Pengendalian Kualitas Defect Y9J Suzuki
Pengendalian Kualitas Defect Y9J Suzuki
Oleh:
DZIKRI ABDILLAH
1510631140040
Oleh:
DZIKRI ABDILLAH
1510631140040
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Pada hari :
Tanggal :
Karawang,
Dosen Pembimbing Pembimbing Lapangan
iii
PERNYATAAN KEASLIAN KERJA PRAKTEK
Menyatakan
Bahwa Laporan Kerja Praktek ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber
baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Dzikri Abdillah
NIM. 1510631140040
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas
berkat,rahmat, dan izin-Nya dapat menyusun dan menyelesaikan laporan kerja
praktek di PT. Suzuki Indomobil Motor dengan baik dan selesai dengan waktu
yang telah ditentukan.
Laporan ini dapat selesai dengan baik dan sesuai waktu yang telah
ditentukan karena adanya bantuan serta dukungan dari berbagai pihak untuk itu
saya mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
dalam melaksanakan kerja praktek ini dengan [Link] mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Asep Erik Nugraha ST., MT. selaku Ketua Program Studi Teknik
Industri.
2. Bapak Rizki Achmad Darajatun, ST., MM. selaku Dosen Pembimbing Kerja
Praktek di Program Studi Teknik Industri.
3. Bapak Ari Susanto selaku Manager dibagian assembling di PT Suzuki
Indomobil Motor.
4. Bapak Ghany Radifan Juadi selaku Pembimbing Kerja Praktek bagian
assembling di PT Suzuki Indomobil Motor.
5. Bapak Joko selaku Pembimbing Kerja Praktek di bagian Quality Control di PT
Suzuki Indomobil Motor.
6. Semua karyawan bagian assembling di PT Suzuki Indomobil Motor.
7. Kedua Orangtua Saya beserta saudara yang senantiasa memberikan dukungan.
Dzikri Abdillah
v
DAFTAR ISI
vi
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengolahan Data ..................................................................................... 38
4.2 Analisis dalam Penerapan Metode Six Sigma ...................................... 40
4.2.1 Tahap Pendefinisian (Define) .......................................................... 40
4.2.2 Tahap Pengukuran (Measure) ......................................................... 41
4.2.3 Tahap Analisis (Analyze) ............................................................... 50
4.2.4 Tahap Perbaikan (Improve) ............................................................. 52
4.2.5 Tahap Control .................................................................................. 53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
DAFTAR TABEL
ix
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.2 Ruang Lingkup Kerja Praktik
Penulis membatasi pelaksanaan kegiatan, penelitian dan proses
pembuatan laporan Kerja Praktek, yaitu pada PT. Suzuki Indomobil Motor
Tambun Plant II. Pengamatan ini memfokuskan bahan kajianAnalisis
Pengendalian Kualitas Untuk Mengurangi Defect Scratch Pada Panel Front
Door Outer Model Y9j (Futura) Proses Assembling G-Line Dengan Metode
Six Sigma [Link] Indomobil Motor Tambun II .
2
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang analisa yang dilakukan selama kegiatan
kerja praktek dan bagaimana perbandingannya dengan teori-teori
yang ada di bab sebelumnya.
3
BAB II
DESKRIPSI TEMPAT KERJA PRAKTIK
4
jajaran Suzuki, dengan menggunakan berbagai perlatan Tekhnologi
Tinggi, dan yang terbesar di Asia Tenggara untuk saat ini. Plant
Tambun II berdiri diarea tanah seluas 130.000 M2, dengan luas
bangunan seluas 35.585 M2, dan mampu menyerap tenaga kerja
sebanyak ± 1424 orang. Plant Tambun II diresmikan pada tanggal 14
Mei 1991 oleh Menteri Perindustrian RI (pada saat itu) Bp. Ir. Hartarto.
5
2.1.3 Struktur Organisasi
FINANCE
ADMINISTRATION &ACCOUNTING
SUBSIDIARIES
CONTROL
INTERNAL AUDIT
IT
MARKETING 2W
DIRECTORS SERVICE
VICE MARKETING 4W
PRODUCTION 2W
PRODUCTION 4W
1. Board of Directors
Bertugas untuk mengawasi jalannya perusahaan yang
dilakukan oleh presiden direktur dan wakil direktur.
6
2. President & Vice President
Bertugas untuk menyusun kebijakan dan strategi perusahaan
agar mencapai misinya yang tidak bertentangan dengan strategi
perusahaan utama yaitu Suzuki Motor Company-Japan.
