I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agribisnis perunggasan nasional telah mengalami perkembangan
yang sangat pesat sejak dekade 1960-an. Memang, sejak diperkenalkan,
ayam ras, baik pedaging maupun petelur, kemudian menjadi budidaya
skala rumah tangga. Peternakan ayam ras petelur selama ini telah
berkembang sangat luar biasa dan saat ini menjadi suatu usaha berskala
industri yang sangat modern dengan didukung oleh empat subsistem yang
cukup kokoh, yakni industri hulu, industri hilir, subsistem budidaya dan
industri pendukungnya.
Populasi ayam ras petelur hingga saat ini telah menyebar ke
seluruh wilayah di Indonesia. Seiring meningkatnya permintaan dan
kebutuhan akan telur, maka diperlukan peningkatan produksi dan
pengembangan usaha oleh perusahaan-perusahaan peternakan
khususnya ayam petelur. Dalam skala lokal, konsumsi protein hewani dari
tahun ke tahun mengalami peningkatan, setelah pada tahun 1998
mengalami penurunan yang tajam akibat dari krisis moneter. Besarnya
peluang pasar ayam petelur ini merupakan kesempatan yang sangat
potensial untuk mengembangkan peternakan ayam petelur. Bagi seorang
peternak kesalahan pemeliharaan ayam akan menghasilkan pertumbuhan
ayam yang buruk sehingga mengakibatkan hasil produksi menurun.
Ayam petelur dijadikan pilihan dalam beternak karena ayam
tersebut mampu untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup
1
dengan waktu yang cepat. Telur pertama dihasilkan pada saat berumur 6
bulan dan akan terus menghasilkan telur sampai umurnya mencapai 2
tahun. Dengan total produksi telurnya antara 250 sampai 280 butir per
tahun. Teknik manajemen pemeliharaan ayam ras petelur yang sesuai
sangat diperlukan untuk mencapai hasil produksi yang optimal.
Keberhasilan suatu usaha peternakan ayam petelur dipengaruhi
oleh tiga faktor utama yaitu, pakan, bibit dan manajemen. Perusahaan
yang mengabaikan manajemen dan sumber daya yang dimiliki cenderung
tidak mampu bertahan maupun berkembang. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan telur komersil tidak
cukup hanya dengan menambah jumlah peternakan yang ada tetapi
usaha yang telah ada sebaiknya didukung oleh manajemen pemeliharaan
yang baik dengan memperhatikan. Faktor-faktor penunjang seperti
perencanaan, manajemen produksi, perkandangan dan manajemen
sumber daya manusia, sehingga usaha yang ada baik usaha peternakan
besar maupun kecil dapat berjalan dengan baik.
Dalam beternak dan mendapatkan hasil yang sesuai, kita perlu
memperhatikan manajemen dalam pemeliharaan yaitu mulai dari pakan,
kandang, penyakit serta pengobatannya, sifat genetikanya, asal usulnya
ternak, vaksinasi dan sebagainya. Pemeliharaan ayam petelur
membutuhkan penanganan khusus dan sangat penting untuk diperhatian.
Kunci utama untuk mencapai produksi yang optimal yaitu manajemen
yang baik, yaitu persiapan awal, terutama pada fase persiapan kandang,
2
fase starter, grower dan layer serta didukung dengan manajemen sistem
recording baik.
B. Tujuan Praktek Kerja Lapangan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktek kerja lapangan, yaitu :
1. Agar mahasiswa bisa terjun langsung ke masyarakat untuk
mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku perkuliahan.
2. Untuk mengetahui salah satu subsistem agribisnis yaitu budidaya
ternak ayam ras petelur.
3. Meningkatkan pengetahuan dan ketermpilan tentang manajemen
pemeliharaan ayam petelur yanga ada di Peternakan ayam petelur
Dinamika
C. Manfaat
1. Mahasiswa mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman
tentang manajamen pemeliharaan ayam petelur yang ada di
Peternakan ayam petelur Dinamika
2. Mahasiswa dapat memperaktekkan secara langsung kegiatan-
kegiatan budidaya ternak seperti pemanenan telur, pemberian
pakan, sterilisasi peralatan (sanitasi).
3. Mahasiswa dapat menyingkronkan antara teori dan praktik secara
langsung di lapangan mengenai manajamen pemeliharaan ayam
petelur
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Ayam Ras Petelur
Ayam petelur adalah ayam yang diternakkan khusus untuk
menghasilkan telur konsumsi. Jenis ayam petelur dibagi menjadi tipe
ayam petelur ringan dan medium. Tipe ayam petelur ringan mempunyai
badan yang ramping dan kecil, bulu berwarna putih bersih, dan berjengger
merah, berasal dari galur murni White Leghorn dan mampu bertelur lebih
dari 260 telur per tahun produksi. Ayam petelur ringan sensitif terhadap
cuaca panas dan keributan, responnya yaitu produksi akan menurun. Tipe
ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu
gemuk, kerabang telur berwarna coklat dan bersifat dwiguna (Bappenas,
2010). Ayam yang dipelihara sebagai penghasil telur konsumsi umumnya
tidak memakai pejantan dalam kandangnya karena telur konsumsi tidak
perlu dibuahi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Produksi ayam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain bangsa
dan strain ayam yang digunakan, kondisi lingkungan dan manajemen
pakan (Bell dan Beaver, 2002; dikutip dalam Al Nasser et al., 2005).
Macam-macam strain ayam petelur yang dikembangkan antara lain
Lohmann, Hy-Line W-36 dan W-98, Hy-Line Brown, ISA White dan ISA
Brown. Strain ayam petelur berwarna coklat memiliki performa yang lebih
unggul daripada strain ayam petelur berwarna putih. Persentase
cangkang pada ISA Brown lebih besar daripada ISA White, selain itu
4
bobot telur, egg mass dan efisiensi pakannya juga lebih baik (Grobas et
al., 2001; dikutip dalam Al Nasser et al., 2005).
