2.
1 Realistic Mathematics Education (RME)
2.1.1 Pengertian RME
Secara harfiah Realistic Mathematics Education diterjemahkan
sebagai pendidikan matematika realistik yaitu pendekatan belajar
matematika yang dikembangkan atas dasar gagasan Frudenthal.
Menurut Frudenthal (Wijaya, 2012: 20) matematika merupakan suatu
bentuk aktivitas manusia. Gagasan ini menunjukkan bahwa RME tidak
menempatkan matematika sebagai produk jadi, melainkan suatu proses
yang sering disebut dengan guided reinvention. Oleh sebab itu, RME
menjadi suatu alternatif dalam pembelajaran matematika dalam
penelitian ini.
Selain itu, alasan pemilihan tersebut didasarkan pada fakta dan
konsep ontologi bidang kajian dalam penelitian ini. Salah satunya
adalah substansi materi pelajaran matematika bersifat abstrak, sehingga
pembelajaran matematika hendaknya dimulai dari konkret menuju
abstrak. Penjelasan tersebut mendukung RME sebagai pendekatan
pembelajaran khusus untuk matematika yang mendasarkan
pembelajaran berawal dari hal yang konkret.
11
Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Van den Heuvel
(Wijaya, 2012: 20) bahwa penggunaan kata ”realistik” sebenarnya
berasal dari bahasa Belanda ”zich realiseren” yang berarti untuk
dibayangkan. Jadi, RME tidak hanya menunjukkan adanya keterkaitan
dengan dunia nyata tetapi lebih mengacu pada fokus pendidikan
matematika realistik yaitu penekanan pada penggunaan situasi yang
dapat dibayangkan oleh siswa.
Hadi (2005: 19) menjelaskan bahwa dalam matematika realistik
dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan
konsep matematika. Penjelasan lebih lanjut bahwa pembelajaran
matematika realistik ini berangkat dari kehidupan anak, yang dapat
dengan mudah dipahami oleh anak, nyata, dan terjangkau oleh
imajinasinya, dan dapat dibayangkan sehingga mudah baginya untuk
mencari kemungkinan penyelesaiannya dengan menggunakan
kemampuan matematis yang telah dimiliki. Tarigan (2006: 3)
menambahkan bahwa pembelajaran matematika realistik menekankan
akan pentingnya konteks nyata yang dikenal siswa dan proses
konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri.
Selaras dengan pendapat-pendapat ahli di atas, Aisyah (2007: 7.1)
mengemukakan bahwa pendekatan matematika realistik merupakan
suatu pendekatan belajar matematika yang dikembangkan untuk
mendekatkan matematika kepada siswa. Oleh sebab itu,
masalah-masalah nyata dari kehidupan sehari-hari yang dimunculkan
sebagai titik awal pembelajaran matematika. Penggunaan masalah
realistik ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa matematika
sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Rahayu (2010) mengemukakan bahwa pendidikan matematika
realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang
lebih menekankan realitas dan lingkungan sebagai titik awal dari
pembelajaran. Selain itu, RME menekankan pada keterampilan proses
matematika, berdiskusi dan berkolaborasi, beragumentasi dengan teman
sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan akhirnya
menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah baik secara
individu maupun kelompok. Namun, perlu diketahui bahwa dalam
RME tidak hanya berhenti pada penggunaan masalah realistik. Masalah
realistik hanyalah pengantar siswa untuk menuju proses matematisasi.