3. Administration Division
Divisi dipimpin oleh seorang managingdirector yang
bertanggung jawab kepada presiden direktur, tugas dan tanggung
jawab utamanya adalah sebagai pendukung kegiatan divisi lainnya
yaitu marketing dan production, yang mengatur dari mulai
kebutuhan sumber daya manusia, pengelolaan keuangan
perusahaan, internal audit, subsidiaries dan juga menangani
kebutuhan dan perkembangan teknologi informasi perusahaan yang
memiliki tujuan, agar dapat mempercepat proses kinerja
perusahaan.
4. Marketing Division
Divisi pemasaran dipimpin oleh seorang managing director
yang bertanggung jawab kepada presiden direktur, tugas dan
tanggung jawab utamanya adalah menghasilkan laba bagi
perusahaan, dari produk yang dibuat oleh perusahaan.
5. Production Division
Divisi produksi dipimpin oleh seorang managing director yang
bertanggung jawab kepada presiden direktur, tugas dan tanggung
jawab utamanya adalah mengelola pabrik atau proses produksi
yang efisien sehingga menghasilkan suatu produk yang terbaik bagi
perusahaan.
6. HRD
Secara garis besar HRD adalah bagian yang mengurusi semua
hal tentang karyawannya. Berikut ini bebepara tugas dan
wewenang dari HRD:
7
a. Mengawasi dan mengkoordinir kinerja staff HRD, bagian
administrasi dan lainnya dalam lingkup HRD
b. Melakukan pembinaan terhadap karyawan dalam rangka
pemahaman etos kerja yang baik dan peningkatan kedisiplinan
serta motivasi kerja.
c. Merekrut dan menyeleksi karyawan baru sesuai dengan job
descriptionnya dan kriteria permintaan dari section yang
meminta pertambahan karyawan.
d. Menempatkan karyawan dalam posisinya sesuai dengan
kemampuannya.
e. Mengajukan saran kepada pimpinan tentang kebijakan
perusahaan-perusahaan di bidang ketenagakerjaan dan
pembinaan karyawan.
f. Melaksanakan koordinasi yang bersangkutan dengan fungsi
jabatannya dengan para pimpinan departemen terkait.
g. Mengambil tindakan yang diperlukan dalam menegakkan
peraturan dan disiplin karyawan.
h. Mewakili perusahaan dalam melaksanakan hubungan dengan
instansi luar, contohnya yayasan yang menginput karyawan
outsourcing, dan lain-lainnya.
i. Mengesahkan lembur karyawan di bagiannya.
j. Mengajukan demosi, promosi dan mutasi karyawan.
k. Mengajukan permohonan tambahan karyawan kepada pimpinan.
8
proses produksi, melaporkan hal-hal yang menjadi kendala reparasi
kepada Plant Manager untuk mendapat keputusan pemecahannya.
Sedangkan untuk setiap section produksinya mengurusi hal-hal yang
berkaitan dengan sebagai berikut :
a. Section Pressing
Mengurusi kegiatan produksi Pressing untuk membuat atau
mencetak komponen-komponen mobil yang terbuat dari steel
plate misalnya pintu, body mobil dan lainnya dimana pada
Pressing terdiri dari empat mesin yaitu :
1) Drawing :Mencetak bentuk dari dies yang sudah ada dan
sesuai bentuk yang diinginkan
2) Cutting :Memotong sesuai dengan hasil gambar atau cetak
3) Holding:Melubangi hasil cetakan sesuai dengan bentuk yang
diinginkan
4) Finishing: Membuang sisa-sisa bagian yang belum terpotong.
b. Section Welding
Mengurusi kegiatan produksi yang berkaitan dengan proses
welding (pengelasan) atau penggabungan komponen.
9
Mengurusi semua kegiatan pengecatan untuk body mobil
dan pengecatan komponen mobil yang terbuat dari plastic.
d. Section Assembling
Mengurusi semua kegiatan perakitan dan mempunyai dua
line yang dibagi menurut tipe mobil yaitu :
1.) Line S : line bentuk huruf S yaitu untuk tipe mobil Karimun
Wagon-R dengan berbagai variannya.
2.) Line G : line bentuk huruf G yaitu untuk tipe mobil APV
dan Futura dengan berbagai variannya.
h. Section PPC
Bertanggung jawab dalam mengatur jumlah unit yang akan
diproduksi (jadwal produksi) selama sebulan. PPC juga dalam
membuat jumlah produksi selama sebulan harus memperhatikan
atau disesuaikan dengan kapasitas produksi dari setiap section dan
kapasitas dari vendor dalam hal penyuplai komponen.
i. Section PPIC
Melakukan pemilahan jadwal produksi per bulan menjadi
jadwal produksi harian. Sehingga dapat memperkirakan jumlah
10
unit yang akan diporduksi setiap harinya dengan melihat kapasitas
yang ada serta menentukan perlu tidaknya waktu overtime, jam
lembur serta banyaknya shift kerja untuk jadwal produksi harian
tersebut. Selain itu PPIC dalam menentukan jumlah unit produksi
harian juga memperhatikan inventory yang ada sehingga terdapat
kesesuaian jumlah unit yang diproduksi.
