan yang
dibiayai oleh utang (dengan kata lain bahwa sebagian besar asset yang di miliki
perusahaan dibiayai oleh modal). Standar pengukuran yang digunakan untuk
menilai baik tidaknya suatu rasio perusahaan sebaiknya berdasarkan pada rasio
rata-rata industry yang sejenis.
Membandingkan antara jumlah kewajiban dengan jumlah asset yang
dimiliki perusahaan menunjukkan sejauhmana dana yang dipinjam telah
digunakan untuk membeli asset. Rasio yang membandingkan antara total
kewajiban dengan total asset ini juga dikenal sebagai debt ratio (rasio utang).
Rasio ini seringkali digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
melunasi seluruh kewajibannya. Semakin tinggi debt ratio maka semakin besar
pula kemungkinan adalah bahwa perusahaan untuk tidak dapat melunasi
kewajiabannya. Ketentuan umumnya adalah bahwa perusahaan seharusnya
memiliki debt ratio kurang dari 0,5 namun perlu diingat juga bahwa ketentuan ini
tentu saja dapat bervariasi tergantung pada masing-masing jenis industry.
Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung rasio utang:
Total Utang
R asio Utang ( Debt Ratio )=
Total Asset
6
PT ABC, Tbk
Neraca Komparatif
Per 31 Desember 2014 dan 2013
(Dalam ribuan rupiah)
Tahun Tahun Naik
Nama Perkiraan %
2014 2013 (Turun)
ASSET
Asset Lancar
Kas 700.000 500.000 200.000 40
Piutang Usaha 500.000 700.000 (200.000) (28,6)
Persediaan Barang Dagang 775.500 855.000 (79.500) (9,3)
Perlengkapan 7.500 10.000 (2.000) (25)
Asuransi Dibayar Di Muka 17.000 15.000 2.000 13,3
Total Asset Lancar 2.000.000 2.080.000 (80.000) (3,9)
Asset Tetap
Tanah 8.700.000 6.660.000 2.040.000 30,6
Bangunan 6.600.000 5.000.000 1.600.000 32
Akumulasi Penyusutan Bangunan (1.000.000) (700.000) 300.000 42,9
Mesin 2.100.000 2.100.000 0 0
Akumulasi Penyusutan Mesin (400.000) (380.000) 20.000 5,3
Kendaraan 1.100.000 1.440.000 (340.000) (23,6)
Akumulasi Penyusutan Kendara (100.000) (200.000) (100.000) (50)
Total Asset Tetap 17.000.000 13.920.000 3.080.000 22,1
TOTAL ASSET 19.000.000 16.000.000 3.000.000 18,8
KEWAJIBAN
Utang Lancar
Utang Usaha 400.000 600.000 (200.000) (33,3)
Utang Bank 500.000 900.000 (400.000) (44,4)
Utang Wesel 200.000 100.000 100.000 100
Total Utang Lancar 1.100.000 1.600.000 (500.000) (31,3)
7
Utang Tidak Lamcar
Utang Obligasi 4.900.000 4.500.000 400.000 8,9
Utang Hipotek 5.000.000 5.000.000 0 0
Total Utang Tidak Lancar 9.900.000 9.500.000 400.000 4,2
EKUITAS
Modal Disetor 5.500.000 4.000.000 1.500.000 37,5
Laba Ditahan 2.500.000 900.000 1.600.000 177,8
Total Ekuitas 8.000.000 4.900.000 3.100.000 63,3
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS 19.000.000 16.000.000 3.000.000 18,8
Dengan menggunakan contoh PT ABC, Tbk berikut ini adalah perhitungan
besarnya rasio utang:
(dalam ribuan rupiah)
2014 2013
Total Asset 19.000.000 16.000.000
Total Kewajiban 11.000.000 11.100.000
Untuk tahun 2014 :
Rp 11.000 .000
R asio Utang ( Debt Ratio )= =0,58
Rp19.000 .000
Aset Rp19.000.000 Utang Rp11.000.000
Modal Rp 8.000.000
Rp19.000.000 Rp19.000.000
Aset Rp 1 Utang Rp 0,58
Modal Rp 0,42
Rp 1 Rp 1
8
Artinya, 58% asset perusahaan dibiayai oleh utang dan sisanya sebanyak
42% oleh modal; atau dengan kata lain bahwa setiap Rp 1 aset, Rp 0,58 nya
dibiayai oleh utang dan Rp 0,42 nya oleh modal. Rasio ini juga menjunjukkan
bahwa setiap Rp1 aset, Rp 0,58 nya untuk menjamin utang (kewajiban kepada
kreditor) dan Rp 0,42 nya untuk menjamin modal (kewajiban kepada pemilik atau
pemegang saham).