B. Manajemen Pemeliharaan
Ayam ras petelur adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk
menghasilkan banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras dan
tidak boleh disilangkan kembali (Sudaryani dan Santosa, 2000).
Berdasarkan fase pemeliharaannya, fase pemeliharaan ayam petelur
dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter (umur 1 hari-6 minggu), fase
grower (umur 6-18 minggu), dan fase layer/petelur (umur 18 minggu-afkir)
(Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).
Fase grower pada ayam petelur, terbagi kedalam kelompok umur
6-10 minggu atau disebut fase awal grower dimana terjadi pertumbuhan
anatomi dan sistem hormonal pada fase ini. Sedangkan, pada umur 10--
18 minggu sering disebut dengan fase developer dimana pada fase ini
perkembangan ditandai dengan pertumbuhan anatomi kerangka ayam
dan otot (daging) yang lebih dominan (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013). Pada
fase ini kontrol pertumbuhan dan keseragaman perlu dilakukan, karena
berkaitan dengan sistem reproduksi dan produksi ayam tersebut. Periode
grower secara fisik tidak mengalami perubahan yang berarti, perubahan
hanya dari ukuran tubuhnya yang semakin bertambah dan bulu yang
semakin lengkap serta kelamin sekunder yang mulai nampak. Selama
periode ini terjadi perkembangan ukuran dan terbentuknya rangka,
5
perkembangan organ tubuh, perkembangan hormonal, dan
perkembangan organ reproduksi (Rasyaf, 2007).
Pullet memiliki tahapan perkembangan tubuh yang kompleks
sesuai periode umurnya (starter dan grower). Masa starter merupakan
masa pembelahan sel (hiperplasia) sehingga perkembangan organ sangat
dominan di masa ini. Oleh karena itu, masa ini mempunyai andil 50%
bahkan 90% terhadap keberhasilan pemeliharaan pullet (Fadilah dan
Fatkhuroji, 2013). Periode grower terjadi perkembangan ukuran sel
(hipertrofi). Fase ini frame size (kerangka tubuh) berkembang mencapai
bentuk sempurna. Periode grower memiliki 3 waktu kritis yang harus
diperhatikan oleh peternak yaitu umur 6-7 minggu, 12 minggu, dan 14
minggu. Antara minggu 6 dan 7 adalah puncak perkembangan frame size
dimana 80% frame size sudah mencapai dimensi akhir. Oleh karena itu,
saat penimbangan berat badan di minggu kelima, ayam-ayam yang belum
memiliki frame size optimal dipisahkan lalu tetap diberikan ransum starter
dan diberikan multivitamin (Adlan dkk, 2012). Lebih lanjut dinyatakan
bahwa perkembangan kerangka tubuh minggu ke-12 telah mencapai
maksimal, sehingga setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan
peternak, yaitu mengejar ketinggalan frame size (berat badan) sebelum
minggu ke-12, dan mempertahankan berat tubuh yang sudah sama atau
10% di atas standar untuk menghadapi masa awal bertelur. Selain
tercapainya berat tubuh yang sesuai dan perkembangan frame size yang
6
optimal, tingkat keseragaman ayam juga perlu tetap diperhatikan (Adlan
dkk, 2012).
Perkembangan pesat organ reproduksi dan juga medulary bone
(bagian tulang yang menyimpan cadangan kalsium untuk cangkang telur
pada ayam) terjadi pada minggu ke-14. Periode ini, ketersediaan vitamin
D dan kalsium sangat dibutuhkan rendahnya asupan kalsium dan vitamin
D saat awal bertelur akan menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas
telur saat puncak produksi sehingga sebaiknya peternak perlu
menyediakan kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang cukup (Adlan dkk,
2012). Hal penting lainnya dalam pemeliharaan fase grower adalah
memperhatikan konsumsi pakan per hari baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Pembatasan pemberian ransum dilakukan bila bobot tubuh
yang diperoleh melebihi standar. Bila bobot tubuh sejalan dengan kurva
yang ada, pada umur 10 minggu, ransum dapat diubah dari ransum starter
ke grower. Jika berat kelompok lebih rendah, pemberian ransum starter
diatur sampai berat badannya sesuai dengan umurnya. Sementara,
pemberian ransum grower harus berkualitas baik dan memenuhi
kebutuhan asam amino. Ransum yang mengandung protein dan asam
amino yang rendah akan menyebabkan naiknya lemak tubuh (gemuk),
dan akan menyebabkan ayam makan terlalu banyak pada masa grower
dan bermasalah pada awal produksi (Rasyaf, 2007).
C. Manajemen Pakan
7
Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan
anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-
zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan
reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan
kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai
(Suprijatna dkk, 2005).
Ayam petelur membutuhkan sejumlah unsur nutrien untuk
hidupnya, misalnya untuk bernafas, peredaran darah, bergerak dan
fungsi-fungsi fisiologis lainya. Pakan juga berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan zat-zat makanan sebagai bahan bagi terbentuknya material
jaringan dalam tubuh untuk pembentukan daging dan telur. Zat-zat
makanan tersebut dapat dibagi menjadi enam kelas, yaitu karbohidrat,
lemak, protein, mineral, vitamin, dan air (Suprijatna dkk, 2005). Pakan
yang kurang memenuhi standar nutrien, dapat menjadi salah satu sebab
menurunnya produktivitas ayam petelur.
Bentuk pakan seperti campuran crumble dan mash umum
digunakan dalam ransum hasil formulasi sendiri dan relatif lebih ekonomis.
Ayam harus distimulasi untuk mengonsumsi pakan, salah satunya dengan
memberikan biji-bijian setengah hancur, misalnya jagung. Pakan di dalam
tempat pakan diusahakan selalu kering dan diganti dengan yang baru
setiap hari untuk mencegah timbulnya jamur (Shirt, 2010).
