0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan40 halaman

Manajemen Pakan Ayam Petelur Usia 13 Minggu

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya manajemen pemeliharaan ayam petelur yang baik, terutama pada fase grower. Fase grower merupakan masa pertumbuhan penting bagi ayam petelur sebelum memasuki masa bertelur. Manajemen yang tepat pada fase ini, seperti pemberian pakan dan vitamin yang memadai, akan mempengaruhi produktivitas telur ayam ke depannya.

Diunggah oleh

danang widjanarko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan40 halaman

Manajemen Pakan Ayam Petelur Usia 13 Minggu

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya manajemen pemeliharaan ayam petelur yang baik, terutama pada fase grower. Fase grower merupakan masa pertumbuhan penting bagi ayam petelur sebelum memasuki masa bertelur. Manajemen yang tepat pada fase ini, seperti pemberian pakan dan vitamin yang memadai, akan mempengaruhi produktivitas telur ayam ke depannya.

Diunggah oleh

danang widjanarko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agribisnis perunggasan nasional telah mengalami perkembangan

yang sangat pesat sejak dekade 1960-an. Memang, sejak diperkenalkan,

ayam ras, baik pedaging maupun petelur, kemudian menjadi budidaya

skala rumah tangga. Peternakan ayam ras petelur selama ini telah

berkembang sangat luar biasa dan saat ini menjadi suatu usaha berskala

industri yang sangat modern dengan didukung oleh empat subsistem yang

cukup kokoh, yakni industri hulu, industri hilir, subsistem budidaya dan

industri pendukungnya.

Populasi ayam ras petelur hingga saat ini telah menyebar ke

seluruh wilayah di Indonesia. Seiring meningkatnya permintaan dan

kebutuhan akan telur, maka diperlukan peningkatan produksi dan

pengembangan usaha oleh perusahaan-perusahaan peternakan

khususnya ayam petelur. Dalam skala lokal, konsumsi protein hewani dari

tahun ke tahun mengalami peningkatan, setelah pada tahun 1998

mengalami penurunan yang tajam akibat dari krisis moneter. Besarnya

peluang pasar ayam petelur ini merupakan kesempatan yang sangat

potensial untuk mengembangkan peternakan ayam petelur. Bagi seorang

peternak kesalahan pemeliharaan ayam akan menghasilkan pertumbuhan

ayam yang buruk sehingga mengakibatkan hasil produksi menurun.

Ayam petelur dijadikan pilihan dalam beternak karena ayam

tersebut mampu untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup

1
dengan waktu yang cepat. Telur pertama dihasilkan pada saat berumur 6

bulan dan akan terus menghasilkan telur sampai umurnya mencapai 2

tahun. Dengan total produksi telurnya antara 250 sampai 280 butir per

tahun. Teknik manajemen pemeliharaan ayam ras petelur yang sesuai

sangat diperlukan untuk mencapai hasil produksi yang optimal.

Keberhasilan suatu usaha peternakan ayam petelur dipengaruhi

oleh tiga faktor utama yaitu, pakan, bibit dan manajemen. Perusahaan

yang mengabaikan manajemen dan sumber daya yang dimiliki cenderung

tidak mampu bertahan maupun berkembang. Salah satu upaya yang

dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan telur komersil tidak

cukup hanya dengan menambah jumlah peternakan yang ada tetapi

usaha yang telah ada sebaiknya didukung oleh manajemen pemeliharaan

yang baik dengan memperhatikan. Faktor-faktor penunjang seperti

perencanaan, manajemen produksi, perkandangan dan manajemen

sumber daya manusia, sehingga usaha yang ada baik usaha peternakan

besar maupun kecil dapat berjalan dengan baik.

Dalam beternak dan mendapatkan hasil yang sesuai, kita perlu

memperhatikan manajemen dalam pemeliharaan yaitu mulai dari pakan,

kandang, penyakit serta pengobatannya, sifat genetikanya, asal usulnya

ternak, vaksinasi dan sebagainya. Pemeliharaan ayam petelur

membutuhkan penanganan khusus dan sangat penting untuk diperhatian.

Kunci utama untuk mencapai produksi yang optimal yaitu manajemen

yang baik, yaitu persiapan awal, terutama pada fase persiapan kandang,

2
fase starter, grower dan layer serta didukung dengan manajemen sistem

recording baik.

B. Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Adapun tujuan dilaksanakannya praktek kerja lapangan, yaitu :

1. Agar mahasiswa bisa terjun langsung ke masyarakat untuk

mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku perkuliahan.

2. Untuk mengetahui salah satu subsistem agribisnis yaitu budidaya

ternak ayam ras petelur.

3. Meningkatkan pengetahuan dan ketermpilan tentang manajemen

pemeliharaan ayam petelur yanga ada di Peternakan ayam petelur

Dinamika

C. Manfaat

1. Mahasiswa mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman

tentang manajamen pemeliharaan ayam petelur yang ada di

Peternakan ayam petelur Dinamika

2. Mahasiswa dapat memperaktekkan secara langsung kegiatan-

kegiatan budidaya ternak seperti pemanenan telur, pemberian

pakan, sterilisasi peralatan (sanitasi).

3. Mahasiswa dapat menyingkronkan antara teori dan praktik secara

langsung di lapangan mengenai manajamen pemeliharaan ayam

petelur

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ayam  Ras Petelur

Ayam petelur adalah ayam yang diternakkan khusus untuk

menghasilkan telur konsumsi. Jenis ayam petelur dibagi menjadi tipe

ayam petelur ringan dan medium. Tipe ayam petelur ringan mempunyai

badan yang ramping dan kecil, bulu berwarna putih bersih, dan berjengger

merah, berasal dari galur murni White Leghorn dan mampu bertelur lebih

dari 260 telur per tahun produksi. Ayam petelur ringan sensitif terhadap

cuaca panas dan keributan, responnya yaitu produksi akan menurun. Tipe

ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu

gemuk, kerabang telur berwarna coklat dan bersifat dwiguna (Bappenas,

2010). Ayam yang dipelihara sebagai penghasil telur konsumsi umumnya

tidak memakai pejantan dalam kandangnya karena telur konsumsi tidak

perlu dibuahi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

Produksi ayam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain bangsa

dan strain ayam yang digunakan, kondisi lingkungan dan manajemen

pakan (Bell dan Beaver, 2002; dikutip dalam Al Nasser et al., 2005).