11
sehingga dicapai keseimbangan setiap stasiun kerjanya yang akan
berpengaruh terhadap optimalitas kinerja setiap stasiun kerja.
12
2.1.4 Aktivitas Perusahaan
Perusahaan ini aktif di bidang industriotomotif yang
menghasilkan produk kendaraan-kendaraan sepeda motor dan mobil.
Perusahaan ini mendistribusikan produk ke dealer-dealer resmi
[Link] Indomobil Motor yang ada di indonesia.
13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
14
1. Check Sheet (Lembar Periksa)
Check sheet adalah sebuah dokumen sederhana yang digunakan
untuk mengumpulkan data pada saat real-time dan pada lokasi
dimana data tersebut muncul. Biasanya dokumen ini terdiri dari
formulir kosong yang didesain untuk “merekam” atau menyimpan
informasi defect yang diinginkan dengan cepat, mudah, dan efisien.
2. Pareto Diagram
Pareto Diagram adalah grafik batang yang menunjukkan
masalah berdasarkan urutan banyaknya jumlah kejadian.
Urutannya mulai dari jumlah permasalahan yang paling banyak
terjadi hingga pada permasalahan yang frekuensi terjadinya paling
sedikit. Dalam Grafik, ditunjukkan dengan batang grafik tertinggi
(paling kiri) hingga grafik terendah (paling kanan).
15
Gambar 3.2 Contoh Pareto Diagram
4. Histogram
Histogram merupakan tampilan bentuk grafis untuk
menunjukkan distribusi data secara visual atau seberapa sering
suatu nilai yang berbeda itu terjadi dalam suatu kumpulan data.
16
Gambar 3.4 Contoh Histogram
17
6. Scatter Diagram (Diagram Tebar)
Scatter diagram merupakan gambaran yang menunjukkan
kemungkinan hubungan (korelasi) antara pasangan dua macam
variabel dan menunjukkan keeratan hubungan antara dua variabel
tersebut yang sering diwujudkan sebagai koefisien korelasi.
7. Stratification (Stratifikasi)
Stratification merupakan sebuah pembagian dan
pengelompokan data ke kategori-kategori yang lebih kecil dan
mempunyai karakteristik yang sama. Tujuan dari penggunaan
stratifikasi ini adalah untuk mengidentifikasikan faktor-faktor
penyebab pada suatu permasalahan.
18
Kualitas produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar
atau 9M. Pada masa sekarang ini industri setiap bidang bergantung
pada jumlah besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara
yang tidak pernah dialami dalam periode sebelumnya (Feigenbaum,
1992 : 54-56).
1. Market (Pasar)
Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus
bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk
mempercayai bahwa ada sebuan produk yang dapat memenuhi
hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta
dan memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar
menjadi lebih besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih
terspesialisasi di dalam barang yang ditawarkan.
2. Money (Uang)
Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan
dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas laba. Pada
waktu yang bersamaan, kebutuhan akan otomasi dan pemekanisme
mendorong pengeluaran, mendorong pengeluaran biaya yang besar
untuk proses dan perlengkapan yang baru. Penambahan investasi
pabrik, harus dibayar melalui naiknya produktifitas, menimbulkan
kerugian yang besar dalam memproduksi disebabkan oleh barang
defect dan pengulangkerjaan yang sangat serius. Kenyataan ini
memfokuskan perhatian pada manajer pada bidang biaya kualitas
sebagai salah satu dari “titik lunak” tempat biaya operasi dan
kerugian dapat diturunkan untuk memperbaiki laba.
3. Management (Manajemen)
Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa
kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi
perencanaan produknya, harus membuat persyaratan produk. Bagian
perancangan bertanggung jawab merancang produk yang akan
19
memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan dan
memperbaiki kembali proses untuk memberikan kemampuan yang
cukup dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi rancangan.
Bagian pengendalian kualitas merencanakan pengukuran kualitas
pada seluruh aliran proses yang menjamin bahwa hasil akhir
memenuhi persyaratan kualitas dan kualitas pelayanan, setelah
produk sampai pada konsumen menjadi bagian yang penting dari
paket produk total. Hal ini telah menambah beban manajemen
puncak khususnya bertambahnya kesulitan dalam mengalokasikan
tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi penyimpanan dari
standar kualitas.
