SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Asma
Sasaran : Pasien, keluarga pasien, dan pengunjung
Tempat : Ruang Tunggu IGD RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Hari/ Tanggal : Rabu, 16 Desember 2015
Waktu : 30 menit
Penyuluh : PSIK UB 2011 Gelombang 2
1. LATAR BELAKANG
Asma adalah penyakit inflamasi saluran nafas yang dapat menyerang
semua kelompok umur. Asma ditandai dengan serangan berulang sesak
napas dan mengi, yang bervariasi setiap individunya dalam tingkat
keparahan dan frekuensi. Asma dapat mempengaruhi kualitas hidup serta
beban sosial ekonomi. Asma mempunyai tingkat fatalitas yang rendah
namun kasusnya cukup banyak di negara dengan pendapatan menengah
kebawah. WHO memperkirakan 235 juta penduduk dunia menderita asma
dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah (WHO, 2013). Apabila
tidak dicegah dan ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi
peningkatan prevalensi di masa yang akan datang (Depkes RI, 2009). Asma
tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol dengan manajemen yang
tepat (WHO, 2013). Walaupun panduan penatalaksanaan asma sudah
tersebar luas hampir di seluruh dunia serta berbagai obat baru terus
dikembangkan namun penanganan asma di lapangan masih belum adekuat
di negara berkembang maupun di negara maju (NAEPP, 2007). Data
tentang tingkat kontrol asma pasien penderita asma di Indonesia belum
diketahui secara pasti. Penelitian pendahuluan tingkat kontrol asma di
Poliklinik Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta mendapatkan 64% kasus tidak terkontrol,
28% terkontrol baik, 8% tidak terkontrol sepenuhnya (Rengganis, 2008).
Asma masih merupakan masalah yang mendunia dengan perkiraan
300 juta orang yang menderitanya. Hal tersebut didasarkan dengan
terdapatnya ratusan laporan mengenai prevalensi asma pada populasi-
populasi yang berbeda. Berdasarkan data World Health Organization (WHO)
pada tahun 2005, jumlah penderita asma di dunia diperkirakan akan terus
bertambah sebanyak 180.000 orang setiap tahunnya. Setiap tahunnya di
dunia kematian akibat asma diperkirakan mencapai 250.000 orang. 1,3 Di
Indonesia berdasarkan Hasil survei RISKESDAS pada tahun 2007
prevalensi asma mencapai 3,5% dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia.
Dimana asma menempati sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian
di Indonesia. Secara nasional yang tergambar dari data survei kesehatan
rumah tangga (SKRT) di berbagai provinsi di Indonesia. Sebanyak 9 provinsi
yang mempunyai prevalensi penyakit asma tertinggi antara lain, Aceh
diurutan pertama di ikuti Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo
dan Papua Barat.
Pengetahuan mengenai asma sangat penting dalam mencapai
kontrol asma. Pasien dan keluarga pasien yang memahami penyakit asma
dengan baik secara sadar akan menghindari faktor-faktor pencetus serangan,
menggunakan obat secara benar dan berkonsultasi kepada dokter secara
tepat. Selain memberikan motivasi kepada pasien, keberhasilan pengobatan
juga ditentukan oleh pemberian obat obatan yang tepat dan diikuti pemberian
pengetahuan tentang penyakit asma dan penatalaksanaanya (Waltroud,
2006). Pengetahuan pasien tentang penyakit asma merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kontrol asma. Sehingga dengan
mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai asma
dengan tingkat kontrol asma menjadi sangat penting untuk diketahui.
Asma yang terkontrol sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan
seorang pasien asma tentang riwayat penyakitnya. Laporan klinis dan studi
observasional menunjukkan terdapatnya peran dari pengetahuan seseorang
dengan derajat asmanya. Faktor psikologis juga dapat langsung
mempengaruhi proses dari perjalanan penyakit ini. Dalam penelitian yang
dilakukan tersebut menunjukkan tingkat pengetahuan seseorang terhadap
salah satu faktor pencentus asma yaitu emosi, yang terbukti langsung dapat
mempengaruhi fungsi dari paru pada pasien dengan asma dan berdasarkan
pengamatan dengan menggunakan pemantauan fungsi paru per-orang
menunjukkan juga terdapat hubungan antara suasana pikiran atau emosi
terhadap fungsi paru (PDPI, 2004).