Macam-macam strain ayam petelur yang dikembangkan antara lain

Lohmann, Hy-Line W-36 dan W-98, Hy-Line Brown, ISA White dan ISA

Brown. Strain ayam petelur  berwarna coklat memiliki performa yang lebih

unggul daripada strain ayam petelur berwarna putih. Persentase

cangkang pada ISA Brown lebih besar daripada ISA White, selain itu

4
bobot telur, egg mass dan efisiensi pakannya juga lebih baik (Grobas et

al., 2001; dikutip dalam Al Nasser et al., 2005).

B. Manajemen Pemeliharaan

Ayam ras petelur adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk

menghasilkan banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras dan

tidak boleh disilangkan kembali (Sudaryani dan Santosa, 2000).

Berdasarkan fase pemeliharaannya, fase pemeliharaan ayam petelur

dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter (umur 1 hari-6 minggu), fase

grower (umur 6-18 minggu), dan fase layer/petelur (umur 18 minggu-afkir)

(Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).

Fase grower pada ayam petelur, terbagi kedalam kelompok umur

6-10 minggu atau disebut fase awal grower dimana terjadi pertumbuhan

anatomi dan sistem hormonal pada fase ini. Sedangkan, pada umur 10--

18 minggu sering disebut dengan fase developer dimana pada fase ini

perkembangan ditandai dengan pertumbuhan anatomi kerangka ayam

dan otot (daging) yang lebih dominan (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013). Pada

fase ini kontrol pertumbuhan dan keseragaman perlu dilakukan, karena

berkaitan dengan sistem reproduksi dan produksi ayam tersebut. Periode

grower secara fisik tidak mengalami perubahan yang berarti, perubahan

hanya dari ukuran tubuhnya yang semakin bertambah dan bulu yang

semakin lengkap serta kelamin sekunder yang mulai nampak. Selama

periode ini terjadi perkembangan ukuran dan terbentuknya rangka,

5
perkembangan organ tubuh, perkembangan hormonal, dan

perkembangan organ reproduksi (Rasyaf, 2007).

Pullet memiliki tahapan perkembangan tubuh yang kompleks

sesuai periode umurnya (starter dan grower). Masa starter merupakan

masa pembelahan sel (hiperplasia) sehingga perkembangan organ sangat

dominan di masa ini. Oleh karena itu, masa ini mempunyai andil 50%

bahkan 90% terhadap keberhasilan pemeliharaan pullet (Fadilah dan

Fatkhuroji, 2013). Periode grower terjadi perkembangan ukuran sel

(hipertrofi). Fase ini frame size (kerangka tubuh) berkembang mencapai

bentuk sempurna. Periode grower memiliki 3 waktu kritis yang harus

diperhatikan oleh peternak yaitu umur 6-7 minggu, 12 minggu, dan 14

minggu. Antara minggu 6 dan 7 adalah puncak perkembangan frame size

dimana 80% frame size sudah mencapai dimensi akhir. Oleh karena itu,

saat penimbangan berat badan di minggu kelima, ayam-ayam yang belum

memiliki frame size optimal dipisahkan lalu tetap diberikan ransum starter

dan diberikan multivitamin (Adlan dkk, 2012). Lebih lanjut dinyatakan

bahwa perkembangan kerangka tubuh minggu ke-12 telah mencapai

maksimal, sehingga setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan

peternak, yaitu mengejar ketinggalan frame size (berat badan) sebelum

minggu ke-12, dan mempertahankan berat tubuh yang sudah sama atau

10% di atas standar untuk menghadapi masa awal bertelur. Selain

tercapainya berat tubuh yang sesuai dan perkembangan frame size yang

6
optimal, tingkat keseragaman ayam juga perlu tetap diperhatikan (Adlan

dkk, 2012).

Perkembangan pesat organ reproduksi dan juga medulary bone

(bagian tulang yang menyimpan cadangan kalsium untuk cangkang telur

pada ayam) terjadi pada minggu ke-14. Periode ini, ketersediaan vitamin

D dan kalsium sangat dibutuhkan rendahnya asupan kalsium dan vitamin

D saat awal bertelur akan menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas

telur saat puncak produksi sehingga sebaiknya peternak perlu

menyediakan kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang cukup (Adlan dkk,

2012). Hal penting lainnya dalam pemeliharaan fase grower adalah

memperhatikan konsumsi pakan per hari baik dari segi kualitas maupun

kuantitasnya. Pembatasan pemberian ransum dilakukan bila bobot tubuh

yang diperoleh melebihi standar. Bila bobot tubuh sejalan dengan kurva

yang ada, pada umur 10 minggu, ransum dapat diubah dari ransum starter

ke grower. Jika berat kelompok lebih rendah, pemberian ransum starter

diatur sampai berat badannya sesuai dengan umurnya. Sementara,

pemberian ransum grower harus berkualitas baik dan memenuhi

kebutuhan asam amino. Ransum yang mengandung protein dan asam

amino yang rendah akan menyebabkan naiknya lemak tubuh (gemuk),

dan akan menyebabkan ayam makan terlalu banyak pada masa grower

dan bermasalah pada awal produksi (Rasyaf, 2007).

C. Manajemen Pakan

7
Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan

anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-

zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan

reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan

kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai

(Suprijatna dkk, 2005).

Ayam petelur membutuhkan sejumlah unsur nutrien untuk

hidupnya, misalnya untuk bernafas, peredaran darah, bergerak dan

fungsi-fungsi fisiologis lainya. Pakan juga berfungsi untuk memenuhi

kebutuhan zat-zat makanan sebagai bahan bagi terbentuknya material

jaringan dalam tubuh untuk pembentukan daging dan telur. Zat-zat

makanan tersebut dapat dibagi menjadi enam kelas, yaitu karbohidrat,

lemak, protein, mineral, vitamin, dan air (Suprijatna dkk, 2005). Pakan

yang kurang memenuhi standar nutrien, dapat menjadi salah satu sebab

menurunnya produktivitas ayam petelur.