Matematisasi adalah suatu proses untuk mematematikakan suatu
fenomena. Dalam penerapan RME terdapat dua jenis matematisasi yaitu
matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Matematisasi
horizontal berkaitan dengan proses generalisasi (generalizing) yang
diawali dengan pengidentifikasian konsep matematika berdasarkan
keteraturan (regularities) dan hubungan (relation) yang ditemukan
melalui visualisasi dan skematisasi masalah. Jadi, pada matematisasi
horizontal ini siswa mencoba menyelesaikan soal-soal dari dunia nyata,
dengan menggunakan bahasa dan simbol mereka sendiri, dan masih
bergantung pada model. Berbeda dengan matematisasi vertikal yang
merupakan bentuk proses formalisasi (formalizing) dimana model
matematika yang diperoleh pada matematisasi horizontal menjadi
landasan dalam pengembangan konsep matematika yang lebih formal
melalui proses matematisasi vertikal. Dengan kata lain, kedua jenis
matematisasi ini tidak dapat dipisahkan secara berurutan, tetapi
keduanya terjadi secara bergantian dan bertahap (Wijaya, 2012:
41 – 43).
Jadi, dalam RME masalah realistik digunakan sebagai stimulator
utama dalam upaya rekonstruksi pengetahuan peserta didik. Selain itu,
penerapan RME diiringi oleh penggunaan model agar pembelajaran
yang dilakukan benar-benar dapat dibayangkan oleh siswa
(imaginable), sehingga mengacu pada penyelesaian masalah dengan
berbagai alternatif melalui proses matematisasi yang dilakukan oleh
siswa sendiri.
2.1.2 Karakteristik Realistic Mathematics Education
Salah satu karakteristik mendasar dalam RME yang
diperkenalkan oleh Frudenthal adalah guided reinvention sebagai suatu
proses yang dilakukan siswa secara aktif untuk menemukan kembali
suatu konsep matematika dengan bimbingan guru (Wijaya, 2012: 20).
Sejalan dengan pendapat Frudenthal, Gravemeijer (Tarigan, 2006: 4)
mengemukakan empat tahap dalam proses guided reinvention, yaitu;
(a) tahap situasional, (b) tahap referensial, (c) tahap umum, (d) tahap
formal.
Namun, konsep guided reinvention dianggap masih terlalu global
untuk menjadi karakteristik dari RME. Oleh sebab itu, perlu adanya
karakteristik yang lebih khusus untuk membedakan antara RME dengan
pendekatan lain. Dengan dasar itulah dirumuskan lima karakteristik
RME sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran matematika,
yaitu:
a. Pembelajaran harus dimulai dari masalah yang diambil dari dunia
nyata. Masalah yang digunakan sebagai titik awal pembelajaran
harus nyata bagi siswa agar mereka dapat langsung terlibat dalam
situasi yang sesuai dengan pengalaman mereka. Sebab pembelajaran
yang langsung diawali dengan matematika formal cenderung
menimbulkan kecemasan matematika (mathematics anxiety).
b. Dunia abstrak dan nyata harus dijembatani oleh model. Model harus
sesuai dengan abstraksi yang harus dipelajari siswa. Model dapat
berupa keadaan atau situasi nyata dalam kehidupan siswa. Model
dapat pula berupa alat peraga yang dibuat dari bahan-bahan yang
juga ada di sekitar siswa.
c. Siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil kerja
mereka dalam menyelesaikan masalah nyata yang diberikan guru.
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi
penyelesaian masalah sehingga diharapkan akan diperoleh berbagai
varian dari pemecahan masalah tersebut.
d. Proses pembelajaran harus interaktif. Interaksi baik antar guru dan
siswa maupun siswa dengan siswa merupakan elemen yang penting
dalam pembelajaran matematika. Siswa dapat berdiskusi dan
bekerja sama dengan siswa lain, bertanya, dan menanggapi
pertanyaan serta mengevaluasi pekerjaan mereka.
e. Hubungan diantara bagian-bagian dalam matematika, dengan
disiplin ilmu lain, dan dengan masalah lain dari dunia nyata
diperlukan sebagai satu kesatuan yang saling terkait dalam
menyelesaiakan masalah (Aisyah, 2007: 7.18 – 7.19).