Perawat adalah tenaga profesional kesehatan yang memiliki peran
dan fungsi tersendiri di dalam memberikan pelayanan kesehatan
kepada masayarakat. Perawat memiliki tanggung jawab untuk memberikan
pelayaanan profesional, pelayanan tersebut di area pekerjaan atau tanggung
jawab profesi pekerjaan yang di jalaninya. Perawat sebagai bagian dari
masyarakat memiliki tanggung jawab moral dalam masalah-masalah
kesehatan untuk selalu memberikan edukasi atau informasi yang akurat.
Pada sebagian masyarkat menempatakan poisisi perawat sebagai
narasumber kesehatan atau tempat konfirmasi atas informasi-informasi
kesehatan yang mereka terima melalui berbagai media.
2. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan orangtua atau keluarga pasien
dapat mengetahui dan memahami tentang asma.
b. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan diharapkan peserta
penyuluhan dapat mengetahui tentang:
1) Pengertian asma
2) Penyebab asma
3) Tanda dan Gejala asma
4) Klasifikasi asma
5) Patofisiologi asma
6) Penatalaksanaan asma
7) Pencegahan dan rehabilitasi asma
3. SUB POKOK BAHASAN
a. Pengertian asma
b. Penyebab asma
c. Tanda dan Gejala asma
d. Klasifikasi asma
e. Patofisiologi asma
f. Penatalaksanaan asma
g. Pencegahan dan rehabilitasi asma
4. METODE
Metode yang digunakan dalam penyuluhan:
a. Ceramah
b. Diskusi dan tanya jawab
MATERI PENYULUHAN
1) Pengertian asma
Asma adalah penyakit inflamasi koronik saluran nafas dimana
banyak sel berperan terutama sel mast, esonofil, limposit T magropag,
neuropil dan sel epitel. (Slamet Hariadi, dkk 2010). Asma merupakan sebuah
penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh dunia dengan
kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan peningkatan
kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang
(wheezing), sesak napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest
tightness), dispnea, dan batuk (cough) terutama pada malam atau dini
hari. (PDPI, 2006; GINA, 2006). Menurut National Heart, Lung and Blood
Institute (NHLBI, 2007), pada individu yang rentan, gejala asma
berhubungan dengan inflamasi yang akan menyebabkan obstruksi dan
hiperesponsivitas dari saluran pernapasan yang bervariasi derajatnya.
2) Penyebab asma
Secara umum, serangan asma disebabkan oleh hal-hal berikut ini
diantaranya :
- - Mengkerutnya otot-otot polos yang melingkari saluran nafas
- - Membengkaknya dinding saluran nafas
- - Terbentuknya banyak lendir di dalam saluran nafas
Sebagian besar penyempitan pada saluran nafas disebabkan oleh
semacam reaksi alergi. Alergi adalah reaksi tubuh normal terhadap allergen,
yakni zat-zat yang tidak berbahaya bagi kebanyakan orang yang peka.
Alergen menyebabkan alergi pada orang-orang yang peka. Alergen
menyebabkan otot saluran nafas menjadi mengkerut dan selaput lendir
menjadi menebal. Selain produksi lendir yang meningkat, dinding saluran
nafas juga menjadi membengkak. Saluran nafas pun menyempit, sehingga
nafas terasa sesak. Alergi yang diderita pada penderita asma biasanya sudah
ada sejak kecil. Asma dapat kambuh apabila penderita mengalami stres dan
hamil merupakan salah satu stress secara psikis dan fisik, sehingga daya
tahan tubuh selama hamil cenderung menurun, daya tahan tubuh yang
menurun akan memperbesar kemungkinan tersebar infeksi dan pada keadaan
ini asma dapat kambuh. (Ilmu Penyakit Dalam)
FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma atau sering
disebut sebagai faktor pencetus adalah:
Alergen
Alergen adalah sat-zat tertentu bila dihisap atau di makan dapat
menimbulkan serangan asthma, misalnya debu rumah, tungau debu rumah
(Dermatophagoides pteronissynus) spora jamur, serpih kulit kucing, bulu
binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya.
Infeksi Saluran Nafas
Infeksi saluran nafas terutama oleh virus seperti influenza merupakan salah
satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asthma bronkiale.
Diperkirakan dua pertiga penderita asthma dewasa serangan asthmanya
ditimbulkan oleh infeksi saluran nafas (Sundaru, 1991).