Bentuk pakan seperti campuran crumble dan mash umum

digunakan dalam ransum hasil formulasi sendiri dan relatif lebih ekonomis.

Ayam harus distimulasi untuk mengonsumsi pakan, salah satunya dengan

memberikan biji-bijian setengah hancur, misalnya jagung. Pakan di dalam

tempat pakan diusahakan selalu kering dan diganti dengan yang baru

setiap hari untuk mencegah timbulnya jamur (Shirt, 2010).

Gudang pakan

8
Penyimpanan pakan perlu diperhatikan agar pakan tidak lembab

atau rusak. Tempat penyimpanan pakan diusahakan bebas dari hama,

baik serangga maupun tikus. Gudang pakan harus didesinfeksi serta

kondisi ruangan harus kering (Rusman dan Siarah, 2005). Hal-hal yang

perlu diperhatikan pada penyimpanan pakan di gudang antara lain: 

lokasi gudang harus bebas dari genangan air, tidak boleh ada kebocoran

atap, dan dilengkapi ventilasi cukup untuk mencegah kelembaban terlalu

tinggi; lantai dilengkapi alas dari kayu atau bahan lainnya yang memiliki

rongga agar tidak terjadi kontak langsung antara lantai dan karung

pakan. Pakan tidak boleh disimpan lebih dari 1 minggu, dan pakan yang

didatangkan lebih dulu ke gudang adalah yang digunakan terlebih

dahulu.

Tempat Pakan Dan Minum


Tempat pakan dan minum yang dipelihara dalam sistem litter

umumnya berupa hanging feeder atau hanging waterer. Hanging

feeder ditempatkan setinggi punggung ayam, sedangkan tempat minum

setinggi leher ayam. Perusahaan besar pada umumnya menggunakan

tempat pakan dan minum otomatis. Tempat pakan dan minum untuk

kandang sistem cage umumnya berbentuk trough (memanjang)

(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Tempat pakan

berbentuk trough untuk pemeliharaan strain Hy-Line Brown pada sistem

cage sebaiknya sedalam 9 cm, tempat minum sedalam 2,5 cm.

Satu trough  dapat dibuat untuk 12 ekor ayam. Untuk kandang yang

9
menggunakan hanging feeder dan hanging waterer, satu tempat pakan

maksimum untuk 30 ekor ayam, sedangkan satu tempat minum

(berbentuk nipple drinker) maksimum untuk 10 ekor ayam (Hy-Line

International, 2010).

Ransum
Ransum adalah campuran berbagai macam bahan organik dan

anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-

zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan

reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan

kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai

(Suprijatna et al, 2005).

Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan

digunakan oleh hewan. Bentuk fisik pakan ada beberapa macam,

yaitu mash and limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran), all

mash (bentuk tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran

sama), crumble (bentuk butiran halus dengan ukutan tidak sama). Di

antara keempat macam bentuk tersebut, bentuk pellet memiliki

palatabilitas paling tinggi dan lebih tahan lama disimpan. Bentuk all

mash atau tepung digunakan untuk tempat ransum otomatis, tetapi

kurang disukai ayam, mudah tengik, dan sering menyebabkan

kanibalisme yang tinggi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Pakan

untuk ayam petelur umur 0 – 6 minggu (fase starter) sebaiknya

10
menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang memiliki komposisi pakan

yang tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase grower dan layer

dapat digunakan pakan hasil formulasi sendiri (Ditjennak, 2001).

Kebutuhan Nutrisi Ayam Petelur

Periode pertumbuhan ayam petelur dapat dibagi menjadi periode

grower (umur 1 hari - 8 minggu), developer (umur 8 - 16 minggu), dan

pre-lay (umur 17 - 24 minggu). Kebutuhan nutrisi periode grower yaitu

18,6% PK dan 3870 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode developer

yaitu 14,9% PK dan 2750 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode pre-lay

yaitu 18,0% PK dan 2755 kkal/kg EM  (Al Nasser et al., 2005).

Jika energi pakan saat fase layer terlalu rendah (kurang dari 2600

kkal), konsumsi pakan lebih banyak sehingga FCR meningkat dan

efisiensi pakan menurun. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi akan

terjadi penurunan konsumsi (Harms et al., 2000). Kebutuhan PK dan EM

pada fase layer tidak sama, tergantung dari umur ayam, produksi telur,

dan konsumsi pakan. Hal yang perlu diperhatikan yaitu makin sedikit

jumlah pakan yang dikonsumsi, kandungan PK dan EM harus

ditingkatkan. Kebutuhan PK dan EM fase layer pada berbagai tingkatan

umur dapat dilihat pada Tabel 1.

11
Tabel 1. Kebutuhan PK dan EM Fase Layer untuk Strain Hy-Line
Brown
Umur 27 – 32 33 – 44 45 – 58 ≥ 59 minggu
minggu minggu minggu
Hen Day 94 – 96% 89 – 93% 85 – 88% < 85%
Productio
n
Konsumsi 93 – 113 g 100 – 120 g 100 – 120 g 99 – 119 g
Kebutuhan 15,04 – 13,96 – 13,33 – 16% 13,03 –
PK 18,28% 16,75% 15,66%
Kebutuhan 2778 – 2867 2734 – 2867 2679 – 2867 2558 – 2833
EM Kkal/kg Kkal/kg Kkal/kg Kkal/kg
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.

Protein pakan sebagian besar digunakan untuk produksi telur,

hanya sebagian kecil untuk hidup pokok. Semakin tinggi tingkat produksi

maka kebutuhan protein juga semakin tinggi (Suprijatna et al., 2005).

Protein pakan harus mencukupi kebutuhan asam-asam amino untuk

menunjang produksi yang optimal (Leeson, 2008). Kebutuhan asam

amino bagi ayam petelur fase layer dapat dilihat pada Tabel 2.

12
Tabel 2. Standar Kebutuhan Asam Amino untuk Strain Hy-Line Brown
Umur 27 – 32 33 – 44 45 – 58 ≥ 59
minggu minggu minggu minggu
HDP 94 – 96% 89 – 93% 85 – 88% < 85%
Lisin (mg) 931 920 876 821
Metionin 448 443 422 395
(mg)
Metionin 805 815 776 727
+ Sistin
(mg)
Treonin 700 692 659 618
(mg)
Triptofan 213 211 201 188
(mg)
Arginin 978 966 920 863
(mg)
Isoleusin 722 714 680 637
(mg)
Valin (mg) 844 834 794 744
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.