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa RME
memiliki karakteristik khusus yang membedakan RME dengan
pendekatan lain. Ciri khusus ini yaitu adanya konteks permasalahan
realistik yang menjadi titik awal pembelajaran matematika, serta
penggunaan model untuk menjembatani dunia matematika yang abstrak
menuju dunia nyata.
2.1.3 Langkah-langkah Penerapan Realistic Mathematics Education
Setiap model, pendekatan, atau teknik pembelajaran memiliki
prosedur pelaksanaan yang terstruktur sesuai dengan karakteristiknya.
Begitupun dengan RME, berikut ini langkah-langkah penerapan RME
dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Zulkardi (Aisyah, 2007:
7.20), yaitu:
a. Hal yang dilakukan diawal adalah menyiapkan masalah realistik.
Guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki berbagai
macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam
menyelesaikannya.
b. Siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai
dan diperkenalkan kepada masalah realistik.
c. Kemudian siswa diminta untuk memecahkan masalah tersebut
dengan cara mereka sendiri.
d. Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah
tersebut sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara
individu maupun kelompok.
e. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya di depan kelas, siswa atau kelompok lain memberi
tanggapan terhadap hal kerja penyaji.
f. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi taggapan
sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik
serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum.
g. Setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui
diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat
itu. Pada akhir pembelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi
dalam bentuk matematika formal.
Lain halnya dengan Wijaya (2012: 45) memaparkan proses
matematisasi untuk menyelesaikan masalah realistik dalam penerapan
RME sebagai berikut.
a. Diawali dengan masalah dunia nyata (Real World Problem).
b. Mengidentifikasi konsep matematika yang relevan dengan
masalah, lalu mengorganisir masalah sesuai dengan konsep
matematika.
c. Secara bertahap meninggalkan situasi dunia nyata melalui
proses perumusan asumsi, generalisasi, dan formalisasi. Proses
ini bertujuan untuk menerjemahkan masalah dunia nyata ke
dalam masalah matematika yang representatif.
d. Menyelesaikan masalah matematika (terjadi dalam dunia
matematika).
e. Menerjemahkan kembali solusi matematis ke dalam solusi
nyata, termasuk mengidentifikasi keterbatasan dari solusi.
Berdasarkan uraian pendapat di atas, diketahui bahwa penerapan
RME diawali dengan pemunculan masalah realistik. Dilanjutkan
dengan proses penyelesaian masalah yang terjadi dalam dunia
matematika dan diterjemahkan kembali ke dalam solusi nyata. Hasil
dari proses ini, kemudian dipublikasikan melalui diskusi kelas dan
diakhiri dengan penyimpulan atas penyelesaian masalah tersebut.
2.1.4 Kelebihan dan Kelemahan Realistic Mathematics Education
Kelebihan dan kelemahan selalu terdapat dalam setiap model,
strategi, atau metode pembelajaran. Namun, kelebihan dan kelemahan
tersebut hendaknya menjadi referensi untuk penekanan-penekanan
terhadap hal yang positif dan meminimalisir kelemahan-kelemahannya
dalam pelaksanaan pembelajaran. Berikut ini Asmin (Tandililing, 2012)
menjelaskan secara rinci kelebihan dan kelemahan RME dalam tabel di
bawah ini.
Tabel 2. Kelebihan dan Kelemahan RME.
Kelebihan Kelemahan
a. Siswa membangun sendiri a. Karena sudah terbiasa
pengetahuan, sehingga siswa diberi informasi terlebih
tidak mudah lupa dengan dahulu maka siswa masih
pengetahuannya. kesulitan dalam
b. Suasana proses pembelajaran menemukan sendiri
menyenangkan karena jawaban dari permasalahan.
menggunakan realitas b. Membutuhkan waktu yang
kehidupan, sehingga siswa tidak lama terutama bagi siswa
cepat bosan belajar matematika. yang lemah.
c. Siswa merasa dihargai dan c. Siswa yang pandai kadang-
semakin terbuka, karena setiap kadang tidak sabar menanti
jawaban siswa ada nilainya. temannya yang belum
d. Memupuk kerja sama dalam selesai.
kelompok.