Stress
Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan menyebabkan suatu
keadaan stress yang akan merangsang HPA axis. HPA axis yang
terangsang akan meningkatkan adeno corticotropic hormon (ACTH) dan
kadar kortisol dalam darah. Peningkatan kortisol dalam darah akan
mensupresi immunoglobin A (IgA). Penurunan IgA menyebabkan
kemampuan untuk melisis sel radang menurun yang direspon oleh tubuh
sebagai suatu bentuk inflamasi pada bronkhus sehingga menimbulkan
asma bronkiale.
Olah raga/ kegiatan jasmani yang berat
Sebagian penderita asthma bronkiale akan mendapatkan serangan asthma
bila melakukan olah raga atau aktifitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan
bersepeda paling mudah menimbulkan serangan asthma. Serangan asthma
karena kegiatan jasmani (Exercise induced asthma /EIA) terjadi setelah olah
raga atau aktifitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul
beberapa jam setelah olah raga.
Obat – obatan
Beberapa pasien asthma bronkiale sensitif atau alergi terhadap obat tertentu
seperti penicillin, salisilat, beta blocker, kodein dan sebagainya.
Polusi udara
Pasien asthma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik /
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan
oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
Lingkungan Kerja
Diperkirakan 2 – 15% pasien asthma bronkiale pencetusnya adalah
lingkunagn kerja (Sundaru, 1991).
3) Tanda dan Gejala asma
Kejadian utama pada serangan asma adalah obstruksi jalan napas
secara luas yang merupakan kombinasi dari spasme otot polos bronkus,
edema mukosa karena sumbatan mukus. Tanda serangan asma yang dapat
kita ketahui adalah napas cepat, merasa cemas dan ketakutan, tak sanggup
bicara lebih dari 1-2 kata setiap kali tarik napas, dada dan leher tampak
mencekung bila tarik napas, bersin-bersin, hidung mampat atau hidung
ngocor, gatal-gatal tenggorokan, susah tidur, turunnya toleransi tubuh
terhadap aktivitas. (Iwan Hadibroto, 2010)
Tiga gejala yang sering muncul pada asma adalah sesak napas, napas
bunyi/ wheezing, batuk-batuk terutama malam hari. Tingkat keparahan
serangan asma tergantung pada tingkat obstruksi saluran napas, kadar
saturasi oksigen, pembawaan pola napas, perubahan status mental, dan
bagaimana tanggapan penderita terhadap status pernapasannya (Smeltzer &
Bare, 2006).
4) Klasifikasi asma
Secara klinis asma dibagi menjadi 2 tipe dasar. Tingkatan asma yaitu
asma bronkial intermitten dan asma akut.
a. Asma selang berselang (Intermittent)
Asma yang di luar serangan tidak menimbulkan gejala, pada
pemeriksaan faal paru tanpa provokasi normal. Meskipun tidak begitu
berat, asma intermitten ini cukup mengganggu aktifitas sehari-hari.
Timbulnya jarang dan serangannya ringan dan umumnya 75%
penderita mempunyai tipe ini. Setahun serangnnya bisa sekali sampai tiga
kali dan terutama ini disebabkan oleh infeksi virus pada saluran nafas,
kegiatan jasmani, polusi udara, dll. Di luar serangan, penderita merasa
sehat seperti orang normal.
b. Asma akut
Serangan asma yang timbulnya tiba-tiba dan berat. Penderita harus
segera mencari pertolongan dokter. Bila sesaknya tidak mereda dengan
suntikan obat-obatan anti asma serangan asma ini disebut “status
asmatikus”. Serangan asma pada tingkatan ini sangat berat. Asma pada
tingkatan ini tidak dapat diatasi dengan obat-obatan konvensional.
Penilaian beratnya asma diperlukan untuk memulai pengobatan,
karena derajat beratnya asma akan menentukan jenis dan dosis obat yang
akan dipakai. Berdasarkan panduan, derajat beratnya asma ditentukan oleh
frekuensi gejala asma, frekuensi bangun malam serta beratnya gangguan
fungsi paru. Beratnya gangguan fungsi paru dinilai berdasarkan persentase
(%) nilai prediksi APE (arus puncak ekspirasi), atau nilai terbaik APE pasien
tersebut (Sundaru, 2002).