13
Kebutuhan vitamin dan mineral untuk ayam petelur strain Hy-Line

Brown fase layer dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Standar Kandungan Vitamin Ransum pada Fase Layer


Vitamin Kandungan dalam 1000

Kg Ransum
Vitamin A (IU) 8.000.000*
Vitamin D(IU) 500.000**
Vitamin E (IU) 5.000**
Vitamin K (mg) 500**
Thiamin (mg) 1.700*
Riboflavin (mg) 5.500*
Asam pantotenat (mg) 6.600*
Niasin (mg) 28.000*
Piridoksin (mg) 3.300*
Biotin (mg) 100**
Kolin (mg) 500.000**
Vitamin B12 (mg) 22,18*
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010

Tabel 4. Kebutuhan Mineral Ayam Petelur Tipe Medium pada Fase


Layer
Mineral Umur 21 – 40 Umur > 40

14
minggu minggu
Kalsium (%) 3,00 3,25
Fosfor (total, %) 0,50 0,50
Natrium (mg/kg) 0,15 0,15
Mangan (mg/kg) 110 110
Seng (mg/kg) 50 50
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.

       Kalsium dan fosfor merupakan mineral utama yang diperlukan untuk

pembentukan cangkang telur. Pakan ayam petelur fase layer harus

mengandung kalsium sebanyak 3 – 4%. Defisiensi kalsium akan

menyebabkan cangkang telur menjadi tipis dan mudah retak. Jika

absorbsi kalsium pakan tidak memenuhi kebutuhan pembentukan

cangkang, kalsium diambil dari tulang medulair (Riczu dan Korver,

2009). Imbangan Ca : P yang terlalu luas dapat menimbulkan ricketsia,

yaitu tiap unsur yang berlebihan menyebabkan mengendapnya unsur

lain di dalam usus sehingga tidak bisa dimanfaatkan tubuh. Imbangan

Ca : P sebaiknya sebesar 9 : 1 saat puncak produksi, 11 : 1 saat

produksi sebesar 89 – 93%, selanjutnya 13 : 1 hingga ayam diafkir  (Hy-

Line International, 2010).

Lemak merupakan sumber energi tinggi dalam pakan unggas.

Asam linoleat dan arakhidonat adalah asam lemak esensial karena tidak

dapat disintesis tetapi harus ada di dalam pakan. Pakan yang tidak

mengandung cukup asam linoleat menyebabkan pertumbuhan

terhambat, terjadi akumulasi lemak di hati, dan lebih rentan terhadap

infeksi pernafasan. Defisiensi asam arakhidonat pada ayam petelur

menyebabkan ukuran telur kecil. Asam arakhidonat dapat disintesis dari

15
asam linoleat (Suprijatna et al., 2005). Standar kebutuhan asam linoleat

dalam pakan ayam petelur fase layer dari umur 27 minggu hingga lebih

dari 59 minggu adalah 1,00 g/hari (Hy-Line International, 2010).

Tata Laksana Pemberian Pakan


Rata-rata ayam petelur fase layer strain Hy–Line Brown

mengkonsumsi 114 – 120 gram pakan per hari sehingga pemberian

pakan tiap hari sekitar 120 gram per ekor ayam. Air merupakan

komponen nutrien yang paling penting, apabila ayam kekurangan air

minum, konsumsi pakan akan menurun sehingga produktivitasnya

menurun. Air minum hanya dibatasi pada saat-saat tertentu, misalnya

sebelum vaksinasi melalui air minum (Hy-Line International, 2010).

Ayam dapat bertelur dengan optimal apabila pakan diberikan secara ad

libitum, yaitu selalu tersedia sepanjang hari. Pakan

bentuk pellet memiliki palatabilitas yang paling baik.

Bentuk pakan seperti campuran crumble dan mash umum

digunakan dalam ransum hasil formulasi sendiri dan relatif lebih

ekonomis. Ayam harus distimulasi untuk mengkonsumsi pakan, salah

satunya dengan memberikan biji-bijian setengah hancur, misalnya

jagung. Pakan di dalam tempat pakan diusahakan selalu kering dan

diganti dengan yang baru setiap hari untuk mencegah timbulnya jamur. 

Air bersih untuk minum harus selalu tersedia atau ad libitum (Shirt,

2010).

16
Pemberian pakan saat tengah malam (midnight feeding) dapat

dilakukan apabila diberikan cahaya yang cukup, yaitu dari lampu.

Tujuan night feeding dan midnight feeding yaitu memberikan

kesempatan bagi ayam untuk meningkatkan suplai kalsium dari saluran

pencernaan secara langsung untuk pembentukan cangkang telur. Hal ini

mencegah pengambilan kalsium dari tulang yang meningkatkan risiko

pengeroposan tulang saat ayam mulai tua. Waktu pemberian pakan di

pagi atau siang hari menyebabkan ayam mengabsorbsi zat-zat pakan

sebagian besar untuk  hidup pokok dalam sehari, regenerasi sel,

mengatasi pengaruh lingkungan seperti cuaca sehingga tidak semuanya

dimaksimalkan untuk pembentukan [Link] feeding berlangsung

saat telur sedang dibentuk sehingga materi pembentuknya dapat

ditambahkan dari zat-zat pakan yang diabsorbsi oleh saluran

pencernaan (Riczu dan Korver, 2009). Midnight feeding terbukti dapat

meningkatkan kualitas cangkang telur dari segi ketebalan, kekuatan,

persentase cangkang dari telur yang keluar pada pagi hari, yaitu sekitar

jam 09.00.

D. Manajemen Perkandangan

Kandang berfungsi untuk melindungi ayam dari lingkungan yang

merugikan, terutama terhadap terik matahari, hujan, dan rasa dingin di

17
waktu malam. Sehingga dengan demikian, ayam merasa nyaman.

Disamping itu, kandang juga dapat memberi kemudahan kepada peternak

dalam pemeliharaan dan penyelenggaraan peternakan (Sudarmono,

2003).