4. Men (Manusia)
Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan
penciptaan seluruh bidang baru seperti elektronika komputer
menciptakan suatu permintaan yang besar akan pekerja dengan
pengetahuan khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan
permintaan akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua
bidang spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan
mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil
yang diinginkan.
5. Motivition (Motivasi)
Penelitian tentang motivasi manusia menunjukan bahwa
sebagai hadiah tambahan uang, para pekerja masa kini memerlukan
sesuatu yang memperkuat rasa keberhasilan di dalam pekerjaan
mereka dan pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan
sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan. Hal ini membimbing
kearah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya yaitu pendidikan
kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas.
6. Material (Bahan)
Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para
ahliteknik memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada
20
sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi lebih ketat dan
keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
21
untuk produk manufaktur.(Tjiptono, 2001 : 27) Dimensi tersebut
adalah:
1. Kinerja : Karakteristik dari produk inti.
2. Ciri-ciri atau keistimewahan tambahan: karakteristik sekunder atau
pelengkap.
3. Kehandalan : kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau
gagal dipakai.
4. Kesesuaian dengan spesifikasi: sejumlah karakteristik desain dan
operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya
5. Daya tahan : berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat
digunakan.
6. Service Ability : meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan
mudah direparasi, penanganan keluhan yang memuaskan.
7. Estetika : daya tarik produk terhadap panca indra.
8. Kualitas yang dipersepsikan : citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya.
22
Didalam perusahaan umumnya baik dan buruknya kualitas
bahanbaku mempunyai pengaruh cukup besar terhadap kualitas
produk akhir,bahkan beberapa jenis perusahaan pengaruh kualitas
bahan baku yang digunakan untuk pelaksanakan proses produksi
sedemikian besarsehingga kualitas produk akhir hampir seluruhnya
ditentukan olehbahan baku yang digunakan. Bagi beberapa
perusahaan yangmemproduksi suatu produk dimana karakteristik
bahan baku akanmenjadi sangat penting di dalam perusahaan
tersebut. Dalampendekatan bahan baku, ada beberapa hal yang
sebaiknya dikerjakanmanajemen perusahaan agar bahan baku yang
diterima dapat dijagakualitasnya :
a. Seleksi Sumber Bahan Baku (Pemasok).
b. Pemeriksaaan dokumen pembelian.
c. Pemeriksaan Penerimaan Bahan.
2. Proses Produksi
Pada beberapa perusahaaan proses produksi akan lebih
banyak menentukan kualitas produk akhir. Artinya di dalam
perusahaan inimeskipun bahan baku yang digunakan untuk
keperluan proses produksibukan bahan baku dengan kualitas prima,
namun apabila prosesproduksi diselenggarakan dengan sebaik
baiknya maka dapat diperolehproduk dengan kualitas yang baik
pula. Pengendalian kualitas produk yang dihasilkan perusahaan
tersebut lebih baik bila dilaksanakandengan menggunakan
pendekatan proses produksi yang disesuaikandengan pelaksanaan
proses produksi di dalam perusahaan.
3. Produk Akhir
Pendekatan produk akhir merupakan upaya perusahaan
untuk mempertahankan kualitas produk yang dihasilkannya dengan
melihatproduk akhir yang menjadi hasil dari perusahaan tersebut.
Dalampendekatan ini perlu dibicarakan langkah yang diambil
untuk dapatmempertahankan produk sesuai dengan standar kualitas
23
yang [Link] pengendalian kualitas dengan
pendekatan produk akhirdapat dilakukan dengan cara memeriksa
seluruh produk akhir yangakan dikirimkan kepada para distributor
atau toko pengecer. Dengandemikian apabila ada produk yang
cacat atau mempunyai kualitasdibawah standar yang ditetapkan
maka perusahaan dapat memisahkanproduk ini dan tidak ikut
dikirimkan kepada para konsumen.
24
3.3.4 Gap NG
Merupakan defect yang terjadi pada saat pemasangan komponen
kurang pas posisinya sehingga menyebabkan gap antar komponen tidak
standar (terlalu rapat atau terlalu renggang).
3.3.5 Bocor
Bocor adalah defect yang terjadi pada bagian komponen-komponen
yang bersambungan seperti kaca dan pintu sehingga terdapat celah yang
dapat dilewati air. Bocor umumnya terjadi akibbat pemasangan seal
yang kurang rapi.
3.3.6 Kendor
Kendor merupakan defect yang memiliki dampak fatal apabila
terjadi pada bagian umum system kendaraan. Kendor dapat terjadi
karena man power lalai dalam pengencangan baut maupun komponen.