Gudang pakan
8
Penyimpanan pakan perlu diperhatikan agar pakan tidak lembab
atau rusak. Tempat penyimpanan pakan diusahakan bebas dari hama,
baik serangga maupun tikus. Gudang pakan harus didesinfeksi serta
kondisi ruangan harus kering (Rusman dan Siarah, 2005). Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada penyimpanan pakan di gudang antara lain:
lokasi gudang harus bebas dari genangan air, tidak boleh ada kebocoran
atap, dan dilengkapi ventilasi cukup untuk mencegah kelembaban terlalu
tinggi; lantai dilengkapi alas dari kayu atau bahan lainnya yang memiliki
rongga agar tidak terjadi kontak langsung antara lantai dan karung
pakan. Pakan tidak boleh disimpan lebih dari 1 minggu, dan pakan yang
didatangkan lebih dulu ke gudang adalah yang digunakan terlebih
dahulu.
Tempat Pakan Dan Minum
Tempat pakan dan minum yang dipelihara dalam sistem litter
umumnya berupa hanging feeder atau hanging waterer. Hanging
feeder ditempatkan setinggi punggung ayam, sedangkan tempat minum
setinggi leher ayam. Perusahaan besar pada umumnya menggunakan
tempat pakan dan minum otomatis. Tempat pakan dan minum untuk
kandang sistem cage umumnya berbentuk trough (memanjang)
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Tempat pakan
berbentuk trough untuk pemeliharaan strain Hy-Line Brown pada sistem
cage sebaiknya sedalam 9 cm, tempat minum sedalam 2,5 cm.
Satu trough dapat dibuat untuk 12 ekor ayam. Untuk kandang yang
9
menggunakan hanging feeder dan hanging waterer, satu tempat pakan
maksimum untuk 30 ekor ayam, sedangkan satu tempat minum
(berbentuk nipple drinker) maksimum untuk 10 ekor ayam (Hy-Line
International, 2010).
Ransum
Ransum adalah campuran berbagai macam bahan organik dan
anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-
zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan
reproduksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan
kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai
(Suprijatna et al, 2005).
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan
digunakan oleh hewan. Bentuk fisik pakan ada beberapa macam,
yaitu mash and limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran), all
mash (bentuk tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran
sama), crumble (bentuk butiran halus dengan ukutan tidak sama). Di
antara keempat macam bentuk tersebut, bentuk pellet memiliki
palatabilitas paling tinggi dan lebih tahan lama disimpan. Bentuk all
mash atau tepung digunakan untuk tempat ransum otomatis, tetapi
kurang disukai ayam, mudah tengik, dan sering menyebabkan
kanibalisme yang tinggi (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Pakan
untuk ayam petelur umur 0 – 6 minggu (fase starter) sebaiknya
10
menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang memiliki komposisi pakan
yang tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase grower dan layer
dapat digunakan pakan hasil formulasi sendiri (Ditjennak, 2001).
Kebutuhan Nutrisi Ayam Petelur
Periode pertumbuhan ayam petelur dapat dibagi menjadi periode
grower (umur 1 hari - 8 minggu), developer (umur 8 - 16 minggu), dan
pre-lay (umur 17 - 24 minggu). Kebutuhan nutrisi periode grower yaitu
18,6% PK dan 3870 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode developer
yaitu 14,9% PK dan 2750 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode pre-lay
yaitu 18,0% PK dan 2755 kkal/kg EM (Al Nasser et al., 2005).
Jika energi pakan saat fase layer terlalu rendah (kurang dari 2600
kkal), konsumsi pakan lebih banyak sehingga FCR meningkat dan
efisiensi pakan menurun. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi akan
terjadi penurunan konsumsi (Harms et al., 2000). Kebutuhan PK dan EM
pada fase layer tidak sama, tergantung dari umur ayam, produksi telur,
dan konsumsi pakan. Hal yang perlu diperhatikan yaitu makin sedikit
jumlah pakan yang dikonsumsi, kandungan PK dan EM harus
ditingkatkan. Kebutuhan PK dan EM fase layer pada berbagai tingkatan
umur dapat dilihat pada Tabel 1.
11
Tabel 1. Kebutuhan PK dan EM Fase Layer untuk Strain Hy-Line
Brown
Umur 27 – 32 33 – 44 45 – 58 ≥ 59 minggu
minggu minggu minggu
Hen Day 94 – 96% 89 – 93% 85 – 88% < 85%
Productio
n
Konsumsi 93 – 113 g 100 – 120 g 100 – 120 g 99 – 119 g
Kebutuhan 15,04 – 13,96 – 13,33 – 16% 13,03 –
PK 18,28% 16,75% 15,66%
Kebutuhan 2778 – 2867 2734 – 2867 2679 – 2867 2558 – 2833
EM Kkal/kg Kkal/kg Kkal/kg Kkal/kg
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Protein pakan sebagian besar digunakan untuk produksi telur,
hanya sebagian kecil untuk hidup pokok. Semakin tinggi tingkat produksi
maka kebutuhan protein juga semakin tinggi (Suprijatna et al., 2005).
Protein pakan harus mencukupi kebutuhan asam-asam amino untuk
menunjang produksi yang optimal (Leeson, 2008). Kebutuhan asam
amino bagi ayam petelur fase layer dapat dilihat pada Tabel 2.