Mengingat peranan kandang sebagai sarana produksi usaha ternak

ayam sangat penting, maka kandang harus sudah dipersiapkan dengan

baik, hingga kandang tersebut benar-benar siap huni. Sebelum dibangun

kandang harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya yaitu jarak

kandang dengan pemukiman warga, struktur atau desain kandang yang

ideal, luas kandang dengan kapasitas yang ideal, adanya sirkulasi yang

baik, suhu yang sesuai, adanya sanitasi yang baik untuk ternaknya, jarak

dengan sumber air, pakan pemasaran, dan bahan kandang yang dipakai

sesuai dengan keamanan ternak tersebut (Kartasudjana dan Suprijatna,

2006).

Jenis kandang berdasarkan kegunaan dibagi menjadi tiga macam

yaitu:

1. Kandang indukan (brooder) digunakan untuk memelihara ayam

umur 0-3 minggu. Kandang dilengkapi dengan alat pemanas

sebagai penghangat menggantikan fungsi indukan ayam.

2. Kandang grower/pullet digunakan untuk membesarkan ayam umur

4-18 minggu. Biasanya berbentuk kandang lantai litter.

3. Kandang layer digunakan untuk memelihara ayam petelur umur 18

minggu sampai afkir biasanya menggunakan kandang sangkar,

18
cage atau baterai. Kandang layer ini dilengkapi tempat pakan dan

tempat minum, serta penerangan seperlunya. Kandang baterai

adalah sangkar segi tempat yang disusun secara berderet

memanjang dan bertingkat dua atau lebih yang menggunakan alas

berlubang atau kawat. Kandang baterai berbentuk kotak yang

bersambung dengan satu yang lain terbuat dari kayu, bambu dan

kawat. Masing- masing kotak berukuran lebar 40 sampai 45 cm,

panjang 40 cm, dan tinggi 40 cm, berisi 2 ekor ayam. Lantai

kandang baterai letaknya agak miring ke salah satu sisi sekitar 6-7

cm.

Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Kandang tipe lantai rapat. Termasuk kedalam tipe ini adalah

kandang sistem litter dan deep litter system, yaitu kandang yang

menggunakan alas penutup lantai untuk menyerap kotoran agar

lantai tidak lembab dan basah serta proses dekomposisi kotoran

ayam berlangsung sempurna. Untuk litter, dapat menggunakan

bahan organik yang bersifat menyerap air. Contohnya, serbuk

gergaji, sekam padi potongan jerami kering, potongan rumput

kering, atau tongkol jagung yang dihaluskan. Bahan tersebut dapat

dicampur dengan bahan lain, seperti kapur dan super fosfat.

Ketebalan litter pada pemeliharaan anak ayam awalnya hanya

sekitar 5-8 cm. Secara bertahap, litter ditambah sampai mencapai

19
maksimal 10-13 cm. Untuk ayam dewasa, ketebalan awal 10-13 cm

dan secara bertahap ditambah sampai ketebalan 20-23 cm.

2. Kandang tipe renggang atau berlubang.

a. Cage/battery system, kandang berupa kotak sangkar yang

terbuat dari kawat atau anyaman bambu.

b. Wire floor system, lantai kandang terbuat dari anyaman kawat,

biasanya menggunakan kawat ram.

c. Slatt floor system, lantai kandang menggunakan bahan berupa

bilah-bilah yang disusun memanjang sehingga lantai kandang

bercelah-celah. Bahan yang digunakan berpa bilah kayu, logam

bambu, atau plastik. Lebar celah adalah 2,5 cm dan lebar bilah

2,5 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Panjangnya disesuaikan

dengan kebutuhan (Suprijatna dkk, 2005).

Jenis kandang berdasarkan penempatan ayam dalam kandang

dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1. Kandang tunggal atau single cage/battery, setiap sangkar berisi

satu ayam.

2. Kandang ganda atau multiple cages, setiap sangkar berisi 2-10

ayam.

3. Kandang koloni atau colony cages, setiap sangkar berisi satu

kelompok ayam dalam jumlah besar, lebih dari 20 ekor. (Suprijatna

dkk, 2005)

20
Ukuran kandang sesuai dengan yang dikemukakan Rasyaf, (2007)

yaitu panjang 17 meter, lebar 5 meter dan tinggi 3,5 meter membujur dari

timur ke barat atau membujur dengan terbitnya matahari. Jarak antara

kandang 1 kali lebar kandang minimal 5 meter sehingga tidak terjadi

pencemaran antara kandang satu dengan kandang yang lainya.

Atap kandang hendaknya tidak terbuat dari seng atau bahan lain

yang dapat menimbulkan panas dalam ruangan, lebih praktis jika atap

terbuat dari genting dan tidak dianjurkan pembuatan kandang terlalu

pendek karena dapat menyebabkan panas dalam ruangan (Malik, 2001).

E. Biosekuriti

Program biosekuriti merupakan program yang dijalankan di suatu

kawasan peternakan atau farm yang bertujuan uantuk menjaga terjadinya

perpindahan penyebab penyakit menular ke dalam kawasan peternaakan

yang sedang dikelola, baik penyebarannya secara horizontal maupun

vertikal. Program pencegahan penyebaran secara horizontal (horizontal

transmission) yaitu program yang dilakukan untuk mencegah penyebaran

bibit penyakit dari atau ke suatu kawasan peternakan uanggas.

Sementara itu, program pencegahan penyebaran bibit penyakit yang

dibawa dari induk ayam (parent stock) (Fadillah dan Fatkhuroji, 2013).