3.3.7 Dol/Slek
Dol/slek merupakan defect yang memiliki dampak yang sama
dengan defect kendor. Akan mengakibatkan dampak yang fatal apabila
terjadi pada bagian umum sistem kendaraan. Dol/slek dapat terjadi
karena kesalahan pemasangan yang dilakukan oleh man power ataupun
dikarenakan baut yang dipasang terdapat kotoran.
3.3.9 Kotor
Kotor merupakan defect yang berupa kotornya komponen pada
body kendaraan.
25
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Produksi dan Proses Assembly G-Line Kendaraan Y9J Futura
1. Proses Produksi Kendaraan Y9J Futura
a. Pressing
Proses pembentukan komponen-komponen mobil dari material
menjadi bentuk yang diinginkan seperti : Panel Door, Panel Roof.
b. Welding
Proses penyambungan komponen-komponen mobil menjadi unit
white body yang akan berjalan pada conveyor.
c. Painting
Proses pelapisan dan pengecatan unit white body menjadi paint
body secara menyeluruh.
d. Assembling
Proses pemasangan komponen roda, electric, seat, glass,
instrument panel dan lain-lain menjadi unit mobil yan siap pakai.
e. Final Inspection
Proses pengujian/pengetean unit mobil yang telah selesai dirakit
untuk selanjutnya dikirim ke konsumen.
26
2. Proses Assembly Line
Proses Assembly merupakan proses pemasangan seluruh
komponen-komponen yang berada di kendaran. Di PT. SIM prosesnya
dari AB – ON sampai AB – OK, prosesnya antara lain :
a. PBS
b. Trimming
c. CH (Chassis)
d. FINAL
PT. SIM memiliki 2 line yang berbeda tetapi secara garis besar
samauntuk bagian mesinnya, 2 line tersebut adalah G-Line dan S-Line.
Perbedaan line tersebur ada pada bentuknya, untuk G-Line alur
assemblynya berbetuk huruf G dan untuk S-Line alur assembly tersebut
berbentuk huruf S. Dan juga hasil dari produk dari kedua line tersebut
berbeda, untuk G-Line memproduksi mobil Futura, Carry dan APV.
Sedangkan untuk S-Line hanya memproduksi mobil Karimun Wagon R.
proses G-Line ditunjukan pada alur tersebut.
27
G LINE
Pre Trimming Trimming 1 CH 1
Final Trimming 2 CH 2
28
Proses yang terjadi di G-Line assembly terbagi menjadi
beberapa bagian yaitu :
1) PBS (Painted body storage)
PBS (painted body storage) adalah proses pemberian
identitas pada unit/body yang telah selesai pada proses painting.
Ditempat ini ada proses dimana unit/body diberi identitas
(fundoshi) untuk selanjutnya dikirim pada proses perakitan di
trimming dan chasis untuk pemasangan komponen- komponen
yang ada pada kendaraan tersebut.
2) Trimming 1
Proses assembly ini terjadi di trimming 1 adalah perakitan
komponen-komponen harness yang terbagi atas beberapa station.
Pada setiap proses terdapat leader atau kapok (kepala kelompok)
yang bertanggung jawab pada setiap proses yang terjadi di
trimming 1. Sebelum masuk ke trimming body akan di scan
barcode saat melewati station AB-ON.
a) Station 1-5
Station 1-5 merupakan proses pemasangan harness dasar
berupa kabel-kabel instalasi pada mobil, wire roof, karpet,
balancer, slincer yang terdiri dari beerbagai tipe kendaraan
sesuai dengan yang diproduksi di G-Line. Proses ini terjadi di
bagian atas sebelum masuk ke lien dibawah G-Line.
b) Station 6-7
Pada station 6-7 terjadi proses pemasangan 1/s front door
dan back door, motor wiper, harness main, harness floor,nozzle
front, brake pipe, cable fuel lid, seal steering shaft, door
switch.
c) Station 8-9
Pada station 8-9 merupakan proses pemasangan brake
pedal, master cylinder, motor front wioer, relay cable, cable
clutch.
29
d) Station 10-11
Pada station 0-11 merupakan proses pemasangan handle
door, radiator, regulato rear door, harness door, knop set.
e) Station 12-13
Pada station 12-13 terjadi proses pemasangan neck fuel
tank, cap fuel tank, horn, insulator engine room, front strut,
handle grip, bracket fuse dan pada section ini juga terjadi
section terakhir dari proses trimming 1 dan akan diakhiri
dengan checkman.