12
Tabel 2. Standar Kebutuhan Asam Amino untuk Strain Hy-Line Brown
Umur 27 – 32 33 – 44 45 – 58 ≥ 59
minggu minggu minggu minggu
HDP 94 – 96% 89 – 93% 85 – 88% < 85%
Lisin (mg) 931 920 876 821
Metionin 448 443 422 395
(mg)
Metionin 805 815 776 727
+ Sistin
(mg)
Treonin 700 692 659 618
(mg)
Triptofan 213 211 201 188
(mg)
Arginin 978 966 920 863
(mg)
Isoleusin 722 714 680 637
(mg)
Valin (mg) 844 834 794 744
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
13
Kebutuhan vitamin dan mineral untuk ayam petelur strain Hy-Line
Brown fase layer dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Standar Kandungan Vitamin Ransum pada Fase Layer
Vitamin Kandungan dalam 1000
Kg Ransum
Vitamin A (IU) 8.000.000*
Vitamin D(IU) 500.000**
Vitamin E (IU) 5.000**
Vitamin K (mg) 500**
Thiamin (mg) 1.700*
Riboflavin (mg) 5.500*
Asam pantotenat (mg) 6.600*
Niasin (mg) 28.000*
Piridoksin (mg) 3.300*
Biotin (mg) 100**
Kolin (mg) 500.000**
Vitamin B12 (mg) 22,18*
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010
Tabel 4. Kebutuhan Mineral Ayam Petelur Tipe Medium pada Fase
Layer
Mineral Umur 21 – 40 Umur > 40
14
minggu minggu
Kalsium (%) 3,00 3,25
Fosfor (total, %) 0,50 0,50
Natrium (mg/kg) 0,15 0,15
Mangan (mg/kg) 110 110
Seng (mg/kg) 50 50
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Kalsium dan fosfor merupakan mineral utama yang diperlukan untuk
pembentukan cangkang telur. Pakan ayam petelur fase layer harus
mengandung kalsium sebanyak 3 – 4%. Defisiensi kalsium akan
menyebabkan cangkang telur menjadi tipis dan mudah retak. Jika
absorbsi kalsium pakan tidak memenuhi kebutuhan pembentukan
cangkang, kalsium diambil dari tulang medulair (Riczu dan Korver,
2009). Imbangan Ca : P yang terlalu luas dapat menimbulkan ricketsia,
yaitu tiap unsur yang berlebihan menyebabkan mengendapnya unsur
lain di dalam usus sehingga tidak bisa dimanfaatkan tubuh. Imbangan
Ca : P sebaiknya sebesar 9 : 1 saat puncak produksi, 11 : 1 saat
produksi sebesar 89 – 93%, selanjutnya 13 : 1 hingga ayam diafkir (Hy-
Line International, 2010).
Lemak merupakan sumber energi tinggi dalam pakan unggas.
Asam linoleat dan arakhidonat adalah asam lemak esensial karena tidak
dapat disintesis tetapi harus ada di dalam pakan. Pakan yang tidak
mengandung cukup asam linoleat menyebabkan pertumbuhan
terhambat, terjadi akumulasi lemak di hati, dan lebih rentan terhadap
infeksi pernafasan. Defisiensi asam arakhidonat pada ayam petelur
menyebabkan ukuran telur kecil. Asam arakhidonat dapat disintesis dari
15
asam linoleat (Suprijatna et al., 2005). Standar kebutuhan asam linoleat
dalam pakan ayam petelur fase layer dari umur 27 minggu hingga lebih
dari 59 minggu adalah 1,00 g/hari (Hy-Line International, 2010).
Tata Laksana Pemberian Pakan
Rata-rata ayam petelur fase layer strain Hy–Line Brown
mengkonsumsi 114 – 120 gram pakan per hari sehingga pemberian
pakan tiap hari sekitar 120 gram per ekor ayam. Air merupakan
komponen nutrien yang paling penting, apabila ayam kekurangan air
minum, konsumsi pakan akan menurun sehingga produktivitasnya
menurun. Air minum hanya dibatasi pada saat-saat tertentu, misalnya
sebelum vaksinasi melalui air minum (Hy-Line International, 2010).
Ayam dapat bertelur dengan optimal apabila pakan diberikan secara ad
libitum, yaitu selalu tersedia sepanjang hari. Pakan
bentuk pellet memiliki palatabilitas yang paling baik.
Bentuk pakan seperti campuran crumble dan mash umum
digunakan dalam ransum hasil formulasi sendiri dan relatif lebih
ekonomis. Ayam harus distimulasi untuk mengkonsumsi pakan, salah
satunya dengan memberikan biji-bijian setengah hancur, misalnya
jagung. Pakan di dalam tempat pakan diusahakan selalu kering dan
diganti dengan yang baru setiap hari untuk mencegah timbulnya jamur.
Air bersih untuk minum harus selalu tersedia atau ad libitum (Shirt,
2010).
16
Pemberian pakan saat tengah malam (midnight feeding) dapat
dilakukan apabila diberikan cahaya yang cukup, yaitu dari lampu.
Tujuan night feeding dan midnight feeding yaitu memberikan
kesempatan bagi ayam untuk meningkatkan suplai kalsium dari saluran
pencernaan secara langsung untuk pembentukan cangkang telur. Hal ini
mencegah pengambilan kalsium dari tulang yang meningkatkan risiko
pengeroposan tulang saat ayam mulai tua. Waktu pemberian pakan di
pagi atau siang hari menyebabkan ayam mengabsorbsi zat-zat pakan
sebagian besar untuk hidup pokok dalam sehari, regenerasi sel,
mengatasi pengaruh lingkungan seperti cuaca sehingga tidak semuanya
dimaksimalkan untuk pembentukan [Link] feeding berlangsung
saat telur sedang dibentuk sehingga materi pembentuknya dapat
ditambahkan dari zat-zat pakan yang diabsorbsi oleh saluran
pencernaan (Riczu dan Korver, 2009). Midnight feeding terbukti dapat
meningkatkan kualitas cangkang telur dari segi ketebalan, kekuatan,
persentase cangkang dari telur yang keluar pada pagi hari, yaitu sekitar
jam 09.00.
D. Manajemen Perkandangan
Kandang berfungsi untuk melindungi ayam dari lingkungan yang
merugikan, terutama terhadap terik matahari, hujan, dan rasa dingin di
17
waktu malam. Sehingga dengan demikian, ayam merasa nyaman.
Disamping itu, kandang juga dapat memberi kemudahan kepada peternak
dalam pemeliharaan dan penyelenggaraan peternakan (Sudarmono,
2003).
Mengingat peranan kandang sebagai sarana produksi usaha ternak
ayam sangat penting, maka kandang harus sudah dipersiapkan dengan
baik, hingga kandang tersebut benar-benar siap huni. Sebelum dibangun
kandang harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya yaitu jarak
kandang dengan pemukiman warga, struktur atau desain kandang yang
ideal, luas kandang dengan kapasitas yang ideal, adanya sirkulasi yang
baik, suhu yang sesuai, adanya sanitasi yang baik untuk ternaknya, jarak
dengan sumber air, pakan pemasaran, dan bahan kandang yang dipakai
sesuai dengan keamanan ternak tersebut (Kartasudjana dan Suprijatna,
2006).