Untuk tahun 2013 :
Rp 11.100 .000
R asio Utang ( Debt Ratio )= =0,69
Rp16.000 .000
Aset Rp 16.000.000 Utang Rp 11.100.000
Modal Rp 4.900.000
Rp 16.000.000 Rp16.000.000
Aset Rp 1 Utang Rp 0,69
Modal Rp 0,31
Rp 1 Rp 1
Artinya, 69% asset perusahaan dibiayai oleh utang dan sisanya sebanyak
31% oleh modal; atau dengan kata lain bahwa setiap Rp1 aset, Rp 0,69 nya
dibiayai oleh utang dan Rp 0,31 nya oleh modal. Rasio ini juga menjunjukkan
bahwa setiap Rp1 aset, Rp 0,69 nya untuk menjamin utang (kewajiban kepada
kreditor) dan Rp 0,31 nya untuk menjamin modal (kewajiban kepada pemilik atau
pemegang saham).
Interpretasi:
Rasio utang tahun 2014 (0,58) sedikit lebih baik jika di bandingkan dengan
rasio utang tahun 2013 (0,69). Sebagai pembanding lainnya, jika rata-rata industry
untuk rasio utang adalah 0,4 maka dapat disimpulkan bahwa rasio utang
perusahaan untuk kedua tahun masih berada dibawah rata-rata industry sehingga
hal ini masih akan cukup menyulitkan bagi perusahaan untuk memperoleh
9
pinjaman (catatan: ketentuan umumnya adalah bahwa perusahaan seharusnya
memiliki debt ratio kurang dari 0,5).
1. Rasio Utang terhadap Modal (Debt to Equity Ratio)
Rasio utang terhadap modal merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur besarnya proporsi utang terhadap modal. Rasio ini dihitung
sebagai hasil bagi antara total utang dengan modal. Rasio ini berguna
untuk mengetahui besarnya perbandingan antara jumlah dana yang
disediakan oleh kreditor dengan jumlah dana yang berasal dari pemilik
perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui berapa
bagiandari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai jaminan utang.
Rasio ini memberikan petunjuk umum tentang kelayakan kredit dan risiko
keuangan debitur.
Memberikan pinjaman kepada debitur yang memiliki tingkat debt to equity
ratio yang tinggi menimbulkan konsekuensi bagi kreditor untuk menanggung
risiko yang lebih besar pada saat debitur mengalami kegagalan keuangan. Hal ini
tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi kreditor. Sebaliknya, apabila kreditor
memberikan pinjaman kepada debitur yang memiliki tingkat debt to equity ratio
yang rendah (yang berarti tingginya tingkat pendanaan debitur yang berasal dari
modal pemilik) maka hal ini dapat mengurangi risiko kreditur (dengan adanya
batas pengaman yang besar) pada saat debitur mengalami kegagalan keuangan.
Dengan kata lain, akan lebih aman bagi kreditur apabila memberikan pinjaman
kepada debitur yang memiliki tingkat dept to equity ratio yang rendah karena hal
ini berarti bahwa akan semakin besar jumlah modal pemilik yang dapat dijadikan
sebagai jaminan utang. Semakin tinggi dept to equity ratio maka berarti semakin
kecil jumlah modal pemilik yang dapat dijadikan sebagai jaminan utang.
Ketentuan umumnya adalah bahwa debitur seharusnya memiliki debt to equity
ratio kurang dari 0,5 namun perlu diingat juga bahwa ketentuan ini tentu saja
dapat bervariasi tergantung pada masing-masing jenis industri.
Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung rasio utang terhadap
modal:
Total Utang
Debt ¿ Equity Ratio=
Total Modal
10
Dengan menggunakan contoh PT ABC, Tbk berikut ini adalah perhitungan
besarnya rasio utang terhadap modal:
(dalam ribuan rupiah)
2014 2013
Total Kewajiban 11.000.000 11.100.000
Total Modal 8.000.000 4.900.000
Untuk tahun 2014 :
Rp11.000 .000
( Debt ¿ Equity Ratio )= =1,38
Rp 8.000 .000
Artinya, perusahaan memiliki utang sebanyak 1,38 kali dari total
modal (1,38:1), atau dengan kata lain bahwa setiap Rp1 utang hanya
dijamin oleh Rp0,73 modal.
Untuk tahun 2013 :
Rp11.100 .000
( Debt ¿ Equity Ratio )= =2,27
Rp 4.900 .000
Artinya, perusahaan memiliki utang sebanyak 2,27 kali dari total
modal (2,27:1), atau dengan kata lain bahwa setiap Rp 1 utang hanya
dijamin oleh Rp 0,44 modal.
Interpretasi:
Debt to equity ratio tahun 2014 (1,38) lebih baik jika dibandingkan
dengan debt to equity ratio tahun 2013 (2,27) karena jumlah modal
pemilik ditahun 2014 yang di jadikan sebagai jaminan utang adalah lebih
besar jika dibandingkan dengan jumlah modal pemilik di tahun 2013.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa struktur
pembiayaan perusahaan lebih banyak menggunakan pinjaman di banding
modal. Dengan kondisi seperti ini tentu saja akan cukup menyulitkan bagi
11
perusahaan untuk mendapatkan tambahan pinjaman yang baru dari
kreditor, apalagi jika melihat besarnya proporsi utang terhadap modal
ditahun 2013.
2. Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Modal (Long Term Debt to Equity
Ratio)
Rasio utang jangka panjang terhadap modal merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur besarnya proporsi utang jangka panjang terhadap
modal. Rasio ini berguna untuk mengetahui besarnya perbandingan antara jumlah
dana yang disediakan oleh kreditor jangka panjang dengan jumlah dana yang
berasal dari pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio utang jangka panjang
terhadap modal merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa bagian
dari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai jaminan utang jangka panjang.
Rasio ini dihitung sebagai hasil bagi antara utang jangka panjang dengan modal.
Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung rasio utang jangka
Panjang terhadap modal:
Utang Jangka Panjang
Long Term Debt ¿ Equity Ratio=
Total Modal
Dengan menggunakan contoh PT ABC, Tbk berikut ini adalah perhitungan
besarnya rasio utang jangka panjang terhadap modal:
(dalam ribuan rupiah)
2014 2013
Utang Jangka Panjang 9.900.000 9.500.000
Total Modal 8.000.000 4.900.000
Untuk tahun 2014 :
Rp 9.900 .000
Long Term Debt ¿ Equity Ratio= =1,24
Rp 8.000 .000
12
Artinya, perusahaan memiliki utang jangka Panjang sebanyak 1,24 kali dari
total modal (1,24:1), atau dengan kata lain bahwa setiap Rp1 utang jangka
Panjang hanya dijamin oleh Rp0,81 modal.
Untuk tahun 2013 :
Rp 9.500 .000
Long Term Debt ¿ Equity Ratio= =1,94
Rp 4.900 .000
Artinya, perusahaan memiliki utang jangka Panjang sebanyak 1,94 kali dari
total modal (1,29:1), atau dengan kata lain bahwa setiap Rp 1 utang jangka
Panjang hanya dijamin oleh Rp 0,52 modal.
Interpretasi :
Long term debt to equity ratio tahun 2014 (1,24) lebih baik jika
dibandingkan dengan long term debt to equity ratio tahun 2013 (1,94) karena
jumlah modal pemilik di tahun 2014 yang dapat dijadikan sebagai jaminan utang
jangka panjang adalah lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah modal
pemilik tahun 2103.
Berdasarkan hasil perhitungan rasio diatas dapat disimpulkan bahwa
struktur pembiayaan perusahaan lebih banyak menggunakan pinjaman jangka
panjang di banding modal.
3. Rasio Kelipatan Bunga yang Dihasilkan (Times Interest Earned Ratio)
Rasio kelipatan bunga yang dihasilkan menunjukkan sejauh mana atau
berapa kali kemampuan perusahaan dalam membayar bunga. Kemampuan
perusahaan disini diukur dari jumlah laba sebelum bunga dan pajak. Rasio
kelipatan bunga yang dihasilkab dihitung sebagai hasil bagi antara laba sebelum
bunga dan pajak dengan besarnya beban bunga yang harus dibayarkan. Dengan
demikian, kemampuan perusahaan untuk membayar bunga pinjaman tidak
dipengaruhi oleh pajak.