3) Chasis 1
Di chasis ini semua bagian dari sebuah mobil dipasangkan
oleh man power, chasis dibagi menjadi beberapa bagian, chasis 1
dan chasis 2 yang semuanya dijalankan dengan conveyor yang
ada di line. Pada proses chasis 1 dilakukan pemasangan part-part
underbody yang ada pada kendaraan. Di chasis juga terdapat
sensor-sensor yang dapat mengetahui apakah unit yang akan
dirakit telah sesuai dan layak untuk diproses selanjutnya, berikut
ini station yang ada pada proses chasis 1 :
a) Station 14-15
Pada station ini dilakukan pemasangan pipe brake , dan
pemasangan front suspension frame.
b) Station 16-17
Pada station 16-17 merupakan proses pemasangan rear
axle (garden) dan bagian terpenting dari kendaraan yaitu
pemasangan engine.
c) Station 18-19
Pada station 18-19 kendaraan yang telah terpasang engine
akan didistribusikan ke trimming 2 untuk pemasangan
instrument panel dengan sub assy dan akan dilakukan
pengecekan oleh checkman.
4) Trimming 2
30
Proses trimming 2 merupakan proses pemasangan instrument
panel:
a) Station 20-21
Pada station ini dilakukan pemasangan instrument panel
yang sebelumnya telah dirakit di sub assy
b) Station 22-23
Pada station ini dilakukan pemasangan engine room,
soket-soket yang ada dalam komponen engine room.
c) Station 24-25
Pada station 24-25 ini dilakukan pemasangan seat belt,
waterstrip front dan back door yang berguna untuk mencegah
kebocoran air kedalam kendaraan.
d) Station 26-27
Pada station ini dilakukan pemasangan harness kabel,
radiator dan pemasangan kaca depan (front glass) dan kaca
belakang (rear glass), serta pemasangan ID plate yang menjadi
identitas kendaraan yang diproduksi yang selanjutnya akan
diakhiri dengan pengecekan oleh checkman.
e) Station 28-29
Pada station ini body diangkat dengan hunger untuk
selanjutnya masuk ke proses chasis 2.
5) Chasis 2
Pada proses chasis 2 merupakan proses assembly yang
sekaligus menjadi pemasangan komponen-komponen
underbody yang ada dalam satu unit kendaraan tersebut.
1) Station 30-31
Pada station awal chasis 2 dilakukan pemasangan
front brake dan rear break.
2) Station 32-33
Pada station ini dilakukan pemasangan front
knuckle, flap mud inner dan panel front mud.
3) Station 34-35
31
Pada station ini dilkakukan pemasangan maflet
front, carrier propeller shaft, serta pemasangan bumper
pada unit.
4) Station 36-37
Pada station ini dilakukan pemasangan fuel tank,
shock absorber, serta tire (ban). Pada station ini dilakukan
pemeriksaan oleh checkman dan selanjutnya body akan
dipindah ke proses final.
6) Final
Merupakan tahap terakhir dari G-Line assembly line
yang merupakan tahap pemasangan tire, bumper dan
pengecekan oleh checkman untuk selanjutnya masuk ke final
inspection.
1) Station 38-39
Pada station pertama dip roses final ini dilakukan
pemasangan battery dan gear seat pada unit.
2) Station 40-41
Pada station ini dilakukan pemasangan quarter dan
nomor frame unit yang dirakit.
3) Station 42-43
Pada station ini dilakukan pemasangan power
steering pada kendaraan yang berguna untuk memudahkan
pengguna bagi pengemudi.
4) Station 44-45
Pada station ini dilakukan pemasangan seat 3rd dan
front seat pada interior unit kendaraan serta pengisian
Freon AC.
5) Station 46-47
Pada station ini dilakukan pemasangan garnish front
door, frame rear door dan trim front door, serta pengisian
bahan bakar pada unit kendaraan.
6) Station 48-49
32
Pada station ini dilakukan pengecekan radius putar
steering yang dilakukan oeh checkman sebelum akhirnya
akan masuk ke proses final inspection.
Persentase
Jumlah Produksi Y9J Jumlah Cacat
Bulan (%) Jumlah
Futura Y9J Futura
Cacat
2018.