Jenis kandang berdasarkan kegunaan dibagi menjadi tiga macam
yaitu:
1. Kandang indukan (brooder) digunakan untuk memelihara ayam
umur 0-3 minggu. Kandang dilengkapi dengan alat pemanas
sebagai penghangat menggantikan fungsi indukan ayam.
2. Kandang grower/pullet digunakan untuk membesarkan ayam umur
4-18 minggu. Biasanya berbentuk kandang lantai litter.
3. Kandang layer digunakan untuk memelihara ayam petelur umur 18
minggu sampai afkir biasanya menggunakan kandang sangkar,
18
cage atau baterai. Kandang layer ini dilengkapi tempat pakan dan
tempat minum, serta penerangan seperlunya. Kandang baterai
adalah sangkar segi tempat yang disusun secara berderet
memanjang dan bertingkat dua atau lebih yang menggunakan alas
berlubang atau kawat. Kandang baterai berbentuk kotak yang
bersambung dengan satu yang lain terbuat dari kayu, bambu dan
kawat. Masing- masing kotak berukuran lebar 40 sampai 45 cm,
panjang 40 cm, dan tinggi 40 cm, berisi 2 ekor ayam. Lantai
kandang baterai letaknya agak miring ke salah satu sisi sekitar 6-7
cm.
Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Kandang tipe lantai rapat. Termasuk kedalam tipe ini adalah
kandang sistem litter dan deep litter system, yaitu kandang yang
menggunakan alas penutup lantai untuk menyerap kotoran agar
lantai tidak lembab dan basah serta proses dekomposisi kotoran
ayam berlangsung sempurna. Untuk litter, dapat menggunakan
bahan organik yang bersifat menyerap air. Contohnya, serbuk
gergaji, sekam padi potongan jerami kering, potongan rumput
kering, atau tongkol jagung yang dihaluskan. Bahan tersebut dapat
dicampur dengan bahan lain, seperti kapur dan super fosfat.
Ketebalan litter pada pemeliharaan anak ayam awalnya hanya
sekitar 5-8 cm. Secara bertahap, litter ditambah sampai mencapai
19
maksimal 10-13 cm. Untuk ayam dewasa, ketebalan awal 10-13 cm
dan secara bertahap ditambah sampai ketebalan 20-23 cm.
2. Kandang tipe renggang atau berlubang.
a. Cage/battery system, kandang berupa kotak sangkar yang
terbuat dari kawat atau anyaman bambu.
b. Wire floor system, lantai kandang terbuat dari anyaman kawat,
biasanya menggunakan kawat ram.
c. Slatt floor system, lantai kandang menggunakan bahan berupa
bilah-bilah yang disusun memanjang sehingga lantai kandang
bercelah-celah. Bahan yang digunakan berpa bilah kayu, logam
bambu, atau plastik. Lebar celah adalah 2,5 cm dan lebar bilah
2,5 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Panjangnya disesuaikan
dengan kebutuhan (Suprijatna dkk, 2005).
Jenis kandang berdasarkan penempatan ayam dalam kandang
dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Kandang tunggal atau single cage/battery, setiap sangkar berisi
satu ayam.
2. Kandang ganda atau multiple cages, setiap sangkar berisi 2-10
ayam.
3. Kandang koloni atau colony cages, setiap sangkar berisi satu
kelompok ayam dalam jumlah besar, lebih dari 20 ekor. (Suprijatna
dkk, 2005)
20
Ukuran kandang sesuai dengan yang dikemukakan Rasyaf, (2007)
yaitu panjang 17 meter, lebar 5 meter dan tinggi 3,5 meter membujur dari
timur ke barat atau membujur dengan terbitnya matahari. Jarak antara
kandang 1 kali lebar kandang minimal 5 meter sehingga tidak terjadi
pencemaran antara kandang satu dengan kandang yang lainya.
Atap kandang hendaknya tidak terbuat dari seng atau bahan lain
yang dapat menimbulkan panas dalam ruangan, lebih praktis jika atap
terbuat dari genting dan tidak dianjurkan pembuatan kandang terlalu
pendek karena dapat menyebabkan panas dalam ruangan (Malik, 2001).
E. Biosekuriti
Program biosekuriti merupakan program yang dijalankan di suatu
kawasan peternakan atau farm yang bertujuan uantuk menjaga terjadinya
perpindahan penyebab penyakit menular ke dalam kawasan peternaakan
yang sedang dikelola, baik penyebarannya secara horizontal maupun
vertikal. Program pencegahan penyebaran secara horizontal (horizontal
transmission) yaitu program yang dilakukan untuk mencegah penyebaran
bibit penyakit dari atau ke suatu kawasan peternakan uanggas.
Sementara itu, program pencegahan penyebaran bibit penyakit yang
dibawa dari induk ayam (parent stock) (Fadillah dan Fatkhuroji, 2013).
Beberapa hal yang harus dipedomani terhadap prinsip biosekuriti
yang tepat adalah sebagai berikut:
1. Setiap kendaraan pengangkut unggas yang masuk dan keluar
kandang atau tempat penampungan unggas harus di desinfektan
21
2. Setiap unggas yang datang harus dilengkapi dengan surat
keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang dibuat oleh dokter
hewan berwenang di daerah asal unggas
3. Setiap unggas yang datang harus mendapat pemeriksaan
antemortem oleh petugas di bawah pengawasan dokter hewan
yang berwenang
4. Hasil pemeriksaan kesehatan unggas yang datang wajib
didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala setiap bulan
kepada dokter hewan berwenang
5. Setiap kandang dilengkapi dengan peralatan makan dan minum
khusus
6. Tidak mencampurkan unggas yang baru datang dengan yang
lama;
7. Membersihkan kandang atau penampungan unggas dari limbah
padat unggas
8. Melakukan pengosongan kandang atau penampungan unggas
satu hari dalam dua minggu untuk proses pembersihan dan
desinfektan
9. Mencegah masuknya kucing, anjing, burung liar dan hewan
pengganggu lainnya dalam kandang atau penampungan unggas
10. Menempatkan unggas yang sakit di dalam kandang tersendiri
11. Setiap unggas yang mati harus segera dimusnahkan dengan cara
membakar (Akhirany, 2010).