13
Rasio kelipatan bunga yang dihasilkan sering juga dikenal sebagai coverage
ratio. Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh mana laba boleh menurun
tanpa mengurangi kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga.
Apabila perusahaan tidak mampu untuk membayar bunga, maka dalam jangka
Panjang hal ini tentu saja dapat menghilangkan kepercayaan kreditor terhadap
tingkat kredibilitas perusahaan bersangkutan. Bahkan, ketidakmampuan
perusahaan dalam membayar beban bunga ini dapat berakibat timbulnya tuntutan
hokum dari kreditor. Lebih dari itu, kemungkinan perusahaan menuju kearah
proses pailit (kebangkrutan) juga semakin besar.
Secara umum, semakin tinggi times interest earned ratio maka berarti
semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar bunga, dan hal ini
juga tentu saja akan menjadi ukuran bagi perusahaan untuk dapat memperoleh
tambahan pinjaman yang baru dari kreditor. Sebaliknya, apabila rasionya rendah
maka berarti semakin kecil pula kemampuan perusahaan untuk membayar bunga
pinjaman.
Berikut ini adalah rumus yang digunakan untuk menghitung rasio kelipatan bunga
yang dihasilkan:
Laba Sebelum Bunga dan Pajak
T ime Interest Earned Ratio=
Beban Bunga
Dengan menggunakan contoh PT ABC, Tbk berikut ini adalah perhitungan
besarnya rasio kelipatan bunga yang dihasilkan :
(dalam ribuan rupiah)
2014 2013
Laba sebelum bunga dan pajak 2.200.000 1.640.000
Beban bunga 200.000 240.000
Untuk tahun 2014 :
Rp 2.200.000
Time Interest Earned Ratio= =11
Rp200.000
14
Artinya, beban bunga dapat ditutup 11 kali dari laba sebelum bunga dan
pajak, atau dengan kata lain bahwa perusahaan memiliki kemampuan dari laba
sebelum bunga dan pajak untuk membayar beban bunga sebanyak 11 kali.
Untuk tahun 2013 :
Rp 1.640.000
Time Interest Earned Ratio= =6,8
Rp240.000
Artinya, beban bunga dapat ditutup 6,8 kali dari laba sebelum bunga dan
pajak, atau dengan kata lain bahwa perusahaan memiliki kemampuan dari laba
sebelum bunga dan pajak untuk membayar beban bunga sebanyak 6,8 kali.
Interpretasi:
Kemampuan laba sebelum bunga dan pajak dalam membayar beban bunga
pada tahun 2014 adalah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kemampuan
laba sebelum bunga dan pajak dalam membayar beban bunga pada tahun 2013.
Sebagai pembandingnya lainnya, jika rata-rata industry untuk rasio
kelipatan bunga yang dihasilkan adalah 10 kali maka dapat disimpulkan bahwa
kemampuan laba sebelum bunga dan pajak dalam membayar beban pada tahun
2014 cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan perusaaan sejenis lainnya
karena besaran rasionya (11) berada diatas rata-rata industi (10).
4. Rasio Laba Operasional terhadap Kewajiban (Operating Income to
Liabilities Ratio)
Rasio laba operasional terhadap kewajiban merupakan rasio yang
menunjukkan (sejauh mana atau berapa kali) kemampuan perusahaan perusahaan
dalam melunasi seluruh kewajiban. Kemampuan perusahaan disini diukur dari
jumlah laba operasioanal. Rasio laba operasional terhadap kewajiban dihitung
sebagai hasil bagi antara laba operasional dengan total kewajiban.
Rasio laba operasional terhadap kewajiban sering juga dikenal sebagai
coverage ratio. Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh mana laba
operasional boleh menurun tanpa mengurangi kemampuan perusahaan dalam
15
melunasi kewajiban. Apabila perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya,
maka dalam jangka Panjang hal ini tentu saja dapat menghilangkan kepercayaan
kreditor terhadap tingkat kredibilitas perusahaan bersangkutan. Bahkan,
ketidakmampuan perusahaan dalam membayar kewajiban ini dapat berakibat
timbulnya tuntutan hokum dari kreditor. Lebih dari itu, kemungkinan perusahaan
menuju kea rah proses pailit (kebangkrutan) juga semakin besar.