Beberapa hal yang harus dipedomani terhadap prinsip biosekuriti

yang tepat adalah sebagai berikut:

1. Setiap kendaraan pengangkut unggas yang masuk dan keluar

kandang atau tempat penampungan unggas harus di desinfektan

21
2. Setiap unggas yang datang harus dilengkapi dengan surat

keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang dibuat oleh dokter

hewan berwenang di daerah asal unggas

3. Setiap unggas yang datang harus mendapat pemeriksaan

antemortem oleh petugas di bawah pengawasan dokter hewan

yang berwenang

4. Hasil pemeriksaan kesehatan unggas yang datang wajib

didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala setiap bulan

kepada dokter hewan berwenang

5. Setiap kandang dilengkapi dengan peralatan makan dan minum

khusus

6. Tidak mencampurkan unggas yang baru datang dengan yang

lama;

7. Membersihkan kandang atau penampungan unggas dari limbah

padat unggas

8. Melakukan pengosongan kandang atau penampungan unggas

satu hari dalam dua minggu untuk proses pembersihan dan

desinfektan

9. Mencegah masuknya kucing, anjing, burung liar dan hewan

pengganggu lainnya dalam kandang atau penampungan unggas

10. Menempatkan unggas yang sakit di dalam kandang tersendiri

11. Setiap unggas yang mati harus segera dimusnahkan dengan cara

membakar (Akhirany, 2010).

22
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan dua cara, cara

pertama adalah melalui tata laksana harian dan yang kedua melalui

vaksin. Keduannya digunakan bersama dan saling mendukung satu sama

yang lain. Pencegahan dengan tata laksana harian pada prinsipnya

adalah menciptakan suasana yang bersih dan nyaman di peternakan.

Pencegahan penyakit virus dilakukan dengan cara vaksinasi (Rasyaf,

2007).

Pengobatan sebaiknya dilakukan jika ayam sudah terdeteksi

secara dini terkena suatu penyakit. Jika infeksi sudah terlalu parah,

pengobatan akan sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama

dan mahal. Bisa juga peternak memberikan pengobatan secara terencana

jika sebelumnya telah mengetahui sejarah penyakit yang sering terjadi di

kawasan tersebut atau di sekitar ayam (Fadillah dan Fatkhuroji, 2013).

F. Evaluasi Performa Ayam Petelur

Konsumsi pakan

Konsumsi pakan ayam layer pada fase starter yaitu 1,08±0,05 kg

per ekor, pada fase grower yaitu 4,14 ± 0,11 kg per ekor, pada fase layer

yaitu 31,2 ± 1,12 kg per ekor (Mussawar et al., 2004). Konsumsi pakan

per hari pada Hy-Line Brown rata-rata sebesar 114 g (Hy-Line

International, 2010). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh strain, umur,

keseimbangan nutrisi pakan, status kesehatan ayam, keterjangkauan

pakan oleh ayam, dan temperatur lingkungan (Iji, 2005).

Produksi telur

23
Untuk menghitung produksi telur dikenal istilah hen housed

production dan hen day production. Hen housed production merupakan

ukuran produksi telur yang didasarkan pada jumlah ayam mula-mula

yang dimasukkan ke dalam kandang (Kartasudjana dan Suprijatna,

2006). Hen day production (HDP) dihitung dari jumlah produksi telur hari

itu dibagi dengan jumlah ayam produktif hari itu dikalikan 100% (North,

1984; dikutip dalam Kabir dan Haque, 2010). Puncak produksi strain Hy-

Line Brown yaitu 27 – 29 minggu dengan kisaran hen day 94–96% (Hy-

Line International, 2010). Semakin lama periode bertelur, semakin

rendah HDP (Mussawar et al., 2004).

III. METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Tempat

24
Waktu kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) I mahasiswa jurusan

penyuluhan peternakan dan kesejahteraan hewan Semester IV Tahun

2019 dimulai pada bulan Juni sampai bulan Juli 2019 di Peternakan ayam

petelur Dinamika, Kecamatan Panjarijang, Kabupaten Sidrap, Provinsi

Sulawesi Selatan.

B. Materi Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan mencakup kegiatan pemeliharaan ayam

petelur dari fase starter, grower, dan layer dilaksanakan di lokasi PKL I,

antara lain:

1. Persiapan Kandang
2. Pemberian pakan
3. Pemberian air minum
4. Sanitasi kandang
5. Pengambilan telur
6. Recording
7. Pemberian vaksin dan vitamin

Laporan ini akan membahas tentang manajemen pemeliharaan

yang ada di Peternakan Ayam Petelur Dinamika. Manajemen

pemeliharaan meliputi pemeliharaan ayam fase starter, pemeliharaan

ayam fase grower, dan pemeliharaan ayam fase layer.

C. Prosedur Pelaksanaan

Mahasiswa semester IV, bertugas sebagai peserta Praktik Kerja

Lapangan (PKL) I meliputi:

25
1. Sebelum ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu diwajibkan

mengikuti kegiatan pembekalan yang dilaksanakan oleh panitia di

Polbangtan Gowa

2. Menyusun rencana kegiatan dalam bentuk proposal secara individu

dan dikonsultasikan bersama pembimbing.

3. Menetap disekitar lokasi PKL

4. Selama melaksanakan kegiatan PKL I, mahasiswa wajib membuat

jurnal harian, melengkapi bukti fisik kegiatan dan dokumentasi

seluruh kegiatan PKL I

5. Melakukan konsultasi dengan pembimbing

6. Membuat laporan PKL secara individu

7. Melaporkan kegiatan kepada pembimbing internal dan eksternal

8. Mengikuti ujian PKL I di lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

26
Praktek kerja lapangan (PKL) I pada tanggal 13 Juni-20 Juli 2019

dilaksanakan di Peternakan Ayam Petelur Dinamika Kecamatan Panca

Rijang, Kabupaten Sidrap. Kegiatan yang dilakukan adalah mengenai

manajemen pemeliharaan ayam petelur.

Manajemen pemeliharaan ayam petelur di Peternakan Ayam

Petelur Dinamika meliputi pemeliharaan ayam fase strater, pemeliharaan

ayam fase grower, dan pemeliharaan ayam fase layer. Jenis ayam yang di

pelihara di Peternakan Ayam Petelur Dinamika adalah Hy line dengan

Poupulasi 13.000 ekor, dengan rincian 3.000 ekor ayam starter, 3.000

ekor ayam grower, dan 10.000 ekor ayam layer.