22
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan dua cara, cara
pertama adalah melalui tata laksana harian dan yang kedua melalui
vaksin. Keduannya digunakan bersama dan saling mendukung satu sama
yang lain. Pencegahan dengan tata laksana harian pada prinsipnya
adalah menciptakan suasana yang bersih dan nyaman di peternakan.
Pencegahan penyakit virus dilakukan dengan cara vaksinasi (Rasyaf,
2007).
Pengobatan sebaiknya dilakukan jika ayam sudah terdeteksi
secara dini terkena suatu penyakit. Jika infeksi sudah terlalu parah,
pengobatan akan sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama
dan mahal. Bisa juga peternak memberikan pengobatan secara terencana
jika sebelumnya telah mengetahui sejarah penyakit yang sering terjadi di
kawasan tersebut atau di sekitar ayam (Fadillah dan Fatkhuroji, 2013).
F. Evaluasi Performa Ayam Petelur
Konsumsi pakan
Konsumsi pakan ayam layer pada fase starter yaitu 1,08±0,05 kg
per ekor, pada fase grower yaitu 4,14 ± 0,11 kg per ekor, pada fase layer
yaitu 31,2 ± 1,12 kg per ekor (Mussawar et al., 2004). Konsumsi pakan
per hari pada Hy-Line Brown rata-rata sebesar 114 g (Hy-Line
International, 2010). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh strain, umur,
keseimbangan nutrisi pakan, status kesehatan ayam, keterjangkauan
pakan oleh ayam, dan temperatur lingkungan (Iji, 2005).
Produksi telur
23
Untuk menghitung produksi telur dikenal istilah hen housed
production dan hen day production. Hen housed production merupakan
ukuran produksi telur yang didasarkan pada jumlah ayam mula-mula
yang dimasukkan ke dalam kandang (Kartasudjana dan Suprijatna,
2006). Hen day production (HDP) dihitung dari jumlah produksi telur hari
itu dibagi dengan jumlah ayam produktif hari itu dikalikan 100% (North,
1984; dikutip dalam Kabir dan Haque, 2010). Puncak produksi strain Hy-
Line Brown yaitu 27 – 29 minggu dengan kisaran hen day 94–96% (Hy-
Line International, 2010). Semakin lama periode bertelur, semakin
rendah HDP (Mussawar et al., 2004).
III. METODE PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
24
Waktu kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) I mahasiswa jurusan
penyuluhan peternakan dan kesejahteraan hewan Semester IV Tahun
2019 dimulai pada bulan Juni sampai bulan Juli 2019 di Peternakan ayam
petelur Dinamika, Kecamatan Panjarijang, Kabupaten Sidrap, Provinsi
Sulawesi Selatan.
B. Materi Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan mencakup kegiatan pemeliharaan ayam
petelur dari fase starter, grower, dan layer dilaksanakan di lokasi PKL I,
antara lain:
1. Persiapan Kandang
2. Pemberian pakan
3. Pemberian air minum
4. Sanitasi kandang
5. Pengambilan telur
6. Recording
7. Pemberian vaksin dan vitamin
Laporan ini akan membahas tentang manajemen pemeliharaan
yang ada di Peternakan Ayam Petelur Dinamika. Manajemen
pemeliharaan meliputi pemeliharaan ayam fase starter, pemeliharaan
ayam fase grower, dan pemeliharaan ayam fase layer.
C. Prosedur Pelaksanaan
Mahasiswa semester IV, bertugas sebagai peserta Praktik Kerja
Lapangan (PKL) I meliputi:
25
1. Sebelum ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu diwajibkan
mengikuti kegiatan pembekalan yang dilaksanakan oleh panitia di
Polbangtan Gowa
2. Menyusun rencana kegiatan dalam bentuk proposal secara individu
dan dikonsultasikan bersama pembimbing.
3. Menetap disekitar lokasi PKL
4. Selama melaksanakan kegiatan PKL I, mahasiswa wajib membuat
jurnal harian, melengkapi bukti fisik kegiatan dan dokumentasi
seluruh kegiatan PKL I
5. Melakukan konsultasi dengan pembimbing
6. Membuat laporan PKL secara individu
7. Melaporkan kegiatan kepada pembimbing internal dan eksternal
8. Mengikuti ujian PKL I di lokasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
26
Praktek kerja lapangan (PKL) I pada tanggal 13 Juni-20 Juli 2019
dilaksanakan di Peternakan Ayam Petelur Dinamika Kecamatan Panca
Rijang, Kabupaten Sidrap. Kegiatan yang dilakukan adalah mengenai
manajemen pemeliharaan ayam petelur.
Manajemen pemeliharaan ayam petelur di Peternakan Ayam
Petelur Dinamika meliputi pemeliharaan ayam fase strater, pemeliharaan
ayam fase grower, dan pemeliharaan ayam fase layer. Jenis ayam yang di
pelihara di Peternakan Ayam Petelur Dinamika adalah Hy line dengan
Poupulasi 13.000 ekor, dengan rincian 3.000 ekor ayam starter, 3.000
ekor ayam grower, dan 10.000 ekor ayam layer.
B. Pembahasan
1. Fase Starter
Periode starter merupakan masa awal pemeliharaan ayam ras
petelur sampai ayam berumur 6 minggu. Pada periode ini, DOC
dipelihara dengan kondisi temperatur yang hangat di sekitar area
pemeliharaan dengan cara menggunakan alat pemanas buatan
(brooder). Kondisi yang hangat sangat penting bagi keberlangsungan
hidup DOC. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar DOC dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik selama periode pemanasan,
yaitu mempersiapkan brooder, mengatur temperatur kandang,
memberikan air minum, memerikasa kualitas dan kuantitas DOC,
27
memberikan pakan, mengontrol keadaan sekam, mengontrol lingkaran
pelindung, melakukan potong paruh (debeaking), melakukan proses
seleksi dan grading, mengatur sirkulasi udara kandang, mengatur
pencahayaan (linghting program), menimbang bobot, dan mencatat
laporan (recording) (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).