Secara umum, semakin tingi rasio laba operasional terhadap kewajiban
maka berarti semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk melunasi
kewajiban, dan hal ini juga tentu saja akan menjadi ukuran bagi perusahaan untuk
dapat memperoleh tambahan pinjaman yang baru dari kreditor. Sebaliknya,
apabila rasionya rendah maka berarti semakin kecil pula kemampuan perusahaan
untuk melunasi kewajibannya.
Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung rasio laba operasional
terhadap kewajiban:
LabaOperasional
Operating Income ¿ Liabilities Ratio=
Kewajiban
Dengan menggunakan contoh PT ABC, Tbk berikut ini adalah perhitungan
besarnya rasio kelipatan bunga yang dihasilkan :
(dalam ribuan rupiah)
2014 2013
Laba Operasional 2.710.000 2.370.000
Beban bunga 11.000.000 11.100.000
Untuk tahun 2014 :
Rp 2.710 .000
Operating Income ¿ Liabilities Ratio= =0,25
Rp11.000 .000
16
Artinya, setiap Rp 1 kewajiban hanya mampu ditutup oleh 0,25 laba
operasional, atau dengan kata lain bahwa besarnya laba operasional hanyalah 0,25
kali kewajibannya.
Untuk tahun 2013 :
Rp 2.370 .000
Operating Income ¿ Liabilities Ratio= =0,21
Rp11.100 .000
Artinya, setiap Rp 1 kewajiban hanya mampu ditutup oleh 0,21 laba
operasional, atau dengan kata lain bahwa besarnya laba operasional hanyalah 0,21
kali kewajibannya.
Interpretasi :
Kemampuan laba operasional untuk membayar kewajiban pada tahun 2014
adalah lebih baik jika dibandingkan dengan kemampuan laba operasional untuk
membayar kewajiban pada tahun 2013. Sebagai pembanding lainnya, jika rata-rata
industry untuk rasio laba operasional terhadap kewajiban adalah 0,5 maka dapat
disimpulkan bahwa kemampuan laba operasional dalam membayar kewajiban di
kedua tahun cenderung sangat kurang baik jika dibandingkan dengan perusahaan
sejenis lainnya karena besaran rasionya masih berada cukup jauh di bawah rata-
rata industry. Dalam hal ini, penting bagi perusahaan untuk melakukan efisiensi
atas beban operasional yang terlalu besar.
17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rasio solvabilitas atau rasio leverage merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur seberapa besar beban utang yang harus ditanggung perusahaan
dalam rangka pemenuhan asset. Perusahaan dalam menjalankan kegiatannya,
tentu saja setiap membutuhkan ketersediaan dana dalam jumlah yang memadai.
Dana itu tidak hanya dibutuhkan untuk membiayai jalannya kegiatan operasional
perusahaan saja, melainkan juga untuk membiayai aktivitas investasi perusahaan,
maka dari itu seorang manajer keuangan yang handal dituntut untuk memiliki
kepiawaian dalam mengelola keuangan perusahaan, termasuk kepiawaian dalam
mempertimbangkan alternative sumber pembiayaan perusahaan. Masing-masing
jenis pembiayaan memiliki kelebihan maupun kekurangan, dengan
mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang ada pada setiap pembiayaan,
oleh sebab itu penting bagi manajer keuangan untuk mensiasati kebutuhan
perusahaan dengan cara melakukan kombinasi sumber pembiayaan antara
pinjaman dan modal. Kombinasi penggunaan dana ini dapat ditunjukkan lewat
rasio solvabilitas atau rasio leverage, dimana rasio solvabilitas diperlukan untuk
kepentingan analisis kredit atau analisis risiko keuangan, sehingga hasil
perhitungan rasio solvabilitas diperlukan sebagai dasar pertimbangan dalam
memutuskan antara penggunaan dana dari pinjaman atau penggunaan dana dari
modal sebagai alternatif sumber pembiayaan asset perusahaan.
18
DAFTAR PUSTAKA
Hery. 2015. Analisis Laporan Keuangan Pendekatan Rasio Keuangan.
Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).
Sujarweni, V. Wiratna. 2017. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Pustaka
Baru Press
iv