Juli 1,3
61 4574
Agustus 0,9
49 5659
September 135
3423
33
Gambar 4.1 Grafik Data produksi Y9J Futura
Dari sekian cacat yang didapatkan pada data tersebut, didapatkan bahwa
komponenpanel front door outeradalah komponen yang memiliki tingkat cacat
tertinggi dengan bentuk cacat berupa scratch. Berikut merupakan tabel cacat
scratch pada panel front door outer produk Y9J Futura:
Persentase (%)
Jumlah SCRATCH
Jumlah Scratch Jumlah Cacat
Bulan Panel Front Door
Y9J Futura Scratch pada Penel
Outer Y9J Futura
Front Door Outer
Juli 29 5 17,24
Agustus 30 8 26,66
September 23 6 26,09
Total 82 19 69,99
5
Juli 29
8
Agustus 30
6
September 23
0 5 10 15 20 25 30
Jumlah SCRATCH Panel Front Door Outer Y9J Futura Jumlah Scratch Y9J Futura
34
4.2 Analisis dalam Penerapan Metode Six Sigma
Analisis yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ini adalah
dengan menggunakan metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC. Berikut ini
tahapan tahapan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan diatas
35
4.2.2 Tahap Pengukuran (Measure)
Tabel 4.3 Hasil pengumpulan data grid Scratch pada Front Door Outer bulan Juli -
September 2018
Jumlah Gride
SCRATCH
F
Bulan Front Door D2 E
Outer Y9J D3 D5 D 21 E3 E5 23
2 21
Futura
Juli 5 0 1 1 2 0 0 1 0
Agustus 8 1 1 0 2 0 2 2 0
September 6 0 0 1 0 2 1 1 1
Total 19 1 2 2 4 2 3 4 1
36
1. Pengukuran Stabilitas Proses
Pada tahap measure ini akan dilakukan pengukuran terhadap
kapabilitas dan stabilitas cacat berupa scratch pada Front Door
OuterY9J Futura pada periode Juli 2018 – September 2018.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam perhitungan
stabilitas proses ini adalah sebagai berikut:
a. Menghitung rata-rata proporsi produk cacat scratch p̅ pada
Front Door Outer periode bulan Juli.
∑(Xi ) 𝟓
p̅ = = 29 = 0,172
∑(n)
37
p̅ (1− p̅ ) 0,260(1− 0,260)
UCL = p̅ + 3 = 0,260+ 3 = 0,53
𝑛 23
Total 82 19 0,698
PETA KENDALI P
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
JULI AGUSTUS SEPTEMBER
P CL LCL UCL
38
Gambar4.4 Peta kendali p
0,172
DPO = = 0,0573
3
39
DPMO = 0,0573x 1.000.000 = 57300
4) Melakukan konversi terhadap nilai DPMO ke level Sigma.
b. Bulan Agustus
1) Perhitungan DPU (Defect Per Unit)
Jumlah Produk Yang Cacat
DPU =
Jumlah Produk Yang DiProduksi
𝟖
DPU = 30 = 0,266
0,266
DPO = = 0,0888
3
c. Bulan September
1) Perhitungan DPU (Defect Per Unit)
Jumlah Produk Yang Cacat
DPU =
Jumlah Produk Yang DiProduksi
𝟔
DPU = 23 = 0,260
0,260
DPO = = 0,0866
3
40
Tabel 4.6 Sigma Tabel Konversi
41
84550 2.875 0.958
66800 3 1
52100 3.125 1.042
40100 3.25 1.083
30400 3.375 1.125
22700 3.5 1.167
16800 3.625 1.208
12200 3.75 1.25
8800 3.875 1.292
6200 4 1.333
4350 4.125 1.375
3000 4.25 1.417
2050 4.375 1.458
1300 4.5 1.5
900 4.625 1.542
600 4.75 1.583
400 4.875 1.625
230 5 1.667
180 5.125 1.708
130 2.25 1.75
80 5.375 1.792
30 5.5 1.833
23.4 5.625 1.875
16.7 5.75 1.917
10.1 5.875 1.958
3.4 6 2
42
66800 − 52100 57300 − 66800
Nilai Sigma = =
3 − 3,125 × −3
14700 −9500
= =
−0.125 × −3
45287,5
x = = 3,08
14700
21050 −9500
= =
0.125 × −3
64337,5
x = = 3,05
21050
43
21050 −18934
= =
0.125 × −3
65516,75
x = = 3,11
21050
44
tingkat kepuasan [Link] dapat menurunkan nilai DPMO dan
meningkatkan nilai Sigma Level maka diperlukan perbaikan.
Presentase
Grid Defect Total Percentage Grid
Cumulative
E5 3 27,27% 63%
Total Defect 11
Diagram Pareto
12 100% 100%
90%
10
80%
70%
8
63% 60%
6 50%
4 4 40%
4 34% 3 30%
20%
2
10%
0 0%
D22 E5 E21
45
2. Analisis jenis defect dengan menggunakan diagram fishbone
Cause and Effect Diagram untuk scratch pada gride D22, E5, E21
46
pemasangan
47
panel front door outer besar kemungkinan akan tergores, keadaan
bising dan suhu yang panas karena kipas angin tidak nyala juga
menjadi salah satu faktor lingkungan.