B. Pembahasan

1. Fase Starter

Periode starter merupakan masa awal pemeliharaan ayam ras

petelur sampai ayam berumur 6 minggu. Pada periode ini, DOC

dipelihara dengan kondisi temperatur yang hangat di sekitar area

pemeliharaan dengan cara menggunakan alat pemanas buatan

(brooder). Kondisi yang hangat sangat penting bagi keberlangsungan

hidup DOC. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar DOC dapat

tumbuh dan berkembang dengan baik selama periode pemanasan,

yaitu mempersiapkan brooder, mengatur temperatur kandang,

memberikan air minum, memerikasa kualitas dan kuantitas DOC,

27
memberikan pakan, mengontrol keadaan sekam, mengontrol lingkaran

pelindung, melakukan potong paruh (debeaking), melakukan proses

seleksi dan grading, mengatur sirkulasi udara kandang, mengatur

pencahayaan (linghting program), menimbang bobot, dan mencatat

laporan (recording) (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).

Program pemeliharaan ayam fase starter di Peternakan Ayam

Petelur Dinamika dimulai dengan persiapan kandang untuk kedatangan

DOC. Tahap persiapan kandang ayam sebelum masuk yaitu mencuci

kandang dengan desinfektan. Lantai kandang di beri kapur dan diberi

sekam sebagai alas untuk ayam. Persiapan selanjutnya yaitu dengan

membuat brooder sebanyak tiga tempat dengan sebuah penghangat

tiap brooder. Selanjutnya menyiapkan nampan tempat pakan sebanyak

dan tempat minum. Apabila persiapan sudah selesai DOC siap untuk di

masukkan. Kegiatan pembuatan kandang brooder dapat dilihat pada

gambar 1.

Gambar 1. Pembuatan brooder

28
2. Fase Grower

Keberhasilan beternak ayam petelur diawali dengan produksi pullet

yang berkualitas. Karena itu kegiatan yang dilakukan pada periode ini

bertujuan untuk mencapai bobot pullet yang sesuai standar, sehat

tingkat keseragaman tinggi, dan mengalami dewasa kelamin tepat pada

waktunya. Beberapa langkah yang perlu dilakukan agar tujuan tersebut

terpenuhi di antaranya mempersiapkan kandang pertumbuhan,

memberikan pakan dan mengontrol bobot badan, memberikan air

minum, mengatur pencahayaan (lighting program), mengontrol litter,

melaksananakan program vaksinasi dan pencegahan penyakit,

melakukan potong paruh (debeaking), memindahkan ayam pullet ke

kandang produksi, mengontrol dewasa kelamin (sexual maturity), dan

mencatat laporan (recording) (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).

Di Peternakan Ayam Petelur Dinamika, ayam grower dipelihara

dalam kandang battery mulai umur 35 hari sampai 67 hari. Sebelum

kandang diisi dengan ayam maka kandang di semprot dengan

desinfektan dan tanah di taburi dengan kapur serta dilapisi sekam.

Pemberian pakan ayam grower di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu

pada jam 07.00 dan jam 14.00. Teknik pemberian pakan yaitu dengan

memasukkan pakan dalam rel dorong setelah di masukkan rel di

dorong di perkirakan pakan dapat di bagi rata dan ayam dapat makan

semua secara bersamaan. Pemberian air di lakukan secara ad libitum

sejak pagi setelah pemberian ransum selesai petugas kandang

29
membersihkan tempat minum dengan kain dan mengalirkan air sampai

penuh. Kegiatan pemindahan ayam dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Pemindahan ayam

3. Fase Layer

Fase layer merupakan fase di mana pemeliharaan ayam harus

benar-benar baik untuk mendapatkan produk yang maksimal. Ayam

dimasukkan ke dalam kandang layer mulai umur 67 hari atau saat

ayam sudah berbobot 2 kg sampai dengan umur 85 minggu.

Pemberian pakan ayam layer di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu

pagi jam 07.00 dan siang jam 14.00. Teknik pemberian pakan sebagian

dengan rel dorong dan sebagian dengan mengunakan tangan biasa.

Pemberian air di lakukan secara ad libitum sejak pagi setelah

pemberian ransum selesai petugas kandang membersihkan tempat

minum dengan kain dan mengalirkan air sampai penuh.

Manajemen kesehatan ayam layer yang di lakukan setiap hari

Senin, Selasa, dan Rabu yaitu dengan diberikan vitamin setiap pagi.

Penyemprotan kandang dengan desinfektan di lakukan berkala sekali

30
satu bulan. Langkah yang di ambil agar ayam terhindar dari penyakit

yang di sebabkan virus maka program vaksinasi selalu di lakukan

sesuai dengan jadwal yang di tentukan oleh peternakan.

Proses pengambilan telur di Peternakan Ayam Petelur Dinamika

sehari di lakukan sebanyak dua kali yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00.

Produksi telur maksimal terdapat pada pagi hari hampir 90 persen

ayam bertelur pada pagi hari. Pengambilan telur di lakukan secara

manual oleh pekerja kandang dengan menggunakan eggs tray.

31
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Melalui kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) saya dapat

mengetahui berbagai macam pengetahuan tentang budidaya ayam

petelur terkhusus di peternakan ayam petelur dinamika. Manajemen

pemeliharaan yang ada sudah cukup bagus, hal ini dikarenakan ketepatan

waktu dan konsistensi para karyawan dalam pemeliharaan ayam tersebut.

Manajemen pemeliharaan meliputi pemeliharaan ayam fase starter,

pemeliharaan ayam fase grower dan pemeliharaan ayam fase layer.

Jumlah ternak ayam yang ada di peternakan dinamika sebanyak 10.000

ekor dengan rincian 8.000 ekor ayam layer dan 2.000 ekor ayam grower.

Pakan yang diberikan merupakan pakan ransum. Proses pemberian

pakan dengan cara memberikan konsumsi perhari sejumlah 120 gram per

ekor untuk ayam layer dan 80 gram per ekor untuk ayam grower. Program

kesehatan meliputi pemberian vitamin, desinfeksi kandang dan ternak dan

isolasi ternak yang terserang penyakit. Vaksinasi rutin dilakukan 1 bulan

sekali guna mencegah ayam terserang penyakit tertentu yang dapat

merugikan perusahaan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat disarankan kepada

peternakan dinamika

32
a. Setiap pekerja harus mempunyai rasa tanggung jawab yang

tinggi sehingga setiap pekerjaan dapat terselesaikan dengan

baik.

b. Terus tingkatkan cara pembimbingan dan pemberian materi

kepada setiap peserta PKL agar penerimaan materi dan praktek

dapat diserap dan dilakukan oleh peserta PKL

c. Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan agar

dapat dijadikan pedoman bagi karyawan dan peserta PKL dalam

melaksanakan kegiatan.

d. Lengkapi peternakan dengan program sanitasi yang baik agar

resiko munculnya penyakit dapat ditekan.

e. Manfaatkan limbah hasil peternakan untuk menambah

penghasilan perusahaan.

f. Melakukan pembaharuan terhadap kandang dan alat-alat

peternakan yang mulai rusak

g. Perhatikan fasilitas penunjang bagi karyawan dan peserta PKL

h. Jadikan perusahaan peternakan dinamika sebagai peternakan

yang bersih, indah dan jauh dari kata jorok

33
.

