Berbagai Model Evaluasi Program
Pendekatan Evaluasi Berbasis Tujuan
Pada evaluasi yang berorientasi pada tujuan, yang menjadi ciri khasnya yakni fokus evaluasi
lebih pada tujuan yang akan dicapai, bukan pada prosesnya. Informasi diperoleh pada evaluasi yang
berorientasi pada tujuan digunakan untuk memformulasikan tujuan dan aktivitas, atau prosedur
asesmen dan perlengkapan yang digunakan untuk menentukan pencapaian tujuan. Model-model
evaluasi berbasis tujuan diantaranya pendekatan evaluasi dari Tyler, paradigma evaluasi dari
Meftassel dan Michael, model evaluasi kesenjangan (discrepancy) dari Provus, kubus evaluasi
(skema untuk membangkitkan dan menganalisis tujuan, model logis, dan evaluasi tanpa tujuan
(goal free).
Model evaluasi berbasis tujuan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model
evaluasi berbasis tujuan adalah model ini mudah digunakan, model ini sederhana karena hanya
melihat realitas hasil program dibandingkan dengan tujuan program yang telah dirumuskan, fokus
evaluasi hanya pada satu aspek saja yaitu hasil, hasil evalusi dengan mudah diterima khalayak.
Kekurangan model evaluasi berorientasi pada tujuan yaitu terlalu sederhana dan hanya berorientasi
pada hasil, karena beorientasi pada hasil mudah direduksi, karena adanya kesesuaian yang erat
antara tujuan dan hasil dikatakan bersifat linear antara tujuan yang akan dicapai dan performen
yang terukur. Model ini juga terlalu menekankan hasil, tidak melihat dan mencermati aspek yang
lain, misalnya prosesnya seperti apa, atau aspek yang terkait dengan audiens dan pengelola program
sama sekali tidak menjadi perhatian. Terkait dengan kelebihan dan kekurangan ini, Scriven
mengajukan model evaluasi bebas tujuan (goal free).
Model Evaluasi Bebas Tujuan (Goal-Free Evaluation) dari Scriven tidak didasarkan pada
tujuan yang ingin dicapai dari program kegiatan. Evaluasi berorientasi pada pihak eksternal, pihak
konsumen, stakeholder, atau masyarakat. Dalam model evaluasi goal free, evaluator akan melihat
efek nyata (actual effect) dari suatu program, bukan hanya efek yang termaksud (intended effect).
Efek ini diamati secara berkesinambungan, terus menerus, mengecek seberapa jauh tujuan tersebut
terlaksana dalam suatu proses pelaksanaan program. Goal free evaluation model tidak didasarkan
pada goal, namun berdasarkan pada effect. Model ini hanya mempertimbangkan tujuan umum
yang akan dicapai oleh progam, tidak setiap komponen tujuan secara rinci.
Model Evaluasi Berbasis Manajemen
Evaluasi berbasis menajemen diperlukan ketika pembuat kebijakan memerlukan informasi
pendukung untuk memutuskan masa depan suatu program. Salah satu pendekatan yang dapat
ditempuh untuk membuat keputusan tentang suatu program yakni dengan menggunakan
pendekatan berbasis manajemen yang diusulkannya. Model ini berbasis Context, Input, Process,
dan Product yang kemudian diberi nama dengan model CIPP dari Stufflebeam. Evaluasi context
membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program, dan
merumuskan tujuan program. Evaluasi Input membantu dalam membuat keputusan, menentukan
sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai
kebutuhan serta bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Evaluasi process untuk membantu
mengimplementasikan keputusan, dilanjutkan pertanyaan sampai sejauh mana rencana telah
diterapkan? apa yang harus direvisi? Begitu pertanyaan tersebut terjawab, prosedur dapat
dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki. Sedangkan evaluasi product untuk mengetahui apa hasil yang
telah dicapai dan apa yang dilakukan setelah program berjalan.