Program pemeliharaan ayam fase starter di Peternakan Ayam
Petelur Dinamika dimulai dengan persiapan kandang untuk kedatangan
DOC. Tahap persiapan kandang ayam sebelum masuk yaitu mencuci
kandang dengan desinfektan. Lantai kandang di beri kapur dan diberi
sekam sebagai alas untuk ayam. Persiapan selanjutnya yaitu dengan
membuat brooder sebanyak tiga tempat dengan sebuah penghangat
tiap brooder. Selanjutnya menyiapkan nampan tempat pakan sebanyak
dan tempat minum. Apabila persiapan sudah selesai DOC siap untuk di
masukkan. Kegiatan pembuatan kandang brooder dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1. Pembuatan brooder
28
2. Fase Grower
Keberhasilan beternak ayam petelur diawali dengan produksi pullet
yang berkualitas. Karena itu kegiatan yang dilakukan pada periode ini
bertujuan untuk mencapai bobot pullet yang sesuai standar, sehat
tingkat keseragaman tinggi, dan mengalami dewasa kelamin tepat pada
waktunya. Beberapa langkah yang perlu dilakukan agar tujuan tersebut
terpenuhi di antaranya mempersiapkan kandang pertumbuhan,
memberikan pakan dan mengontrol bobot badan, memberikan air
minum, mengatur pencahayaan (lighting program), mengontrol litter,
melaksananakan program vaksinasi dan pencegahan penyakit,
melakukan potong paruh (debeaking), memindahkan ayam pullet ke
kandang produksi, mengontrol dewasa kelamin (sexual maturity), dan
mencatat laporan (recording) (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013).
Di Peternakan Ayam Petelur Dinamika, ayam grower dipelihara
dalam kandang battery mulai umur 35 hari sampai 67 hari. Sebelum
kandang diisi dengan ayam maka kandang di semprot dengan
desinfektan dan tanah di taburi dengan kapur serta dilapisi sekam.
Pemberian pakan ayam grower di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu
pada jam 07.00 dan jam 14.00. Teknik pemberian pakan yaitu dengan
memasukkan pakan dalam rel dorong setelah di masukkan rel di
dorong di perkirakan pakan dapat di bagi rata dan ayam dapat makan
semua secara bersamaan. Pemberian air di lakukan secara ad libitum
sejak pagi setelah pemberian ransum selesai petugas kandang
29
membersihkan tempat minum dengan kain dan mengalirkan air sampai
penuh. Kegiatan pemindahan ayam dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Pemindahan ayam
3. Fase Layer
Fase layer merupakan fase di mana pemeliharaan ayam harus
benar-benar baik untuk mendapatkan produk yang maksimal. Ayam
dimasukkan ke dalam kandang layer mulai umur 67 hari atau saat
ayam sudah berbobot 2 kg sampai dengan umur 85 minggu.
Pemberian pakan ayam layer di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu
pagi jam 07.00 dan siang jam 14.00. Teknik pemberian pakan sebagian
dengan rel dorong dan sebagian dengan mengunakan tangan biasa.
Pemberian air di lakukan secara ad libitum sejak pagi setelah
pemberian ransum selesai petugas kandang membersihkan tempat
minum dengan kain dan mengalirkan air sampai penuh.
Manajemen kesehatan ayam layer yang di lakukan setiap hari
Senin, Selasa, dan Rabu yaitu dengan diberikan vitamin setiap pagi.
Penyemprotan kandang dengan desinfektan di lakukan berkala sekali
30
satu bulan. Langkah yang di ambil agar ayam terhindar dari penyakit
yang di sebabkan virus maka program vaksinasi selalu di lakukan
sesuai dengan jadwal yang di tentukan oleh peternakan.
Proses pengambilan telur di Peternakan Ayam Petelur Dinamika
sehari di lakukan sebanyak dua kali yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00.
Produksi telur maksimal terdapat pada pagi hari hampir 90 persen
ayam bertelur pada pagi hari. Pengambilan telur di lakukan secara
manual oleh pekerja kandang dengan menggunakan eggs tray.
31
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Melalui kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) saya dapat
mengetahui berbagai macam pengetahuan tentang budidaya ayam
petelur terkhusus di peternakan ayam petelur dinamika. Manajemen
pemeliharaan yang ada sudah cukup bagus, hal ini dikarenakan ketepatan
waktu dan konsistensi para karyawan dalam pemeliharaan ayam tersebut.
Manajemen pemeliharaan meliputi pemeliharaan ayam fase starter,
pemeliharaan ayam fase grower dan pemeliharaan ayam fase layer.
Jumlah ternak ayam yang ada di peternakan dinamika sebanyak 10.000
ekor dengan rincian 8.000 ekor ayam layer dan 2.000 ekor ayam grower.
Pakan yang diberikan merupakan pakan ransum. Proses pemberian
pakan dengan cara memberikan konsumsi perhari sejumlah 120 gram per
ekor untuk ayam layer dan 80 gram per ekor untuk ayam grower. Program
kesehatan meliputi pemberian vitamin, desinfeksi kandang dan ternak dan
isolasi ternak yang terserang penyakit. Vaksinasi rutin dilakukan 1 bulan
sekali guna mencegah ayam terserang penyakit tertentu yang dapat
merugikan perusahaan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat disarankan kepada
peternakan dinamika
32
a. Setiap pekerja harus mempunyai rasa tanggung jawab yang
tinggi sehingga setiap pekerjaan dapat terselesaikan dengan
baik.
b. Terus tingkatkan cara pembimbingan dan pemberian materi
kepada setiap peserta PKL agar penerimaan materi dan praktek
dapat diserap dan dilakukan oleh peserta PKL
c. Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan agar
dapat dijadikan pedoman bagi karyawan dan peserta PKL dalam
melaksanakan kegiatan.
d. Lengkapi peternakan dengan program sanitasi yang baik agar
resiko munculnya penyakit dapat ditekan.
e. Manfaatkan limbah hasil peternakan untuk menambah
penghasilan perusahaan.
f. Melakukan pembaharuan terhadap kandang dan alat-alat
peternakan yang mulai rusak
g. Perhatikan fasilitas penunjang bagi karyawan dan peserta PKL
h. Jadikan perusahaan peternakan dinamika sebagai peternakan
yang bersih, indah dan jauh dari kata jorok
33
.