Kelebihan Kelemahan
e. Melatih keberanian siswa dalam d. Membutuhkan alat peraga
menjelaskan jawabannya. yang sesuai dengan situasi
f. Melatih siswa untuk terbiasa pembelajaran saat itu.
berpikir dan mengemukakan
pendapat.
a. Pendidikan budi pekerti.
Bila Tandililing memaparkan kelebihan dan kelemahan RME,
Warli (2010) memberikan solusi dalam upaya meminimalisir
kelemahan dalam penerapan RME antara lain:
a. Peranan guru dalam membimbing siswa dan memberikan
motivasi harus lebih ditingkatkan.
b. Pemilihan alat peraga harus lebih cermat dan disesuaikan
dengan materi yang sedang dipelajari.
c. Siswa yang lebih cepat dalam menyelesaikan soal atau masalah
kontekstual dapat diminta untuk menyelesaikan soal-soal lain
dengan tingkat kesulitan yang sama bahkan lebih sulit.
d. Guru harus lebih cermat dan kreatif dalam membuat soal atau
masalah realistik.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan para ahli,
dapat diketahui bahwa RME memiliki beberapa kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan tersebut hendaknya menjadi hal yang harus
dipertahankan dan dikembangkan, sedangkan kelemahannya harus
diminimalisir. Terdapat beberapa cara untuk dapat meminimalisir
kelemahan RME, yang terpenting adalah guru hendaknya
mempersiapkan rencana pembelajaran secara matang.
2.1.5 Peran Guru dalam Penerapan Realistic Mathematics Education
Guru adalah perencana sekaligus pelaksana proses pembelajaran.
Kualitas pembelajaran bergantung pada besarnya upaya guru untuk
memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Peran guru
dalam RME lebih dominan pada pemberian motivasi, fasilitator, dan
pemberi stimulus agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Oleh
sebab itu, guru hendaknya dapat memutakhirkan materi dengan
masalah-masalah baru yang menantang bagi siswa.
Gravemeijer (Tarigan, 2006: 5) menjelaskan bahwa peran guru
harus berubah dari seorang validator (menyalahkan/membenarkan)
menjadi pembimbing yang menghargai setiap kontribusi (pekerjaan dan
jawaban) siswa. Pendapat lain tentang peran guru dalam RME
diungkapkan oleh Aisyah (2007: 7.6) antara lain:
a. Guru harus berperan sebagai fasilitator belajar.
b. Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif.
c. Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif
memberi sumbangan pada proses belajarnya.
d. Guru harus secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan
masalah-masalah dari dunia nyata.
e. Guru harus secara aktif mengaitkan kurikulum matematika
dengan dunia nyata, baik fisik maupun sosial.
Jadi, peran guru dalam penerapan RME adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator bagi siswa dalam merekonstruksi ide dan
konsep matematika bukan sebagai hakim atas pekerjaan siswa. Hal ini
dapat mendorong siswa untuk memiliki aktivitas baik dengan dirinya
sendiri maupun bersama siswa lain (interaktivitas).
Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan para pakar tersebut,
maka yang dimaksud dengan RME pada penelitian ini adalah suatu
pendekatan pembelajaran matematika yang berawal dari masalah
realistik sebagai sarana untuk mengonkretkan materi dan menghimpun
konsep matematika. Pengongkretan materi ini diwujudkan melalui
penggunaan model dan proses matematisasi, sehingga merujuk pada
kebermaknaan matematika dalam kehidupan. Adapun indikator pencapaian
penerapan RME adalah adanya penekanan penggunaan situasi yang dapat
dibayangkan melalui masalah realistik, penggunaan model, variasi strategi
penyelesaian masalah, interaksi individu, dan keterkaitan antar konsep
matematika.