Model evaluasi berbasis manajemen lainnya adalah Model Evaluasi UCLA yang
dikembangkan Alkin, yang isinya mirip dengan model CIPP. Ada 5 tipe evaluasi menurut Alkin: 1)
sistem asesmen (beberapa ahli lain menyebutnya sebagai need assessment), untuk menyediakan
informasi tentang pernyataan suatu sistem (setara denga konteks dalam CIPP); 2) perencanaan
program untuk membantu memilih bagian program yang efektif dan kaitannya dengan kebutuhan
pendidikan (setara dengan input); 3) implementasi program, untuk menyediakan informasi tentang
bagaimana suatu program yang digunakan pada grup yang sesuai; 4) peningkatan program, untuk
menyediakan informasi tentang bagaimana suatu program berfungsi, apakah tujuan ke dalam atau
hasil yang tidak diharapkan tercapai (hampir sama dengan proses); dan 5) sertifikasi program,
untuk menyediakan informasi tentang nilai program dan potensinya ketika digunakan di berbagai
tempat (hampir sama dengan produk evaluasi).
Keunggulan model evaluasi berbasis manajemen diantaranya adalah komprehensif. Model
ini mengevaluasi keseluruhan program, mulai dari konteks, input, proses, dan produk. Karena
komprehensif, model ini sensitif terhadap keperluan informasi, dan dengan menggunakan
pendekatan sistematik untuk evaluasi. Di sisi lain, model ini menggunakan berbagai informasi yang
bervariasi. Namun model berbasis manajemen ini mempunyai kelemahan. Kelemahan tersebut
diantaranya menekankan pada efisiensi organisasional dan model produksi. Model ini
mengasumsikan keteraturan dan dapat diprediksinya suatu penetapan keputusan, pada hal tidak
setiap program merupakan program yang teratur dan dapat [Link] dapat melaksanakan
model evaluasi ini, diperlukan biaya yang mahal. Kelemahan lain yakni model ini sangat
tergantung pada pemimpin.
Model Evaluasi Berbasis Pengguna (Consumer)
Model evaluasi formatif bertujuan untuk mengetahui perkembangan program yang sedang
berjalan (in-progress). Biasanya, evaluasi bersifat internal atau dilakukan oleh lembaga yang
menyelenggarakan evaluasi program sendiri. Karena bersifat internal, evaluasi ini berfungsi untuk
meningkatkan kinerja lembaga, mengembangkan program/personal. Dalam evaluasi formatif ini,
memuat kegiatan monitoring dan supervisi. Adapun evaluasi sumatif biasanya dilakukan pada akhir
program, dan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Evaluasi
ini merupakan bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan program, dan dapat digunakan untuk
merumuskan rekomendasi untuk melanjutkan atau menghentikan program pada waktu selanjutnya.
Kriteria evaluasi berbasis pengguna di bidang pendidikan meliputi: kejadian atas tercapainya tujuan
pendidikan yang penting; kejadian atas tercapainya tujuan nonpendidikan yang penting (misalnya
tujuan sosial); tindak lanjut hasil; efek sekunder dan yang tidak diharapkan, rentang manfaat;
dampak moral; dan pembiayaan. Kelemahan evaluasi berbasis konsumen adalah menekankan pada
kebutuhan informasi pengguna. Hasil evaluasi akan mempengaruhi pengembang produk, karena
pengembang berharap produknya menjadi lebih baik. Model ini juga membutuhkan biaya yang
cukup besar, memerlukan kreativitas atau inovasi, tidak terbuka terhadap debat atau uji silang
karena semua berbasis pengguna.
Model evaluasi Kirkpatrick dikenal dengan Evaluating Training Programs: The Four Levels
atau Kirkpatrick’s evaluation model., terdiri dari 4 langkah yakni reaction, learning, behavior, dan
result. Evaluasi terhadap reaction berarti mengukur kepuasan peserta program. Aspek learning
merupakan evaluasi mengenai pengetahuan apa yang telah dipelajari, keterampilan apa yang
dikembangkan atau ditingkatkan, dan sikap apa yang berubah. Evaluasi pada aspek behavior
dilakukan dengan membandingkan perilaku kelompok kontrol dengan perilaku kelompok peserta
training, atau membandingkan perilaku sebelum dan setelah mengikuti training maupun dengan
mengadakan survei atau interview dengan pelatih, atasan maupun bawahan peserta training setelah
kembali bekerja. Evaluasi aspek result difokuskan pada hasil akhir yang terjadi karena peserta telah
mengikuti suatu program.
Kirkpatrick (2010) mengembangkan satu aspek lagi yang dikenal dengan Return on
Investment (ROI) dan Return on Expectations (ROE) yang banyak digunakan di kalangan bisnis.