Usulan saya untuk menata ulang kembali rak komponen
untuk tidak dekat sekali dengan proses produksi yang berlangsung
sehingga operator saat mengambil komponen dan membawa
komponen tidak terjadi kesulitan untuk menghindari terjadinya
gesekan antara komponen dan body panel front door outer.
3. Metode
Masalah operator tidak menggunakan teknik pemasangan
dan metode yang ada di perusahaan sehingga mengakibatkan
terjadi nya defect scratch. pada saat mobil berada di sebelah
kanan operator dan operator tersebut sedang membawa komponen
dengan menggunakan tangan sebelah kanan yang harus nya
menggunakan tangan sebelah kiri, karena jika mobil disebelah
kanan dan operator membawa komponen di tangan kanan akan
lebih besar kemungkinan untuk terjadi nya gesekan antara
komponen dengan body panel front door outer maupun dengan
body mobil yang lain.
Usulan dari saya yaitu operator seminggu sekali atau
bahkan sebulan sekali harus di berikan pengarahan tentang teknik
pemasangan dan metode yang baik dan benar dalam upaya untuk
menurunkan defect scratch, jika operator sudah terbiasa diberikan
pengarahan menggunakan teknik dan metode yang benar dalam
pemasangan dan dalam keadaan dilingkungan produksi maka
teknik dan metode itu akan diterapkan dengan baik oleh operator.
48
Control atau pengendalian adalah tahap terakhir dalam metode six
sigma yang bertujuan untuk menentukan kemampuan dalam
mengendalikan beberapa faktor dan menerapkan sistem pengendalian
proses. Sebagai bagian dari pendekatan six sigma, perlu adanya
pengawasan untuk meyakinkan bahwa hasil yang diiginkan sedang
dalam proses pencapaian. Sehingga pengontrolan disini dilakukan agar
menurunkan defect scratch pada panel front door outer yang dibuat
selalu berada dalam pengendalian.
49
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dapat disimpulkan bahwa :
1. Gride yang sering terjadinya defect pada Y9J futura adalah gride D22,
E5, dan E21.
2. Dari hasil perhitungan tabel 4.7, pada bagian assembling Y9J futura di
[Link] Indomobil Motor Tambun II memiliki rata-rata level sigma
dengan periode juli, agustus, dan september memiliki rata-rata sigma
sebesar 3,08 dan rata-rata nilai DPMO sebesar 77588.
3. Setelah dilakukan perhitungan pada gride yang memiliki jumlah scratch
terbanyak,selanjutnya adalah mengklasifikasikannya kedalam sumber
dari penyebab terjadinya defect tersebut. Penyebab dari terjadinya dari
ketiga gride yang memiliki jumlah scratch terbesar yang paling dominan
adalah faktor manusia dan lingkungan dimana penyebab utamanya
kondisi lingkungan kerjanya terlalu sempit dengan rak komponen yang
mengakibatkan terjadinya sentuhan atau tergores jika operator membawa
komponen jika operator terburu-buru dan tidak teliti.
5.2 Saran
1. Rak komponen dengan lingkungan kerja harus diberikan jarak yang
cukup agar tidak terlalu sempit dengan pergerakan operator.
50
2. Memberikan bimbingan atau pengarahan sebelum melakukan aktifitas
kerja.
3. Melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap jalannya proses
produksi dan menganalisa faktor penyebab terjadinya defect
DAFTAR PUSTAKA
[1] Zahara Fatimah, “Pengendalian Kualitas Part Trim Rear Quarter Right APV
Arena Dengan Menggunakan Metode Six Sigma di [Link] Indomobil
Motor” Vol. 13 No. 1, April 2014
[2] R Dyah Rachmawati dan Ulkhaq M , “ Aplikasi Metode Seven Tools dan
Analisis 5W + 1H Untuk Mengurangi Produk Cacat Pada [Link],TBK.
Semarang Agustus 2015
[3] Permata Shabrina Rahma, Setyanto Nasir Widha, dan Nata Kusuma L Tri
Wijaya, “ Implementation Of Six Sigma Method With Taguchi Method
Approach To Reducing Product Defect (a Case Study In The Industrial
Centers Of Pacar Peluk Clay Tile, Megaluh, Jombang)” Malang, Agustus
2013:
[4] Susetyo Joko, Winami, dan Hartanto Catur, “ Aplikasi Six Sigma DMAIC
dan Kaizen Sebagai metode Pengendalian dan Perbaikan Kualitas Produk”
Yogyakarta, Jurnal Teknologi, Volume 4 Nomor 1, Juni 2011 : R.I. Wijaya,
Analisis Proyek, Jakarta : FT UI, 2010
51
LAMPIRAN
52