DAFTAR PUSTAKA

Adlan, M., Y. Utomo, F. Afmy, dan N. Fitriany. 2012. Laporan Penilaian


Ternak Unggas Ayam Petelur. Fakultas Peternakan. Universitas
Jendral. Soedirman. Purwokerto.

Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al


Baho, dan A. Al Haddad. 2005. A comparative study on production
efficiency of brown and white pullet. Bulletin of Kuwait Institute for
Scientific Research .

Bappenas. 2010. Strategi Peningkatan Pertumbuhan Subsektor


Peternakan Mendukung Peningkatan Pendapatan dan Diversifikasi
(Draft). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta.

Ditjennak. 2001. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Bina


Produksi Peternakan, Departemen Pertanian RI, Jakarta.

Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras


Petelur. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 2000. Performance Of Four
Strains Pf Commercial Layers With Major Changes In Dietary
Energy. Journal of Applied Poultry Research 9.

Hy-Line International. 2010. Hy-Line Brown Intensive Systems


Performance Standar. [Link]
[Diakses tanggal 6 Mei 2019].

Iji, P. 2005. Feed Intake. [Link]


intake. [Diakses tanggal 13 Juli 2019].

Interchemie. 2010. Poultry Layer Pemix. [Link]


feed-additives/[Link] [Diakses pada
tanggal 15 Juli 2019]

Kabir, F. dan M.T. Haque. 2010. Study on production performance of ISA


Brown strain at Krishibid Firm, Ltd., Trishal, Mymensingh.
Bangladesh Research Publications Journal 3 

34
Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas.
Penebar Swadaya, Jakarta.

Leeson, S. 2008. Production for commercial poultry nutrition. Journal


Applied Poultry Research.

Matitaputy, [Link]. 2006. Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur


Periode Starter di daerah Tropis. [Link]
[Diakses Tanggal 14 Juli 2019].

Meerburg, B.G dan A. Kiljstra. 2007. Role Of Rodents In Salmonella And


Campylobacter Transmission. Journal of Science Food Agriculture

Mussawar, S., T.M. Durrani, K. Munir, Z. ul-Haq, M.T. Rahman and


[Link]. 2004. Status of layer farms in Peshawardivision,
Pakistan. Livestock Research for Rural Development   

Rasyaf, Muhammad. 2007. Beternak Ayam Petelur. Cetakan XXI.


Penebar Swadaya, Jakarta

Rusman dan Sariah . 2005 . Sejarah dan Manajemen Pemeliaharaan


Ayam Petelur . Bandung : Penerbit Erlangga

Riczu, C. dan D. Korver. 2008. Effects of midnight feeding on the bone


density and egg quality of brown and white table egg layers.
Canadian Poultry Magazine

Shirt,  V.  2010.  How to Feed Chickens Part 2. [Link]


[Link]/keepingchickens/feeding-chickens_2.php.
[Diakses tanggal 30 Juni 2019]

Spoolder, H.A.M. 2007. Perspective Animal Welfare In Organic Farming


System. Journal of Science Food Agriculture

Sudarmono. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penerbit


Kanisius, Yogyakarta

Sudaryani, T dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Cetakan V.


Penebar Swadaya. Jakarta.

35
LAMPIRAN

Lampiran 1. Format Jurnal Harian Kegiatan PKL I


JURNAL HARIAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN I
PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA

Nama : Danang Widjanarko Sunandar


NIRM : [Link].1368
Lokasi PKL : Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Provinsi
Sulawesi Selatan

Paraf
No. Hari/Tanggal Uraian Kegiatan Pembimbing
Eksternal

36
Lampiran 2. Format Lembar Konsultasi

LEMBAR KONSULTASI
PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA
TAHUN2019

NAMA : Danang Widjanarko Sunandar


NIRM : [Link].1368
LOKASI PKL : Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten
Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan.
PEMBIMBING INTERNAL : 1. Dr. Mufidah Muis, SP., M,Si
2. Drs. Aminuddin Saade, [Link]
PEMBIMBING EKSTERNAL :

No. Tanggal Materi Saran Paraf


Pembimbing Pembimbing
Bimbingan

37
Lampiran 3. Surat Keterangan Pelaksanaan Kegiatan

SURAT KETERANGAN
PELAKSANAAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) I
MAHASISWA JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN (POLBANGTAN) GOWA

Penyelenggara kegiatan .............................................................


Menerangkan bahwa mahasiswa Polbangtan Gowa di bawah ini :

Nama : Danang Widjanarko Sunandar


NIRM : [Link].1368
Jurusan : Penyuluhan Peternakan

Telah melaksanakan kegiatan .....................................................................


Selama ........................... jam, pada tanggal .............................. bertempat
di ..............................................

…………….Tanggal …………….. 2019

Mengetahui,

Pembimbing Ekstern, Penyelenggara Kegiatan,

(……………………………) (………………………………)

38
Lampiran 4. Kegiatan di Peternakan Ayam Petelur Dinamika

39
Lampiran 5. Jadwal Pelaksanaan PKL I

Waktu
No Kegiatan April Mei Juni Juli
IV I II III IV I II III IV I II III IV
Pembekalan dan Penyusunan
1.
Proposal

2. Pelepasan Mahasiswa PKL I

3. Identifikasi Wilayah PKL I


4. Pelaksaan PKL I
5. Pengakhiran kegiatan PKL I
6. Konsultasi dan Perbaikan Laporan
7. Ujian PKL I
8. Penyerahan Laporan ke Jurusan

40

Anda mungkin juga menyukai