ROI mengukur antara modal yang dikeluarkan pada suatu program dan keuntungan yang diperoleh
atau hasil yang diperoleh dari program tersebut dengan cara menyekor baku tiap satuan mata uang
dengan indikator tertentu yang ditetapkan.
Evaluasi Berorientasi pada Ahli (Expertise-Oriented)
Evaluasi ini memiliki tujuan yakni menyediakan keputusan profesional tentang kualitas.
Deskriptor utama dalam melakukan evaluasi model ini yakni keputusan didasarkan atas
pengalaman individu yang dianggap sebagai ahli, menggunakan standar yang disepakati, dan
kunjungan tim ke tempat yang dievaluasi. Selama proses evaluasi, yang dilakukan evaluator adalah
melakukan studi mandiri. Berdasarkan hasil studi mandiri ini dapat dilakukan diskusi panel antara
beberapa ahli, ujian oleh tim/komite, dan kemudian melakukan kritik. Kriteria untuk membuat
keputusan didasarkan atas standar yang dikenal atau kualifikasi dari ahli.
Evaluasi Berorientasi pada Partisipan (Participant-oriented)
Salah satu tokoh pada model evaluasi berorientasi pada partispan ini adalah Stake, Patton,
Guba & Lincoln, Rippey, MacDonald, Parlett & Hamilon, Cousing & Earl. Tujuan dari evaluasi ini
untuk memahami dan menjelaskan kompleksitas dari aktivitas dalam suatu program, merespons
tuntutan audiens akan informasi. Deskriptor kunci dalam evaluasi ini yaitu merefleksikan realitas
yang ganda, menggunakan penalaran induktif dan penemuan, menggunakan sumber utama yang
mengalami/melakukan aktivitas, melibatkan pengguna yang banyak berperan serta. Pemanfaatan
evaluasi ini adalah untuk menguji inovasi atau perubahan tentang sesuatu yang sedikit diketahui
dan etnografi dari pelaksanaan program. Adapun kriteria yang digunakan dalam memutuskan
evaluasi yaitu kredibilitas, kecocokan, dapat diaudit, dapat dikonfirmasi.
Stake mengidentifikasi 3 tahap evaluasi program pendidikan dan faktor yang mempenga-
ruhinya, yaitu fase antiseden, fase transaksi, dan fase hasil. Model ini disebut juga sebagai
Countenance Evaluation Model dan ada yang menyebutnya dengan model responsive. Keuntungan
dari model evaluasi berbasis partisipan yaitu fokus pada deskripsi dan keputusan, memperhatikn
konteks, terbuka terhadap perubahan rencana, menggunakan penalaran indukif, menggunakan
berbagai informasi yang luas, dan menekankan pemahaman. Sedangkan yang menjadi
kekurangannya yaitu tidak terarah, memerlukan tenaga yang intensif dan biaya tinggi, dan adanya
potensi gagal sampai mencapai suatu akhir
DAFTAR PUSTAKA PENDUKUNG
Allen, M.J.& Yen, W.M. (1979). Introduction to measurement theory. Belmont, CA: Wadsworth,
Inc.
Babbie, E. (2004). The practice of social research. Belmont, CA: Wadsword.
Ebel, R.L. & Frisbie, D.A. (1986). Essentials of educational measurement. Englewood Cliffs, NJ:
Prentice-Hall, Inc.
Fitzpatrick, J.L., Sanders, J.R., Worthen, B.R.(2004). Program evaluation: Alternative approaches
and practical guidelines. Boston: Pearson.
Frechtling, J.A. (2007). Logic modeling methods in program evaluation. San Francisco, CA: John
Wiley & Sons.
McDavid, J.C. & Hawthorn, L.L.R. Program evaluation and performance measurement: an
introduction to practice. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Rossi, P.H., Lipsey, M.W., & Freeman, H.E.. (2004). Evaluation: A systematic approach.
Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Wholey, J.S., Hatry, H.P., Newcomer,K.H. (1994). Handbook of Practical Program Evaluation.
San Francisco: Jossey-Bass Publishers.
Worthen, B.R. & Sanders, J.R. (1973). Educational evaluation: Theory and practice. Worthington,
Ohio: Charles A. Jhon.