DAFTAR PUSTAKA
Adlan, M., Y. Utomo, F. Afmy, dan N. Fitriany. 2012. Laporan Penilaian
Ternak Unggas Ayam Petelur. Fakultas Peternakan. Universitas
Jendral. Soedirman. Purwokerto.
Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al
Baho, dan A. Al Haddad. 2005. A comparative study on production
efficiency of brown and white pullet. Bulletin of Kuwait Institute for
Scientific Research .
Bappenas. 2010. Strategi Peningkatan Pertumbuhan Subsektor
Peternakan Mendukung Peningkatan Pendapatan dan Diversifikasi
(Draft). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta.
Ditjennak. 2001. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Bina
Produksi Peternakan, Departemen Pertanian RI, Jakarta.
Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras
Petelur. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 2000. Performance Of Four
Strains Pf Commercial Layers With Major Changes In Dietary
Energy. Journal of Applied Poultry Research 9.
Hy-Line International. 2010. Hy-Line Brown Intensive Systems
Performance Standar. [Link]
[Diakses tanggal 6 Mei 2019].
Iji, P. 2005. Feed Intake. [Link]
intake. [Diakses tanggal 13 Juli 2019].
Interchemie. 2010. Poultry Layer Pemix. [Link]
feed-additives/[Link] [Diakses pada
tanggal 15 Juli 2019]
Kabir, F. dan M.T. Haque. 2010. Study on production performance of ISA
Brown strain at Krishibid Firm, Ltd., Trishal, Mymensingh.
Bangladesh Research Publications Journal 3
34
Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Leeson, S. 2008. Production for commercial poultry nutrition. Journal
Applied Poultry Research.
Matitaputy, [Link]. 2006. Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur
Periode Starter di daerah Tropis. [Link]
[Diakses Tanggal 14 Juli 2019].
Meerburg, B.G dan A. Kiljstra. 2007. Role Of Rodents In Salmonella And
Campylobacter Transmission. Journal of Science Food Agriculture
Mussawar, S., T.M. Durrani, K. Munir, Z. ul-Haq, M.T. Rahman and
[Link]. 2004. Status of layer farms in Peshawardivision,
Pakistan. Livestock Research for Rural Development
Rasyaf, Muhammad. 2007. Beternak Ayam Petelur. Cetakan XXI.
Penebar Swadaya, Jakarta
Rusman dan Sariah . 2005 . Sejarah dan Manajemen Pemeliaharaan
Ayam Petelur . Bandung : Penerbit Erlangga
Riczu, C. dan D. Korver. 2008. Effects of midnight feeding on the bone
density and egg quality of brown and white table egg layers.
Canadian Poultry Magazine
Shirt, V. 2010. How to Feed Chickens Part 2. [Link]
[Link]/keepingchickens/feeding-chickens_2.php.
[Diakses tanggal 30 Juni 2019]
Spoolder, H.A.M. 2007. Perspective Animal Welfare In Organic Farming
System. Journal of Science Food Agriculture
Sudarmono. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta
Sudaryani, T dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Cetakan V.
Penebar Swadaya. Jakarta.
35
LAMPIRAN
Lampiran 1. Format Jurnal Harian Kegiatan PKL I
JURNAL HARIAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN I
PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA
Nama : Danang Widjanarko Sunandar
NIRM : [Link].1368
Lokasi PKL : Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Provinsi
Sulawesi Selatan
Paraf
No. Hari/Tanggal Uraian Kegiatan Pembimbing
Eksternal
36
Lampiran 2. Format Lembar Konsultasi
LEMBAR KONSULTASI
PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA
TAHUN2019
NAMA : Danang Widjanarko Sunandar
NIRM : [Link].1368
LOKASI PKL : Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten
Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan.
PEMBIMBING INTERNAL : 1. Dr. Mufidah Muis, SP., M,Si
2. Drs. Aminuddin Saade, [Link]
PEMBIMBING EKSTERNAL :
No. Tanggal Materi Saran Paraf
Pembimbing Pembimbing
Bimbingan
37
Lampiran 3. Surat Keterangan Pelaksanaan Kegiatan
SURAT KETERANGAN
PELAKSANAAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) I
MAHASISWA JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN (POLBANGTAN) GOWA
Penyelenggara kegiatan .............................................................
Menerangkan bahwa mahasiswa Polbangtan Gowa di bawah ini :
Nama : Danang Widjanarko Sunandar
NIRM : [Link].1368
Jurusan : Penyuluhan Peternakan
Telah melaksanakan kegiatan .....................................................................
Selama ........................... jam, pada tanggal .............................. bertempat
di ..............................................
…………….Tanggal …………….. 2019
Mengetahui,
Pembimbing Ekstern, Penyelenggara Kegiatan,
(……………………………) (………………………………)
38
Lampiran 4. Kegiatan di Peternakan Ayam Petelur Dinamika
39
Lampiran 5. Jadwal Pelaksanaan PKL I
Waktu
No Kegiatan April Mei Juni Juli
IV I II III IV I II III IV I II III IV
Pembekalan dan Penyusunan
1.
Proposal
2. Pelepasan Mahasiswa PKL I
3. Identifikasi Wilayah PKL I
4. Pelaksaan PKL I
5. Pengakhiran kegiatan PKL I
6. Konsultasi dan Perbaikan Laporan
7. Ujian PKL I
8. Penyerahan Laporan ke Jurusan
40